WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Dewasa 2017 Aku Di Perkosa Brandalan


Sssstttt…..hati-hati jangan berisik…..ayo sini….” Bisik Poltak sambil memberi aba-aba untuk segera maju bersembunyi dikebun rumah Agnes yang penuh semak-semak. Sementara itu Agnes tidak mengetahui kalau dirinya diikuti oleh para berandal sejak sepulang kerja tidak menaruh curiga.
Cewek itu menyalakan kran air mandi, lalu menuju kekamarnya. Agnes menyalakan lagu disco, sambil melepaskan baju kerjanya. Di kebun para berandal sudah mulai mengendap- endap sambil menyusun rencana untuk masuk ke dalam rumah.
Edi dan Jamal mendapat tugas mengawasi jalanan, sedangkan Poltak membuka pintu depan, Tengkek dan Buyung mencari jalan masuk lewat belakang. Pada saat itu secara tidak sengaja Tengkek melewati jendela kamar Agnes yang lagi membuka baju kerjanya. Roknya berada diatas ranjang, sementara Agnes yang tubuhnya cuma terbungkus kemeja kerja dan celana dalam sambil berdisco membuka kancing kemejanya.
Tengkek segera memanggil Buyung untuk melihat pemandangan itu. Mereka menelan ludah melihat Agnes yang meliuk-liuk merangsang menari disco. Ukuran dadanya yang sekitar 36B keliatan jelas banget belahannya ketika cewek itu sudah melepas kemejanya.
“Wow, Tengkek…LOOK AT HER TITS….aku ingin segera mencicipi tubuhnya….” Bisik Buyung tanpa melepaskan padangan matanya menatap tubuh Agnes yang hanya mengenakan baju dalam.
“He…he….he…sabar, Bill…nanti kita cicipi sama-sama, sampai pagi!” sahut Tengkek yang makin bernapsu melihat hal itu. Beberapa saat kemudian Agnes beranjak menuju kekamar mandi. Sementara itu Poltak yang berhasil membuka pintu depan segera memberi aba-aba pada teman-temannya untuk masuk.
Para berandal itu sudah memperhitungkan segalanya, mereka mengunci pintu dari dalam sehingga nanti mereka bebas bertindak. Kabel telpon sudah mereka putus, cewek itu tinggal sendirian dan lagi badai yang akan datang sangat menguntungkan rencana mereka.
Dengan leluasa mereka masuk ke kamar cewek itu. Jamal membuka kulkas, yang lain masuk ke kamar Agnes. Edi memeriksa lemari pakaian Agnes. “Hai….lihat apa yang kutemukan!” sambil menunjukkan barang temuannya.
Tengkek segera menyahut celana dalam itu. “Hmmmmm….mmmm…” Tengkek mencium celana dalam.“Ingat aku yang pertama bercinta dengannya!” sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Para berandal itu tak sabar membayangkan apa yang akan mereka nikmati.
Lalu mereka mengambil posisi untuk bersembunyi. Agnes selesai mandi menuju keruang tengah. Tubuhnya hanya terbalut oleh baju dalam dan kemeja putih panjang, duduk menikmati acara TV kabel. Waktu itu pukul 20:30, cewek itu tidak menaruh curiga bahwa ada orang lain dalam rumahnya.
Tiba-tiba dari arah belakang salah seorang berandal maju mendekap tubuhnya. Agnes terkejut dan segera berontak melepaskan diri. “EVER BEEN GANG RAPED BABY? DON’T KNOW WHAT YOU BEEN MESSIN! YOU STILL REMEMBER US DON’T YOU……” ejek Edi.
Agnes segera mengenali wajah itu menjadi ketakutan sekali, ia tak menyangka kalau para berandal itu benar-benar melaksanakan ancamannya. Tengkek maju menerkamnya tiba-tiba, cewek itu menjerit ketakutan ketika berhasil dipeluk.
Ia meronta-ronta dan menendang Tengkek. Tanpa disadarinya tendangannya mengenai selangkangan Tengkek membuatnya meringis kesakitan dan melepaskan dekapannya. Agnes segera melepaskan diri dan lari menuju pintu depan.
Para berandal segera mengejarnya sambil menyorakinya. Dengan sekuat tenaga pintu depan itu berusaha dibuka, tetapi usahanya sia-sia. “Wooooo……woooooo……ha…ha…ha….ayo sayang, mau lari kemana kamu hah….ayo sini…ha…ha….ha…” Ejek para berandal yang mengejarnya dari belakang.
Agnes segera dikepung oleh para berandal. Mereka menyoraki ketidak berdayaannya. Agnes didesak terus sampai merapat kedinding, Tengkek yang tadi meringis kesakitan mulai maju. Pada saat cewek itu hampir putus asa, ia berhasil berkelit dari kepungan berandal itu, lolos dan lari menuju ke dapur,
Agnes bermaksud lari lewat pintu belakang. Para berandal segera mengejarnya lagi. Nasib sial bagi Agnes, begitu tangannya berhasil menyentuh gagang pintu, para berandal berhasil menangkapnya kembali. Rambut pirang Agnes yang panjangnya sebahu terjambak, sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aaaahhhh….aammpun…aaah” hiba Agnes, sementara para berandal tersenyum sinis memandangnya.“Sayang…. Kami akan memberimu pengalaman yang tak akan kau lupakan! kau tadi telah merusak acara pesta kami, sekarang kau harus membayarnya dengan tubuhmu yang indah itu……ha…ha..ha…, oya kau juga akan menyesal telah menendang punyaku, akan kujoblos kau sampai mampus! ” Tengkek maju dari kerumunan temannya.
Agnes tak berdaya, rambutnya dijambak sementara tangannya dilipat kebelakang. Dari dapur ia diseret menuju ruang tamu saat itu pukul 20:45. Disana ia dikelilingi oleh kelima berandal sambil didorong-dorong.
“Sayang, kita akan berpesta denganmu!” seru Edi tak sabar sambil mendorong ke arah Buyung.“Ha…..ha…ha…. kau tak akan bisa lolos kali ini….” Ejek Buyung sambil mendekap tubuh Agnes. Mereka berteriak-teriak membuat Agnes makin ketakutan.
“Kemarikan dia Bill….HEY BABE, I BET MY COCK WOULD FEEL REAL GOOD WARPED UP IN YOUR PUSSY!” seru Jamal tak sabar, sambil mempraktekkan gaya bercinta penuh napsu. Agnes didorong ke arah Jamal yang segera merangkul nya dari depan.
Mulutnya segera mencari dada cewek itu, sementara pinggulnya bergerak maju mundur seakan sedang bercinta dengannya.
“Wooooo…. Wooooou…..FUCK YOU GIRL, FUCK YOU…..” Jamal menggerayangi cewek itu.“Aaaahhhh…….aaam…punnn….aahhh…..jaa…aa ahhhh!!!” jerit Agnes ketakutan. Tiba-tiba dengan satu sabetan, tangan salah satu berandal merobek kemeja putih Agnes, membuat cewek itu terpelanting.
Poltak segera mendekap dari belakang. Sekarang tubuh Agnes hanya mengenakan BH dan celana dalam saja, membuat mereka makin menjadi-jadi.
“Ah…aahh…aahh!” jerit Agnes ketika tangan Poltak yang mendekap tubuhnya dari belakang mulai menggerayangi pahanya yang putih mulus.
“Kita akan memberimu pengalaman yang tak terlupakan, manis…ha…ha…ha…” bisik Poltak.
Para berandal lainnya ikutan beraksi. Tangan Edi meremas remas buah dada Agnes. Jamal memburu kemaluan Agnes, sementara Buyung dan Tengkek buka baju dan celana panjang mereka sambil tertawa sinis.
Tubuh para berandal itu terlihat begitu kekar dan berotot. “HEY, SOMEBODY GET BEHIND THE BITCH AND HOLD HER ARMS, I’M FUCKING HER FIRST!” Tengkek memberi aba-aba yang langsung disetujui teman-temannya.
Agnes meronta-ronta di bopong kelima berandal itu keruang tengah. “Jamal, Poltak, kau pegangi tangan dan kakinya, terlentangkan dia di meja ini” perintah Tengkek.Lonceng berdentang menunjukkan pukul 21:00.
Disana Agnes diterlentangkan di atas sebuah meja bundar. Masing-masing tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh para berandal. Sinar lampu diatas meja membuat cewek itu silau, Agnes hanya bisa melihat tubuh-tubuh kekar mengerubunginya dan tangan-tangan berotot meraba-raba dadanya, wajah sinis dan suara tawa para berandal mengejek ketidak berdayaannya. Lidah Tengkek menelusuri lehernya yang jenjang.
Agnes berontak berusaha melepaskan diri, tetapi apa daya tenaga seorang cewek dibanding dengan lima laki-laki yang kesetanan. Jamal dan Edi memegangi kakinya, sementara tangan kanan dan kiri Agnes dipegangi erat-erat oleh Poltak dan Buyung.
Tengkek mencumbunya dengan kasar dan penuh napsu, tangannya dengan liar meremas-remas buah dada Agnes.
“I CAN SEE THE NIPPLES POKING AT HER BRA!” kata Tengkek yang langsung disambut oleh tawa para berandal.
“HEY, CUT THAT BRA OFF MAN. WHAT’S WRONG WITH YOU?” sahut Poltak sudah tidak sabar lagi.
“Aaaah…..aaah….ooh…jangan…..aahkh!” jerit Agnes ketika dengan satu hentakan kasar tangan Tengkek merobek BH yang dikenakannya. Para berandal makin seru menyorakinya. Mulut Tengkek segera melumat buah dada Agnes yang sintal, sementara tangan kirinya masih meremas-remas buah dada sebelah kanan Agnes.
“Aaaaah….aaoooh…..ooooh…aahh …aaaahh…aaahhhhh….” desah Agnes mengeliat-liat. Putingnya dijilati penuh napsu oleh lidah Tengkek. “Ha….ha….ha…. kau sungguh mengiurkan sayang!” tawa Buyung menelan ludah tak sabar ingin segera menikmati gilirannya. Tengkek sekarang membuka celana dalamnya sendiri, penisnya yang hitam besar 10 inci itu terlihat tegak siap beraksi.
“Kenyal sekali…..ha…ha…ha…”seru Tengkek sambil menerkam dan mulutnya menciumi buah dada cewek itu dengan buas. Tubuh Agnes mengeliat-liat membusur, sementara buah dadanya diremas-remas sampai merah.
Lidah Tengkek menelusuri buah dada Agnes, lalu turun ke daerah perut dan menjilati pusarnya. Beberapa saat kemudian sambil tersenyum sinis, mata Tengkek memelirik kearah paha Agnes.
“Oooohhh….jangan…..aaahhhh….” hiba Agnes ketakutan tidak berani membayangkan diperkosa oleh kelima berandal kekar dan berotot. Lalu tangan Tengkek mulai memelorot celana dalam Agnes. Cewek itu berusaha mempertahankannya,
“Ha..ha…ha…percuma kau berontak manis!” ejek Tengkek ketika Agnes berontak sekuat tenaga, tetapi Buyung dan Poltak makin erat memegangi tangan Agnes, perlahan- lahan celana dalamnya terlepas, rambut kemaluan Agnes terlihat ketika celana dalam berwarna pink itu dari pinggul dilorot turun kepahanya dan akhirnya terlepas.
“Cihuuuiiii……Ha…ha…ha….PARTY TIMES… ha…ha…ha….” Teriaknya sambil memutar-putar celana dalam itu, lalu dicium dalam-dalam menikmati aromanya dan dilemparkan kelantai. Mata Tengkek jelalatan memandangi Agnes yang telanjang bulat terlentang diatas meja.
Agnes lemas karena ketakutan, ia tak berani membayangkan para berandal itu akan ‘menelan tubuhnya ramai-ramai’. Para berandal makin ramai menyorakinya, mata mereka jelalatan memandang setiap lekuk tubuh Agnes.
Cerita Dewasa 2016 Aku Di Perkosa Brandalan – Poltak yang tadi memegangi tangan Agnes digantikan oleh Buyung.  Oooooh…..aaaahh….am…pun…..aaaah…jang… an…aaahh..” hiba tangis Agnes.“Diam!….THERE’S GOING TO BE A BIG PARTY IN YOUR PUSSY TONIGHT…..Ha…ha…ha…kita lihat siapa yang paling hebat bercinta denganmu!” ejek Poltak mendekati Agnes sambil mengeluarkan pisau lipat.
Agnes ketakutan ketika Poltak memainkan pisau itu diantara buah dadanya sambil tersenyum sinis memandang tubuhnya. Pisau itu bergerak kearah puting susunya dan diputar-putar mengelilingi belahan buah dada Agnes yang naik-turun karena napasnya tak beraturan.
Hal itu membuat para berandal benar-benar terangsang. Pisau itu terasa dingin di buah dada Agnes, lalu pisau itu bergerak kearah perut cewek itu dan turun ke daerah bawah pusar cewek itu. Edi menyeringai penuh arti ketika mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Poltak dengan pisau lipatnya.
“Ayo Milo, cukur sampai habis…..ha…ha…ha…ha…” seru Edi kegirangan.
“Aaaahh…..ohhhh…jangan….aaah….” teriak Agnes sambil berontak, tetapi para berandal itu makin mempererat pegangannya, sementara pisau lipat itu dengan buas mulai beraksi mencukur rambut kemaluannya.
“Ha…ha….ha… kesempatan yang langka ini tak akan kami lewat begitu saja. Ayo manis berteriaklah semaumu, tak akan ada yang mendengarmu saat ini.” Ejek Tengkek sambil menerkam buah dada Agnes, diremasnya kuat-kuat membuat cewek itu mengerang kesakitan sementara Poltak mencukur rambut kemaluannya tanpa foam pelicin sehingga Agnes merasa perih. Buyung, Jamal dan Edi yang memegangi kaki dan kedua tangan Agnes tertawa melihat cewek itu meronta-ronta.
“Aaaaaagggg….aaaaoooohh….ooooohhh…oohh.. .” desah Agnes buah dadanya diremas-remas oleh Tengkek. Suara desahan itu membuat para berandal itu makin terangsang. Dengan buas pisau Poltak beraksi, dalam beberapa menit saja rambut kemaluan Agnes telah tercukur habis.
Daerah kulit bawah perut Agnes yang tadinya ada rambut kemaluannya terlihat memerah. Poltak tersenyum puas, Tengkek segera maju sambil mementang kaki cewek itu lebar-lebar, sekarang ia berada diantara pahanya , memandang kemaluan Agnes yang terlihat jelas karena rambut disekitar daerah itu habis tercukur.
“Ha…ha…ha…buah dadamu sungguh lezat, NOW I’LL EAT YOUR PUSSY!” kata Tengkek sambil menjilatkan lidahnya sementara matanya melirik kearah kemaluan Agnes.“Oooooh….lepas…kan….jang…an ..oooOOAAHH!” tangis Agnes terhenti ketika Tengkek mulai menjilatinya.
Lidah itu seakan menjulur panjang menjelajahi lorong vagina Agnes. Tubuh Agnes mengelinjang-gelinjang, sementara lidah Tengkek bergerak seperti cacing menggali lobang.
“Oooooohhhhh…aaaauuuuoooo…oooouuu…aaaah. ..” Desis Agnes sementara kepalanya hanya bisa menggeleng ke kiri dan kanan. Tubuh Agnes bergetar, tangannya mengepal erat-erat, Poltak menciumi leher dan daerah sekitar ketiak, sambil tangannya mencubit puting susu cewek itu. Jamal melepaskan kaki cewek itu, dan ikutan mencumbu perut Agnes. Lidah Jamal menjilati pusar cewek itu.
“Uuuuuuhhhh….oooouuh…ooohhh…” suara desah Agnes makin keras, ketika lidah Tengkek masuk makin dalam divaginanya.“Ha…ha…ha….percuma kau berontak sayang, mau tak mau kau akan menikmati pesta ini!” ejek salah satu berandal.
Buah dada Agnes memerah dan mengembang karena remasan tangan Poltak. Tengkek makin bersemangat, ketika vagina Agnes mulai berlendir. Lidah itu menjelajah makin dalam bersamaan dengan pekik desah Agnes.
Poltak masih mengulum buah dada cewek itu. Putingnya disedot kuat-kuat, membuat cewek itu mengeliat menahan rasa nikmat dan sakit yang bercampur menjadi satu. Tanpa disengaja dari puting buah dada Agnes keluar cairan putih seperti susu.
Poltak lebih bersemangat lagi menyedoti cairan itu, sementara tangannya meremas-remas buah dada Agnes agar keluar lebih banyak.“Uuuuggghhhh……uuuuuhhhh….uuuhhhh….aaauuuhh hhh….” desis Agnes dengan napas tersedak-sedak.
“Ha…ha…ha….ternyata tubuhmu menghianatimukan? Diam-diam kau menikmatinya……BITCH!!!!” ejek Poltak sambil menyedoti buah dada Agnes, kanan-kiri. Lonceng berbunyi menunjukkan pukul 21:30. Rupanya para berandal itu senang bermain-main dengan tubuhnya dan berniat melakukan WARMING-UP sebelum memperkosanya. Agnes hanya bisa mengeliat-liat dikerubuti para berandal yang kekar.
Lidah Tengkek dengan lahapnya menjilati vagina Agnes. Tidak puas hanya lidah, sekarang jari tangan Tengkek ikutan beraksi. Jari tengah dan telunjuk Tengkek masuk di lobang kemaluan cewek itu, diputar-putar seolah-olah mengaduk-aduk vagina Agnes, sementara lidahnya ikut menjilati bibir kemaluan Agnes.
“Aaaauuuuhhhhh……uuuuuhhh…..aaahhhh” desah cewek itu makin keras, membuat para berandal itu tertawa mengejek ketidak berdayaannya. Jari tangan Tengkek menusuk masuk dan bermain-main dengan klitorisnya, membuat Agnes mengelinjang-gelinjang.
Mata Agnes terpejam, kepalanya menggeleng ke kiri kanan, Jamal menciumi pusarnya, tangan Poltak meremas-remas buah dadanya. Setelah puas bermain-main, Tengkek mementang kedua kaki Agnes. “Tengkek mau pakai kondom?” tanya Buyung.
Tengkek menolak usul Buyung.“NO WAY….Ha…ha…ha….I WANT TO FEEL SKIN TO SKIN…ok sekarang saatnya manis… NOW LETS SEE JUST HOW TIGHT YOUR CUNT IS!” Tengkek mengangkat pinggul Agnes tinggi-tinggi.
Penisnya sekarang digesek-gesekkan disekitar bibir kemaluan Agnes berusaha menyibak belahannya. Mata cewek itu terbelalak kaget ketika merasakan kepala penis Tengkek yang besar dan hangat. Batang penis itu berdenyut-denyut dibibir kemaluannya.
“Ohhh…ohhhh sekarang saatnya!” pikiran Agnes melayang jauh ketika Tengkek mulai beraksi menindih tubuhnya.
“Ayo Tengkek cumbu dia sampai mampus……Cihuuui!!!” para berandal itu memberi semangat.
Tengkek merasakan rasa hangat yang mengalir pada kepala batang kemaluannya yang sudah menancap tepat pada pintu gua kenikmatan milik cewek itu.
Tengkek menekan perlahan, seperempat dari bagian kepala kemaluannya mulai terbenam ….Agnes menahan napas …. ditekan lebih dalam lagi …. separuh dari bagian kepala kemaluannya melesak masuk …. dengan lebih bertenaga Tengkek mendesak batang kemaluannya untuk masuk lebih dalam lagi.
“Ayo Tengkek! sedikit lagi! Masukin saja semua! Biar dia rasain Tengkek!” Poltak menyoraki Tengkek sambil meremas-remas buah dada Agnes.
“AAAgggh!!!!” Pekik Agnes merasakan sesuatu yang menyakitkan dipangkal pahanya ketika seluruh kepala kemaluan Tengkek sudah terbenam kedalam liang hangat miliknya, dengan satu hentakan yang kuat, penis Tengkek menyeruak masuk ke dalam vagina Agnes membuatnya memekik kesakitan.
Sementara badai diluar mulai turun dengan deras dimulailah pesta perkosaan itu. Agnes terlentang diatas meja bundar diruang tengah, tangan dan kakinya dipegangi erat-erat oleh Buyung dan Edi, buah dadanya dijilati, disedoti oleh Jamal dan Poltak, sementara penis Tengkek mengoyak-koyak vaginanya dengan ganas.
“Aaagh…..aaahh….ooooh….ooohh…” suara rintih Agnes seiring dengan gerakan ayunan pinggul Tengkek yang kuat. Senti demi senti batang kemaluan Tengkek menelusur masuk menerobos keketatan liang kemaluan Agnes yang sudah basah berlendir itu.
Cerita Dewasa 2016 Aku Di Perkosa Brandalan – Setiap ayunan Tengkek membuat tubuhnya mengelepar kesakitan karena penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam. Suara desahan Agnes membuat para berandal itu makin bernapsu menikmati tubuhnya.
“Ayo Tengkek…..genjot terus sampai mampus….. ha…ha…ha…” seru salah satu berandal.Tengkek merasakan begitu ketatnya ujung kemaluannya terjepit di dalam vagina Agnes, selang beberapa saat penis itu terhenti menerobos keluar masuk.
“CAN’T SEEM TO GET MY COCK DEEP ENOUGH INTO YOU BABY!” Tengkek mengatur posisi pinggulnya, “YOU SO DAMN TIGHT!.” kemudian dengan satu hentakan yang kuat membuat batang penis itu hilang tertelan kemaluan Agnes.
“AAAaaaaggggkkk!!” suara lolong histeris Agnes ketika dengan satu hentakan kuat tanpa masalah penis itu beraksi lagi di liang vagina Agnes yang berlendir, rupanya selaput perawan Agnes robek.
“Uuuugggghhhh…. SO YOU’RE STILL A VIRGIN? Ha…ha…ha….manis, kau tak akan melupakan pengalaman ini!” ejek Tengkek, Penis itu dengan mudah menerjang keluar masuk dengan cepat, sementara tubuhnya menghentak hentak barbar diatas Agnes yang mendesah-desah tak berdaya.
Kemaluan Agnes terasa akan robek oleh desakan penis Tengkek yang menyeruak masuk keluar dalam-dalam seperti membor kilang minyak. Tengkek melengkuh-lengkuh nikmat, pinggulnya berayun-ayun memompa, penis itu keluar masuk.
Kaki Agnes terangkat tinggi diatas meja terayun-ayun seirama gerakan pinggul Tengkek menghujamkan keluar masuk batang penisnya yang dengan barbar beraksi divaginanya. Agnes berharap ia dapat pingsan saat itu juga supaya tidak merasakan sakit yang tak terlukiskan itu.
Para berandal itu menyanyikan lagu “ROW YOUR BOAT”.
“Aaaahhh…aaaahh….ammm….pun….aahh…aaahh…aaahh….sakit..ahhhhh..aaaahhh….”jerit Agnes. Pinggul Tengkek bergerak seperti pompa. Penis itu keluar masuk seiring desahan Agnes.
“Ayo Tengkek coblos terus, coblos…coblos…woooo…wooooo BABY….” teriak Poltak sambil menciumi dada cewek itu. “Delapan puluh delapan……delapan puluh sembilan….sembilan puluh…Ayo…” dengan semangat Edi menghitungi setiap hujaman penis Tengkek.
“Aaaaahhh….wahhhhaaa….aaaah….uuuuh…uuugh….” pekik Agnes, sementara Tengkek berayun-ayun diatas tubuhnya. Cewek itu hanya bisa terisak-isak. Suara petir menyambar di sela-sela badai.
“YEAAAHHH. HOW’S IT FEEL, BABE, HOW’S IT FEEL WITH A REAL MAN’S BIG COCK IN YOUR BELLY? OOOOOOOOOOOOO YOU FEEL SO GOOD, SO HOT.” ejek Tengkek sambil memaksa Agnes yang mendesah untuk melihat penisnya mengenjot keluar masuk lorong vaginanya. Agnes bisa merasakan setiap inci dari otot dibatang penis Tengkek bergerak menelusuri lorong kemaluannya.
“Uuuh…uuuh….uuaah…” lengkuh Tengkek, sudah sekitar setengah jam dia berayun-ayun diatas cewek itu, keringat membasahi tubuh keduanya, tetapi gerakan pinggulnya tetap ganas, penisnya menyodok-sodok dikemaluan Agnes, tangannya menggerayangi pahanya dengan liar.
Sementara itu Poltak membuka celana panjang dan celana dalamnya sendiri, penisnya panjang, (tetapi tidak sebesar Tengkek sekitar 8.7 inci) sudah tegak menegang. Jamal masih asyik menyedoti puting buah dada Agnes.
Sesekali cewek itu berusaha memberontak, tetapi Edi dan Buyung mempererat pegangannya. Tengkek melengkuh-lengkuh nikmat di atas tubuh Agnes yang mengeliat-liat menahan berat tubuh Tengkek yang menindihnya.
“Seratus enam puluh enam…… seratus enam puluh tujuh…..seratus enam puluh delapan…..ayo Tengkek taklukan dia….ha…ha…ha…” Edi menyemangati yang langsung diikuti oleh para berandal yang lain.
“Seratus tujuh puluh tiga….seratus tujuh puluh empat…seratus tujuh puluh lima….” Para berandal yang lain ikutan menyemangati Tengkek. Tubuh dan buah dada Agnes berguncang-guncang seirama dengan hentakan genjotan Tengkek yang makin liar.
Vaginanya terasa terbakar oleh gesekan penis Tengkek yang buas. “Aaaaaaahhhh…..aaaaaa….aaaaaahh…..aahhhh…. ..ooooohhh” Agnes melolong menahan sakit.
“Ayo…….ayo….seratus delapan puluh delapan…..seratus delapan puluh sembilan….seratus sembilan puluh….ha…ha…ha…” Edi memberi semangat. “Uuuuaah….uuuuuh….uuughh…tubuhmu nikmat sekali!”
Tengkek mengejek Agnes yang mengigit bibirnya menahan sakit. Pinggulnya maju mundur diantara selangkangan cewek itu. Jamal dengan gemas mengigit puting buah dada Agnes, sementara tangannya yang satu meremas- remas buah dada sebelah kanan.
“Aaaaahh……uuuughhh…..uuughh…uuukkkh….ooo uuuughh…” rintih Agnes, sementara gerakan Tengkek mulai pelan, tapi mantap. “Seratus sembilan puluh enam…..seratus sembilan puluh tujuh….” Semua berandal menyemangati Tengkek.
Batang penisnya keluar masuk dengan barbar.“”I’M COMING, BABY!” lengkuh Tengkek.“OH GOD! NO, PLEASE ! NOOOOO!! NOO! DON’T COME INSIDE ME!!! NOOO, PLEASE!!!!…..AAAKKKHHHH!” kepala Agnes terjengkang keatas, sementara terdengar suara lolong kesakitan ketika batang penis itu menghujam dalam-dalam divaginanya.
Dengan satu hentakan kuat Tengkek mencapai klimax, penisnya menyemburkan sperma dalam lorong kemaluan Agnes.
“Uuuuuugggh…..ha…ha…ha….bagaimana?” ejek Tengkek sambil mencabut penisnya dengan perkasa.“kau akan digilir sampai pagi!!…..ha…ha…ha…NEXT!!!” seru salah satu berandal.Sementara itu kilat diluar menyambar-yambar, waktu itu pukul 22:25.
Agnes hanya bisa terisak-isak, Poltak maju sambil menyeringai. Tanpa perlawanan yang berarti, Poltak sudah berada di antara selangkangan cewek itu.
“Ha…ha…ha…IS MY TIME TO RIDE, BABY I’M GONNA TAKE MY TIME AND FUCK YOU NICE AND SLOW. LET’S SEE HOW LONG I CAN KEEP MY DICK HARD IN THIS WONDERFULLY TIGHT CUNT OF YOURS. SEE HOW LONG I CAN KEEP YOU MOANS…..!” ejek Poltak, sementara batang penisnya dengan mudah masuk ke vagina Agnes.
Poltak memulai gerakannya, pinggulnya bergerak memutar, memastikan penisnya masuk penuh, lalu bergerak maju mundur perlahan tapi dalam. Pinggulnya berayun-ayun pelan dan mantap, diantara kedua paha Agnes yang terbuka lebar, sambil meremas-remas buah dadanya.
Kadang jari-jari tangan Poltak melintir-lintir puting susu cewek itu, tubuh Agnes hanya bisa mengeliat-liat, sementara dari bibirnya yang terbuka terdengar suara erangan dan desah. Penis itu beraksi di vaginanya, pinggulnya diangkat ke antara pinggang Poltak yang maju mundur.
Jamal meninggalkan kerumunan menuju kulkas diruang makan. Tengkek duduk disofa, sambil melihat teman-temannya beraksi diatas tubuh Agnes. Buyung masih dengan erat memegangi tangan kanan dan kiri Agnes, juga Edi yang memegangi kedua kaki Agnes.
Suara desah erangan cewek itu bagai musik merdu ditelinga mereka. Tubuh Agnes basah kuyup karena keringat, sementara Poltak melengkuh-lengkuh nikmat.
“Ooooooooohhhhhh…….uuuuuuhhhhh…..uuuhhhh…. .uuhhh…..ha…ha…ha….” suara Poltak, penisnya yang panjang tanpa ampun terus mengenjot kemaluan Agnes. Buah dadanya dijadikan bual-bualan oleh Poltak. Giginya mengigiti putingnya dengan gemas, membuat Agnes menjerit kesakitan. Terlihat bercak-bercak merah bekas cupangan disekitar leher dan dada ditubuh Agnes.
“Aaaahhh…..aaaaoooohhh….ooooohhhhhh…ooooohhh h…..” desah Agnes merasakan penis Poltak menusuk keluar masuk divaginanya. Sudah sekitar lima belas menit Poltak beraksi, tubuh Agnes berguncang-guncang seirama ayunan pinggul Poltak. Pukul 23.10.
Kilat dan guntur bersahutan diluar, membuat jalanan bertambah sepi.“Hah…hah….hah……uuuggghhh…”lengkuh Poltak, sekarang ayunannya tidak perlahan seperti pertama, tetapi berirama cepat dan dalam. Vagina Agnes terasa perih terbakar oleh gesekan penis Poltak.
“Ha….ha…ha….. tunggu punyaku manis, YOU WILL LOVE IT!” seru Edi sambil mengolesi penisnya sendiri dengan selei sehingga kepala penis itu terlihat gilap dan lebih besar dari yang sebelumnya.
“Uuuuuggghhhh…….uuuuuggghh…… uuuugggghhhh……”desah Agnes pendek seirama keluar masuk penis Poltak di kemaluannya.Edi meremas-remas penisnya sendiri, sambil memandangi setiap lekuk tubuh Agnes.
“Ha…ha…ha….Ed, kau sudah tak sabar ya?……” tanya Buyung sambil matanya terkagum melihat penis Edi yang makin besar, sehingga kepala penis itu seperti jamur.
“Oooooohhhhhh….uuugggghhh…..oooohh……oooohh……..HERE I CAMEEE……!!!!” jerit klimax Poltak, penisnya menghujam dalam-dalam sambil menyemprotkan cairan putih.
“Aaaaaaakkkkkhhhhhhh……oooohhh……” pekik Agnes diantara lengkuhan nikmat Poltak.Poltak mencium kening Agnes yang terlentang terengah-engah diatas meja.“FUCK YOU BABE!…..ha…ha..ha….” ejek Poltak sambil mencabut penisnya.
Posisinya segera digantikan oleh Edi. Kepala penis yang besar itu digesek-gesekkan di antara paha Agnes. Edi memandangi tubuh Agnes yang sintal dan mulus basah oleh keringat.
“LET’S GO TO HEAVEN, manis…ha…ha…ha….” Bersamaan dengan kata itu Edi menciumi buah dada Agnes, sementara tangannya mengesek-gesekkan penisnya di bibir kemaluan cewek itu. Teriakan Agnes tertelan badai yang ganas, pukul 23.45.
Agnes, meronta-ronta tubuhnya membusur digumuli Edi yang penuh napsu, sementara para berandal yang lain tertawa terbahak-bahak. Tangan Agnes yang dipegangi oleh Buyung,membuatnya tak bisa melawan, sehingga dengan leluasa Edi menciumi tubuhnya.
Dari leher, lidah Edi terus menelusur turun ke buah dadanya, disedotnya kuat-kuat buah dada cewek itu, membuatnya mengerang kesakitan, lidahnya menjilati dengan lahap cairan yang keluar dari puting susu Agnes.
Tiba-tiba dengan hentakan yang kuat penis Edi menerobos masuk kemaluan cewek itu. “Aaaaakkkkkkkhhhhh…….”Agnes berteriak kesakitan. Penis itu terus berusaha masuk penuh, Agnes bisa merasakan kepala penis yang besar itu berusaha masuk lebih dalam di vaginanya.
“Uuuuugggghhhhh…..sempit sekali….uuuuaahh…hhhaaaa….”seru Edi sambil terus mendorong masuk penisnya.“Ayo…..Ed,……ha….ha…ha….masukkan semuanya….biar mampus dia!” teriak Tengkek menyemangati Edi.
Sekarang kepala penis itu sudah masuk, Edi diam sebentar merasakan otot vagina Agnes yang berusaha menyesuaikan diri dengan penisnya. Dinding vagina Agnes serasa meremas-remas penisnya, membuatnya lebih tegang.
“Ha….ha…ha….kulumat kau, manis!” bisik Edi sambil mulai menggenjotkan penisnya dengan barbar. Tengkek menciumi leher Agnes, Jamal meremas-remas buah dadanya, Poltak meratakan olesan selai, sedangkan tangan Edi mementang pahanya agar lebih leluasa penisnya bisa maju mundur diliang kemaluan Agnes.
“Aaaahhhh……aaahhhhhh…..aaaggghhhh…aaahhhhh…” lolongan desah Agnes digarap ramai-ramai. Suara desah dan erangan Agnes terdengar bagai musik merdu ditelinga para berandal. Tanpa menghiraukan Agnes yang sudah kelelahan, mereka terus berpesta menikmati tubuh cewek itu.
Bagai menyantap hidangan lezat, mereka melahap dan menjilati tubuh Agnes yang basah, mengkilat karena olesan selai dan keringat. Penis Edi menerobos keluar masuk dengan cepat, sementara disetiap hentakan tubuhnya terdengar erangan Agnes menghiba kesakitan.
Jamal yang meremas-remas buah dadanya sekarang mulai menjilatinya penuh napsu, sedangkan putingnya disedoti agar keluar cairan seperti susu, Tengkek terus menciumi leher Agnes yang jenjang.
“Uuugggh…….uuuuggghhh……..aauughh…..uuugghhh….uuuuggghhh….” rintih Agnes, sudah sekitar lima belas menit Edi berpacu dengan birahi, peluh membasahi tubuhnya. Edi melengkuh-lengkuh penuh napsu, menikmati setiap inci hujaman penisnya dilorong kemaluan Agnes.
“Haaah…..haaah….uuuggh…..bagaimana manis, asik bukan…..kau akan digilir sampai pagi…ha…ha…ha….Haah….haaah….” seru Edi sementara pinggulnya bergerak seperti memompa diantara kedua paha Agnes.
Buah dada cewek itu memerah diremas-remas dengan kasar oleh para berandal. Tubuh Agnes berguncang-guncang dengan ganas seirama ayunan Edi.
“He…he…he…..buah dadamu lezat sekali, ya…..kau akan membayarnya dengan tubuhmu sayang!” ejek Jamal sambil menjilatkan lidahnya keudara sementara tangannya meremas-remas buah dada cewek itu dengan napsu.
Agnes hanya bisa terisak-isak sambil menahan sakit disekujur tubuhnya yang basah kuyup karena keringat dan selai. Penis Edi makin ganas menggenjot cewek itu.
“Aaaauuh…..aaagggh……uuuuugggghhhh…uuuughhhhh….” pikik desah Agnes. Vaginanya terasa panas dan perih oleh gesekan penis Edi yang barbar. Badai masih ganas, didekat lantai meja makan, terlihat BH dan celana dalam Agnes berserakan sementara diatas meja Agnes diperkosa dengan ganas oleh lima berandal yang kekar, tubuhnya dipentang dan dijilati penuh napsu.
Buah dadanya dicengkram dan diremas-remas, lehernya diciumi, puting dan pusarnya dijilati, sementara Edi melengkuh-lengkuh nikmat, cewek itu hanya bisa merintih dan mendesah karena penis besar dan hitam beraksi menghentak-hentak barbar keluar masuk diantara selangkangannya.
Waktu menunjukkan 24:16 Edi sudah hampir mencapai klimax, irama ayunan pinggulnya makin cepat tanpa perduli Agnes yang terengah-engah kelelahan, Jamal menggigit puting buah dadanya, membuat Agnes mengerang kesakitan. “aakkkh….aaahh…ooooohhhh…” rintih Agnes diantara lengkuh nikmat Edi.
“Huuuh…uuuhhh…..uuuuhhh…..uhhhh….HUUAAAHHHH…..” jerit Edi mencapai klimax, dengan satu hujaman yang kuat, penisnya masuk hilang tertelan dilorong vagina Agnes. “Aaaaakkkkhhhh….” jerit Agnes tertahan, tubuh cewek itu mengeliat kejang, lalu lunglai, pingsan kelelahan, sementara penis itu menyemburkan banyak sprema dalam vaginanya.
Peluh menetes dari tubuh Edi yang masih menindih cewek itu. “Ha…ha…ha….tubuhmu sungguh menggairahkan sekali…” Raut wajahnya terlihat puas, beberapa saat kemudian Edi mencabut penisnya, sambil mencium leher Agnes yang masih pingsan. Jamal siap-siap maju mengambil posisi.
“Biarkan dia istirahat dulu, nggak enak kalau nggak ada perlawanan” Cegah Tengkek.“Kita beri dia obat perangsang saja!” usul Buyung sambil tersenyum penuh napsu.“Jangan, kita simpan itu untuk yang terakhir” Tengkek duduk disofa.
Beberapa menit kemudian, sekitar pukul 24:40, Agnes yang baru saja siuman dibopong ramai-ramai menuju kamarnya, disana cewek itu dilempar ke ranjang dan langsung diterkam oleh para berandal yang sekarang semuanya sudah telanjang bulat.
Cewek itu berusaha berontak melarikan diri, tetapi dengan cekatan para berandal itu menerentangkan tubuh Agnes. Cewek itu berteriak ketakutan ketika para berandal dengan buas menggumuli tubuhnya.
“Aaaahhhh…..aampun…..aaaahhhh….”hiba Agnes, sementara Edi dengan kasar mulai meremas-remas buah dada kanannya. Tengkek berusaha mencium bibirnya yang merah merekah. Poltak menjilati dan menyedoti puting sebelah kiri.
“Aaaaduuuhh…aaaaawww…aaaahhh…..ja….ja….ngan…”teriakan Agnes tak digubris. Jamal maju mengambil posisi diantara kedua kakinya, tersenyum sinis sambil membungkuk menciumi leher cewek itu.
Agnes mengeliat-liat tak berdaya. Lidah Jamal menelusur turun dari lehernya menuju perutnya Agnes. “Aaaaaahhh…..le…paskan…..aaaahhh” jerit Agnes ditengah kerubutan berandal. Jamal mulai menjilati daerah pusar Agnes.
“Manis…tadi kulihat kau suka disco! bagaimana kalau sambil diputarkan lagu…hmmm?…disco…rock…atau metal?….OK metal saja!” Buyung mengejek Agnes. Beberapa saat kemudian terdengar lagu metal, membuat para berandal itu lebih bersemangat menikmati setiap lekuk tubuh Agnes.
“Ha…ha…ha…manis, kami masih belum puas!” ejek Jamal. Buyung membaca surat yang ditemukannya dimeja rias pinggir ranjang. “Hmmmm…..SO YOUR NAME’S Agnes McCarthy….INTERESTING….” gumam Buyung sambil melihat Agnes yang mendesah-desah tak berdaya dijilati dan diciumi teman-temannya.
Beberapa saat kemudian Buyung naik keatas ranjang, berbaring disamping cewek itu. “Nah Agnes sayang, ARE YOU READY TO LOSE YOUR VIRGINITY IN ANOTHER HOLE? kau benar-benar beruntung manis! kau pasti puas!” kata Buyung sambil menjilat muka cewek itu yang menangis ketakutan.
Buyung merangkul tubuhnya dari samping dan digulingkan menghadapkan keatas terlentang sehingga posisinya sekarang dibawah Agnes. “Hai….sayang pestanya dilanjutkan. Manis kau pikir tadi sudah yang paling sakit, tunggu yang ini kau akan rasain sakit yang sebenernya!” kata Poltak sambil menerkam gemas buah dadanya.
“Dan sekarang kau dapat kehormatan manis BECAUSE I’LL TAKE YOUR ASS VIRGINITY!!” mata Agnes terbelalak ketakutan.“Oooohhh….jang…aan…PLEASE!!!!” hiba Agnes disela isak tangisnya. “Agnesy kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya sayang!” ejek Buyung.
Agnes berusaha berontak sekuat tenaga, tapi kerubutan dan remasan dibuah dadanya membuatnya tak bisa berkutik. Agnes didudukkan tepat diatas tubuh Buyung, berandal itu mengarahkan penisnya yang tegak di lobang anus cewek itu dan segera dihujamkan dalam anus Agnes tanpa pelumas sehingga membuatnya menjerit kesakitan.
“AAAAKKKKKKKHHHHHH!!!!” lolong Agnes, sementara penis Buyung (10 inci) masuk penuh dalam anusnya, sekarang cewek itu dipaksa tidur terlentang. Jamal diatas menindihnya sementara Agnes meronta-ronta kesakitan, anusnya terasa sakit oleh batang penis Buyung yang berada dibawahnya.
Jamal yang sudah puas menjilati perut Agnes, sekarang mementang kedua paha Agnes, mengarahkan penisnya (8 inci) ke lorong vagina cewek itu. Apa daya tenaga seorang cewek yang dikeroyok lima lelaki kekar, dengan mudah masing-masing tangan Agnes diikat dengan tali BH dijeruji pilar ranjangnya agar tidak bisa berontak.
Jamal segera memasukkan penisnya ke vagina Agnes yang masih meronta-ronta, sambil tertawa terbahak-bahak. “Ha….ha…ha…. sayang sekarang kau rasakan ini!” sambil berkata seperti itu, Jamal dan Buyung mulai menggoyangkan pinggul mereka.
Penis Buyung bergerak naik-turun dianus sedangkan penis Jamal menyodok keluar masuk seirama nada metal yang makin bersemangat. Teriakan cewek itu tertelan oleh bunyi halilintar yang keras. Usaha Agnes untuk berontak membuat ikatan ditangannya makin erat dan menyakitkan.
Tubuh Agnes meronta-ronta kesakitan, tanpa disadarinya gerakannya itu makin membuat Jamal dan Buyung yang memperkosanya makin terangsang. Tubuhnya mulai menggelinjang kesana kemari, pinggulnya bergerak-gerak ke kanan, kiri, memutar, sementara Buyung yang dibawah mempertahankan kecepatan ritme keluar masuk batang penisnya dianus Agnes.
Suara kecipak akibat gesekan kemaluan mereka berdua semakin terdengar. Sodokan batang penis Buyung dianus Agnes membuat tubuh cewek itu meliuk-liuk tak beraturan dan semakin lama semakin bergerak naik seolah menantang kejantanan Jamal.
“Ha…ha…ha….Agnes kau suka ya? Nih akan kumasukkan lebih dalam lagi! HAAAHHHH!!!!” teriak Jamal sambil bertumpu pada remasan tangannya dibuah dada cewek itu ia menyodokkan penisnya lebih dalam ke vagina Agnes.
“Oooooohhhh……aaahhh….aaahhhh…aahh…ampun…amp..aaaaahhh…aaahh!!!!” erang Agnes kesakitan. Sementara kedua penis berandal itu mengkoyak-koyak vagina dan anusnya, begitu penuh nafsu, ganas dan liar.
Melihat pemandangan itu dan terbakar oleh api birahi, para berandal lainnya sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketidak berdayaan Agnes, mereka meremas-remas penis mereka sendiri.
“Ohhh….ha…ha…ha….bagaimana sayang, bagaimana rasanya….puas nggak? tenang pestanya masih lama….tunggu giliran kita…ha…ha…ha..” seru para berandal lainnya.Beberapa menit saja penis mereka sudah tegak tegang siap beraksi kembali.
Ranjang berderit-derit seirama musik metal dan gerakan mereka yang barbar, Agnes ditindih ditengah-tengah mereka yang menghentak-hentak berpacu dalam birahi. Gerakan Buyung bagaikan dongkrak memaksa tubuh Agnes mengelinjang keatas mengundang penis Jamal masuk ke lorong vaginanya, sedangkan gerakan Jamal yang seperti memompa dari atas menekan kebawah sehingga penis Buyung masuk penuh, begitu seterusnya, membuat cewek itu terengah-engah menahan rasa sakit di anus dan vaginanya sekaligus. Buyung menciumi leher, tengkuk, telinganya penuh napsu.
“Uuuggh…uuggh…uuuughhh….” rintih Agnes seirama ayunan kedua penis itu. Cewek itu bisa merasakan seakan-akan kedua penis itu saling bertemu dan bergesekan didalam perutnya, hanya berbeda lorong saja.
Jamal dan Buyung melengkuh-lengkuh nikmat. Buah dadanya diremas-remas dengan kasar sekali oleh Jamal. Agnes merasakan kesakitan, tapi remasan dibuah dadanya membuatnya tetap tersadar. Para berandal yang lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya melahap tubuh Agnes , Penis-penis mereka digesek-gesekkan di tubuh cewek itu.
Waktu menunjukkan Pukul 01:20 sementara pesta perkosaan itu makin brutal terbawa napsu birahi para berandal, sementara itu badai diluar makin ganas dan guntur sesekali menggelegar menelan teriakan Agnes.
Mereka mengerjai tubuh mulus Agnes sampai jam 05.00 pagi, dan meninggalkan Agnes dengan tubuh bugil yang sudah tak berdaya itu sembari tertawa penuh kepuasan.


Pesta anak muda



Malam tahun baru 1998 yang lalu, gue diundang ke suatu pesta anak-anak muda kalangan the have. Pestanya diadakan di suatu villa di Curug Sewu, di kaki gunung Salak, jalan masuknya cuma buat satu mobil. Kebetulan gue dan temen gue Ferry dateng yang paling belakang dan gue nggak nyangka waktu gue lihat mobil-mobil yang parkir di situ … Opel Blazer DOHC gue ternyata yang paling murah !!
Kita berdua langsung masuk ke villa yang paling besar, di sana sudah ada beberapa orang tamu … cowok cewek, semuanya anak muda dengan dandanan yang keren. Ferry langsung ngenalin gue ke tuan rumahnya, dia cewek dengan tubuh yang aduhai … umurnya kurang lebih 26 tahun, namanya Elena. Menurut Ferry, dia adalah anak seorang bankir di Jakarta.
Nggak lama kemudian, Elena ngebuka acara hura-hura ini …. Sambil makan Ferry bilangin gue kalau nanti jangan kaget, dengan bisik-bisik dia bilang, “Ndra, coba elo itung jumlah cowok sama ceweknya sama nggak ?”. Selintas gue hitung dan ternyata jumlahnya nggak jauh beda, gue langsung nanya, “Emangnya kenapa Fer ?”. Temen gue ini nyahutin dengan tenang, “Tenang aja Ndra, pokoknya elo puas lah !”. Sehabis makan, gue nyari kenalan buat ngobrol dan ada seorang cewek yang menarik perhatian gue.
Nama cewek ini, Vinda … tingginya sekitar 158 cm, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Dia memakai kaos yang ketat dengan belahan di dada yang cukup menantang kejantanan gue, buah dadanya nggak terlalu besar tapi bentuknya bagus. Yang paling bikin gue penasaran adalah pandangan matanya yang memperlihatkan hasrat bercinta. Untuk beberapa saat, kita berdua ngobrol kesana kemari … dan akhirnya gue tahu kalau dia baru berumur 22 tahun dan masih kuliah di suatu perguruan tinggi di daerah Kalibata.

Nggak berapa lama, suara musik disco berkumandang dan Elena berteriak lewat mike, “Dancing time, guys !!”. Dan beberapa orang langsung turun berjoget, gue nggak tahan juga akhirnya … gue tarik Vinda turun ke lantai dansa. Ternyata dia seorang pe-disco yang hot, gerakan-gerakan tubuhnya bener-bener membangkitkan kejantanan gue. Beberapa kali buah dadanya di tempel dan digoyang-goyangkan di dada gue dengan sengaja, seolah nantang gue. Kurang lebih 1 jam kita berjoget, akhirnya kita mutusin untuk break dulu. Gue nawarin dia mau minum apa dan dia nyahut dengan nakal, “Gimana kalau whisky cola aja ?”. Wah, gile juga nih cewek … abis kita minum-minum, ternyata lagunya diganti jadi slow and romantic dan Vinda langsung narik gue balik melantai. Dia langsung meluk gue … buah dadanya langsung terhimpit diantara kita berdua, dan membuat kemaluan gue menegang. Gue pikir si Vinda pasti ngerasa juga nih …. Akhirnya gue beraniin nyium belakang telinganya dan gue terusin ke lehernya, udah itu tangan kanan gue meremas dengan pelan pantatnya yang berisi dan Vinda cuma menggumam nikmat. Gerakan itu gue ulang beberapa kali, dan terasa desah nafasnya makin keras … akhirnya Vinda nggak tahan, bibir gue langsung di kulumnya … gue ngerasain lidah kita beradu. Buat makin ngerangsang, gue gesek-gesek kemaluannya pakai tangan gue.
Lagi enak-enaknya kita ciuman, tahu-tahu musik di balikin lagi jadi disco … bubar deh, rangsangan-rangsangan yang gue buat tadi. Sementara gue sama Vinda nge-slow dance, rupanya makin banyak minuman keras yang beredar. Nggak lama ada seorang cewek naik ke atas meja dan ngejoget dengan gerakan-gerakan yang hot, dan lagi-lagi Elena berteriak lewat mikenya DJ, “It’s free time … hey, Finny … show your naked body !”. Dan cewek yang lagi joget diatas meja tadi langsung ngelepasin blusnya dan disusul dengan BHnya, cowok-cowok langsung bertepuk-tangan dan bersuit-suit, sementara cewek-ceweknya berteriak histeris. Beberapa diantara mereka langsung mengadakan gerakan-gerakan sex foreplay. Dalam hati gue berteriak, “Damn, ini yang dimaksud sama Ferry tadi !”.
Akhirnya perhatian gue balik ke Vinda lagi, yang sebelumnya gue peluk dari belakang … gue cium tengkuknya yang putih, yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus dan tangan gue mulai masuk ke balik kaosnya mencari buah dadanya. Waktu gue mulai meremas buah dadanya, Vinda cuma menggeliat senang di pelukan gue, dan dia berusaha masukin tangannya ke celana gue. Sesaat kemudian, dia berbisik, “Ndra, fuck me please … gue udah nggak tahan nih !”, udah itu si Vinda narik gue ke salah satu kamar di lantai dua.

Begitu pintu ketutup, Vinda langsung meluk dan bibirnya langsung melumat bibir gue dan tangannya langsung ngelepasin ikat pinggang dan celana gue, setelah itu dengan nggak sabar dia melorotin celana dalam gue. Akhirnya kontol gue yang udah berdiri dari tadi nongol keluar dan Vinda dengan sigap menggenggam kontol gue dan diarahin ke mulutnya. Dalam sekejap kontol gue setengahnya udah masuk mulutnya, sementara itu gue ngelepasin kemeja dan gue ngerasain nikmatnya kontol dihisap dan diemut. Sambil ngebungkuk, gue ngebukain kaos sama BHnya Vinda, ternyata badannya bener bener putih mulus, teteknya bulat penuh dengan puting yang berwarna merah tua dan si Vinda masih ngemut dan ngisep kontol gue dengan bernafsu.

Setelah gue pikir dia cukup ngisepin kontol gue, si Vinda gue bimbing dan gue celentangkan di ranjang. Sesudah itu gue bukain rok dan celana dalamnya, gue ngeliat bibir kemaluannya tidak ditutupi jembut sama sekali. Ketika jari gue mulai masuk ke vaginanya, gue ngerasa vaginanya mulai basah. Sementara itu, mulut dan lidah gue mulai bermain-main di teteknya, putingnya adalah sasaran yang menggairahkan dan tangan gue yang satu nggak ketinggalan mulai ngeremas-remas teteknya yang mulai mengeras. Si Vinda cuma mendesah-desah dan menggeliat merasakan nikmatnya jari dan kecupan gue, tangannya cuma bisa menarik-narik rambut gue.

Pelan-pelan jari gue bergerak makin dalam dan akhirnya tersentuhlah clitorisnya, langsung aja si Vinda mendesah, “Uhghh, Ndra … lagii, emmhh” dan bibir gue ngerasain teteknya makin tegang. Kecupan dan jilatan lidah gue akhirnya menjelajahi kedua teteknya dan lembah diantaranya, dan jari-jari gue tetap ngemainin clitorisnya yang membuat Vinda makin menggelinjang-gelinjang dan desahannya makin keras, “Ohhh, Ndra …. Ufhh, oohhh”. Memeknya terasa makin basah dan bibir vaginanya makin menggembung, tanda nafsu birahinya makin menggelora.
Akhirnya, gue ngambil posisi 69, kontol gue jatuh diatas mulutnya dan mulut gue mulai bekerja dengan mengecup bibir vaginanya. Makin lama gue tambah kekuatan kecupan gue, makin lama dan makin kuat, sekali-kali lidah gue mendesak masuk kesisi dalam dari vaginanya. Si Vinda hanya bisa menggelinjang dan mengangkat pinggulnya, karena mulutnya lagi sibuk ngisep kontol gue. Nggak lama dia ngelepasin kontol gue dan ngejerit, “Ndra, fuck me .. please, gue nggak tahan lagi, please !”. Gue putar badan dan Vinda langsung ngebuka selangkangannya, dengan dua jari gue buka memeknya yang sudah menggembung itu dan gue gesek-gesekan kepala kontol gue ke bibir vaginanya bagian dalam. Si Vinda makin menggelinjang dan mendesah-desah, setelah itu gue masukin setengah kontol gue ke memeknya dan gue goyang maju mundur tapi gue jaga cuma setengah kontol gue yang masuk. Nggak lama Vinda ngejerit lagi, “Ndra … ayo masukin kontol elo semuanya … yang dalem Ndra …”. Tapi gue cuekin aja permintaannya itu, karena gue pingin ngebuat dia makin terangsang. Cuma kepala kontol gue yang bersenggolan sama selaput dara dan kadang-kadang gue ngerasain clitorisnya di ujung kontol gue, sementara itu goyangan gue makin cepat dan membuat Vinda makin terangsang. Si Vinda makin nggak tahan untuk dientot, “Indra … ayo dong … entot gue …emmhh, masukin yang dalem Ndra …” bujuknya manja. “Ok, kalau elo mau ngerasain panjangnya kontol gue, kita ganti posisi aja”.
Udah itu, gue ngambil posisi duduk selonjor dan si Vinda gue suruh berjongkok menghadap ke gue. Langsung aja kontol gue digenggamnya dan diarahin ke memeknya, udah itu dia ngedudukin pinggul gue dan kontol gue langsung terbenam di memeknya yang basah lembab itu. “Ok, Vin … sekarang elo goyang pelan pelan naik turun, gimana ?” dan dia nyahut, “Ndra, kontol elo bener-bener fit di memek gue … emmm, ufhhh “. Terusnya Vinda bergerak naik turun seperti orang naik kuda, gesekan kontol gue dan memeknya memberikan kenikmatan yang luar biasa, makin lama gerakannya makin cepat dan desahannya juga makin keras, “Oghhh …. Ohhhh, emmm ….. ufghh”. Dan gue juga ngerasain kontol gue dialirin cairan vagina yang makin banyak. Sementara itu, tangan gue mengelus-elus punggungnya dan meremas teteknya, gerakan teteknya yang seirama dengan naik turun badannya benar benar sensual. Kurang lebih setengah jam si Vinda berkuda diatas kontol gue, dia ngejerit kecil, “Ndra … ughhhh …. gue orgasme …. Ohhh, ohhh” dan tiba tiba aja badannya menegang dan dijatuhkannya ke badan gue, dan gue juga ngerasain kontol gue bener bener basah sama cairan vagina.

Si Vinda gue rebahin di pinggir ranjang dan gue berdiri di atas lutut gue, setelah itu gue buka kedua pahanya yang putih itu dan gue masukin lagi kontol gue ke memeknya. Gue senderin kedua kaki Vinda ke badan gue dan sambil meganin kedua kakinya, gue mulai ngegoyangin pinggul gue maju mundur. Gue bilang ke Vinda, “Sekarang giliran gue …”. Awalnya gue goyang dengan lambat dan makin lama makin cepat, gue ngerasain kenikmatan yang diberikan memeknya si Vinda. Sementara itu, si Vinda cuma bisa melenguh, “Uhhhg … ohhhh … lagi Ndra … uufhh” dan meremas-remas teteknya sendiri sambil menggelinjang-gelinjang. Nggak lama, gue turunin frekuensi goyangan gue … jadi gue bisa sambil nyiumin betisnya Vinda. “Ndra … ohhg, masukin yang dalem … uuhhhpp” dan gue sahutin, “OK, sekarang lingkarin kaki elo di pinggang gue, gue akan tancepin dalem-dalem kontol gue”. Si Vinda nurut dan gue tarik kontol gue pelan-pelan setelah itu gue masukin lagi secepat mungkin dengan tenaga penuh, jadi gue masukin kontol gue dengan sentakan-sentakan bertenaga. Vinda cuma bisa menjerit setiap kali kontol gue memasuki memeknya, “Oohhh … uuhhhpp ….. uuhhhpp … Ndra … lagiii … ohhh … gilaa … ouchh … “. Kedua tangannya merenggut seprei keras-keras, karena dia merasakan sedikit rasa sakit yang bercampur kenikmatan yang luar biasa, dan Vinda memejamkan matanya, suatu tanda dia bener-bener menikmati kontol gue. Nggak lama kemudian gue ngerasain kedua pahanya menegang dan menjepit pinggang gue dengan keras, demikian juga dengan badannya yang menegang dan punggungnya terangkat dari tempat tidur, membuat teteknya makin menonjol. Akhirnya dia menjerit lagi, “Ouchhh … Ndra …. Gue orgasm lagi …. Ouchh” dan gue rebahin badan gue di atas badannya sambil gue ciumin leher, telinga dan teteknya yang menggelembung keras. Kemudian gue suruh dia untuk terlentang di tengah ranjang.
Sambil gue remas teteknya, gue bisikin dia, “Satu session lagi yaa …” dan dia menyahut, “Elo bener-bener ngebuat gue gila Ndra”. Dengan lutut gue, gue buka lagi kedua pahanya dan untuk ke sekian kalinya kontol gue masuk lagi di memeknya. Gue rebahin badan gue menimpa badannya Vinda dan gue ngerasain kedua teteknya di dada gue, sementara itu kedua tangan Vinda memeluk tubuh gue dengan erat. Gue cium bibirnya, sehingga kita kembali merasakan lidah-lidah yang beradu dan gue mulai menggoyangkan pinggul gue naik turun. Dua puluh menit kemudian, Vinda mulai menggelinjang dengan liar di bawah badan gue dan gue merasakan kenikmatan yang lain yaitu tetek-teteknya makin bergesekan dengan dada gue. Setelah itu gue makin mempercepat goyangan dan Vinda mulai mendesah-desah lagi, “Ohhg …. Ufhhp”, nggak lama kemudian dia menjerit, “Ndra, gue mau orgasm lagi … ouchhh”. Terus gue bilang, “Tahan bentar Vin, gue juga mau keluar nih” dan makin gue percepat goyangan gue. Akhirnya Vinda menjerit kecil, “Ndra …. Gue orgasm … ohhh” dan guepun nggak tahan lagi. Badan kita berdua menegang dan untuk meredam jeritan Vinda, gue bungkam bibirnya dengan ciuman. Setelah itu gue merasakan gerakan air mani di dalam kontol gue yang berarti sebentar lagi air mani gue menyembur keluar dan dengan sigap gue keluarin kontol gue dari memeknya Vinda.

Akhirnya air mani gue muncrat keluar tepat di atas dada Vinda dan dia membantu ngurutin kontol gue, supaya tidak ada mani yang ketinggalan. Kemudian Vinda mulai menjilati kontol gue dan akhirnya diemut untuk dibersihkan. Setelah itu kita berdua tidur berpelukan kelelahan dengan rasa puas yang tak segera hilang.
Minggu siang, kita berdua kembali ke Jakarta dan gue menghabiskan malam Senin itu di apartemen Vinda di bilangan Prapanca. Kita berdua bersetubuh lagi dengan nafsu yang menggelora. Karena Senin itu gue harus kerja, gue tinggalin Vinda yang masih tidur telanjang dengan pulas.

Aku, anggie, sonya dan adiknya



Suatu hari di saat libur kuliah kemarin, saya berjalan-jalan dengan Anggie di Pondok Indah Mall. Pada saat kami melintasi stand POLO di lantai dasar untuk pulang, saya sangat terkejut karena saya bertemu dengan seorang cewek yang sepertinya pernah saya kenal. Lumayan lama saya amati, ternyata cewek itu adalah Sonya.
Saya pun hanya bisa berpura-pura lupa saja saat kami berpapasan. Perlu saya ceritakan kilas balik disini bahwa Sonya adalah cewek yang paling ngetop di SMA saya di Bandung dulu. Saat masih kelas 2, banyak sekali cowok di sekolah saya yang mengejar Sonya (termasuk saya juga sihh..) Tapi pas SMA dulu, siapa sih saya ini. Semua orang tahu kalau saya ini hanya anak kost di Bandung. Nilai rapor yang lumayan kurang membuat saya jadi cowok yang dipandang. Sedangkan Sonya, dia anak seorang pengusaha di Bandung. Cewek Bandung asli. Cantik abis, dan rumahnya besar. Pernah suatu hari kami belajar bersama di rumahnya. Singkat kata masih ada perasaan segan pada Sonya karena masa lalu.

Tapi tanpa saya sangka ternyata Sonya yang duluan menegur saya. “Hai..! Apa kabar loe?” Kami pun berbicara sesaat. Tampak ada keraguan Sonya untuk banyak bertanya pada saya, karena di samping saya ada Anggie. Sonya sendiri saat itu datang bersama adiknya. Perempuan juga dan masih sekolah di sebuah SMA Negeri di Jakarta Selatan. Dari cerita-cerita Sonya, akhirnya saya tahu bahwa dia sekarang kuliah di PTS yang terkenal di Jakarta. Saya sendiri saat ini juga masih kuliah di PTN di Bandung, sedangkan Anggie baru masuk kuliah di PTS yang kebetulan sama dengan Sonya. Dari percakapan kami, tampak ada rasa kagum Sonya pada saya. Kuliah di PTN “top”, lebih dewasa, yah.. pokoknya berbeda jauh dengan pandangannya terhadap saya saat masih SMA dulu. Nampak sekali di wajahnya kalau ia menyesal mengapa dulu pernah meremehkan saya.
Pikiran saya saat itu, kapan lagi saya bisa ngajak tiga cewek cantik-cantik untuk jalan-jalan. Kalau di kampusku di Bandung, ceweknya boro-boro ada yang cantik, yang menarik pun tidak ada. “Oke, dari sini mau kemana Son..?” tanyaku.

“Mau pulang.. boleh nebeng nggak? Soalnya mobil gue lagi di bengkel. Kita tadi ke sini pake taksi.” Dengan persetujuan Anggie saya pun langsung mengiyakan. Kami pun langsung berjalan ke arah parkiran Barat PI Mall.

Di mobil, Anggie duduk di depan, sedangkan Sonya dan adiknya duduk di belakang. Dalam perjalanan sesekali saya memegang tangan atau bahu Anggie. Anggie pun hanya tersenyum. “Akh.. genit loe..!” Tiba-tiba dari belakang Sonya nyeletuk, “Mau juga dong gue..” Wah, saya pikir-pikir inilah kesempatan saya menebus sakit hati saya di masa lalu. Tiga tahun saat SMA segala daya upaya dilakukan, namun tanpa hasil, sekarang.. “The Past Dream Comes True!”
“Oke Kalo gitu kita ke rumah gue dulu yaa..” Saat itu saya tahu bahwa kedua orang tuaku sedang ke luar. Di rumah hanya ada adik perempuan saya dan pembantu saja. Itu pun sorenya adik saya akan berangkat les, jadi tinggal pembantu saja yang ada di rumah.
Sampai di rumah saya, saya melihat adik saya sudah bersiap-siap pergi les dan akan diantar oleh sopir di rumah (maklum masih kecil, belum bisa nyetir). Saya pun lekas turun untuk sekedar say good bye pada adik perempuan saya yang sangat manja itu. “Bang, bawa cewek kok sampe 3 ekor sihh..?” godanya. Saya hanya bisa tersenyum sambil pura-pura tidak mendengar perkataan adik saya.
Singkat cerita kami pun langsung masuk ke rumah saya. Setelah minum kami berbicara di ruang tamu sambil menonton televisi. Saat itu kami menonton sebuah film di channel HBO. Meskipun sangat jarang ada adegan-adegan berbahaya di HBO (lain dengan TF1 atau Televisi Perancis lainnya), namun saat itu ada adegan ciuman yang lumayan lama.
Sonya pun nyeletuk lagi, “Loe jago cipokan nggak..?” Saya pun kaget setengah mati, dan perasaan saya ke Anggie saat itu sangat tidak enak.
“Jago dong.. tanya aja ke si Anggie..”
“Jago ke si Anggie sih belum tentu jago kalo ama saya,” balasnya.
Si Anggie pun agak panas, “Oke kita buktikan, kalau perlu bukan sekedar cipokan tapi lebih..” Saya pun pura-pura cool saja, tapi dalam hati bahagianya setengah mati.
“Loe juga ikut aja Vit..!” ajak saya pada adiknya Sonya, Vita.
Kami pun lalu naik ke atas kamar tidur saya. Sampai di kamar saya, Sonya mengeluh, “Ini mah hanya cukup buat elo ama Anggie, khan ada empat orang nih, artinya harus double bed,” katanya mengomentari kamar tidur saya yang hanya single bed. Kami berpindah ke kamar tidur orang tuaku. Sebenarnya bisa sih kami bermain di kamar adik saya, tapi takut aja saya kalau tiba-tiba adik saya cepet balik ke rumah.

Sampai di situ mereka pun langsung mempreteli baju dan celana saya. Tampak Anggie dan Sonya paling agresif, sedangkan Vita masih malu-malu dengan hanya tersenyum melihat saya seperti laki-laki yang tak berdaya. Saya pun dalam sekejap telanjang bulat di hadapan mereka bertiga yang masih berpakaian lengkap. Anggie masih memakai tangtop, Sonya dengan baju ketat, dan Vita masih dengan T-Shirt. “Uhhh, yang anunya gede..” goda Sonya melihat barang saya. Saya pun langsung membuat mereka bertiga berbaring di tempat tidur. Satu persatu saya buka baju dan bra-nya. Namun ada rasa sungkan juga saat membuka baju Vita yang masih beginner. “Udah Vit, enjoy aja kayak Mbak,” hibur Sonya pada adiknya. Dalam sekejap, mereka bertiga juga berada dalam keadaan bugil.
Sonya lalu bangkit memeluk saya sambil membalikkan posisi kami sehingga saya berada di bawah. Ia lalu merapatkan bibirnya ke barang saya. Dalam sekejap Anggie meraih bibir saya dan melumatnya hingga saya sukar mengatur nafas. Perlu diketahui kami sering sekali beradu ciuman dengan Anggie sehingga ia tahu betul kelemahan saya dalam berciuman. Melihat Vita masih ‘nganggur’, saya lalu menegakkan badan saya, Vita pun lalu memeluk saya dari belakang sambil sesekali mencium daerah leher bagian belakang saya. Saya harap pembaca mendapat gambaran bagaimana posisi kami saat itu. Anggie memeluk dan mencium saya dari depan, Vita dari belakang, dan Sonya di bawah.

Saya pun hanya bisa membalas ciuman Anggie sambil sesekali mencium balik Vita, dan tangan saya hanya membelai kepala Sonya yang menghisap barang saya. Sesekali posisi kami di tempat tidur bergeser akibat kegelian saya saat main dengan 3 cewek sekaligus. Pikir-pikir inilah pengalaman pertama saya sekali main dengan banyak wanita pada saat yang bersamaan.
Sekitar 5 menit permainan berlangsung saya merasakan adanya cairan yang terpercik ke daerah pusar saya. Ternyata Anggie sudah orgasme pertama. Saya pun langsung membalikkan posisi kami sehingga sekarang saya yang berada di atas Anggie, sehingga untuk sementara Sonya harus menghentikan hisapannya pada barang saya. Langsung saja saya arahkan barang saya ke lubang kemaluan Anggie. Tampak Anggie kesakitan, tanpa peduli banyak saya langsung menghujamkan kejantanan saya dengan kecepatan tinggi sehingga Anggie sesekali berteriak. Saat itu Sonya hanya bisa mencium pantat saya dari arah samping, sementara Vita hanya melihat-lihat. “Eh, gue udah mau keluar nih Nggie..” kata saya pada Anggie. Angie pun lalu memindahkan tangannya yang semula memeluk punggung saya ke arah bahu saya. “Keluarin di dalam atau di luar nih say..?” tanya saya. “Di dalem aja gihhh..” jawabnya sambil menutup mata. Akhirnya, “croottt.. crottt.. crottt..” saya mengeluarkan sperma saya lumayan banyak mengakhiri permainan saya berdua dengan Anggie.
Setelah beristirahat sekitar 5 menit, saya lalu menyuruh Sonya tengkurap menghadap ke tempat tidur. Sambil meremas payudaranya yang berukuran 36B, saya lalu memeluk badannya dari arah belakangnya. Tanpa membuang waktu lalu saya mengarahkan kemaluan saya ke arah kemaluannya. Terus terang pertama-tama agak sulit karena pantat Sonya lumayan padat. Tapi akhirnya kejantanan yang panjangnya 18 cm dapat masuk ke lubang kemaluannya. Saya pun mengocok kemaluan saya yang sudah seluruhnya masuk ke dalam liang senggama Sonya. Tampak sesekali Sonya kesakitan, ia pun lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher belakang saya, sehingga kami merasa sangat nyaman dengan posisi kami saat itu. “Kalo bisa keluarnya bersamaan Son..!” kataku pada Sonya, kamipun mengatur irama sehingga saat Sonya bilang sebentar lagi ia akan keluar, saya lalu meningkatkan akselerasi saya sehingga kami berdua bisa keluar pada saat yang bersamaan. Kami pun akhirnya keluar pada saat yang bersamaan. Di hati kecil saya, saya berkata, “Akhirnya nih Miss Universe-nya SMA Negeri*** (edited) Bandung, udah gue pake.” Kami pun saling tersenyum saat kembali ke posisi sebelumnya. “Payah nih kirain elo alim, taunya malah gituin gue..” kata Sonya ke gue saat itu. Saya hanya tertawa ringan.

Terakhir Vita yang masih tidak percaya dengan pengalaman pertamanya ini. Terus terang saya tidak tega gituin Vita yang masih imut dan -ramalan saya- pada saatnya nanti Vita akan lebih cantik dari Sonya, kakaknya. “Son, adik elo boleh gue gituin nggak?” tanya saya ke Sonya sekalipun terus terang saya juga agak kecapaian. “Jangan dong.. mau loe adik loe digituin? tapi terserah dia ajalah..” jawab Sonya, dan tanpa diduga, Vita lalu mengarahkan mulutnya ke barangku. Pikir-pikir emang mending begitu aja deh, tidak tega saya sama nih anak SMA. “Vit, isep sampe keluar dahh!” kata saya. Vita pun langsung menghisap kejantanan saya sambil sesekali menjilat-jilat biji pelirku. Tampak benar kalau dia masih pemula dengan sesekali giginya tanpa sengaja menggigit barangku. “Jangan digigit Vit, ntar lepas anu gue. Sampe lepas, ntar Anggie ama Mpok (Kakak perempuan) loe ngambek berat..” kata saya. Sonya dan Anggie hanya tertawa sambil membaca majalah Femina milik ibu saya. Akhirnya sperma saya keluar dan masuk ke dalam mulut Vita seluruhnya. Vita lalu menjilat-jilat barang saya sampai kering. “Mmmhhh.. anak SMA*** (edited) jaman sekarang, masih kelas 2 udah isep anunya cowok..” goda saya pada Vita. “Biarin..” jawab Vita agak kesal.

Setelah itu saya merasa sangat kecapaian. Akhirnya kami tidur berempat di tempat tidur orang tuaku. Saya di bawah, Anggie di atas, sedangkan Sonya memeluk saya dari arah kanan, dan Vita dari arah kiri. (Mmhh.. seandainya posisi tidurku bisa begini tiap hari..)
Sekitar jam 9 malam kami terbangun, dan langsung mandi. Saya sempat panik kalau-kalau adik saya curiga akan apa yang sudah kami lakukan. Tentunya adik saya sudah balik dari tempat lesnya. Setelah mandi dan berpakaian rapi lagi, kami keluar dan untungnya adik saya sedang berada di kamar tidurnya di atas dan sudah tidur terlelap. Mereka pun saya antar pulang ke rumahnya masing-masing dengan aturan mendekati rumah mereka, mereka harus mengocok barangku sampai keluar dan menjilatinya. Pada saat mengantarkan Anggie yang rumahnya di daerah Kemang nampak oke-oke aja, namun pada saat mengantarkan Sonya dan Vita, terus terang saya agak ‘menderita’, soalnya saya harus dikocok dua kali sesuai perjanjian kami. Pertama-tama Vita yang mengocok. Setelah keluar, tanpa menunggu waktu Sonya langsung melanjutkan mengocok kemaluan saya sampai keluar lalu menjilatinya.

Cerita ABG | Indahnya Belajar di Luar Negeri


Saat ini, umurku 21 tahun dan aku kuliah di luar negeri, tepatnya di Sydney, aku ambil gelar sarjana di sana. Aku sudah lebih dari 5 tahun di sana sampai saatnya terjadinya cerita ini. Namaku Thomas (nama samaran) dan aku punya teman perempuan yang namanya Rachel (bukan nama asli), dia adalah perempuan yang sering belajar bersama-sama denganku setiap kali aku ada masalah sama pelajaran di kuliah. Suatu malam dia datang ke rumahku, Rachel ini bukan orang Indonesia, dia ini campuran Hongkong dan Jepang, makanya lumayan cakap dan seksi. Tapi aku nggak ada pikiran macam-macam karena aku sadar ujian tengah semester tinggal seminggu lagi. Makanya aku cuekin aja dia, walaupun saat itu sedang belajar, dia lagi pakai baju tembus pandang, sehingga aku bisa lihat dadanya yang lumayan menggiurkan. Saat aku belajar itulah, muncul teman Rachel, namanya Michelle (bukan nama asli juga), dia ini satu kota denganku, aku ini dari Bandung, dia juga satu sekolah samaku cuma aku dulu nggak pernah kenal.

Ok, aku teruskan yach. Saat dia datang itulah insiden ini terjadi, dia membawa Video CD Hongkong yang berbau seks dan mengganggu konsentrasiku belajar, karena aku belum pernah tahu yang namanya seks, makanya aku nonton saja karena nggak ada ruginya. Tetapi, setelah 15 menit menonton, tiba-tiba aku merasakan tangan si Rachel sudah mulai masuk ke celanaku, maklumlah saat itu aku pakai celana pendek ke rumah dia, aku merasakan sesuatu yang aku belum pernah kurasakan sebelumnya. Saat itulah, penisku berdiri dan aku sudah nggak bisa tahan nafsu lagi, makanya saat itu juga kuajak dia masuk ke dalam ruang kamarnya karena saat itu aku belajar di rumahnya dan langsung kukunci dan aku cueki Michelle yang sedang asyik nonton di depan. Di dalam kamar, aku ciuman sama dia lama sekali dan sambil ciuman itu, aku buka semua bajunya termasuk CD-nya dan ternyata aku kaget sekali karena saat aku pegang vaginanya, ternyata sudah basah sekali. Dengan posisiku di bawah dan dia di atas, aku mulai memasukkan penisku ke vaginanya yang merah dan “Bless..”, penisku masuk semua. oohh.. pertama kalinya aku menikmati saat-saat indah itu, ternyata Rachel sudah pengalaman, setelah aku tanya, ternyata dia pernah melakukan hubungan dengan bekas pacarnya di Hongkong. Rachel menaikkan tubuhnya dan menciumi payudaranya yang lumayan besar (sekitar 32-an gitu) dan mulai menjambak rambutku yang pendek. Saat itu aku baru menikmati vagina seorang wanita, setelah 5 menit kemudian, aku mulai ganti posisi, aku mulai menjilati vaginanya dan clitorisnya sampai memerah dan kuhisap cairan yang sudah keluar, tiba tiba dia berteriak saat kuhisap vaginanya keras-keras.

“Thomass.. I lovve itt, babbyy”, dia menjerit dan aku tahu kalau dia lagi klimaks karena vaginanya sedang kujilat dan saat itulah saat pertama aku rasakan cairan wanita yang asam-asam pahit tapi nikmat. Setelah dia klimaks, dia bilang dia capai tapi aku nggak peduli karena aku belum selesai dan aku bilang dalam bahasa Mandarin ke dia kalau aku belum puas, saat itulah permainan dilanjutkan. Dia mulai melakukan gaya anjing dan aku mulai memasukkan penisku ke pantatnya yang besar dan menggiurkan dan aku tarik dorong selama beberapa lama. Beberapa lama kemudian, aku bosan dengan gaya itu, dan kusuruh dia untuk berada di bawahku dan aku mulai memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang ternyata sudah basah lagi. Itulah saat-saat kenapa aku sampai sekarang jadi senang sama perempuan Hongkong karena mereka selalu nggak pernah bisa puas sama seperti aku. Saat aku berada di atas Rachel, kujilati payudaranya yang memerah dan dia menjerit perlahan dan mendesah-desah di telingaku dan membuatku tambah bernafsu dan tanpa pikir panjang-panjang lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan tentunya penisku sudah masuk ke dalam vaginanya yang sangat nikmat itu. “Ooohh nikmat sekali rasanya”, dia juga menjerit “Ssshh”, seperti ular yang sedang mendekati mangsanya.

10 menit kemudian, dia memelukku kuat-kuat dan aku bingung tapi aku juga mengalami perasaan yang aneh karena sepertinya ada yang mau keluar dari kemaluanku, “Thomass.. aku mauu keluaarr” (aku terjemahkan kata-katanya ke dalam bahasa Indonesia karena saat itu dia bicara bahasa Mandarin ke aku) dan aku juga menjawabnya dengan bahasa yang sama “Rachell.. kayaknya guee jugaa maauu..” nggak sampai 2 atau 3 menit, badanku dan Rachel sama-sama bergetar hebat dan aku merasakan ada yang keluar dari penisku ke dalam vaginanya dan aku juga merasa ada yang membasahi penisku dengan amat sangat. Setelah itu, Rachel terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium-ciumi bibirnya yang kecil dan mukanya yang sedikit mirip dengan artis Hongkong Charlie Yeung. Aku mulai membelai-belai rambut panjangnya dan karena dia terlalu kelelahan dia tertidur pulas. Karena aku nggak mau mengganggu dia, aku keluar dari kamarnya dan kulihat di ruang TV, Michelle sedang mengusap-usap clitorisnya sambil menonton Video CD tadi dan aku hampiri dia dan dia jadi kaget, “Ngapain loe..” dia berbicara kepadaku. “Si Rachel loe apain tuch.. teriakannya sampai kemari.” Terus aku berkata ke dia, “Michelle.. kemari dech aku mau bilang sesuatu ke dia!” dia mengikutiku ke sudut ruangan dan dia bersandar di dekat tembok karena dia mau tahu aku mau ngapain.

“Ada apa si Thom?” tanpa banyak omong, aku mulai mendekati vaginanya yang saat itu memang dia nggak pakai CD, cuma celana pendek saja dan aku bilang ke dia, “Loe nggak pakai CD?” Terus dia bilang, “Lagi kucuci semua makanya aku nggak pakai.” Ada-ada saja pikirku tapi ini merupakan suatu kesempatan. Setelah dia berbicara, aku mengelus sekitar vaginanya dengan penuh kelembutan, terang saja dia mendesah hebat “Thomm.. oohh.. kamu benar-benar hebatt.. asal loe tahu aja sebenarnya aku suka sama loe sejak dulu.. cuma loe lengket sama Rachel aja, makanya aku nggak berani dekat dekat.. oohh.” Saat inilah kumulai membuka celanaku dan dia mulai memegang penisku dan mengkocok-kocok dengan hebatnya dan membuat penisku bangun lagi dari tidurnya dan tanpa pikir panjang, di tempat itu juga, aku tabrak vaginanya dengan penisku yang sudah tegang dan kugoyang-goyang vaginanya dengan perlahan-lahan. Dia memang menjerit pertamanya karena menahan rasa sakit dan saat kulihat ke bawah, lantai penuh dengan darah perawannya dan dia langsung ngomong sama aku, “Sebagai rasa cintaku sama kamu, aku persembahkan keperawananku buat kamu.. kamu bisa lihat ke lantai sebagai bukti.” Aku nggak berbicara apa-apa cuma bilang “I love you” saja sebelum kucium mulutnya. Setelah beberapa lama, rupanya dia nggak merasa sakit lagi dan berubah menjadi rasa nikmat “Ahh.. oohh..” kami berteriak bersahut-sahutan karena sedang sama-sama merasakan kenikmatan ini.

5 menit kemudian aku mulai menghisap vaginanya dan clitorisnya sampai dia benar-benar mau klimaks dan setelah dia bilang dia mau klimaks, aku merubah posisi dan kusuruh dia tiduran di lantai dan setelah dia tidur di lantai, kumasukan penisku ke dalam vaginanya dan bless.. dia sekarang nggak merasa sakit rupanya. Setelah beberapa lama, aku sepertinya mau keluar dan karena aku nggak bisa tahan kenikmatan ini makanya aku langsung saja, croott.. crott.. sampai beberapa kali dan setelah aku selesai Michelle gantian memelukku dengan eratnya dan dia berteriak “Mass.. guee keelurr oohh”, dia bergetar hebat dan setelah itu dia mencium bibirku dan melumat habis bibirku dan setelah dia kecapaian dia juga ketiduran. Itulah ceritku pengalaman pertama di Sydney yang membawa malapetaka. Karena setelah peristiwa itu, Rachel dan Michelle hamil karenaku. Orang tuaku sedih sekali sampai nggak mau mengakui aku sebagai anaknya tapi aku juga nggak punya pilihan lain, karena aku juga didesak oleh Michelle dan Rachel untuk bertanggung jawab. Walaupun aku malu dan terpaksa putus sekolah, aku akhirnya menikah dengan Rachel dan Michelle di sebuah gereja di Sydney dan kami bertiga pindah ke kota kecil di dekat Sydney dan aku nggak bisa kasih tahu nama kota itu. Sekarang aku sudah punya 1 anak perempuan dari Rachel yang cantik dan juga anak perempuan dari Michelle yang lumayan cantik juga. Itulah cerita tragediku yang lumayan hitam. Bye.. maafkan aku semuanya