Blogroll

Cerita Sex Rida Pacarku Berjilbab


Saya berkenalan dengan Rida saat berada di sebuah rumah sakit di Semarang. Rida adalah perawat di rumah sakit tersebut. Sudah sekitar5 bulan saya berpacaran dengan Rida. Dia agak pendiam, tapi apabila sudah kenal dekat akan terlihat kalau dia ternyata sangat supel. Tubuhnya lumayan semok, tapi dengan jilbab yang menghiasi wajahnya tidak banyak menarik perhatian oarang. Saya pernah satu kali melihat dia tanpa jilbabnya, waktu saya main ke kostnya. Tubuhnya terlihat seksi, namun hal itu terjadi tidak lama karena dia langsung mengganti baju tidurnya dengan pakaian jilbabnya.

Hari ini saya sudah membuat janji dengan Rida untuk berkencan. Siangnya saya jemput Rida di kostnya, lalu saya ajak dia ke hutan wisata yang tidak jauh dari kota Semarang. Sesampainya di sana kami pun berkeliling, lalu kami duduk di tempat yang cukup sepi. Kami asyik ngobrol di tempat itu, disela obrolan kami tangan saya mengelus jemarinya diatas pahanya. Mata Rida menatap saya, lalu saya mencium bibirnya, dan dia menyambut bibir saya.

Rida dengan lincah memainkan lidahnya didalam mulut saya. Saya pun tidak tinggal diam, tangan saya meremas-remas payudaranya yang montok, membuat tubuh Rida bergetar. Tetapi Rida menghentikan tanganku untuk melanjutkan aksi saya lebih jauh lagi.

“Jangan Mas, malu kalau dilihat orang” kata Rida.

“Pindah ke tempat yang lebih aman yuk” ajak saya sambil melanjutkan meremas payudaranya.

Rida hanya diam saja, tapi dia terlihat menikmati perlakuan saya. Sepertinya dia sudah terangsang. Setelah saya rayu, akhirnya Rida setuju untuk mencari tempat yang aman untuk melanjutkan aktifitas kami. Saya pun mengajak Rida ke sebuah hotel. Hari sudah gelap ketika kami sampai di hotel tersebut. Setelah menyelesaikan urusan pembayaran kami segera masuk ke kamar hotel tersebut.

Awalnya kami merasa canggung, karena kami memang tidak pernah ke hotel berdua. Saya sudah tidak tahan ingin mencumbui Rida, tapi Rida hanya diam saja. Saya jadi bingung, jangan-jangan dia menyesal sudah mau saya ajak ke hotel, pikirku.

“Ehm kok diem aja? Lagi miikirin apa?” tanya saya.

Rida hanya diam saja, lalu dia memandang saya, saya dekati dia dan memeluknya, dia masih diam tapi tidak menolaknya. Saya lepas pelukan saya, saya lihat Rida tersenyum, lalu saya cium bibirnya dan dia menyambutnya hangat. Kami berciuman penuh nafsu, makin lama makin ganas. Rida melingkarkan tangannya dipundak saya. Saya singkap jilbab yang menutupi lehernya, lalu saya turunkan ciuman saya ke lehernya.

“Aaahh…” Rida mendesah.

Saya beranikan diri meremas payudaranya, Rida makin mendesah, tangannya menjambak rambut saya. Melihat Rida yang sudah bernafsu, langsung saya lepas pakaiannya, begitu juga dengan BH-nya, tampaklah sepasang bukit kembar yang montok. Saya elus dengan lembut payudaranya, putingnya yang kecoklatan sudah mengeras. Rida hanya memejamkan matanya dan menggigit bibirnya.

Sesaat kemudian saya pelorotkan rok panjangnya, terlihat sebagian rambut kemaluannya yang mengintip dari balik CD putih berenda. Lalu saya lucuti juga celana dalamnya itu. Sekarang Rida sudah telanjang, tapi masih mengenakan jilbab. Saya sengaja tidak melepas jilbabnya, karena menurut saya dia tampak seksi dengan jilbabnya. Rambut kemaluan Rida tidak terlalu lebat dan juga rapi, vaginanya yang tampak kencang sudah mulai basah.

“Kamu rajin cukur ya?” tanya saya.

“Iya…” jawabnya dengan wajah yang memerah.

Saya pangku dia menghadap saya, lalu saya cium lagi bibirnya. Tapi ciuman saya di bibirnya tidak berlangsung lama, karena saya alihkan ciuman saya ke payudaranya. Saya jilati putingnya, sesekali saya gigit kecil. Rida menggelinjang dan mendesah menikmati perlakuan saya. Tangan saya mulai memainkan klitorisnya, ternyata vaginanya sudah becek. Saya gesek-gesek klitorisnya perlahan dengan jari saya, Rida makin mendesah tidak karuan.

“Aaahhhh… enak mas…” desahnya.

Tak lama kemudian badannya mengejang.

“Aku mau keluar mas…”

Rida mendapatkan orgasme pertamanya, saya rasakan denyutan vaginanya di tangan saya. Dia lalu berdiri,

“Sekarang giliranmu mas” katanya.

Dia langsung melucuti celana saya, kemudian menyuruh saya untuk berbaring, dan saya menurutinya. Tangan kanannya menggenggam batang kemaluan saya, dan tangan kirinya memegang zakarnya, lalu mengelusnya dengan lembut.

“Mmmhhhh… aahhh…” desah saya.

“Enak mas?” tanyanya, dan saya mengangguk.

Rida mendekatkan mulutnya ke penis saya, lalu dia mulai menciuminya sambil tetap mengelus zakar saya. Rida membuka mulutnya, dan memasukkan penis saya ke mulutnya, dikocoknya pelan penis saya dengan mulutnya. Aah… nikmat sekali rasanya, saya sedikit heran, darimana dia belajar menghisap dan memainkan penis sampai bisa semahir itu.

“Kamu pinter banget, belajar darimana?” tanya saya.

“Hmm, cuma pernah lihat di film BF, ternyata enak juga” jawabnya sambil melanjutkan menghisap penis saya.

Saya pegang kepalanya yang tertutup jilbab, saya ikuti naik turunnya, sesekali saya sedikit menekan kepalanya saat turun. Tak lama kemudian Rida menghentikan kulumannya.

“Punya kamu lumayan gede juga mas, aku makin terangsang nih” katanya.

Saya hanya tersenyum, lalu saya meminta dia untuk berganti posisi. Saya menyuruh dia berbalik dan mengangkangkan kakinya diatas kepala saya. Sekarang kami melakukan posisi 69, vaginanya yang sangat basah itu berada tepat didepan wajah saya. Rida melanjutkan mengocok dan mengulum penis saya, lalu saya mulai menjilati vaginanya. Ini pertama kalinya untuk saya menikmati vagina seorang wanita. Saya jilati klitorisnya sampai memerah, saya hisap vaginanya dengan keras, tubuhnya menegang.

“Mmhhh… mas… aaaahhhhh…” Rida menjerit, mencapai klimaksnya.

Saya jilat sampai habis cairan kewanitaannya yang terasa asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah itu dia bilang kalau dia sudah capek, tapi saya belum selesai. Saya suruh dia menungging, lalu saya mengambil posisi di belakangnya. Saya jepitkan penis saya di sela-sela pahanya dan saya maju mundurkan pinggul saya. Setelah beberapa lama saya merasa bosan dengan gaya itu, kemudian saya menyuruh dia untuk berbaring.

Saya hisap puting payudaranya, dia melenguh keras. Saya arahkan penis saya ke lubang vaginanya yang sudah basah lagi, pelan-pelan saya dorong penis saya kedalam vaginanya. Agak susah untuk menerobos vaginanya yang masih sempit itu. Denyutan vaginanya sangat terasa di penis saya, setelah penis saya berhasil masuk setengahnya, ada sedikit darah yang mengalir dari vaginanya, ternyata dia masih perawan.

Saya goyangkan pinggul saya perlahan, saya maju mundurkan. Makin lama rintihan kesakitannya berubah menjadi desahan kenikmatan. Saya genjot Rida sambil saya ciumi dan jilati payudaranya, membuatnya mendesah semakin tidak karuan, dan saya semakin bernafsu. Saya pun mempercepat genjotan saya.

“Ooohh… nikmat banget…”

“Ssshhhh… aaahh…” Rida juga mendesah.

Sekitar sepuluh menit kemudian Rida memeluk saya erat.

“Mas, aku mau keluar… aaaahhh…”

“Aku juga mau keluar...” jawab saya.

Tak lama kemudian saya pun menyemprotkan sperma saya bersamaan dengan tubuh Rida yang bergetar hebat. Penis saya terasa hangat dan basah oleh cairan. Kami mencapai orgasme bersamaan. Setelah itu Rida terdiam kelelahan, kemudian saya cium dia dan saya belai rambutnya. Sesaat kemudian dia pun tertidur lelap.