WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex ABG Pembantuku

Siang itu dari kantor aku pulang ke rumah, tapi hanya sebentar, sekedar untuk mengambil celana tenis, karena sorenya aku mau main tenis. Tapi celana yang kucari tidak ketemu. Rumah sepi, cuma ada pembantu dua, yang satu di belakang sedang mencuci piring dan yang satu lagi didalam sedang menyetrika pakaian. Saking kesalnya aku sama si Yuni, pembantuku yang sedang menyetrika, gara-gara apa yang kucari tidak ketemu,aku samperin terus kutanya kalau-kalau dia lihat celana tenisku. Dia bilang belum disetrika, masih dibelakang.


Lalu kusuruh Yuni mengambilnya untuk disetrika. Dia pergi kebelakang mengambil celana tenis itu. Ake melihat kaosnya yang agak tipis karena sudah agak lusuh dan dadanya terlihat besar. Mana dia masih muda banget, umurnya sekitar 18 tahun, dia baru lulus SMA. Aku pun jadi horny melihatnya. Lalu aku perhatikan roknya walaupun panjang, betisnya terlihat mulus dan putih, aku jadi membayangkan dalamnya pasti bagus.

Tidak lama kemudian dia datang membawa celanaku untuk disetrika. Waktu dia sedang menyetrika, aku mendekatinya sambil mulai bercandain dia. Aku tanya dia pernah pacaran apa ngga. Dia malu-malu sambil bilang ngga. Pembantuku yang satu lagi masih dibelakang, tapi karena aku takut dia tahu, aku suruh dia membeli makanan.

Lalu aku pun mulai lagi godain si Yuni, aku bilang kalau pacaran itu enak, apalagi kalau ciuman. Dia malu sambil nunduk. Aku tanya lagi udah pernah dicium belum. Dia diem aja, mungkin malu. Aku perhatiin payudaranyanya benar-benar mancung. Aku jadi ngga tahan. Aku deketin dia lalu aku bilang, sini aku ajarin caranya ciuman, sambil kupeluk dia dari belakang. Dia cuma diem aja. Aku cium lehernya, lalu dia agak menghindar sambil bilang jangan.

Tapi aku udah konak berat. Aku bilang ngga apa-apa, sambil kucium bibirnya. Dia berontak, tapi terus aku ciumi sambil kuremas-remas payudaranya. Mulanya dari luar, tapi aku nekat, langsung aku remes dari dalam. putingnya kecil tapi udah mengeras, dan dia juga mulai membalas ciumanku.

Aku ngga tahan. Aku bawa dia kekamar belakang sambil terus aku remas toketnya. Sampai kamar aku langsung telanjang dan kontolku kelihatan sangat menegang. Dia tertegun. Aku suruh dia pegang, dan dia pun mengelus-ngelus barangku sembari aku membuka semua pakaiannya. Aku usap-usap memeknya, dan dia pun keenakan. Karena aku yakin masih perawan, aku ciumi aja memeknya sampai basah, lalu aku suruh dia ngisep kontolku. Asik banget merasakan kocokan mulutnya di kontolku sampai akhirnya aku keluar. Dia juga kelihatan puas.

Aku bilang kalau aku bakal sering ngajak dia begituan. Pokoknya aku janjiin kalau kontolku akan sering mengunjungi bibirnya, asal dia ngga mengadu ke siapa-siapa. Dia setuju.

Setelah itu aku kembali ke kantor karena aku ngga jadi tenis. Sore harinya aku pun langsung pulang ke rumah. Kebetulan rumah sepi, aku panggil Yuni. Yuni pun datang, rupanya dia abis mandi. Aku langsung menyeruduk dia di ruang tengah. Memeknya langusng aku jilati. Aku ngga peduli sama pembantu yang satu lagi, kalau ketahuan paling aku entot juga dia.

Puas jilatin memeknya dan dia ngisep kontolku, aku masukin kontolku ke memeknya. Dia menggelinjang kesakitan dan keenakan. Sempit banget tapi enaknya luar biasa. Sekitar sepuluh menitan kita ngentot sampai akhirnya aku keluar, tapi aku keluarin dimulutnya. Dia menjilat habis air maniku. Aku memang ajarin begitu, aku bilang biar awet muda.

Cerita Sex Tangga Darurat

Kisah nyata ini terjadi tahun 2014 lalu. Waktu itu aku dan teman-teman mengadakan pesta di sebuah hotel berbintang di Jakarta. Waktu itu aku emang lagi nggak ada pacar alias kosong. Udah lama juga sih sekitar hampir 2 tahun. Bagaimana coba rasanya ? sepi sekali.


Salah satu temanku membawa saudaranya yang katanya baru pulang liburan sekolah di Amerika. Sebutlah namanya Marta. Aku dikenalkan oleh temanku itu. Kami ngobrol-ngobrol cukup lama juga. Marta itu kulitnya antara kuning dan coklat, badannya ramping pokoknya kayak gitar spanyol. Payudaranya tidak terlalu besar dan tidak kecil, yah sedanglah. Waktu pertama lihat, aku udah tertarik ama dia. Wajahnya lumayan lah, pokoknya aku tertarik.

Malam itu dia pakai pakaian ketat rok mini terusan. Waktu ngobrol, dia bilang ingin melihat lihat harga makanan dilantai bawah. Teman-temanku langsung teriak-teriak "temani Marta tuh ke bawah". Akhirnya aku menemani dia kebawah. Dia jalan nempel ke aku, lalu bilang "gandeng aku dong" Aku gandeng tangannya, aku merasakan aliran darah yang cepat ke jantungku, rasanya aku udah melayang dan kemudian aku ereksi. Tanganku dimain-mainkan dan kemudian diusap-usap ke daerah dadanya dan selangkangan. Aku nggak tahan lagi rasanya. Dia bilang "Vin, ahh enak deh".

Kemudian kami makan di restoran bersama teman-temanku. Selama makan, kakinya mendarat di selangkanganku dan memijat-mijat kemaluanku. Tentu saja aku konak. Itu semua terjadi di bawah meja, teman-temanku nggak ada yang tahu. Kemudian kami berdua jalan memisah dari teman-temanku yang lainnya. Kami naik lift, tapi nggak mencet tombol lantai. Ketika lift kosong, dia bilang "sekarang ngapain ya?".

Aku yang udah nggak tahan langsung menabrak dan menciumi dia dan menjilati lehernya, Marta cuma bisa mengerang dan berdesah desah "aahhh… uhhhh… Vin… aaahhh…”. Nafasnya semakin menderu. Tapi akhirnya ada orang yang menyetop lift. Kemudian kami keluar dari lift dan menuju tangga darurat lalu memulainya lagi.

Aku jilati dadanya, lehernya dan kemudian dia membuka pakaiannya. Wah nggak pake pakaian dalam sama sekali dan payudaranya menggelantung dengan puting yang coklat, langsung aku lahap, aku lumat, aku emut-emut kedua belah teteknya. Marta mengerang-ngerang, “aahhh Vin… terus Vin… aaahhh… uhh…” dan mencakar-cakar punggungku. Aku semakin buas, aku nggak tahan lagi, aku pelorotin bajunya dan terlihat vagina dan jembutnya yang lebat. Aku jilati memeknya yang udah basah dari tadi. Marta menegang dan berteriak “auuuuhhhhhhhhh…” dan menjambak-jambak rambutku.

Marta minta agar memeknya dimasukin penisku secepatnya, aku pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Akhirnya aku buka celanaku, aku usap-usap penisku ke memeknya dia. Dengan perlahan aku masukkan penisku ke memeknya, lalu aku genjot memeknya dengan gerkan maju mundur. Aku percepat goyanganku sembari melumat lehernya, rasanya aku benar benar nggak tahan. “Vin terus Vin…” katanya. Kami berciuman sambil bergoyang seperti memompa-mompa. Akhirnya Marta menegang lagi untuk kedua kalinya, aku semakin percepat goyanganku sampai akhirnya terasa ada yang mau keluar dari penisku. Aku keluarkan penisku dari memeknya dan menyemprotlah maniku diantara payudara Marta, “ooohhhhh…” aku berteriak kecil "Martaaaaaa…", kemudian dia mengelap dadanya dengan tissu yang dibawanya, nggak ada mani yang masuk ke vaginanya. Dia bilang jangan bilang siapa-siapa, juga dengan sahabat.

Cerita Sex Belajar Menyetir Berujung Nikmat

Saat itu saya masih kelas 3 SMA. Saya mempunyai adik sepupu yang masih kelas 2 SMA, namanya Amel. Dia meminta saya untuk mengajarinya menyetir mobil tiap sore, tentu saja tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Karena jarak rumah kami cukup dekat, setelah pulang sekolah, makan siang, bersih-bersih, dan tidur siang, sorenya saya pasti main ke rumahnya.


Pintu pagar langsung saya buka dan saya ketok pintu depan rumah. Tok... tok... tok... Tak lama pintu dibuka oleh Amel yang hanya mengenakan kaos lengan setali dan celana pendek. Wow, sexy sekali. Penis saya langsung mulai berdiri.

Tanpa babibu, langsung Amel menyerbu pundak saya, bergelendot sambil berkata,

"Mas Bagus, ajarin Amel nyetir mobil dong, mumpung rumah kosong nih" rengeknya manja.

Sambil merasakan empuknya buah dada sekepalan tangan Amel, saya langsung memeluknya dan menjawab,

"Boleh, siapa takut, kapan? di mana?"

"Sekarang aja mas, kita ke lapangan di pojok kompleks rumah" jawabnya cepat.

"Oke, ayo..." kata saya sambil tetap saya rangkul dan saya tepuk bongkahan pantat ranumnya, dia hanya tersenyum manja.

Singkat cerita, sesampainya di lapangan, dia nampak kagok sekali menyetir mobil, maklum masih ABG. Sementara itu, sambil menahan gejolak birahi, saya pun agak khawatir kalau-kalau dia menabrak sesuatu. Langsung saja timbul ide gila saya.

"Mel, kalo nyetir santai aja. Gini deh, kamu tetep nyetir, tapi biar aman dan buat jaga-jaga, aku pangku kamu, ok?"

Tanpa protes, di luar dugaan saya, Amel langsung setuju. Lalu, segera saya atur posisi penis saya yang semula rada miring ke kanan ini menjadi tepat ke tengah, harapan saya selain biar enak dan gak sakit, supaya bisa tepat kena belahan pantatnya.

Sambil tetap menyetir mobil, Amel langsung duduk di atas pangkuan saya, tepat di atas penis saya. Alamak, enak banget. Tangan saya kadang memegang setir, kadang memegang paha dan perutnya. Semula Amel serius, tapi karena penis saya terus berdenyut, akhirnya dia terasa, lalu dia berkata manja,

"Mas, porsnelingnya kok ada dua ya? tapi yang di bawah ini keras banget"

"Iya nih, kayaknya porsneling Mas udah pengen dilemesin deh. Kita istirahat dulu aja yuk di rumah kamu."

"Ayo, siapa takut..." jawabnya cepat.

Sambil tetap memangku Amel, mobil saya arahkan balik pulang ke rumahnya sambil berharap rumahnya masih sepi.

Sampai parkir mobil di garasi, langsung saya cium tengkuknya dan saya raba perut, payudara, dan selangkangannya. Amel melenguh manja.

"Ah mas, nakal ah..."

Lalu dengan cepat Amel membuka pintu dan beranjak ke kamarnya.

Tanpa membuang waktu, saya cepat mengikutinya dan langsung ke kamarnya di lantai dua. Dia tersenyum manja. Langsung saya rangkul dan ciumi lehernya sambil saya lepas kaos dan celana pendeknya. Dia tak mau kalah, dilepasnya kaos dan celana panjang saya.

Sambil meraba-raba penis saya yang sudah siap tempur itu, Amel mencium kedua puting dada saya bergantian. Tangan saya pun sibuk meremas-remas bongkahan pantatnya dan menciumi kepalanya. Nikmat sekali.

Dari dada, dia langsung turun mencium penis saya dari luar celana dalam saya yang mulai basah karena cairan mani dan ludahnya. Setelah itu, dikeluarkannya penis saya yang sudah tegak mengacung itu dan dilihatnya dengan seksama.

"Kenapa? belum pernah lihat kontol ya?" tanya saya.

"Iya mas, lucu ya. boleh aku isep kan Mas?" jawabnya polos.

"Boleh Dong, malah mas pengen kamu masukin ke memek kamu. Eh, kamu masih perawan kan? Mau kan mas entot?"

"iya mas, tapi janji gak sakit ya" jawabnya sambil tersenyum.

"Ditanggung nikmat deh, beres..."

"Tapi Mas, aku isep dulu ya, mas juga isep memekku.".

"Oke... lanjut, tarik..." jawabku sekenanya.

Sambil ketawa langsung dia cium kepala penis saya. Wuih, terbang rasanya. Saya pun tak mau kalah, dengan posisi 69, langsung saya jilat itil dan memeknya. Gurih sekali...

Sampai suatu saat memeknya becek banget dan dia langsung orgasme dengan mulut makin kuat ngisep. Cairan cintanya saya sedot habis dan saya sapu seluruh permukaan vaginanya, sedap. Sementara itu, saya masih belum apa-apa, siap tempur.

Setelah istirahat beberapa saat, Amel berbalik dan langsung menindih badan saya dan memegang penis saya, lalu diarahkan ke memeknya pelan-pelan. Saya remas dan isep kedua payudara ranumnya yang berputing merah muda itu.

Penis saya digesek-gesekkannya ke bibir vaginanya sambil Amel mencium leher saya. Setelah agak lama, tak sabar tangan saya kembali meremas bongkahan pantatnya dan sekali sentak langsung saya hujamkan penis saya ke vaginanya.

"Aduh mas, ehkk... enak mas... nikmaaaatttt... aaaahhhhhh..."

Saya isap mulut dan bibirnya dalam untuk menambah sensasinya sambil saya percepat goyangan sentakan saya.

"Brettt... brettt... brettt..." terdengar sesuatu tergesek sobek. Pikirku, mungkin itu selaput daranya. Ah, berhasil juga akhirnya saya perawani dia. Nikmat sekali.

Semakin lama, goyangannya makin hebat dan rupanya Amel kembali orgasme dengan memeluk saya berguling-guling. Saya cepat atur napas untuk menahan sedikit lagi ejakulasi.

Posisi saya ubah. Saya berdiri dan saya gendong dia ke dinding samping pintu menghadap cermin. Sungguh seksi sekali posisi saya (ngentot berdiri) ini. Terasa seluruh batang penis saya masuk memenuhi lubang memeknya. Kembali Amel klimaks.

Puas dengan posisi berdiri, saya ubah dengan doggy style dengan kaki saya di kanan kirinya dan badan saya setengah berdiri gagah dan tangan saya sibuk meremas kedua teteknya. Terasa sempit dan menantang menggairahkan. Tak kuat menahan, Amel klimaks lagi.

Terakhir saya posisikan biasa. Saya angkat kedua kakinya ke bahu saya dan saya hujam cepat keras berulang kali penis saya ke memeknya. Amel menjerit keras tak terkendali dengan seksinya. Bersamaan dengan goyangan keras pantatnya yang menandakan untuk keempat kalinya Amel klimaks, saya pun mempercepat hujaman saya yang akan klimaks juga.

"Mel, aku mau keluar nih, didalam aja apa kamu isep?"

"Tahan bentar Mas, aku dulu, mas saya isep aja... aahhh..."

Akhirnya Amel klimaks, aahhh... Saya tahan sekuat tenaga meskipun geli dan nikmat tiada tara. Setelah itu, tak kuat menahan lebih lama lagi, dengan cepat saya cabut dan saya arahkan penis saya ke muka Amel untuk diisapnya. Sperma saya muncrat banyak sekali berulang kali ke mukanya dan sebagian besar ke mulutnya. Sambil lemas menikmati klimaks keempatnya itu, Amel mengocok dan mengisap penis saya dalam-dalam. Hampir semua sperma saya ditelannya habis tak tersisa.

"Terima kasih mas, udah ngajarin Amel nyetir dan jadi dewasa" bisiknya manja.

"Iya, sama-sama. Lain kali mau lagi kan?" jawabku nakal.

"Iya dong, aku mau lagi. Jadwal tetap aja ya" senyumnya binal.

"Oke putriku cantik" jawabku sambil kucium bibirnya.

Cerita Sex Didalam Bis Bersama Kakak Ipar

Saya mempunyai seorang kakak ipar yang bisa dikatakatan cantik dan seksi. Tubuhnya masih bagus walaupun sudah punya anak dua. Wajahnya putih mirip orang arab. Suaminya, yaitu abang saya bekerja sebagai auditor di sebuah perusahaan terkemuka di Jakarta. Dan karena pekerjaannya suaminya sering sekali keluar kota, kadang-kadang sampai seminggu. Oleh karena khawatir, saya selalu pergi ke rumah kakak ipar saya.


Disana saya tidak melakukan apa-apa, cuma kadang-kadang saya mengambil kesempatan melirik atau melihat gerak-gerik kakak ipar saya ini. Kadang-kadang kakak ipar saya meyadari perbuatan saya ini. Tapi dia mungkin merasa biasa saja mengingat saya adalah adik iparnya. Bagaimanapun saya tak pernah melakukan perbuatan tak senonoh di rumah abang saya ini. Cuma sekali-sekali bila ada kesempatan saya sengaja menyenggolkan badan saya ke badan kakak ipar saya saat berpapasan. Kak Dilla pura-pura tak tahu dengan perlakuan saya ini. Hal itu membuat nafsu saya makin menjadi-jadi untuk melakukan sesuatu yang lebih lagi.

Saya selalu membayangkan bisa menikmati tubuh montoknya. Saya selalu memikirkan bagaimana merencanakan untuk melaksanakan niat jahat saya ini, tapi semuanya tak pernah kesampaian. Pada hari lebaran kami semua pulang kampung di Jawa Timur. Saya pulang ke rumah nenek saya. Karena tidak mempunyai mobil, saya pulang naik bis sedangkan abang serta kakak ipar saya pulang dengan mobil mereka. Kami akan berada disana sekitar 2 minggu. Yang menarik untuk saya adalah, saya mendapat berita gembira untuk melaksanakan rencana saya. Ketika mau pulang ke Jakarta minggu depan, abang saya menelpon saya bahwa dia terpaksa pergi ke luar kota selama seminggu karena ada urusan pekerjaan. Jadi dia meminta tolong saya untuk pulang bersama kak Dilla naik bis.

Mengingat orang-orang sudah kembali ke Jakarta, maka saya tidak mempunyai masalah untuk membeli tiket. Saya membeli tiket dengan tempat duduk yang terletak di belakang sekali karena saya mau melaksanakan misi jahat saya dengan kakak ipar saya. Bis akan bertolak pada pukul 9 malam dan akan sampai keesokan subuh. Jadi banyak waktu dan hal yang bisa saya lakukan.

Waktunya sudah tiba, kami pun bertolak ke Jakarta. Saya lihat kakak saya memakai dress. Ini memudahkan pekerjaan saya untuk merabanya. Dalam 2 jam pertama perjalanan saya mengambil kesempatan mengobrol dengan kak Dilla. Kadang-kadang saya membuat lawakan bodoh yang membuat kak Dilla tertawa. Saya juga cukup berani dalam membuat lelucon sambil tangan saya mencubit pahanya. Kak Dilla pura-pura tak tahu saja.

Setelah beberapa jam perjalanan, bis pun mematikan lampunya menjadikan keadaan didalam bis cukup gelap. Saya dapat melihat dalam keadaan samar, kak Dilla sudah mula mengantuk. Saya mengambil kesempatan ini dengan mengatakan dia boleh bersandar di bahu saya kalau mau tidur. Kak Dilla hanya tersenyum saja dan merebahkan kepalanya di bahu saya. Saya hanya membiarkan kak Dilla tidur sebentar sebelum saya melaksanakan misi saya.

Setelah melihat kak Dilla tertidur, saya mulai tak dapat mengawal nafsu saya yang sudah memuncak ini. Saya dengan perlahan-lahan mencium bibir kak Dilla. Tiba-tiba kak Dilla terjaga karena perbuatan saya ini. Saya mengatakan bahwa saya hanya ingin menciumnya saja. Kak Dilla tidak protes, tapi dia mengatakan dia takut orang lain melihat. Jawaban yang diberikan cukup meyakinkan saya bahwa kak Dilla telah memberi lampu hijau kepada saya. Tanpa berkata banyak, saya terus mencium bibir kak Dilla dengan rakus sekali. Kak Dilla coba menolak tapi lama kelamaan dia pasrah dan membiarkannya saja.

Saya dengan cepat meremas kedua buah dadanya dan setelah itu tangan kanan saya menyibak bajunya lalu menggosok vaginanya. Setelah agak lama, saya menanggalkan branya dan menyibak dress-nya ke atas lalu menghisap payudaranya. Kak Dilla mendesah keenakan. Setelah itu saya terus menurunkan wajah saya kebawah lagi, saya menjilat vagina kak Dilla yang tembem itu. Dengan rakus saya menjilat liang kemaluannya, saya lihat matanya terpejam rapat sambil tangannya menekan kepala saya dengan kuat ke vaginanya.

Saya jilat dari tepi liang vaginanya sampai kedalam vaginanya. Saya juga menjilat klitorisnya sampai membuat kak Dilla menggeliat keenakan. Sampai ke suatu saat saya rasakan vaginanya basah karena kenkmatan yang tak terhingga. Setelah itu saya mengeluarkan batang kemaluan saya yang agak besar dan menarik kepala kak Dilla kebawah. Kak Dilla seperti tau kehendak saya, dan tanpa basa basi langsung menghisap batang saya itu. Karena batang saya agak besar, saya lihat kak Dilla sesekali sesak nafas.

Hisapan dan jilatan yang luar biasa dari kakak ipar saya ini membuat saya bergairah dan hilang arah seketika. Sehingga tiba saat nafsu saya memuncak, saya menekan kepala kak Dilla kebawah sehingga batang saya masuk sampai ke tenggorokanknya dan saya lalu memuncratkan air mani saya kedalam mulutnya. Air mani saya memenuhi mulut kak Dilla. Saya lihat kak Dilla menelan saja air mani saya. Setelah itu saya kelelahan dan kami berpelukan tanda kepuasan tak terhingga.

Namun ini hanya permulaan dari rencana saya. Saya masih belum menjelajahi vagina kakak ipar saya dengan batang besar saya ini. Rencana saya selanjutnya adalah saat sudah sampai ke rumahnya besok pagi, mengingat rumah kak Dilla tidak ada orang karena suaminya ke luar kota dan anaknya masih di kampung bersama nenek mereka. Jadi bila sudah sampai ke rumah kak Dilla, saya berjanji pada diri saya akan menggenjot dan menelanjangi tubuh kakak ipar saya sepuas-puasnya tanpa ada yang menghalangi.

Cerita Sex Kepasrahan Ratna

“Nikmati saja, aku ada di kamar sebelah”

Begitu pesan Rudi pada Ratna istrinya. Ratna mengangguk pasrah pada suaminya. Kini ia duduk di tempat tidur mereka mengenakan daster tipis. Ia menunggu kedatangan Dedi, teman akrab suaminya untuk menikmati tubuhnya hanya satu malam. Kurang bisa dipercaya, tapi memang terjadi. Rudi tidak bisa mengembalikan sejumlah uang yg dipinjamnya pada Dedi, yg meskipun sahabatnya sejak SD, uang itu dalam jumlah besar. Hampir saja masalah itu berakhir di Kepolisian kalau saja saat itu Ratna tidak lewat dengan mengenakan kaus tipis hingga bhnya jelas terlihat. Akhirya Dedi mengajukan penyelesaiannya yaitu dengan menginap semalam dengan ditemani Ratna. Setelah diberitahu Ratna pun menyanggupi dan bisa mengerti kesulitan suaminya, meskipun dengan sedikit marah.


Tak lama kemudian Dedi muncul dengan mengenakan piyama milik Rudi. Ia langsung duduk disebelah Ratna. Ratna langsung berdiri di hadapan Dedi dan dengan mata terpejam ia membuka dasternya.

"Dedi… nikmatilah sebagai pengganti hutang suamiku"

Dasternya meluncur turun dan jatuh di lantai. Payudaranya yang kencang menantang masih tersembunyi di balik BH warna merah. Juga kerimbunan memeknya yg masih tersembunyi.

"Mbak tidak seperti itu. Saya janji pada Rudi akan memuaskan mbak. Mbak menurut saja ya?" Dedi masih terduduk di hadapan Ratna, namun dari balik piyama itu terlihat jelas bahwa ia senjatanya telah mengacung.

"Buka mata mbak"

Ratna membuka matanya dan tertegun melihat benda yg menyembul di piyama Dedi.

"Beruntung sekali Rudi punya istri seseksi mbak"

Dedi kemudian berdiri, berjalan mengelilingi Ratna. Dari belakang, dibelainya rambut Ratna yg hitam dan panjang itu. Tangannya juga melepaskan kaitan BH Ratna. Kini payudara montok itu benar-benar bebas. Dedi kemudian melepaskan piyamanya di belakang Ratna.

"Dedi, saya akan melayani kamu, tapi.. janjimu harus kamu tepati" Ratna berkata lirih saat merasakan dengusan nafas Dedi di lehernya.

"tentu tentu… Kini, balik badanmu" perintah Dedi.

Ia kemudian mengambil kursi untuk duduk. Ratna perlahan membalikkan badannya. Payudaranya yg indah bergoyang mengikuti badannya.

"Hmmmmm... Sini berlutut" Dedi mengisyaratkan agar Ratna berlutut diantara kakinya.

"Tapi... tapi..."

"Tapi apa? Belum pernah ngisep kontol Rudi emang? SINI!" bentak Dedi.

Ratna kemudian berlutut seperti keinginan Dedi. Tanpa pikir panjang, rambut Ratna ia jambak dan kepalanya ia dorongkan ke kontolnya

"ISAP...!!!!!!!"

Ratna ingin muntah saat penis yg besar itu masuk ke mulutnya, apalagi saat Dedi menggoyang-goyangkannya maju mundur.

"Ahh… Ahhhh... isaapppp… isaaappp…" sambil terus menekan-nekankan kepala Ratna ke batang kemaluannya.

Dalam hati Ratna sebenarnya kagum akan ukuran penis Dedi, hanya saja ia tidak terbiasa akan posisi ini. Menit demi menit berlalu dengan erangan dan desahan Dedi. Bahkan Ratna sempat merasakan sedikit cairan hangat muncrat dari penis Dedi.

"Sudahh...!!! Berdiri, pegangan pada pinggiran dipan. Cepat…" Dedi makin beringas saja saat melihat Ratna pasrah.

"Buka kaki lebar-lebar, agak membungkuk!!"

Kemudian ia berdiri di belakang Ratna. Dengan sekali sentak CD tipis rento ia sobek.

"Aduhhh…" teriak Ratna lirih.

Tangan Dedi kemudian menggerayangi tubuh Ratna. Mulai dari meremas-remas payudara Ratna hingga istri Rudi itu merintih-rintih hingga jemarinya mengubek-ubek vaginanya.

"Ahhhhh…" hanya itu yg dapat diucapkan Ratna saat jemari Dedi mempeprmainkan klitorisnya.

"Auuuuhhh… uuuuhhhhhh..." tanpa sadar Ratna menggoyangkan pinggulnya agar jemari Dedi tetap di daerah klitorisnya.

"Ahhh… rupanya si pasrah mulai menikmati ya?” guman Dedi.

"Bagus… bagus…"

Kini tangan Dedi yg satu memegangi pinggang Ratna sementara satunya memegangi penisnya untuk dimasukkannya ke lubang memek Ratna.

"Aaahhhhhhhh…" Ratna beteriak keras saat dengan kasar Dedi menghujamkan penisnya ke liang memeknya.

"Deeddiiiiii... sakitttttt!"

Tangan Dedi kemudian memegangi tangan Ratna, ditariknya tangan istri temannya itu ke belakang hingga tubuh Ratna melengkung.

"Rasakan... hhhgggg... ggggghhh…" Dedi terus menghujam-hujamkan senjatanya ke memek yg makin licin itu.

"ooohhh… ohhhhhh… oohhhhhhhh... Dediiii…" Ratna merintih rintih.

Entah ia merasakan sakit atau kenikmatan luar bisasa yg ia rasakan. Payudaranya berayun-ayun dengan bebasnya.

"Uggghhhh sempit banget... Ayo Ratna nikmati saja"

Dedi tersenyum saat merasakan perlawanan Ratna makin melemah. Tubuhnya tidak lagi tegang melainkan makin relax, itu terasa lewat otot-otot Ratna di tangan.

"Ooohhh… ohhhh…"

"Ayo katakan... katakan…" Dedi makin keras menghujamkan kontolnya.

"Aaahhhhh… puaskan aku Dedi... ooohhhhh..." Ratna tidak bisa mengingkari perasaannya.

"Bagusss… nih rasakan..." seketika itu ditariknya tangan Ratna lebih keras, dan …

"Dediiiii…"

Tenaga Ratna bagai terbetot keluar, saat ia merasakan sperma Dedi menyemprot membanjiri memeknya, sebegitu derasnya hingga sebagian menetes ke lantai kamar yg menjadi saksi bisu mereka.

"Ooohhhhh... Ratna seandainya kamu jadi istriku.." Dedi kemudian mendekap tubuh Ratna yg telah basah oleh keringat.

"Gila... kenapa kontolnnya belum mengecil" Guman Ratna dalam hatinnya.

Ia merasakan kontol Dedi tetap pada ukuran sebenarnya di dalam memeknya yg telah becek.

"Dedi… kok masih keras sih..." guman Ratna pada Dedi yang terengah-engah di belakangnya.

"Iya… biasa..."

"Mau satu ronde lagi?" kali ini Ratna yg agresif.

"Boleh..." Dedi melepaskan dekapannya.

"Dedi… tiduran deh di lantai itu" Dedi menurut saja. Ia merebahkan dirinya di lantai dingin yg berceceran maninya. Kontolnya tegak bagai tiang bendera.

"Aku naikin ya..." Ratna kemudian mengangkangi kontol Dedi, dan... blessss masuklah kontol itu hingga pangkalnya.

"Aaahhhhhh…"

Setelah kontol itu berada di dalam, Ratna kemudian memutar-mutarkan pantatnya. kontol itu pun bergesek dengan dinding memek Ratna.

"Ayooo Dedi... mainin..." Ratna memberi tanda Dedi untuk bermain-main dengan payudaranya.

Dedi kemudian mengangkat badannya sedikit untuk mengulum dan menjilati susu Ratna yg kenyal. Saat lidahnya menyentuh puting susunya Ratna pun kontan berteriak lirih. Puting itu selalu menjadi bagian tersensitifnya. Apalagi saat Dedi menghisap-hisapnya bagai seorang bayi gede. Ratna pun tambah semangat menggarap kontol Dedi. Tubuh mereka telah basah oleh peluh dan cairan mani. Rambut Ratna pun telah acak-acakan.

Semakin malam permainan mereka semakin panas. Hingga akhirnya Dedi keluar untuk kedua kalinya di liang memek istri temannya itu. Malam itu mereka berdua benar-benar menikmati permainan mereka, Ratna bahkan telah melepaskan kepasrahannya, berganti dengan gairah untuk bercinta denngan Dedi.

Cerita Sex Ria Teman Baik Pemuas Nafsuku

Namaku Arif, Aku kuliah di salah satu PTS di Bandung. Aku punya temen cewek, sebut aja namanya Ria. Si Ria ini temen baikku sejak SMA. Kalo aku lagi ada masalah atau aku gagal dapetin cewek, dia inilah yang jadi tumpahan unek-unekku. Pokoknya dia baik sekali sama aku. Orangnya cakep deh. Tapi ini bukan aku yang bilang, temen-temenku yang bilang begitu. Dulunya menurutku sih lumayan lah. Mungkin aku enggak sadar kali ya, abis... aku tiap hari ketemu dia dan lihat dia, jadi aku merasa udah biasa. Temen kuliahku pernah bilang kalo si Ria tuh sensual banget, apalagi dari bagian lehernya sampe dadanya. Orangnya enggak begitu tinggi, sedang lah buat cewek. Tingginya 163 cm dan beratnya 51 kg. Langsing kan...? Rambutnya panjang tergerai. Kebayang dong gimana orangnya.


Diantara aku dan dia kalo ngobrol udah enggak ada batasnya, termasuk tentang hal yang begituan. Dia juga udah tau ukuran senjataku. Sedangkan aku cuma tau ukuran pinggangnya dia 62cm. Yang bagian atas dan bawahnya aku enggak dikasih tau. "Belum saatnya Rif..", begitu kata Ria dengan nada genit kalo aku selalu nanyain. Tapi aku bisa lihat kok ukuran teteknya enggak begitu besar. Sekitar 32 gitu lah.

Aku udah sering nonton dan jalan-jalan berdua sama dia. Teman-temanku menyangka kami pacaran, padahal cuma temenan baik. Lalu kejadian tidak terlupakan yang akan aku ceritakan ini terjadi beberapa bulan yang lalu, waktu kami berdua pergi nonton. Seperti biasanya aku jemput dia, terus kami pergi nonton. Kali ini si Ria seksi banget. Dia pakai baju ketat putih favoritku. Aku yang suruh dia pakai itu, soalnya aku suka lihat dia pake itu. Dan dia juga selalu setuju dengan permintaanku. Terus pake rok mini yang menurutku pendek banget dan merangsang. Sekitar 15-20 cm lah dari lutut. Sepanjang perjalanan dia duduk di sebelahku, pahanya terlihat hampir sampai pangkalnya. Dalam hatiku “gila juga nih si Ria”. Sepulangnya nonton kira-kira jam 7, aku ajak dia kerumahku, seperti biasanya kami ngobrol-ngobrol dulu. Dia sudah sering ke rumahku dan masuk kamarku. Jadi dia mau saja.

Kebetulan rumahku lagi kosong. Orang tua sedang ke Jakarta, menghadiri kondangan orang kawin. Dan aku anak tunggal. Cuma tinggal pembantu doang. Aku ajak dia masuk kamarku dan kami pun ngobrol-ngobrol sambil brecada. Terus aku ke WC sebentar buat kencing. Sebenarnya sih supaya senjataku enggak sakit bediri terus. Waktu kencing, aku ngebayangin juga tuh bodynya Ria yang aduhai. Terus aku masuk kamarku lagi. Begitu aku buka pintu, aku lihat Ria lagi di depan meja belajarku sambil nungging ngelihatin buku-buku kuliahku. Kelihatan dong pahanya yang putih mulus itu dan sedikit CD nya. Aku udah enggak tahan lagi nih. Lalu aku deketin Ria dan aku peluk dari belakang. Si Ria kaget dan berbalik badan tapi enggak ngelawan, cuma sedikit berusaha menghindar.

"Kenapa kamu Rif" katanya.

Terus aku lumat aja bibir mungilnya, dan aku pepetin dia ke dinding kamarku. Dia juga membalas ciumanku dan aku kulum lidahnya sambil aku remas-remas payudaranya. Ria mendesah kecil. Makin lama aku makin gila. Aku mulai turun ke bawah ke pahanya. Rok mininya aku turunin sampe ke lantai sehingga dia cuma pake CD dan baju ketatnya. Ternyata enggak cuma pakaian luarnya yang bikin nafsuin, dia pake CD yang bertali di bagian pinggangnya, jadi bisa di copot sebelah doang. Aku cium-cium pahanya sambil mulai menarik tali CD sebelah kirinya. Kelihatan bulunya yang halus terawat dan memeknya yang berwarna merah muda. Desahan Ria makin keras terdengar. Aku mainin itilnya dengan tanganku.

"Aaahh… Aahhh... Rif..."

Memeknya makin basah. Lalu aku jilatin memeknya dan Ria makin meronta-ronta kegelian. Sambil menjilati memeknya aku copot celana jeansku dan sekaligus CDku. Keluarlah batangku yang udah tegang banget. Lalu aku berdiri, aku angkat kaki kanan Ria, yang masih menempel CD nya, setinggi pinggulku dan mulai ngearahkan kontolku memasuki memeknya. Si Ria mendorong pinggulku.

"Jangan Rif, aku kan masih perawan. Enggak mau dimasukin..."

Terus aku bilang gimana kalo cuma pura-pura doang kaya film-film Hollywood, si Ria senyum centil tanda setuju. Aku terusin gerakanku tadi. Terus aku gesek-gesekin kontolku ke bagian luar memeknya seperti orang sedang masturbasi.

"Aaahhh… aahhh… terus Rif…"

Ria juga ikut bergoyang keenakan. Lama-kelamaan tangan Ria mulai memegang-megang kontolku, lalu tanpa aku sadar dia ngarahin kontolku kedalam memeknya. Rupanya si Ria udah terangsang banget dan enggak mau peduli lagi. Blesh... kontolku mulai masuk ke memeknya.

"Aaaaahh... sakit Rif…" kata Ria.

Seret banget dan sempit, walaupun ukuran kontolku enggak gede-gede amat. Akhirnya masuk juga semuanya dan aku terusin goyanganku. Enak banget rasanya, baru kali ini aku ngerasain memek cewek. Biasanga aku ngerasain gulingku. Mungkin karena baru pertama kali ngentot. Enggak lama, aku ngerasa udah mau keluar. Lalu crooot... croot... aku keluar di dalam.

Ria nampaknya belum orgasme. Sambil terus berpelukan aku nengok ke kiri, ada cermin dan aku lihat posisiku dan Ria yang horny banget, kaya lagi nonton bokep. Kontolku yang sempat lemas berdiri lagi. Aku cium dia sambil aku gendong dan aku rebahin ke ranjangku. Kaos putihnya aku lepas, begitu juga BHnya. Bener dugaanku, teteknya enggak begitu besar tapi putih kencang. Cukuplah besarnya.

Ria udah telanjang bulet, cuma sisa CD nya yang masih nempel di kaki kanannya. Aku isep sebelah puntingnya. Ria pun mulai menggeliat lagi. Puting yang satu lagi aku mainin sama tanganku. Terus aku ngerasa kontolku udah keras banget dan aku kangkangin kakinya dan aku masukin aja lagi ke memeknya Ria.

"Ngehhh... aaahh..." Ria mendesah keras.

Kali ini enggak seseret yang pertama tadi. Aku maju mundurkan kontolku dan Ria ngikutin goyanganku. Aduh... gila enggak nyangka kalo memeknya cewek seenak ini. Sambil aku cium bibirnya aku mainin teteknya dengan tanganku. Enggak lama kemudian memeknya Ria terasa menyempit tiba-tiba seperti memijat kontolku dan badannya menegang. Ria pun teriak "Ahhhhhhhh..." Aku enggak tahan kontolku dipijat memeknya, lalu aku keluar juga. Dan aku pun berbaring di sebelahnya sambil megungusap-usap rambutnya.

Setelah beristirahat sebentar aku anterin dia pulang. Selama perjalanan kita ngobrolin tentang tadi. Ternyata dia suka dengan perlakuanku. Katanya enak. Dan untuk lain kali aku minta dia pake baju yang seksi-seksi dan dia cuma senyum-senyum kecil malu-malu.

Aku dan Ria makin sering gituan. Untuk yang kedua kali dan seterusnya aku pake kondom, soalnya aku takut dia hamil. Semuanya aku lakukan di rumahku karena rumahku sering kosong. Teknik ku pun makin jago. Terakhir aku bisa bikin dia orgasme 4 kali dalam sekali gituan. Waktu itu dia pake stocking kaya film-film bokep. Horny banget enggak sih. Tapi dia enggak jadi pacarku dan masih berstatus teman baik. Aku enggak tau apakah aku dan dia masih mau terusin setelah kita masing-masing udah punya suami dan istri. Yang penting sekarang dulu lah, yang itu belakangan.

Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus

Sore itu saya baru pulang dari rumah teman saya. Karena perjalanan pulang melewati kampus saya, maka sekalian saya menyempatkan diri untuk mampir ke sana dengan tujuan melihat nilai UTS saya dan mencatat jadwal SP (Semester Pendek). Saya masuki halaman kampus dan saya parkirkan sepeda motor saya. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 17.05, di tempat parkir pun hanya terlihat 3-4 kendaraan. Saya segera memasuki gedung fakultas saya, di sana lorong-lorong sudah gelap hanya diterangi beberapa lampu downlight, sehingga suasananya remang-remang, terkadang timbul perasaan ngeri di gedung tua itu sepertinya hanya saya sendirian, bahkan suara langkah kaki saya menaiki tangga pun menggema. Akhirnya sampai juga saya di tingkat 4 dimana pengumuman hasil ujian dan jadwal SP dipasang.


Ketika saya sedang melihat hasil UTS saya dari lantai bawah sekonyong-konyomg terdengar langkah pelan yang menuju ke sini. Sadar atau tidak saya rasakan bulu kuduk saya berdiri dan membayangkan makhluk apa yang nantinya akan muncul. Ah konyol, saya buang pikiran itu jauh-jauh, hantu mana mungkin terdengar bunyi langkahnya. Suara langkah itu makin mendekat dan akhirnya saya lihat sosoknya, oohh, ternyata lain dari yang saya bayangkan, yang muncul ternyata seorang gadis cantik. Saya pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas dengan saya dalam salah satu mata kuliah, namanya Yani, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang dan mulus, buah dadanya pun membusung indah, saya perkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan rambut panjang kemerahan yang dikuncir ke belakang dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus.

"Hai.. sore, mau lihat nilai ya?" tanyaku berbasa-basi.

"Iya, kamu juga ya?" jawabnya dengan tersenyum manis.

Saya lalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.

"Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? gua mau catat jadwal nih" tanyanya.

"Ooo, boleh, boleh gua juga udah selesai kok" saya lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoin saya.

"Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?" tanyaku.

"Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?"

"Sama nih, gua juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalan lah"

Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotor saya terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang. Saya mulai merasakan senjata saya menggeliat dan mengeras. Saya pandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajah saya makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambut saya sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tangan saya pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping. Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairah saya untuk berbuat lebih jauh, tangan saya kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemeja saya satu persatu. Tiba-tiba saya sadar sedang di tempat yang salah, segera saya lepas ciuman saya.

"Jangan di sini, gua tau tempat aman, ayo ikut gua!"

Saya ajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci. Saya buka pintu dan saya tekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.

Segera setelah tombol kunci saya tekan, saya dekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah saya lepas tank top dan branya, saya lihat tubuh putih mulus dengan payudara kencang dan putingnya yang kemerahan. Saat itu saya dan dia sudah topless tinggal memakai celana panjang saja. Saya arahkan mulut saya ke dada kanannya sementara tangan saya melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Saya rasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan. Puting yang sudah menegang itu saya sapu dengan permukaan kasar lidah saya hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis saya renggangkan bibir kemaluannya dan jari tengah saya saya mainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambut saya.

Akhirnya dengan perlahan-lahan saya turunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Saya buka resleting celana saya lalu saya turunkan CD- saya sehingga menyembullah senjata yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing senjata saya memasuki liang vaginanya, setelah masuk sebagian saya sentakkan badan saya ke depan sehingga dia menjerit kecil. Saya mulai menggerakkan badan saya maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tangan saya sibuk meremas-remas payudara montoknya, dan lidah saya menjilati leher dan telinganya. Saya terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badan saya, hingga akhirnya saya merasakan tangannya yang melingkari leher saya makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang. Saat itu gerakan saya makin saya percepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu saya rasakan pula cairan hangat menyelubungi senjata saya dan sperma saya mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.

Tiba-tihba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Alif, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah. Kami kaget karena kehadirannya, saya segera menaikkan celana saya yang sudah merosot, Yani berlindung di belakang badan saya untuk menutupi tubuh telanjangnya.

"Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasyik ria!" katanya sambil berkacak pinggang.

"Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini," kata saya terbata-bata.

"Hmmm... baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal..."

"Asal apa Pak?" tanyaku.

Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.

"Asal saya boleh ikut merasakan si Mbak ini, he.. he... he...!" katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.

"Jangan, Pak, jangan!"

Dengan wajah pucat Yani berjalan mundur sambil menutupi dada dan kemaluannya untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Alif untuk mendekap tubuh Yani. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Yani dan mengangkatnya ke atas.

"Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau... eeemmmhhh...!"

Belum sempat Yani melanjutkan perkataannya, Pak Alif sudah melumat bibirnya dengan ganas. Sekarang Yani sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Alif sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke payudara kanan Yani lalu meremas-remasnya dengan gemas. Entah mengapa dari tadi saya hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontras nampaknya Yani yang berparas cantik itu sedang digerayangi oleh Pak Alif yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata, "Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula."

Ciuman Pak Alif pada bibir Yani kini mulai merambat turun ke lehernya, dijilatinya leher jenjang Yani kemudian dia mulai menciumi payudara Yani sambil tangannya mengobok-obok liang vagina Yani. Diperlakukan seperti itu Yani sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah,

"Pak... aaakhh.. jangan.. eeemmhh... sudah Pak!"

Setelah puas "menyusu" Pak Alif mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Yani dengan jilatan dan ciumannya. Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Alif mengaitkan kaki kanan Yani di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium kemaluan yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya. Sementara Pak Alif mengerjai bagian bawah, saya melumat bibirnya dan meremas buah dadanya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu saya pencet dan saya puntir.

Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada payudara kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Alif. Tak lama kemudian saya rasakan dia mencengkram lengan saya dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam. Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Alif dan saya lihat Pak Alif juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari liang senggamanya sehingga membuat tubuh Yani menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciuman saya. Sekarang saya membuat posisi Yani menungging di matras yang saya gelar di lantai. Saya setubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan payudaranya. Pak Alif melepaskan pakaiannya hingga bugil, kemudian dia berlutut di depan wajah Yani. Tanpa diperintah Yani segera meraih penis yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Alif mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Yani, dia menjejali penis itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Yani.

Yani pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Alif mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Yani yang ingin mengeluarkan penisnya dari mulutnya, sementara saya makin mempercepat goyangan saya dari belakang. Tubuh Yani mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokan saya dan juga karena Pak Alif yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Yani, sangat banyak sperma Pak Alif yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Yani tersumbat oleh penis Pak Alif yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar, "Emmpphh.. mmm.. hmmpphh..." tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.

Kemudian Pak Alif melepas penisnya dari mulut Yani, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Yani memasukkan penis yang berdiri kokoh itu ke dalam vaginanya. Sesuai perintah Pak Alif, dia menduduki dan memasukkan penis Pak Alif, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena penis Pak Alif yang besar tidak mudah memasuki liang vaginanya yang masih sempit, Pak Alif meremas-remas susu Yani yang sedang bergoyang di atas penisnya itu. Saya lalu memintanya untuk membersihkan barang saya yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika penis saya sedang dijilati dan dikulum olehnya, saya tarik ikat rambutnya hingga rambutnya tergerai bebas.

"Wah cantik banget si Mbak ini, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini," kata Pak Alif memuji Yani.

"Dasar muka nanas, kalo dia pacar gua udah gua hajar lo dari tadi!" gerutu saya dalam hati.

Setelah penis saya dibersihkan Yani, saya atur posisinya tengkurap di atas Pak Alif, dan saya masukkan penis saya ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika saya berhasil menancapkan penis saya di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara penis Pak Alif di vaginanya dan penis saya di anusnya. Saya menghujam-hujamkan penis saya dengan ganas sambil meremas-remas payudara dan pantatnya juga sesekali saya jilati lehernya. Sementara Pak Alif juga aktif memainkan payudara yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu. Tak lama kemudian Yani menjerit keras, "Akkhh...!" tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Alif dengan kuluman di bibirnya. Saya dan Pak Alif melepas penis kami dan berdiri di depan Yani secara bergantian dia mengulum dan mengocok penis kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya.

Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Yani, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali. Kami membuat kesepakatan dengan Pak Alif untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Alif pun menyetujuinya dengan syarat Yani mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga. Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.

Cerita Sex Kenikmatan Sesungguhnya

Meskipun usiaku sudah menginjak kepala tiga, tetapi jiwaku masih ingin seperti remaja. Pada suatu hari Sabtu aku libur bekerja, ada keinginan untuk berjalan-jalan mengelilingi pinggiran kota Surabaya. Yah… buat menghilangkan pusing eh malah pusing. Masalahnya setelah beberapa jam berjalan perutku merasa lapar. Aku masuk ke sebuah warung makan, aku pesan makanan kesukaanku yaitu pecel lele plus lalap. Dalam ruangan terdapat enam meja, aku ambil disudut untuk dapat mengetahui seluruh kegiatan didalam ruang makan.



Beberapa saat kemudian datang seorang wanita yang kurang lebih seumuran denganku duduk di sebelah mejaku. Aku nggak pedulikan wanita tersebut, soalnya perut lapar sekali. Setelah makanan aku habiskan, aku mulai merokok. Tatapan mataku menerawang jauh, dan tiba-tiba bertemu mata dengan wanita yang duduk di sebelahku tadi. Dengan rasa terheran-heran kupandangi, aku melihat ada seberkas masalah yang menumpuk di kelopak matanya, lalu aku memberanikan diri untuk Menegur.

"Kok sedirian mbak?"

"Iya…"

"Nggak sama teman?"

"Tidak "

Aku terdiam sebab tidak ada respon. Tapi dari gerak tubuhnya menandakan ingin diperhatikan. Akhirnya aku berdiri dan pindah ke sebelah bangkunya.

"Boleh aku duduk disini?"

Dengan anggukan halus dipersilakannya aku duduk.

Obrolanku mulai mengalir bagai air dan dijawab dengan sedikit sekali informasi darinya. Dengan sedikit serius aku bertanya.

"Mbak ada masalah yah?"

"Aku lihat dari mata mbak dan pandangan mbak sangat kosong"

Aku terus berbicara mengenai apa yang sedang dialami, dan tanpa sadar wanita tersebut berkata jujur.

"Kok mas tau sih persoalanku… memangnya mas paranormal…"

"Yah aku sedikit bisa membaca alam pikiran orang melalui fisik dan meta fisik jadi kalau tadi aku bicara itu hanya dorongan batinku yang berkata begitu tanpa dibuat-buat"

Memang kata teman-teman dikantor dan dirumah aku dapat membaca persoalan orang lain dan mempunyai nilai kebenaran hampir 85%. Hal ini kusadari sejak remaja. Aku memang pernah belajar ilmu dengan kakekku dan setelah kakek meninggal tanpa sepengetahuanku ilmunya sedikit diturunkan ke aku. Sampai saat ini aku tidak terlalu ambil pusing dengan kebisaanku, yang penting orang itu bahagia atau senang bila aku beri jalan keluar, yah sudah aku pun senang tanpa pamrih apapun.

"Aku panggil mbak atau apa nih supaya kita dapat berbicara lebih santai?"

"Yah Ayu saja…" sambil dilulurkan tangannya padaku.

Tanpa kusadari aku balik telapak tangannya kemudian aku bicara tentang garis hidupnya dari nasib, rejeki, jodohnya. Dengan merah padam dan terheran-heran Ayu mulai bicara dan menceritakan apa yang sedang dialami dan itu pun persis dengan hasil analisaku tentang dirinya. Keakraban mulai timbul, dengan antusias aku diminta untuk memberikan penyelesaian persoalannya. Akhirnya aku berjanji untuk bertemu dirumahnya dengan beberapa syarat yang aku ajukan dan ternyata disetujui oleh Ayu.

Jam sebelas aku datang ke rumahnya di daerah pinggiran kota. Kemudian aku memberikan beberapa wejangan disertai bungkusan kembang untuk mandi agar bersih dari segala kotoran duniawi. Selang beberapa waktu aku terapi batinnya. Akhirnya kusuruh dia untuk mandi besar dengan kembang yang kubawa, dan aku disuruh untuk menunggu di kamar tamu.

Sekitar 20 menit aku dapati di hadapanku seorang wanita yang bersih dan cantik secara alami. Aku pun terheran-heran. Dia terlihat begitu berbeda sekali dengan sewaktu sebelum aku terapi. Kami ngobrol ngalor ngidul, lalu sempat aku makan siang. Setelah makan aku istirahat di bangku halaman belakang, Ayu duduk persis disebelahku dan menghimpit badanku.

"Mas kok dari tadi tak mempunyai rasa… gimana gitu terhadap wanita…"

Wah… ini pertanyaan yang membuatku merinding dan tertantang sebagai seorang laki-laki.

"Maksudnya apa?" kataku dengan pura-pura tidak mengerti.

Tangannya mulai bertengger diatas pahaku akhirnya kugenggam dengan sedikit mesra. Karena aku tahu dia seorang janda yang baru bercerai dikarenakan belum mempunyai momongan. Wajahnya yang bersih memandang penuh birahi kehadapanku. Aku sempat ragu apakah ini jebakan. Aku pikir lebih jauh. Dengan pandangannya aku tahu memang ada rasa haus yang mendalam dihatinya akan pelukan seorang laki-laki. Tanpa menyia-nyiakan waktu aku pangut bibirnya perlahan sekali.

"Aah… ahh…"

Aku kulum bibirnya sampai lidahku menjelajah seluruh rongga mulutnya, tangannya mulai meraba kesana kesini. Aku pun tak ketinggalan untuk memainkan peran, aku usap buah dadanya yang tak terlalu besar tapi menggairahkan. Matanya merem melek menahan gejolak birahi. Aku angkat tubuhnya kedalam kamar kemudian aku kunci. Sedikit demi sedikit aku lepaskan pakaiannya dan tinggal CD dan BHnya. Terus aku gumuli tanpa sisa dari ujung rambut sampai kaki.

Baru kubuka BH yang berwarna hitam kemudian CDnya yang juga berwarna hitam. Tanpa kusuruh pakaianku pun dilepasinya satu persatu. Aku bergumul seolah-olah aku telah lama kenal dengannya. Aku hisap puting sebelah kiri sehingga mengeras dan kemerahan. Tangan kananku menjelajah hutan belantara yang belum dilalui proses melahirkan. Wah begitu kecil dan mungil dengan beberapa bulu yang tumbuh ikal disekitarnya.

Pada suatu saat bibirnya menghampiri kemaluanku. Kuangkat kembali karena aku tidak tega bila hal itu dilakukan. Aku masih menghargai wanita walaupun hasrat itu ada, kami pun bergumul kembali, kurang lebih 20 menit aku melakukan pemanasan. Baru dengan pasrah,

"Mas mulai dong aku sudah nggak tahan…"

Memang aku buat demikian untuk membuat dinding liang vagina agar berlendir untuk mempermudah masuknya kemaluanku. Kakinya sedikit aku renggangkan. Dengan perlahan aku masukan kemaluanku kedalam sumur kenikmatan yang masih sempit. Aku goyang kekanan dan kekiri.

"Aaahh… aahh… yang cepat mas… terusss..."

Wah gawat nih suaranya terus ngoceh nggak karuan sementara aku pegang peranan. Dan beberapa saaat kakinya menghimpit dengan kerasnya dan tangannya mencakar punggungku dengan mesra.

"Mas aku nikmatttt sekali. Aku belum pernah seperti ini dengan mantan suamiku."

Aku sedikit memperlambat goyanganku kemudian aku balik badannya, aku goyang dari belakang dengan sedikit hati-hati agar tidak kesakitan. Pantatnya semakin menggoyang maju mundur tanpa kusadari badannya berbalik dan memelukku erat-erat. Aku kaget…

"Mas aku keluar lagi, aku bahagia sekali dan aku tidak akan lupakan hal ini"

Wah tambah gawat soalnya aku belum sampai.

"Sedikit lagi sayang nanti kamu akan mengalami hal yang diluar kemampuan pikir seorang wanita tentang kenikmatan seksual yang sejati"

Dengan perlahan kubalik dan kubuat gaya konvensional biasa tapi aku dibawah dia diatas. Semakin menggila gerakannya sehingga kepala kemaluanku mulai berkedut menandakan akan keluat lahar kelelakianku yang aku tahan waktu demi waktu agar dapat membahagiakan lawan mainku untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati.

"Ayu... Ayu aku mau sampai… Gimana aku keluarin dimana?"

"Massss... terus saja didalam. Aku sudah tidak tahan lagi…"

Beberapa detik kemudian tubuh kami saling berpelukan dengan erat dan sedikit mengejang satu sama lain sehingga seolah-olah dunia melayang jauh entah ke mana seperti mimpi yang tak terbatas. Kami saling berpangutan untuk mengakhiri permainan ini.

"Mas aku tidak bisa untuk melupakan mas."

"Kamu sudah aku terapi, kembalilah kepada suamimu mudah-mudahan kamu bahagia dengan momongan yang akan kamu dapatkan" kataku.

Dengan berbinar dan meleleh air matanya terlihat rasa sedih dan bahagia.

"Aku mohon maaf semoga kamu tidak merasa berdosa dan aku pun demikian"

"Tidak mas malah aku berterimakasih banyak, aku telah mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan aku akan berusaha kembali kepada mantan suamiku"

Beberapa minggu kemudian aku mendapat kabar bahwa wanita yang bernama Ayu itu telah kembali kepada suaminya yang dahulu dengan melakukan pernikahan kembali. Aku terus berkomunikasi dengannya melalui telpon dan perbuatan itu hanya sekali kulakukan dengannya.

Cerita Sex Teman Kost Kakakku

Ini adalah kisah nyata yang terjadi waktu pertama kali duduk di bangku kuliah. Nama saya Boy, usia saya pada waktu itu masih 18 tahun. Saya kuliah di sebuah Universitas ternama di sebuah kota di Jawa Tengah. Kota tersebut tidak jauh dari kota tinggal saya. Namun di kota itulah saya merasakan sesuatu yang akan sangat sulit saya lupakan.


Cerita ini berawal saat saya mencari tempat kost. Namun, setelah sekian lamanya berkeliling kota untuk mencari rumah yang menyediakan kost, Saya mendapatkan hasil nihil. Bukan tanpa alasan, kost penuh karena Saya memang terlalu terlambat untuk mencari tempat kost, sedangkan ospek sudah terlanjur dekat, maka terpaksa saya menginap di kost Kakak perempuan saya, dia lebih tua 4 tahun dari saya dan ia kuliah di Universitas yang sama dengan saya namun kami berbeda jurusan. Dia setuju,Saya numpang kost sementara karena memang di mata dia saya adalah adik bungsunya yang masih polos. jadi tidak sedikitpun dalam benaknya terpikirkan, bahwa Saya sudah tahu banyak mengenai sex meskipun belum pernah melakukan secara langsung.

Setelah dikenalkan dengan teman-teman kostnya, akhirnya dengan sembunyi-sembunyi saya tinggal di kamar kakak saya. Bukanlah hal yang sulit untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman kakak saya, selain sifat supel dan periang saya, sifat kekanak-kanakan saya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-teman kakak saya untuk lebih akrab dengan saya, bahkan lebih akrab dari kakak saya. Hingga suatu saat saya berkenalan dengan mbak Lina. Dia adalah sahabat karib kakak saya yang paling dekat dengan saya. Orangnya cantik, berjilbab, dan agak tomboy, ukuran dadanya dan bentuk tubuhnya yang agak bongsor namun proporsional dengan tinggi badanya jelas memikat laki-laki manapun yang melihatnya.

Banyak kejadian seru bersama mbak Lina. Pernah suatu ketika saat dia mandi, dan saya pada waktu itu sedang mencuci baju di dekat kamar mandinya dia meminta tolong pada saya untuk mengambilkan seperangkat sabun yang tertinggal di rak dekat tempat saya mencuci pakaian. Namun saat saya berikan seperangkat sabun tersebut, dia bukannya menyodorkan tangan dari pintu kamar mandi yang seharusnya sedikit ia buka untuk mengambil perangkat sabun, tetapi ia malah membuka seluruh pintu kamar mandi dan bermaksud memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benangpun, kontan saya langsung menutup mata saat dihadapan saya berdiri sebuah tubuh yang sangat sintal, ukuran dada yang sangat proporsional, mungkin 36B. Dari semua yang sempat saya lihat, godaan mata terberat adalah yang ada di bawah perutnya. Hanya terlihat sekilas, namun Saya melihat warna hitam halus di bawah perutnya.

Bukan hanya itu saja. Pernah terjadi aksi saling dorong pintu kamar mandi saat Saya sedang menikmati kesegaran mandi di dalam, kejadian itu berawal saat dia meminta saya mengambilkan handuk yang ada di dalam kamar mandi tempat saya berada. Dan yang lebih parah lagi, dia dibantu temannya melawan pertahanan saya dari dalam. Saya tidak tahu siapa yang bersama ia menjahili saya. saya hanya bisa mendengar dua tawa cekikikan di luar. tetapi apapun usaha mereka, Yang jelas hasilnya adalah Sudah pasti kemenangan menjadi milik saya, padalah sebenarnya itu adalah sebuah kerugian besar.

Tetapi, dari semua kejadian yang Saya alami, kejadian puncak terjadi pada suatu malam saat saya tidur di kamar Mbak Lina. Cerita ini berawal saat Saya, kakak perempuan saya dan mbak Lina sedang menyaksikan sebuah konser music di Universitas tempat kami menimba ilmu. Ditengah-tengah acara, tiba-tiba rasa kantuk menyerang saya dengan amat sangat. Karena tidak tahan dengan rasa kantuk tersebut, akhirnya Saya pamit pulang ke kost. Tetapi, karena kunci kamar Kakak saya dibawa temannya yang pergi dengan pacarnya, jadi terpaksa Saya membawa kunci kamar Mbak Lina dan numpang tidur di kamarnya. Setelah pulang dan langsung memanjakan kantuk dengan ranjang hangat khas kamar perempuan yang bersih dan wangi, akhirnya Saya tertidur pulas dibelai mimpi, mungkin memimpikan mbak Lina kali ya?? Hihihi.

Ditengah-tengah tidur saya, tida-tiba Saya terbangun. Ada sebuah kehangatan aneh yang begitu asing bagi saya. Tenyata ada seseorang yang memeluk saya di malam itu. Meskipun setengah sadar, tapi logika saya masih sempat bekerja, sangat tidak mungkin jika yang memeluk saya adalah Kakak saya, meskipun kami saudara sekandung, tapi hubungan kami sangat buruk, ia bersikap manis pada saya hanya dihadapan teman-temanya saja. Yang ada di benak saya malam itu pastilah Mbak Lina. Ternyata tebakan saya benar. Ternyata itu memang mbak Lina.

Saat saya terjaga karena kaget, saya rasakan Ia berhadapan langsung dengan saya, dengan posisi kepalanya di leher saya, jadi bisa saya rasakan wangi rambutnya yang selalu ia rawat. Pikiran saya pun liar membayangkan banyak hal. Terlebih ia hanya memakai baju tidur tipis tanpa BH. Jadi gundukan putingnya bisa saya rasakan pas berada di dada saya. Tanpa perlu dikomando, adik kecil saya tidak bisa di ajak kompromi untuk tidak menegang.

Saya lalui malam tersebut tanpa memejamkan mata. Nafas dan detak jantung saya tidak terkendali. Terlebih Mr. Dick yang menegang bebas karena Saya tidak pernah suka memakai CD. Saya lihat angka jam dinding menunjuk di angka satu. Pikiran saya gelisah, rasa takut, tegang, malu dan sedikit rasa senang bercampur aduk. Di tengah kegelisahan tersebut, tiba-tiba Mbak Lina bergerak dalam tidurnya dan menindih paha saya dengan paha mulusnya. Karena posisi tidur miring, maka batang saya tepat bergesekan dengan Ms. Pussy milik Mbak Lina. Saya semakin tegang, alur nafas saya semakin tidak terkendali. Keringat membasahi seluruh tubuh saya. Saat rasa gelisah semakin menjadi-jadi, tiba-tiba kepala Mbak Lina berganti posisi berhadapan dengan wajah saya.

Entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba saya dekatkan bibir saya ke bibir seksi Mbak Lina. Ternyata respon yang saya dapat lebih dari apa yang saya harapkan. Ditengah ketidak sadaran Mbak Lina dalam tidurnya ia membalas saya dengan kuluman bibir dan permainan lidah yang pertama kali saya rasakan. Selanjutnya, dengan mata yang masih tertutup, tangan lembutnya menelusuri tubuh saya. Mulai dari leher, dada, perut hingga dibagian yang paling sensitif dari tubuh saya.

Tiba-tiba ia meremas penis yang dari tadi sudah menegang. Dengan lembut ia mengocok perlahan. Sensasi yang pertama kali saya rasakan ini kontan membuat saya merintih lirih kenikmatan dan melepaskan ciuman mbak Lina.

“Uuuhhhh…”

Sambil memejamkan mata, saya resapi tiap sensasi yang saya rasakan dibagian sensitif saya. Entah setan Dari mana yang merasuki saya, tiba-tiba kepala saya bergerak kebawah dan langsung menyerbu dua bukit kembar di dada Mbak Lina. Saya kulum ujung merah muda dari tempat keramat tersebut. Apa yang saya lakukan mendapat respond dan membangunkan tidur mbak Lina.

“ahhhh!!!! Teruskan Boy…”

Dia semakin kuat meremas penis yang benar-benar menegang maksimal. Saat itu, saya rasakan Dada yang dihadapan saya bergerak dan pindah tempat. Ternyata Mbak Lina berganti posisi dengan kepala tepat menghadap penis saya. Yang saya rasakan selanjutnya adalah, penis saya masuk dalam liang hangat dari mulut Mbak Lina. Saya semakin mengerang.

“Aarrggghhh… Enak Mbak…!!!”

Setelah itu dengan posisi kepalanya yang sedang memanjakan batang keperkasaan saya, rasa tidak ingin kalah menyerang. Saya angkat paha Mbak Lina, dan posisikan pahanya tepat menjepit kepala saya setelah saya lepas CD tipisnya, sehingga yang berada dihadapan saya saat itu adalah gundukan berbulu halus dan dengan tonjolan daging berwarna kemerahan yang telah basah oleh cairan yang berbau khas. Tanpa perlu dikomando, saat Mbak Lina keasikan mempermainkan penis saya, langsung saya hisap liang kenikmatan milik Mbak Lina. Tiba-tiba ia terhentak dan sempat menggigit senjata saya.

“Aaarrgghhh!!! Sakit Mbak…”

Dia tidak menggubris erangan saya, malah semakin dalam memasukan Mr. Dick panjang saya ke dalam tenggorokanya. Karena tidak mau kalah, saya hisap keras-keras vaginanya dan saya mainkan lidah saya menelusuri tiap sudut yang ada di lubang tersebut. Akhirnya ia tidak tahan. Dilepasnya penis saya dari cengkraman mulutnya, dan kini yang ada dihadapan saya adalah wajah cantik Mbak Lina yang haus ciuman.

Dia mencium saya dengan penuh nafsu. Dan saat itu pula tangannya membimbing rudal saya ke liang kewanitaannya, dia benar-benar tidak sabar dan dikuasai nafsu. Karena terlalu tergesa-gesa, senjata pamungkas saya selalu meleset meskipun dibimbing dengan tangannya hingga yang saya rasakan adalah gesekan basah bibir vaginanya. Karena kelihatannya dia kepayahan berusaha, akhirnya saya lepas ciuman saya dan langsung saya baringkan ia dan saya angkat kakinya ke pundak saya. Tidak perlu usaha yang terlalu keras, dengan sedikit memaksa, akhirnya batang saya langsung menghujam deras ke liang kenikmatannya. Saya sodok dia dengan keras. Meski ini adalah yang pertama bagi saya, entah dapat ilmu dari mana hingga seolah-olah Saya sudah sangat berpengalaman dan permainan saya menjadi kasar dan liar. Saya sodok terus hingga terdengar bunyi khas dari bawah perut kami.

“Booyyy… Niikkkkmmmattt… Aaahhhhhh…!!”

Tidak saya hiraukan desahannya, dan saya sama sekali buta pada saat itu, hingga tidak sadar jika di sebelah tempat kami beradu, ternyata ada teman sekamar Mbak Lina yang terbangun karena erangan kami.

Saat saya lihat ia terbangun, pikiran saya langsung dibayangi rasa takut. Saya takut jika ia tiba-tiba teriak saat melihat kami bersetubuh. Namun, rasa takut saya tidak terbukti. Saat saya lihat teman Mbak Lina sambil menyodokan Mbak Lina, saya lihat ia telah memasukan tangannya ke CDnya dan tangan satunya ke BH. Bukti bahwa ia sudah lama terbangun dan terangsang oleh pemandangan yang ada di depannya. Rasa takut saya hilang dan Cuek saja dengan teman sekamar Mbak Lina. Setelah agak lama bermain, kami berganti posisi. Kali ini mbak Lina yang memegang kendali, ia dengan posisi di atas, menggoyang-goyangkan pinggulnya dan semain membuat saya melayang.

Saat saya menoleh lemas oleh ulah Mbak Lina, saya lihat teman sekamar mbak Lina masih sibuk memuaskan dirinya sendiri. Dan tepat saat teman sekamar Mbak Lina dan Saya berhadapan, tatapan memelasnya seolah-olah berkata bahwa ia ingin merasakan hal yang sama dari rasa yang Mbak Lina rasakan. Saya sanmbut dengan tatapan mengundang. Mungkin karena memahami undagan saya tersebut, ia langsung melepas seluruh pakaian yang ia kenakan dan mendekati kami yang masih sibuk beradu.

Tiba-tiba ia langsung membenamkan selangkangannya ke muka saya. Otomatis, dengan posisi saya yang masih terlentang dengan batang kenikmatan yang melayani liang milik mbak Lina, Mulut saya pun mengulum liang kenikmatan teman Mbak Lina yang saya kenal bernama Caca. Pada waktu itu ia masih SMA kelas tiga dan sekolah dekat dengan kampus saya, dia tidak begitu cantik, ukuran dadanya 34B, namun bodinya yang kecil imut tanpa busana cukup kuat untuk memancing libido saya untuk lebih menikmati malam itu.

Pergulatan ini berlangsung lama. Mbak Lina masih sibuk berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil yang main kuda-kudaan, Caca menggesek-gesekkan memeknya kemulut saya menambah sensasi dari hisapan kuat yang saya berikan, bahkan Caca semakin kuat menekan pahanya hingga kepala saya terbenam ke dalam kasur empuk dan hampir membuat saya tidak bisa bernafas. Sementara itu, Mbak Lina semakin menggila. Ia malah memeluk pinggul Caca dan menggunakanya sebagai pegangan agar penis saya semakin dalam memuaskan liangnya, dan tanpa saya sadari paha saya sudah basah oleh cairan hangat dari liang milik Mbak Lina. Setelah itu, tiba-tiba gerakanya terhenti, dan bersamaan dengan itu, senjata saya tiba-tiba tersedot kedalam liangnya yang basah dan hangat. Ternyata ia telah mencapai puncak terlebih dulu dibandingkan saya.

Di saat Mbak Lina lemas dan membaringkan tubuhnya didekat saya, Caca yang tidak puas dengan servis dari mulut saya, langsung mundur bagaikan anak kecil yang main perosotan di dada saya. Setelah itu, ia langsung mengarahkan penis saya tepat di liangnya yang sudah dibanjiri cairan bening dari rahimnya dan cairan air liur saya. Meskipun rudal saya telah licin oleh permainan dari mbak Lina, karena liang Caca yang mungkin masih perawan karena dia masih lebih muda dari Mbak Lina, bahkan lebih muda dari saya, rudal saya masih sulit masuk ke liang kenikmatanya.

Karena Saya sendiri juga tidak sabar dan dirasuki nafsu, langsung saya posisikan ia di tepi ranjang dengan posisi kaki menekuk di pinggir ranjang dan pungggung membungkuk dengan dada yang berada terbuai di ranjang. Dari belakang saya hujamkan senjata saya. Dengan perjuangan yang agak lama, Dan dengan sisa tenaga dari kemenangan saya menghadapi Mbak Lina, saya masukan dengan keras penis saya ke lubang milik Caca. Karena usaha yang kasar dan licinnya penis saya dari pergulatan saya tadi dengan Mbak Lina, batang saya dengan cepat menerobos pertahanan milik Caca. Ternyata ia benar-benar perawan.

“Aaarrgggghhhhhh…!!!! Sakit…!!!!!!!!!!!!”

Dia mengalami kesakitan yang amat sangat seiring dengan warna merah yang saya liat sedikit keluar dari tempat rudal saya menghentak. Rasa sakit itu bahkan tak mampu membuat ia menjerit keras. Tertapi Saya tidak peduli dengan hal itu, tetap saja saya sodok Caca dari belakang dengan keras.

“Saa… Sakkiiittttttttttt…!!!!!”

Saya lihat ia menitikan air mata dan merintih agak keras. Karena takut teriakanya membangunkan seisi kost putri, saya balik posisinya menjadi terlentang di ranjang di sebelah Mbak Lina yang tertidur lemas. Sambil saya sodok, saya hisap bibirnya dengan hisapan bibir saya yang baru saja saya pelajari dari Mbak Lina. Dengan masih terus bergerak, bahkan tempo sodokan saya semakin cepat, hingga akhirnya ia mulai bisa menikmati permainan meski di selangkangannya mengalir darah dan cairan basahnya.

Setelah hampir satu jam bergelut dengan Caca, tiba-tiba tubuh saya menggelinjang hebat, cairan yang dari tadi tidak keluar akhirnya mulai siap untuk dimuntahkan, ternyata Caca mengalami hal yang sama jugs, saat itulah… Croottttttt!!!

Cairan hangat beradu dalam rahim Caca, dan dengan lemas kami berpelukan. Mbak Lina masih belum terlelap meskipun rasa lemas menyerangnya.

“Boy… aku gak nyangka, dibalik sikapmu yang masih seperti anak-anak, ternyata kamu bisa muasin aku lebih dari pacarku sendiri. Aku harap kamu bisa muasin aku lain kali tanpa perlu kupancing” Mbak Lina membisikan sedikit kalimat kecil di tenlinga saya.

“Iya Mbak, aku juga gak nyangka kalo aku diberi pengalaman seindah ini,” saya membalas kalimat dari Mbak Lina sambil mengecup kening Mbak Lina.

“Dan kamu Caca, makasih dah ngasih yang pertama bagiku” saya kecup pula kening Caca dengan lembut. Dan ia hanya membalas dengan senyuman manisnya tanda bahwa ia tidak menyesal telah memberi saya yang pertama baginya.

Posisi saya ditengah tanpa busana dan di kanan kiri saya ada dua gadis yang tertidur lelap tanpa busana pula. Hingga kami bertiga tidur dalam buai kehangatan masing masing.

Pagi hari, saya dibangunkan Mbak Lina, dia sudah mandi dan menyuruh saya dan Caca yang masih bugil berpelukan untuk lekas berpakaian. Namun bagaimana dengan Kakak perempuan saya? Saya sama sekali tidak khawatir dengan Kakak perempuan saya. Kata Mbak Lina ia masih tidur dikamarnya dan masih terlelap sampai saat saya bangun, karena saya tahu persis kebiasaanya yang sering bangun kesiangan.

Setelah kejadian itu, tanpa sepengetahuan kakak saya, saya sering memuaskan dua temannya itu secara bersamaan.

Cerita Sex Dengan Dokter Cantik

Fransiska adalah seorang dokter muda yang biasa dipanggil dengan dokter Siska. Siska baru saja menikah dengan seorang insinyur muda bermasa depan cerah, yang bekerja di sebuah instansi pemerintah. Sosok Siska amat menawan, jadi tak heran banyak pasiennya yang kagum dan simpati kepadanya. Selain cantik Siska juga tinggi dan memiliki kulit sawo matang, di tunjang dada yang tidak terlalu menyolok jika dilihat.


Saat ini Siska baru saja berumur 28 tahun dan telah menyelesaikan spesialisnya. Ia sudah menikah dengan Irwan kurang lebih 1 tahun, mereka memutuskan untuk menunda dulu punya bayi demi karier Siska dan Irwan. Kehidupan pasangan ini sangat mesra dan harmonis, mereka sama2 berasal dari lingkungan yang berada dan cukup terpandang di kota itu.

Suatu hari Siska mendapat tugas dari kantornya untuk mengabdi di sebuah pulau yang baru saja menjadi kabupaten di provinsi itu. Sebagai dokter yang telah terikat sumpah bakti, maka dengan berat hati ia menerima tugas itu, meskipun ia akan berpisah beberapa saat dengan suaminya Irwan. Jarak pulau itu dengan kota provinsi memang agak jauh di tempuh dengan kapal laut perintis sekali seminggu. Saat pertama Siska menempuh pulau itu, ia di antar Irwan,suaminya, bagaimanapun Irwan ingin melihat lingkungan tempat kerja istrinya itu.

Dokter Siska menempati rumah dinas yang memang agak jauh dari rumah penduduk lain dan dekat dengan puskesmas. Selama di sana, Irwan selalu menasehati istrinya agar berhati hati dengan penduduk pulau itu, yang memang masih sedikit tertinggal peradabannya. Ia percaya Siska bisa menjaga diri, tapi dalam hatinya memang ada sedikit kekuatiran. Karena selain cantik, hanya Siska seorang wanita yang bertugas di puskesmas itu.

Hampir setiap malam Irwan menyirami batin Siska dengan kemesraan2. Ia berharap Siska akan puas, dan sebab tidak setiap saat mereka bersama. Hampir semua cara telah di praktekan Irwan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Siska, dan selalu di akhiri dengan kepuasan yang tinggi bagi keduanya.

Pada saat itu di puskesmas tinggallah Siska seorang diri dan di bantu oleh seorang laki2 yang bertugas sebagai pengantar ke desa2 pinggir pulau itu untuk memberikan pelayanann kesehatan. Lelaki itu bernama pak Husin, ia penduduk asli kota itu. Umurnya sudah 56 tahun tapi masih kuat mengayuh dayung perahu, yang selalu membawa Siska ke desa itu. Sosoknya cukup tinggi, hitam dan amat di takuti dipulau itu. Husin juga memiliki istri 3 orang dan ia di segani dipulau itu. setiap hari Husin selalu menemani Siska , kedesa dengan perahunya.

Teradang jika larut malam, pak Husin tidak pulang ke rumah istrinya, karena jauh dan ia menginap di rumah dinas Siska. Ia juga mengetahui sesekali Irwan, suami Siska datang dan bermalam di rumah itu. Suatu hari, Husin tanpa sengaja melihat Siska dan Irwan sedang melakukan hubungan badan, ia tidak tahu saat itu Irwan ada di rumah.

Ia sempat melihat kepolosan Siska saat di senggamai Irwan. Dan sejak saat itu, ia slalu terbayang akan sosok tubuh Siska. Pada akhir2 setelah itu, suami Siska jarang datang ke pulau itu dan kebetulan pak Husin menanyakan kepada Siska,

“Buk, pak Irwan kok jarang kesini lagi?” tanyanya.

“Oooo.. bang Irwan sekolah lagi ke jawa. Yahhh kira-kira 4 sampai 5 bulan pak” jawab Siska.

“Pantas bapak gak pernah kelihatan” kata Husin.

Sebulan kemudian, suatu malam sepulang dari desa, hujan turun dengan derasnya dan disertai angin topan. Untunglah saat itu Siska dan pak Husin telah sampai dipinggir sungai. Lalu dengan basah kuyup mereka berlari kerumah Siska.

Sesampainya dirumah Siska menyilahkan pak Husin masuk,

“Masuk aja pak, nanti saya ambilkan handuk” kata Siska sambil berlalu kebelakang.

Lalu ia memberikan handuk dan pak Husin pun membuka pakainannya yang basah. Sedangkan Siska ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengganti pakainannya yang basah dengan pakaian tidurnya. Lalu ia kedepan dan memberikan baju bekas suaminya ke pak Husin.

“Dipakai saja baju bang Irwan ini pak” kata Siska ke pak Husin.

“Makasih buk” kata pak Husin.

Lalu Siska ke dapur dan membuatkan kopi panas buat pak Husin. Tak lama kemudian ia keluar dan menghidangkan kopi panas kepada Husin sambil jongkok. Saat itu sempat terlihat belahan dada yang tertutup bh oleh pak Husin, “alangkah mulusnya,,” guman pak Husin dalam hati.

Siska saat itu tidak sadar bahwa dadanya sempat diintip Husin. Ia lalu duduk di sofa itu sambil berkata,

“diminum kopinya pak”

“baik buk” kata Husin.

Lalu Siska berbincang dengan pak Husin,

“pak, kalau hujan dan dingin gini apa bisa pak Husin tidur di sofa ruang tamu aja?” kata Siska.

“Soalnya kamar hanya satu” katanya lagi.

“Ooo gak apa apa buk” jawabnya.

“Oh ya udah pak. Saya tidur dulu ya” kata Siska.

Sambil bergurau pak Husin bilang “Hati2 bukkk, kalau takut, biar saya temani di kamar” katanya

“Ooooo.. jangan pakkk, nanti saya khilaf pak” kata Siska gak kurang guraunya.

“Sekali-kali gak apa buk, kan ibu kesepian”

“Wahhh kurang ajar juga orang ini” kata Siska dalam hati.

“Tidak pak” kata Siska lagi.

Lalu pak Husin berdiri dan mengikuti Siska ke kamarnya.

“Lho... ada apa kok bapak mengikuti saya?” tanya Siska.

“Saya tahu ibu pasti kedinginan dan butuh belaian, sebab ibu sudah agak lama tidak berhubungan dengan suami ibu. Jadi saya bersedia menggantikan suami ibu” kata Husin lagi.

“Keluar…!!!!” kata Siska keras.

“Jangan galak-galak bu, nati kecantikan ibu habis” jawabnya lagi.

“Cuma sebentar kok bu, gak ada orang yang tahu juga” kata pak Husin.

Sedang Siska saat itu dalam hatinya bergolak ingin marah dan menampar muka pak Husin. Namun ia tahu ia hanya seorang diri di malam yang di sertai hujan deras itu.

“Buk, saya sudah lama juga ingin bersama ibu” kata pak Husin.

“Sejak saya melihat ibu dan bapak berdua saat itu” imbuhnya.

“Kalau ibu tidak mau, saya akan berusaha membuat ibu mau” katanya lagi.

Saat itu tak ada pilihan lain bagi Siska. Memang saat itu nafsunya sedang berada dipuncak, namun ia tidak ingin dengan pak Husin yang dekil. Namun ia tidak ada pilihan lain.

Siska hanya diam saja dan duduk di pinggir ranjangnya, sementara pak Husin terus masuk kekamar dan duduk di samping Siska. Lalu ia membelai rambut sebahu Siska, sambil menciumi bibir Siska. Siska hanya diam dan menanti apa yang akan diperbuat lelaki itu. Pak Husin lalu berdiri, menutup pintu kamar dan menguncinya.

Ia lalu membelai dada Siska, ia turunkan baju tidur Siska sambil menciumi leher jenjangnya. Setelah baju tidur itu terbuka, ia lalu buka pengait bh yang berukuran 34b itu. Tampak dua gunung kembar yang mulus dan terawat. Mulut pak Husin tak henti-hentinya menciumi dan menjilati puting susu Siska. Sebelah tangannya lagi turun kebawah dan membuka kain penutup vagina Siska. Lalu Siska ia baringkan di ranjang, cd Siska ia tarik kebawah, lalu terbukalah goa kenikmatan yang tertutup bulu halus.

Lalu jari pak Husin memasuki goa itu. Ia memainkan nafsu Siska hingga Siska pun sempat orgasme dan mengeluarkan cairannya. Pak Husin lalu membuka pakainanya, sehingga mereka sama-sama telanjang bulat. Penis pak Husin tampak tegak mengacung ingin cepat2 masuk kedalam vagina dokter Siska. Siska yang telah terbuai nafsu hanya pasrah dan menanti.

Tubuhnya terlentang di ranjang, tangannya hanya terbuka, dan dadanya penuh keringat. Tanpa menunggu lebih lama lagi pak Husin membuka paha Siska dan memasukan penisnya yang besar kedalam lubang vagina Siska. Dengan penuh nafsu pak Husin memaju-mundurkan pantatnya, menyodokkan penisnya yang keras itu di lubang kemaluan Siska yang sudah basah.

Siska hanya pasrah mengikuti permainan pak Husin sambil terus mendesah.

“aachh,, oouuuhhh,, mmhhh,,, aah,, aaaahh,,,” hanya kata kata itu yang keluar dari mulut siska.

Semakin lama Siska pun seperti semakin menikmati permainan pak Husin yang semakin intense. Desahan-desahan lirihnya mengiringi setiap sodokan penis pak Husin di vaginanya. Siska tidak menyangka bisa mendapat kenikmatan dari lelaki selain suaminya, bahkan ia merasakan kenikmatan yang lebih. Mungkin karena ukuran penis pak Husin yang lebih besar dari suaminya.

Setelah sekitar 20 menit pak Husin memaju mundurkan penisnya, barulah ia memuntahkan spermanya di dalam vagina Siska. Sedang Siska sejak pertama tadi telah klimaks berulang ulang. Mereka pun kemudian langsung tidur, dan malam itu berlalu tanpa sepatah kata pun dari Siska.

Setelah kejadian itu, saat birahi Siska sedang berada di puncak, ia terkadang meminta pak Husin untuk menemaninya di kamar, hanya untuk memuaskan nafsunya. Pak Husin pun dengan senang hati menuruti permintaan Siska. Dan sampai saat ini mereka masih berhubungan.

Cerita Sex Guruku yang Menggairahkan

Hari itu saya berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasa, mau nyontek PR teman. Oh ya, saya sekolah di SMA negeri di sebuah kota kecil. sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. Setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.


Jam 6 pagi saya sampai di sekolah, segera saya contek PR teman saya yang terlebih dahulu datang. Tidak terasa saya mengerjakan PR hingga bel masuk berbunyi. Untungnya PR saya selesai lebih dulu. Pelajaran pertama biologi. Saya sih enjoy aja mengikutinya apalagi gurunya manis, masih muda lebih tinggi sedikit dari saya dengan berat badan yang ideal, dan berjilbab. Dia baru mulai mengajar 3 hari yang lalu. Kami biasa memanggilnya Bu Lisa. Pagi itu Bu Lisa datang memakai baju warna hitam dan jilbab dengan warna sama. Dia menggunakan jilbab selengan. Selain mengajar biologi, dia juga menjadi pengurus UKS. Maklum sekolah kami masih baru minim SDM.

Saya tidak konsen menerima pelajaran karena memperhatikan tubuh Bu Lisa. Saya membayangkan apabila Bu Lisa yang berjilbab itu telanjang. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana. Selama ini saya hanya bisa menghayal bu Lisa yang berjilbab telanjang di depan saya. Memikirkan hal itu saya jadi ngaceng. Tak terasa pelajaran selesai, saya lihat jilbabnya melambai-lambai.

Pukul 1 siang bel pulang berbunyi, saya segera mempersiapkan diri untuk ikut ekskul. Saya menjadi kapten tim sepak bola di sekolah saya, sehingga harus bertanggung jawab pada ekskul itu. Ekskul yang saya ikuti berlangsung mulai jam 2 siang hingga 4 sore.

Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua anggota tim pulang, sedangkan saya masih ada di sekolah untuk membereskan peralatan ekskul. Memasuki sekolah, suasana terasa lain. Jika setiap pagi sangat ramai, keadaan di sore hari berbeda 180 derajat. Koridor yang tadinya ramai kini menjadi sepi. Saya berjalan menuju gudang untuk meletakkan bola sepak. Pada saat perjalanan kembali saya melewati ruang guru. Saya lirik sebentar hanya tinggal tas Bu Lisa. - nonton download video bokep indonesia ringan via mobile > indoasoy.com - Guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah. Saya menyempatkan diri mandi di kamar mandi dekat ruang guru. Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.

Di kamar mandi baju saya tidak segera saya lepas. Saya menunggu keringat saya mengering. Belum selesai saya menunggu keringat saya kering, terdengar suara kamar mandi sebelah terbuka. Saya hanya diam saja karena saya pikir bisa mendapat pemandangan bagus. Saat mengintip saya terkejut karena ternya di sana saya lihat Bu Lisa, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis seperti artis sinetron. Saya lebih terkejut lagi karena bu Lisa saat itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya. Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Saya menduga dia tengah menonton bokep, karena terlihat dia tidak bisa mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya. Tak saya sangka walaupun berjilbab, Bu Lisa sangat bernafsu. Saya abadikan momen masturbasi bu Lisa tersebut dalam ponsel kamera saya. Bu Lisa tidak sampai mengerang, mungkin dia malu apabila terdengar orang lain. Walaupun berjilbab namun suka masturbasi ternyata dia masih punya malu.

15 menit setelah Bu Lisa muslimah berjilbab yang “alim” itu keluar dari kamar mandi, saya selesai mandi. Saya lihat foto hasil jepretan saya tadi. Saya lihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang berada di vaginanya. Saya lihat kakinya putih dan mulus sekali. Saya jadi terangsang melihatnya. Sengaja saya lewati ruang guru, saya lihat Bu Lisa masih di sana. Segera saya hampiri dia kemudian saya elus-elus jibab hitamnya.

“Ngapain kamu!” dia menggertak.

Saya tunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, saya lihat dia sangat shock.

“Kalo ibu tidak mau melayani saya, foto ini akan saya sebar luaskan” ancam saya sambil terus mengelus-elus jilbabnya.

Dia hanya terdiam tanpa kata-kata. Saya jambak jilbabnya agar dia mengikuti saya menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu saya kunci.

“Ibu meskipun pakai jilbab ternyata libidonya tinggi yah” kata saya.

Saya lihat air matanya hampir keluar. Segera saya perintah Bu Lisa untuk mengoral kontol saya. Dia menuruti saya karena takut gambarnya tersebar. Saya usap-usap jilbab Bu Lisa. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun saya tertawa penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya. 15 menit kemudian saya rasakan gejolak di penis saya. Tak mampu menahan lebih lama, sperma saya keluar dengan deras. Karena kaget Bu Lisa melepas kulumannya sehingga sperma saya tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Saya lihat jilbabnya yang semula hitam polos kini ada motif putih karena spermsaya. Namun saya belum puas. Saya perintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan saya juga segera melepas bajuk saya. “impianku melihat Bu Lisa berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kata saya dalam hati.

Saya lihat dugaan saya tidak salah, Bu Lisa terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut. Segera saya raih dada kanannya dan saya kulum dengan rakus.

“Aahh… aaahh… aahhh...” walau saya paksa ternyata Bu Lisa menikmatinya.

Saya lihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuat saya “ON” lagi. Bu Lisa saya baringkan di ranjang dalam UKS dan saya serbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sekitar 10 menit saya lakukan hal itu. Kemudian saya pandangi wajahnya yang masih terbalut jilbab manis sekali. Kemudian saya suruh dia menungging. Segera saya tancapkan kontol saya ke memeknya, rasanya sempit sekali. Saya genjot tubuh guru saya sambil memegangi jilbab hitamnya. Seperti joki yang memacu kuda. Sekitar 20 menit saya rasakan kontol saya tidak kuat menahan sperma yang akan keluar.

“aaaahhh………” saya berteriak bersamaan dengan keluarnya sperma saya dalam memeknya.

Setelah keluar semua, saya copot jilbab guru saya untuk membersihkan kontol saya dan memeknya dari cairan yang keluar baik dari memeknya maupun dari kontol saya. Terlihat rambutnya yang hitam sebahu yang selama ini tersembunyi dibalik jilbabnya. Saya sangat terangsang melihatnya, apalagi saat itu Bu Lisa terlihat sangat menggairahkan dengan keringat di sekujur tubuhnya.

Karena saya merasa masih mampu untuk mengocok bu Lisa, saya minta dia untuk berbaring telentang. Tanpa membuang waktu segera saya tusuk vaginanya. Dia terlihat sangat menikmati permainan saya ini. Puas dengan posisi itu, gantian saya yang telentang, kemudian saya minta dia menggenjot kontol saya dari atas. Jepitan vaginanya terasa enak sekali. Genjotannya yang liar membuat saya tidak bisa bertahan lama. Lima menit kemudian saya memuncratkan lagi sperma saya di lubang kenikmatan Bu Lisa. Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan.

Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai baju. Saya cukup penasaran mengapa tadi waktu saya entot tidak keluar darah, dari ceritanya saya tahu walau berjilbab, dulu Bu Lisa pernah ngeseks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab. Setelah itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.

Tak terasa terdengar adzan maghrib. Bu Lisa saya lihat segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya. Saya pun segera pulang dengan penuh senyum kemenangan.

Cerita Sex Hadiah Dari Pamanku


Cerita ini bermula ketika saya berlibur ke kota dimana paman saya tinggal, Salatiga. Waktu itu hari minggu, saya diajak paman beserta keluarganya untuk pergi ke sebuah daerah dekat Salatiga, yaitu Kopeng, yang terkenal dengan hawanya yang cukup dingin. Akhirnya saya, paman, bibi, dan ketiga anaknya berangkat ke Kopeng dengan menggunakan mobil saya.

Perjalanan kami saat itu cukup menyenangkan. Kami ngobrol kesana kesini tentang tempat yang akan kami datangi. Sama sekali tidak terpikirkan oleh saya bahwa mobil Kijang yang saya kendarai itu bakal membuat masalah. Dan benar saja, sepuluh menit sebelum kami tiba di Kopeng, mobil itu mogok. Paman dan anak-anaknya berusaha mendorong dari belakang dengan sekuat tenaga. Sementara Bibi duduk dalam mobil itu dengan raut wajah cemas.

Seperempat jam mobil itu belum juga dapat dinyalakan mesinnya. Walaupun dibantu oleh beberapa orang tukang becak, namun si Kijang masih juga mogok. Akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke bengkel yang tidak jauh dari tempat itu. Sementara itu keluarga Paman akhirnya pulang kembali ke Salatiga dengan naik angkutan umum yang lewat di sana.

Mobil yang dipaksa didorong itu akhirnya sampai juga di depan bengkel. Bengkel itu disebut BENGKEL TIARA oleh penduduk setempat, menurut mereka TIARA itu singkatan dari TIDAK ADA PRIA. Setelah saya perhatikan, ternyata semua montirnya, walau berseragam montir yang berlepotan oli, adalah para wanita muda yang cantik dan seksi. Mereka terlihat ramah dan senang diajak ngobrol. Kasirnya juga seorang wanita. Jadi sama sekali tidak ada pegawai pria di sana. Hebat juga ya? Melihat kenyataan itu, pikiran iseng saya muncul.

Kebetulan mobil Kijang saya mereka tarik ke ruang dalam bengkel yang sunyi senyap dan tertutup. Dua orang montir cantik ditugaskan untuk menangani mobil itu. Saat mereka tengah memeriksa bagian depan mobil Kijang tempat mesinnya berada, dengan sengaja saya julurkan kedua tangan saya ke arah pantat mereka. Mereka sedang berdiri menunduk untuk memeriksa mesin mobil. Perlahan saya raba pantat mereka dengan pelan. Tidak ada reaksi. Karena kelihatannya mereka tidak keberatan, lalu saya remas-remas pantat mereka berdua. Nah kali ini mereka menoleh.

"Mas... tangan Mas nakal deh... kalo mau yang lebih enak, tunggu ya. Begitu kami selesai menservis mobil ini, pasti yang punya mobil akan kami servis juga. Jangan kuatir deh.., kami ahlinya dalam menservis dua-duanya. Hahaha..." ujar salah seorang montir cantik yang belakangan saya ketahui bernama Vita sambil tersenyum genit.

Saya kaget bukan kepalang. Nah ini dia yang saya cari. Jarang lho ada bengkel seperti ini. Ternyata apa yang dijanjikan Vita ditepati mereka berdua. Saat itu juga saya diajak ke lantai atas di sebuah rumah di belakang bengkel besar itu. Disana ada beberapa kamar yang dilengkapi dengan perlengkapan tidur dan perlengkapan mandi yang serba modern. Begitu mewah dan mentereng tempatnya. Jauh sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan bengkel di depannya.

Kedua cewek montir tadi, seorang lagi bernama Nurul, saat saya terperangah menatap ruangan kamar itu, tiba-tiba entah dari mana muncul dengan hanya mengenakan pakaian minim. Alamaak..! Hanya BH dan celana dalam tembus pandang yang menutupi tubuh seksi mereka. Saya tidak menyangka bahwa tubuh mereka yang tadinya terbungkus seragam montir berwarna biru muda, begitu seksi dan montok. Buah dada mereka saja begitu besar. Vita kelihatannya berpayudara 36B, dan Nurul pasti 38. BH yang menutupinya seperti tidak muat. Langsung saja si penis andalan saya mulai mengeras. Tanpa menunggu waktu lagi, saya segera membuka pakaian saya.

Setelah hampir semua baju dan celana saya terlepas, keduanya tanpa banyak bicara mendorong saya supaya jatuh telentang di atas tempat tidur. Saya pun diserbu. Saat itu hanya tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuh saya. Vita dengan ganasnya langsung menyerang bibir dan mulut saya. Ciuman dan permainan lidahnya begitu menggebu-gebu, hampir saja saya tidak dapat bernafas dibuatnya. Nurul pun tidak kalah ganasnya. Tangannya langsung meraba-raba senjata saya dari luar celana dalam saya. Pelan tapi pasti rabaan dan remasannya itu membuat saya menggelinjang hebat. Ia pun menjilati bagian penis saya itu, terutama di bagian kepalanya.

Lalu dengan inisiatifnya sendiri, Nurul menurunkan celana dalam saya. Maka si kecil pun langsung mencuat keluar, keras, tegak, dan besar. Tangan Vita langsung mengocok-ngocok penis saya. Sementara Vita mulai terus menjilati buah zakar dan terus ke bagian pangkal penis saya. Memang penis saya tergolong besar dibandingkan ukuran rata-rata penis orang Indonesia.

Kedua montir cantik itu sekarang bergantian menjilati, mengocok, dan mengulum penis saya seperti orang kelaparan. Saya sih senang-senang saja diperlakukan seperti itu. Sementara itu dengan leluasa kedua tangan saya bergegas membuka pengait bra mereka berdua. Setelah penutup payudara mereka terbuka, tangan saya mulai sibuk meremas-remas kedua gunung kembar mereka.

Beberapa menit kemudian, Nurul mulai membuka celana dalamnya. Lalu ia mengarahkan vaginanya ke mulut saya. Oh saya mengerti. Kini gantian saya yang harus menghisap bagian liang kewanitaannya. Seumur hidup saya sebenarnya saya belum pernah melakukannya. Saya takut karena baunya yang tidak sedap. Ternyata perkiraan saya salah. Saat saya endus baunya, ternyata vagina si Nurul terasa amat wangi. Karena baunya menyenangkan, saya pun menjulurkan lidah saya ke liang kemaluannya. Lidah saya berputar-putar masuk keluar di sekitar vaginanya.

Sementara itu, Vita masih terus mengulum dan mengisap penis saya. Kemudian tanpa dikomando, ia pun melepaskan CD-nya dan langsung duduk di atas perut saya. Dengan lembut tangan kirinya meraih penis tegak saya lalu pelan-pelan dimasukkannya ke dalam liang senggamanya. "Bless... bless... bless..!" terdengar suara kulit penis saya bergesekan dengan kulit vaginanya saat ia mulai turun naik di atas tubuh saya.

Saya jadi merem melek dibuatnya. Kenikmatan yang luar biasa. Ia juga terlihat terangsang berat. Tangan kanannya memegang payudara kanannya sementara matanya terpejam dan lidahnya seperti bergerak keluar masuk dan memutar. Dari mulutnya terdengar suara erangan seorang wanita yang sedang dilanda kenikmatan hebat.

Rupanya si Nurul tidak mau kalah atau tidak dapat bagian. Ia mendekati Vita yang sedang bergerak dengan asyiknya di atas perut saya. Vita pun mengerti. Ia turun dari perut saya dan menyerahkan penis saya kepada Nurul. Dengan raut wajah terlihat senang, Nurul pun duduk di atas penis saya. Yang lebih gilanya lagi, gerakannya bukan saja naik-turun atau memutar, tapi maju mundur. Wah.., saya jadi tambah terangsang nih jadinya. Dengan sengaja saya bangkit. Lalu saya cium dan saya emut payudara kembarnya itu.

Dua puluh menit berlalu, tapi 'pertempuran' 2 in 1 ini belum juga akan berakhir. Setelah Nurul puas, saya segera menyuruh keduanya untuk berjongkok. Saya akan menyetubuhi mereka dengan gaya doggy style. Konon gaya inilah yang paling disukai oleh para montir wanita yang biasa bekerja di bengkel-bengkel mobil bila ngeseks. Saya mengarahkan penis saya pertama-tama ke liang kenikmatan Vita dan tanpa ampun lagi penis itu masuk seluruhnya. "Bless! Jeb! Jeb..!" Kepala Vita terlihat naik turun seirama dengan tusukan saya yang maju mundur.

Tiba-tiba saja Vita memegang bagian kepala ranjang dengan kuatnya.

"Uh..! Uh..! Uh..! Aku mau keluar, Mas..!" erangnya dengan suara tertahan.

Rupanya ia orgasme. Lalu saya pun mencabut penis saya yang basah oleh cairan kemaluannya Vita dan saya masukkan ke vagina Nurul. Vagina Nurul ternyata lebih liat dan agak sulit ditembus dibanding punyanya Vita. Mungkin Nurul jarang ngeseks, walau saya yakin betul kedua-duanya jelas-jelas sudah tidak perawan lagi.

Begitu penis saya amblas ke dalam vagina Nurul, penis saya seperti disedot dan diputar. Sambil memegang pantat Nurul yang amat besar dan putih mulus, saya terus saja maju mundur menyerang lubang kenikmatan Nurul dari belakang. Hampir saja saya ejakulasi dari tadi. Untung saja saya dapat menahannya. Saya tidak mau kalah duluan. Sepuluh menit berlalu, tapi Nurul belum juga orgasme. Maka saya baringkan dia sekali lagi, dan saya akan menusuk vaginanya dengan gaya konvensional. Seperti biasa, ia berada di bawah saya dan kedua kakinya menjepit punggung saya. Saya dapat naik turun diatas tubuhnya dengan posisi seperti segitiga siku-siku. Matanya merem melek merasakan kedahsyatan penis ajaib saya.

Permainan saya diimbangi dengan usaha saya untuk mengulum puting payudaranya yang besar dan kenyal. Ternyata dengan mengulum payudara itu, spaning saya semakin naik. Penis saya terasa semakin membesar di dalam kemaluan Nurul. Dan tiba-tiba sesuatu sepertinya akan lepas dari tubuh saya. "Crot..! Crot..! Crot..!" saya mengalami ejakulasi luar dahsyatnya. Sebanyak dua belas kali semprotan mani saya berhamburan di dalam vaginanya Nurul. Saya pun lemas di atas tubuhnya.

Saat saya sudah tertidur di atas kasur empuk itu, tanpa setahu saya Nurul dan Vita cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali dan kemudian pergi entah kemana. Lalu saya dengar langkah seorang pria berjalan masuk ke kamar itu. Ia mendekati ranjang dan membangunkan saya.

"Ton.., bangun, Ton..!" tangannya yang kekar terasa menggoyangkan punggung saya yang telanjang.

Saat saya membuka mata, ternyata Paman!

"Lho, Paman.., bukankah Paman tadi udah pulang bersama Bibi dan adik-adik..?"

Ia menjawab sambil mengganggukkan kepala,

"Benar Ton... kedua wanita tadi adalah pegawai-pegawai Paman sebenarnya... Mereka berdua Paman suruh men'servis' kamu karena Paman dan Bibi tidak sempat memberimu hadiah ultahmu ke 28 bulan lalu, jadi itu hadiahnya. Dan mengenai mobil Kijang itu, Paman sengaja mengotak-atik kabel mesinnya, lalu kuajarkan kedua wanita itu untuk membetulkannya. Anggap aja kejutan ya, Van... tapi kamu puas kan sama pelayanan mereka berdua? Jangan kuatir.., selama kau berada di sini, Paman mempersilakan kamu mengencani mereka sampai kamu bosan. Kebetulan kan tiap hari mereka masuk kerja. Hehehe..."

Wah.., pengalaman tidak terlupakan nih! Memang sejak itu, selama 15 hari saya berada di Salatiga dalam rangka libur semesteran kuliah saya di Amerika, saya sepertinya tidak bosan-bosan melayani kencan seks kedua gadis seksi itu. Setiap kali kami selesai melakukannya, Vita selalu berkata,

"Mas... kami belum pernah merasakan penis yang begitu hebat dan perkasa menerobos vagina kami.., biasanya kalo tamu Pamanmu, mereka baru 1 menit udah KO! Tapi kamu kuat sekali... bisa sampai dua setengah jam... minum apa sih, Mas..?"

Setiap kali ditanya begitu, saya hanya tersenyum simpul dan menjawab, "Ada deh...” Keduanya menatap keheranan.