WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Dengan Dokter Cantik

Fransiska adalah seorang dokter muda yang biasa dipanggil dengan dokter Siska. Siska baru saja menikah dengan seorang insinyur muda bermasa depan cerah, yang bekerja di sebuah instansi pemerintah. Sosok Siska amat menawan, jadi tak heran banyak pasiennya yang kagum dan simpati kepadanya. Selain cantik Siska juga tinggi dan memiliki kulit sawo matang, di tunjang dada yang tidak terlalu menyolok jika dilihat.


Saat ini Siska baru saja berumur 28 tahun dan telah menyelesaikan spesialisnya. Ia sudah menikah dengan Irwan kurang lebih 1 tahun, mereka memutuskan untuk menunda dulu punya bayi demi karier Siska dan Irwan. Kehidupan pasangan ini sangat mesra dan harmonis, mereka sama2 berasal dari lingkungan yang berada dan cukup terpandang di kota itu.

Suatu hari Siska mendapat tugas dari kantornya untuk mengabdi di sebuah pulau yang baru saja menjadi kabupaten di provinsi itu. Sebagai dokter yang telah terikat sumpah bakti, maka dengan berat hati ia menerima tugas itu, meskipun ia akan berpisah beberapa saat dengan suaminya Irwan. Jarak pulau itu dengan kota provinsi memang agak jauh di tempuh dengan kapal laut perintis sekali seminggu. Saat pertama Siska menempuh pulau itu, ia di antar Irwan,suaminya, bagaimanapun Irwan ingin melihat lingkungan tempat kerja istrinya itu.

Dokter Siska menempati rumah dinas yang memang agak jauh dari rumah penduduk lain dan dekat dengan puskesmas. Selama di sana, Irwan selalu menasehati istrinya agar berhati hati dengan penduduk pulau itu, yang memang masih sedikit tertinggal peradabannya. Ia percaya Siska bisa menjaga diri, tapi dalam hatinya memang ada sedikit kekuatiran. Karena selain cantik, hanya Siska seorang wanita yang bertugas di puskesmas itu.

Hampir setiap malam Irwan menyirami batin Siska dengan kemesraan2. Ia berharap Siska akan puas, dan sebab tidak setiap saat mereka bersama. Hampir semua cara telah di praktekan Irwan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Siska, dan selalu di akhiri dengan kepuasan yang tinggi bagi keduanya.

Pada saat itu di puskesmas tinggallah Siska seorang diri dan di bantu oleh seorang laki2 yang bertugas sebagai pengantar ke desa2 pinggir pulau itu untuk memberikan pelayanann kesehatan. Lelaki itu bernama pak Husin, ia penduduk asli kota itu. Umurnya sudah 56 tahun tapi masih kuat mengayuh dayung perahu, yang selalu membawa Siska ke desa itu. Sosoknya cukup tinggi, hitam dan amat di takuti dipulau itu. Husin juga memiliki istri 3 orang dan ia di segani dipulau itu. setiap hari Husin selalu menemani Siska , kedesa dengan perahunya.

Teradang jika larut malam, pak Husin tidak pulang ke rumah istrinya, karena jauh dan ia menginap di rumah dinas Siska. Ia juga mengetahui sesekali Irwan, suami Siska datang dan bermalam di rumah itu. Suatu hari, Husin tanpa sengaja melihat Siska dan Irwan sedang melakukan hubungan badan, ia tidak tahu saat itu Irwan ada di rumah.

Ia sempat melihat kepolosan Siska saat di senggamai Irwan. Dan sejak saat itu, ia slalu terbayang akan sosok tubuh Siska. Pada akhir2 setelah itu, suami Siska jarang datang ke pulau itu dan kebetulan pak Husin menanyakan kepada Siska,

“Buk, pak Irwan kok jarang kesini lagi?” tanyanya.

“Oooo.. bang Irwan sekolah lagi ke jawa. Yahhh kira-kira 4 sampai 5 bulan pak” jawab Siska.

“Pantas bapak gak pernah kelihatan” kata Husin.

Sebulan kemudian, suatu malam sepulang dari desa, hujan turun dengan derasnya dan disertai angin topan. Untunglah saat itu Siska dan pak Husin telah sampai dipinggir sungai. Lalu dengan basah kuyup mereka berlari kerumah Siska.

Sesampainya dirumah Siska menyilahkan pak Husin masuk,

“Masuk aja pak, nanti saya ambilkan handuk” kata Siska sambil berlalu kebelakang.

Lalu ia memberikan handuk dan pak Husin pun membuka pakainannya yang basah. Sedangkan Siska ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan mengganti pakainannya yang basah dengan pakaian tidurnya. Lalu ia kedepan dan memberikan baju bekas suaminya ke pak Husin.

“Dipakai saja baju bang Irwan ini pak” kata Siska ke pak Husin.

“Makasih buk” kata pak Husin.

Lalu Siska ke dapur dan membuatkan kopi panas buat pak Husin. Tak lama kemudian ia keluar dan menghidangkan kopi panas kepada Husin sambil jongkok. Saat itu sempat terlihat belahan dada yang tertutup bh oleh pak Husin, “alangkah mulusnya,,” guman pak Husin dalam hati.

Siska saat itu tidak sadar bahwa dadanya sempat diintip Husin. Ia lalu duduk di sofa itu sambil berkata,

“diminum kopinya pak”

“baik buk” kata Husin.

Lalu Siska berbincang dengan pak Husin,

“pak, kalau hujan dan dingin gini apa bisa pak Husin tidur di sofa ruang tamu aja?” kata Siska.

“Soalnya kamar hanya satu” katanya lagi.

“Ooo gak apa apa buk” jawabnya.

“Oh ya udah pak. Saya tidur dulu ya” kata Siska.

Sambil bergurau pak Husin bilang “Hati2 bukkk, kalau takut, biar saya temani di kamar” katanya

“Ooooo.. jangan pakkk, nanti saya khilaf pak” kata Siska gak kurang guraunya.

“Sekali-kali gak apa buk, kan ibu kesepian”

“Wahhh kurang ajar juga orang ini” kata Siska dalam hati.

“Tidak pak” kata Siska lagi.

Lalu pak Husin berdiri dan mengikuti Siska ke kamarnya.

“Lho... ada apa kok bapak mengikuti saya?” tanya Siska.

“Saya tahu ibu pasti kedinginan dan butuh belaian, sebab ibu sudah agak lama tidak berhubungan dengan suami ibu. Jadi saya bersedia menggantikan suami ibu” kata Husin lagi.

“Keluar…!!!!” kata Siska keras.

“Jangan galak-galak bu, nati kecantikan ibu habis” jawabnya lagi.

“Cuma sebentar kok bu, gak ada orang yang tahu juga” kata pak Husin.

Sedang Siska saat itu dalam hatinya bergolak ingin marah dan menampar muka pak Husin. Namun ia tahu ia hanya seorang diri di malam yang di sertai hujan deras itu.

“Buk, saya sudah lama juga ingin bersama ibu” kata pak Husin.

“Sejak saya melihat ibu dan bapak berdua saat itu” imbuhnya.

“Kalau ibu tidak mau, saya akan berusaha membuat ibu mau” katanya lagi.

Saat itu tak ada pilihan lain bagi Siska. Memang saat itu nafsunya sedang berada dipuncak, namun ia tidak ingin dengan pak Husin yang dekil. Namun ia tidak ada pilihan lain.

Siska hanya diam saja dan duduk di pinggir ranjangnya, sementara pak Husin terus masuk kekamar dan duduk di samping Siska. Lalu ia membelai rambut sebahu Siska, sambil menciumi bibir Siska. Siska hanya diam dan menanti apa yang akan diperbuat lelaki itu. Pak Husin lalu berdiri, menutup pintu kamar dan menguncinya.

Ia lalu membelai dada Siska, ia turunkan baju tidur Siska sambil menciumi leher jenjangnya. Setelah baju tidur itu terbuka, ia lalu buka pengait bh yang berukuran 34b itu. Tampak dua gunung kembar yang mulus dan terawat. Mulut pak Husin tak henti-hentinya menciumi dan menjilati puting susu Siska. Sebelah tangannya lagi turun kebawah dan membuka kain penutup vagina Siska. Lalu Siska ia baringkan di ranjang, cd Siska ia tarik kebawah, lalu terbukalah goa kenikmatan yang tertutup bulu halus.

Lalu jari pak Husin memasuki goa itu. Ia memainkan nafsu Siska hingga Siska pun sempat orgasme dan mengeluarkan cairannya. Pak Husin lalu membuka pakainanya, sehingga mereka sama-sama telanjang bulat. Penis pak Husin tampak tegak mengacung ingin cepat2 masuk kedalam vagina dokter Siska. Siska yang telah terbuai nafsu hanya pasrah dan menanti.

Tubuhnya terlentang di ranjang, tangannya hanya terbuka, dan dadanya penuh keringat. Tanpa menunggu lebih lama lagi pak Husin membuka paha Siska dan memasukan penisnya yang besar kedalam lubang vagina Siska. Dengan penuh nafsu pak Husin memaju-mundurkan pantatnya, menyodokkan penisnya yang keras itu di lubang kemaluan Siska yang sudah basah.

Siska hanya pasrah mengikuti permainan pak Husin sambil terus mendesah.

“aachh,, oouuuhhh,, mmhhh,,, aah,, aaaahh,,,” hanya kata kata itu yang keluar dari mulut siska.

Semakin lama Siska pun seperti semakin menikmati permainan pak Husin yang semakin intense. Desahan-desahan lirihnya mengiringi setiap sodokan penis pak Husin di vaginanya. Siska tidak menyangka bisa mendapat kenikmatan dari lelaki selain suaminya, bahkan ia merasakan kenikmatan yang lebih. Mungkin karena ukuran penis pak Husin yang lebih besar dari suaminya.

Setelah sekitar 20 menit pak Husin memaju mundurkan penisnya, barulah ia memuntahkan spermanya di dalam vagina Siska. Sedang Siska sejak pertama tadi telah klimaks berulang ulang. Mereka pun kemudian langsung tidur, dan malam itu berlalu tanpa sepatah kata pun dari Siska.

Setelah kejadian itu, saat birahi Siska sedang berada di puncak, ia terkadang meminta pak Husin untuk menemaninya di kamar, hanya untuk memuaskan nafsunya. Pak Husin pun dengan senang hati menuruti permintaan Siska. Dan sampai saat ini mereka masih berhubungan.

Cerita Sex Guruku yang Menggairahkan

Hari itu saya berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasa, mau nyontek PR teman. Oh ya, saya sekolah di SMA negeri di sebuah kota kecil. sekolah ini termasuk unggulan, namun bukan dalam hal akademisnya melainkan dalam hal ekskulnya. Setiap pulang para siswa terlebih dahulu mengikuti ekskul hingga sore hari. Karena termasuk sekolah baru, guru yang mengajar umumnya masih muda. Mereka rata-rata tidak ada yang berumur lebih dari 30 tahun.


Jam 6 pagi saya sampai di sekolah, segera saya contek PR teman saya yang terlebih dahulu datang. Tidak terasa saya mengerjakan PR hingga bel masuk berbunyi. Untungnya PR saya selesai lebih dulu. Pelajaran pertama biologi. Saya sih enjoy aja mengikutinya apalagi gurunya manis, masih muda lebih tinggi sedikit dari saya dengan berat badan yang ideal, dan berjilbab. Dia baru mulai mengajar 3 hari yang lalu. Kami biasa memanggilnya Bu Lisa. Pagi itu Bu Lisa datang memakai baju warna hitam dan jilbab dengan warna sama. Dia menggunakan jilbab selengan. Selain mengajar biologi, dia juga menjadi pengurus UKS. Maklum sekolah kami masih baru minim SDM.

Saya tidak konsen menerima pelajaran karena memperhatikan tubuh Bu Lisa. Saya membayangkan apabila Bu Lisa yang berjilbab itu telanjang. Tentu merupakan hal yang menarik apabila wanita berjilbab namun tidak berbusana. Selama ini saya hanya bisa menghayal bu Lisa yang berjilbab telanjang di depan saya. Memikirkan hal itu saya jadi ngaceng. Tak terasa pelajaran selesai, saya lihat jilbabnya melambai-lambai.

Pukul 1 siang bel pulang berbunyi, saya segera mempersiapkan diri untuk ikut ekskul. Saya menjadi kapten tim sepak bola di sekolah saya, sehingga harus bertanggung jawab pada ekskul itu. Ekskul yang saya ikuti berlangsung mulai jam 2 siang hingga 4 sore.

Tak terasa sudah jam 4 sore. Semua anggota tim pulang, sedangkan saya masih ada di sekolah untuk membereskan peralatan ekskul. Memasuki sekolah, suasana terasa lain. Jika setiap pagi sangat ramai, keadaan di sore hari berbeda 180 derajat. Koridor yang tadinya ramai kini menjadi sepi. Saya berjalan menuju gudang untuk meletakkan bola sepak. Pada saat perjalanan kembali saya melewati ruang guru. Saya lirik sebentar hanya tinggal tas Bu Lisa. - nonton download video bokep indonesia ringan via mobile > indoasoy.com - Guru lainnya sudah pulang sedangkan dia masih di sekolah. Saya menyempatkan diri mandi di kamar mandi dekat ruang guru. Di sana hanya ada 2 kamar mandi satu untuk pria satu untuk wanita. Namun dindingnya tidak membatasi dengan sempurna, ada sekitar 30 cm celah di atas dinding yang membatasi kamar mandi itu.

Di kamar mandi baju saya tidak segera saya lepas. Saya menunggu keringat saya mengering. Belum selesai saya menunggu keringat saya kering, terdengar suara kamar mandi sebelah terbuka. Saya hanya diam saja karena saya pikir bisa mendapat pemandangan bagus. Saat mengintip saya terkejut karena ternya di sana saya lihat Bu Lisa, guru berjilbab yang mempunyai wajah manis seperti artis sinetron. Saya lebih terkejut lagi karena bu Lisa saat itu sedang berjongkok tanpa mengenakan rok panjangnya. Terlihat roknya berada di gantungan kamar mandi. Saat itu dia memandangi gambar di ponselnya. Saya menduga dia tengah menonton bokep, karena terlihat dia tidak bisa mengendalikan diri dan menggosok-gosok vaginanya. Tak saya sangka walaupun berjilbab, Bu Lisa sangat bernafsu. Saya abadikan momen masturbasi bu Lisa tersebut dalam ponsel kamera saya. Bu Lisa tidak sampai mengerang, mungkin dia malu apabila terdengar orang lain. Walaupun berjilbab namun suka masturbasi ternyata dia masih punya malu.

15 menit setelah Bu Lisa muslimah berjilbab yang “alim” itu keluar dari kamar mandi, saya selesai mandi. Saya lihat foto hasil jepretan saya tadi. Saya lihat seeorang wanita manis berjilbab dengan tangan yang berada di vaginanya. Saya lihat kakinya putih dan mulus sekali. Saya jadi terangsang melihatnya. Sengaja saya lewati ruang guru, saya lihat Bu Lisa masih di sana. Segera saya hampiri dia kemudian saya elus-elus jibab hitamnya.

“Ngapain kamu!” dia menggertak.

Saya tunjukkan fotonya saat bermasturbasi tadi, saya lihat dia sangat shock.

“Kalo ibu tidak mau melayani saya, foto ini akan saya sebar luaskan” ancam saya sambil terus mengelus-elus jilbabnya.

Dia hanya terdiam tanpa kata-kata. Saya jambak jilbabnya agar dia mengikuti saya menuju ruang UKS. Sesampainya di sana pintu saya kunci.

“Ibu meskipun pakai jilbab ternyata libidonya tinggi yah” kata saya.

Saya lihat air matanya hampir keluar. Segera saya perintah Bu Lisa untuk mengoral kontol saya. Dia menuruti saya karena takut gambarnya tersebar. Saya usap-usap jilbab Bu Lisa. Air matanya terlihat menetes membasahi jilbabnya. Namun saya tertawa penuh kemenangan sambil mengusap-usap jilbabnya. 15 menit kemudian saya rasakan gejolak di penis saya. Tak mampu menahan lebih lama, sperma saya keluar dengan deras. Karena kaget Bu Lisa melepas kulumannya sehingga sperma saya tidak hanya menodai wajah manisnya namun juga jilbabnya. Saya lihat jilbabnya yang semula hitam polos kini ada motif putih karena spermsaya. Namun saya belum puas. Saya perintahkan dia melepas semua bajunya namun tetap mamakai jilbabnya. Dan saya juga segera melepas bajuk saya. “impianku melihat Bu Lisa berjilbab namun tidak berbusana akhirnya terpenuhi” kata saya dalam hati.

Saya lihat dugaan saya tidak salah, Bu Lisa terlihat menantang walau telanjang tanpa melepas jilbabnya. Dadanya montok seolah minta untuk diemut. Segera saya raih dada kanannya dan saya kulum dengan rakus.

“Aahh… aaahh… aahhh...” walau saya paksa ternyata Bu Lisa menikmatinya.

Saya lihat wajahnya di balik jilbab ketika sedang horny, hal itu segera membuat saya “ON” lagi. Bu Lisa saya baringkan di ranjang dalam UKS dan saya serbu mulut guru berjilbab itu dengan nafsunya. Sekitar 10 menit saya lakukan hal itu. Kemudian saya pandangi wajahnya yang masih terbalut jilbab manis sekali. Kemudian saya suruh dia menungging. Segera saya tancapkan kontol saya ke memeknya, rasanya sempit sekali. Saya genjot tubuh guru saya sambil memegangi jilbab hitamnya. Seperti joki yang memacu kuda. Sekitar 20 menit saya rasakan kontol saya tidak kuat menahan sperma yang akan keluar.

“aaaahhh………” saya berteriak bersamaan dengan keluarnya sperma saya dalam memeknya.

Setelah keluar semua, saya copot jilbab guru saya untuk membersihkan kontol saya dan memeknya dari cairan yang keluar baik dari memeknya maupun dari kontol saya. Terlihat rambutnya yang hitam sebahu yang selama ini tersembunyi dibalik jilbabnya. Saya sangat terangsang melihatnya, apalagi saat itu Bu Lisa terlihat sangat menggairahkan dengan keringat di sekujur tubuhnya.

Karena saya merasa masih mampu untuk mengocok bu Lisa, saya minta dia untuk berbaring telentang. Tanpa membuang waktu segera saya tusuk vaginanya. Dia terlihat sangat menikmati permainan saya ini. Puas dengan posisi itu, gantian saya yang telentang, kemudian saya minta dia menggenjot kontol saya dari atas. Jepitan vaginanya terasa enak sekali. Genjotannya yang liar membuat saya tidak bisa bertahan lama. Lima menit kemudian saya memuncratkan lagi sperma saya di lubang kenikmatan Bu Lisa. Terlihat wajahnya yang manis menunjukkan ekspresi kepuasan.

Sehabis itu kami ngobrol sebentar sambil memakai baju. Saya cukup penasaran mengapa tadi waktu saya entot tidak keluar darah, dari ceritanya saya tahu walau berjilbab, dulu Bu Lisa pernah ngeseks dengan pacarnya sebelum pakai jilbab. Setelah itu kami segera keluar sekolah karena takut ketahuan orang lain.

Tak terasa terdengar adzan maghrib. Bu Lisa saya lihat segera menuju tempat parkir dan menutupi jilbabnya yang penuh sperma dengan helm sepeda motor, mungkin dia malu bila ketahuan ada sperma di jilbabnya. Saya pun segera pulang dengan penuh senyum kemenangan.

Cerita Sex Hadiah Dari Pamanku


Cerita ini bermula ketika saya berlibur ke kota dimana paman saya tinggal, Salatiga. Waktu itu hari minggu, saya diajak paman beserta keluarganya untuk pergi ke sebuah daerah dekat Salatiga, yaitu Kopeng, yang terkenal dengan hawanya yang cukup dingin. Akhirnya saya, paman, bibi, dan ketiga anaknya berangkat ke Kopeng dengan menggunakan mobil saya.

Perjalanan kami saat itu cukup menyenangkan. Kami ngobrol kesana kesini tentang tempat yang akan kami datangi. Sama sekali tidak terpikirkan oleh saya bahwa mobil Kijang yang saya kendarai itu bakal membuat masalah. Dan benar saja, sepuluh menit sebelum kami tiba di Kopeng, mobil itu mogok. Paman dan anak-anaknya berusaha mendorong dari belakang dengan sekuat tenaga. Sementara Bibi duduk dalam mobil itu dengan raut wajah cemas.

Seperempat jam mobil itu belum juga dapat dinyalakan mesinnya. Walaupun dibantu oleh beberapa orang tukang becak, namun si Kijang masih juga mogok. Akhirnya kami memutuskan untuk membawanya ke bengkel yang tidak jauh dari tempat itu. Sementara itu keluarga Paman akhirnya pulang kembali ke Salatiga dengan naik angkutan umum yang lewat di sana.

Mobil yang dipaksa didorong itu akhirnya sampai juga di depan bengkel. Bengkel itu disebut BENGKEL TIARA oleh penduduk setempat, menurut mereka TIARA itu singkatan dari TIDAK ADA PRIA. Setelah saya perhatikan, ternyata semua montirnya, walau berseragam montir yang berlepotan oli, adalah para wanita muda yang cantik dan seksi. Mereka terlihat ramah dan senang diajak ngobrol. Kasirnya juga seorang wanita. Jadi sama sekali tidak ada pegawai pria di sana. Hebat juga ya? Melihat kenyataan itu, pikiran iseng saya muncul.

Kebetulan mobil Kijang saya mereka tarik ke ruang dalam bengkel yang sunyi senyap dan tertutup. Dua orang montir cantik ditugaskan untuk menangani mobil itu. Saat mereka tengah memeriksa bagian depan mobil Kijang tempat mesinnya berada, dengan sengaja saya julurkan kedua tangan saya ke arah pantat mereka. Mereka sedang berdiri menunduk untuk memeriksa mesin mobil. Perlahan saya raba pantat mereka dengan pelan. Tidak ada reaksi. Karena kelihatannya mereka tidak keberatan, lalu saya remas-remas pantat mereka berdua. Nah kali ini mereka menoleh.

"Mas... tangan Mas nakal deh... kalo mau yang lebih enak, tunggu ya. Begitu kami selesai menservis mobil ini, pasti yang punya mobil akan kami servis juga. Jangan kuatir deh.., kami ahlinya dalam menservis dua-duanya. Hahaha..." ujar salah seorang montir cantik yang belakangan saya ketahui bernama Vita sambil tersenyum genit.

Saya kaget bukan kepalang. Nah ini dia yang saya cari. Jarang lho ada bengkel seperti ini. Ternyata apa yang dijanjikan Vita ditepati mereka berdua. Saat itu juga saya diajak ke lantai atas di sebuah rumah di belakang bengkel besar itu. Disana ada beberapa kamar yang dilengkapi dengan perlengkapan tidur dan perlengkapan mandi yang serba modern. Begitu mewah dan mentereng tempatnya. Jauh sekali perbedaannya bila dibandingkan dengan bengkel di depannya.

Kedua cewek montir tadi, seorang lagi bernama Nurul, saat saya terperangah menatap ruangan kamar itu, tiba-tiba entah dari mana muncul dengan hanya mengenakan pakaian minim. Alamaak..! Hanya BH dan celana dalam tembus pandang yang menutupi tubuh seksi mereka. Saya tidak menyangka bahwa tubuh mereka yang tadinya terbungkus seragam montir berwarna biru muda, begitu seksi dan montok. Buah dada mereka saja begitu besar. Vita kelihatannya berpayudara 36B, dan Nurul pasti 38. BH yang menutupinya seperti tidak muat. Langsung saja si penis andalan saya mulai mengeras. Tanpa menunggu waktu lagi, saya segera membuka pakaian saya.

Setelah hampir semua baju dan celana saya terlepas, keduanya tanpa banyak bicara mendorong saya supaya jatuh telentang di atas tempat tidur. Saya pun diserbu. Saat itu hanya tinggal celana dalam yang masih melekat di tubuh saya. Vita dengan ganasnya langsung menyerang bibir dan mulut saya. Ciuman dan permainan lidahnya begitu menggebu-gebu, hampir saja saya tidak dapat bernafas dibuatnya. Nurul pun tidak kalah ganasnya. Tangannya langsung meraba-raba senjata saya dari luar celana dalam saya. Pelan tapi pasti rabaan dan remasannya itu membuat saya menggelinjang hebat. Ia pun menjilati bagian penis saya itu, terutama di bagian kepalanya.

Lalu dengan inisiatifnya sendiri, Nurul menurunkan celana dalam saya. Maka si kecil pun langsung mencuat keluar, keras, tegak, dan besar. Tangan Vita langsung mengocok-ngocok penis saya. Sementara Vita mulai terus menjilati buah zakar dan terus ke bagian pangkal penis saya. Memang penis saya tergolong besar dibandingkan ukuran rata-rata penis orang Indonesia.

Kedua montir cantik itu sekarang bergantian menjilati, mengocok, dan mengulum penis saya seperti orang kelaparan. Saya sih senang-senang saja diperlakukan seperti itu. Sementara itu dengan leluasa kedua tangan saya bergegas membuka pengait bra mereka berdua. Setelah penutup payudara mereka terbuka, tangan saya mulai sibuk meremas-remas kedua gunung kembar mereka.

Beberapa menit kemudian, Nurul mulai membuka celana dalamnya. Lalu ia mengarahkan vaginanya ke mulut saya. Oh saya mengerti. Kini gantian saya yang harus menghisap bagian liang kewanitaannya. Seumur hidup saya sebenarnya saya belum pernah melakukannya. Saya takut karena baunya yang tidak sedap. Ternyata perkiraan saya salah. Saat saya endus baunya, ternyata vagina si Nurul terasa amat wangi. Karena baunya menyenangkan, saya pun menjulurkan lidah saya ke liang kemaluannya. Lidah saya berputar-putar masuk keluar di sekitar vaginanya.

Sementara itu, Vita masih terus mengulum dan mengisap penis saya. Kemudian tanpa dikomando, ia pun melepaskan CD-nya dan langsung duduk di atas perut saya. Dengan lembut tangan kirinya meraih penis tegak saya lalu pelan-pelan dimasukkannya ke dalam liang senggamanya. "Bless... bless... bless..!" terdengar suara kulit penis saya bergesekan dengan kulit vaginanya saat ia mulai turun naik di atas tubuh saya.

Saya jadi merem melek dibuatnya. Kenikmatan yang luar biasa. Ia juga terlihat terangsang berat. Tangan kanannya memegang payudara kanannya sementara matanya terpejam dan lidahnya seperti bergerak keluar masuk dan memutar. Dari mulutnya terdengar suara erangan seorang wanita yang sedang dilanda kenikmatan hebat.

Rupanya si Nurul tidak mau kalah atau tidak dapat bagian. Ia mendekati Vita yang sedang bergerak dengan asyiknya di atas perut saya. Vita pun mengerti. Ia turun dari perut saya dan menyerahkan penis saya kepada Nurul. Dengan raut wajah terlihat senang, Nurul pun duduk di atas penis saya. Yang lebih gilanya lagi, gerakannya bukan saja naik-turun atau memutar, tapi maju mundur. Wah.., saya jadi tambah terangsang nih jadinya. Dengan sengaja saya bangkit. Lalu saya cium dan saya emut payudara kembarnya itu.

Dua puluh menit berlalu, tapi 'pertempuran' 2 in 1 ini belum juga akan berakhir. Setelah Nurul puas, saya segera menyuruh keduanya untuk berjongkok. Saya akan menyetubuhi mereka dengan gaya doggy style. Konon gaya inilah yang paling disukai oleh para montir wanita yang biasa bekerja di bengkel-bengkel mobil bila ngeseks. Saya mengarahkan penis saya pertama-tama ke liang kenikmatan Vita dan tanpa ampun lagi penis itu masuk seluruhnya. "Bless! Jeb! Jeb..!" Kepala Vita terlihat naik turun seirama dengan tusukan saya yang maju mundur.

Tiba-tiba saja Vita memegang bagian kepala ranjang dengan kuatnya.

"Uh..! Uh..! Uh..! Aku mau keluar, Mas..!" erangnya dengan suara tertahan.

Rupanya ia orgasme. Lalu saya pun mencabut penis saya yang basah oleh cairan kemaluannya Vita dan saya masukkan ke vagina Nurul. Vagina Nurul ternyata lebih liat dan agak sulit ditembus dibanding punyanya Vita. Mungkin Nurul jarang ngeseks, walau saya yakin betul kedua-duanya jelas-jelas sudah tidak perawan lagi.

Begitu penis saya amblas ke dalam vagina Nurul, penis saya seperti disedot dan diputar. Sambil memegang pantat Nurul yang amat besar dan putih mulus, saya terus saja maju mundur menyerang lubang kenikmatan Nurul dari belakang. Hampir saja saya ejakulasi dari tadi. Untung saja saya dapat menahannya. Saya tidak mau kalah duluan. Sepuluh menit berlalu, tapi Nurul belum juga orgasme. Maka saya baringkan dia sekali lagi, dan saya akan menusuk vaginanya dengan gaya konvensional. Seperti biasa, ia berada di bawah saya dan kedua kakinya menjepit punggung saya. Saya dapat naik turun diatas tubuhnya dengan posisi seperti segitiga siku-siku. Matanya merem melek merasakan kedahsyatan penis ajaib saya.

Permainan saya diimbangi dengan usaha saya untuk mengulum puting payudaranya yang besar dan kenyal. Ternyata dengan mengulum payudara itu, spaning saya semakin naik. Penis saya terasa semakin membesar di dalam kemaluan Nurul. Dan tiba-tiba sesuatu sepertinya akan lepas dari tubuh saya. "Crot..! Crot..! Crot..!" saya mengalami ejakulasi luar dahsyatnya. Sebanyak dua belas kali semprotan mani saya berhamburan di dalam vaginanya Nurul. Saya pun lemas di atas tubuhnya.

Saat saya sudah tertidur di atas kasur empuk itu, tanpa setahu saya Nurul dan Vita cepat-cepat mengenakan pakaiannya kembali dan kemudian pergi entah kemana. Lalu saya dengar langkah seorang pria berjalan masuk ke kamar itu. Ia mendekati ranjang dan membangunkan saya.

"Ton.., bangun, Ton..!" tangannya yang kekar terasa menggoyangkan punggung saya yang telanjang.

Saat saya membuka mata, ternyata Paman!

"Lho, Paman.., bukankah Paman tadi udah pulang bersama Bibi dan adik-adik..?"

Ia menjawab sambil mengganggukkan kepala,

"Benar Ton... kedua wanita tadi adalah pegawai-pegawai Paman sebenarnya... Mereka berdua Paman suruh men'servis' kamu karena Paman dan Bibi tidak sempat memberimu hadiah ultahmu ke 28 bulan lalu, jadi itu hadiahnya. Dan mengenai mobil Kijang itu, Paman sengaja mengotak-atik kabel mesinnya, lalu kuajarkan kedua wanita itu untuk membetulkannya. Anggap aja kejutan ya, Van... tapi kamu puas kan sama pelayanan mereka berdua? Jangan kuatir.., selama kau berada di sini, Paman mempersilakan kamu mengencani mereka sampai kamu bosan. Kebetulan kan tiap hari mereka masuk kerja. Hehehe..."

Wah.., pengalaman tidak terlupakan nih! Memang sejak itu, selama 15 hari saya berada di Salatiga dalam rangka libur semesteran kuliah saya di Amerika, saya sepertinya tidak bosan-bosan melayani kencan seks kedua gadis seksi itu. Setiap kali kami selesai melakukannya, Vita selalu berkata,

"Mas... kami belum pernah merasakan penis yang begitu hebat dan perkasa menerobos vagina kami.., biasanya kalo tamu Pamanmu, mereka baru 1 menit udah KO! Tapi kamu kuat sekali... bisa sampai dua setengah jam... minum apa sih, Mas..?"

Setiap kali ditanya begitu, saya hanya tersenyum simpul dan menjawab, "Ada deh...” Keduanya menatap keheranan.

Cerita Sex Akibat Ketahuan Calon Mertua




Cerita Sex Akibat Ketahuan Calon Mertua
Seminggu setelah resmi jadian dengan Ratu, saya semakin gencar mengeskplorasi tubuh pacar baru saya itu. Kami sama-sama belum berpengalaman dalam sex, masih terhitung sebagai newcomer di bidang yang satu ini. Kendati demikian, saya sudah sukses menjelajahi buah dada dan sekitarnya.

Malam minggu itu saya menargetkan menjelajah sekitar selangkangannya. Saya penasaran banget dengan yang namanya vagina cewek.

"Ratu, ayo dong buka. Sedikit aja" pinta saya pada Ratu, sembari menggerayangi wilayah sekitar perut ke bawah.

Ratu kelihatan sangat ketakutan, tapi juga penasaran, kepingin tahu rasanya diobok-obok sama pacarnya sendiri.

"Jangan sayang..." balas Ratu manja, sembari berusaha menepis jari-jemari saya yang mulai berkeringat dan sedikit gemetar.

Nafas saya tersengal. Begitu pun nafas dia. Kami melakukannya di atas sofa ruang keluarga Ratu. Kebetulan di rumah itu cuma ada mamanya Ratu. Menurut Ratu, mamanya sudah tidur. Maklum sudah lewat jam 9 malam.

Setengah jam lebih usaha jari-jari saya menerobos masuk ke selangkangan Ratu gagal. Saya lantas memutuskan untuk pulang. Ratu menahan.

"Kok kamu gitu sih. Sebentar lagi deh sayang..."

"Kamunya sih kayak gini. Kan kita dah resmi jadian..." timpalku.

Kami pun bernegosiasi. Saya menuntut untuk bisa memegang liang vagina pacar saya, sementara dia menolak. Setelah berceramah panjang lebar, Ratu pun menyerah. Dia pasrah saat jari-jemari saya menyusup lewat sela-sela risleting celana jeans belelnya. Matanya terpejam, antara takut dan nikmat, ketika telunjuk saya pelan-pelan menggesek bibir kemaluannya.

Makin lama jari-jari saya makin liar menggesek-gesek, membuat Ratu mendesah-desah.

"Ssshh... mmhhh… mmm…"

Saya makin kencang menggesek. Saya kocok-kocok liang vaginanya itu. Ratu makin keenakan. Saya kian konak mendengar setiap desah nafasnya.

"Ssshhhh... aahhh... Sayang... hmm... aahhh... nakall kamu… aahhh…"

Saya kencangkan volume tivi untuk mengimbangi suara desahan nafas Ratu. Sebab, jarak antara sofa tempat kami bercumbu tak jauh dari kamar mamanya. Celaka kalau sampai mamanya terbangun dan melihat kami sedang bergumul di ruang tamu.

Ratu makin tak karuan mendesah,

"Sssshhh... emmmhh... Sayang... oohhh..."

Saya konak berat. Batang kemaluan saya sudah keras menyodok-nyodok ingin keluar dari peraduannya. Tapi, saya belum berani untuk mengeluarkannya, takut kalau nanti mamanya bangun, bisa berabe jadinya. Alhasil saya cuma bisa menggesek-gesekkan batang penis saya ke paha Ratu. Sambil bergesek ria, jari-jemari saya terus melakukan eksplorasi di liang vagina Ratu yang basah. Memeknya masih rapat. Yah, namanya juga perawan. Bulu-bulunya halus. Sesekali saya cabut jari-jari saya dari liang vagina itu, lalu saya jilati dan saya masukkan ke mulut Ratu.

"Ssshhh... hhmmm…"

Pukul 10 malam permainan eksplorasi saya di selangkangan Ratu berakhir. Ratu lemas lunglai saya buat. Dia terus menggelendot di tubuh saya sampai saya masuk ke sedan tua peninggalan ayah saya. Sejak kejadian malam itu, saya kian sering bergumul dengan pacar saya, di rumahnya. Saya colok-colok liang kemaluannya, dan Ratu pun sudah berani membalasnya dengan meremas-remas batang penis saya. Kami melakukanya tanpa bertelanjang.

Hingga pada suatu ketika saya memutuskan untuk lebih berani lagi melakukan sex dengan pacar ini. Celana panjang saya dan celana Ratu saya turunkan sebatas dengkul, hingga kami bisa sama-sama jelas menyaksikan barang masing-masing berada dalam kondisi konak. Seperti biasa, permainan ini kami lakukan saat mamanya Ratu sudah tertidur. Sepanjang permainan ini lampu ruang tamu rumah kami buat temaram. Sementara volume tv digedein. Dengan begitu, suara-suara desahan Ratu tak begitu mencolok. Saya dan pacar saya yakin sekali permainan kami aman. Sebab, mamanya Ratu kalau sudah tidur tidak akan bangun-bangun lagi.

Tante Ani, mamanya Ratu, seorang janda. Meskipun usianya sudah masuk kepala empat, namun masih seksi. Saya suka konak kalau melihat dia memakai daster, atau jeans ketat. Pantatnya terlihat seksi. Yang paling menarik darinya adalah buah dadanya yang mancung. Ditambah paras wajahnya yang ayu, menjadikan tante Ani menantang sekali bagi setiap lelaki.

Malam itu saya dan Ratu sudah semakin berani melakukan eksplorasi seks di ruang tamu rumahnya. Tubuh kami sudah separuh bugil, dimana celana kami sudah melorot ke bawah mata kaki walaupun tetap masih menempel.

Penis saya berdiri tegak lurus seperti rudal yang siap diluncurkan dari porosnya. Sementara liang vagina Ratu yang merah terbuka lebar seakan tersenyum renyah kepada penis saya. Meski demikian, kami masih sama-sama takut untuk melakukan ML. Yang berani saya lakukan hanyalah petting.

"Hhmmm… ssshh... aahhhh..." Ratu tak henti-hentinya mendesah setiap saya gesek-gesekkan batang penis saya. Makin lama makin cepat saya gesekkan.

"Aaahhh... hmmmm... yesss..." saya pun meracau.

"Ratu... oh… aku… mau keluar… nihhh... hmmm… oohhhh... enakk… mmhhh..."

Goyangan pinggul Ratu mengimbangi gesekan-gesekan batang penis saya. Uhhh... yess... oohhh... dan akhirnya cairan kental peju saya muncrat keluar. Crott.. crott.. crottt...

Saya terkulai lemas di atas tubuh Ratu. Kami berpelukan erat. Keringat mengucur deras di tubuh kami. Saya ciumi bibir mungilnya.

"Aku sayang kamu say…"

Selagi kami tengah melepaskan kelelahan, tiba-tiba pintu kamar Tante Ani terbuka. Secepat kilat saya dan Ratu berpakaian. Tapi sayang, Tante Ani sudah keburu melihat situasi ini. Dengan pandangan penuh amarah, Tante Ani memelototi kami berdua.

"Apa yang kalian lakukan di rumah ini?" bentaknya dengan nada emosi.

Batang penis saya sempat terlihat olehnya, karena saya tidak bisa cepat kalau memakai celana. Anehnya, meski berada dalam situasi genting seperti itu, burung saya masih saja tak kenal kompromi. Dia tetap mengeras. Sorot mata Tante Ani tak bisa dibohongi, menunjukkan rasa konak juga. Sebagai perempuan normal yang hidup menjanda lebih dari 3 tahun, tentu saja pemandangan seperti ini membuatnya bergairah. Tapi, karena disitu ada Ratu, mungkin saja dia berusaha menutupi kegusarannya ini dengan pura2 tidak terima kami berbuat mesum di ruang tamunya.

Ratu sendiri sudah mengenakan pakaiannya, meskipun bh-nya tak sempat dipakai dan terselip disela-sela sofa. Dia tampak panik sekali dimarahi mamanya karena ketahuan berpetting ria dengan saya.

"Ratu! Masuk!!" bentak Tante Ani.

Saya cuma bisa tertunduk, tak berani memandang si tante seksi ini. Tapi, dalam hati saya ada rasa bangga juga bisa memperlihatkan batang kemaluan saya yang cukup panjang dan besar ini. Ujung penis saya persis seperti topi baja tentara. Diameternya cukup membuat wanita manapun akan tergiur dan terangsang ingin memegangnya.

Setelah Ratu masuk ke kamarnya, tinggallah saya dan tante Ani di ruang tamu itu. Dia memarahi saya cukup lama, sembari memberi nasihat agar kami tidak lagi mengulangi perbuatan itu.

"Saya janji gak akan berbuat ini lagi tante," ujar saya pelan, sembari menundukkan wajah.

Nada suara tante kini sudah normal kembali. Tampaknya dia kasihan melihat saya yang sedari tadi terlihat ketakutan.

"Maksud tante mengingatkan kalian agar tidak terlalu jauh melanggar batas-batas pacaran. Tante tahu..." ujar tante Ani.

Pelan-pelan dia mendekati saya. Posisi tubuhnya kian merapat dengan saya. Saya mulai rileks, dan berani menatap mamanya Ratu. Saya lihat tatapan mata tante Ani sangat berbeda dari yang tadi. Kali ini seperti ada sebuah pengharapan. -nonton bok3p indo ringan > indoasoy.com- Batang kontol saya kian menegang menghadapi situasi ini. Haruskah saya melakukan hubungan sex dengan mamanya pacar baru saya ini? Pikiran saya berkecamuk, antara keinginan dan ragu-ragu. Begitupun terlihat dari bahasa tubuh tante Ani. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang.

"Saya pamit pulang tante..." katsa aya.

"Ya, hari sudah malam. Jangan terlalu diambil ke hati kata-kata kasar tante tadi. Anggaplah ini sebuah pelajaran buat kalian" jawab tante Ani sembari tersenyum.

Dia memegang bahu saya, dan merangkul saya, mengantarkan keluar rumah. Ingin sekali saya menciumnya.

Suasana di luar sudah gelap. Anehnya, tante tak melepaskan rangkulannya hingga saya akan masuk kedalam mobil saya. Dia menatap saya dalam-dalam, membuat pesona sexnya memancar hebat didalam sanubari saya. Tubuhnya menempel saya, terasa daging kenyal di dadanya mengenai lengan saya.

Dalam keremangan malam, dan gaun tidurnya yang seksi terlihat lekuk-leku tubuhnya. Saya kian tergoda untuk mencumbu mama pacar saya ini. Tidak ada siapa-siapa di garasi itu, kecuali kami berdua. Belahan dada tante Ani terlihat jelas.

"Maafin saya tante" ujar saya pelan.

Saya pegang bahunya, lalu saya beranikan diri untuk memeluknya. Tante Ani tak menampik, dia malah merapatkan tubuhnya ke tubuh saya. Selangkangannya menempel tepat di paha kanan saya. Cukup lama saya memeluknya, dan batang penis saya pun terasa menegang keras.

Paha tante Ani makin menempel, hingga selangkangannya kini menempel tepat di penis saya. Tangan saya bergeser memeluk pinggulnya, lalu pelan-pelan meremas-remas, dan berpindah ke pantatnya yang sekel.

Tante Ani tak mengeluarkan sepatah katapun, demikian pula saya. Sepertinya, saya sudah diatas angin. Tanpa berlama-lama lagi, langsung saja saya sosor bibirnya. Saya ciumi dengan penuh nafsu. Desahan nafasnya membuat saya semakin berani memagut bibirnya, lidahnya pun membalas liar.

Tante Ani mendorong tubuh saya hingga menempel dengan mobil, sementara pagutannya semakin bernafsu. Inilah sebuah pengalaman terindah saya bersama calon mertua. Sayang, kejadian itu tak berlanjut lebih jauh, mengingat ada Ratu di dalam sana.

Tapi, sejak kejadian itu, saya sering mendatangi tante Ani saat Ratu sedang les. Bahkan, tante Ani lah yang pertama kali mengajari saya cara ML. Kami melakukannya di atas sofa ruang tamunya itu. Tante Ani betul-betul hebat memberi saya pelajaran ngesex. Dia menyentuh sekujur tubuh saya dengan lembut, lalu tiba-tiba dia lakukan itu dengan beringas dan liar.

Satu hal yang tak akan pernah saya lupakan, adalah kehebatannya dalam mengulum batang penis saya. Kepala penis saya masuk ke rongga kerongkongannya, dijilati lidahnya dengan lembut, dikocok-kocok dengan bibirnya, sampai saya belingsatan tak karuan.

Seringkali dia merasa cemburu saat saya bersama dengan anak satu-satunya. Kalau sudah begitu, saya dan dia sama-sama mencari-cari kesempatan untuk bercumbu. Kami bisa melakukan dengan kilat disaat Ratu sedang membuatkan kopi panas untuk saya. Bahkan, pernah juga saat pacar saya sedang kebelet pipis, kami langsung on melakukan blowjob. Meski tidak sampai puas, namun begituan dalam situasi yang tidak aman membuat kami sama-sama merasakan sensasi kenikmatan yang hebat.

Cerita Dewasa Aneh Tapi Nikmat

Cerita Dewasa Aneh Tapi Nikmat


Mertua saya adalah seorang janda dengan kulit yang putih, cantik, lembut, dan berwajah keibu-ibuan, dia selalu mengenakan kebaya jika keluar rumah. Dan mengenakan daster panjang bila didalam rumah, dan rambutnya dikonde keatas sehingga menampakkan kulit lehernya yang putih jenjang.

Sebenarnya semenjak saya masih pacaran dengan anaknya, saya sudah jatuh cinta padanya. Saya sering bercengkerama dengannya walaupun saya tahu hari itu pacar saya kuliah. Diapun sangat baik pada saya, dan saya diperlakukan sama dengan anak-anaknya yang lain. Bahkan tidak jarang bila saya kecapaian, dia memijat punggung saya.

Setelah saya menikah dengan anaknya dan memboyong istri saya kerumah kontrakan saya, mertua saya rajin menengok saya dan tidak jarang pula menginap satu atau dua malam. Karena rumah saya hanya mempunyai satu kamar tidur, maka jika mertua saya menginap, kami terpaksa tidur bertiga dalam satu ranjang. Biasanya Ibu mertua tidur dekat tembok, kemudian istri ditengah dan saya dipinggir. Sambil tiduran kami biasanya ngobrol sampai tengah malam, dan tidak jarang pula ketika ngobrol tangan saya bergerilya ketubuh istri saya dari bawah selimut, dan istri saya selalu mendiamkannya.

Bahkan pernah suatu kali ketika saya perkirakan mertua saya sudah tidur, kami diam-diam melakukan persetubuhan dengan istri saya membelakangi saya dengan posisi agak miring, kami melakukankannya dengan sangat hati-hati dan suasana tegang. Beberapa kali saya tepaksa menghentikan kocokan saya karena takut membangunkan mertua saya. Tapi akhirnya kami dapat mengakhirinya dengan baik saya dan istri saya terpuaskan walaupun tanpa rintihan dan desahan istri saya.

Suatu malam mertua saya kembali menginap di rumah saya, seperti biasa jam 21.00 kami sudah di kamar tidur bertiga, sambil menonton TV yang kami taruh di depan tempat tidur. Yang tidak biasa adalah istri saya minta ia diposisi pinggir, dengan alasan dia masih mondar mandir ke dapur. Sehingga terpaksa saya menggeser ke tengah walaupun sebenarnya saya risih, tetapi karena mungkin telalu capai, saya segera tidur terlebih dahulu.

Saya terjaga pukul 2.00 malam, layar TV sudah mati. Ditengah samar-samar lampu tidur saya lihat istri saya tidur dengan pulasnya membelakangi saya, sedangkan disebelah kiri mertua saya mendengkur halus membelakangi saya pula. Hati saya berdesir ketika saya lihat leher putih mulus mertua saya hanya beberapa senti didepan bibir saya, makin lama tatapan mata saya mejelajahi tubuhnya, birahi saya merayap melihat wanita berumur yang lembut tergolek tanpa daya disebelah saya.

Dengan berdebar-debar saya geser tubuh saya kearahnya sehingga lengan saya menempel pada punggungnya sedangkan telapak tangan saya menempel di bokong, saya diamkan sejenak sambil menunggu reaksinya. Tidak ada reaksi, dengkur halusnya masih teratur, keberanikan diri saya bertindak lebih jauh, saya elus bokong yang masih tertutup daster, perlahan sekali, saya rasakan birahi saya meningkat cepat. Penis saya mulai berdiri dan dengan hati-hati saya miringkan tubuh saya menghadap mertua saya.

Saya tarik daster dengan perlahan-lahan keatas sehingga pahanya yang putih mulus dapat saya sentuh langsung dengan telapak tangan saya. Tangan saya mengelus perlahan kulit yang mulus dan licin, dari pahanya, keatas ke pinggulnya, kemudian kembali ke pahanya lagi, saya nikmati sentuhan jari saya inci demi inci, bahkan saya sudah berani meremas bokongnya yang sudah agak kendor dan masih terbungkus CD. Tiba tiba saya dikejutkan oleh gerakan mengedut pada bokongnya sekali, dan pada saat yang sama dengkurnya berhenti.

Saya ketakutan, saya tarik tangan saya, dan saya pura-pura tidur, saya lirik mertua saya tidak merubah posisi tidurnya dan kelihatannya dia masih tidur. Saya lirik istri saya, dia masih membelakangi saya, Penis saya sudah sangat tegang dan nafsu birahi saya sudah tinggi sekali, dan itu mengurangi akal sehat saya dan pada saat yang sama meningkatkan keberanian saya.

Setelah satu menit berlalu situasi kembali normal, saya angkat sarung saya sehingga burung saya yang berdiri tegak dan mengkilat menjadi bebas, saya rapatkan tubuh bagian bawah saya kebokong mertua saya sehingga ujung penis saya menempel pada pangkal pahanya yang tertutup CD. Kenikmatan mulai menjalar dalam penis saya, saya makin berani, saya selipkan ujung penis saya di jepitan pangkal pahanya sambil saya dorong sedikit-sedikit, sehingga kepala penis saya kini terjepit penuh dipangkal pahanya, rasa penis saya enak sekali, apalagi ketika mertua saya mengeser kakinya sedikit, entah disengaja atau tidak.

Tanpa meninggalkan kewaspadaan mengamati gerak-gerik istri, saya rangkul tubuh mertua saya dan saya selipkan tangan saya untuk meremas buah dadanya dari luar daster tanpa BH. Cukup lama saya melakukan remasan-remasan lembut dan menggesek-gesekkan penis saya dijepitan paha belakangnya. Saya tidak tahu pasti apakah mertua saya masih terlelap tidur atau tidak, tapi yang pasti saya rasakan puting dibalik dasternya terasa mengeras. Dan kini saya sadari bahwa dengkur halus dari mertua saya sudah hilang. Kalau begitu, pasti ibu saya mertua saya sudah terjaga..? Kenapa diam saja? kenapa dia tidak memukul atau menendang saya, atau dia kasihan kepada saya? atau dia menikmati..? Oh.. saya makin terangsang.

Tak puas dengan buah dadanya, tangan saya mulai pindah ke perutnya dan turun ke selangkangannya, tetapi posisinya yang menyebabkan tangan kanan saya tak bisa menjangkau daerah sensitifnya. Tiba tiba ia bergerak, tangannya memegang tangan saya, kembali saya pura-pura tidur tanpa merubah posisi saya sambil berdebar-debar menanti reaksinya. Dari sudut mata saya, saya lihat dia menoleh kepada saya, diangkatnya tangan saya dengan lembut dan disingkirkannya dari tubuhnya, dan ketika itupun dia sudah mengetahui bahwa dasternya sudah tersingkap sementara ujung penis saya yang sudah mengeras terjepit diantara pahanya.

Jantung saya rasanya berhenti menunggu reaksinya lebih jauh. Dia melihat saya sekali lagi, terlihat samar-samar tidak tampak kemarahan dalam wajahnya, dan ini sangat melegakan saya. Dan yang lebih mengejutkan saya adalah dia tidak menggeser bokongnya menjauhi tubuh saya, tidak menyingkirkan penis saya dari jepitan pahanya dan apalagi membetulkan dasternya. Dia kembali memunggungi saya meneruskan tidurnya, saya makin yakin bahwa sebelumnya mertua saya menikmati remasan saya di payudaranya, hal ini menyebabkan saya berani untuk mengulang perbuatan saya untuk memeluk dan meremas buah dadanya. Tidak ada penolakan ketika tangan saya menyelusup dan memutar-mutar secara lembut langsung ke puting payudaranya melalui kancing depan dasternya yang telah saya lepas. Walaupun mertua saya berpura-pura tidur dan bersikap pasif, tapi saya dengar nafasnya sudah memburu.

Cukup lama saya mainkan susunya sambil saya sodokkan kemaluan saya diantara jepitan pahanya pelan-pelan, namun karena pahanya kering, saya tidak mendapat kenikmatan yang memadai. Saya angkat pelan-pelan pahanya dengan tangan saya, agar penis saya terjepit dalam pahanya dengan lebih sempurna, namun dia justru membalikkan badannya menjadi terlentang, sehingga tangannya yang berada disebelah saya hampir menyetuh penis saya, bersamaan dengan itu tangan kirinya mencari selimutnya menutupi tubuhnya. Saya tengok istri yang berada dibelakang saya, dia terlihat masih nyenyak tidurnya dan tidak menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi di ranjangnya.

Saya singkap dasternya yang berada dibawah selimut, dan tangan saya merayap ke bawah CDnya. Dan saya rasakan vaginanya yang hangat dan berbulu halus itu sudah basah. Jari tangan saya mulai mengelus, mengocok dan meremas kemaluan mertua saya. Nafasnya makin memburu sementara dia terlihat berusaha untuk menahan gerakan pinggulnya, yang kadang-kadang terangkat, kadang mengeser ke kiri kanan sedikit. Saya nikmati wajahnya yang tegang sambil sekali-kali menggigit bibirnya. Hampir saja saya tak bisa menahan nafsu untuk mencium bibirnya, tapi saya segera sadar bahwa itu akan menimbulkan gerakan yang dapat membangunkan istri saya.

Setelah beberapa saat tangan kanannya masih pasif, maka saya bimbing tangannya untuk mengelus-elus penis saya, walaupun agak alot akhirnya dia mau mengelus penis saya, meremas bahkan mengocoknya. Agak lama kami saling meremas, mengelus, mengocok dan makin lama cepat, sampai saya rasakan dia sudah mendekati puncaknya, mertua saya membuka matanya, dipandanginya wajah saya, kerut dahinya menegang dan beberapa detik kemudian dia menghentakkan kepalanya menengadah kebelakang. Tangan kirinya mencengkeram dan menekan tangan saya yang sedang mengocok lobang kemaluannya. Saya rasakan semprotan cairan di pangkal telapak tangan saya. Mertua saya mencapai puncak kenikmatan, dia telah orgasme. Dan pada waktu hampir yang bersamaan air mani saya menyemprot ke pahanya dan membasahi telapak tangannya. Kenikmatan yang luar biasa saya dapatkan malam ini, kejadiannya begitu saja terjadi tanpa rencana bahkan sebelumnya membayangkanpun saya tidak berani.

Sejak kejadian itu, sudah sebulan lebih mertua saya tidak pernah menginap di rumah saya, walaupun komunikasi dengan istri saya masih lancar melalui telpon. Istri saya tidak curiga apa-apa, tetapi saya sendiri merasa rindu, saya terobsesi untuk melakukannya lebih jauh lagi. Saya coba beberapa kali saya telepon, tetapi selalu tidak mau menerima. Akhirnya setelah saya pertimbangkan maka saya putuskan saya harus menemuinya.

Hari itu saya sengaja masuk kantor setengah hari, dan saya berniat menemuinya di rumahnya, sesampai di rumahnya saya lihat tokonya sepi pengunjung, hanya dua orang penjaga tokonya terlihat sedang asik ngobrol. Tokonya terletak beberapa meter dari rumah induk yang cukup besar dan luas. Saya langsung masuk ke rumah mertua saya setelah basa basi dengan penjaga tokonya yang saya kenal dengan baik. Saya disambut dengan ramah oleh mertua saya, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa antara kami berdua, padahal sikap saya sangat kikuk dan salah tingkah.

"Tumben tumbenan mampir kesini pas jam kantor?"

"Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah kesana lagi sih"

Mertua saya hanya tertawa mendengarkan jawaban saya.

"Ron, Ibu takut ah.. wong kamu kalau tidur tangannya kemana-mana. Untung istrimu nggak lihat, kalau dia lihat.. wah bisa berabe semua nantinya"

"Kalau nggak ada Susi gimana Bu..?" tanya saya lebih berani.

"Ah kamu ada-ada saja, Memangnya Susi masih kurang ngasinya, kok masih minta nambah sama ibunya."

"Soalnya ibunya sama cantiknya dengan anaknya" gombalku.

"Sudahlah, kamu makan saja dulu nanti kalau mau istirahat, kamar depan bisa dipakai, kebetulan tadi masak pepes" selesai berkata ibu saya masuk ke kamarnya.

Saya bimbang, makan dulu atau menyusul mertua ke kamar. Ternyata nafsu saya mengalahkan rasa lapar, saya langsung menyusul masuk ke kamar, tetapi bukan di kamar depan seperti perintahnya melainkan ke kamar tidur mertua saya. Pelan-pelan saya buka pintu kamarnya yang tidak terkunci, saya lihat dia baru saja merebahkan badannya di kasur, dan matanya menatap saya, tidak mengundang saya tapi juga tidak ada penolakan dari tatapannya. Saya segera naik ke ranjang dan perlahan-lahan saya peluk tubuhnya yang gemulai, dan saya tempelkan bibir saya penuh kelembutan.

Mertua saya menatap saya sejenak sebelum akhirnya memejamkan matanya menikmati ciuman lembut saya. Kami berciuman cukup lama, dan saling meraba, dan dalam sekejap kami sudah tidak berpakaian, dan nafas kami saling memburu. Sejauh ini mertua saya hanya mengelus punggung dan kepala saya saja, sementara tangan saya sudah mengelus paha bagian dalam. Ketika jari saya mulai menyentuh vaginanya yang tipis dan berbulu halus, dia sengaja membuka pahanya lebar-lebar, hanya sebentar jari saya meraba kemaluanya yang sudah sangat basah itu, segera saya lepas ciuman saya dan saya arahkan mulut saya ke vagina merona basah itu. Pada awalnya dia menolak dan menutup pahanya erat erat.

"Jangan.. Ah pakai tangan aja, risih.."

Namun saya tak menghiraukan kata-katanya dan saya setengah memaksa, akhirnya dia mengalah dan membiarkan saya menikmati sajian yang sangat mempesona itu, kadang-kadang saya jilati klitorisnya, kadang saya sedot-sedot, bahkan saya jepit itil mertua saya dengan bibir saya lalu saya tarik-tarik keluar.

"Terus Ron.., Enak banget.. oh.. Ibu udah lama gak ngrasain kenikmatan kayak gini.. sstt…"

Mertua saya sudah merintih rintih dengan suara halus, sementara sambil membuka lebar pahanya, pinggulnya sering diangkat dan diputar-putar halus. Tangan kiri saya yang meremas-remas buah dadanya, kini jari saya sudah masuk kedalam mulutnya untuk disedot-sedot.

Ketika saya lihat mertua saya sudah mendekati klimaks, maka saya hentikan jilatan saya di memeknya, saya sodorkan penis saya ke mulutnya, tapi dia membuang muka kekiri dan kekanan, mati-matian tidak mau mengisap penis saya. Dan saya pun tidak mau memaksakan kehendak, kembali saya cium bibirnya, saya tindih tubuhnya dan saya dekap erat-erat, saya buka lebar-lebar pahanya dan saya arahkan ujung penis saya yang mengkilat dibibir vaginanya.

Mertua saya sudah tanpa daya dalam pelukan saya, saya mainkan penis saya dibibir kemaluannya yang sudah basah, saya masukkan kepala penis saya, saya kocok-kocok sedikt, kemudian saya tarik lagi, beberapa kali saya lakukan.

"Enak Bu?"

"Iya, dikocok kayak gitu memekku geli, udah cukup Ron, burungmu masukin yang dalem.."

"Sebentar lagi Bu, masih enak begini, geli sedikit-sedikit"

"Udah udah, aku udah gak tahan lagi, masukin yang dalem lagi Ron.. oohh.. ssttss.. Ibu udah gak tahan lagi, aduh enak banget memekku"

Sambil berkata begitu diangkatnya tinggi-tinggi bokongnya, bersamaan dengan itu saya masukkan penis saya makin kedalam memeknya sampai kepangkalnya, saya tekan penis saya dalam-dalam. Sementara Ibu mertua saya berusaha memutar-mutar pinggulnya, saya kocokkan penis saya dengan irama yang tetap, sementara tubuhnya rapat saya dekap. Bibir saya menempel di pipinya, kadang saya jilat lehernya, ekspresi wajahnya berganti ganti. Rupanya Ibu dan anak sama saja, jika sedang menikmati sex mulutnya tidak bisa diam, dari kata jorok sampai rintihan bahkan mendekati tangisan.

Ketika rintihannya mulai mengeras dan wajahnya sudah diangkat keatas saya segera tahu bahwa mertua saya akan segera orgasme, saya kocok penis saya makin cepat.

"Ron.. aduh aduh… Memekku senut-senut, ssttss.. Heeh kontolmu gede, enak banget.. Ron aku mau keluar.. oohh… Aku udah keluar.. oohh…"

Mertua saya menjerit cukup keras dan bersamaan dengan itu saya merasakan semprotan cairan dalam vaginanya. Tubuhnya lemas dalam dekapan saya, saya biarkan beberapa menit untuk menikmati sisa-sisa orgasmenya sementara saya sendiri dalam posisi nanggung.

Saya cabut penis saya yang basah kuyup oleh lendir memeknya, dan saya sodorkan ke mulutnya, tapi dia tetap menolak namun dia menggegam penis saya untuk dikocok didepan wajahnya. Ketika kocokkannya makin cepat, saya tidak tahan lagi dan muncratlah lahar mani saya ke wajahnya.

Siang itu saya sangat puas, demikian juga mertua saya, bahkan sebelum pulang saya sempat melakukannya lagi, ronde kedua ini mertua saya bisa mengimbangi permainan saya, dan kami bermain cukup lama dan kami bisa sampai mencapai orgasme pada saat yang sama.

Cerita Dewasa Teman Kost Jablay

Teman Kost Jablay - dan Seputar Dewasa Terbaru 2017



Cerita ini terjadi beberapa tahun lalu, pada waktu itu usia saya 21 tahun. Pada waktu itu saya mencari tempat kost di sekitar Tomang. Di sekitar sana memang banyak sekali kos-kosan karena memang disana dekat dengan kampus. Tentunya banyak rumah kost di sana, dari mulai yang model apartmen, sampai yang model kelas teri.

Setelah muter-muter bersama dengan teman saya si Ridwan, nyasarlah kami di sebuah tempat kost yang kelihatannya dari luar sih bukan kos-kosan, tapi di pagarnya ada tulisan “TERIMA KOST”. Ya karena dari tadi muter-muter belum keemu yang cocok, baik karena kemahalan maupun tempatnya kurang pas, maka iseng-isenglah kami coba lihat di tempat tersebut.

Awalnya yang membukakan pintu adalah Andin. Dia pun mengajak kami untuk masuk. Pas di ruang tengah ternyata ada beberapa cewek di sana. Pemilik tempat kost itu bernama Tono, dia asli Jawa Timur.

Sebetulnya kos-kosan di situ kamarnya macem-macem, ada yang murah (karena kecil), ada juga yang mahal (karena gede dan ada AC serta kamar mandi dalam). Kebetulan kamar yang tersisa di situ cuma yang paling gede. Waktu itu harganya Rp 600 ribu sebulan. Buat saya sebetulnya ngekos harga segitu mahal juga. Tapi yang bikin saya tertarik adalah, saya punya feeling kalau beberapa cewek yang ada di sana itu bisa “dikerjain”. Saya bisa tebak itu dari kata-kata yang mereka pakai. Malah ada salah satu cewek yang bernama Rindi di sana sempat ngomong,

“Mas, kalau ngekos di sini enak lho. Nanti kita-kita bisa kasih bonus yang ehm... ehm... ya nggak Din?”

“Yoi. Itu masalah gampang lah” Jawab Andin sambil mereka cekikikan dan memberi kedipan mata penuh arti.

Akhirnya si Ridwan temen saya yang memang mupeng itu semangat banget ngomporin saya buat ngekos di situ. Sebenarnya si Ridwan itu punya rumah sendiri sih di Jakarta. Alesannya biar kalau dia lagi mupeng, tinggal maen ke tempat kos saya terus cobain itu cewek-cewek. Ya, karena dikomporin mulu sama si Ridwan dan saya juga jadi ketularan virus mupengnya, akhirnya saya ngekos juga di sana.

Singkat cerita, beberapa hari pertama saya ngekost di sana sih belum berani macem-macem karena belum tau situasi. Tapi lama-lama saya jadi tau kalau memang di tempat itu ada beberapa cowok yang sering main kesana yang sebetulnya temen-temennya si Tono (pemilik kos), sekaligus mengencani cewek-cewek itu. Salah satunya si Hendy (keturunan Arab). Hendy itu sudah punya istri, tapi masih mengencani si Andin.

Pada suatu malam, kira-kira setelah seminggu lebih saya ngekost di situ, itu kos-kosan agak sepi juga. Nggak tau deh pada waktu itu pada pergi kemana para penghuninya, termasuk si Tono sama si Lita. Lita itu ceweknya Tono yang tinggal di situ juga. Ya boleh dibilang pasangan kumpul kebonya. Tapi sebetulnya baru saya tau belakangan kalau cewek-cewek yang ada di sana sudah pernah “dipake” si Tono semua.

Pada suatu malam yang sepi itu, berhubung memang agak angker juga itu rumah, si Andin tiba-tiba masuk kamar saya dan agak ketakutan. Dia minta ijin nonton TV di kamar saya karena dia nggak berani nonton TV di ruang tengah. Saya baru tau kalau si Andin itu bisa lihat “penampakan” yang didapat dari nenek moyangnya yang memang paranormal. Katanya Andin lihat sesuatu di ruang tengah.

Ya karena saya kasian juga ya sudah saya biarin aja. Toh sebetulnya saya ngekos di situ juga karena Ridwan yang ngomporin. Saya sendiri sebetulnya bukan tipe orang yang suka banget tusuk sana tusuk sini. Jadi waktu itu ya saya bener-bener bukan cari kesempatan, tapi karena kasian. Apalagi si Andin itu kan ada cowoknya yang keturunan Arab itu. Kan serem juga kalau misalnya saya digamparin ama cowoknya gara-gara ngentotin selingkuhannya.

Gara-gara malem itu, akhirnya si Andin jadi sering nonton TV di kamar saya dan kami pun jadi akrab. Pernah juga Andin ketiduran di kamar saya, tapi saya gak sentuh dia. Padahal waktu itu saya dah sange banget lihat pahanya sama kaosnya yang kesingkap. Tapi saya itu memang gak ada keberanian buat mulai sekalipun sudah jelas-jelas kalau dia bakalan mau kalau saya entotin.

Nah akhirnya pada suatu malem yang lain, karena kami sudah akrab, Andin cerita ke saya tentang pengalaman-pengalaman angker dia lihat “penampakan” di rumah itu. Karena saya memang kalau becanda suka ceplas-ceplos, ditambah lagi memang yang saya ajak becanda itu jablay, meluncurlah kalimat saya yang iseng,

“Din, kalau itu raksasa ngajakin elo ngentot, elo mau nggak?”

“Eh gila lo. Gue masih waras. Kontolnya bisa kagak muat dimasukin” kata Andin.

“Yah elo. Ama Kontol gede takut. Cowok lo kan keturunan Arab. Denger-denger kontol Arab king size semua. Gak percaya gue kalau elo takut”, balas saya.

Pokoknya kami becanda yang vulgar-vulgar sambil nonton TV dan tiduran sebelahan deh. Sampe akhirnya kaki saya yang memang agak banyak bulunya gak sengaja nyerempet kaki dia. Terus dia bilang,

“Eh gila lo. Jangan serempet-serempet kaki elo yang penuh bulu itu ke kaki gue”.

“Emang kenapa?” tanya saya.

“Gue sange tau kalau digituin” balas Andin.

Karena emang dari tadi kami becanda jorok, saya yang sudah mulai mupeng tapi gak berani ngapa-ngapain malah makin godain dia. Saya malah sengajain serempet-serempetin kaki ke betis Andin.

“Awas lo!!! Sekali lagi elo serempetin kaki elo, gue isep kontol elo” kata Andin.

“Coba aja kalau berani” sambil saya serempetin kaki ke betis dia lagi.

Tanpa saya duga-duga, dia beneran pelorotin celana pendek saya, terus langsung dia isep penis saya. Uuuuuhh… gila enak bener. Wajarlah dia kan jablay, udah ahli blowjob.

“Gimana? Masih mau godain gue?” kata Andin sambil nyepongin kontol saya.

Bukannya saya jawab malah saya remes sekalian toket Andin. Terus saya remes toket dia dari dalem kaosnya sambil saya main-mainin pentil toketnya.

“Aaahhhhh… gila lo... anjriiit. Gue sange banget nih. Elo harus tanggung jawab” kata Andin sambil doi terus sepongin penis saya.

Akhirnya saya gak kuat juga. Saya lepasin mulut doi dari penis saya, terus saya cium bibirnya sambil saya terus mainin pentil toketnya. Uuuhh… napsu saya udah mentit abis.

Sambil terus saya cium bibirnya, pelan-pelan saya turunin ciuman saya ke lehernya. Tangan saya juga gak mau kalah sama mulut saya. Saya gerayangin terus sampe ke bawah sampe akhirnya tangan saya yang satu mainin memeknya dari luar celana pendeknya.

Andin makin kelonjotan keenakan. Tangan Andin juga gak mau kalah terus kocokin penis saya. Akhirnya saya naikin kaosnya sampe kelihatan BH-nya. Langsung saya turunin BH-nya dan langsung saya sosor pentilnya.

“Ah... gile... nikmat bener.... Oooh... Terus...” kata Andin.

Seperti kata pepatah, sedikit bicara banyak kerja. Tangan saya yang tadinya mainin itilnya dari luar celana, saya masukin langsung ke dalem celananya. Terus saya gosok-gosok itilnya sambil ditusuk-tusukin ke lubang memeknya yang sudah basah. Saya sosor terus pentil toketnya gantian kanan kiri sambil saya terus mainin itil sama lubang memeknya. Akhirnya Andin yang kewalahan. Terus dia pelorotin celana dia sendiri, terus dia buka kaos ama BH-nya. Saya sih masih pake kaos singlet. Andin telanjang bulet. Bulu memeknya gak terlalu lebat gak terlalu jarang juga. Toketnya udah agak turun, mungkin sering di remes-remes, tapi lumayan juga. Namanya juga lagi sange berat.

“Udah… Masukin dong kontol lo. Memek gue udah senut-senut banget nih. Paling juga cepet keluar. Please dong…” rengek Andin.

Akhirnya tanpa menunggu lebih lama lagi, karena saya juga udah sanget banget, saya langsung lepas kaos saya juga. Langsung abis itu saya arahin penis saya ke lubang memeknya. Karena memeknya udah basah banget dari tadi, tanpa bersusah payah penis saya masuk. Bless... Uuhhhh... Memang enak ngentotin cewek orang. Gak pake ngomong cinta-cintaan, gak ada komitmen.

Baru 5 menitan saya goyang, si Andin minta doggy style.

“Ganti ke doggy dong. Gue dah diujung nih mau keluar. Gue demen banget keluar pake doggy” kata dia.

Sebenernya saya juga udah ga kuat, makanya saya juga tanpa pikir panjang langsung saya balikin badannya terus langsung saya sodok memeknya yang nikmat itu. Bener juga, doi makin cepet goyangnya terus teriaknya makin keras.

“Aahhh… gue bentar lagi nyampe nih” kata Andin.

“Ah ah ah... sama Din, bentar lagi gue juga keluar” balas saya.

“Bareng ya... Elo keluarin didalem memek gue aja” kata Andin.

“Ah gila lo, ntar kalau lo hamil gimana?”

“Tenang aja, peranakan gue udah dibalik, kagak bakalan hamil. Please… gue suka kalau cowok yang ngentotin gue pejuhnya dikeluarin didalem memek gue, apalagi keluarnya bareng” bales Andin.

“Oke deh. Siap ya”

Saya makin percepat kocokan saya. Beberapa kocokan kemudian saya keluar duluan (sialan). Untung gak lama si Andin langsung nyusul keluar.

Croott… croott… croott...

Gila nikmat banget rasanya nyemprotin pejuh di dalem memeknya cewek orang.

“Uuuuuh… Gila nikmat banget To... Pejuh elo banyak juga nih ampe keluar lagi dari memek gue”.

Akhirnya setelah kedutan terakhir, saya ambruk di badan Andin kecapekan. Akhirnya tanpa saya lepas penis saya dari memeknya, saya tidur sampai pagi. Tapi sebelum tidur, Andin bilang ke saya,

“Enak juga ya ngentot ama elo. Besok kita ngentot lagi ya. Elo jangan bilang ama cowok gue ya. Kita HTS aja. Just Sex”.

Saya bales juga, “Iya Din, ntar kalau cewek gue main kesini elo juga jangan bikin tingkah yang aneh-aneh”.

“Tenang aja lagi. Entar gue ajak si Lita ngentot bareng ama elo. Tenang aja” kata Andin.

Buset deh. Si Lita mau diajakin threesome. Wah, saya jadi gak sabar. Soalnya dia paling cakep diantara cewek-cewek yang ada di tempat kost itu.