WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Keinginan Dengan Anak Kost



Walaupun bulan ini penuh dengan kesibukan, saya termasuk orang yang sangat susah untuk dapat mengontrol keinginan seks atas wanita. Pengalaman ini saya alami beberapa hari sebelum bulan-bulan sibuk saya yang lalu di tempat kost. Di tempat kost, kami berlima dan hanya ada satu-satunya cewek di kost ini, namanya Sarah. Saya heran ibu kost menerima anak perempuan di kost ini. Oh, rupanya Sarah bekerja di dekat kost sini.

Sarah cukup cantik dan kelihatan sudah matang dengan usianya yang relatif sangat muda, tingginya kira-kira 160 cm. Yang membuat saya bergelora adalah tubuhnya yang putih dan kedua buah dadanya yang cukup besar. Ahh, kapan saya bisa mendapatkannya, pikirku. Menikmati tubuhnya, menancapkan penis saya ke vaginanya dan menikmati gelora kegadisannya.

Usia saya sudah 32 tahun, belum menikah tapi sudah punya pacar yang jauh di luar kota. Soal hubungan seks, saya baru pernah dua kali melakukannya dengan wanita. Pertama dengan Mbak Nani, teman sekantor saya dan dengan Elis. Dengan pacar saya, saya belum pernah melakukannya.

Kami berlima di kost ini kamarnya terpisah dari rumah induk ibu kost, sehingga saya dapat menikmati gerak-gerik Sarah dari kamar saya yang hanya berjarak tidak sampai 10 meter. Yang gila dan memuncak adalah saya selalu melakukan masturbasi minimal dua hari sekali. Saya paling suka melakukannya di tempat terbuka. Kadang sambil lari pagi, saya mencari tempat untuk melampiaskan imajinasi seks saya.

Sambil memanggil nama Sarah, crot crot crot, muncratlah sperma saya, enak dan lega walau masih punya mimpi dan keinginan menikmati tubuh Sarah. Saya juga suka melakukan masturbasi di rumah, di luar kamar di tengah malam atau pagi-pagi sekali sebelum semuanya bangun. Saya keluar kamar dan di bawah terang lampu neon atau terang bulan, saya telanjangi diri saya dan mengocok penis saya, menyebut-nyebut nama Sarah sebagai imajinasi senggama saya. Bahkan, saya pernah melakukan masturbasi di depan kamar Sarah, saya muntahkan sperma saya menetesi pintu kamarnya. Lega rasanya setelah melakukan itu.

Sarah saya amati memang terlihat seperti agak binal. Suka pulang agak malam diantar cowok yang cukup altletis, sepertinya pacarnya. Bahkan beberapa kali saya lihat dia suka pulang pagi-pagi, dan itu adalah pengamatan saya sampai kejadian yang menimpa saya beberapa hari sebelum bulan itu.

Seperti biasanya, saya melakukan masturbasi di luar kamar saya. Hari sudah larut hampir jam satu dini hari. Saya melepas kaos dan celana pendek, lalu celana dalam saya. Saya telanjang dengan Tangan kiri memegang tiang dan tangan kanan mengocok penis saya sambil saya sebut nama Sarah. Tapi tiba-tiba saya terhenti mengocok penis saya, karena memang Sarah entah tiba-tiba tengah malam itu baru pulang.

Dia memandangi saya dari kejauhan, melihat diri saya telanjang dan tidak dengan cepat-cepat membuka kamarnya. Sepertinya saya tangkap dia tidak grogi melihat saya, tidak juga saya tangkap keterkejutannya melihat saya. Saya yang terkejut.

Setelah dia masuk kamar, dengan cuek saya lanjutkan masturbasi saya dan tetap menyebut nama Sarah. Yang saya rasakan adalah seolah saya menikmati tubuhnya, bersenggama dengannya, sementara saya tidak tahu apa yang dipikirkannya tentang saya di kamarnya. Malam itu saya tidur dengan membawa kekalutan dan keinginan yang lebih dalam.

Paginya, ketika saya bangun, sempat saya sapa dia.

“Met pagi..” kata saya sambil mata saya mencoba menangkap arti lain di matanya, kami hanya bertatapan.

Ketika makan pagi sebelum berangkat kantor juga begitu.

“Kok semalam sampai larut sih?” tanya saya.

“Kok gak diantar seperti biasanya?” tanya saya lagi sebelum dia menjawab.

“Iya Mas, saya lembur di kantor, temenku sampai pintu gerbang saja semalam.” jawabnya sambil tetap menunduk dan makan pagi.

“Semalam nggak terkejut ya lihat aku?” saya mencoba menyelidiki.

Wajahnya memerah dan tersenyum. Wahh.., serasa jantung saya copot melihat dan menikmati senyum Sarah pagi ini yang berbeda. Saya rasanya dapat tanda-tanda nih, sombongnya hati saya.

Rumah kost kami memang tertutup oleh pagar tinggi tetangga sekeliling. Kamar saya berada di pojok dekat gudang, lalu di samping gudang ada halaman kecil kira-kira 30 meter persegi, tempat terbuka dan tempat untuk menjemur pakaian. Tanah ibu kost saya in cukup luas, kira-kira hampir 50 X 100 m. Ada banyak pohon di samping rumah, di samping belakang juga. Di depan kamar saya ada pohon mangga besar yang cukup rindang.

Rasanya nasib baik berpihak pada saya. Sejak saat itu, kalau saya berpapasan dengan Sarah atau berbicara, saya dapat menangkap gejolak nafsu di dadanya juga. Kami makin akrab. Ketika kami berbelanja kebutuhan Puasa di supermarket, saya katakan terus terang saja kalau saya sangat menginginkannya. Sarah diam saja dan memerah lagi, dapat saya lihat walau tertunduk.

Saya mengajaknya menikmati malam minggu tengah malam kalau dia mau. Saya akan menunggu di halaman dekat kamar saya, kebetulan semua teman-teman kost saya pulang kampung. Yang satu ke Solo, istrinya di sana, tiap Sabtu pasti pulang. Yang satunya pulang ke Temanggung, persiapan Puasa di rumah.

Saya harus siapkan semuanya. Saya siapkan tempat tidur saya dengan sprei baru dan sarung bantal baru. Saya mulai menata halaman samping, tapi tidak begitu ketahuan. Ahh, saya ingin menikmati tubuh Sarah di halaman, di meja, di rumput dan di kamar saya ini. Betapa menggairahkan, seolah saya sudah mendapat jawaban pasti.

Sabtu malam, malam semakin larut. Saya tidur seperti biasanya. Juga semua keluarga ibu kost. Saya memang sudah nekat kalau seandainya ketahuan. Saya sudah tutupi dengan beberapa pakaian yang sengaja saya cuci Sabtu sore dan saya letakkan di depan kamar saya sebagai penghalang pandangan. Tidak lupa, saya sudah menelan beberapa obat kuat/perangsang seperti yang diiklankan.

Tengah malam hampir jam setengah satu saya keluar. Tidak saya lihat Sarah mau menanggapi. Kamarnya tetap saja gelap. Seperti biasa, saya mulai melepasi baju saya sampai telanjang, tangan kiri saya memegangi tiang jemuran dan tangan kanan saya mengocok penis saya. Sambil saya sebut nama Sarah, saya pejamkan mata saya, saya bayangkan sedang menikmati tubuh Sarah. Sungguh mujur saya waktu itu. Di tengah imajinasi saya, dengan tidak saya ketahui kedatangannya, Sarah telah ada di belakang saya.

Tanpa malu dan sungkan dipeluknya saya, sementara tangan saya masih terus mengocok penis saya. Diciuminya punggung saya, sesekali digigitnya, lalu tangannya meraih penis saya yang menegang kuat.

“Sarah.. Sarah.. achh.. achh.. nikmatnya…” desah saya menikmati sensasi di sekujur penis saya dan tubuh saya yang terangkat tergelincang karena kocokan tangan Sarah.

“Uhh.. achh.. Sarah, Sarah.. ohhh.. saya mau keluar.. ohh..” desah saya lagi sambil tetap berdiri.

Kemudian saya lihat Sarah bergerak ke depan saya dan berlutut, lalu dimasukkannya penis saya ke mulutnya.

“Oohhh Sarah… Uhh Sarahhh.., Saarraahh… Nikmat sekali…” desah saya ketika mulutnya mengulumi penis saya kuat-kuat.

Akhirnya saya tidak dapat menahannya lagi, crott.. crot.. crot.., spema saya memenuhi mulut Sarah, membasai penis saya dan ditelannya. Ahh anak ini sudah punya pengalaman rupanya, pikir saya. Lalu Sarah berdiri dengan mulut yang masih menyisakan sperma saya, saya memeluknya dan menciuminya. Ahh.., kesampaian benar cita-cita saya menikmati tubuhnya yang putih, lembut, sintal dan buah dadanya yang menantang.

Saya lumati bibirnya, saya sapu wajahnya dengan mulut saya. Saya lihat dia memakai daster yang cukup tipis. BH dan celana dalamnya kelihatan menerawang jelas. Sambil terus saya ciumi Sarah, tangan saya berkeliaran merayapi punggung, dada dan pantatnya. Ahh.. saya ingin menyetubuhi dari belakang karena sepertinya pantatnya sangat bagus. Saya segera melepaskan tali dasternya di atas pundak, saya biarkan jatuh di rumput.

Ahh.., betapa manis pemandangan yang saya lihat. Tubuh sintal Sarah yang hanya dibalut dengan BH dan celana dalam. Wahhh.., membuat penis saya mengeras lagi. Saya lumati lagi bibirnya, saya menelusuri lehernya.

“Ehh.., emmhhh..!” desis Sarah menikmati cumbuan saya.

“Ehh.., ehhh..!” sesekali dengan nada agak tinggi ketika tangan saya menggapai daerah-daerah sensitifnya.

Kemudian kepalanya mendongak dan buah dadanya saya ciumi dari atas. Oh my God, betapa masih padat dan montok buah dada anak ini. Saya mau menikmatinya dan membuatnya mendesis-desis malam ini. Tangan saya yang nakal segera saja melepas kancing BH-nya, saya buang melewati jendela kamar saya, entah jatuh di mana, mungkin di meja atau di mana, saya tidak tahu. Uhhh.., saya segera memandangi buah dada yang indah dan montok ini. Wah luar biasa, saya putari kedua bukitnya. Saya tetap berdiri. bergantian saya kulumi puting susunya. Ahh.., menggairahkan.

Terkadang dia mendesis, terlebih kalau tangan kanan saya atau kiri saya juga bermain di putingnya, sementara mulut saya menguluminya juga. Tubuhnya melonjak-lonjak, sehingga pelukan tangan kanan atau kiri saya seolah mau lepas. Sarah menegang, menggelinjang-gelinjang dalam pelukan saya. Lalu saya kembali ke atas, saya telusuri lehernya dan mulut saya berdiam di sana. Tangan saya sekarang meraih celana dalamnya, saya tarik ke bawah dan saya bantu melepas dari kakinya. Jadilah kami berdua telanjang bulat.

Saya tangkap kedua tangan Sarah dan saya ajak menjauh sepanjang tangan, kami berpandangan penuh nafsu di awal bulan ini. Kami sama-sama melihat dan menjelajahi dengan mata tubuh kami masing-masing dan kami sudah saling lupa jarak usia di antara kami. Penis saya menempel lagi di tubuhnya, enak rasanya. Saya memutar tubuhnya, saya sandarkan di dada saya dan tangannya memeluk leher saya.

Kemudian saya remasi buah dadanya dengan tangan kiri saya, tangan kanan saya menjangkau vaginanya. Saya lihat taman kecil dengan rumput hitam cukup lebat di sana, lalu saya raba, saya coba sibakkan sedikit selakangannya. Sarah tergelincang dan menggeliat-geliat ketika tangan saya berhasil menjangkau klitorisnya. Seolah dia berputar pada leher saya, mulutnya saya biarkan menganga menikmati sentuhan di klitorisnya sampai terasa semakin basah.

Saya bimbing Sarah mendekati meja kecil yang saya siapkan di samping gudang. Saya suruh dia membungkuk. Dari belakang, saya remasi kedua buah dadanya. Saya lepas dan saya ciumi punggungnya hingga turun ke pantatnya. Selangkangannya semakin membuka saja seiring rabaan saya. Setelah itu saya turun ke bawah selakangannya, dan dengan penuh nafsu saya jilati vaginanya. Mulut saya menjangkau lagi daerah sensitif di vaginanya sampai hampir-hampir kepala saya terjepit.

“Oohh… aahh… aku nggak tahan lagi… masukkan..!” pintanya.

Malam itu, saya akhirnya dapat memasukkan penis saya dari belakang. Saya masukkan penis saya sampai terisi penuh liang senggamanya. Saat penetrasi pertama saya terdiam sebelum kemudian saya genjot dan menikmati sensasi orgasme. Saya tidak perduli apakah ada yang mendengarkan desahan kami berdua di halaman belakang. Saya hanya terus menyodok dan menggenjot sampai kami berdua terpuaskan dalam gairah kami masing-masing.

Saya berhasil memuntahkan sperma saya ke vaginanya, sementara saya mendapatkan sensasi jepitan vagina yang hebat ketika datang orgasmenya. Saya dibuatnya puas dengan kenyataan imajinasi saya malam Minggu itu. Sabtu malam atau minggu dini hari yang benar-benar hebat. Saya bersenggama dengan Sarah dalam bebrapa posisi. Terakhir, sebelum posisi konvensioal, saya melakukan lagi posisi 69 di tempat tidur.

Ahh Sarah, dia berada dalam pelukan saya sampai Minggu pagi jam 8 dan masih tertidur di kamar saya. Saya bangun duluan dan agak sedikit kesiangan. Ketika melihat ke luar kamar, ohh tidak ada apa-apa. Saya lihat kedua cucu ibu kost saya sedang bermain di halaman. Mereka tidak mengetahui di tempat mereka bermain itu telah menjadi bagian sejarah seks hidup saya dan Sarah. Itulah pengalaman saya dengan Sarah di kost.

Cerita Sex Nostalgia Bersama Mantan


Kisah ini terjadi ketika aku kembali dari penugasan sepanjang 1,5 tahun dari Sumatera Barat untuk meneruskan studi alih jenjang di Jogja. Kembali dari perantauan setelah puas bertualang dengan hati dan tubuh gadis-gadis lokal membuatku makin percaya diri dan tentunya girang bukan kepalang ketika terbit sepucuk SK tugas belajar di Jogja.

Oiya namaku Edo, umurku 24 tahun, aku kerja di salah satu instansi pemerintah sebagai (masih) jongos tentunya. Untuk ukuran orang Indonesia aku termasuk tinggi besar, dengan tinggi 178cm dan berat 80kg. Aku berangkat menuju Jogja dengan status tidak jomblo, namun setelah beberapa minggu berada di Jogja, pikiran dan niat mesum semakin menguatkan tekad aku untuk putus dengan pacarku di Sumatra Barat, karena enggak bebas cuy kalo masih terikat, hehehehe.

Setelah beberapa minggu di Jogja aku jadi tau bahwa mantanku ,Ayu, ternyata bekerja di Jogja juga sebagai dokter (dulu pas pacaran dia masih coass). Dan berhubung aku adalah cinta pertamanya, maka dengan sangat percaya diri aku pedekate lagi demi HLBK (hasrat lama bersemi kembali).

Jadilah kami berkencan lagi setelah 2 tahun enggak ketemu di sebuah kafe di Jogja, dan seperti biasa Ayu tetap tau banget cara bikin aku horny berat. Ayu yang berwajah tirus khas cewek jawa dan berkulit sawo matang ini sebelumnya pernah mengobrak-abrik perasaanku, dan kali ini aku berniat bulat untuk gantian mengobrak-abrik isi rok dan bh-nya hehehehe.

Tinggi badan Ayu 158cm dengan berat badan 46kg, ukuran bra 34 cup B, sungguh sexy dimataku, dengan pakaian kerjanya berupa kemeja coklat yang kancing atasnya gak dikancingkan dan celana kain, serta aroma wangi hugo boss intense yang dahulu pernah aku hadiahkan padanya saat ultah. Ketika aku nanya soal parfumnya yang masih awet aja dipake sama dia Ayu menjawab,

“yang dulu mas kasih itu udah habis mas, ini aku beli lagi pas kemarin dinas ke Rusia ikut seminar dokter disana, soalnya di Indonesia udah enggak beredar lagi.”

“ooow”, kataku sambil memonyongkan bibir.

Aku kenal banget cewek ini, tindakan memonyongkan bibir adalah pancingan dan bahasa tubuhku dulu agar dia segera melumat bibirku. Tapi kali ini tindakan itu tidak membawa efek apapun. Ayu dengan tenangnya tetap bermain-main dengan sedotan minumannya, “sialan aku lupa, dia kan udah mantan statusnya, pantesan jaim” umpatku dalam hati karena pancingan aku gak berhasil.

Cukup lama kami ngobrol tentang nostalgia masa lalu dan hubungan asmaranya sepeninggalku di kafe itu dari jam 18.30 sampai 21.00. Ayu pun sempat menanyakan keadaanku dan siapa kekasihku saat ini. Ketika aku jawab bahwa aku kembali menjomblo beberapa hari lalu, aku liat ada seberkas senyum samar diwajah mantanku yg super seksi ini. Selepas itu obrolan berkembang kearah yg kurang menguntungkan bagiku karena dia malah sibuk mengingat-ingat hal-hal menyakitkan yang terjadi diantara kami dulu yang akhirnya malah bikin moodnya jadi sedih dan malah jadi gak ada kelanjutan dari apa yg sebenarnya kurencanakan malam itu untuk enggak bobok sendiri.

Setengah jam kemudian aku pun memutuskan mengakhiri kencan dengan janji untuk ketemu lagi dan segera bergegas kembali ke rumah kontrakanku dengan perasaan kecewa karena gagal memancing hasrat mantanku itu untuk kembali meletup. ”Huffff, kacau benar malam ini... gagal deh meremas isi bh Ayu!”, aku menggerutu. Aku segera membuka sepatu dan melempar tas kuliah ke kamar. Beberapa detik kemudian hapeku bergetar oleh sms dari Ayu.

”mas aku jemput yaak, alamat kostmu dimana?”

Degg! Gairah dalam dadaku serasa benaran mau meledak habis baca sms itu. Si dedekku udah berasa banget dijalari darah hangat yg pada akhirnya menyebabkan ereksi. Terburu-buru aku segera balas sms Ayu dan kemudian berganti baju, karena kebetulan baju yang kupakai malam itu adalah baju untuk kuliah sore hari tadi.

Singkat cerita aku udah lihat mobil Ayu dan segera menghampiri mobil tersebut. Ternyata Ayu minta aku nyetirin itu mobil. ”wah bisa aku arahin kemana-mana seenak jidat nih kalo aku yg nyetir” pikirku dalam hati. Sempat terjadi kebingungan saat kami berada dalam mobilnya, kebingungan itu adalah tentang akan jalan kemana kami malam itu, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 dan menurut pandangan kami berdua tidak cukup banyak tempat di Jogja yang cukup asik kami kunjungi pada jam selarut ini.

”kemana nih Yu? Udah malam gini”

“hmm... gatau bingung juga, masa mau maem lagi?”

”waaah ogah ahh kalo maem lagi kenyang tauuu...”

”trus mau kemana lagi? Aku sih pengen berduaan sama kamu malam ini, ga peduli kemananya”

CLING!!! otakku langsung tercerahkan. “edan ini anak udah langsung jujur aja, tadi di kafe jaimnya minta ampun, sekarang ngomongnya gini” aku benar-benar bersungut-sungut sekaligus lega karena hasratku malam ini bakalan tersalurkan.

Akhirnya aku bilang, “kita ke kaliurang aja yuk, nginep disana, kan enak dingin, hihihihi”

Lama Ayu terdiam sementara mobil kami belum bergerak kemana-mana dalam keadaan mesin dan ac hidup. Aku ngerayu lagi,

“sayang, ke kaliurang aja yuuk… aku benaran kangen sama kamuu, kangen aromamu…”

Tiba-tiba Ayu langsung melingkarkan tangannya dan bergantung manja di leherku.

“aku juga kangenn banget sama kamu, pengen naikin tubuhmu lagi, ga pengen rasanya inget gimana ditinggalin kamu dulu”

Gila! kalimat Ayu itu rasanya benaran bikin legaaa. AC mobil yang bikin aku keringetan sebelumnya langsung berasa dinginnya setelah denger kalimat itu. Istilahnya kaya dinding pertahanan harga diri kami langsung ambrol setelah kalimat itu. Akhirnya di suasana remang-remang kabin mobil Ayu kami berciuman French kiss… dalam, pelan, dan lembut…. ”ini dia perempuan yg bikin aku jadi durjana selama di rantau karena frustasi patah hati, ini dia rasa bibir yg aku rindukan selama ini, rasa bibir ini ga akan terganti rasa bibir cewek manapun selama ini.” batinku.

Segera mobil itu aku pacu kesetanan ke daerah kaki Gunung Merapi itu. Berhubung malam itu adalah malam rabu aku yakin banget kalo di Kaliurang pasti bakalan dapet hotel tipe bungalow yang privasinya jelas terjaga. Beruntung pula aku besok paginya ga ada kuliah, dan Ayu pun ga giliran jaga di RS.

Singkat cerita kami berhasil mendapatkan hotel tipe bungalow dengan harga yang pantas dan fasilitas yang memuaskan untuk melampiaskan apa yang terpendam dalam rindu dendam kami.

“Mas, aku mandi bentar yaa” kata Ayu segera ketika pintu kamar kukunci.

”Yup” jawabku seadanya karena udah ga kuat benar nahan gejolak nafsu di benak dan di celana pastinya.

Dalam hitungan menit-menit selama mantanku itu di kamar mandi, aku mondar-mandir ga jelas didepan pintu kamar mandi yang tertutup itu. Aku udah lepas celana dalam dan hanya menggunakan celana pendek serta kaos seadanya. Isi kepala ini rasanya cenut-cenut horny ga jelas kalo berada di deket mantanku ini. Akhirnya aku beraniin diri mengetuk pintu kamar mandi itu.

”Ayu, kok lama, kamu gpp kan?” kataku berbasa-basi-busuk.

Cukup lama hening lalu Ayu keluar dengan baju yang masih lengkap dan mulut basah usai sikat gigi.

“umm, kamu ga jadi mandi? airnya anget khan?” cerocosku bertanya demi terlihat perhatian terhadap mantanku nan sexy ini.

“aku baru juga sikat gigi mas, mas udah panggil-panggil” kata Ayu sambil pura2 sewot.

Aku tidak ambil pusing daripada makin parah diomelin, langsung aja aku peluk tubuh mungilnya, aku pagut bibirnya yang sudah siap menerima seranganku. Segera aku sibuk memainkan lidah dalam rongga mulut Ayu. Gadis ini pun merespon semua tindakanku, dia balik memainkan lidahnya serta mulai mengeluarkan gumaman-gumaman dan desahan,

“emmmm… aahhh… maaasss… emmmmhh…”

Kami berciuman masih sambil berdiri. Setelah cukup puas bermain dengan bibirnya, aku mulai meraba seluruh tubuhnya. Ayu memejamkan mata menikmati perbuatanku. Gesper ikat pinggangnya yang sedari tadi perih menggesek perutku masuk agenda pertama untuk dilucuti. Usai melucuti gesper, aku segera membuka kancing jeans Ayu sambil tetap menciumi lehernya. Ketika tanganku terselip dipantatnya yang masih tertutup jeans, aku mendapati Ayu sudah tidak memakai celana dalamnya. Gairahku makin diubun-ubun, sambil tersengal-sengal aku bilang ke dia,

“sayaangg uhh kok udah gak pake daleman? dari awal tadi udah ga pake ya?” tanyaku.

“uhh enak ajaaa, tadi baru kulepas dikamar mandi, tadi mah pake kalii” jawab Ayu.

“kenapa dilepas?”

“soalnya sejak di kafe tadi cdku basah, ketemu sama kamu, liat kamu lagi, ga sadar tadi tiba-tiba celana dalemku udah basah aja.”

“hmmm... coba liat yang basah mana boleh gak?” sambil aku lepas seluruh jeansnya dan mulai aku elus pelan vagina Ayu yang memang sudah licin oleh lendirnya.

Akhirnya aku angkat tubuh mungilnya. Aku gendong tubuh gadis ini dengan mesra. Dan pemberhentian selanjutnya adalah ranjang kamar ini. Kemudian aku memagut bibirnya sekali lagi sambil mengelus-elus rambutnya yang dipotong pendek. Kini gadis dalam pelukanku ini hanya mengenakan kemejanya tanpa sehelai pun celana dibagian bawah tubuhnya. Tangan kiriku terus menstimulasi vaginanya yang sudah penuh lendir hingga Ayu terpejam dan medesah keras. Tak cukup itu saja aku juga masih membisikkan kalimat mesra ke telinga gadis ini,

“aku selalu merindukanmu every single day after you broke my heart, dear, and i always always love you”.

Dengan mulutnya yang masih mendesah keras dia melingkarkan kedua tangannya ke leherku sambil manggut-manggut menahan segala sensasi sentuhan jariku. Tak lama kemudian tubuh Ayu menegang dan mendesah makin keras,

“aaaaaaaahhhh… eeeeermmmmm… errmmmm…” dia telah mencapai kklimaks pertamanya.

Mantanku ini adalah gadis yang mudah mencapai klimaksnya, namun pernah dia mengaku ke aku bahwa cuman aku yang bisa membuatnya klimaks, bahkan hanya dengan melihatku saja dia sudah “meleleh” di bagian vaginanya, apalagi dengan sentuhan jemari aku yang ajaib menurutnya.

Aku menikmati pelukannya yang semakin erat dan menegang karena orgasme. Lalu setelah badai orgasmenya mereda dan tubuh Ayu mulai lunglai, aku segera beralih ke kemejanya yang masih terpasang rapi, membuka kancing demi kancing kemeja, dan mendapati Ayu menggunakan bra tanpa tali punggung. ”Ayu benar2 sudah persiapkan diri menghadapi segala seranganku ternyata, dan gak ada kata bertahan buatnya, semua keadaan ini benar2 memudahkan” batinku.

Segera saja aku lucuti bra itu tanpa kesulitan dan meremas kedua gunung kembar Ayu yang ranum dengan puting-puting yang telah teracung mengeras menunjuk langit-langit kamar. Aku menstimulasi kedua gunung itu sambil lagi-lagi memagut bibirnya yang merekah, namun kali ini lidah Ayu enggak melakukan perlawanan karena gadis ini sedang menikmati segala perlakuan aku.

Kemudian kaos yang menempel di tubuhku segera aku buka sekaligus celana pendeknya. Jadilah aku telanjang bulat didepan cewek yang masih lemas akibat gelombang orgasmenya ini. Aku memposisikan diri di atas tubuh Ayu yang segera siap sedia aku tindihin dengan melebarkan kedua pahanya. Aku menempatkan penisku melintang diatas vaginanya yang basah tanpa penetrasi dulu, karena aku masih belum siap untuk menyerah pada permainan Ayu, aku masih pengen memberikan hadiah orgasme untuknya.

Aku segera menindihnya dengan usaha untuk menggesekkan puting aku ke puting Ayu yang menegang sekaligus menggesekkan bagian bawah penis aku ke gerbang surganya yang udah licin banget.

”Ooohhh…” kami bersama-sama melenguh dan mendesah.

Turun dari ”pelana”, aku meneruskan stimulasi ke bagian gunung kembar Ayu dengan menghisap, meremas, dan menusuknya dengan lidah aku, sementara tanganku yang lain tetap mengelus-elus klitoris Ayu.


Lima menit meremas, menjilat, dan meraba Ayu, akhirnya Ayu meraih orgasme kedua. Tiba-tiba aku pengen ”menyiksa” gadis ini. Pengen rasanya memberi gadis ini orgasme ketiga yang tanpa jeda, meskipun itu berarti dia akan benar-benar lemas ketika mengalaminya. Aku segera turun dan melakukan oral sex ke klitorisnya yang mungil dan merah. Hmmmm gurih terasa dilidahku kala mengisap dan menjilat klitoris gadis ini diiringi segala desahan dan geraman Ayu yang terpejam dan menarik-narik kepalaku ke arah vaginanya seakan lupa dengan rasa lemas akibat badai orgasme keduanya.

Akhirnya aku berhenti mengoralnya karena ternyata kebas juga rasa lidahku kelamaan mengoral-sex gadis ini. Terengah-engah napasku kecapekan oralin Ayu dan mulutku pun belepotan lendir vagina Ayu dan ludahku sendiri. Ayu mengangkat kepalanya dan menatap mesra mataku yang berada di sela selangkangannya. Ayu tak berkata apapun, namun dia bangkit dan tangan mungilnya meraih penisku yang nganggur sedari tadi.

Aku tau apa maksud tindakan gadis ini, pasti Ayu ingin membalas perlakuanku dengan oral sex sekaligus hand-job. Tapi aku tidak terima, oral sex ku belum membuahkan hasil, jadilah aku mendorong tubuhnya untuk kembali terlentang dengan cara agak kasar sehingga Ayu menjerit tertahan, dan aku segera membenamkan lidahku ke liang vaginanya serta mengelus-elus klitorisnya lembut.

Gerakan berulang itu akhirnya membuahkan hasil, gadis ini mendesah panjaaaangg menegangkan tubuh, menjepit kepalaku dengan pahanya yang lembuttt. Ooh… sungguh sensasi yang sangat memuaskan secara batin buat aku untuk memberikan hadiah orgasme ketiga Ayu malam itu.

Ayu pun kemudian bergantian mendorong kasar tubuhku agar terlentang. Dan segera mengelus penisku yang nganggur sedari tadi. Dia mengelus dan bahkan menempelkan penisku yang tegang dan hangat ke pipinya. Inilah yang aku tunggu, pembalasan dari segala jerih payahku. ”Aahh lega rasanya” batinku.

Ayu tanpa canggung segera mengulum penisku, dimulai dari kepala penisku, lalu menjilati bagian belakang penisku, dan mengocok sisa batang penisku yang tak terkulum olehnya. ”uuuhh” sensasinya benar-benar luar biasa. Lembut, hangat, dan menggelitik di penisku rasanya.

Sesaat kemmudian aku segera memalingkan muka dari wajah Ayu dan berusaha keras memikirkan hal yang lain karena aku gak pengen penisku moncrot dan menyerah sebelum waktunya. Aku gak pernah pakai obat kuat saat ML sama cewek-cewekku dulu, jadi ya cara supaya enggak cepet moncrot ya kaya gini caranya, idiot namun efektif membuat si dedek lebih tangguh.

Sekitar sepuluh menit kemudian gadis imut nan seksi ini menyerah oralin aku. Dan segera terdiam lemas melihat penisku yang masih perkasa namun nampak mulai mengeluarkan cairan lubrikasi bening.

”hehehehe masih perkasa kan?” tanyaku dengan nada mengejek.

”uhhh ga terima, pokoknya mas harus kubikin nyerah!” jawab Ayu.

Ayu segera menunggangi tubuhku dan kembali memagut leher, bibir, dan telingaku untuk membakar gairahku lagi. Dia juga tidak lupa untuk menggesekkan vaginanya ke penisku. Pada dasarnya aku memang blum lemas karena memang belum klimaks, jadilah bebrapa menit kemudian aku kembali mengambil inisiatif untuk membalikkan posisi menjadi posisi misionaris. Ayu segera tanggap dengan reaksi aku dan merentangkan kedua pahanya lebar-lebar. Sebelum aku penetrasi, aku masih sempatkan minta ijinnya untuk penetrasi.

”aku masukin yaa sayang?” Ayu mengangguk mantap.

Dan, bless... Penisku tenggelam seluruhnya dalam vagina yang basah dan licin oleh lendirnya. Benar-benar nikmat rasanya, licin, hangat, dan masih tetap kencang meski udah bukan perawan lagi karena tiga tahun sebelumnya aku yang merawanin Ayu. Aku berdiam diri agak lama sebelum mulai memompa untuk menikmati sensasi penetrasi ini. Sebagai ganti gerakan memompa, aku gerakin otot kegel aku didalam vagina Ayu yang malam itu terlihat sangat cantik. Gerakan kegel aku ternyata membuat Ayu menjerit-jerit tertahan, sehingga aku makin semangat menggerakkan otot kegel aku.

Pelan kemudian aku mulai memompa vagina Ayu, perlahan dan menikmati seluruh sensasi ini. Sensasi yang aku rindukan dan selalu aku bayangkan ketika mengerjai mantanku di daerah penugasanku dulu. Aku emang selalu ngebayangin Ayu ketika onani, bahkan ketika sedang ML dengan mantan-mantanku yang lain.

Ekspresi Ayu tiada duanya ditambah pula vaginanya yang legit terasa oleh penisku. Seiring waktu gerakan memompa ini berubah ritme menjadi 3-1 yang berarti tiga tusukan ringan dan satu tusukan dalam.

”owwwh…” Ayu mendesah keras kala tusukan aku membenam lebih dalam seiring ritme 3-1 itu.

”Cleb-cleeb-clebbh” bunyi kecipak basah lendir kami berdua disela desahan mantan kekasihku ini. Lendir akibat gerakan memompa itu membanjir membasahi seprei kamar bungalow kami. Ayu pun tak tinggal diam, dia menggoyangkan pinggangnya seolah menyambut tusukan demi tusukan penisku. Sepuluh menit kemudian terasa geli menjalari kepala penisku, lalu aku segera mencabut penis dan aku cekik kepala penisku dengan tujuan supaya gak jadi klimaks.

Jarang-jarang bisa ML leluasa gini sama cewek yang selalu membayangi malam-malamku selama 2 tahun belakangan. Beberapa detik kemudian aku kembali menghujani Ayu dengan tusukan-tusukan tanpa ampun. Demi menahan ejakulasi, aku bahkan menggigit lidah aku sendiri untuk mengalihkan perhatian, dan astaga Ayu bahkan mulai menunjukkan tanda-tanda orgasmenya melalui penetrasi ini.

”aaaakhh… masssss… auwwwwwwhhhhhhh…” Ayu mendesah keras dan lama hingga aku hentikan sejenak kegiatan memompa penisku kedalam vaginanya.

Lendir hangat seperti tumpah dan lebih menghangatkan penisku plus pijatan-pijatan nikmat dan berkedut aku rasakan pada penisku. Setelah membiarkan Ayu beristirahat dari pompaan penisku, akhirnya aku kembali ke pekerjaanku yang belum tuntas, yaitu mencapai ejakulasiku sendiri. ”clebh-clebh-clebh” aku memompa seadanya namun tempo tusukan aku percepat. Ketika sudah berasa mau keluar, aku bertanya pada Ayu.

”sayang, mau coitus apa keluarin didalem?” tanyaku.

Ayu yang kembali mendesah-desah menjawab ”didalam aja mas, aku bntar lagi mens kok, ahh.. ahh.. ahhhh…”

Dan sesaat kemudian penisku menyemprotkan air mani yang kental dan cukup banyak.

”oooghhh!” teriakku kala kenikmatan menyergap diriku menjalari segenap tulang belakangku.

Dan segera saja aku ambruk menindih Ayu yang juga terengah-engah.

”owwh Ayu, tiap hari aku bayangin kamu tau, aku sayang kamu...” aku mencoba merayunya ditengah keletihan ini.

”iya mas aku juga gak pernah mau disentuh laki-laki manapun selain kamu, aku juga sayang kamu” jawab Ayu.

Setelah penisku terlepas karena mulai kempes kami pun menuju kamar mandi untuk berendam air hangat berdua. Tiga jam sudah kami habiskan untuk satu ronde malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi dan udara dingin gunung pun semakin menggigit tulang.

”mas tadi diitung gak brapa kali aku orgasme?” tanya Ayu.

”mmm tiga kali yaa?” jawabku asal.

”kurang satuuu....yang benar 4kali!”

”hah... sebanyak itu ya? Aku salah itung kali yah?”

”iya ada satu yang gak kamu tau, soalnya pas kita ciuman di mobil tadi aku udah klimaks mas, hehehehe”

Kami saling meraba, berciuman, dan akhirnya gairah yang sudah turun ini kembali memuncak. Aku segera membungkus badan Ayu dengan handuk dan menggedongnya keluar dari kamar mandi menuju arena nafsu kami kembali diatas kasur kamar bungalow ini, dan kami kembali bercinta 2 ronde lagi, namun bedanya kali ini tanpa pemanasan. Dan pagi pun menjelang, kami berdua segera terlelap setelah seusai menumpahkan segala amunisi yang ada. Hari sudah menjelang sore ketika kami sampai kembali di Jogja dan makan malam berdua sebelum Ayu mengantarkan aku kembali ke kontrakan.

Cerita Sex Bertiga Bersama Teman Istriku



Namaku Ricky, usiaku 29 tahun, aku sudah menikah dan punya satu anak. Istriku seumuran denganku, namanya Tiwi. Sedangkan anakku usianya 3 tahun, dan baru masuk playgroup. Istriku punya seorang teman wanita bernama Rika, mereka pertama kali bertemu di sekolahan anakku, karena Rika ini adalah mamanya teman anakku. Karena sering bertemu, lama-lama mereka pun jadi akrab dan akhirnya menjadi teman baik. Mereka juga sering pergi bersama.

Si Rika ini wajahnya biasa saja, kalau menurutku lebih cantik istriku. Makanya waktu aku dikenalkan dengan Rika, aku tidak ada pikiran macam-macam. Suatu hari Rika menelepon istriku untuk memberi tahu kalau dia sekeluarga mendapat voucher menginap di sebuah hotel bintang lima untuk semalam. Dia pun mengajak istriku datang ke hotel tersebut untuk mencoba fasilitas yang ada disana. Di hotel tersebut terdapat kolam renang, tempat fitnes dan lain-lain yang dapat dipakai secara gratis. Akhirnya kami memutuskan untuk menerima ajakan Rika.

Sorenya aku dan istriku menyusul Rika yang sudah berada di hotel tersebut. Sampai disana kami langsung menuju ke kolam renang, karena sebelumnya sudah janjian dengan Rika untuk bertemu disana. Kami pun disambut oleh Rika yang sudah berada disana.

“Hai Wi, Hen…”

“Hai Ka… suami sama anakmu mana?” tanya istriku.

“Lagi tidur siang mereka” jawab Rika.

“Kok berdu aja? Anakmu mana?”

“Anakku gak ikut, abisnya ntar repot kalo ngajak anak kecil” kataku.

“Oh… ya udah, kalian mau berenang? Atau mau fitnes aja?

“Fitnes aja deh”

Kami pun langsung menuju ke tempat fitnes. Setelah ganti baju di locker room kami bertiga mulai fitnes. Setelah satu jam lebih asik berfitnes dan mencoba alat-alat yang ada disana kami merasa sudah capek. Kami pun memutuskan untuk menyudahinya, lalu membilas diri kemudian menuju ruang whirlpool. Tapi kami dibuat bingung, karena ruang whirlpoolnya hanya ada satu. Wah gimana nih? Pikirku. Kami akhirnya coba-coba, dan benar saja, pria dan wanita ruangannya jadi satu.

Wah malu juga nih, apalagi Rika, soalnya kami cuma pakai handuk. Setelah di dalam aku sedikit kaget, karena kulihat ada seorang wanita mondar-mandir dengan santainya dalam keadaan bugil. Aku lihat Rika juga sedang ngeliatin cewek itu yang kesannya cuek banget. Saat masih terbengong-bengong, ada seorang wanita menghampiri kami, ternyata dia adalah locker girl.

“Mari Mas, Mbak.. aku simpan handuknya” kata locker girl itu dengan suara halus.

“Haa? Disimpan?” tanyaku kebingungan.

“Hihihi… iya mas, memang begitu peraturannya. Biar air kolamnya tidak kotor” jawab si Mbak sambil tersenyum genit.

“Wah mati aku” pikirku dalam hati. Masak aku harus bugil didepan empat cewek?! Sementara aku lihat istriku dan Rika juga saling pandang karena kebingungan. Akhirnya aku yang memutuskan.

“Ya udah mbak gini aja, kita mau lihat-lihat dulu. Nanti kalau mau berendam baru kita simpen handuknya disini” kataku.

“Iya deh mas” jawab si Mbak dengan senyum genitnya lagi, kemudian langsung berbalik dan berjalan keluar ruangan.

“Gimana nih Ka?” tanya istriku ke Rika.

Selagi Rika masih terdiam kebingungan, istriku langsung ngomong lagi,

“Ya udah deh, kita terusin aja yuk” kata istriku.

“Udah Ka, buka aja… gak pa-pa” imbuh istriku.

“Beneran nih? Terus Ricky gimana?” tanya Rika sambil melirik malu-malu kearahku.

Aku hanya pasrah, dan berdoa semoga burungku tidak sampai bangun. Bisa gawat kalau sampai bangun, bisa-bisa si Rika tahu, soalnya aku cuma dililit handuk saja.

“Gak pa-pa, anggap aja kita kasih dia tontonan gratis” sahut istriku.

Aku sungguh tidak menyangka istriku akan berkata seperti itu. Padahal biasanya dia sangat cemburuan. Akhirnya istriku melepas handuknya, disusul Rika yang juga perlahan ikut melepas handuknya dengan ragu-ragu. Begitu handuknya terlepas, terlihatlah payudaranya yang bulat, dan juga bulu kemaluannya yang lebat banget. Melihat aku yang bengong menatap tubuh Rika, istriku hanya tertawa geli. Sementara Rika berusaha menutupi vaginanya dengan kedua tangannya.

“Hei, jangan bengong dong, sekarang giliran kamu yang buka handuknya” kata istriku.

Sebenarnya aku juga ragu-ragu untuk melepas handukku, tapi karena takut istriku berubah pikiran, aku langsung saja melepas handukku. Saat aku melepas handuk, Rika langsung membuang muka.

“Kenapa Ka? Gak pa-pa kok. Tadi kan suamiku juga liatin bodi kamu, malah sampai terangsang tuh, lihat deh” kata istriku sambil melihat kearah batangku.

Akhirnya Rika melirik ke burungku yang perlahan mulai bangkit, hingga akhirnya mengeras dan tegang. Waduh, malu banget aku.

“Tuh bener kan, dia terangsang ngelihatin bodi kamu” kata istriku.

Melihat penisku yang tegang, mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal. Alhasil wanita yang sendirian tadi langsung menengok karena mendengar tawa mereka, dan langsung ikut tertawa setelah melihat penisku.

“Wah dia udah gak tahan tuh dek” kata wanita itu ke istriku sambil ngelirik ke penisku.

Akhirnya aku langsung masuk ke kolam whirlpool, daripada jadi bahan tertawaan terus. Istriku dan Rika juga menyusul masuk ke kolam setelah aku. Tak lama kemudian, wanita tadi bangun dan keluar dari kolam sambil tersenyum genit dan melirik ke selangkanganku. Sekarang tinggal kami bertiga yang berada di kolam, istriku langsung pindah posisi, hingga aku berada di tengah mereka.

“Ih, kok dari tadi masih tegang aja sih?” kata istriku sambil memegang penisku, aku hanya diam saja.

“keras banget nih” imbuh istriku.

“Sini deh Ka, mau coba pegang suamiku gak?”

Aku dan Rika jadi bengong mendengar perkataan istriku.

“Ha? Boleh Wi? Tanya Rika.

“Boleh, sini deh, pegang aja, keras banget tuh” jawab istriku.

Pelan-pelan Rika pun mulai menggerayangi pahaku, lalu naik, sampai akhirnya tangannya sampai ke penisku.

“Iya Wi, keras banget nih. Kalau dimasukin pasti enak ya” kata Rika sambil mengelus penisku.

Aku jadi terangsang dengan pelakuan Rika, hingga aku jadi tidak tahan. Akhirnya tanpa meminta persetujuan istriku, aku langsung menarik Rika kemudian kulumat bibirnya dan aku remas-remas payudaranya.

“Aaachhh…” Rika menggelinjang.

Lalu aku angkat Rika dan aku dudukin di pinggir kolam, aku buka kakinya lebar-lebar, dan langsung kubenamkan wajahku di selangkangannya. Sementara istriku masih asik mengocok penisku.

“Gantian dong Ka, aku juga pengen dijilatin memekku nih” kata istriku yang sudah bernafsu.

Mendengar perkataan istriku, aku langsung gantian menjilati vagina istriku. Rika pun tak tinggal diam, tangannya langsung meraih penisku kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya. Nikmat sekali rasanya hisapan mulut Rika. Kami bertiga begitu terbawa nafsu, sampai gak peduli kalau-kalau ada orang yang masuk nanti. Beberapa menit kemudian istriku ternyata sudah tidak tahan.

“Ayo masukin dong, cepetan. Udah gak tahan nih” pinta istriku.

Karena aku juga sudah tidak tahan, langsung kutarik penisku dari mulut Rika, lalu aku masukin ke vagina istriku. Aku dorong keluar-masuk penisku di vagina istriku. Rika hanya diam melihat kami, sambil sesekali tangannya meremas buah zakarku. Tak lama kemudian istriku menjerit kecil, dan aku merasakan sesuatu yang hangat didalam vagina istriku. Melihat istriku yang sudah mencapai klimaksnya, Rika langsung berkata,

“Ngg… boleh gak Wi kalau aku gantian ngrasain sodokan suamimu?” tanya Rika.

“Boleh dong…” jawab istriku.

Mendengar jawaban istriku, Rika langsung meraih penisku yang masih tegang, lalu diarahkan ke liang vaginanya yang tertutup bulunya yang lebat itu.

“Aaacchhhh…” desah Rika saat penisku masuk ke vaginanya.

“Ayo Rick… terus… aaahhhh…” kelihatannya Rika benar-benar menikmatinya.

Mulut Rika tidak henti-hentinya mendesis, hingga kemudian istriku bangun dan mengarahkan vaginanya ke mulut Rika. Rika pun menyambut vagina istriku dengan lidahnya. Kira-kira sepuluh menit kami dalam posisi seperti itu, rasanya aku sudah tidak tahan untuk menyemprotkan spermaku. Aku rasakan Rika juga menegang, aku pun tak kuasa untuk menahannya, dan akhirnya jebol juga pertahananku. Kami bertiga merasakan sensasi kenikmatan bersama-sama. Kami pun langsung terkulai lemas.

“Makasih Ricky, Tiwi… ini benar-benar pengalaman luar biasa buatku”

“Hahaha… sama Ka, aku juga baru pertama kali ngrasain nikmat kayak gini, benar-benar gak pernah aku bayangin sebelumnya” kata istriku.

Cerita Sex ABG Tetangga Anak Temanku


Tidak bisa saya pungkiri, kalau cowok ABG tetangga saya itu memang seorang pemuda yang bertubuh atletis. Saya yakin dia sering berolahraga, maka semua pasti dalam keadaan baik. Keyakinan saya itu karena saya melihat otot-otot tubuhnya yang terpahat dengan sempurna, walau usianya masih 18 tahun. Saya berpikir bagaimana caranya agar saya bisa mendapatkan kepuasan seksual darinya? Sementara suami saya sudah tak mampu lagi untuk memuaskan saya. Kedua anak saya sudah hidup sendiri di kota yang berbeda dengan kami karena mereka sudah bekerja dan kuliah. Saya masih sangat membutuhkan seks. Apa yang harus saya lakukan?

Namanya Riko, senyumnya sangat manis sekali, membuat saya yang sudah berusia 44 tahun ini jadi semakin ingin bersetubuh dengannya. Saya terus berpikir keras, apa yang harus saya lakukan agar bisa dekat dengannya tanpa dicurigai oleh siapapun, terlebih kedua orangtuanya adalah sahabat dekat saya. Saya terus berpikir, sampai suatu ketika saya diundang oleh Bu Rina, begitulah saya memanggil ibunya Riko. Saya yang merawat tubuh saya dengan baik, tentu kelihatan lebih sintal dari Bu Rina.

Begitu saya duduk di teras rumah mereka, tiba-tiba Riko masuk dan memberi salam kepada kami, lalu ibunya menyuruh Riko untuk menyalami saya. Dengan malu-malu Riko mendatangi saya, persis ketika ibunya membetulkan letak pot bunga. Saat itu saya menyalaminya dan saya mempermainkan jari telunjuk saya di telapak tangannya. Entah darimana datangnya keberanian saya untuk itu. Duh... Rina tersenyum dan mengedipkan matanya. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

Cukup lama kami ngobrol, sampai akhirnya kami bercerita tentang perawatan rambut, dimana daun lidah buaya yang selalu saya pakai saya ceritakan kepadanya dan Bu Rina tertarik. Kata saya, hari ini juga saya bisa mengambilnya, hanya saja tolong agar Riko mau membonceng saya naik sepeda motor ke rumah ibu saya yang tidak jauh dari kompleks kami. Tentu saja ibu Rina tidak keberatan dan dia memanggil Riko dan menyampaikan agar dia mengantar saya ke rumah ibu saya. Riko bersedia membenonceng saya. Saya tak lagi berganti pakaian, dengan daster saya kami pun pergi dengan sepeda motor yang jaraknya hanya berkisar 3km.

Begitu keluar kompleks dan memasuki tikungan, saya merapatkan tubuh saya ke punggung Riko dan menempelkan dada saya ke punggungnya, kemudian saya memeluknya dari belakang. Di tempat sepi, langsung saya mengelus kemaluannya yang masih dibungkus oleh celananya.

"Besar juga punyamu" bisik saya di telinganya.

Lagi-lagi entah dari mana keberanian saya menyampaikan kata-kata itu kepadanya. Mungkin karena saya sudah sangat horny.

"Lumayan, Tante" jawabnya singkat dan membiarkan tangan saya megelus kemaluannya.

"Boleh dong dipinjam?" kata saya lagi lebih berani.

"Boleh tante. Tapi dimana?" wow… ternyata Riko lebih berani lagi.

Kami tiba di rumah ibu saya. Dengan mengucapkan salam saya memasuki rumah dan mengambil pisau. Ibu kebetulan mau berangkat mengaji bersama dengan teman-temannya. Saya sampaikan maksud kedatangan kami dan ibu tidak keberatan. Katanya, kalau sudah, gerbang dikunci saja dan dia membawa anak kuncinya. Kami pun masuk ke dalam rumah. Setiba di dalam rumah, langsung saya memeluk Riko dan mengecup bibirnya. Kami berpelukan dan saling mengelus.

"Kamu pintar juga berciuman," bisik saya.

Riko diam saja dan dia menarik kembali tengkuk saya dan kembali bibir kami menyatu dan lidah kami saling bertautan. Dia meremas-remas payudara saya yang lumayan besar ukurannya.

"Boleh dong, saya lihat burungmu?" pinta saya.

Riko langsung melepas risleting celananya dan mengaluarkan burungnya yang sudah mengeras. Wooww... burung yang gagah perkasa. Langsung saya menangkapnya dan saya berlutut di hadapannya, kemudian saya memasukkan burung itu bersarang di dalam mulut saya. Saya melihat Riko tenang saja dan rambut saya malah dielusnya.
Cepat saya lepaskan celana dalam saya sampai lepas dari tubuh saya. Saya tuntun Riko untuk duduk di kursi dan saya menaiki tubuhnya dari atas, lalu saya tuntun pula burungnya bersarang di dalam memek saya. Slep... burung itu sudah bersembunyi di dalam. Terasa hangat sekali burung Riko berada di dalam memek saya.

"Enak sayang..." bisik saya.

Riko tidak menjawab, dia memejamkan matanya dan memeluk saya dengan kuat. Saya mengerti dia masih muda, mungkin saya adalah wanita pertama yang bersetubuh dengannya. Dia pun mengerang, kemudian memeluk saya dengan sekuatnya dan saya mengimbanginya, karena saya tahu dia bakal sampai di puncaknya. Saya menggoyang dan mencari sensasi saya agar saya orgasme. Setelah spermanya lepas, saya masih sempat menggoyangnya, sebelum kemaluannya mengecil, saya pun orgasme. Untung saya mendapatkannya.

Riko malu-malu saat saya mengajaknya ke kamar mandi, dan wajahnya selalu menunduk. Saya memeluknya dan mencium pipinya, lalu berbisik,

"Gak usah malu. Kan cuma kita berdua" bujuk saya.

Lalu dia mulai tenang. Kami pun mengambil beberapa potong daun lidah buaya yang segar, kemudian kami pulang. Dalam perjalanan saya sempat menghentikan perjalanan dan meminta nomor HPnya, lalu kami bertukar nomor HP. Kami akan janjian hanya berhubungan SMS atau telpon setelah suami saya pergi kerja. Akhirnya kami berjanji untyuk bertemu di sebuah tempat untuk sama-sama pergi ke sebuah hotel kecil yang cukup terpencil. Di sana kami memuaskan diri kami dengan berbagai posisi. Saya senang mengajarinya berbagai posisi seks.

Nampaknya dia menikmatinya dan kami terus melakukannya, sampai pada suatu ketika saya sudah tidak haid lagi. Saya panik. Tak ada jalan lain, saya menemui seorang teman saya dan bercerita dengan saya dramatisir dan dia pun lulus. Teman saya ini seorang dokter kandungan dan kami sekelas waktu kami SMP dan SMA dulu. Setelah dia periksa, dia katakan masih bisa, karena belum berusia dua bulan. Dia katakan kepada suami saya, kalau saya terkena hamil anggur dan harus dikuret. Hamil anggur bisa terjadi, bila jarang disetubuhi. Suami saya merasa berdosa dan dia mengizinkan saya dikuret dan saya harus istirahat selama dua mingu di rumah sakit dan suami saya menyetujuinya.

Setelah kuret berhasil, kemudian saya mendapatkan operasi kecil, untuk menutup peranakan saya. Saya ikut KB mantap. Suami saya tidak mengetahuinya. Sejak saat itu, saya dan Riko terus menerus melakukannya. Saya harus membayar mahal, bukan hanya uang, tetapi Riko harus secara bergantian melayani kami, karena teman saya itu juga suminya mengalami impotensi setelah kecelakaan lalu lintas empat tahun lalu.

Cerita Sex Liburan Sekolah yang Tak Terlupakan


Nama saya Anisa, umur saya 17 tahun, masa yang indah saat memakai seragam putih abu-abu, hampir setiap hari tawa canda saat jalan bersama teman-teman usai jam sekolah begitu menyenangkan. Intan lebih dari sekedar teman akrab, kami telah bersama semenjak di sekolah dasar. Saat libur sekolah, kadang dia menghabiskan seminggu dengan di rumah saya dan kadang kala saya yang tidur di rumahnya. Dia mempunyai kakak cowok yang ganteng namanya Reza, dia adalah mahasiswa semester 2, jujur saya tertarik dengannya tapi tak pernah saya ungkapkan pada Intan apalagi dengannya.

Pada umur 17, getar-getar perasaan ada, terutama saat mengamati cowok-cowok, rasa ingin mendekati dan didekati, rasa ingin menyentuh dan disentuh mengelitik dada. Diantara teman sebaya, di satu sisi kami masih gadis kecil yang bisa bermain Barbie, tapi di sisi lain pubertas kami terus tumbuh, payudara mulai terbentuk dan menyembul mendesak T-shirt kami, kami tahu itu menjadi perhatian cowok-cowok bahkan pria dewasa yang suka daun muda. Ada sensasi erotis saat menyentuh lubang kewanitaan saya yang mulai ditumbuhi bulu bulu halus, hal ini tidak terjadi dua tiga tahun yang lalu.

Liburan kenaikan kelas sebelas, saya ikut liburan bersama keluarga Intan di Villa kaki gunung pinggir telaga milik mereka, ini kali ketiga saya kesana. Kamar saya dekat kamar orang tua Intan. Malam kedua disaat semua sudah tidur, Saya lirik jam dinding menunjuk jam 12 malam saat saya mendengar suara yang pernah saya dengar dari video 3gp yang saya simpan di HP saya, datang dari kamar orang tua Intan. Saya segera mengerti itu pasti adegan orang dewasa. Penasaran saya timbul, ingin menyaksikan secara langsung tidak hanya sekedar melalui layar kecil HP.

Saya lirik sahabat saya pulas dalam mimpinya, dengan dada berdebar saya berjingkat keluar kamar, detak itu semakin keras saat saya beranikan diri mengintip celah pintu yang tak tertutup sempurna. Itu kali pertama saya melihat dua orang dewasa bergumul telanjang, terengah-engah saling memberi kenikmatan pada pasangannya. Tante Nia berteriak tertahan tubuhnya mengelinjang kemudian om Harry terengah-engah rebah diatasnya, mungkin moment itu yang disebut orgasme.

Dikamar mandi nafas saya masih terengah-engah membayangkan kejadian yang baru pertama kali saya lihat, saya raba kemaluan saya yang sudah basah dan klitorisnya mengeras. Saya menenangkan diri saya dan segera kembali ke kamar, tapi mata enggan terpejam, adegan itu terus membayang di pelupuk mata saya. Tanpa saya sadari tangan saya mulai mengekplorasi kewanitaan saya yang terus dan semakin basah. Klitoris saya yang keras dan tegang berkedut saat jari saya bermain main diatasnya, sensasi erotis itu meninggi dan terus meninggi dan akhirnya pecah meluber membasahi celana dalam pink milik saya. Itu kali pertama saya bermasturbasi.

Jam 2 dini hari saya terlelap setelah berganti celana dalam. Saya mendengar samar Intan membangunkan saya, maa tsaya masih enggan terbuka.

"Ya udah kami mau ke kota dulu nyari perlengkapan dan kebutuhan, mungkin sore baru balik" katanya berpamitan.

Saya teruskan tidur saya sampai jam 8 pagi saat hangatnya matahari menerobos jendela kamar saya. Saya melangkah keluar, keadaan begitu sepi. Setengah jam setelah sarapan suasana tetap sepi, saya menyimpulkan Om, Tante, Intan dan Kak Reza pergi ke kota yang jaraknya sekitar 40 km dari villa ini.

Lebih dari setengah jam, saya nyaman membasuh tubuh saya dengan segarnya air gunung. Saya lilitkan handuk menutupi dada dan pangkal paha saya, saya cuek saja toh tidak ada orang di villa. Betapa terkejutnya saya saat membuka pintu kamar mandi, saya lihat kak Reza asyik menyeruput teh panas. Sontak matanya menyapu dari ujung rambut sampai ujung kaki saat melihat tubuh mulus saya hanya berbalut handuk mini. Wajah saya memerah malu, sambil berlari menuju kamar. Rupanya Kak Reza yang saya pikir ikut ke kota ternyata jogging keliling telaga.

Saya berusaha bersikap biasa menutupi malu saya karena peristiwa tadi. Kak Reza mengajak saya jalan jalan di sekitar telaga. Dia cowok yang sangat menarik, begitu memikat dengan joke-joke ringannya. Dia bersikap romantis yang membuat saya semakin nyaman didekatnya, dia menggandeng saya dan tak jarang merangkul saya, saya semakin bahagia bersamanya. Kak Reza memasak makanan kaleng untuk makan siang kami, Suasana semakin hangat saat kami menonton film romantis dari DVD usai makan.

Saya bersikap manja saat dia memeluk saya. Hasrat penasaran akan sentuhan dan dekapan pria terpenuhi bersama kakak sahabat baik saya. Kecupan lembut mendarat hangat dikening saya, saya terkejut tapi tak kuasa menolaknya malah memejamkan mata. Kecupan itu turun menjalar menyentuh bibir saya, "ya tuhan begitu luar biasa sensasinya" kata saya dalam hati. Saya tak mau sensasi itu cepat hilang, bibir kami saling beradu, saling memagut. Gejolak libido gadis remaja ini pelan pelan meninggi. Rabaan sentuhan dan remasan menyerang syaraf-syaraf sensitif saya. Saya tak mengerti bagaimana kejadiannya, kami berdua sudah diatas ranjang tanpa sehelai benang pun.

Mungkin pengaruh Video 3gp di hp saya atau juga karena semalam saya mengintip orang tua Intan bercinta, Anisa perawan 17 tahun dengan sukarela mengulum batang kejantanan Reza. Saya pun membiarkan saat kakak sahabat karib saya mengulum ranum puting saya, pun tidak ragu membuka paha saat lidahnya menjilat klitoris saya. Entah setan atau malaikat yang mempengaruhi saya, yang ada saya hanya menghanyutkan nafsu saya dalam sungai cinta yang Kak Reza berikan.

"Aku ingin memilimu seutuhnya sayang" bisiknya.

"Semua yang aku miliki adalah punyamu sayang" balas saya romantis.

Kak Reza menggesek-gesekkan batang kejantanannya pada klitoris saya, turun keatas lubang vagina, mata saya terpejam pasrah. Saya rasakan ujung penis menyentuh selaput dara saya, pelan dia tarik keluar lagi, didorong pelan ditarik lagi. Dengan sedikit dorongan keras, penis Kak Reza merobek hymen saya. Beruntung lubang vagina saya benar-benar sudah basah sehingga sakitnya hanya sebentar, rasa perih itu cepat berganti dengan kenikmatan yang tiada tara. Dua hasrat muda menyatu, di tengah suasana sepi vila pinggir telaga. Entah berapa kali saya orgasme.

"Sayang, aku nggak mau hamil" bisik saya.

Kak Reza mengerti saat mencapai puncak dia cepat-cepat mencabut dan menumpahkannya diatas perut saya. Kami berpelukan terengah-engah, percikan darah menempel di pangkal paha saya dan sprei kamar Kak Reza. Saya menyesal mungkin juga tidak, yang pasti tidak ada air mata menetes saat itu.

Kami mandi bersama dan melakukan senggama lagi di kamar mandi. Lelah sekali seluruh badan saya, kami saling menghangatkan di kamar saya. Waktu hampir jam 4 sore saat terdengar suara mobil masuk halaman villa, Kak Reza bergegas meloncat ke kamarnya setelah mengecup kening saya. Kami mencoba bersikap biasa sepanjang petang dan malam.

Jam menunjukkan pukul 11 malam, saat sebuah pesan masuk ke hp saya dari Kak Reza, saya berjingkat menuju kamar Reza setelah saya pastikan Intan lelap tertidur. Cukup 2 ronde saja kami bercinta. Begitu seterusnya sampai liburan berakhir, saya dan Kak Reza kini sepasang kekasih, saya berharap selamanya kami menjadi kekasih sampai di ikat oleh janji suci pernikahan. Semoga kami tetap menjadi kekasih walau semua itu hanya tuhan yang tahu.

Cerita Sex Kunjungan Teman Lama


Namaku Tyas, aku adalah seorang janda. Minggu lalu aku kedatangan teman lamaku, dia adalah tetanggaku dulu waktu aku kost waktu aku sekolah. Namanya Nindi. Umurnya sekitar 25 tahun, seumuran denganku. Kami udah sekitar 4 tahun tidak bertemu. Walaupun begitu kami masih sering berkomunikasi lewat telpon, maklum saja dia lain kota denganku. Saat ini dia sudah menikah dan punya 1 anak yang berusia sekitar 3 tahun.

Aku juga agak heran kenapa dia datang sendirian, karena dulu pernah juga dia datang tapi bersama suami dan anaknya. Waktu itu masih 1 tahun umurnya. Makanya aku tanya kemana suaminya, tapi dia malah menangis dan bercerita kalau dia dan suaminya sedang bertengkar, dan dia meminta ijinku untuk menginap selama beberapa hari untuk menenangkan diri. Aku pun mengijinkannya, sekalian buat temen aku habis sepi juga sih. Karena dia baru dari jalan jauh langsung saja aku menyuruhnya untuk bersih-bersih dan istirahat.

Kami membuat rencana untuk keluar mencari hiburan nanti malam, sekalian mengenang nostalgia lama. Oh ya, dulu kami sama-sama suka ke club malam. Aku menanyakan apa dia selama ini pernah lagi ke diskotik tempat kami dulu sering pergi sama-sama, dia bilang udah lama tidak pernah sejak dia menikah. Dia tanya kalau aku gimana, aku bilang sejak aku cerai sih kadang-kadang suka juga pergi buat ngilangin sumpek sekalian ketemu teman-teman lama. Kelihatannya wajahnya agak cerah, kasian juga sih liat wajahnya waktu baru datang. Kayaknya suntuk banget.

Malam harinya kami membuat rencana agar anak-anak cepat tidurnya. Setelah mereka tidur baru kami siap-siap untuk pergi yaitu sekitar jam 10 malam. Setelah kami selesai dandan, aku menelpon beberapa teman lama juga untuk pergi sama-sama, dan mereka menyetujuinya. Lalu kami pun berangkat.

Setibanya disana teman-teman kami sudah menunggu di lobi karaoke, lalu langsung saja kami ajak masuk ke diskotik. Tentu saja kami memesan juga beberapa amunisi untuk dipakai di dalam. Kami bergoyang sampe puas, dan sepertinya teman-temanku enjoy. Aku juga senang melihat wajahnya kembali ceria. Sekitar jam 2 kami pulang, tentu saja ke rumah masing-masing. Temanku ada yang masih lanjut karena dia bertemu dengan seorang cowok dan diajak terus.
Sesampai di rumah kami cerita-cerita banyak, terutama tentang kehidupan kami masing-masing. Dia bertanya ke aku bagaimana rasanya jadi janda, sebab katanya mungkin kalau hubungannya dengan suaminya ga bisa dilanjutkan lagi dia mau berpisah saja. Aku bilang ada enaknya ada enggaknya, tapi banyak gak enaknya habis pandangan masyarakat biasanya sumbang, sambil ketawa sama-sama.

Setelah sekian lama kami bercerita ujung-ujunganya kami cerita masalah kehidupan seksual masing-masing. Dia bercerita kalau sebebarnya suaminya dia tidak pernah bisa memuaskannya, karena mainnya grasak-grusuk dan cepat keluar, terus habis itu langsung molor (pelor kali yah). Iya sih aku bilang memang kebanyakan suami-suami gitu sih, habis nempel sebentar terus molor, hihihihi.

Dia tanya kalau aku gimana memenuhi dorongan selama jadi janda, trus aku bilang saja aku lakukan sendiri dengan masturbasi. Dia agak terkejut, sebab menurut dia tidak baik. Terus aku tanya apa dia pernah melakukan masturbasi, dia jawab gak pernah kan itu cuma buat cowok (kasian yah, masak ga tau gitu). Aku bilang wanita juga bisa dan banyak yang melakukannya. Malahan aku bilang aku punya alat bantu dan kalau ada kesempatan sering melakukan sambil telpon-telponan sama orang, aku bilang sensasinya enak dan kadang kadang lebih enak dari hubungan sebenarnya karena kita pasti bisa mencapai orgasme.

Menurut aku sih sepertinya dia belum pernah merasakan orgasme. Aku tanya apa dia mau diajarin, dia mengangguk. Aku sih emang lagi horny, mungkin pengaruh obat yang kami pake waktu di diskotik tadi. Setelah itu langsung saja aku ajak dia masuk ke kamarku, dan kami langsung buka pakaian. Habis gak enak juga kena keringat. Setelah itu tanpa memakai pakaian kecuali pakaian dalam saja aku langsung saja baringan di tempat tidur dan dia masih duduk-duduk dilantai sambil dengerin musik. Terus aku tanya dia apa dia terangsang, dia bilang iya makanya keliatan agak bingung habis dia biasanya ama cowoknya dulu (udah jadi suaminya sekarang). Aku bilang saja dari pada bingung mending kita lakuin sendiri saja, dia masih ragu. Tapi aku cuekin saja habis aku udah mulai sih dengan kegiatan aku merangsang diri.

Aku baringan di kasur sambil merem dan tangan aku mulai meraba-raba celana dalamku dari luar. Mmhhh enak juga sih. Dia masih ragu, tapi kayaknya mulai melakukan yang aku lakukan juga, aku ga begitu ngeliat sih, habis masih duduk di lantai. Aku sudah mulai merasa nikmat dan aku rasa sudah tiba waktunya untuk melakukan rangsangan ke bagian sensitifku, maka aku mulai membuka pakaian dalamku sehingga polos. Aku lihat dia juga sudah mulai merasakan hal yang sama, lalu aku bilang daripada duduk di lantai mendingan dia baringan saja di tempat tidur. Dia menurut saja, lantas aku tanya, apa yang dia rasakan, katanya enak juga. aku sih ketawa saja. Ya sudah aku suruh saja dia buka juga pakaian dalamnya, biar lebih leluasa.

Selanjutnya kita sama sama terbuai dalam sensasi masing masing, sesekali dia melihat ke arahku untuk tau apa yang aku lakukan. Pernah kepentok sama aku, tapi aku tersenyum saja. Habis sensasi yang aku rasakan di klitorisku luar biasa, enaaaaak bangeet. Aku terus mengusap-usap klitorisku dan suaraku mulai mendesah karena nikmat sekali. Makin lama usapanku makin cepat dan suaraku makin kuat, untung saja musik masih hidup di kamarku jadi aman gak kedengaran keluar.

Mmmhhh enak banget, aku rasakan orgasmeku makin dekat. Sambil terus menggosok aku sesekali melirik ke Nindi, aku lihat dia lagi memejamkan matanya sambil menggosok klitorisnya juga. Ahhh sepertinya dia juga merasakan apa yang aku rasakan, jadi aku pikir dia sudah mengerti apa yang harus dia lakukan. ohhh aku rasakan orgasmeku sudah dekat banget dan akan segera meledak, pinggulku bergoyang-goyang mengimbangi jari-jariku yang dengan lincah menggosok kacang yang enak itu. Ohhhh akhirnya orgasmeku datang dengan meledak-ledak, tapi enaakk sekali. Suaraku juga sudah tidak tertahan lagi, akhirnya aku menjerit tertahan, ahhhhhh nikmatnya.

Selama aku mendekati orgasme, Nindi luput dari perhatianku, habis rasa nikmatnya membuat aku lupa semua. Ternyata dia menjerit juga, malahan panjang banget tanpa ditahan-tahan . Aku agak kaget juga, takut kedengaran sama anak dan pembantu, kan gawat kalau sampai terbangun (namanya juga anak-anak mana ngerti ibunya lagi enak, hihihii). Mmmhhh, setelah beberapa lama badannya bergetar menahan nikmat, ( aku juga sih, hhihihi). Mata kami masih sama-sama merem, menikmati sisa kenikmatan yang baru saja datang. Setelah

itu dengan masih sama-sama telanjang dan tangan masih di bawah, dia tanya apa yang baru dirasakan tadi. Kok geli banget tapi bikin badan gemetaran dan nikmat . Sambil senyum aku bilang itulah rasa orgasme, emang selama nikah kamu ga pernah ngerasin gitu. Dia bilang belum pernah tuh. Ohhh aku bilang saja mungkin karena suami kamu cepet keluar dan kurang merangsang kamu. Dia mengangguk. Lalu aku bilang beginilah aku untuk memenuhi dorongan seks aku, dia senyum-senyum saja. Mungkin rasa geli di klitorisnya masih ada, tapi sepertinya matanya sudah terlalu berat. Karena dia udah berat buka mata aku suruh dia tidur saja, dia bilang gimana nanti saja, habis masih enak sih. Jelas dong aku bilang.

Kami masih meneruskan ngobrol-ngobrol sampe pagi sambil ketawa ketawa dengan pengalaman kami tadi. Udah gak ada lagi kerunyaman di wajahnya. Setelah beberapa hari menginap di rumahku dia pun pulang ke kotanya, katanya sih ke rumah orang tuanya. Dia bilang dia akan menelpon soal perkembangan dia dengan suaminya, dan terima kasih sudah mau menghibur dia. Dan katanya dia mau belajar lebih jauh lagi tentang yang kami lakukan malam itu. Aku bilang kesini saja kapan-kapan, biar nanti aku ajarin pakai alat-alat bantu. Lalu kami sama-sama ketawa.


Cerita Sex Nikmatnya Pacar Sahabatku


Saya punya teman kuliah, namanya Rino, sekalipun beda jurusan tapi kami sering jalan bareng walau hanya sekedar cari makan malam-malam. Tempat kost Rino dekat dari kampus, agak jauh dari kost saya. Laki-laki berbadan sedikit kurus tapi tinggi itu mempunyai seorang pacar jurusan Psikologi sebut saja namanya Vina. Vina ini cukup akrab dengan saya, mengingat kami sering bertemu baik di kafe kampus maupun di kost Rino. Vina adalah seorang gadis yang cukup periang dan aktif, diluar itu dia seorang gadis yang cukup menawan. Dengan kulitnya yang putih dan rambut panjang lurusnya dipadukan dengan tinggi badan dan bentuk body yang aduhai, dia bisa dikategorikan sebagai salah satu bintang di fakultasnya.

“Hai Vin!” sapa saya saat bertemu dengannya di kost Rino, maklum saya sering main ke tempat cowoknya pas malam.

“Eh, hai Do! Lho Rino mana?” tanyanya.

Saat itu memang Rino sedang pergi untuk mencari sesuatu dan dia juga bilang butuh waktu agak lama dan karena kostnya sepi hanya ada satu orang temannya saja yang tinggal, maka dia meminta saya untuk sekalian jagain kamarnya.

“Oh….pergi yah. Padahal aku mau ajak dia ke supermarket.” katanya lagi setelah mendengar penjelasan saya.

“Oh gitu, mau beli apa sih emangnya? Penting gak? Kalau penting telpon aja atau kirim sms.” kata saya pada Vina.

“Gak ah… siapa tahu dia sedang ada urusan penting.” lanjutnya sambil merebahkan diri di kasur.

“Gila…” pikirku saat melihat lekuk tubuhnya waktu rebah di kasur.

Buah dadanya mencuat keatas dan pusarnya pun terlihat. Gadis ini memang luar biasa betul.
Sembari mencari-cari buku saya sengaja melirik-lirik kearah dadanya dan benar saja akhirnya saya melihat payudara berbalut bra warna kuning dari sela-sela kaosnya.

“Ehm… Rino beruntung yah bisa punya pacar kayak kamu.” kata saya padanya.

“Hah?? Beruntung gimana maksudmu?” tanyanya.

“Yah beruntung, dapat cewek cantik dan berbody aduhai kayak kamu.” lanjutku.

Kata-kata saya ternyata dapat membuat telinganya merah padam juga wajahnya karena malu.

“Ah.. kamu ini bisa aja…” Vina tersipu berusaha menutupi malunya tapi gagal.

“Memang wajahku ini cantik apa? Lagian tubuhku juga gak bagus-bagus amat kok.” sahutnya lagi.

Saya hanya tertawa kecil dan mendekatinya, sambil berbaring disampingnya saya berkata,

”Siapa bilang tubuhmu nggak bagus? Jujur saja kalau aku Rino aku gak akan biarin kamu ninggalin kamar ini walau sedetik.” Kata saya lagi.

Mendengar semua itu wajahnya tambah merona karena malu.

“Kamu ini muji atau apa sich?” tanyanya lagi.

Langsung saya memandang Vina dan secara tak sengaja mata kamipun bertautan. Entah setan mana yang membuat saya dan dia lupa diri karena tahu-tahu bibir kami berdua sudah bersentuhan. Saya mencium bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan sedangkan Vina juga membalasnya dengan pagutan yang tak kalah hebat.

“Hebat cewek ini, ciumannya maut…” kata saya dalam hati. Selama ini mungkin ciuman Vina lah yang paling hebat dari semua cewek yang pernah saya cium. Sambil terus melakukan French Kiss dengan Vina, tangan saya pun menjelajah tanpa batas lagi. Saya remas buah dadanya yang masih berbalut kaos dan bra itu. Tak perlu lama-lama akhirnya seluruh baju Vina sudah saya preteli, sambil saya mencumbu leher dan telinganya. Sekarang dia sudah telanjang bulat didepan saya.

“Do… ini salah Do. aku udah punya Rino, lagipula aku sama pacarku saja belum pernah sampai beginian. Aku takut.” kata Vina lirih.

“Semua ada kalanya yang pertama Vin.” hiburku.

Lalu saya lepas juga seluruh pakaian saya dan mulailah pergumulan kami di ranjang sahabat saya itu.

“Ahhhh… ochhhh…” desahnya setiap kali saya meremas buah dadanya dan menciumi puting payudaranya itu.

Secara naluriah, tangannya menggapai batang kejantanan saya yang sudah membesar dari tadi karena menahan nafsu.

“Ini yah yang namanya penis orang dewasa? Kok gede banget.” katanya polos.

Saya hanya tersenyum saja saat dia berkata itu dan dengan perlahan tapi pasti saya membimbing penis saya itu kearah bibir vagina Vina yang sudah sangat basah.

“Baru juga bentuknya Vin, belum kegunaannya. Ntar kalau udah tau rasanya bakalan minta terus lho.” selorohku.

“Jangan Do… aku nggak mau mengkhianati Rino.” katanya dengan nada pasrah memelas diselingi air mata.

Tapi apa daya, nafsu mengalahkan logika. Sekali dorong penis saya sudah masuk setengah bagian kedalam vagina Vina.

“Aaahhhhhh… Dooo… sakitt…” rintihnya.

Tidak saya pedulikan lagi toh tinggal separuh jalan. Dan bleshhhh… masuk sudah semua penis saya kedalam vaginanya.

“Aahhhh… Do… aku… ahh, udah masuk?” katanya terbata-bata.

Saya mengangguk dan tersenyum kecil. Saya mulai goyangan pinggul saya dengan gerakan maju mundur yang semakin lama semakin cepat durasinya.

“Ohhh… ahhh… ohhh… ahhh… ahhh…” desah Vina.

Dengan bantuan cairan kewanitaan dan darah perawannya, gerakan saya terasa lebih leluasa dari tadi.

“Vin, memekmu bener-bener legit. Ternyata selain cantik kamu juga berpotensi besar dalam urusan ranjang.” selaku.

Dia hanya terdiam tersipu sambil menahan sejuta rasa nikmat dan keperihan di liang kewanitaannya yang sekarang sedang dijarah batang kejantanan saya. Setelah kurang lebih 10 menit berlangsung acara persetubuhan itu, akhirnya saya merasakan akan segera keluar.

“Vin… aku keluar nih. Keluarin di dalam yah?” kata saya lagi sambil mempercepat genjotan saya.

“Jangan Do, ntar aku hamil…” pinta Vina.

Tapi sudah terlambat, saya segera mengejang dan memeluk dia sangat erat saat muntahan sperma saya keluar dari ujung penis saya dan membasahi seluruh liang vagina Vina.

“Ohh… Vin…a hhhhhh…” desahku sementara Vina hanya terpejam matanya sambil setengah menangis.

Usai pergulatan itu, Vina memakai pakaiannya lagi dan pamit. Tapi sebelumnya dia minta pada saya supaya tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Saya sih setuju saja asal dia tidak kapok melayani saya. Mendengar persyaratan saya dia hanya tertunduk diam dan pergi.

20 menit kemudian Rino datang dan dia terkejut melihat sprei kasurnya terdapat bercak merah. Saya hanya mengatakan padanya kalau itu bercak obat merah yang tertumpah dari bifet atas karena saya tak sengaja tersandung dan menabrak lemari kecil itu. Dia pun tidak banyak curiga, hanya sedikit ngomel-ngomel pada saya. Ternyata dia habis kena tilang karena tidak membawa STNK waktu membawa motor dan butuh waktu lama untuk meyakinkan polisi bahwa dia bukan kriminal dan itupun setelah dia kehilangan uang 50 ribu rupiah buat nyogok. Dalam hati saya berkata, ”Sebenarnya kamu telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari 50 ribu rupiahmu.” Dia hanya mengomel saat saya menertawainya tanpa dia tahu apa sebabnya.

Cerita Sex Pemuas Nafsu Bu Dosen


Saat aku membuka pintu rumahnya, aku agak terbelalak karena dia memakai gaun tidur yang tipis, sehingga terlihat payudara yang menyumbul keluar. Saat kuperhatikan, ternyata dia tidak memakai BH. Terlihat saat itu buah dadanya yang masih tegar berdiri, tidak turun. Putingnya juga terlihat besar dan kemerahan, sepertinya memiliki ukuran sekitar 36B.

Sewaktu sedang memperhatikan Dosenku itu, aku kepergok oleh pembantunya yang ternyata dari tadi memperhatikanku. Sesaat aku jadi gugup, tetapi kemudian pembantu itu malah mengedipkan matanya padaku, dan selanjutnya ia memberikan minuman padaku. Saat ia memberi minum, belahan dadanya jadi terlihat (karena pakaiannya agak pendek), dan sama seperti dosenku ukurannya juga besar. Kemudian dosenku yang sudah duduk di depanku berkata, (mungkin karena aku melihat belahan dada pembantu itu)

“Kamu pingin ya ‘nyusu’ sama buah dada yang sintal?”

Aku pun tergagap dan menjawab, “Ah… enggak kok Bu..!”

“Nggak papa kok kalo kamu pingin, Ibu juga bersedia nyusuin kamu.” Katanya.

Mungkin karena ia aku anggap bercanda, aku bilang saja, “Oh.., boleh juga tuh Bu..!”

Tanpa diduga, ia pun mengajakku masuk ke ruang kerjanya. Setelah kami masuk ke ruangannya, ia berkata, “Indra, tolong liatin ada apaan sih nih di punggung Ibu..!”

Kemudian aku menurut saja, aku lihat punggungnya. Karena tidak ada apa-apa, aku bilang, “Nggak ada apa-apa kok Bu..!”

Tanpa disangka, ia malah membuka semua gaun tidurnya, dengan tetap membelakangiku. Aku lihat punggungnya yang begitu mulus dan putih. Kemudian ia menarik tanganku ke payudaranya, oh sungguh kenyal dan besar. Kemudian aku merayap ke putingnya, dan benar perkiraan aku, putingnya besar dam masih keras. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, ia tersenyum sambil membuka celana dalamnya. Terlihat di sekitar kemaluannya ditumbuhi bulu yang lebat.

“Kenapa Ibu membuka baju..?” tanyaku.

“Sudah.., tenang saja! Pokoknya puaskan aku malam ini, kalau perlu hingga pagi.” Katanya.

Karena aku ingin juga merasakan tubuhnya, aku pun tanpa basa-basi terus menciuminya dan juga buah dadanya. Aku hisap hingga ia merasa kegelian. Kemudian ia membuka pakaianku, ia pun terbelalak saat ia melihat batang kejantananku.

“Oh, sangat besar dan panjang..!”

Dosenku pun sudah mulai terlihat atraktif, ia mengulum penisku hingga biji kemaluanku.

“Ah.. ahh Bu… enak sekali, terus Bu, aku belum pernah dihisap seperti ini..!” desahku.

Karena dipuji, ia pun terus semangat memaju-mundurkan mulutnya. Aku juga meremas-remas terus buah dadanya, nikmat sekali kata dosenku. Kemudian ia mengajakku untuk merubah posisi menjadi 69. Aku terus menjilati vaginanya dan terus memasukkan jariku.

“Ah.. Indra, aku udah nggak kuat nih..! Cepet masukin kontolmu..!” katanya.

“Baik Bu..!” jawabku sambil mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang senggamanya.

“Ah.., ternyata sempit juga ya Bu..! Jarang dimasukin ya Bu..?” tanyaku.

“Iya Ndra, suami Ibu jarang bercinta dengan Ibu, karena itu Ibu belum punya anak, dia juga sebentar permainannya.” jawabnya.

Kemudian ia terus menggelinjang-gelinjang saat dimasukkannya penisku sambil berkata, “Ohh… ohhh… besar sekali penismu, tidak masuk ke vaginaku, ya Ndra..?”

“Ah nggak kok Bu..” jawabku sambil terus berusaha memasukkan batang keperkasaanku.

Kemudian, untuk melonggarkan lubang vaginanya, aku pun memutar-mutar batang kemaluanku dan juga mengocok-ngocoknya dengan harapan melonggarkan liangnya. Dan betul, lubang senggamanya mulai membuka dan batang kejantananku sudah masuk setengahnya.

“Ohhh… ohhh… Terus Ndra, masukin terus, jangan ragu..!” katanya memohon.

Setelah memutar dan mengocok batang kejantananku, akhirnya masuk juga semua rudalku kedalam liang kewanitaannya.

“Oohh pssfff… aha hhah.. ah…” desahnya yang diikuti dengan teriakannya, “Oh my good..! Ohhh..!”

Aku pun mulai mengocok batang kemaluanku keluar masuk. Tidak sampai semenit kemudian, dosenku sudah mengeluarkan cairan vaginanya.

“Oh Indra, Ibu keluar…” terasa hangat dan kental sekali cairan itu.

Cairan itu juga memudahkan aku untuk terus memaju-mundurkan batang keperkasaanku. Karena cairan yang dikeluarkan terlalu banyak, terdengar bunyi, “Crep.. crep.. sleppp.. slepp..” sangat keras. Karena aku melakukannya sambil menghadap ke arah pintu, sehingga terdengar sampai ke luar ruang kerjanya.

Saat itu aku sempat melihat pembantunya mengintip permainan kami. Ternyata pembantu itu sedang meremas-remas payudaranya sendiri, mungkin karena bernafsu melihat permainan kami. Oh, betapa bahagianya aku sambil terus mengocok batang keperkasaanku maju mundur di liang vagina dosenku. Aku juga melihat tontonan gratis ulah pembantunya yang masturbasi sendiri, dan baru kali ini aku melihat wanita masturbasi.

Setelah 15 menit bermain dengan posisi aku berada di atasnya, kemudian aku menyuruh dosenku pindah ke atasku sekarang. Ia pun terlihat agresif dengan posisi seperti itu.

“Aha.. ha.. ha…” ia berkata seperti sedang bermain rodeo di atas tubuhku.

15 menit kemudian ia ternyata orgasme yang kedua kalinya.

“Oh, cepat sekali dia orgasme, padahal aku belum sekalipun orgasme.” batinku.

Kemudian setelah orgasmenya yang kedua, kami berganti posisi kembali. Ia di atas meja, sedangkan aku berdiri di depannya. Aku terus bermain lagi sampai merasakan batas dinding rahimnya.

“Oh.. oh.. Indra, pelan-pelan Ndra..!” katanya.

Kelihatannya ia memang belum pernah dimasukkan batang kemaluan suaminya hingga sedalam ini. 15 menit kemudian ia ternyata mengalami orgasme yang ketiga kalinya.

“Ah Indra, aku keluar, ah… ah… ahhh… nikmat..!” desahnya sambil memuncratkan kembali cairan kemaluannya yang banyak itu.

Setelah itu ia mengajak aku ke bath-tub di kamar mandinya. Ia berharap agar di bath-tub itu aku dapat orgasme, karena ia kelihatannya tidak sanggup lagi membalas permainan yang aku berikan. Di bath-tub yang diisi setengah itu, kami mulai menggunakan sabun mandi untuk mengusap-usap badan kami. Karena dosenku sangat senang diusap buah dadanya, ia terlihat terus-terusan menggelinjang. Ia membalasnya dengan meremas-remas buah kemaluanku menggunakan. Setelah 15 menit kami bermain di bath-tub, kami akhirnya berdua mencapai klimaks yang keempat bagi dosenku dan yang pertama bagiku.

“Oh Indra, aku mau keluar lagi..!” katanya.

Setelah terasa penuh di ujung kepala penisku, kemudian aku keluarkan batang kejantananku dan kemudian mengeluarkan cairan lahar panas itu di atas buah dadanya sambil mengusap-usap lembut.

“Oh Indra, engkau sungguh kuat dan partner bercinta yang dahsyat, engkau tidak cepat orgasme, sehingga aku dapat orgasme berkali-kali. ini pertama kalinya bagiku Indra. Suamiku biasanya hanya dapat membuatku orgasme sekali saja, kadang-kadang tidak sama sekali.” ujar dosenku.

Kemudian karena kekelalahan, ia terkulai lemas di bath-tub tersebut, dan aku keluar ruang kerjanya masih dalam keadaan bugil mencoba mengambil pakaian aku yang berserakan di sana.

Di luar ruang kerjanya, aku lihat pembantu dosenku tergeletak di lantai depan pintu ruangan itu sambil memasukkan jari-jarinya ke dalam vaginanya. Karena melihat tubuh pembantu itu yang juga montok dan putih bersih, aku mulai membayangkan bila aku dapat bersetubuh dengannya. Yang menarik dari tubuhnya adalah karena buah dadanya yang besar, sekitar 36D. Akhirnya aku pikir, biarlah aku main lagi di ronde kedua bersama pembantunya. Pembantu itu pun juga tampaknya bergairah setelah melihat permainanku dengan majikannya.

Aku langsung menindih tubuhnya yang montok itu dengan sangat bernafsu. Aku mencoba melakukan perangsangan terlebih dulu ke bagian sensitifnya. Aku mencium dan menjilati seluruh permukaan buah dadanya dan turun hingga ke bibir kemaluannya yang ditumbuhi hutan lebat itu. Tidak berapa lama kemudian, kami pun sudah mulai saling memasukkan alat kelamin kami.

Kami bermain sekitar 30 menit, dan tampaknya pembantu ini lebih kuat dari majikannya. Terbukti saat kami sudah 30 menit bermain, kami baru mengeluarkan cairan kemaluan kami masing-masing. Oh, ternyata aku sudah bermain seks dengan dua wanita bernafsu ini selama satu setengah jam. Aku pun akhirnya pulang dengan rasa lelah yang luar biasa, karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan bercinta dengan wanita.

Cerita Sex Perkenalan Dengan Silvy


Namaku Rendy umur 44, aku bekerja di kota S, di kota tersebut aku tidak banyak kenalan. Setelah aku bekerja lebih kurang 1 bulan, saat itu diatas meja kerjaku ada sebuah koran daerah, dan pada saat itu aku iseng membaca artikel yang ada di koran tersebut. Tanpa sengaja aku tertuju pada iklan jodoh dan aku mencoba menghubungi nomor telpon cewek yang ada di iklan tersebut, tapi apa yang aku dapati semuanya nomor telpon yang tidak aktif. Dengan rasa kesal dan kecewa aku coba mengirim sms ke iklan tersebut kali-kali, dan namaku akan di terbit di koran tersebut.

Singkat cerita, pada suatu hari kira-kira 2 minggu setelah aku sms, tiba-tiba handphone-ku berdering, ternyata ada seorang cewek yang mau mengajak kenalan denganku, dia mengaku bernama Silvy umur 37 tahun, keturunan Chinese, dan kami pun bercanda gurau selama berkomunikasi di siang itu, dan aku berjanji akan menghubungi dia lagi di malam hari nanti.

Pada malam hari aku mencoba menghubungi Silvy dan panjang lebar aku menanyakan tentangnya, ternyata Silvy ini adalah seorang istri yang tidak jelas statusnya, sebab suaminya pergi entah kemana tanpa di cerai maupun pesan buat Silvy. Hal ini telah dialami lebih kurang 2 tahun. Dan dengan kesempatan ini aku mencoba menanyakan bagaimana dia menyalurkan hasrat sexnya di saat-saat dia meninginkannya, dan dia pun menyatakan bahwa dia sering melakukan mastrubasi dan saat itu juga aku menawarkan dia melakukan Phonesex denganku dan dia sangat antusias sekali dan kami pun mulai melakukan aktifitas phonesex.

Setelah nafsu kami terlampisakan malam itu, kami berjanji akan ketemu di malam berikutnya. Dan sesuai perjanjian kami malam pun tiba dan aku menjemput dia di daerah yang telah di janjikan. Setelah Silvy di dalam mobil aku mencoba menawarkan dia ke hotel yang terdekat, ternyata Silvy tidak menolak sesuai dengan janji kami semalam. Dalam perjalanan ke Hotel yang akan kami tuju, aku mulai mencoba meraba-raba paha Silvy, kebetulan malam ini dia pakai rok. Silvy juga mencoba melebarkan selangkangannya agar mudah bagiku untuk menjamah memeknya, dan tangan Silvy aku letakan di atas pahaku dan dia mulai membuka risleting celana yang aku pakai.

“Ren, boleh nggak burungnya aku keluarin dari celana Rendy?”

dengan spontan aku menjawab, “Boleh, emangnya mau di apain?”

“Aku kepingin isap Ren” katanya.

Dan kepala Silvy pun diarahkan ke penisku, aku sangat menikmatinya dengan cara dia mengisap penisku, dan dia mulai mengulumnya dan tidak ketinggalan juga biji pelerku dijilatin.

“Ren enak benar kontol kamu yang keras sekali, emh… eemmh… aah…” dengan lahapnya Silvy mengisap batangku, sementara aku tetap mengobok-obok memek Silvy, ternyata memeknya telah mengeluarkan lendir yang telah terangsang oleh tanganku…

Kami telah sampai di hotel dan kami pun sudah di dalam kamar hotel.

“Vy, kita mandi dulu yuk” ajakku.

Dan kami pun berdua telanjang bulat di kamar mandi, aku mencoba menyabunin badan Silvy yang putih. Ternyata payudara Silvy berukuran 36C, cukup besar. Aku menyabunin Silvy dari belakang dan aku peluk dari belakang sambil menyabunin kedua payudara Silvy dan sambil aku remas-remas. Sementara batang penisku yang masih ada sabunnya aku letakan di celah-celah belahan pantat Silvy sambil maju mundur aku lakukan agar penisku mengesek-gesek memeknya dari belakang.

“Aah Ren… ahh Ren…. aaahh… emmhh… oouhh…”

Setelah itu aku siram badannya dengan air shower dan Silvy mengarahkan tangannya ke tembok, dia minta aku jilatin memeknya dari belakang dan megenai lubang anusnya. Sambil menjilat memeknya sesekali aku menjilati lubang anusnya dengan lidahku dan sesekali lidahku aku masukin ke lubang anusnya.

“Aduh Ren isapin kacangnya dong… please… sedot terus Ren… aaahh terus Ren… enaaak…”

Silvy pun tidak tahan dan kepingin mengisap batang penisku. Ternyata dia suka isap penis suaminya dulu. Dalam keadaan aku duduk di samping bathtub, Silvy jongkok sambil menjilati ke dua biji pelerku, dan Silvy minta aku untuk sambil menarik-narik pentil payudaranya, karena dia menikmati sekali pentilnya di tarik-tarik dan di remas-remas apalagi diisap yang kuat teteknya.

Kami pun pindah ke ranjang, Silvy telentang di ranjang sambil aku jilatin memeknya.

“Aduh Ren… masukin jari kamu dong ke lubang memekku… Ren ayo dong sambil ngentotin mulutku dengan kontol kamu” dan kami pun melakukan posisi 69.

“Ren… Ren… terus Ren enak aaahh…” dan aku lalu membalikkan badanku.

Sekarang posisiku diatas tubuh Silvy dan aku gesek-gesekkan kepala penisku di memeknya dan pelan-pelan aku gesek-gesek terus.

“Ayo Ren masukin kontolmu ke memekku, aku udah gak tahan nih, eemmmhh…”

Dan batang penisku aku masukin ke lubang memeknya yang basah, dan aku goyangin keluar masuk di lubang memeknya. plok… plok… plok… plok… Sambil tanganku meremas-remas teteknya, dan mulutku mengisap payudaranya yang satunya lagi. Ternyata Silvy minta aku menyedot sekuat-kuatnya.

“Aaahh Ren… terus Ren… ahh… aahhh…” jerit Silvy.

Dan Silvy minta dingentotin dengan gaya doggy style sambil tanganku meremas kedua payudaranya.

“Ren jilatin anus aku dong biar basah… nanti masukin kontol kamu ya di lubang anus aku, aku mau anus aku di ngentotin juga, ya Ren?” pintanya. Ternyata Silvy dulunya sering di ngentotin anusnya oleh suaminya.

Dan Silvy pun mencapai puncaknya. Sementara aku belum tuntas dan dia minta aku memuncratkan air maniku di mulutnya.

“Ayo Ren muncratin ke mulut aku, aku mau makan pejuhnya”

Dan saat akan mencapai puncak aku arahkan penisku di mulut Silvy. crot… crot… crot… Ternyata dia menelan semuanya. Semua itu kami lakukan sampai 2 jam dan malam itu juga aku mengantar Silvy pulang. Dia berjanji akan melakukannya kembali denganku.

Cerita Sex Om Doni Tetanggaku



Namaku Linda, Aku masih kelas 3 SMA. Tubuhku bisa di bilang agak bongsor, soalnya aku puber dari kelas 2 SMP. Akibatnya ketika aku kelas 1 SMA aku udah gak perawan karena kena rayuan mantan pacarku. Wajahku pun bisa di bilang cantik, soalnya banyak yg memuji di facebook setiap aku upload foto.

Aku tinggal di Jakarta, tepatnya Jakarta Timur, aku memang selalu berpenampilan seksi, bukan pengen cari sensasi sih, tapi aku memang suka aja, soalnya simple dan gak bikin panas, apalagi dengan keadaan Jakarta yang panas banget. Cuman resikonya tiap aku jalan atau pake motor pasti cowok-cowok selalu nyorakin aku atau siul-siul. seneng juga sih jadi perhatian, cuman agak norak aja kalo di jalan.

Waktu itu hari terakhir sekolah, soalnya hari pembagian rapot udah di bagiin. Waktu itu aku pulang gak bareng nyokap soalnya aku ada janji sama teman-temanku buat refreshing dulu dan balik sekitar jam 5 sore. Waktu itu gerimis dan aku cuman pake kaos putih tipis sama hotpants. Dalam perjalanan pulang ke rumah aku lewat tempat fitnes. Tempatnya lumayan bagus sih, tapi sepi malah jarang yang make paling cuma ada 1 atau 2 orang aja. Aku lihat di balik jendela sambil lewat, ada satu pria yang lagi fitnes, yah namanya juga anak gym pasti bodynya kekar dan berotot, umurnya sekitar 35 tahunan. Memang udah agak tua sih buat cewek seumuran aku, tapi justru aku seneng banget sama cowok yang lebih dewasa.

Aku tau namanya Doni, dia temen kantor bokap aku sekaligus instruktur fitnesnya dan kadang suka main ke rumah kalo ada urusan kantor. Dia tinggal di belakang rumahku dan dia duda karena dicerai istrinya, dan kalo aku lagi maen di lapangan sama temen-temenku, dia pasti selalu lihat kearahku dengan tampang mupeng, rumahnya memang saling berhadapan dengan lapangan. Aku pernah lihat dia berdiri di atas balkon rumahnya hanya pakai celana boxer sambil mengelus burungnya, sampe berdiri malah. Sebenernya aku tau dia lagi ngeliatin aku, cuman aku pura-pura gak lihat aja. Dia pasti terangsang banget lihat aku cuman pake tanktop sama rok mini, dan posisiku pas duduk agak ngakang, dan dia pun bisa liat cd aku sepuasnya.

Singkat cerita, waktu itu nyokap sama bokap dan adek aku lagi pergi ke tempat tanteku, katanya ada yang sakit, jadi aku di rumah sendirian. Waktu itu mendung dan sedikit gerimis. Karena gak tau mau ngapain, akhirnya muncul niat isengku buat ngerjain tuh si Om Doni. Aku ganti baju pake tanktop putih dan sengaja gak pake bra dan celana hotpants. Aku gak khawatir kalo aku gak pake bra soalnya puting aku ga terlalu gede juga sih, tapi kalo lagi terangsang ya kliatan jelas banget hehe. Aku langsung keluar rumah jalan kaki ke arah lapangan, dan disana aku duduk sendiri di bangku pojokan. Gak berapa lama ada yang manggil aku, bener aja ternyata Om Doni yang manggil.

“Hey Lin, ngapain disitu sendiri?” katanya dengan sedikit teriak sambil mendekatiku.

“Eeeh om Doni, iya nih bete sendirian di rumah”

“Ooh, dirumah om aja yuk ngobrolnya, mendung nih”

Tanpa pikir panjang aku langsung mengikuti gerak langkahnya menuju ke rumahnya.

“Ayo, sini masuk Lin”

“Iya makasih Om. Dingin yah, kok Om gak dingin cuman pake celana pendek sama kaos doang?” kataku sambil duduk di sofa.

“Yaah, kalo Om kan cowok kuat lah, kamu dong yang harusnya dingin cuman pakai pakaian minim gitu”

“Minim gimana Om?” tanyaku sambil melipat tubuh kblakang agar tonjolan toketku mnjiplak ke arahnya.

“Baju cewek kan emang gini” sahutku.

“Ya udah, mau minum apa nih Lin?”

“Hmm apa aja boleh deh. Eh Om aku boleh numpang ke wc ga?”

“Oh boleh, tuh wc-nya ada di ujung terus ke kiri”

“Iiih gelap Om, anter yuk” pancingku.

“Yaah kamu udah gede masih takut aja, ya udah ayuk sini”

Aku berjalan di belakang Om Doni, terlihat tubuhnya sangat tegap dan kekar. Kejahilanku pun dimulai, aku pura-pura melihat tikus, dan melompat ke depan lalu memeluk Om Doni.

“Iiih Om ada tikus” aku sedikit menjerit sambil memeluk ke arah depan.

“Mana? Mana tikusnya?

“Itu disana!..”

Perutnya yang sixpack dapat aku rasakan, sesekali pahaku aku gesekan kearah penisnya agar dia makin refleks.

“Aah udah nggak ada kok”

Aku pun melepaskan pelukanku, benar saja ketika aku melepaskan pelukanku, tangan Om Doni langsung menutupi celananya karena penisnya yang naik.

Maaf tadi aku kaget jadi ngerepotin deh”

“Iya gapapa kok. Kamu jadi gak nih mau ke wcnya?”

“Aah gak deh om, aku tunggu di ruang tamu aja”

Saat itu aku pun berjalan cekikikan kearah ruang tengah. Aku lihat ada sebuah komputer.

“Om aku nyalain ya komputernya” tanyaku sedikit teriak.

“Iya boleh nyalain aja”

Aku pun iseng membuka beberapa folder, dan benar saja ada banyak koleksi video bokep. Aku pun penasaran dan menyetel filmnya, speker nya pun aku matikan. Karena terlalu asik, aku tidak sadar disamping sudah ada Om Doni.

“Hayoo lagi ngapain?! Seru banget.

“Eehh Om Doni kok cepet ya” dengan rusuh aku menutup video playernya.

“Haah cepet, Om udah dari tadi kok. Kamu suka liat yang begituan ya?

“Eeh enggak kok, tadi cuman asal pencet aja.

“Oh gapapa ko, Om gak akan bilangin kamu ke papah, asal ada syaratnya”

“Apa om?”

“Kita nonton lagi, tapi berdua ya”

“Heemm… ya udah deh” aku pun tertangkap basah, dan mnrima resikonya.

“Tapi Om kursinya cuman satu”

“Gapapa kamu Om pangku aja mau ya”

Tanpa pikir panjang aku ngangguk aja, sebenernya aku juga udah terangsang banget gara-gara film yang aku lihat tadi. Pas aku duduk di pangkuannya, bener aja si Om Doni udah konak banget, tapi aku belaga gak tau.

“Aaah…” terdengar sedikit desahan Om Doni.

“Kenapa om? Berat ya?”

“Enggak kok. Sini kita nyalain suaranya”

Aku pun menonton sambil menunduk karena malu. Tangan Om Doni terus mengusap pahaku bagian dalam, bikin aku makin kepancing. Alhasil putingku pun naik. dan kakiku makin ngakang.

“Om udaah… jangan aah… geli…” kataku dengan polos.

“Loh kenapa? Kan kamu seneng”

Lalu dia mulai menciumi leherku, dan tangannya mulai naik ke perutku. Aku bener-bener terangsang banget. Tanpa sadar mulut Om Doni sudah dekat dengan mulutku. Karena terpancing, kami pun saling berciuman, tangan kanan Om Doni meremas payudaraku dengan lembut, dan tangan kirinya menggesek-gesek vaginaku yang masih tertutup celana.

“Aaah om geli ommm… iyaah di situ om…”

Tanganku melingkar ke lehernya, sambil pantatku aku goyang-goyang karena kegelian. dan penisnya Om Doni makin gak bisa diam.

“Om, itunya udah keras tuh, kasian pengen keluar” bisikku dengan genit.

“Iya nih, kamu bukain dong Lin” Tanpa pikir panjang aku yang udah horny pun membuka celana Om Doni dan menarik kontolnya keluar.

“Iih gila Om gede banget”

“Ini gara-gara kamu sih Lin, kocokin dong Lin plis”

Tanganku pun dia raih dan diarahkan ke kontolnya. Karena aku terlanjur gemes gak sengaja aku remes kontolnya.

“Aaww sabar Lin pelan-pelan aja”

“Eeh iya Om maaf”

“Gapapa kok. Sambil diemut dong Lin”

Aku pun menurut, aku kocok lalu aku sepong perlahan.

“Aah iya gitu Lin, pinter banget kamu... Agak cepet Lin”

Om Doni makin tak kuasa menahan sepongan dariku. Sekitar 10 menit, aku ngerasa kontolnya makin gak terkontrol. Kontolnya mengebu-gebu seperti mau meledak gitu.

“Lin teruus kocokin Lin”

Aku sengaja diem biar dia kesiksa.

“Loh ko diem? Plis dong kocokin lagi Lin”

“Emang kenapa Om?” aku pura-pura belaga polos.

“Ntar kamu liat deh, ada kejutan, ayo cepet”

Aku pun kocokin dengan cepat.

“Aaaah enaak Lin… teruuus aaah… dikit lagii… aaahh…”

Tiba-tiba “Crooot… crooooott… crooottt…” muncratlah air maninya mengenai payudaraku yang masih tertutup tanktop.

“Iih Om, keluar tuh air maninya, banyak banget lagi, sampe kena Linda pula” kataku dengan nada kesal.

“Aaahh, aduh sory Lin, Om terlalu kebawa suasana, abis enak banget sih, om udah lama nggak begituan, jadi wajar klo muncratnya banyak”

Dia pun melihat kearah payudaraku yang kena air maninya. Tangannya pun langsung mengelus payudaraku.

“Iiih Om jangaan aah geli”

“Aah kamu masih pura-pura, sini Om bukain tanktop kamu”

“Ooh tetek kamu indah banget Lin, kamu ga pake bh ya, pantes aja dari tadi Om perhatiin kenyal banget”

“Aah Om bisa aja”

Aku pun melepaskan celanaku, namun cd nya tidak kulepas, begitu pula Om Doni. Om Doni pun mulai lagi, dia menciumku, kami saling bergulat lidah, bahkan tangannya terus meremas-remas toketku.

“Om isepin dong, aku juga pengen kayak Om tadi”

“Iih kamu nakal ya kecil-kecil” dia pun langsung turun ke vaginaku dan menjilat dari balik cd-ku.

“Aaahh om… iyaa enaak terrruuus di situ Om…”

Tangan om Doni pun menyambut, dia memasukan 2 jarinya ke vaginaku, dan lidahnya masih menjilati.

”Aaachhh… enak Om… ah ahh ashh hmm… Om, aku ga tahan lagi Om, ahhhh… ashhhhhh…. masukin kontol Om dong…”

Tapi Om Doni sengaja gak mau masukin kontolnya, dia masih bermain-main dengan vaginaku dengan lidah dan jarinya, sampai aku memohon-mohon.

“Om, cepet dong… masukin kontol Om kedalam memekku, aku udah gak tahan lagi… ahh ahhhh… ayoo Om… cepet masukin”

Lalu Om Doni pun memasukkan kontolnya didalam vaginaku.

“Oh… asiknya Om… ah ahahhh ashhhh” Om Doni mengenjot pelan pelan.

“Om, ahh ahh…”

“Yang cepet dong ngenjotnya… ahhh ashhh ahhhhahhhh… lebih kuat dong…”

“Wah, kamu binal sekali Lin… Om baru tau…” lalu dia mengenjot lebih cepat dan kuat sambil melumat bibirku dan meremas payudaraku kuat-kuat.

“Om lebih kuat remas tetekku… ahhhh… ahhh…”

Kami berganti posisi ke doggy style, lalu women on top. Om Doni sangat lihai dalam permainan ini. Dia membuatku lupa diri dan merasa high sekali. Kaim berdua meraung-raung keenakan di ruang tengah, bahkan sambil tiduran di karpet.

“Aahhh… aaaaahhhhh… assshhhhh… ouhhh…”

“Lin, Om udah mau keluar… Om crotin di dalam memek Linda yah”

“Iya Om, boleh… ahh… ahhhh… cepet aahhh… Linda juga udah mau keluar… aahhh… aaahhhh…” Om Doni mengenjot lebih cepat dan kuat.

Tiba-tiba tubuhnya mengenjang, tandanya dia sudah keluarin spermanya di dalam vaginaku. Lalu Om Doni mengeluarkan kontolnya dan meletakan di dalam mulutku, aku mengulum kontolnya dengan asik dan Om Doni mengerang bergetar-getar keenakan. Lalu kami berbaring sejenak sambil berciuman.

“Kamu hebat banget Lin, Om baru tau kalo kamu jago banget, bikin Om puas”