Blogroll

Cerita Sex Fantasi Birahiku di Sekolah


Pagi ini entah mengapa saya bersemangat untuk pergi sekolah. Setelah menyiapkan buku, tanpa menyia-yiakan waktu, saya langsung keluar dari asrama dan pergi ke kelas. Di tengah-tengah perjalanan menuju ruang kelas saya bertemu dengan beberapa adik kelas, mungkin mereka habis piket. Langsung saja saya menuju kelas tercinta, berharap saya orang pertama yang ada disana.

Seketika itu juga, saya tidak bisa mengucapkan kata apa-apa. Hendra teman sekelas saya dan juga salah satu cowok yang saya kagumi tengah memainkan burungya yang menjulang tinggi. Sambil tanganya mengurut ke depan dan ke belakang. Hati saya bertanya? Apa yang sedang Hendra lakukan. Sebagai wanita, saya hanya bisa berteriak. Hendra pun sadar akan kehadiran saya. Dengan sigap, ia segera memasukan burungnya dan menutup celana panjangnya.

"Pagi Mita, tumben pagi-pagi gini udah dateng"

"Iya nih, daripada gak ada kerjaan. Mending ke kelas aja. Sekalian belajar" jawab saya.

"Mit, kamu lihat yang aku lakuin tadi?" tanya Hendra, muka saya langsung memerah dan tak sanggup mengatakan apa-apa.

Setelah jam pelajaran habis. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Saya masih memikirkan apa yang terjadi tadi pagi. Hal ini membuat saya penasaran. Saya sungguh tabu akan hal yang berbau sex. Sebagian dari teman saya apabila hasratnya sedang memuncak mereka slalu pergi ke kamar mandi sambil membawa timun, wortel, dan pisang. Menurut informasi, di dalam kamar mandi mereka membuka seluruh pakaiannya. Mulai dari kerudung, jubah, sampai rok. Timun kemudian dimasukan ke dalam vagina, maju, mundur sambil membayangkan itu kelamin cowok yang mereka kagumi.

Saya ingin menjaga diri, tapi akibat pristiwa tadi hasrat saya memuncak, segera saya pergi ke dapur untuk meminta timun yang masih segar. Beruntung kamar mandi pojok kosong. Langsung saja saya masuk kesana. Sebuah timun saya keluarkan dari baju putih saya. Kemudian kerudung panjang saya mulai saya buka, saya biarkan rambut panjang saya terurai. Saya sungguh bangga dengan paras saya yang cantik.

Baju putih telah saya buka, begitu juga dengan rok hitam saya. Kini tinggal pakaian dalam yang menempel di tubuh saya. Bra pink mulai saya lepaskan, mencuatlah buah dada saya yang besar dengan puting merah muda. Celana dalam putih yang saya kenakan telah terlepas. Secara reflek saya meremas kedua dada saya yang besar.

“Aaachhh....aachhhhh... aahhhh…” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut saya.

Kini puting saya telah mengeras, tapi saya tetap meremas dengan penuh nafsu. Sambil tetap meremas, timun saya ambil. Segera saya buka lubang vagina saya. Saya tertawa kecil, karena vagina saya di tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Dengan penuh nafsu, timun saya masukan. Kini telah masuk stengahnya kedalam vagina saya. Nikmat rasanya, pantas saja teman-teman ketagihan. Sambil membayangkan Hendra, saya terus memainkan timun. Maju, mundur,

“Aachhhh... achhhh... achhhhh…”

Timun yang masuk kedalam vagina saya semakin membuat tubuh saya menggelinjang. Tak sanggup rasanya merasakan rasa nikmat yang mengalir begitu deras. Setengah dari timun telah masuk kedalam vagina saya, andai saja timun tadi adalah penis milik Hendra. Mungkin kenikmatan yang saya rasakan akan lebih.

“Aachh... aacchhh… ahhhh... ouchhhh…”

“Hendra... Hendra...” sambil terus meremas payudara.

Saya merasa ada sesuatu yang akan keluar, gerakan maju mundur terus saya lakukan, semakin cepat vagina saya memerah dan mulai basah oleh cairan putih. Gerakan semakin saya percepat, semakin cepat.

“Oochhhh... aaaachhhh...” saya mengeluarkan teriakan paling keras, disertai dengan keluarnya cairan putih yang sangat banyak.

Saya sempat khawatir akan ada orang yang tahu apa yang saya lakukan di kamar mandi tadi. Dengan segera saya ambil pakaian putih dan rok hitam saya. Tak lupa juga timun tadi yang saya pakai untuk berfantasi. Kini, Mita menjadi akhwat yang tertutup jilbab lebarnya.

Di asrama saya terkenal sebagai seorang kakak kelas yang pintar, cantik, juga alim. Jadi wajar saja jika sebagian dari mereka menghormati saya. Tidak sedikit dari adik kelas saya yang curhat tentang cowok yang mereka taksir. Mulai dari hal ngedate, bercanda, sampai hal seperti itu. Pernah ketika itu indah bercerita, kalau payudaranya pernah diremas oleh zacky. Selain itu di waktu kelas kosong, mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah saling berdau, sampai bertukar rasa air liur. Untung saja saya tidak melaporkan hal itu ke ustadzah, karena saya tahu indah orangnya polos. Zacky lah orang yang seharusnya disalahkan.

Malam ini saya berharap bisa mimpi indah bersama Hendra. Mimpi untuk menandakan kedewasaan seseorang, mimpi yang mewajibkan untuk mandi wajib sesudahnya. Sebelum tidur saya terbiasa cuci muka, dan gosok gigi. Ketika ditempat tidur, saya terbiasa melepas kerudung lebar saya, membiarkan rambut panjang saya terurai. Semua pakaian dalam juga saya lepaskan. Hanya baju tidur saja yang saya kenakan.

Tidak terasa, waktu subuh sebentar lagi, saya segera bangun dari tidur saya. Kerudung segera saya kenakan, dan bergegas ke kamar mandi. Sedikit informasi, kamar mandi pria dan wanita saling berhadapan. Jadi wajar saja ada mata-mata jahil yang mengintip akhwat sedang mandi. Saya masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.

Baju tidur saya saya lepas, mencuatlah langsung payudara saya yang besar dan juga putih dengan puting merah muda. Kemudian celana training saya, gatal rasanya vagina saya. Terakhir adalah kerudung kesayangan saya. Saya berbalik, tampaklah sesosok mata memandang dengan penuh nafsu. Saya segera menutup barang kebanggan saya dan berteriak.

"Ada yang ngintip, tolong!" semua akhwat langsung menuju ke kamar mandi, tapi sang pengintip tadi langsung menghilang.

"Siapa yang ngintipnya Mit?"

Saya juga tidak begitu jelas melihatnya, tapi sorot matanya seperti orang yang saya kenal. Merasa suasana terkendali, saya segera untuk membersihkan diri. Segar sekali rasanya mandi di pagi hari, saatnya saya berganti pakaian sekolah. Sejenak saya memandang tubuh saya yang indah didepan kaca. Payudara saya menjadi daya tarik tersendiri karena ukurannya yang besar, dan padat. Mengapa tidak sekali-kali saya pakai pakaian ketat saja.

Berhubung semua pakaian yang saya miliki berukuran lebar, maka saya rayu adik kelas untuk meminjamkan pakaiannya yang kecil. Setelah saya dapat, segera saya berpakaian. Oohhh... sungguh sulit dipercaya, semua lekuk tubuh saya tercetak dan bagian depanlah yang paling menonjol, serasa ia ingin mencuat, saya harus jaga diri dari tangan-tangan jahil. Rok hitam telah saya kenakan. Sedikit tampil beda, saya pakai shadow di sekitar mata saya, di tambah sedikit pemerah wajah. Sungguh cantik dan seksinya saya hari ini. Kira-kira apa reaksi dari ikhwan dan akhwat yang melihat saya.

Saya masuk ke kelas sambil mengucapkan "selamat pagi semua". Mendengar itu, semua berpaling ke arah saya seakan ingin melihat siapa gerangan. Sontak semua ikhwan memandang ke arah saya.

"Mita, kamu cantik banget"

“Iya nih, hari ini Mita beda dari biasanya. Ada angin apa nih"

Semua pujian yang diarahkan ke arah saya membuat para akhwat syirik, termasuk Lisa. Ia merasa keseksiannya tersaingi oleh saya. Walaupun berkerudung, Lisa terkenal binal. Tidak sedikit ikhwan yang ia taklukan. Lisa juga terkenal sebagai akhwat yang sering berhbungan dengan ikhwan. Biasanya ia slalu pintar mencari waktu yang kosong untuk itu. Topik pagi ini yang paling hangat masih tentang sang pengintip.

"Mit, emangnya kamu gak liat jelas tadi? Sayang banget kalu dia gak ketangkap"

Ikhwan hanya bisa saling menuduh. Sedikit saya lempar senyuman manis kepada mereka. Tanpa sengaja Hendra memandang ke arah saya. Tatapannya sungguh tajam, seakan tersimpan suatu pesan. Penampilan yang beda berdampak tidak menyenangkan. Semenjak pelajaran dimulai, semua mata ikhwan terus memandang saya. Apa yang salah? Apa payudara saya begitu menggoga, atau wajah saya yang mempesona. Saya tak tahan akan keadaan ini.

Lisa tidak terlihat ketika pelajaran berakhir. Saya tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Lisa. Di sisi lain, Rendi seakan menghilang begitu saja. Apa ada kaitannya dengan Lisa? Jam pelajaran habis, semua ikhwan dan akhwat berteriak senang. Entah mengapa sebelum pulang, saya ingin pergi ke kantin belakang. Beberapa sapaan saya dapatkan dari teman saya yang lain.

Tiba-tiba saya terkejut ketika mendengar desahan seorang lelaki. Karena penasaran, saya mencari sumber suara tadi. Ternyata suara tadi berasal dari gudang belakang. Positif thinking jalan yang terbaik, siapa tahu itu orang yang membutuhkan pertolongan. Segera saya dekati, betapa terkejutnya saya. Lisa yang tadi menghilang ternyata sedang asyik menghisap penis Rendi yang sudah tegang dan merah. Saya ingin berteriak, tak sanggup rasanya melihat mereka berdua.

Seketika itu, bisikan setan datang. Saya mendekat dan ingin melihat jelas mereka berdua. Lisa terlihat masih menggunakan pakaian lengkap. Rendi telah melepas celananya. Penis Rendi sungguh besar, Lisa sangat menikmati setiap jilatannya, Rendi seakan tidak kuat menahan gigitan dan isapan dari mulut Lisa. Sepertinya Lisa sangat handal dalam hal ini. Isapan Lisa berhenti, ketika Rendi melepasa bajunya. Keringat telah bercucuran di tubuhnya.

Kini di depan mata saya Rendi tidak menggunakan sehelai benang pun. Nafas saya semakin tak menentu, detak jangtung semakin cepat. Rendi membuka kancing baju Lisa satu persatu, saya semakin bernafsu melihat hal itu. Dengan ganasnya bra pink Lisa ditarik. Sementara kerudung sengaja masih menempel.

"Nis, payudara kamu indah banget, boleh aku remes gak?"

"Masa sih, indah apanya. Mau remas ya remas aja" Suara Lisa begitu manjanya.

Saya semakin terangsang melihat adegan mereka berdua, dengan segera saya mainkan vagina saya yang mulai basah.

“Aachhh... aahhhhhh...” vagina saya sungguh gatal, saya jadi teringat akan Hendra, saya masukan jari-jari saya kedalam vagina.

Rendi terus meremas payudara Lisa, menghisap, menggigit pentilnya. Lisa berteriak ketika putingnya digigit Rendi. Lisa merasa payudaranya telah mengeras. Lisa melepas rok hitamnya, kemudian ia meminta Rendi untuk menarik celana dalamnya. Tentu saja, Rendi tidak menolak. Celana dalam pink Lisa telah terlepas. Vaginanya begitu merekah. Lidah Rendi bermain lincah dalam vagina Lisa.

“Oouchhhh... aachhhh... oochhhhh... yes Rendi…”

Gerakan jari saya semakin cepat. Seketika itu juga, cairan nikmat keluar dari vagina saya. Suasana yang sepi membuat saya leluasa untuk apapun. Rok segera saya lepaskan, dilanjutkan dengan Pakaian putih saya. Terakhir adalah kerudung ketat yang saya pakai hari ini. Seorang Mita sekarang hanya menggunakan pakaian dalam.

"Rendi kamu pinter banget, puasin aku, aaachhh… aachhhh…"

Vagina Lisa masih dipermainkan oleh lidah Rendi. Jari-jari Rendi juga bermain di daerah licin Lisa. Saya semakin tak kuasa, tangan saya meremas payudara indah saya. Pakaian dalam belum mau saya lepaskan.

“Aachhhh... ochhhhh... yes...ought...” hanya teriakan kecil itu yang saya ucapakan.

Tangan Lisa meraih penis Rendi, lalu menjilatinya, sambil sesekali mengocok pelan. Ia sepertinya tak ingin Rendi ejakuasi duluan.

"Ren, bukain kerudung Lisa dong"

"Emangnya kamu gak malu sama aku?" kata Rendi.

"Buruan ah, Lisa gak tahan nih"

Selama ini, Rendi belum pernah melihat Lisa tanpa kerudung. Walaupun ia terkenal sebagai akhwat yang binal. Perlahan-lahan kerudung Lisa dilepasnya. Rasa penasaran terlihat dari wajahnya.

"Lisa… berkerudung ataupun tidak, kamu tetap cantik"

Rambut yang selama ini tertutupi, kini tampak dengan indahnya di depan Rendi. Saya terpana melihat rambut Lisa yang indah, panjang dan berwarna kecoklat-coklatan. Lisa membuka vaginanya lebar-lebar, terlihat birahinya telah memuncak. Rendi segera mengarahkan penisnya menuju vagina Lisa, ia sempat beberapa kali gagal. Padahal yang ia tahu, Lisa sudah tidak perawan.

"Lis, vagina kamu sempit banget"

"Coba terus aja Ren"

Rendi terus mencoba, bahkan penisnya ia lumuri air liur Lisa. Baru kali ini saya merasakan hal yang sangat nikmat sebagai akhwat. Selama ini saya hanya bisa berimajinasi tentang seks. Tubuh saya bergoyang merasakan irama dan desiran dari hasrat birahi. Sambil terus bergoyang saya buka pakaian dalam yang telah basah oleh keringat ini. Lisa menjerit dengan kerasnya,

"Aaachhh... aachhh... achhh… Rendi, sakit…"

Rendi sepertinya khawatir akan Lisa, "Kamu gak apa-apa kan?"

"Terusin aja Ren, jangan lupa genjot yang kenceng" Lisa memainkan rambutnya yang panjang sambil mengigit kecil bibirnya.

Bayangan Hendra seakan hadir seketika. Mengajak saya bersenggama dan berbagi kenikmatan. Lisa sangat menikmati setiap goyangan Rendi, begitu pula dengan Rendi. Penisnya serasa dijepit dengan pijitan nikmat dari Vagina Lisa.

“Rendi… aachhhhh... ouchhhgggg... genjot terus” Rendi tersenyum dan mempercepat genjotannya.

"Gimana nis, kamu puas gak?"

"Puas banget. Penis kamu udah gede, keras lagi, bikin aku gereget”

Saya tak tahu harus kemana melampiaskan birahi ini. Mulut Lisa terus meracau dan mengeluarkan kata-kata nikmat. Rambutnya berantakan, tubuhnya kilat dengan keringat. Genjotan Rendi semakin cepat, penisnya tampak sangat merah, vagina Lisa juga telah basah dengan cairan nikmat. Lisa mengigit bibirnya dan berteriak dengan keras.

“Aaachhhh... Rendi, Lisa udah nyampe"

Rendi seakan berhasil mengalahkan Lisa. Genjotan semakin cepat, cepat, cepat, seakan ada sesuatu yang bedenyut dari penisnya. Tak sanggup menahan nikmat, Rendi tidak mencabut penisnya. Ia membiarkan spermanya mengalir dalam vagina Lisa.

"Lisa, aku udah nyampe nih. Kamu siap tahan"

Crooootttt... Crooottt... Crooottt... Crottt... Croott… Rendi mengeluarkan sperma beberapa kali. Sungguh beruntung jadi Lisa. Bisa merasakan kenikmatan dari Rendi, Mereka berdua tampak senang, saling memuji dan beristirahat sebentar. Kini giliran fantasi liar saya. Sambil membayangkan kejadian tadi, saya remas payudara yang indah ini. Oochhh... nikmat rasanya. Kemudian saya gosok vagina saya, dan memasukan jemari saya.

“Aaachhh... aachhh... oouchhh...” bulu-bulu halus ini saya persembahkan untuk Hendra.

Mereka berdua masih terlihat kelelahan. Untung saja, saya semakin menikmati fantasi birahi ini. Sebagai akhwat, ternyata birahi saya sangat besar. Hasrat yang tertahan harus saya lampiaskan. Saya semakin memejakan mata, menahan rasa nikmat dari permainan jemari saya.

“Hendra… aachhh... aahhhhh...” tangan saya kini memainkan puting susu saya.

Kesadaran tengah hilang dari saya karna orgasme akibat kocokan tangan saya. Saya membuka mata untuk melihat sejenak apa yang Lisa dan Rendi lakukan. Akhirnya saya pun pergi meninggalkan mereka.