WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Aku Cinta Tanteku


Saat masih SMA saya tidak pernah mendekati seorang cewek pun. Padahal wajah saya boleh dibilang tidak jelek-jelek amat. Para gadis juga sering histeris ketika melihat saya beraksi di bidang olahraga, seperti basket, lari dan sebagainya. Dan banyak surat cinta cewek yang tidak saya balas. Sebab saya tidak suka mereka. Untuk masalah pelajaran saya terbilang normal, tidak terlalu pintar, tapi teman-teman memanggil saya kutu buku, padahal masih banyak yang lebih pintar dari saya, mungkin karena saya mahir dalam bidang olahraga dan dalam pelajaran saya tidak terlalu bodoh saja akhirnya saya dikatakan demikian.

Ketika kelulusan, saya pun masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Di Surabaya saya numpang di rumah tante saya, namanya Ratna. Saya biasa memanggilnya mbak Ratna, kebiasaan dari kecil mungkin. Ia tinggal sendirian bersama kedua anaknya, semenjak suaminya meninggal ketika saya masih SMP ia mendirikan usaha sendiri di kota ini. Yaitu berupa rumah makan yang lumayan laris, dengan bekal itu ia bisa menghidupi kedua anaknya yang masih SD.

Ketika datang pertama kali di Surabaya, saya sudah dijemput pakai mobilnya. Lumayanlah, perjalanan dengan menggunakan kereta cukup melelahkan. Awalnya saya tak tahu kalau itu adalah mbak Ratna, sebab ia kelihatan muda. Saya baru sadar ketika saya menelpon hp-nya dan dia mengangkatnya. Lalu kami bertegur sapa. Hari itu juga jantung saya berdebar. Usianya masih 31 tahun tapi dia sangat cantik. Rambutnya masih panjang terurai, wajahnya sangat halus, ia masih seperti gadis. Dan di dalam mobil itu saya benar-benar berdebar-debar.

“Capek Dek Dika?”, tanyanya.

“Iyalah mbak, di kereta duduk terus dari pagi”, jawabku.

“Tapi mbak Ratna masih cantik ya?”

Ia ketawa, “Ada-ada saja kamu”

Selama tinggal di rumah mbak Ratna, saya sedikit demi sedikit mencoba akrab dan mengenalnya. Banyak sekali hal-hal yang bisa saya ketahui dari mbak Ratna. Dari kesukaannya, dari pengalaman hidupnya. Saya pun jadi dekat dengan anak-anaknya. Saya sering mengajari mereka pelajaran sekolah.

Tak terasa sudah satu semester lebih saya tinggal di rumah ini. Dan mbak Ratna sepertinya adalah satu-satunya wanita yang menggerakkan hati saya. Saya benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi saya tak yakin apakah ia cinta juga kepada saya. Apalagi ia adalah tante saya sendiri. Malam itu sepi dan hujan di luar sana. Mbak Ratna sedang nonton televisi. Saya lihat kedua anaknya sudah tidur. Saya keluar dari kamar dan ke ruang depan. Tampak mbak Ratna asyik menonton tv. Saat itu sedang ada sinetron.

“Nggak tidur Dik?”, tanyanya.

“Masih belum ngantuk mbak”, jawabku.

Saya duduk di sebelahnya. Entah kenapa lagi-lagi dada saya berdebar kencang. Saya bersandar di sofa, saya tidak melihat tv tapi melihat mbak Ratna. Ia tak menyadarinya. Lama kami terdiam.

“Kamu banyak diam ya”, katanya.

“Eh… oh, iya”, kata saya kaget.

“Mau ngobrolin sesuatu?”, tanyanya.

“Ah, enggak, pingin nemenin mbak Ratna aja”, jawabku.

“Ah kamu, ada-ada aja”

“Serius mbak”

“Makasih”

“Restorannya gimana mbak? lancar?”

“Lumayanlah, sekarang bisa waralaba. Banyak karyawannya, urusan kerjaan semuanya tak serahin ke general managernya. Mbak sewaktu-waktu saja ke sana”, katanya.

“Gimana kuliahmu?”

“Ya, begitulah mbak, lancar saja”, jawabku.

Saya memberanikan diri memegang pundaknya untuk memijat. “Saya pijetin ya mbak, sepertinya mbak capek”.

“Makasih, nggak usah ah”

“Nggak papa kok mbak, cuma dipijit aja, emangnya mau yang lain?”

Ia tersenyum, “Ya udah, pijitin saja”

Saya memijiti pundaknya, punggungnya, dengan pijatan yang halus, sesekali saya meraba ke bahunya. Ia memakai tshirt ketat. Sehingga saya bisa melihat lekukan tubuh dan juga tali bh-nya. Dadanya mbak Ratna besar juga. Tercium bau harum parfumnya.

“Kamu sudah punya pacar Dik?”, tanya mbak Ratna.

“Nggak punya mbak”

“Kok bisa nggak punya, emang nggak ada yang tertarik sama kamu?”

“Aku aja yang nggak tertarik sama mereka”

“Lha kok aneh? Denger dari mama kamu katanya kamu itu sering dikirimi surat cinta”

“Iya, waktu SMA. Kalau sekarang aku menemukan cinta tapi sulit mengatakannya”

“Masa?”

“Iya mbak, orangnya cantik, tapi sudah janda”, saya mencoba memancing.

“Siapa?”

“Mbak Ratna”.

Ia ketawa, “Ada-ada saja kamu ini”.

“Saya serius mbak, nggak bohong, pernah mbak tahu saya bohong?”,

Ia diam.

“Semenjak aku bertemu mbak Ratna, jantungku berdetak kencang. Aku tak tahu apa itu. Sebab aku nggak pernah jatuh cinta sebelumnya. Semenjak itu pula aku menyimpan perasaanku, dan merasa nyaman ketika berada di samping mbak Ratna. Aku nggak tahu apakah itu cinta, tapi kian hari dadaku makin sesak. Sesak sampai aku nggak bisa berpikir lagi mbak, rasanya sakit sekali waktu aku harus membohongi diri kalau aku cinta ama mbak”, kata saya.

“Dik, aku ini tantemu”, katanya.

“Aku tahu, tapi perasaanku nggak pernah bohong mbak, aku mau jujur kalau aku cinta sama mbak”, kata saya sambil memeluknya dari belakang.

Lama kami terdiam. Mungkin hubungan yang kami rasa sekarang mulai canggung. Mbak Ratna mencoba melepaskan pelukan saya.

“Maaf Dik, mbak perlu berpikir”, kata mbak Ratna beranjak.

Saya pun ditinggal sendirian di ruangan itu, tv masih menyala. Cukup lama saya ada di ruangan tengah, hingga tengah malam kira-kira. Saya pun mematikan tv dan menuju kamar saya. Sayup-sayup saya terdengar suara isak tangis di kamar mbak Ratna. Saya pun mencoba menguping.

“Apa yang harus kulakukan? Apa…”

Saya menunduk, mungkin mbak Ratna kaget setelah pengakuan saya tadi. Saya pun masuk kamar saya dan tertidur. Malam itu saya bermimpi basah dengan mbak Ratna. Saya bermimpi bercinta dengannya, dan paginya saya dapati celana dalam saya basah. Wah, mimpi yang indah.

Paginya, mbak Ratna selesai menyiapkan sarapan. Anak-anaknya sarapan. Saya baru keluar dari kamar mandi. Melihat mereka dari kejauhan. Mbak Ratna tampak mencoba untuk menghindari pandangan saya. Kami benar-benar canggung pagi itu. Hari ini saya tidak ada kuliah. Saya bisa menghabiskan waktu seharian di rumah. Setelah ganti baju saya keluar kamar. Tampak mbak Ratna melihat-lihat isi kulkas.

“Waduh, Dik, bisa minta tolong bantu mbak?”, tanyanya.

“Apa mbak?”

“Mbak mau belanja, bisa bantu mbak belanja? Sepertinya isi kulkas udah mau habis”,katanya.

“OK”

“Untuk yang tadi malam, tolong jangan diungkit-ungkit lagi ya, mbak maafin kamu tapi jangan dibicarakan di depan anak-anak”, katanya. Saya mengangguk.

Kami naik mobil mengantarkan anak-anak mbak Ratna sekolah. Lalu kami pergi belanja. Lumayan banyak belanjaan kami. Saya menggandeng tangan mbak Ratna. Kami mirip sepasang suami istri, mbak Ratna rasanya nggak menolak ketika tangannya saya gandeng. Mungkin karena barang bawaannya banyak. Di mobil pun kami diam. Setelah belanja banyak itu kami tak mengucapkan sepatah kata pun. Namun setiap kali saya bilang ke mbak Ratna bahwa perasaan saya serius.

Hari-hari berlalu. Saya terus bilang ke mbak Ratna bahwa saya cinta dia. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya. Saya membelikan sebuah gaun. Saya memang menyembunyikannya. Gaun ini sangat mahal, hampir dua bulan uang saku saya habis. Terpaksa nanti saya minta ortu kalau lagi butuh buat kuliah. Saat itu anak-anak mbak Ratna sedang sekolah. Mbak Ratna merenung di sofa. Saya lalu datang kepadanya. Dan memberikan sebuah kotak hadiah.

“Apa ini?”, tanyanya.

“Kado, mbak Ratna kan ulang tahun hari ini”,

Ia tertawa. Tampak senyumnya indah hari itu. Matanya berkaca-kaca, ia mencoba menahan air matanya. Ia buka kadonya dan mengambil isinya. Saya memberinya sebuah gaun berwarna hitam yang mewah.

“Indah sekali, berapa harganya?”, tanyanya.

“Ah nggak usah dipikirkan mbak”, kata saya sambil tersenyum.

“Ini kulakukan sebagai pembuktian cintaku pada mbak”

“Sebentar ya”, katanya.

Ia buru-buru masuk kamar sambil membawa gaunnya. Tak berapa lama, ia sudah keluar dengan memakai baju itu. Ia benar-benar cantik.

“Bagaimana Dik?”, tanyanya.

“Cantik mbak, Superb!!”, kata saya sambil mengacungkan jempol.

Ia tiba-tiba berlari dan memeluk saya. Erat sekali, sampai saya bisa merasakan dadanya.

“Terima kasih”

“Aku cinta kamu mbak”, kata saya.

Mbak Ratna menatap saya. “Saya tahu”

Saya memajukan bibir saya, dan dalam sekejap bibir saya sudah bersentuhan dengan bibirnya. Inilah first kiss kami. Saya menciumi bibirnya, melumatnya, dan menghisap ludahnya. Lidah saya bermain di dalam mulutnya, kami berpagutan lama sekali. Mbak Ratna mengangkat paha kirinya ke pinggang saya, saya menahannya dengan tangan kanan saya. Ia jatuh ke sofa, saya lalu mengikutinya.

“Aku juga cinta kamu Dik, dan aku bingung”, katanya.

“Aku juga bingung mbak”

Kami berciuman lagi. Mbak Ratna berusaha melepas baju saya, dan tanpa sadar, saya sudah hanya bercelana dalam saja. Penis saya yang menegang menyembul keluar dari CD. Saya membuka resleting bajunya, saya turunkan gaunnya, saat itulah saya mendapati dua buah bukit yang ranum. Dadanya benar-benar besar. Saya ciumi putingnya, saya lumat, saya kunyah, saya jilati. Saya lalu turun terus hingga ke bawah. Ha? Nggak ada CD? Jadi tadi mbak Ratna ke kamar ganti baju sambil melepas CD-nya.

“Nggak perlu heran Dik, mbak juga ingin ini kok, mungkin inilah saat yang tepat”, katanya.

Saya lalu benar-benar menciumi kewanitaannya. Saya lumat, saya jilat, saya hisap. Saya baru pertama kali melakukannya. Rasanya aneh, tapi saya suka. Saya cinta mbak Ratna. Mbak Ratna meremas rambut saya, menjambak saya. Ia menggelinjang. Saya ciumi pahanya, betisnya, lalu ke jempol kakinya. Saya emut jempol kakinya. Ia terangsang sekali. Jempol kaki adalah bagian paling sensitif bagi wanita.

“Tidak Dik, jangan… AAAHH…”, mbak Ratna mengerang.

“Kenapa mbak?” kata saya.

Tangannya mencengkram lengan saya. Vaginanya basah sekali. Ia memejamkan mata, tampak ia menikmatinya.

“Aku keluar Dik…”

Ia bangkit lalu menurunkan CD saya. Saya duduk di sofa sambil memperhatikan apa yang dilakukannya.

“Gantian sekarang”, katanya sambil tersenyum.

Ia memegang penis saya, diremas-remas dan dipijat-pijatnya. Oh… saya baru saja merasakan penis saya dipijat wanita. Tangan mbak Ratna yang lembut, hangat lalu mengocok penis saya. Penis saya makin lama makin panjang dan besar. Mbak Ratna menjulurkan lidahnya. Dia jilati bagian pangkalnya, ujungnya, lalu ia masukkan ujung penis saya ke dalam mulutnya. Ia hisap, ia basahi dengan ludahnya. Ohh… sensasinya luar biasa.

“Kalau mau keluar, keluarin aja nggak apa-apa Dik”, kata mbak Ratna.

“Nggak mbak, aku pengen keluar disitu aja?”, kata saya sambil memegang liang kewanitaannya.

Ia mengerti, lalu saya didorongnya. Saya berbaring, dan ia ada di atas saya. Pahanya membuka, dan ia arahkan penis saya masuk ke liang itu. Agak seret, mungkin karena memang ia tak pernah bercinta selain dengan suaminya. Masuk, sedikit demi sedikit dan bless…. Masuk semuanya. Ia bertumpu pada sofa, lalu ia gerakkan keatas bawah.

“Ohh… Dik… enak Dik…”, katanya.

“Ohhh… mbak… Mbak Ratna… ahhh…”, kata saya.

Dadanya naik turun, montok sekali. Saya pun meremas-remas dadanya. Lama sekali ruangan ini dipenuhi suara desahan kami dan suara dua daging beradu. Plok… plok… plok… cplok..!!

“Waan… mbak keluar lagi… AAAHHHH…”

Mbak Ratna ambruk di atas saya. Dadanya menyentuh dada saya, saya memeluknya erat. Vaginanya benar-benar menjepit saya kencang sekali. Perlu sedikit waktu untuk ia bisa bangkit. Lalu ia berbaring di sofa.

“Masukin Dik, puasin dirimu, semprotin cairanmu ke dalam rahimku”, katanya.

Saya tak menyia-nyiakannya. Saya pun memasukkannya. Saya dorong maju mundur, posisi normal ini membuat saya makin keenakan. Saya menindih mbak Ratna, saya peluk ia, dan saya terus menggoyang pinggul saya. Rasanya sudah sampai di ujung. Saya mau meledak. AAHHHH…

“Oh Dik… Dik… mbak keluar lagi…”

Mbak Ratna mencengkram punggung saya. Dan saya menembakkan sperma saya ke rahimnya, banyak sekali, sperma perjaka. Vagina mbak Ratna mencengkram saya erat sekali, saya keenakkan. Kami kelelahan dan tertidur di atas sofa, Saya memeluk mbak Ratna.

Siang hari saya terbangun oleh suara HP. Mbak Ratna masih di pelukan saya. Mbak Ratna dan saya terbangun. Kami tertawa melihat kejadian lucu ini. Waktu jamnya menjemput anak-anak mbak Ratna sepertinya.

Mbak Ratna menyentuh penis saya sambil berkata “Ini luar biasa, mbak Ratna sampe keluar berkali-kali Dik”

Setelah itu entah berapa kali saya mengulanginya dengan mbak Ratna, saya mulai mencoba berbagai gaya. Mbak Ratna sedikit rakus setelah ia menemukan partner sex baru. Ia suka sekali mengoral punya saya, mungkin karena punya saya terlalu tangguh untuk liang kewanitaannya, hehehe. Tapi itulah cinta saya, saya cinta dia dan dia cinta kepada saya.

Cerita Sex Dea Perawan SMA


Cewek ini namanya Dea, dia temen dari Vani anak SMA sebelah rumah kostku. Sore itu aku lagi nongkrong di depan kost sambil main gitar, hampir setengah jam aku di depan, Vani terlihat pulang tapi kali ini sama temen-temennya.

“Eh Vani, baru pulang sekolah ya? kok sampe jam segini? maen dulu ya?” aku becandain si Vani.

“Enggak kok mas, tadi ada les di sekolah”

“Oh gitu ya” aku jawab dengan santai.

“Terus bawa temen banyak mau ada acara apa?” tanyaku lagi.

“Mau belajar kelompok mas, eh kenalin dong mas temen-temen Vani” Vani menyuruhku kenalan sama teman-temannya.

“Ini mas Dani namanya” sahut Vani.

Salah satunya ya si Dea itu, uh cakep juga si Dea ini masih kecil tapi bodinya udah mantap, beda ma temen lainnya. Dalam hati aku terpesona liat si Dea.

“Mas, Vani kedalem dulu ya”

“Oh iya. Belajar yang akur ya” kataku sambil tersenyum, lalu Vani masuk kerumahnya.

Malam harinya aku ke rumah Vani karena emang aku sudah biasa main kesitu. Aku ngobrol dan becanda-becanda sama Vani.

“Eh, temen Vani yang namanya Dea tadi manis juga ya?”

“Kenapa mas? naksir ya?” dasar si Vani ga bisa jaim dikit,ceplas-ceplos

“Vani punya nomer telponnya ga? mas minta ya?”

Vani pun masuk kekamar dan keluar membawa handphone, ni cari aja sendiri yang dinamain Dea ya mas” kata Vani, aku langsung catet nomornya si Dea.

“Udah mas?” tanya Vani.

“Udah nih, makasih ya, besok mas beliin coklat deh”

“Bener ya mas!” kata Vani bersemangat karena coklat emang kesukaan dia banget.

Tanpa berlama-lama aku coba sms si Dea,

“Hei Dea lagi ngapain? masih inget aku ga? tadi aku yang dikenalin Vani waktu kamu
maen dirumahnyaa”

Eh si Dea pun membalas sms ku

“Oh iya Dea masih inget dong, kan baru tadi.. hehe...” sms pun berlanjut terus.

Sehari, dua hari, tiga hari aku dan Dea smsan, aku coba iseng ngajak dia keluar. Tidak kusangka dia mau aku ajak keluar. hari minggu aku sama Dea janjian ketemu dan kami pun jalan-jalan muter-muter kota pake motor. Tidak terasa hari sudah sore, sudah waktunya pulangin si Dea. Tepat di jalan masuk gang dekat rumahnya Dea bilang

“Udah mas nyampe sini aja nganternya!”

Aku tanya “Kenapa? mas ga boleh tau rumah Dea ya?”

“Gak pa pa kok mas lain waktu kan bisa”

“Oh ya udah, besok maen lagi ya?” ajakku.

“Iya mas” jawab Dea.

Selang beberapa hari, Dea maen kerumah Vani. Aku kebetulan ada di depan rumah Vani.

“Eh mas Dani, Vani ada dirumah ga mas?” tanya Dea.

“Oh tadi ada di belakang, masuk aja”

Sekalian saja aku minta dia mampir ke kost ku “Ntar mampir ke tempat mas ya”

Dia cuma senyum-senyum. Aku masuk ke kamar kost dan tiduran sambil dengerin musik dari komputer aku, kebetulan waktu itu anak-anak kost pada pergi entah kemana jadi kost sepi banget kayak kuburan. Sambil tiduran otak ngeresku jalan, membayangkan si Dea ada di kamarku dan aku bisa have a fun sama dia berdua di kamar. Gak nahan bodinya, masih kecil tapi dah montok semua, depan belakang mantap.

Saat setengah tertidur, terdengar ada suara dari luar memanggil namaku.

“Mas… mas Dani…”

Aku bangun dari kasur dan keluar, aku kaget ternyata si Dea yang ada di depan.

“Dea, ada apa? Vani ga ada ya?” tanyaku.

“Ada kok mas, tadi cuma bentar dirumah Vaninya. Sekarang Dea boleh maen di sini ga mas?”

“Oh, tentu boleh dong.. masa ga boleh”

Dalam hati aku pun berkata “pucuk di cinta Dea pun tiba”

Kami pun masuk ke dalam rumah kost. Rumah kost aku emang disediain tempat buat terima tamu tapi jarang dipake karena biasanya anak-anak kalo terima tamu langsung di kamar masing-masing, lebih santai katanya.

“Dea mau di sini aja apa di dalem?” aku coba tawarin ke Dea.

“Udah disini aja mas” jawabnya.

Kami pun ngobrol ini itu, saat asik ngobrol becanda, aku pun mulai nakal pegang-pegang tangan Dea, lalu aku beraniin cium pipinya. Dea kaget, wajahnya berubah jadi kemerahan karena malu.

“Ih mas kok nakal sih” kata Dea sambil mukul-mukul aku.

Aku pegang tangannya dan aku cium pipi yang satunya, wajah Dea pun makin memerah. Aku elus pipinya dan mau aku cium bibirnya,

“Gak mau ah mas” katanya.

Tapi aku tetep maksa cium dia dan akhirnya bibir manisnya berhasil aku lumat perlahan, Dea pun memejamkan mata menikmati ciuman dariku. Aku tambah bernafsu menciumi bibir Dea dan mulai memainkan lidahku. Beberapa saat kami berciuman, aku lepas ciumanku.

“Dea, di kamar aja yuk!” ajakku.

“Nanti takut ada orang liat kalo disini”

Dea cuma diam dengan wajah yang masih malu-malu. Aku gandeng tangannya masuk ke kamar kost ku dan pintu aku kunci.

“Kok dikunci pintunya mas?” tanya Dea polos.

“Gak pa pa” jawabku.

Aku lanjutin ciumin bibir Dea sambil mendekap tubuhnya dan mulai meraba bodinya, meremas pantatnya. Saat aku coba meraba susunya,dia mencoba menahan tanganku tapi karena kalah kuat denganku, aku tetap saja berhasil meraba dan meremas-remas susunya sambil terus berciuman. Tangan Dea masih mencoba menahan tanganku meraba kedua susunya. Lama berciuman aku rebahin tubuh Dea di kasur dan aku menindih tubuhnya. Aku lepas ciuman di bibirnya,mulai menciumi lehernya, meremas lembut susunya kiri kanan, aku coba buka kancing bajunya tapi Dea mencegah.

“Jangan mas..!”

Tapi tetap saja aku paksa buka kancing bajunya satu persatu sehingga terlihat penyangga susunya yang berwarna putih lalu perlahan kulepas bajunya. Aku buka pengait branya sambil menciumi bibir dan leher Dea dan melepas bra dari tubuh Dea. terlihat payudara Dea masih sangat indah,kencang dengan puting kecil berwarna kemerahan.

Dea hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri saat aku mulai menjilati puting dan meremas susunya, terus bergantian kanan kiri dengan meninggalkan tanda merah bekas cupanganku. Dea pun semakin menikmati cumbuan itu, susunya pun terasa mengeras tanda dia telah terangsang, terdengar desahan-desahan lirih dari bibirnya, kedua tangannya menjambak rambutku.

“Eemhh… ukhh… masss…”

Aku lepas baju juga celana pendekku, tinggal celana dalam saja yang kelihatan tidak muat menampung penisku yang sudah berdiri dari tadi.

“Ih mas, kok dilepas semua?”

“Udah sempit nih Dea” jawabku.

Aku kembali menindih tubuh Dea dan kali ini aku cium lembut mulai dari kening berlanjut kedua matanya dan pipinya, kembali melumat bibirnya,lehernya, susunya lalu turun ke perut. Desahan Dea terdengar kembali,

“Eehhh… mass… mmmh…”

Lama aku bermain di daerah susu dan perutnya, aku coba buka kancing dan resleting celana Dea.

“Mas jangan mas.. Dea ga mau..” cegah Dea tegas.

Aku coba ngertiin Dea dan kembali menciumi bibirnya. Setelah dua kali mencoba dan ga diijinin, sambil aku lumat bibirnya tangan kananku kembali mencoba membuka resletingnya, ternyata kali ini Dea hanya diam dan merelakan aku melepas celana panjangnya. Sekarang kami berdua hampir bugil dengan hanya memakai celana dalam. Aku ciumin pahanya, perutnya, susunya, bibirnya dan menindih tubuh Dea lagi, kali ini aku gesek-gesekkan penisku ke memek Dea sambil bermain lidah di mulut Dea.

Dea sedikit mengangkangkan kakinya sehingga aku gampang menggesekkan penisku. Cukup dengan gesek-gesekan alat kelamin, aku kembali menciumi leher, susunya lalu perut dan akhirnya sampai ke memek Dea yang masih tertutup celana dalam. Dea menggeliat keenakkan dan meremas rambutku dengan keras waktu aku ciumin bagian memeknya.

“Eeehh… mhh… masss… ahhh...”

Beberapa saat aku sudahi ciumi memek Dea dan melepas celana dalam aku.Dea masih terbaring di kasur.

“Dea.. mas pengen diciumin kaya mas ciumin punya Dea tadi dong” pintaku merayu, Dea menggelengkan kepalanya.

“Ayo dong sayang” rayuku.

“Dea belom pernah mainan itu mas” jawabnya.

“Sekarang Dea coba deh...”

Aku deketin penisku ke wajah Dea,

“Ayo sayang!!” rayuku lagi.

Dengan malu-malu Dea memegang penisku dan dengan ragu Dea menciumi penisku.

“Uuh.. enak sayang.. sedot sayang…”

Dea pun mulai terbiasa dan tau apa yang harus diperbuat, Dea mengocok penisku di mulutnya. Beberapa saat Dea mengulum penisku, dia bilang,

“Mas, udah ya mas..”

“Iya sayang” jawabku”

Kini giliranku lagi membuat Dea keenakkan. Aku cium bibirnya dan menciumi memeknya lagi. Dea mendesah keenakkan,

“Ehhhmm.. mmmhh…”

Saat Dea sedang terbuai, aku lepaskan celana dalamnya. Tubuh Dea yang tanpa penutup apa-apa itu benar-benar bikin aku ga tahan, putih, bersih dan mulus. Bagian memeknya baru mulai ditumbuhi rambut-rambut halus keliatan seksi banget. Aku lumat lagi bibir Dea sambil tanganku mengelus-elus memeknya, aku pijit lembut klitorisnya. Aku beralih mencium dan memainkan lidah di memeknya, aku gigit ringan klitorisnya, Dea menggeliat dan menjambak rambutku dengan keras.

“Masss… Dea mau kee.. luu.. ar…”

Dea mendapatkan orgasme pertamanya, memeknya basah dengan cairan yang keluar.

“Aakhhh… ehhhmmm…” Dea terus mendesah karena orgasmenya.

“Dea mau yang lebih enak lagi?” tanyaku setengah merayu.

“Gimana mas?” tanya Dea polos.

“Caranya mas masukin punya mas ke memek Dea”

“Gak mau ah mas, kan belom boleh.. sakit katanya mas” jawabnya.

“Gak kok ga sakit.. enak banget malah” rayu setanku.

Dea hanya diam, dan aku mulai mencumbunya lagi.

“Mas masukin sekarang yah” bisikku di telinganya.

Kakinya aku kangkangin, terlihat wajah ragu Dea saat aku arahkan penisku ke memeknya, aku cium dulu kening dan bibir Dea. Aku gesek-gesekkan penisku ke memek Dea yang masih basah oleh cairan orgasmenya dan memulai penetrasikan penisku sedikit demi sedikit, memeknya terasa sempit banget walau baru kepala penisku yang masuk ke lubang senggamanya, aku keluarin penisku dan penetrasi lagi lebih dalam.

“Mas saakit mas…” rintih Dea.

Aku cabut penisku yang belum ada setengahnya masuk ke lubang memek Dea. Aku cium lagi bibir Dea

“Tahan ya sayang…” bisikku.

Kembali aku penetrasikan penisku perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi, terlihat darah keluar dari memek Dea. Dea menjerit kesakitan,

“Aaakhh… saakittt mas…”

Kini penisku benar-benar ditelan dan terasa terjepit lubang senggama Dea. Terlihat setitik air mata mengalir dari sudut matanya. Wajah Dea masih menahan sakit karena keperawanannya robek oleh penisku. Aku diam beberapa saat agar Dea mampu menguasai sakit di memeknya sambil menciuminya.

Setelah dia agak tenang, aku mulai menarik dan mendorong penisku, maju mundur perlahan. Aku terus mengocokkan penisku di memeknya perlahan, terasa lubang senggama Dea sudah bisa menerima penisku, aku percepat gerakan penisku. Dea pun sudah tidak lagi merintih kesakitan tapi berbalik mulai merasakan kenikmatan.

“Aakhhh… ukhh…mass… akhh…” desah Dea keenakan.

Aku ciumi bibir Dea sambil terus mengocok penisku di memeknya.

“Uukhhh… aakhhh… ehhmm…” desahan nikmat kami berdua.

Dea mendekap erat tubuhku

“Dea mau keluar lagi” bisiknya.

Terasa cairan hangat menyemprot kepala penisku, Dea orgasme yang kedua kali. Penisku terus keluar masuk di memek Dea. Beberapa saat setelah Dea orgasme yang kedua, aku merasa sudah hampir mencapai orgasme. Aku mempercepat gerakan penisku.

“Mas udah mau keluar Dea”

“Aakhhh… Dea jugaa…”

Ternyata Dea orgasme duluan. Merasa sudah di pucuk, aku cabut penisku dan menumpahkan spermaku di perut Dea.

“Aakhh… mmmmhh…”

Kami berdua terkulai berdampingan, aku menyeka keringat di kening Dea dan mengecupnya.

“Makasih ya sayang” bisikku.

Dea hanya tersenyum kecil. Aku membersihkan sperma di tubuh Dea yang terkulai lemas dan darah di memeknya dengan handuk kecil.

“Bobo aja bentar sayang, nanti mas bangunin” kataku.

Tak lama Dea pun terlelap dan aku tutupi tubuhnya dengan selimut. Aku pandangi wajah Dea, memang manis banget anak ini, beruntung banget aku bisa dapetin dia. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, aku cium pipi Dea buat bangunin dia.

“Bangun sayang udah sore” kataku.

Dea pun bangun. Saat akan berdiri Dea masih merasa perih di memeknya.

“Aakhh…” rintih Dea sambil menggigit bibirnya.

Dea perlahan mengenakan semua pakaiannya kembali.

“Kamar mandi mana mas?” tanya Dea.

“Oh itu dibelakang” kataku sambil menunjuk kamar mandi.

Terlihat Dea berjalan pelan menahan sakit di kemaluannya menuju kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi Dea pamit pulang.

“Mas Dea pulang dulu ya, udah sore banget” katanya.

“Iya, Dea jangan lewat depan rumah Vani ya, lewat samping aja” saranku.

Sebelum pulang aku cium lagi kening dan bibir Dea

“Jangan bilang siapa-siapa ya sayang” bisikku, Dea hanya mengangguk.

“Hati-hati ya Dea”

Cerita Sex Teman Kantor yang Menggairahkan


Saya baru saja diterima kerja di sebuah perusahaan asing dan jabatan yang saya dapat sudah masuk jajaran managerial walaupun masih junior. Seiring berjalannya waktu saya sudah saling mengenal dengan karyawan lain. Yang mencuri pandangan saya adalah Karin yang meja kerjanya diseberang ruang kerja saya yang memiliki jendela yang lebar sehingga ketika saya menegadah otomatis terlihat wajah Karin yang ayu, kulit putih, berkacamata minus.

Peraturan di perusahaan saya untuk karyawan pria menggunakan seragam Senin sampai Kamis, Jumat baju bebas sopan, untuk karyawan wanita Senin sampai Rabu menggunakan seragam, Kamis Jumat baju bebas sopan, nah pada hari Kamis dan Jumat si Karin selalu memakai baju model terbaru yang menampakkan kemolekan tubuhnya, pingul yang seksi dan pantat yang montok, tubuhnya yang bagus dia jaga dengan rajin olahraga katanya.

Di suatu saat ada sebuah proyek yang saya tangani dan sengaja saya masukkan Karin ke dalam tim proyek saya, saya berikan dia tugas yang akan sering membantu tugas saya, otak mesum dikepala saya selalu menggoda untuk curi-curi pandang ke belahan dada Karin saat kami berdua diskusi masalah proyek .

Sempat diskusi kami hampir mendekati waktu makan siang dan Kamis itu Karin memakai baju kerja setelan blouse dan rok diatas paha, waktu makan siang sudah lewat 15 menit tak terasa oleh kami yang berdiskusi di ruangan saya, saya lihat sekeliling sudah sepi, langsung saya tawarkan dia untuk pergi makan siang bersama. Disela makan siang saya coba ajak dia obrolan santai sampai bergurau, suasana akhirnya cair dan dia juga sempet bilang,

“Eh, ternyata bapak ini suka bercanda juga ya”

Keluarlah senyum manis dari bibirnya yang tipis, pikiran saya meilhat bibirnya yang tipis langsung membayangkan bentuk memek Karin. Bayangan saya bibir memek Karin dengan rambut yang tidak terlalu lebat, karena saya juga tahu ternyata dia seorang fresh graduate diploma berumur 22 tahun, bekerja dipagi hari dan ambil kuliah extension untuk melengkapi gelar sarjananya. Berikutnya saya atur diskusi kami pada waktu yang sama untuk bisa berdua makan siang bersama Karin. Karin sudah mulai enjoy untuk ngobrol santai dengan saya dan saya beranikan bercanda-canda saat diskusi proyek tinggal saya dan Karin, sempat juga agak nyerempet mesum dan celetuk Karin,

“Ih Bapak yang satu ini nakal ya” dengan memainkan ujung lidahnya, wuihh bisa di olah ni cewek dalam otak mesum saya.

Di hari Jumat saya beranikan diri mengajak Karin untuk hang out bareng, saya tanya kesukaannya apa, rupanya dia suka berkaraoke, sedangkan saya suka duduk di pub dengerin live music. Lalu saya ajak dia ke sebuah tempat yang ada pub dan karaoke. Kami duduk di pub dengan suguhan live music dua jam lamanya dan saya lihat Karin sudah menghabiskan 5 gelas besar bir dan dia sudah terbawa Susana dengan mengikuti syair lagu yang dibawakan home band pub tersebut.

Lalu saya ajak dia ke room karaoke yang sebelumnya sudah saya booking. Di room yang suguhi minuman dan buah buah segar Karin langsung menyambar mic dan mencari lagu, dia menyanyi dengan senangnya, mungkin juga karena sudah terpengaruh alcohol. Di ruangan yang dingin pun dia melepaskan blouse nya, terlihat lengan atasnya yang padat berisi, betis padi nya serta onderdil depan belakangnya yang seksi.

Disaat lagu yang diputar lagu romantis, dia mengajak saya duet dengan menyodorkan sebiah mic, saya berdiri bernanyi dibelakang dia. Saya beranikan diri merangkul perutnya yang rata, dan tak disangka dia menyandarkan kepalanya di dada saya. Saya tarik tangan saya meraba perut sampai kedadanya dan terdengar desahan Karin, lalu dia membalik badannya sehingga kami saling berhadapan.

Sambil bernyanyi saya rangkul pinggangnya begitu juga dengan Karin melingkarkan tangannya di pinggang saya, ini di kesempatan dalam otak mesum saya, saya angkat dagunya saya beranikan mengecup bibirnya sehingga Karin berhenti bernyanyi, tidak ada perlawanan hanya tatap matanya saja memandangi saya, saya pikir dia akan marah, rupanya tidak justru dia memeluk saya erat. Saya beranikan lagi untuk mencium bibirnya dan kali ini dia merespon, malah dibalasnya ciuman saya dengan permainan lidahnya, dengan tinggi saya yang 173 cm sangat merepotkan untuk berciuman dengan Karin yang tingginya 160 cm.

Saya tarik dia dan saya rebahkan diatas sofa sehingga lebih nyaman saya menciumi dia. Saya tindih dia dan saya gesekkan Penis saya yang sudah berdiri ke selangkanyan Karin, Karin melenguh, saya ciumi leher, turun ke dada sampai ke perut, saya dengar desahannya yang menambah gairah saya. Saya singkap stelan Karin sampai terlihat toketnya yang besar dibungkus bh warna cream. Saya mainkan tangan saya untuk melepas kait bhnya sampai terlepas. Benar rupanya bayangan saya kalau pentil si Karin masih ranum dan berwarna kemerahan. Langsung saya lumat dan saya mainkan dengan lidah saya sampai Karin mengerang menikmati permainan lidah saya di pentilnya.

Saya beranikan lagi tangan saya mengangkat roknya dan meremas pantatnya, terlihat selangkangan dan cd yang membungkus memeknya. Saya mainkan tangan saya di selangkangannya sampai Karin menggelinjang dan mengeluarkan teriakan,

“Mmmmhhhh… ahhhhhhh…”

Kemudian tangannya merangkul leher saya dan dilumatnya bibir saya dengan permainan lidahnya. Saya selipkan tangan saya didalam cdnya saya mainkan jari saya di klitoris Karin, tubuh Karin naik turun menikmati permainan jari saya. Saya masukkan jari saya ke memeknya yang basah dan memainkannya didalam, teriakan Karin semakin menjadi,

“Aghhhh Mhhhhhh” matanya meram melek dan pinggulnya bergoyang.

Saya percepat permainan jari saya sampai akhirnya diangkat pantatnya dan Karin mengerang,

“Arggghhhhhh”, terasa cairan hangat di jari saya menandakan Karin sudah mendapat orgasmenya.

Setelah Karin merapikan bajunya kami duduk berdampingan sambil Karin manyandarkan kepalanya di lengan saya. Tangannya meraba raba dada saya, turun ke bawah sampai selangkangan, diremasnya penis saya sambil dia memandang saya dengan tersenyum. Saya cium bibirnya, dan tiba-tiba tangan Karin sudah masuk di celana saya memegang penis saya. Diremas-remasnya penis saya sampai akhirnya tegap berdiri.

Merasa tidak nyaman dengan penis yang berdiri saya betulkan posisi duduk saya biar gak nabrak celana saya. Tiba-tiba Karin berjongkok di depan saya, membuka ikat pinggang dan celana saya, penis saya yang mengeras digenggamnya, kemudian dikocoknya perlahan. Dipandanginya saya dengan kacamata minusnya, dilepaskan kaca minusnya kemudian diciuminya penis saya dari ujung sampai pangkalnya. Saya nikmati suasana itu dengan memejamkan mata dan tangan kanan saya memegangi kepala Karin. Tidak lama saya rasakan kehangatan di penis saya, saya lihat rupanya sudah dimasukkan ke rongga mulut Karin.

Digerakkannya maju mundur kepala Karin sambil menghisap penis saya, nikmatnya… dan betul-betul jago si Karin melakukan blow job. Saya tundukkan badan saya meraih retsleting roknya dan saya buka, Karin sambil terus menghisap penis saya mengangkat pinggulnya sampai nungging sehingga roknya terjatuh kelantai. Saya selipkan tangan saya di belahan pantatnya dan saya mainkan lagi jari saya di memek Karin, kali ini hisapan dan goyangannya tambah hot. Saya tarik ke bawah cd Karin dan sekarang Karin betul-betul underless.

Saya tarik pahanya dan saya angkat sehingga posisi kami 69 dengan Karin berada diatas tanpa melepas hisapan mulutnya terhadap penis saya. Saya ciumi memeknya dan saya mainkan dengan lidah saya, tak lupa saya remas-remas toketnya sampai Karin bergoyang kegelian. Didekatkannya memek Karin ke muka saya sehingga lidah saya dapat masuk ke lubang memek Karin, terdengar lenguhan Karin yang menambah tempo menghisap penis saya.

Saya rasakan tegang di pangkal penis saya tanda saya bakalan ngecrot, saya remas pantat Karin yang bohay lalu saya bilang “aku mau ngecrot nih”

Dihentikannya hisapan Karin ke penis saya, kembali dia jongkok didepan saya sambil terus mengocok penis saya, saya rasakan semakin menjadi gemuruh di penis saya. Dipandanginya penis saya dan diarahkannya lubang penis saya ke muka Karin dan crootzzz… saya muntahkan sperma saya di muka Karin, masih dikocoknya perlahan untuk mengeluarkan sisa sperma saya dan Karin tersenyum kepada saya. Diciumnya penis saya dan dia bergegas ke kamar mandi yang tersedia di room yang saya booking untuk membersihkan sperma saya di muka Karin.

Saya antarkan celana dalamnya dan roknya masuk ke kamar mandi. Kami berciuman di kamar mandi untuk menghabiskan sisa waktu sewa room sambil saling meraba. Setelah kami bersih-bersih dan rapih, kami keluar dari karaoke room dengan berangkulan sampai ke dalam mobil, bercerita yang mesum2 didalam mobil sambil saling berfantasi sex saat saya antarkan dia ke tempat kostnya. Saat didalam mobil juga saya tanyakan apa boleh saya besok Sabtu main ke kost dia, dan dia mengangguk tanda lampu hijau.

Esok Sabtunya dengan pakaian santai dan celana pendek saya gas mobil saya menuju kost Karin. Saya masuk dan disuruh menunggu di ruang tamu oleh si penjaga kos, lalu nongol Karin dengan baju tidur dan celana pendek rambut diikat, wuihh bangun lagi nih penis melihat badan Karin yang seksi. Sambil garuk-garuk kepala dan cengengesan, Karin dengan manja menyambut saya, dijulurkannya tangannya mengajak saya langsung ke kamarnya. Rupanya Karin tidak pakai bh, ketika dia menjulurkan tangannya kelihatan toketnya dari celah lengan baju tidurnya. Saya raih tangannnya dan sedikit meloncat sehingga menabrak Karin, tangan saya yang satu lagi coba curi kesempatan menempelkannya dan meremas toket Karin, Karin melotot dan langsung menarik saya ke kamarnya di lantai atas.

Masuk saya ke kamarnya yang besar, saya duduk di kursi dan Karin duduk di spring bed nya, di buatkannya saya teh manis hangat. Saya mencoba membuka pembicaraan tentang kejadian semalam dan Karin tertunduk malu. Saya hampiri dia dan duduk di sampingnya, saya pegang tangan dia dan dia mulai berkata bahwa sejak saya masuk di perusahaannya Karin suka sama saya. Saya pun tersenyum dan mencium kening dia, saya balas omongannya kalo saya juga sudah merhatiin dia dan ngebayangin yang mesum mesum sama dia.

Karin mencubit paha saya sambil bilang “Dasar cowo, otaknya jorok semua”.

Karin berdiri dan mengunci pintu kamar kostnya. Saya tanya kenapa, dia jawab mau berduaan aja Sabtu ini soalnya kadang temen kosnya sering nyelonong gitu aja. Lalu dia membahas lagi pembicaraan mesum fantasi sex yang kami lakukan di mobil menuju kost Karin. Dia menanyakan apa fantasi sex saya saat ini, saya jawab saya mau liat dia telanjang bulat melakukan aktifitas. Dia menjawab gak mau kalo telanjang sendirian, mau nya berdua. Ya sudah saya oke kan saja lalu dia bilang,

“oke kita telanjang berdua tapi tangan kamu ga boleh ngapa-ngapain aku ya”

Saya iyakan permintaannya, tanpa diperintah Karin melepaskan baju tidur dan celana pendeknya, rupanya betul dia tidak memakai bh bahkan cd. Lalu dia menghampiri saya dan melepaskan baju saya. Saya ambil kesempatan untuk memegang toketnya dan dia memukul tangan saya sambil ngomel,

“hayo tadi janjinya apa?”

Mulailah saya lihat aktifitas dia di kamar kostnya mulai dari merapikan tempat tidur, membereskan meja kerja, membersihkan karpet. Mata saya tidak lepas dari tubuhnya yang menggiurkan, bentuk yang montok bersih dan mulus yang otomatis membuat penis saya berdiri. Sesekali dia melihat kearah saya dengan pandangan sensual menggodanya.

“wah nantangin nih” kata saya.

“yee, ga kuat kan liat aku?” jawabnya.

Begitu saya mau menghampirinya, langsung Karin menghindar dan mengingatkan saya akan janji sebelumnya. Satu jam lamanya kami berdua telanjang di kamar kos Karin, sekarang Karin semkin gencar menggoda menunjuk penis saya yang berdiri tegak siap tempur, lalu menunjuk ke memeknya. Tapi itu hanya godaan si Karin, begitu saya hampiri dia selalu mengingatkan aturan mainnya, wah jinak jinak merpati nih pikirku.

Kemudian dia mulai memutar lagu dan menari dikamarnya, dia memberanikan diri menari erotis didepan saya yang duduk di spring bed dia. Sesuai aturan saya juga ga boleh pegang, cuma boleh liat. Saya goda dia dengan memainkan jari saya seolah olah mengocok memek dia, goyangannya semakin panas dan tangan Karin mulai memainkan memek dan pentil toketnya. Karin kelihatan menikmati permainannya sampai saya lihat jari tangannya yang memainkan memeknya basah.

Saya ambil remote AC dan saya rendahkan suhunya menjadi 16. Saya lihat pentil susu Karin membulat tanda Karin mulai terangsang. Saya berdiri untuk ambil minum yang sudah dibuatkan, saya belakangi dia dan saya sentuhkan ujung penis saya di pantat Karin yang montok, Karin menghindar. Saya hampiri lagi, kali ini saya di depan dia dan coba ikut bergoyang walaupun tidak segemulai Karin. Semakin saya dekatkan badan saya ke badan Karin, sesekali pentil toket Karin yang mengeras menyenggol rusuk saya dan penis saya menyenggol perut Karin.

Saya rebahkan tubuh saya di spring bed, lalu Karin menghampiri saya sambil terus bergoyang. Tiba-tiba saya tarik tangan dia sehingga dia jatuh menimpa saya dan posisi penis saya tepat dibawah memek Karin. Karin menurunkan badannya kebawah sehingga penis saya menggesek belahan memek Karin yang sudah basah, juga terjadi gesekan toket Karin ke perut saya sampai penis saya juga tergesek di belahan toket Karin. Karin tersenyum nakal dan mengulanginya lagi beberapa kali sampai terdengar juga lenguhannnya mungkin menikmati gesekan ujung penis saya dengan belahan memek Karin.

Kesekian kalinya pada saat ingin menurunkan badannya di badan saya, saya tahan ketiaknya dengan lengan saya dan langsung saya sambar bibirnya. Karin menikmatinya dan berbalik memburu bibir saya sambil tangannya mengocok penis saya. Diarahkannya memeknya ke ujung penis saya sampai ujung penis saya diposisikan didepan lubang memek Karin dan Karin menjatuhkan pantatnya untuk memasukkan penis saya. Rupanya memeknya masih sempit sehingga usahanya berkali kali masih belum berhasil. Kali ini saya pegangi pinggulnya, juga saya gerakkan pinggul saya perlahan sampai akhirnya ujung penis saya sudah masuk dilubang memek Karin.

Perlahan kami saling menggoyang pinggul, dan perlahan tapi pasti penis saya masuk penuh ke dalam memek Karin. Sensasi yang dahsyat saat penis saya masuk penuh dilubang memek Karin. Karin mulai naik turun mengocok penis saya dengan memeknya, dan yang luar biasa didalam memeknya penis saya seperti dihisap oleh memek Karin. Dengan genjotannya, toket Karin ikut bergoyang dan saya lihat Karin menikmati permainan ini, sampai saya lihat dia lama memejamkan mata dan semakin mempercepat gerakan naik turunnya. Tangannya meremas dada saya dan Karin melenguh panjang “aaaahhhhhhhhh…” lalu menjatuhkan mukanya di dada saya menandakan dia sudah mencapai orgasmenya.

Dengan penis yang masih didalam memek Karin saya balikkan posisi Karin dibawah, saya tarik pantat Karin ke pinggir spring bed, saya lipat lutut Karin keatas dan saya pegangi. Saya lipat lagi sehingga pahanya menempel di toketnya dengan posisi saya berdiri. Dengan posisi ini bisa saya lesakkan penuh batang penis saya. Saya mulai gerakan maju mundur saya sambil berdiri menggenjot memek Karin yang sudah banjir sampai menabrak dinding rahimnya, kali ini Karin mulai teriak,

“Aaahh… yess… come on fuck me harder… harder… come on fuck my pussy hard”

Sampai akhirnya dia menarik saya sampai menindihnya, dipeluknya saya dengan erat dan saya rasakan badannya bergetar tanda orgasme kedua sudah didapatnya. Saya lihat Karin sudah mulai lemas setelah orgasme kedua. Saya cabut penis saya dan saya posisikan Karin menungging sehingga bisa saya mainkan doggy style. Kali ini dengan mudah batang penis saya masuk karena memek Karin sudah basah, saya genjot habis-habisan sambil juga saya mainkan jari saya dilubang anusnya. Kali ini benar-benar teriakan Karin sangan keras

“Aaahhh… yesss… Ahhh… yesss… Oh my god, mmmmhhh…” sambil menoleh kebelakang melihat saya yang menggenjot memeknya dari belakang.

Saya rasakan saya hampir mencapai orgasme dan akhirnya saya cabut penis saya dari memek Karin, saya dudukkan Karin dan saya hadapkan penis saya didepan muka Karin. Diambilnya penis saya kemudian dikocok olek Karin,

“Ooohh… bitch… come bitch… Cum in your mouth” begitulah racauku.

Dimasukkannya penis saya kedalam mulutnya dan dihisap dengan hebat oleh Karin.

“Aaghhhhh…” badan saya gemetar sambil memuntahkan sperma saya di dalam mulut Karin.

Saya ambruk di samping Karin dan Karin masih membersihkan sisa sperma saya dengan lidah dia. Setelah tenaga terkumpul kembali kami membersihkan diri di kamar mandi yang ada didalam kamar kost Karin. Setelah itu kami keluar untuk makan siang dilanjutkan pergi untuk malam mingguan.

Begitulah awal cerita saya saat menjamah Karin dan Karin pun ternyata menyukai saya. Proyek kami berjalan sukses, saya jadian sama Karin, dan kami melakukan sex yang dahsyat yang rutin pada setiap weekend. Jika ada yang pengen, kami sengaja keluar kantor dan check-in short time untuk memuaskan hasrat birahi saya dan Karin.

Cerita Sex Fantasi Birahiku di Sekolah


Pagi ini entah mengapa saya bersemangat untuk pergi sekolah. Setelah menyiapkan buku, tanpa menyia-yiakan waktu, saya langsung keluar dari asrama dan pergi ke kelas. Di tengah-tengah perjalanan menuju ruang kelas saya bertemu dengan beberapa adik kelas, mungkin mereka habis piket. Langsung saja saya menuju kelas tercinta, berharap saya orang pertama yang ada disana.

Seketika itu juga, saya tidak bisa mengucapkan kata apa-apa. Hendra teman sekelas saya dan juga salah satu cowok yang saya kagumi tengah memainkan burungya yang menjulang tinggi. Sambil tanganya mengurut ke depan dan ke belakang. Hati saya bertanya? Apa yang sedang Hendra lakukan. Sebagai wanita, saya hanya bisa berteriak. Hendra pun sadar akan kehadiran saya. Dengan sigap, ia segera memasukan burungnya dan menutup celana panjangnya.

"Pagi Mita, tumben pagi-pagi gini udah dateng"

"Iya nih, daripada gak ada kerjaan. Mending ke kelas aja. Sekalian belajar" jawab saya.

"Mit, kamu lihat yang aku lakuin tadi?" tanya Hendra, muka saya langsung memerah dan tak sanggup mengatakan apa-apa.

Setelah jam pelajaran habis. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Saya masih memikirkan apa yang terjadi tadi pagi. Hal ini membuat saya penasaran. Saya sungguh tabu akan hal yang berbau sex. Sebagian dari teman saya apabila hasratnya sedang memuncak mereka slalu pergi ke kamar mandi sambil membawa timun, wortel, dan pisang. Menurut informasi, di dalam kamar mandi mereka membuka seluruh pakaiannya. Mulai dari kerudung, jubah, sampai rok. Timun kemudian dimasukan ke dalam vagina, maju, mundur sambil membayangkan itu kelamin cowok yang mereka kagumi.

Saya ingin menjaga diri, tapi akibat pristiwa tadi hasrat saya memuncak, segera saya pergi ke dapur untuk meminta timun yang masih segar. Beruntung kamar mandi pojok kosong. Langsung saja saya masuk kesana. Sebuah timun saya keluarkan dari baju putih saya. Kemudian kerudung panjang saya mulai saya buka, saya biarkan rambut panjang saya terurai. Saya sungguh bangga dengan paras saya yang cantik.

Baju putih telah saya buka, begitu juga dengan rok hitam saya. Kini tinggal pakaian dalam yang menempel di tubuh saya. Bra pink mulai saya lepaskan, mencuatlah buah dada saya yang besar dengan puting merah muda. Celana dalam putih yang saya kenakan telah terlepas. Secara reflek saya meremas kedua dada saya yang besar.

“Aaachhh....aachhhhh... aahhhh…” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut saya.

Kini puting saya telah mengeras, tapi saya tetap meremas dengan penuh nafsu. Sambil tetap meremas, timun saya ambil. Segera saya buka lubang vagina saya. Saya tertawa kecil, karena vagina saya di tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Dengan penuh nafsu, timun saya masukan. Kini telah masuk stengahnya kedalam vagina saya. Nikmat rasanya, pantas saja teman-teman ketagihan. Sambil membayangkan Hendra, saya terus memainkan timun. Maju, mundur,

“Aachhhh... achhhh... achhhhh…”

Timun yang masuk kedalam vagina saya semakin membuat tubuh saya menggelinjang. Tak sanggup rasanya merasakan rasa nikmat yang mengalir begitu deras. Setengah dari timun telah masuk kedalam vagina saya, andai saja timun tadi adalah penis milik Hendra. Mungkin kenikmatan yang saya rasakan akan lebih.

“Aachh... aacchhh… ahhhh... ouchhhh…”

“Hendra... Hendra...” sambil terus meremas payudara.

Saya merasa ada sesuatu yang akan keluar, gerakan maju mundur terus saya lakukan, semakin cepat vagina saya memerah dan mulai basah oleh cairan putih. Gerakan semakin saya percepat, semakin cepat.

“Oochhhh... aaaachhhh...” saya mengeluarkan teriakan paling keras, disertai dengan keluarnya cairan putih yang sangat banyak.

Saya sempat khawatir akan ada orang yang tahu apa yang saya lakukan di kamar mandi tadi. Dengan segera saya ambil pakaian putih dan rok hitam saya. Tak lupa juga timun tadi yang saya pakai untuk berfantasi. Kini, Mita menjadi akhwat yang tertutup jilbab lebarnya.

Di asrama saya terkenal sebagai seorang kakak kelas yang pintar, cantik, juga alim. Jadi wajar saja jika sebagian dari mereka menghormati saya. Tidak sedikit dari adik kelas saya yang curhat tentang cowok yang mereka taksir. Mulai dari hal ngedate, bercanda, sampai hal seperti itu. Pernah ketika itu indah bercerita, kalau payudaranya pernah diremas oleh zacky. Selain itu di waktu kelas kosong, mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah saling berdau, sampai bertukar rasa air liur. Untung saja saya tidak melaporkan hal itu ke ustadzah, karena saya tahu indah orangnya polos. Zacky lah orang yang seharusnya disalahkan.

Malam ini saya berharap bisa mimpi indah bersama Hendra. Mimpi untuk menandakan kedewasaan seseorang, mimpi yang mewajibkan untuk mandi wajib sesudahnya. Sebelum tidur saya terbiasa cuci muka, dan gosok gigi. Ketika ditempat tidur, saya terbiasa melepas kerudung lebar saya, membiarkan rambut panjang saya terurai. Semua pakaian dalam juga saya lepaskan. Hanya baju tidur saja yang saya kenakan.

Tidak terasa, waktu subuh sebentar lagi, saya segera bangun dari tidur saya. Kerudung segera saya kenakan, dan bergegas ke kamar mandi. Sedikit informasi, kamar mandi pria dan wanita saling berhadapan. Jadi wajar saja ada mata-mata jahil yang mengintip akhwat sedang mandi. Saya masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.

Baju tidur saya saya lepas, mencuatlah langsung payudara saya yang besar dan juga putih dengan puting merah muda. Kemudian celana training saya, gatal rasanya vagina saya. Terakhir adalah kerudung kesayangan saya. Saya berbalik, tampaklah sesosok mata memandang dengan penuh nafsu. Saya segera menutup barang kebanggan saya dan berteriak.

"Ada yang ngintip, tolong!" semua akhwat langsung menuju ke kamar mandi, tapi sang pengintip tadi langsung menghilang.

"Siapa yang ngintipnya Mit?"

Saya juga tidak begitu jelas melihatnya, tapi sorot matanya seperti orang yang saya kenal. Merasa suasana terkendali, saya segera untuk membersihkan diri. Segar sekali rasanya mandi di pagi hari, saatnya saya berganti pakaian sekolah. Sejenak saya memandang tubuh saya yang indah didepan kaca. Payudara saya menjadi daya tarik tersendiri karena ukurannya yang besar, dan padat. Mengapa tidak sekali-kali saya pakai pakaian ketat saja.

Berhubung semua pakaian yang saya miliki berukuran lebar, maka saya rayu adik kelas untuk meminjamkan pakaiannya yang kecil. Setelah saya dapat, segera saya berpakaian. Oohhh... sungguh sulit dipercaya, semua lekuk tubuh saya tercetak dan bagian depanlah yang paling menonjol, serasa ia ingin mencuat, saya harus jaga diri dari tangan-tangan jahil. Rok hitam telah saya kenakan. Sedikit tampil beda, saya pakai shadow di sekitar mata saya, di tambah sedikit pemerah wajah. Sungguh cantik dan seksinya saya hari ini. Kira-kira apa reaksi dari ikhwan dan akhwat yang melihat saya.

Saya masuk ke kelas sambil mengucapkan "selamat pagi semua". Mendengar itu, semua berpaling ke arah saya seakan ingin melihat siapa gerangan. Sontak semua ikhwan memandang ke arah saya.

"Mita, kamu cantik banget"

“Iya nih, hari ini Mita beda dari biasanya. Ada angin apa nih"

Semua pujian yang diarahkan ke arah saya membuat para akhwat syirik, termasuk Lisa. Ia merasa keseksiannya tersaingi oleh saya. Walaupun berkerudung, Lisa terkenal binal. Tidak sedikit ikhwan yang ia taklukan. Lisa juga terkenal sebagai akhwat yang sering berhbungan dengan ikhwan. Biasanya ia slalu pintar mencari waktu yang kosong untuk itu. Topik pagi ini yang paling hangat masih tentang sang pengintip.

"Mit, emangnya kamu gak liat jelas tadi? Sayang banget kalu dia gak ketangkap"

Ikhwan hanya bisa saling menuduh. Sedikit saya lempar senyuman manis kepada mereka. Tanpa sengaja Hendra memandang ke arah saya. Tatapannya sungguh tajam, seakan tersimpan suatu pesan. Penampilan yang beda berdampak tidak menyenangkan. Semenjak pelajaran dimulai, semua mata ikhwan terus memandang saya. Apa yang salah? Apa payudara saya begitu menggoga, atau wajah saya yang mempesona. Saya tak tahan akan keadaan ini.

Lisa tidak terlihat ketika pelajaran berakhir. Saya tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Lisa. Di sisi lain, Rendi seakan menghilang begitu saja. Apa ada kaitannya dengan Lisa? Jam pelajaran habis, semua ikhwan dan akhwat berteriak senang. Entah mengapa sebelum pulang, saya ingin pergi ke kantin belakang. Beberapa sapaan saya dapatkan dari teman saya yang lain.

Tiba-tiba saya terkejut ketika mendengar desahan seorang lelaki. Karena penasaran, saya mencari sumber suara tadi. Ternyata suara tadi berasal dari gudang belakang. Positif thinking jalan yang terbaik, siapa tahu itu orang yang membutuhkan pertolongan. Segera saya dekati, betapa terkejutnya saya. Lisa yang tadi menghilang ternyata sedang asyik menghisap penis Rendi yang sudah tegang dan merah. Saya ingin berteriak, tak sanggup rasanya melihat mereka berdua.

Seketika itu, bisikan setan datang. Saya mendekat dan ingin melihat jelas mereka berdua. Lisa terlihat masih menggunakan pakaian lengkap. Rendi telah melepas celananya. Penis Rendi sungguh besar, Lisa sangat menikmati setiap jilatannya, Rendi seakan tidak kuat menahan gigitan dan isapan dari mulut Lisa. Sepertinya Lisa sangat handal dalam hal ini. Isapan Lisa berhenti, ketika Rendi melepasa bajunya. Keringat telah bercucuran di tubuhnya.

Kini di depan mata saya Rendi tidak menggunakan sehelai benang pun. Nafas saya semakin tak menentu, detak jangtung semakin cepat. Rendi membuka kancing baju Lisa satu persatu, saya semakin bernafsu melihat hal itu. Dengan ganasnya bra pink Lisa ditarik. Sementara kerudung sengaja masih menempel.

"Nis, payudara kamu indah banget, boleh aku remes gak?"

"Masa sih, indah apanya. Mau remas ya remas aja" Suara Lisa begitu manjanya.

Saya semakin terangsang melihat adegan mereka berdua, dengan segera saya mainkan vagina saya yang mulai basah.

“Aachhh... aahhhhhh...” vagina saya sungguh gatal, saya jadi teringat akan Hendra, saya masukan jari-jari saya kedalam vagina.

Rendi terus meremas payudara Lisa, menghisap, menggigit pentilnya. Lisa berteriak ketika putingnya digigit Rendi. Lisa merasa payudaranya telah mengeras. Lisa melepas rok hitamnya, kemudian ia meminta Rendi untuk menarik celana dalamnya. Tentu saja, Rendi tidak menolak. Celana dalam pink Lisa telah terlepas. Vaginanya begitu merekah. Lidah Rendi bermain lincah dalam vagina Lisa.

“Oouchhhh... aachhhh... oochhhhh... yes Rendi…”

Gerakan jari saya semakin cepat. Seketika itu juga, cairan nikmat keluar dari vagina saya. Suasana yang sepi membuat saya leluasa untuk apapun. Rok segera saya lepaskan, dilanjutkan dengan Pakaian putih saya. Terakhir adalah kerudung ketat yang saya pakai hari ini. Seorang Mita sekarang hanya menggunakan pakaian dalam.

"Rendi kamu pinter banget, puasin aku, aaachhh… aachhhh…"

Vagina Lisa masih dipermainkan oleh lidah Rendi. Jari-jari Rendi juga bermain di daerah licin Lisa. Saya semakin tak kuasa, tangan saya meremas payudara indah saya. Pakaian dalam belum mau saya lepaskan.

“Aachhhh... ochhhhh... yes...ought...” hanya teriakan kecil itu yang saya ucapakan.

Tangan Lisa meraih penis Rendi, lalu menjilatinya, sambil sesekali mengocok pelan. Ia sepertinya tak ingin Rendi ejakuasi duluan.

"Ren, bukain kerudung Lisa dong"

"Emangnya kamu gak malu sama aku?" kata Rendi.

"Buruan ah, Lisa gak tahan nih"

Selama ini, Rendi belum pernah melihat Lisa tanpa kerudung. Walaupun ia terkenal sebagai akhwat yang binal. Perlahan-lahan kerudung Lisa dilepasnya. Rasa penasaran terlihat dari wajahnya.

"Lisa… berkerudung ataupun tidak, kamu tetap cantik"

Rambut yang selama ini tertutupi, kini tampak dengan indahnya di depan Rendi. Saya terpana melihat rambut Lisa yang indah, panjang dan berwarna kecoklat-coklatan. Lisa membuka vaginanya lebar-lebar, terlihat birahinya telah memuncak. Rendi segera mengarahkan penisnya menuju vagina Lisa, ia sempat beberapa kali gagal. Padahal yang ia tahu, Lisa sudah tidak perawan.

"Lis, vagina kamu sempit banget"

"Coba terus aja Ren"

Rendi terus mencoba, bahkan penisnya ia lumuri air liur Lisa. Baru kali ini saya merasakan hal yang sangat nikmat sebagai akhwat. Selama ini saya hanya bisa berimajinasi tentang seks. Tubuh saya bergoyang merasakan irama dan desiran dari hasrat birahi. Sambil terus bergoyang saya buka pakaian dalam yang telah basah oleh keringat ini. Lisa menjerit dengan kerasnya,

"Aaachhh... aachhh... achhh… Rendi, sakit…"

Rendi sepertinya khawatir akan Lisa, "Kamu gak apa-apa kan?"

"Terusin aja Ren, jangan lupa genjot yang kenceng" Lisa memainkan rambutnya yang panjang sambil mengigit kecil bibirnya.

Bayangan Hendra seakan hadir seketika. Mengajak saya bersenggama dan berbagi kenikmatan. Lisa sangat menikmati setiap goyangan Rendi, begitu pula dengan Rendi. Penisnya serasa dijepit dengan pijitan nikmat dari Vagina Lisa.

“Rendi… aachhhhh... ouchhhgggg... genjot terus” Rendi tersenyum dan mempercepat genjotannya.

"Gimana nis, kamu puas gak?"

"Puas banget. Penis kamu udah gede, keras lagi, bikin aku gereget”

Saya tak tahu harus kemana melampiaskan birahi ini. Mulut Lisa terus meracau dan mengeluarkan kata-kata nikmat. Rambutnya berantakan, tubuhnya kilat dengan keringat. Genjotan Rendi semakin cepat, penisnya tampak sangat merah, vagina Lisa juga telah basah dengan cairan nikmat. Lisa mengigit bibirnya dan berteriak dengan keras.

“Aaachhhh... Rendi, Lisa udah nyampe"

Rendi seakan berhasil mengalahkan Lisa. Genjotan semakin cepat, cepat, cepat, seakan ada sesuatu yang bedenyut dari penisnya. Tak sanggup menahan nikmat, Rendi tidak mencabut penisnya. Ia membiarkan spermanya mengalir dalam vagina Lisa.

"Lisa, aku udah nyampe nih. Kamu siap tahan"

Crooootttt... Crooottt... Crooottt... Crottt... Croott… Rendi mengeluarkan sperma beberapa kali. Sungguh beruntung jadi Lisa. Bisa merasakan kenikmatan dari Rendi, Mereka berdua tampak senang, saling memuji dan beristirahat sebentar. Kini giliran fantasi liar saya. Sambil membayangkan kejadian tadi, saya remas payudara yang indah ini. Oochhh... nikmat rasanya. Kemudian saya gosok vagina saya, dan memasukan jemari saya.

“Aaachhh... aachhh... oouchhh...” bulu-bulu halus ini saya persembahkan untuk Hendra.

Mereka berdua masih terlihat kelelahan. Untung saja, saya semakin menikmati fantasi birahi ini. Sebagai akhwat, ternyata birahi saya sangat besar. Hasrat yang tertahan harus saya lampiaskan. Saya semakin memejakan mata, menahan rasa nikmat dari permainan jemari saya.

“Hendra… aachhh... aahhhhh...” tangan saya kini memainkan puting susu saya.

Kesadaran tengah hilang dari saya karna orgasme akibat kocokan tangan saya. Saya membuka mata untuk melihat sejenak apa yang Lisa dan Rendi lakukan. Akhirnya saya pun pergi meninggalkan mereka.

Cerita Sex Bercinta Dengan Guru SMAku


Cerita ini berawal dari reuni SMA saya di Jakarta. Setelah itu saya bertemu dengan guru bahasa inggris saya, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Intan masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu saya SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolah saya itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita.

Cukup lama saya ngobrol dengan Ibu Intan, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan sudah harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempat saya belajar waktu SMA dulu. Tiba-tiba Ibu Intan teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas.

Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Intan pun mengambil tasnya kemudian saya teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunan saya buyar ketika Ibu Intan memanggil saya.

“Kenapa Deva”

“Ah.. tidak apa-apa”, jawab saya.

Sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasrat saya bergejolak, apalagi ada Ibu Intan di samping saya, membuat jantung saya selalu berdebar-debar.

“Ayo Dev kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Intan.

“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawab saya dengan ragu-ragu.

“Terima kasih Dev”.

Tanpa sengaja saya mengutarakan isi hati saya kepada Ibu Intan bahwa saya suka kepadanya, “Oh my God what i’m doing”, dalam hati saya. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Intan terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Saya panik dan berusaha minta maaf. Ibu Intan ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Saya tertegun dengan pernyataan Ibu Intan.

Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Intan mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, saya pikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Saya semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Intan menolak. Saya merasa tidak enak lalu menunggunya, saya rangkul pundak Ibu Intan, dengan cepat Ibu Intan hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Intan mencium saya dan saya pun membalasnya.

Ohh... alangkah senangnya saya ini, lalu dengan cepat saya menciumnya dengan segala kegairahan saya yang terpendam. Ternyata Ibu Intan tak mau kalah, ia mencium saya dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja saya menyusuri dadanya yang besar, Ibu Intan terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru.

Ibu Intan memainkan tangannya ke arah batang kemaluan saya sehingga saya sangat terangsang. Lalu saya meminta Ibu Intan membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, saya tatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaan saya salah, dadanya yang saya sangka kecil ternyata cukup besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka saya cium lehernya dan kini Ibu Intan setengah telanjang, saya tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan saya nikmati keindahan tubuhnya. Saya pun membuka baju sehingga badan saya yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Inta.

“Deva, Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Dev, tutup pintunya dulu dong”, bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat saya segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu saya kembali ke Ibu Intan. Kini saya jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tangan saya menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidah saya makin naik ke atas. Ibu Intan menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatan saya sampai di pangkal pahanya.

“Mau apa kamu sshh… sshh”, tanyanya lirih sambil memegangi kepala saya erat-erat.

“Ooo… oh.. oh..”, desis Ibu Intan keenakan ketika lidah saya mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya.

Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam. Serangan pun saya tingkatkan. Celana dalamnya saya lepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mata saya, kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaan saya. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidah saya kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Intan makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya.

“Aahh… Kamu pintar sekali. Belajar dari mana hh…”

Tanpa sungkan-sungkan Ibu Intan mencium bibir saya. Lalu tangannya menyentuh celana saya yang menonjol akibat batang kemaluan saya yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Saya segera menjulurkan lidah saya, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya saya belit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Intan seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak saya biarkan. Mulut saya seperti melekat di mulutnya.

“Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?”, tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar.

Saya tidak menjawab. Tangan saya mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkan saya, BH-nya saya lepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera saya pelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

“Nggak adil. Kamu juga harus telanjang..”

Ibu Intan pun melucuti kaos, celana saya, dan terakhir celana dalam saya. Batang kemaluan saya yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebahan, berguling-guling, saling menindih. Saya menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidah saya menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Intan mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya saya merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluan saya ke mulutnya.

“Gantian dong..”

Tanpa menunggu jawabannya segera saya masukkan batang kemaluan saya ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluan saya masuk ke rongga mulutnya.

“Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?”, tanya saya sambil menciumi payudaranya.

Ibu Intan tak menjawab. Dia malah mencium bibir saya dengan penuh gairah. Tangan saya pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Saya tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun saya sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama saya tidak tahan juga, batang kemaluan saya pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan saya mengarahkan barang saya yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, saya rasakan tubuh Ibu Intan agak gemetar.

“Ohh…”, desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluan saya masuk ke liang kenikmatannya.

Setelah seluruh barang saya masuk, saya segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Saya makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang. Tiga menit setelah saya genjot, Ibu Intan menjepitkan kedua kakinya ke pinggang saya. Pinggulnya dinaikkan, tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluan saya saya tingkatkan.

“Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya.

Saya biarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Saya ciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat.

“Sekarang Ibu Intan berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!”

Saya mengatur badannya dan Ibu Intan menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya.

“Gaya apa lagi ini?”, tanyanya.

Setelah siap saya pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Intan kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.

“Capek?”, tanya saya.

“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulang saya”.

“Tapi kan nikmat Bu..”, jawab saya sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.

“Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, saya pengin masuk agar sperma saya keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluan saya. Sekarang Ibu Intan yang di atas”, kata saya sambil mengatur posisinya.

Saya terletang dan dia menduduki pinggang saya. Tangannya saya bimbing agar memegang batang kemaluan saya masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya saya naik-turunkan seirama genjotan saya dari bawah. Ibu Intan tersentak-sentak mengikuti irama goyangan saya yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsu saya. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme saya belum apa-apa. Posisinya segera saya ubah ke gaya konvensional. Ibu Intan saya rebahkan dan saya menembaknya dari atas. Mendekati klimaks saya meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluan saya.

“Oh Ibu Intan.., saya mau keluar nih ahh..”

Tak lama kemudian sperma saya muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Intan kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Saya rasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluan saya. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Intan harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa saya jemput.

Sore telah tiba, Ibu Intan saya jemput dengan mobil saya. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, saya mulai menciumi lehernya. Ibu Intan mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tangan saya pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Intan makin terengah, dan tangan saya pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jari saya mengelus belahan yang membayang.

“Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Intan menggelinjang, tapi gairah saya sudah sampai ke ubun-ubun dan saya pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.

Aaahh..! Ibu Intan dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Saya segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Intan mengelus bagian belakang kepala saya dan erangannya yang tersendat membuat saya makin tidak sabar. Saya menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Saya pun segera membenamkan kepala saya ke tengah ke dua pahanya.

“Ehhh… mmmhh..”

Tangan Ibu Intan meremas jok mobil saya dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya saya cumbui. Sesekali lidah saya berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

“Ooohh.., aduuuhh..”

Ibu Intan mengangkat punggungnya ketika lidah saya menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidah saya bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidah saya membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Intan terlonjak dan nafas Ibu Intan seakan tersendak. Tangan saya naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika saya berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Intan tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa saya membuka semua pakaian saya, dan kemaluan saya yang tegak teracung ke langit-langit, saya belai-belaikan di pipi Ibu Intan.

“Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”

Ketika Ibu Intan membuka bibirnya, saya jejalkan kepala kemaluan saya, kini iapun mulai menyedot. Tangan saya bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya.

“Oouuuh Ibu Intan.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.

Ibu Intan terus mengisap batang kemaluan saya sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluan saya yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 15 menit dia menghisap batang kemaluan saya dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar.

“Ibu Intan.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku.

Dia mengerti kalau saya mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, saya lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.. “Creet.., suuurr.., ssuuur..”

“Oughh.., Deva.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluan saya.

Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya saya juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil saya tahan kepalanya, saya semburkan mani saya ke dalam mulutnya, “Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali mani saya yang tumpah di dalam mulutnya.

“Aaahkk… ooough…”, ujarku puas.

Setelah istirahat sebentar, saya masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, saya pun naik ke atas tubuh Ibu Intan dan bibir saya melumat bibirnya. Aroma kemaluan saya ada di mulut Ibu Intan dan aroma kemaluan Ibu Intan di mulut saya, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, saya gesek-gesekkan kepala kemaluan saya ke celah di selangkangan Ibu Intan, dan sebentar kemudian saya rasakan tangan Ibu Intan menekan pantat saya dari belakang.

“Ohm, masuk.., augh.., masukin”

Perlahan kemaluan saya mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Intan semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluan saya terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Intan memekik kecil. Saya menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau.

“Aduhhh.., ssshh.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Dev”

Saya merangkulkan kedua lengan saya ke punggung Ibu Intan, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Intan sekarang duduk di atas pinggul saya. Nampak kemaluan saya menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Intan segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jari saya bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Intan makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambut saya, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluan saya. Setelah tubuh Ibu Intan melemas, saya mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, saya mengejar puncak orgasme saya sendiri.

Ketika saya mencapai klimaks, Ibu Intan tentu merasakan siraman air mani saya di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

Cerita Sex Perawan Hilang Karena Hutang



Keluarga pak Toni merupakan keluarga yang kaya, akan tetapi tanpa sepengetahuan keluarganya ternyata pak Toni mempunyai hutang yang sangat besar untuk modal usaha. Pak Toni memiliki anak perempuan bernama Vera, Vera merupakan anak yang cantik, dengan kulit putih dan dada yang montok dengan ukuran 34b. Vera masih duduk di kelas 2 smu.

Pada suatu hari pak Yanto seorang rentenir datang menagih hutang kepada pak Toni, akan tetapi pak Toni tidak bisa membayar hutang tersebut. Kebetulan di saat yang sama Vera berada di rumah. Melihat Vera yang cantik pak Yanto pun tertarik.

"Pak Toni, putri anda cantik juga, gini aja pak hutang bapak akan lunas,dengan sarat bapak menyerahkan Vera pada saya, ya buat semalam aja gtu"

"Jangan pak Yanto, minggu depan saya lunasi hutang saya"

"Ok saya tunggu 3 hari, kalo tidak bisa, anakmu yang bakal nanggung hutang-hutangmu".

Tiga hari berlalu, pak Yanto datang lagi menagih hutang. Tetapi pak Toni belum bsa membayar hutang tersebut. Pak Yanto pun marah besar.

"Ok pak, bapak yang melanggar janji bapak, sebagai gantinya Vera harus melayani saya." pak Toni hanya terdiam.

Tak lama Vera pulang dari sekolah, begitu sampe di rumah Vera pun langsung di sergap anak buah pak Yanto.

"Anjrit.. apa ini, lepaskan…" teriak Vera.

"Owh tuan putri sudah pulang rupanya" sapa pak Yanto girang.

"Mana ayah saya?” tanya Vera

"Ayahmu sedang keluar" jawab pak Yanto.

Tiba-tiba tubuh Vera yang kecil ditarik pak Yanto yang keturunan arab, yang 2x lebih besar dari Vera.

"Anjrit.. lepaskan…" teriak Vera.

Tanpa peduli teriakan Vera, pak Yanto meremas-remas dada Vera.

"Hhmmm... besar juga punyamu ya"

"Lepaskan..." teriak Vera ketakutan.

"Pegang dia…" pak Yanto menyuruh anak buahnya.

Vera pun dipegangi 3 orang laki-laki berbadan besar, kemudian diikat terlentang di ranjang. Pak Yanto pun bisa menikmati tubuh Vera.

"Ampun pak.. ampun…" mohon Vera kepada pak Yanto.

Pak Yanto tidak peduli dengan kata-kata Vera. dengan kasar ia membuka seragam Vera, lalu menyedot putingnya.

"Aakkkhhh... oookkhhh... ampun pak... jangan…”

"Hhmmm dadamu indah sekali sayang"

“Oooookkhhh... ampun pak...”

Pak Yanto langsung mengulum bibir Vera dengan kasar.

"Eemmmyyhh.. oookhhh..." Vera tak bisa berkata-kata karena bibirnya diserang pak Yanto.

Pak Yanto kemudiam membuka cd Vera, langsung menyedot itilnya..

"Oooookkkhhh.. pak.. ampun..."

"Oookkkhh... akkkhhh..." Vera pun tidak kuasa menahan rangsangan dari pak Yanto.

"enak kan Ver..." ucap pak Yanto sambil terus menjilati itil Vera.

"Ooookkkhhh... ampun pak, jangan pak..." ucap Vera.

Pak Yanto lalu membuka celana dan cd nya, lalu mengarahkan ke mulut Vera.

"Emut sayang"

Vera menolak dengan menutup mulutnya. Pak Yanto memencet hidung Vera, Vera megap-megap tidak bisa bernapas. Tanpa buang waktu pak Yanto langsung memasukkan kontolnya yang panjang ke mulut Vera. Vera pun makin megap2 karena mulutnya disumpal kontol dengan ukuran 20cm. pak Yanto terus menekan kontolnya sampai Vera tersendak. Pak Yanto memaju-mundurkan wajah Vera, mengocok kontolnya..

"Ooohhh... enak sayang... mulutmu enak banget" pak Yanto keenakan.

"Mmmmmmhhh... mmmmhhh... mmmhhhh"

Vera hanya bisa pasrah menerima semua ini. Dia tau melawan pun tidak ada gunanya. Pak Yanto lalu mencabut kontolnya dari mulut Vera, kemudian dia memasukkan kontolnya ke dalam vagina Vera.

"Uuukkhh... sempit banget sayaang..."

"Aakh... akhh... sakit pak… ampun..." isak Vera memelas.

Pak Yanto lalu menekan kontolnya kuat... "bbbllesssshhhhh…"

"Aaaaakkkkkhhhhhhhhh…" Vera berteriak ketika keperawanannya direnggut pak Yanto.

"Owh... Vera, memekmu enak sekali, gak sia-sia aku ganti utang bapakmu dengan kamu"

Pak Yanto menggenjot memek Vera tanpa ampun. Mengetahui kalo dia dijadikan alat untuk membayar hutang, Vera pun benar-benar pasrah. Pak Yanto tau Vera sudah dia dapatkan, kemudian ia melepaskan ikatan Vera, sambil menggenjot memek Vera.

"Oooohhh... oohhhhh... sudah pak... sakit…" rintih Vera.

"Ooohh... sakit…"

Pak Yanto sudah tidak peduli lagi dengan rintihan Vera, yang dia cari hanya kenikmatan dari tubuh Vera. Dia terus menggenjot tubuh Vera.

“Oooohhhh... ooohhh... ohhh…" rintih Vera.

Pak Yanto lalu menarik tubuh Vera ke pelukannya, lalu membopong dia. Dia mengentot Vera sambil berdiri. Vera pun merasakan vaginanya di sodok makin dalam.

"Aaaaakkkkkkkkhhhhhhhhhhhh…" Vera menjerit.

"Aakh.. akhh.. akh.. sakit pak"

Pak Yanto memutar tubuh Vera, lalu menyodok Vera dari belakang.

"Ooohh Vera... nikmat banget tubuhmu"

"Aakh ampun pak… sudah cukup…" iba Vera.

Tiba-tiba pak Yanto mencabut kontolnya. Vera pikir semua sudah berakhir, tapi kemudian pak Yanto memaksa kontolnya masuk ke anus Vera.

"Aaaaakkkkkhhhh... ampunh.. jangan... aakkkkkkhhh..." teriak Vera kesakitan.

"Ampun pak... tolong… jangan... akkkkkhhhhhhhhh…" tubuh Vera melengkung ketika kontol pak Yanto menghujam anusnya.

"Ooohhh Vera... anusmu gak kalah enaknya dengan memekmu"

"Aakh... aakh... akhh… ampun… sakit…"

Pak Yanto tidak peduli rintihan Vera dan terus menyodok anus Vera. Vera menangis menahan sakit di anusnya…

"Aakh... sakit pak..."

Pak Yanto lalu memasukkan kontolnya ke memek Vera lagi.

"Aakkhhkk..." Vera pun teriak kecil.

"Aku mau muncrat sayang, nitip calon anakku ya sayang" ucap pak Yanto.

"Jangan pak, saya mohon jangan di dalam"

"crooot... croooottt… crooot…" pak Yanto pun menyemprotkan spermanya ke dalam memek Vera.

"Ooooooooohhhhhhhhhhh…" enak banget sayang.

Vera pun cuma bisa menangis ketika memeknya di sembur sperma pak Yanto. Kemudian pak Yanto mencabut kontolnya dan meninggalkan Vera begitu saja setelah puas dengan tubuh Vera. Darah perawan Vera berceceran di atas sprei. Vera hanya bisa menangis meratapi hidupnya.

Cerita Sex Rida Pacarku Berjilbab


Saya berkenalan dengan Rida saat berada di sebuah rumah sakit di Semarang. Rida adalah perawat di rumah sakit tersebut. Sudah sekitar5 bulan saya berpacaran dengan Rida. Dia agak pendiam, tapi apabila sudah kenal dekat akan terlihat kalau dia ternyata sangat supel. Tubuhnya lumayan semok, tapi dengan jilbab yang menghiasi wajahnya tidak banyak menarik perhatian oarang. Saya pernah satu kali melihat dia tanpa jilbabnya, waktu saya main ke kostnya. Tubuhnya terlihat seksi, namun hal itu terjadi tidak lama karena dia langsung mengganti baju tidurnya dengan pakaian jilbabnya.

Hari ini saya sudah membuat janji dengan Rida untuk berkencan. Siangnya saya jemput Rida di kostnya, lalu saya ajak dia ke hutan wisata yang tidak jauh dari kota Semarang. Sesampainya di sana kami pun berkeliling, lalu kami duduk di tempat yang cukup sepi. Kami asyik ngobrol di tempat itu, disela obrolan kami tangan saya mengelus jemarinya diatas pahanya. Mata Rida menatap saya, lalu saya mencium bibirnya, dan dia menyambut bibir saya.

Rida dengan lincah memainkan lidahnya didalam mulut saya. Saya pun tidak tinggal diam, tangan saya meremas-remas payudaranya yang montok, membuat tubuh Rida bergetar. Tetapi Rida menghentikan tanganku untuk melanjutkan aksi saya lebih jauh lagi.

“Jangan Mas, malu kalau dilihat orang” kata Rida.

“Pindah ke tempat yang lebih aman yuk” ajak saya sambil melanjutkan meremas payudaranya.

Rida hanya diam saja, tapi dia terlihat menikmati perlakuan saya. Sepertinya dia sudah terangsang. Setelah saya rayu, akhirnya Rida setuju untuk mencari tempat yang aman untuk melanjutkan aktifitas kami. Saya pun mengajak Rida ke sebuah hotel. Hari sudah gelap ketika kami sampai di hotel tersebut. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran kami segera masuk ke kamar hotel tersebut.

Awalnya kami merasa canggung, karena kami memang tidak pernah ke hotel berdua. Saya sudah tidak tahan ingin mencumbui Rida, tapi Rida hanya diam saja. Saya jadi bingung, jangan-jangan dia menyesal sudah mau saya ajak ke hotel, pikirku.

“Ehm kok diem aja? Lagi miikirin apa?” tanya saya.

Rida hanya diam saja, lalu dia memandang saya, saya dekati dia dan memeluknya, dia masih diam tapi tidak menolaknya. Saya lepas pelukan saya, saya lihat Rida tersenyum, lalu saya cium bibirnya dan dia menyambutnya hangat. Kami berciuman penuh nafsu, makin lama makin ganas. Rida melingkarkan tangannya dipundak saya. Saya singkap jilbab yang menutupi lehernya, lalu saya turunkan ciuman saya ke lehernya.

“Aaahh…” Rida mendesah.

Saya beranikan diri meremas payudaranya, Rida makin mendesah, tangannya menjambak rambut saya. Melihat Rida yang sudah bernafsu, langsung saya lepas pakaiannya, begitu juga dengan BH-nya, tampaklah sepasang bukit kembar yang montok. Saya elus dengan lembut payudaranya, putingnya yang kecoklatan sudah mengeras. Rida hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya.

Sesaat kemudian saya pelorotkan rok panjangnya, terlihat sebagian rambut kemaluannya yang mengintip dari balik CD putih berenda. Lalu saya lucuti juga celana dalamnya itu. Sekarang Rida sudah telanjang, tapi masih mengenakan jilbab. Saya sengaja tidak melepas jilbabnya, karena menurut saya dia tampak seksi dengan jilbabnya. Rambut kemaluan Rida tidak terlalu lebat dan juga rapi, vaginanya yang tampak kencang sudah mulai basah.

“Kamu rajin cukur ya?” tanya saya.

“Iya…” jawabnya dengan wajah yang memerah.

Saya pangku dia menghadap saya, lalu saya cium lagi bibirnya. Tapi ciuman saya di bibirnya tidak berlangsung lama, karena saya alihkan ciuman saya ke payudaranya. Saya jilati putingnya, sesekali saya gigit kecil. Rida menggelinjang dan mendesah menikmati perlakuan saya. Tangan saya mulai memainkan klitorisnya, ternyata vaginanya sudah becek. Saya gesek-gesek klitorisnya perlahan dengan jari saya, Rida makin mendesah tidak karuan.

“Aaahhhh… enak mas…” desahnya.

Tak lama kemudian badannya mengejang.

“Aku mau keluar mas…”

Rida mendapatkan orgasme pertamanya, saya rasakan denyutan vaginanya di tangan saya. Dia lalu berdiri,

“Sekarang giliranmu mas” katanya.

Dia langsung melucuti celana saya, kemudian menyuruh saya untuk berbaring, dan saya menurutinya. Tangan kanannya menggenggam batang kemaluan saya, dan tangan kirinya memegang zakarnya, lalu mengelusnya dengan lembut.

“Mmmhhhh… aahhh…” desah saya.

“Enak mas?” tanyanya, dan saya mengangguk.

Rida mendekatkan mulutnya ke penis saya, lalu dia mulai menciuminya sambil tetap mengelus zakar saya. Rida membuka mulutnya, dan memasukkan penis saya ke mulutnya, dikocoknya pelan penis saya dengan mulutnya. Aah… nikmat sekali rasanya, saya sedikit heran, darimana dia belajar menghisap dan memainkan penis sampai bisa semahir itu.

“Kamu pinter banget, belajar darimana?” tanya saya.

“Hmm, cuma pernah lihat di film BF, ternyata enak juga” jawabnya sambil melanjutkan menghisap penis saya.

Saya pegang kepalanya yang tertutup jilbab, saya ikuti naik turunnya, sesekali saya sedikit menekan kepalanya saat turun. Tak lama kemudian Rida menghentikan kulumannya.

“Punya kamu lumayan gede juga mas, aku makin terangsang nih” katanya.

Saya hanya tersenyum, lalu saya meminta dia untuk berganti posisi. Saya menyuruh dia berbalik dan mengangkangkan kakinya diatas kepala saya. Sekarang kami melakukan posisi 69, vaginanya yang sangat basah itu berada tepat didepan wajah saya. Rida melanjutkan mengocok dan mengulum penis saya, lalu saya mulai menjilati vaginanya. Ini pertama kalinya untuk saya menikmati vagina seorang wanita. Saya jilati klitorisnya sampai memerah, saya hisap vaginanya dengan keras, tubuhnya menegang.

“Mmhhh… mas… aaaahhhhh…” Rida menjerit, mencapai klimaksnya.

Saya jilat sampai habis cairan kewanitaannya yang terasa asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah itu dia bilang kalau dia sudah capek, tapi saya belum selesai. Saya suruh dia menungging, lalu saya mengambil posisi di belakangnya. Saya jepitkan penis saya di sela-sela pahanya dan saya maju mundurkan pinggul saya. Setelah beberapa lama saya merasa bosan dengan gaya itu, kemudian saya menyuruh dia untuk berbaring.

Saya hisap puting payudaranya, dia melenguh keras. Saya arahkan penis saya ke lubang vaginanya yang sudah basah lagi, pelan-pelan saya dorong penis saya kedalam vaginanya. Agak susah untuk menerobos vaginanya yang masih sempit itu. Denyutan vaginanya sangat terasa di penis saya, setelah penis saya berhasil masuk setengahnya, ada sedikit darah yang mengalir dari vaginanya, ternyata dia masih perawan.

Saya goyangkan pinggul saya perlahan, saya maju mundurkan. Makin lama rintihan kesakitannya berubah menjadi desahan kenikmatan. Saya genjot Rida sambil saya ciumi dan jilati payudaranya, membuatnya mendesah semakin tidak karuan, dan saya semakin bernafsu. Saya pun mempercepat genjotan saya.

“Ooohh… nikmat banget…”

“Ssshhhh… aaahh…” Rida juga mendesah.

Sekitar sepuluh menit kemudian Rida memeluk saya erat.

“Mas, aku mau keluar… aaaahhh…”

“Aku juga mau keluar...” jawab saya.

Tak lama kemudian saya pun menyemprotkan sperma saya bersamaan dengan tubuh Rida yang bergetar hebat. Penis saya terasa hangat dan basah oleh cairan. Kami mencapai orgasme bersamaan. Setelah itu Rida terdiam kelelahan, kemudian saya cium dia dan saya belai rambutnya. Sesaat kemudian dia pun tertidur lelap.

Cerita Sex Keinginan Dengan Anak Kost



Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukan, saya termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini saya alami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibuk saya yang lalu di tempat kost. Di tempat kost, kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sarah. Saya heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sarah bekerja di dekat kost sini.

Sarah cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuat saya bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan saya bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penis saya ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Usia saya sudah 32 tahun, belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, saya baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Nani, teman sekantor saya dan dengan Elis. Dengan pacar saya, saya belum pernah melakukannya.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga saya dapat menikmati gerak-gerik Sarah dari kamar saya yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah saya selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Saya paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, saya mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seks saya.

Sambil memanggil nama Sarah, crot crot crot, muncratlah sperma saya, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sarah. Saya juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Saya keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, saya telanjangi diri saya dan mengocok penis saya, menyebut-nyebut nama Sarah sebagai imajinasi senggama saya. Bahkan, saya pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sarah, saya muntahkan sperma saya menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sarah saya amati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali saya lihat dia suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatan saya sampai kejadian yang menimpa saya beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, saya melakukan masturbasi di luar kamar saya. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Saya melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalam saya. Saya telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penis saya sambil saya sebut nama Sarah. Tapi tiba-tiba saya terhenti mengocok penis saya, karena memang Sarah entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangi saya dari kejauhan, melihat diri saya telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya saya tangkap dia tidak grogi melihat saya, tidak juga saya tangkap keterkejutannya melihat saya. Saya yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek saya lanjutkan masturbasi saya dan tetap menyebut nama Sarah. Yang saya rasakan adalah seolah saya menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara saya tidak tahu apa yang dipikirkannya tentang saya di kamarnya. Malam itu saya tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika saya bangun, sempat saya sapa dia.

“Met pagi..” kata saya sambil mata saya mencoba menangkap arti lain di matanya, kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.

“Kok semalam sampai larut sih?” tanya saya.

“Kok gak diantar seperti biasanya?” tanya saya lagi sebelum dia menjawab.

“Iya Mas, saya lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.

“Semalam nggak terkejut ya lihat aku?” saya mencoba menyelidiki.

Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantung saya copot melihat dan menikmati senyum Sarah pagi ini yang berbeda. Saya rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hati saya.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamar saya berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kost saya in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamar saya ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak pada saya. Sejak saat itu, kalau saya berpapasan dengan Sarah atau berbicara, saya dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, saya katakan terus terang saja kalau saya sangat menginginkannya. Sarah diam saja dan memerah lagi, dapat saya lihat walau tertunduk.

Saya mengajaknya menikmati malam minggu tengah malam kalau dia mau. Saya akan menunggu di halaman dekat kamar saya, kebetulan semua teman-teman kost saya pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Saya harus siapkan semuanya. Saya siapkan tempat tidur saya dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Saya mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, saya ingin menikmati tubuh Sarah di halaman, di meja, di rumput dan di kamar saya ini. Betapa menggairahkan, seolah saya sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Saya tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Saya memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Saya sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja saya cuci Sabtu sore dan saya letakkan di depan kamar saya sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, saya sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu saya keluar. Tidak saya lihat Sarah mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, saya mulai melepasi baju saya sampai telanjang, tangan kiri saya memegangi tiang jemuran dan tangan kanan saya mengocok penis saya. Sambil saya sebut nama Sarah, saya pejamkan mata saya, saya bayangkan sedang menikmati tubuh Sarah. Sungguh mujur saya waktu itu. Di tengah imajinasi saya, dengan tidak saya ketahui kedatangannya, Sarah telah ada di belakang saya.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya saya, sementara tangan saya masih terus mengocok penis saya. Diciuminya punggung saya, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penis saya yang menegang kuat.

“Sarah.. Sarah.. achh.. achh.. nikmatnya…” desah saya menikmati sensasi di sekujur penis saya dan tubuh saya yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sarah.

“Uhh.. achh.. Sarah, Sarah.. ohhh.. saya mau keluar.. ohh..” desah saya lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian saya lihat Sarah bergerak ke depan saya dan berlutut, lalu dimasukkannya penis saya ke mulutnya.

“Oohhh Sarah… Uhh Sarahhh.., Saarraahh… Nikmat sekali…” desah saya ketika mulutnya mengulumi penis saya kuat-kuat.

Akhirnya saya tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spema saya memenuhi mulut Sarah, membasai penis saya dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikir saya. Lalu Sarah berdiri dengan mulut yang masih menyisakan sperma saya, saya memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-cita saya menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Saya lumati bibirnya, saya sapu wajahnya dengan mulut saya. Saya lihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus saya ciumi Sarah, tangan saya berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. saya ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Saya segera melepaskan tali dasternya di atas pundak, saya biarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang saya lihat. Tubuh sintal Sarah yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penis saya mengeras lagi. Saya lumati lagi bibirnya, saya menelusuri lehernya.

“Ehh.., emmhhh..!” desis Sarah menikmati cumbuan saya.

“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tangan saya menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya saya ciumi dari atas. Oh my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Saya mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tangan saya yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, saya buang melewati jendela kamar saya, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, saya tidak tahu. Uhhh.., saya segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, saya putari kedua bukitnya. Saya tetap berdiri. bergantian saya kulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kanan saya atau kiri saya juga bermain di putingnya, sementara mulut saya menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiri saya seolah mau lepas. Sarah menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukan saya. Lalu saya kembali ke atas, saya telusuri lehernya dan mulut saya berdiam di sana. Tangan saya sekarang meraih celana dalamnya, saya tarik ke bawah dan saya bantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Saya tangkap kedua tangan Sarah dan saya ajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penis saya menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Saya memutar tubuhnya, saya sandarkan di dada saya dan tangannya memeluk leher saya.

Kemudian saya remasi buah dadanya dengan tangan kiri saya, tangan kanan saya menjangkau vaginanya. Saya lihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu saya raba, saya coba sibakkan sedikit selakangannya. Sarah tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tangan saya berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leher saya, mulutnya saya biarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Saya bimbing Sarah mendekati meja kecil yang saya siapkan di samping gudang. Saya suruh dia membungkuk. Dari belakang, saya remasi kedua buah dadanya. Saya lepas dan saya ciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaan saya. Setelah itu saya turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu saya jilati vaginanya. Mulut saya menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepala saya terjepit.

“Oohh… aahh… aku nggak tahan lagi… masukkan..!” pintanya.

Malam itu, saya akhirnya dapat memasukkan penis saya dari belakang. Saya masukkan penis saya sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama saya terdiam sebelum kemudian saya genjot dan menikmati sensasi orgasme. Saya tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Saya hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Saya berhasil memuntahkan sperma saya ke vaginanya, sementara saya mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Saya dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasi saya malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Saya bersenggama dengan Sarah dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, saya melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sarah, dia berada dalam pelukan saya sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamar saya. Saya bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Saya lihat kedua cucu ibu kost saya sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidup saya dan Sarah. Itulah pengalaman saya dengan Sarah di kost.