Blogroll

Cerita Sex Kena Ospek Geng Sekampus

Nama saya Mona, mahasiswi semester awal di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Di kampus saya bergaul dengan beberapa senior yang terbilang cukup berduit. Mereka bisa membeli apapun untuk menyenangkan hati mereka. Saya diterima di pergaulan mereka mungkin karena penampilan saya. Saya suka memamerkan payudara saya yang berukuran 36b, dengan bra yang sempit seakan payudara saya akan tumpah. Kulit putih saya yang terawat dan wajah saya yang manis seperti orang Belanda, kata mereka. Singkat cerita, mereka mengajak saya untuk berlibur di akhir pekan.


“Mon, besok kita jadi ya ke anyer, sama Caca, Tias, ma gue” ujar Nita.

“pasti, kita berempat aja ya ta?“ Nita menggangguk sambil memakan buah ditangannya.

Keesokkan harinya saya bersiap-siap, menunggu Caca menjemput saya. Saya membawa 2 pasang bikini dan banyak tank top. Saya suka menjadi pusat perhatian. Tak lama Caca menjemput saya dan kita berangkat ke Anyer. Sampai di Anyer Caca menyewa villa tepat di depan pantai. Saya suka pantai, membuat saya sexy saat menggunakan bikini.

“Yuk Foto-foto“ Caca berteriak.

Serentak kami keluar menggunakan bikini, bikini saya paling minim dan sexy. Entah mengapa, saya selama ini tidak pernah membicarakan mengenai percintaan dengan mereka dan sebaliknya pun mereka begitu.

“ahh… capek foto-foto. Eh, gue bawa ini nih“ kata Nita sambil mengeluarkan pemutar DVD portable, tanpa mandi kami langsung duduk memilih DVD untuk ditonton.

“yeee… Vit, ini bokep semua lo bawa!“ Ujar Tias.

“waduh salah bawa folder donk gue!!“ teriak Nita, kami langsung terkejut.

Tiba tiba Caca berkata “whaa ini nih, Women Lick on me, keren nih! Ehh challenge yuk.. gue bawa ganja.. nahh gue bawa sihh 6 tapi.. ini kan filmnya durasinya pendek2.. setiap 15 menit nih.. yang tahan nonton gak horny gue kasi 1 linting”

“OKEE!!!” Nita berteriak, dan langsung menyetel DVD itu.

Saya hanya diam dan terpaku melihat adegan dalam DVD itu. Tiba tiba tangan Caca merogoh bikini bawah saya dan menusuk vagina saya. Saya hanya diam.

“WAH BASAH!! KALAHH DIAA!! Hahahaha…“ saya tersentak malu.

“ihh apaan sih.. ah curangg nihh“ Caca mengecek satu2 celana dalam Nita dan Tias.

“Yaa Tias juga basah.. kalah deh.. YAKK PEMENANGGNYAA JREENGG! Nitaaa“

“hahahaha… Asik… sini gue isep.. eh gue bagi-bagi deh..“

Caca berdiri dan memberi Nita selinting ganja. Tak lama kami bergantian. Satu linting untuk rame-rame memang tidak terasa, tapi bagi saya entah seperti lemas dan ingin meletakkan badan.

“Mmhhhhpppphhh…“ Lidah saya sudah bertautan dengan Caca.

Caca menjilat lidah saya, dagu, sampai leher saya dengan buasnya. Saya hanya tertegun bingung. Merasakan nikmat campur aneh dalam diri saya.

“Ca, jangan donk…“ saya mendorong Caca.

“ah susah banget nih jinaknya“ Ujar Caca sambil mengikat saya di ranjang.

Begitu tersadar,, saya sudah terikat di ranjang.

“HEH!! NGAPAIN GUE DI IKET-IKET??“ Teriak saya.

“Biar loe rasain.. nikmatnya jilatan gue“

Tias menarik bikini saya. Mereka sudah telanjang bulat. Di sebelah saya Caca dan Nita sedang menikmati vagina masing.. Caca memasukkan jarinya ke dalam vagina Nita dan Sebaliknya.

“mmhh… yess enakk yaa sayang“ ujar Caca sambil menusuk vagina, semua terlihat jelas di depan mata saya.

“nah sekarang nikmatin ya sayang“ Tias lalu menjilat buah dada saya.

Saya merasakan getaran berbeda dari lidah Tias. Nikmat campur takut. Saya menahan erangan dalam mulut saya. Rasanya sesak. Lidah Tias berputar-putar di puting saya, menggigit pelan dan mencubit puting saya dengan jemarinya. Saya merasa tangan Tias turun ke perut saya dan menekannya dengan kencang. Lalu dia setengah berdiri di atas saya.

“enak kan?“ saya hanya diam.

Tias berdiri di atas saya lalu bergerak perlahan, awalnya saya bingung apa yang mau dia lakukan sampai saya merasakan vaginanya menggesek vagina saya.

“mmmhh… aahhhh… duuh.. plisss.. jangan… mmmmhhh…“

Tias bergerak makin kencang. Klirotis saya terasa tergesek dengan cepat. Sontak Tias menoleh ketika Caca berada dibelakangnya dan meremas buah dadanya. Sedangkan saya tersiksa oleh nikmatnya gesekan di klirotis sayaa.

“hehehe.. kita ospek yuukk“ kata Caca.

Caca dan Tias berdiri. Nita langsung tiduran menghadap ke arah vagina saya.

“Nit.. jangan…“ saya merengek.

Entah ada gejolak batin yang lain saat tangan Nita membuka bibir vagina saya.

“Bersih,, wangi.. sluurrrpppptttt…“ lidahnya menjilat bibir vagina saya.

Saya tersentak, pinggang saya menahan rasa geli. Tangan saya yang terlikat membuat ini makin menyiksa. Nita menggigit-gigit klirotis saya, memasukkan lidahnya dan menjilat seluruuh vagina saya. Saya hanya menahan mengerang dan menikmatinya.

“SHHHH… ahhhh.. mmmmm… ENak vit“ tanpa sengaja saya berkata enak.

Setiap jilatan Nita di dalam vagina saya membuat saya melayang. Lidahnya yang kecil berputar-putar dalam lubang vagina saya.

“banjirr nih sayang,, aku masukkin ya?“

Saya bingung. Apa yang mau dimasukkin?

“HAH…?!!“

Tiba-tiba terasa benda tumpul dingin menghampiri bibir vagina saya. Saya mengintip ke bawah. Ternyata dildo.

“AHHHHH… mmmhh… please Nit.. mmhhhh… aahhhhh…“ saya mengerang.

Nikmat sekali, ukuran dan getaran yang dihasilakn sangat pas. Mengisi rongga vagina saya. Sampai terasa penuh dan panas. Tangan Nita terampil sekali memainkan vagina saya. Tubuh saya menggeliat, saya tak bisa menahan ini. Tiba-tiba Caca datang dan menduduki mulut saya.

“JILAT!“ teriak Caca.
Vagina Caca tepat di atas mulut saya. Saya hanya diam, dan “PLAAKK!!”

“GUE BILANG JILAT PEREK!!!“ Caca menampar saya.

Saya merasakan sakit dan nikmat yang bersamaan. Vagina saya masih di penuhi oleh dildo.

“Mmhhh.. pinter gitu.. jilat terus Mon! Kalo gak, gue obok-obok meki loe pake botol!“

Saya agak takut mendenger perkataan Caca. Saya menjilat vagina Caca. Memasukkan lidah saya ke dalam lubang vaginanya dan menggigit klirotisnya. Ternyata enak sekali menikmati vagina.

“Shhh…“ desah saya dan Caca terdengar berbarengan. Saya tak melihat Tias.

“CEPETTT MON… SHHH… gue mauu… AKKHHH…“ wajah saya dipenuhi cairan lengket yang menetes dari vagina Caca.

“hebat ya loe, bikin gue orgasme, gue bales“ kata Caca.

Nita keluar dan meninggalkan dildo itu bergetar di dalam vagina saya. Saya hanya menggeliat hebat. Caca tertawa melihat saya. Saya melihat Caca turun dari kasur dan menuju kopernya. Dia mengambil sex toy, bebentuk penis dilengkapi dengan sabuk. Dia menggunakan itu. Sekarang Nampak Caca memiliki penis.

“Aww… shhhh… akhhh sakit ca.. shhhh…“

Caca menarik dildonya dan memasukkan penis yang dia gunakan dengan hentakan dashyat. Caca menggoyang pinggulnya sambil mencubit puting saya.

“Shhh… terus caa…“

Tak sampai disitu siksaan bagi saya hari itu. Caca mengeluarkan sex toy juga untuk menjepit klirrotis saya. Saya mengerang. Sakit dan nikmat yang aneh.

“Caaa, SAKIT… sumpah lepasin… akhh… mmhhh… shitt… Caa.. ampunn…“

Caca tidak perduli, 15 menit setelah siksaan itu,

“AHHH… Caaa, gue… Ahhhh… mmmpppph…“

Caca memasukkan penis itu dalam-dalam dan mencium saya. Melumat bibir saya dengan ganasnya. Dia membuat vagina saya kaku, menggerakkan penis dengan cara tidak wajar. Tapi kenikmatan tersendiri mulai muncul. Caca berdiri dan melepas ikatan saya. Saya terduduk diam.

“napa lo?“ tanya Caca.

“Enggak… gue ngerasa aneh“

“yaa, pecun sih pecun aja.. mau kata dijilat cewek atau cowok sama-sama enak. Dah mulai sekarang lo tau kan kegiatan rutin kita? Lo mau pacaran sama cowok? Boleh. Asal gak boleh absen dari party sex lesbian kita“ ujar Caca, saya menggangguk.

“sana mandi lo, tar malem kita party lagi“