Blogroll

Cerita Sex Dea Perawan SMA


Cewek ini namanya Dea, dia temen dari Vani anak SMA sebelah rumah kostku. Sore itu aku lagi nongkrong di depan kost sambil main gitar, hampir setengah jam aku di depan, Vani terlihat pulang tapi kali ini sama temen-temennya.

“Eh Vani, baru pulang sekolah ya? kok sampe jam segini? maen dulu ya?” aku becandain si Vani.

“Enggak kok mas, tadi ada les di sekolah”

“Oh gitu ya” aku jawab dengan santai.

“Terus bawa temen banyak mau ada acara apa?” tanyaku lagi.

“Mau belajar kelompok mas, eh kenalin dong mas temen-temen Vani” Vani menyuruhku kenalan sama teman-temannya.

“Ini mas Dani namanya” sahut Vani.

Salah satunya ya si Dea itu, uh cakep juga si Dea ini masih kecil tapi bodinya udah mantap, beda ma temen lainnya. Dalam hati aku terpesona liat si Dea.

“Mas, Vani kedalem dulu ya”

“Oh iya. Belajar yang akur ya” kataku sambil tersenyum, lalu Vani masuk kerumahnya.

Malam harinya aku ke rumah Vani karena emang aku sudah biasa main kesitu. Aku ngobrol dan becanda-becanda sama Vani.

“Eh, temen Vani yang namanya Dea tadi manis juga ya?”

“Kenapa mas? naksir ya?” dasar si Vani ga bisa jaim dikit,ceplas-ceplos

“Vani punya nomer telponnya ga? mas minta ya?”

Vani pun masuk kekamar dan keluar membawa handphone, ni cari aja sendiri yang dinamain Dea ya mas” kata Vani, aku langsung catet nomornya si Dea.

“Udah mas?” tanya Vani.

“Udah nih, makasih ya, besok mas beliin coklat deh”

“Bener ya mas!” kata Vani bersemangat karena coklat emang kesukaan dia banget.

Tanpa berlama-lama aku coba sms si Dea,

“Hei Dea lagi ngapain? masih inget aku ga? tadi aku yang dikenalin Vani waktu kamu
maen dirumahnyaa”

Eh si Dea pun membalas sms ku

“Oh iya Dea masih inget dong, kan baru tadi.. hehe...” sms pun berlanjut terus.

Sehari, dua hari, tiga hari aku dan Dea smsan, aku coba iseng ngajak dia keluar. Tidak kusangka dia mau aku ajak keluar. hari minggu aku sama Dea janjian ketemu dan kami pun jalan-jalan muter-muter kota pake motor. Tidak terasa hari sudah sore, sudah waktunya pulangin si Dea. Tepat di jalan masuk gang dekat rumahnya Dea bilang

“Udah mas nyampe sini aja nganternya!”

Aku tanya “Kenapa? mas ga boleh tau rumah Dea ya?”

“Gak pa pa kok mas lain waktu kan bisa”

“Oh ya udah, besok maen lagi ya?” ajakku.

“Iya mas” jawab Dea.

Selang beberapa hari, Dea maen kerumah Vani. Aku kebetulan ada di depan rumah Vani.

“Eh mas Dani, Vani ada dirumah ga mas?” tanya Dea.

“Oh tadi ada di belakang, masuk aja”

Sekalian saja aku minta dia mampir ke kost ku “Ntar mampir ke tempat mas ya”

Dia cuma senyum-senyum. Aku masuk ke kamar kost dan tiduran sambil dengerin musik dari komputer aku, kebetulan waktu itu anak-anak kost pada pergi entah kemana jadi kost sepi banget kayak kuburan. Sambil tiduran otak ngeresku jalan, membayangkan si Dea ada di kamarku dan aku bisa have a fun sama dia berdua di kamar. Gak nahan bodinya, masih kecil tapi dah montok semua, depan belakang mantap.

Saat setengah tertidur, terdengar ada suara dari luar memanggil namaku.

“Mas… mas Dani…”

Aku bangun dari kasur dan keluar, aku kaget ternyata si Dea yang ada di depan.

“Dea, ada apa? Vani ga ada ya?” tanyaku.

“Ada kok mas, tadi cuma bentar dirumah Vaninya. Sekarang Dea boleh maen di sini ga mas?”

“Oh, tentu boleh dong.. masa ga boleh”

Dalam hati aku pun berkata “pucuk di cinta Dea pun tiba”

Kami pun masuk ke dalam rumah kost. Rumah kost aku emang disediain tempat buat terima tamu tapi jarang dipake karena biasanya anak-anak kalo terima tamu langsung di kamar masing-masing, lebih santai katanya.

“Dea mau di sini aja apa di dalem?” aku coba tawarin ke Dea.

“Udah disini aja mas” jawabnya.

Kami pun ngobrol ini itu, saat asik ngobrol becanda, aku pun mulai nakal pegang-pegang tangan Dea, lalu aku beraniin cium pipinya. Dea kaget, wajahnya berubah jadi kemerahan karena malu.

“Ih mas kok nakal sih” kata Dea sambil mukul-mukul aku.

Aku pegang tangannya dan aku cium pipi yang satunya, wajah Dea pun makin memerah. Aku elus pipinya dan mau aku cium bibirnya,

“Gak mau ah mas” katanya.

Tapi aku tetep maksa cium dia dan akhirnya bibir manisnya berhasil aku lumat perlahan, Dea pun memejamkan mata menikmati ciuman dariku. Aku tambah bernafsu menciumi bibir Dea dan mulai memainkan lidahku. Beberapa saat kami berciuman, aku lepas ciumanku.

“Dea, di kamar aja yuk!” ajakku.

“Nanti takut ada orang liat kalo disini”

Dea cuma diam dengan wajah yang masih malu-malu. Aku gandeng tangannya masuk ke kamar kost ku dan pintu aku kunci.

“Kok dikunci pintunya mas?” tanya Dea polos.

“Gak pa pa” jawabku.

Aku lanjutin ciumin bibir Dea sambil mendekap tubuhnya dan mulai meraba bodinya, meremas pantatnya. Saat aku coba meraba susunya,dia mencoba menahan tanganku tapi karena kalah kuat denganku, aku tetap saja berhasil meraba dan meremas-remas susunya sambil terus berciuman. Tangan Dea masih mencoba menahan tanganku meraba kedua susunya. Lama berciuman aku rebahin tubuh Dea di kasur dan aku menindih tubuhnya. Aku lepas ciuman di bibirnya,mulai menciumi lehernya, meremas lembut susunya kiri kanan, aku coba buka kancing bajunya tapi Dea mencegah.

“Jangan mas..!”

Tapi tetap saja aku paksa buka kancing bajunya satu persatu sehingga terlihat penyangga susunya yang berwarna putih lalu perlahan kulepas bajunya. Aku buka pengait branya sambil menciumi bibir dan leher Dea dan melepas bra dari tubuh Dea. terlihat payudara Dea masih sangat indah,kencang dengan puting kecil berwarna kemerahan.

Dea hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya sendiri saat aku mulai menjilati puting dan meremas susunya, terus bergantian kanan kiri dengan meninggalkan tanda merah bekas cupanganku. Dea pun semakin menikmati cumbuan itu, susunya pun terasa mengeras tanda dia telah terangsang, terdengar desahan-desahan lirih dari bibirnya, kedua tangannya menjambak rambutku.

“Eemhh… ukhh… masss…”

Aku lepas baju juga celana pendekku, tinggal celana dalam saja yang kelihatan tidak muat menampung penisku yang sudah berdiri dari tadi.

“Ih mas, kok dilepas semua?”

“Udah sempit nih Dea” jawabku.

Aku kembali menindih tubuh Dea dan kali ini aku cium lembut mulai dari kening berlanjut kedua matanya dan pipinya, kembali melumat bibirnya,lehernya, susunya lalu turun ke perut. Desahan Dea terdengar kembali,

“Eehhh… mass… mmmh…”

Lama aku bermain di daerah susu dan perutnya, aku coba buka kancing dan resleting celana Dea.

“Mas jangan mas.. Dea ga mau..” cegah Dea tegas.

Aku coba ngertiin Dea dan kembali menciumi bibirnya. Setelah dua kali mencoba dan ga diijinin, sambil aku lumat bibirnya tangan kananku kembali mencoba membuka resletingnya, ternyata kali ini Dea hanya diam dan merelakan aku melepas celana panjangnya. Sekarang kami berdua hampir bugil dengan hanya memakai celana dalam. Aku ciumin pahanya, perutnya, susunya, bibirnya dan menindih tubuh Dea lagi, kali ini aku gesek-gesekkan penisku ke memek Dea sambil bermain lidah di mulut Dea.

Dea sedikit mengangkangkan kakinya sehingga aku gampang menggesekkan penisku. Cukup dengan gesek-gesekan alat kelamin, aku kembali menciumi leher, susunya lalu perut dan akhirnya sampai ke memek Dea yang masih tertutup celana dalam. Dea menggeliat keenakkan dan meremas rambutku dengan keras waktu aku ciumin bagian memeknya.

“Eeehh… mhh… masss… ahhh...”

Beberapa saat aku sudahi ciumi memek Dea dan melepas celana dalam aku.Dea masih terbaring di kasur.

“Dea.. mas pengen diciumin kaya mas ciumin punya Dea tadi dong” pintaku merayu, Dea menggelengkan kepalanya.

“Ayo dong sayang” rayuku.

“Dea belom pernah mainan itu mas” jawabnya.

“Sekarang Dea coba deh...”

Aku deketin penisku ke wajah Dea,

“Ayo sayang!!” rayuku lagi.

Dengan malu-malu Dea memegang penisku dan dengan ragu Dea menciumi penisku.

“Uuh.. enak sayang.. sedot sayang…”

Dea pun mulai terbiasa dan tau apa yang harus diperbuat, Dea mengocok penisku di mulutnya. Beberapa saat Dea mengulum penisku, dia bilang,

“Mas, udah ya mas..”

“Iya sayang” jawabku”

Kini giliranku lagi membuat Dea keenakkan. Aku cium bibirnya dan menciumi memeknya lagi. Dea mendesah keenakkan,

“Ehhhmm.. mmmhh…”

Saat Dea sedang terbuai, aku lepaskan celana dalamnya. Tubuh Dea yang tanpa penutup apa-apa itu benar-benar bikin aku ga tahan, putih, bersih dan mulus. Bagian memeknya baru mulai ditumbuhi rambut-rambut halus keliatan seksi banget. Aku lumat lagi bibir Dea sambil tanganku mengelus-elus memeknya, aku pijit lembut klitorisnya. Aku beralih mencium dan memainkan lidah di memeknya, aku gigit ringan klitorisnya, Dea menggeliat dan menjambak rambutku dengan keras.

“Masss… Dea mau kee.. luu.. ar…”

Dea mendapatkan orgasme pertamanya, memeknya basah dengan cairan yang keluar.

“Aakhhh… ehhhmmm…” Dea terus mendesah karena orgasmenya.

“Dea mau yang lebih enak lagi?” tanyaku setengah merayu.

“Gimana mas?” tanya Dea polos.

“Caranya mas masukin punya mas ke memek Dea”

“Gak mau ah mas, kan belom boleh.. sakit katanya mas” jawabnya.

“Gak kok ga sakit.. enak banget malah” rayu setanku.

Dea hanya diam, dan aku mulai mencumbunya lagi.

“Mas masukin sekarang yah” bisikku di telinganya.

Kakinya aku kangkangin, terlihat wajah ragu Dea saat aku arahkan penisku ke memeknya, aku cium dulu kening dan bibir Dea. Aku gesek-gesekkan penisku ke memek Dea yang masih basah oleh cairan orgasmenya dan memulai penetrasikan penisku sedikit demi sedikit, memeknya terasa sempit banget walau baru kepala penisku yang masuk ke lubang senggamanya, aku keluarin penisku dan penetrasi lagi lebih dalam.

“Mas saakit mas…” rintih Dea.

Aku cabut penisku yang belum ada setengahnya masuk ke lubang memek Dea. Aku cium lagi bibir Dea

“Tahan ya sayang…” bisikku.

Kembali aku penetrasikan penisku perlahan lebih dalam dan lebih dalam lagi, terlihat darah keluar dari memek Dea. Dea menjerit kesakitan,

“Aaakhh… saakittt mas…”

Kini penisku benar-benar ditelan dan terasa terjepit lubang senggama Dea. Terlihat setitik air mata mengalir dari sudut matanya. Wajah Dea masih menahan sakit karena keperawanannya robek oleh penisku. Aku diam beberapa saat agar Dea mampu menguasai sakit di memeknya sambil menciuminya.

Setelah dia agak tenang, aku mulai menarik dan mendorong penisku, maju mundur perlahan. Aku terus mengocokkan penisku di memeknya perlahan, terasa lubang senggama Dea sudah bisa menerima penisku, aku percepat gerakan penisku. Dea pun sudah tidak lagi merintih kesakitan tapi berbalik mulai merasakan kenikmatan.

“Aakhhh… ukhh…mass… akhh…” desah Dea keenakan.

Aku ciumi bibir Dea sambil terus mengocok penisku di memeknya.

“Uukhhh… aakhhh… ehhmm…” desahan nikmat kami berdua.

Dea mendekap erat tubuhku

“Dea mau keluar lagi” bisiknya.

Terasa cairan hangat menyemprot kepala penisku, Dea orgasme yang kedua kali. Penisku terus keluar masuk di memek Dea. Beberapa saat setelah Dea orgasme yang kedua, aku merasa sudah hampir mencapai orgasme. Aku mempercepat gerakan penisku.

“Mas udah mau keluar Dea”

“Aakhhh… Dea jugaa…”

Ternyata Dea orgasme duluan. Merasa sudah di pucuk, aku cabut penisku dan menumpahkan spermaku di perut Dea.

“Aakhh… mmmmhh…”

Kami berdua terkulai berdampingan, aku menyeka keringat di kening Dea dan mengecupnya.

“Makasih ya sayang” bisikku.

Dea hanya tersenyum kecil. Aku membersihkan sperma di tubuh Dea yang terkulai lemas dan darah di memeknya dengan handuk kecil.

“Bobo aja bentar sayang, nanti mas bangunin” kataku.

Tak lama Dea pun terlelap dan aku tutupi tubuhnya dengan selimut. Aku pandangi wajah Dea, memang manis banget anak ini, beruntung banget aku bisa dapetin dia. Waktu sudah menunjukkan jam lima sore, aku cium pipi Dea buat bangunin dia.

“Bangun sayang udah sore” kataku.

Dea pun bangun. Saat akan berdiri Dea masih merasa perih di memeknya.

“Aakhh…” rintih Dea sambil menggigit bibirnya.

Dea perlahan mengenakan semua pakaiannya kembali.

“Kamar mandi mana mas?” tanya Dea.

“Oh itu dibelakang” kataku sambil menunjuk kamar mandi.

Terlihat Dea berjalan pelan menahan sakit di kemaluannya menuju kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi Dea pamit pulang.

“Mas Dea pulang dulu ya, udah sore banget” katanya.

“Iya, Dea jangan lewat depan rumah Vani ya, lewat samping aja” saranku.

Sebelum pulang aku cium lagi kening dan bibir Dea

“Jangan bilang siapa-siapa ya sayang” bisikku, Dea hanya mengangguk.

“Hati-hati ya Dea”