WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Kepasrahan Ratna

“Nikmati saja, aku ada di kamar sebelah”

Begitu pesan Rudi pada Ratna istrinya. Ratna mengangguk pasrah pada suaminya. Kini ia duduk di tempat tidur mereka mengenakan daster tipis. Ia menunggu kedatangan Dedi, teman akrab suaminya untuk menikmati tubuhnya hanya satu malam. Kurang bisa dipercaya, tapi memang terjadi. Rudi tidak bisa mengembalikan sejumlah uang yg dipinjamnya pada Dedi, yg meskipun sahabatnya sejak SD, uang itu dalam jumlah besar. Hampir saja masalah itu berakhir di Kepolisian kalau saja saat itu Ratna tidak lewat dengan mengenakan kaus tipis hingga bhnya jelas terlihat. Akhirya Dedi mengajukan penyelesaiannya yaitu dengan menginap semalam dengan ditemani Ratna. Setelah diberitahu Ratna pun menyanggupi dan bisa mengerti kesulitan suaminya, meskipun dengan sedikit marah.


Tak lama kemudian Dedi muncul dengan mengenakan piyama milik Rudi. Ia langsung duduk disebelah Ratna. Ratna langsung berdiri di hadapan Dedi dan dengan mata terpejam ia membuka dasternya.

"Dedi… nikmatilah sebagai pengganti hutang suamiku"

Dasternya meluncur turun dan jatuh di lantai. Payudaranya yang kencang menantang masih tersembunyi di balik BH warna merah. Juga kerimbunan memeknya yg masih tersembunyi.

"Mbak tidak seperti itu. Saya janji pada Rudi akan memuaskan mbak. Mbak menurut saja ya?" Dedi masih terduduk di hadapan Ratna, namun dari balik piyama itu terlihat jelas bahwa ia senjatanya telah mengacung.

"Buka mata mbak"

Ratna membuka matanya dan tertegun melihat benda yg menyembul di piyama Dedi.

"Beruntung sekali Rudi punya istri seseksi mbak"

Dedi kemudian berdiri, berjalan mengelilingi Ratna. Dari belakang, dibelainya rambut Ratna yg hitam dan panjang itu. Tangannya juga melepaskan kaitan BH Ratna. Kini payudara montok itu benar-benar bebas. Dedi kemudian melepaskan piyamanya di belakang Ratna.

"Dedi, saya akan melayani kamu, tapi.. janjimu harus kamu tepati" Ratna berkata lirih saat merasakan dengusan nafas Dedi di lehernya.

"tentu tentu… Kini, balik badanmu" perintah Dedi.

Ia kemudian mengambil kursi untuk duduk. Ratna perlahan membalikkan badannya. Payudaranya yg indah bergoyang mengikuti badannya.

"Hmmmmm... Sini berlutut" Dedi mengisyaratkan agar Ratna berlutut diantara kakinya.

"Tapi... tapi..."

"Tapi apa? Belum pernah ngisep kontol Rudi emang? SINI!" bentak Dedi.

Ratna kemudian berlutut seperti keinginan Dedi. Tanpa pikir panjang, rambut Ratna ia jambak dan kepalanya ia dorongkan ke kontolnya

"ISAP...!!!!!!!"

Ratna ingin muntah saat penis yg besar itu masuk ke mulutnya, apalagi saat Dedi menggoyang-goyangkannya maju mundur.

"Ahh… Ahhhh... isaapppp… isaaappp…" sambil terus menekan-nekankan kepala Ratna ke batang kemaluannya.

Dalam hati Ratna sebenarnya kagum akan ukuran penis Dedi, hanya saja ia tidak terbiasa akan posisi ini. Menit demi menit berlalu dengan erangan dan desahan Dedi. Bahkan Ratna sempat merasakan sedikit cairan hangat muncrat dari penis Dedi.

"Sudahh...!!! Berdiri, pegangan pada pinggiran dipan. Cepat…" Dedi makin beringas saja saat melihat Ratna pasrah.

"Buka kaki lebar-lebar, agak membungkuk!!"

Kemudian ia berdiri di belakang Ratna. Dengan sekali sentak CD tipis rento ia sobek.

"Aduhhh…" teriak Ratna lirih.

Tangan Dedi kemudian menggerayangi tubuh Ratna. Mulai dari meremas-remas payudara Ratna hingga istri Rudi itu merintih-rintih hingga jemarinya mengubek-ubek vaginanya.

"Ahhhhh…" hanya itu yg dapat diucapkan Ratna saat jemari Dedi mempeprmainkan klitorisnya.

"Auuuuhhh… uuuuhhhhhh..." tanpa sadar Ratna menggoyangkan pinggulnya agar jemari Dedi tetap di daerah klitorisnya.

"Ahhh… rupanya si pasrah mulai menikmati ya?” guman Dedi.

"Bagus… bagus…"

Kini tangan Dedi yg satu memegangi pinggang Ratna sementara satunya memegangi penisnya untuk dimasukkannya ke lubang memek Ratna.

"Aaahhhhhhhh…" Ratna beteriak keras saat dengan kasar Dedi menghujamkan penisnya ke liang memeknya.

"Deeddiiiiii... sakitttttt!"

Tangan Dedi kemudian memegangi tangan Ratna, ditariknya tangan istri temannya itu ke belakang hingga tubuh Ratna melengkung.

"Rasakan... hhhgggg... ggggghhh…" Dedi terus menghujam-hujamkan senjatanya ke memek yg makin licin itu.

"ooohhh… ohhhhhh… oohhhhhhhh... Dediiii…" Ratna merintih rintih.

Entah ia merasakan sakit atau kenikmatan luar bisasa yg ia rasakan. Payudaranya berayun-ayun dengan bebasnya.

"Uggghhhh sempit banget... Ayo Ratna nikmati saja"

Dedi tersenyum saat merasakan perlawanan Ratna makin melemah. Tubuhnya tidak lagi tegang melainkan makin relax, itu terasa lewat otot-otot Ratna di tangan.

"Ooohhh… ohhhh…"

"Ayo katakan... katakan…" Dedi makin keras menghujamkan kontolnya.

"Aaahhhhh… puaskan aku Dedi... ooohhhhh..." Ratna tidak bisa mengingkari perasaannya.

"Bagusss… nih rasakan..." seketika itu ditariknya tangan Ratna lebih keras, dan …

"Dediiiii…"

Tenaga Ratna bagai terbetot keluar, saat ia merasakan sperma Dedi menyemprot membanjiri memeknya, sebegitu derasnya hingga sebagian menetes ke lantai kamar yg menjadi saksi bisu mereka.

"Ooohhhhh... Ratna seandainya kamu jadi istriku.." Dedi kemudian mendekap tubuh Ratna yg telah basah oleh keringat.

"Gila... kenapa kontolnnya belum mengecil" Guman Ratna dalam hatinnya.

Ia merasakan kontol Dedi tetap pada ukuran sebenarnya di dalam memeknya yg telah becek.

"Dedi… kok masih keras sih..." guman Ratna pada Dedi yang terengah-engah di belakangnya.

"Iya… biasa..."

"Mau satu ronde lagi?" kali ini Ratna yg agresif.

"Boleh..." Dedi melepaskan dekapannya.

"Dedi… tiduran deh di lantai itu" Dedi menurut saja. Ia merebahkan dirinya di lantai dingin yg berceceran maninya. Kontolnya tegak bagai tiang bendera.

"Aku naikin ya..." Ratna kemudian mengangkangi kontol Dedi, dan... blessss masuklah kontol itu hingga pangkalnya.

"Aaahhhhhh…"

Setelah kontol itu berada di dalam, Ratna kemudian memutar-mutarkan pantatnya. kontol itu pun bergesek dengan dinding memek Ratna.

"Ayooo Dedi... mainin..." Ratna memberi tanda Dedi untuk bermain-main dengan payudaranya.

Dedi kemudian mengangkat badannya sedikit untuk mengulum dan menjilati susu Ratna yg kenyal. Saat lidahnya menyentuh puting susunya Ratna pun kontan berteriak lirih. Puting itu selalu menjadi bagian tersensitifnya. Apalagi saat Dedi menghisap-hisapnya bagai seorang bayi gede. Ratna pun tambah semangat menggarap kontol Dedi. Tubuh mereka telah basah oleh peluh dan cairan mani. Rambut Ratna pun telah acak-acakan.

Semakin malam permainan mereka semakin panas. Hingga akhirnya Dedi keluar untuk kedua kalinya di liang memek istri temannya itu. Malam itu mereka berdua benar-benar menikmati permainan mereka, Ratna bahkan telah melepaskan kepasrahannya, berganti dengan gairah untuk bercinta denngan Dedi.

Cerita Sex Ria Teman Baik Pemuas Nafsuku

Namaku Arif, Aku kuliah di salah satu PTS di Bandung. Aku punya temen cewek, sebut aja namanya Ria. Si Ria ini temen baikku sejak SMA. Kalo aku lagi ada masalah atau aku gagal dapetin cewek, dia inilah yang jadi tumpahan unek-unekku. Pokoknya dia baik sekali sama aku. Orangnya cakep deh. Tapi ini bukan aku yang bilang, temen-temenku yang bilang begitu. Dulunya menurutku sih lumayan lah. Mungkin aku enggak sadar kali ya, abis... aku tiap hari ketemu dia dan lihat dia, jadi aku merasa udah biasa. Temen kuliahku pernah bilang kalo si Ria tuh sensual banget, apalagi dari bagian lehernya sampe dadanya. Orangnya enggak begitu tinggi, sedang lah buat cewek. Tingginya 163 cm dan beratnya 51 kg. Langsing kan...? Rambutnya panjang tergerai. Kebayang dong gimana orangnya.


Diantara aku dan dia kalo ngobrol udah enggak ada batasnya, termasuk tentang hal yang begituan. Dia juga udah tau ukuran senjataku. Sedangkan aku cuma tau ukuran pinggangnya dia 62cm. Yang bagian atas dan bawahnya aku enggak dikasih tau. "Belum saatnya Rif..", begitu kata Ria dengan nada genit kalo aku selalu nanyain. Tapi aku bisa lihat kok ukuran teteknya enggak begitu besar. Sekitar 32 gitu lah.

Aku udah sering nonton dan jalan-jalan berdua sama dia. Teman-temanku menyangka kami pacaran, padahal cuma temenan baik. Lalu kejadian tidak terlupakan yang akan aku ceritakan ini terjadi beberapa bulan yang lalu, waktu kami berdua pergi nonton. Seperti biasanya aku jemput dia, terus kami pergi nonton. Kali ini si Ria seksi banget. Dia pakai baju ketat putih favoritku. Aku yang suruh dia pakai itu, soalnya aku suka lihat dia pake itu. Dan dia juga selalu setuju dengan permintaanku. Terus pake rok mini yang menurutku pendek banget dan merangsang. Sekitar 15-20 cm lah dari lutut. Sepanjang perjalanan dia duduk di sebelahku, pahanya terlihat hampir sampai pangkalnya. Dalam hatiku “gila juga nih si Ria”. Sepulangnya nonton kira-kira jam 7, aku ajak dia kerumahku, seperti biasanya kami ngobrol-ngobrol dulu. Dia sudah sering ke rumahku dan masuk kamarku. Jadi dia mau saja.

Kebetulan rumahku lagi kosong. Orang tua sedang ke Jakarta, menghadiri kondangan orang kawin. Dan aku anak tunggal. Cuma tinggal pembantu doang. Aku ajak dia masuk kamarku dan kami pun ngobrol-ngobrol sambil brecada. Terus aku ke WC sebentar buat kencing. Sebenarnya sih supaya senjataku enggak sakit bediri terus. Waktu kencing, aku ngebayangin juga tuh bodynya Ria yang aduhai. Terus aku masuk kamarku lagi. Begitu aku buka pintu, aku lihat Ria lagi di depan meja belajarku sambil nungging ngelihatin buku-buku kuliahku. Kelihatan dong pahanya yang putih mulus itu dan sedikit CD nya. Aku udah enggak tahan lagi nih. Lalu aku deketin Ria dan aku peluk dari belakang. Si Ria kaget dan berbalik badan tapi enggak ngelawan, cuma sedikit berusaha menghindar.

"Kenapa kamu Rif" katanya.

Terus aku lumat aja bibir mungilnya, dan aku pepetin dia ke dinding kamarku. Dia juga membalas ciumanku dan aku kulum lidahnya sambil aku remas-remas payudaranya. Ria mendesah kecil. Makin lama aku makin gila. Aku mulai turun ke bawah ke pahanya. Rok mininya aku turunin sampe ke lantai sehingga dia cuma pake CD dan baju ketatnya. Ternyata enggak cuma pakaian luarnya yang bikin nafsuin, dia pake CD yang bertali di bagian pinggangnya, jadi bisa di copot sebelah doang. Aku cium-cium pahanya sambil mulai menarik tali CD sebelah kirinya. Kelihatan bulunya yang halus terawat dan memeknya yang berwarna merah muda. Desahan Ria makin keras terdengar. Aku mainin itilnya dengan tanganku.

"Aaahh… Aahhh... Rif..."

Memeknya makin basah. Lalu aku jilatin memeknya dan Ria makin meronta-ronta kegelian. Sambil menjilati memeknya aku copot celana jeansku dan sekaligus CDku. Keluarlah batangku yang udah tegang banget. Lalu aku berdiri, aku angkat kaki kanan Ria, yang masih menempel CD nya, setinggi pinggulku dan mulai ngearahkan kontolku memasuki memeknya. Si Ria mendorong pinggulku.

"Jangan Rif, aku kan masih perawan. Enggak mau dimasukin..."

Terus aku bilang gimana kalo cuma pura-pura doang kaya film-film Hollywood, si Ria senyum centil tanda setuju. Aku terusin gerakanku tadi. Terus aku gesek-gesekin kontolku ke bagian luar memeknya seperti orang sedang masturbasi.

"Aaahhh… aahhh… terus Rif…"

Ria juga ikut bergoyang keenakan. Lama-kelamaan tangan Ria mulai memegang-megang kontolku, lalu tanpa aku sadar dia ngarahin kontolku kedalam memeknya. Rupanya si Ria udah terangsang banget dan enggak mau peduli lagi. Blesh... kontolku mulai masuk ke memeknya.

"Aaaaahh... sakit Rif…" kata Ria.

Seret banget dan sempit, walaupun ukuran kontolku enggak gede-gede amat. Akhirnya masuk juga semuanya dan aku terusin goyanganku. Enak banget rasanya, baru kali ini aku ngerasain memek cewek. Biasanga aku ngerasain gulingku. Mungkin karena baru pertama kali ngentot. Enggak lama, aku ngerasa udah mau keluar. Lalu crooot... croot... aku keluar di dalam.

Ria nampaknya belum orgasme. Sambil terus berpelukan aku nengok ke kiri, ada cermin dan aku lihat posisiku dan Ria yang horny banget, kaya lagi nonton bokep. Kontolku yang sempat lemas berdiri lagi. Aku cium dia sambil aku gendong dan aku rebahin ke ranjangku. Kaos putihnya aku lepas, begitu juga BHnya. Bener dugaanku, teteknya enggak begitu besar tapi putih kencang. Cukuplah besarnya.

Ria udah telanjang bulet, cuma sisa CD nya yang masih nempel di kaki kanannya. Aku isep sebelah puntingnya. Ria pun mulai menggeliat lagi. Puting yang satu lagi aku mainin sama tanganku. Terus aku ngerasa kontolku udah keras banget dan aku kangkangin kakinya dan aku masukin aja lagi ke memeknya Ria.

"Ngehhh... aaahh..." Ria mendesah keras.

Kali ini enggak seseret yang pertama tadi. Aku maju mundurkan kontolku dan Ria ngikutin goyanganku. Aduh... gila enggak nyangka kalo memeknya cewek seenak ini. Sambil aku cium bibirnya aku mainin teteknya dengan tanganku. Enggak lama kemudian memeknya Ria terasa menyempit tiba-tiba seperti memijat kontolku dan badannya menegang. Ria pun teriak "Ahhhhhhhh..." Aku enggak tahan kontolku dipijat memeknya, lalu aku keluar juga. Dan aku pun berbaring di sebelahnya sambil megungusap-usap rambutnya.

Setelah beristirahat sebentar aku anterin dia pulang. Selama perjalanan kita ngobrolin tentang tadi. Ternyata dia suka dengan perlakuanku. Katanya enak. Dan untuk lain kali aku minta dia pake baju yang seksi-seksi dan dia cuma senyum-senyum kecil malu-malu.

Aku dan Ria makin sering gituan. Untuk yang kedua kali dan seterusnya aku pake kondom, soalnya aku takut dia hamil. Semuanya aku lakukan di rumahku karena rumahku sering kosong. Teknik ku pun makin jago. Terakhir aku bisa bikin dia orgasme 4 kali dalam sekali gituan. Waktu itu dia pake stocking kaya film-film bokep. Horny banget enggak sih. Tapi dia enggak jadi pacarku dan masih berstatus teman baik. Aku enggak tau apakah aku dan dia masih mau terusin setelah kita masing-masing udah punya suami dan istri. Yang penting sekarang dulu lah, yang itu belakangan.

Cerita Sex Ruang Kosong di Kampus

Sore itu saya baru pulang dari rumah teman saya. Karena perjalanan pulang melewati kampus saya, maka sekalian saya menyempatkan diri untuk mampir ke sana dengan tujuan melihat nilai UTS saya dan mencatat jadwal SP (Semester Pendek). Saya masuki halaman kampus dan saya parkirkan sepeda motor saya. Saat itu waktu telah menunjukkan jam 17.05, di tempat parkir pun hanya terlihat 3-4 kendaraan. Saya segera memasuki gedung fakultas saya, di sana lorong-lorong sudah gelap hanya diterangi beberapa lampu downlight, sehingga suasananya remang-remang, terkadang timbul perasaan ngeri di gedung tua itu sepertinya hanya saya sendirian, bahkan suara langkah kaki saya menaiki tangga pun menggema. Akhirnya sampai juga saya di tingkat 4 dimana pengumuman hasil ujian dan jadwal SP dipasang.


Ketika saya sedang melihat hasil UTS saya dari lantai bawah sekonyong-konyomg terdengar langkah pelan yang menuju ke sini. Sadar atau tidak saya rasakan bulu kuduk saya berdiri dan membayangkan makhluk apa yang nantinya akan muncul. Ah konyol, saya buang pikiran itu jauh-jauh, hantu mana mungkin terdengar bunyi langkahnya. Suara langkah itu makin mendekat dan akhirnya saya lihat sosoknya, oohh, ternyata lain dari yang saya bayangkan, yang muncul ternyata seorang gadis cantik. Saya pun mengenalnya walaupun tidak kenal dekat, dia adalah mahasiswi yang pernah sekelas dengan saya dalam salah satu mata kuliah, namanya Yani, orangnya tinggi langsing, pahanya jenjang dan mulus, buah dadanya pun membusung indah, saya perkirakan ukurannya 34B, dipercantik dengan rambut panjang kemerahan yang dikuncir ke belakang dan wajah oval yang putih mulus. Dia juga termasuk salah satu bunga kampus.

"Hai.. sore, mau lihat nilai ya?" tanyaku berbasa-basi.

"Iya, kamu juga ya?" jawabnya dengan tersenyum manis.

Saya lalu meneruskan mencatat jadwal SP, sementara dia sedang mencari-cari NRP dan melihat hasil ujiannya.

"Sori, boleh pinjam bolpoin dan kertas? gua mau catat jadwal nih" tanyanya.

"Ooo, boleh, boleh gua juga udah selesai kok" saya lalu memberikannya secarik kertas dan bolpoin saya.

"Eh, omong-omong kamu kok baru datang sekarang malam-malam gini, nggak takut gedungnya udah gelap gini?" tanyaku.

"Iya, sekalian lewat aja kok, jadi mampir ke sini, kamu sendiri juga kok datang jam segini?"

"Sama nih, gua juga baru pulang dari teman dan lewat sini, jadi biar sekali jalan lah"

Kami pun mulai mengobrol, dan obrolan kami makin melebar dan semakin akrab. Hingga kini belum ada seorang pun yang terlihat di tempat kami sehingga mulai timbul pikiran kotor saya terlebih lagi hanya ada sepasang pria dan wanita dalam tempat remang-remang. Saya mulai merasakan senjata saya menggeliat dan mengeras. Saya pandangi wajah cantiknya, wajah kami saling menatap dan tanpa sadar wajah saya makin mendekati wajahnya. Ketika semakin dekat tiba-tiba wajahnya maju menyambut saya sehingga bibir kami sekarang saling berpagutan. Tangan saya pun mulai melingkari pinggangnya yang ramping. Sekarang mulutnya mulai membuka dan lidah kami saling beradu, rupanya dia cukup ahli juga dalam berciuman, nampaknya ini bukan pertama kalinya dia melakukannya. Wangi parfum dan desah nafasnya yang sudah tidak beraturan meningkatkan gairah saya untuk berbuat lebih jauh, tangan saya kini mulai turun meremas-remas pantatnya yang montok dan berisi, dia juga membalasnya dengan melepas kancing kemeja saya satu persatu. Tiba-tiba saya sadar sedang di tempat yang salah, segera saya lepas ciuman saya.

"Jangan di sini, gua tau tempat aman, ayo ikut gua!"

Saya ajak dia ke lantai 3, kami menelusuri koridor yang remang-remang itu menuju ke sebuah ruangan kosong bekas ruangan mahasiswa pecinta alam, sejak team pecinta alam pindah ke ruang lain yang lebih besar ruangan ini dikosongkan hanya untuk menyimpan peralatan bekas dan sering tidak dikunci. Saya buka pintu dan saya tekan saklar di tembok, ruangan itu hampir tidak ada apa-apa, hanya sebuah meja dan kursi kayu jati yang sandarannya sudah bengkok, beberapa perkakas usang, dan sebuah matras bekas yang berlubang.

Segera setelah tombol kunci saya tekan, saya dekap tubuhnya yang sedang bersandar di tepi meja. Sambil berciuman tangan kami saling melucuti pakaian masing-masing. Setelah saya lepas tank top dan branya, saya lihat tubuh putih mulus dengan payudara kencang dan putingnya yang kemerahan. Saat itu saya dan dia sudah topless tinggal memakai celana panjang saja. Saya arahkan mulut saya ke dada kanannya sementara tangan saya melepas kancing celananya lalu mulai menyusup ke balik celana itu. Saya rasakan kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan sudah becek oleh cairan kenikmatan. Puting yang sudah menegang itu saya sapu dengan permukaan kasar lidah saya hingga dia menggelinjang-gelinjang disertai desahan. Dengan jari telunjuk dan jari manis saya renggangkan bibir kemaluannya dan jari tengah saya saya mainkan di bibir dan dalam lubang itu membuat desahannya bertambah hebat sambil menarik-narik rambut saya.

Akhirnya dengan perlahan-lahan saya turunkan celana beserta celana dalamnya hingga lepas. Saya buka resleting celana saya lalu saya turunkan CD- saya sehingga menyembullah senjata yang dari tadi sudah mengeras itu. Tangannya turut membimbing senjata saya memasuki liang vaginanya, setelah masuk sebagian saya sentakkan badan saya ke depan sehingga dia menjerit kecil. Saya mulai menggerakkan badan saya maju mundur, semakin lama frekuensinya semakin cepat sehingga dia mengerang-erang keenakan, tangan saya sibuk meremas-remas payudara montoknya, dan lidah saya menjilati leher dan telinganya. Saya terus mendesaknya dengan dorongan-dorongan badan saya, hingga akhirnya saya merasakan tangannya yang melingkari leher saya makin erat serta jepitan kedua pahanya mengencang. Saat itu gerakan saya makin saya percepat, erangannya pun bertambah dahsyat sampai diakhiri dengan jeritan kecil, bersamaan dengan itu saya rasakan pula cairan hangat menyelubungi senjata saya dan sperma saya mulai mengalir di dalam rahimnya. Kami menikmati klimaks pertama ini dengan saling berpelukan dan bercumbu mesra.

Tiba-tihba terdengar suara kunci dibuka dan gagang pintu diputar, pintu pun terbuka, ternyata yang masuk adalah Pak Alif, kepala karyawan gedung ini yang juga memegang kunci ruangan, orangnya berumur 50-an keatas, rambutnya sudah agak beruban, namun badannya masih gagah. Kami kaget karena kehadirannya, saya segera menaikkan celana saya yang sudah merosot, Yani berlindung di belakang badan saya untuk menutupi tubuh telanjangnya.

"Wah, wah, wah saya pikir ada maling di sini, eh.. ternyata ada sepasang kekasih lagi berasyik ria!" katanya sambil berkacak pinggang.

"Maaf Pak, kita memang salah, tolong Pak jangan bilang sama siapa-siapa tentang hal ini," kata saya terbata-bata.

"Hmmm... baik saya pasti akan jaga rahasia ini kok, asal..."

"Asal apa Pak?" tanyaku.

Orang tua itu menutup pintu dan berjalan mendekati kami.

"Asal saya boleh ikut merasakan si Mbak ini, he.. he... he...!" katanya sambil terus mendekati kami dengan senyum mengerikan.

"Jangan, Pak, jangan!"

Dengan wajah pucat Yani berjalan mundur sambil menutupi dada dan kemaluannya untuk menghindar, namun dia terdesak di sudut ruangan. Kesempatan itu segera dipakai Pak Alif untuk mendekap tubuh Yani. Dia langsung memegangi kedua pergelangan tangan Yani dan mengangkatnya ke atas.

"Ahh.. jangan gitu Pak, lepasin saya atau... eeemmmhhh...!"

Belum sempat Yani melanjutkan perkataannya, Pak Alif sudah melumat bibirnya dengan ganas. Sekarang Yani sudah mulai berhenti meronta sehingga tangan Pak Alif sudah mulai melepaskan pegangannya dan perlahan-lahan mulai turun ke payudara kanan Yani lalu meremas-remasnya dengan gemas. Entah mengapa dari tadi saya hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa selain bengong menonton adegan panas itu, sangat kontras nampaknya Yani yang berparas cantik itu sedang digerayangi oleh Pak Alif yang tua dan bopengan itu, seperti beauty and the beast saja, dalam hati berkata, "Dasar bandot tua, sudah ganggu acara orang masih minta bagian pula."

Ciuman Pak Alif pada bibir Yani kini mulai merambat turun ke lehernya, dijilatinya leher jenjang Yani kemudian dia mulai menciumi payudara Yani sambil tangannya mengobok-obok liang vagina Yani. Diperlakukan seperti itu Yani sudah tidak bisa apa-apa lagi, hanya pasrah sambil mendesah-desah,

"Pak... aaakhh.. jangan.. eeemmhh... sudah Pak!"

Setelah puas "menyusu" Pak Alif mulai menjelajahi tubuh bagian bawah Yani dengan jilatan dan ciumannya. Setelah mengambil posisi berjongkok Pak Alif mengaitkan kaki kanan Yani di bahunya dan mengarahkan mulutnya untuk mencium kemaluan yang sudah basah itu sambil sesekali menusukan jarinya. Sementara Pak Alif mengerjai bagian bawah, saya melumat bibirnya dan meremas buah dadanya yang montok itu, putingnya yang sudah tegang itu saya pencet dan saya puntir.

Masih tampak jelas warna kemerahan bekas gigitan dan sisa-sisa ludah pada payudara kirinya yang tadi menjadi bulan-bulanan Pak Alif. Tak lama kemudian saya rasakan dia mencengkram lengan saya dengan keras dan nafasnya makin memburu, ciumannya pun makin dalam. Rupanya dia mencapai orgasme karena oral seks-nya Pak Alif dan saya lihat Pak Alif juga sedang asyik menghisap cairan yang keluar dari liang senggamanya sehingga membuat tubuh Yani menegang beberapa saat dan dari mulutnya terdengar erangan-erangan yang terhambat oleh ciuman saya. Sekarang saya membuat posisi Yani menungging di matras yang saya gelar di lantai. Saya setubuhi dia dari belakang, sambil meremas-remas pantat dan payudaranya. Pak Alif melepaskan pakaiannya hingga bugil, kemudian dia berlutut di depan wajah Yani. Tanpa diperintah Yani segera meraih penis yang besar dan hitam itu, mula-mula dijilatinya benda itu, dikulumnya buah pelir itu sejenak lalu dimasukkannya benda itu ke mulutnya. Pak Alif mendengus dan merem melek kenikmatan oleh kuluman Yani, dia menjejali penis itu hingga masuk seluruhnya ke mulut Yani.

Yani pun agak kewalahan diserang dari 2 arah seperti ini. Beberapa saat kemudian Pak Alif mengeluarkan geraman panjang, dia menahan kepala Yani yang ingin mengeluarkan penisnya dari mulutnya, sementara saya makin mempercepat goyangan saya dari belakang. Tubuh Yani mulai bergetar hebat karena sodokan-sodokan saya dan juga karena Pak Alif yang sudah klimaks menahan kepalanya dan menyeburkan spermanya di dalam mulut Yani, sangat banyak sperma Pak Alif yang tercurah sampai cairan putih itu meluap keluar membasahi bibirnya, jeritan klimaks Yani tersumbat oleh penis Pak Alif yang cukup besar sehingga dari mulutnya hanya terdengar, "Emmpphh.. mmm.. hmmpphh..." tangannya menggapai-gapai, dan matanya terbeliak-beliak nikmat.

Kemudian Pak Alif melepas penisnya dari mulut Yani, lalu dia berbaring telentang dan menyuruh Yani memasukkan penis yang berdiri kokoh itu ke dalam vaginanya. Sesuai perintah Pak Alif, dia menduduki dan memasukkan penis Pak Alif, ekspresi kesakitan nampak pada wajahnya karena penis Pak Alif yang besar tidak mudah memasuki liang vaginanya yang masih sempit, Pak Alif meremas-remas susu Yani yang sedang bergoyang di atas penisnya itu. Saya lalu memintanya untuk membersihkan barang saya yang sudah belepotan sperma dan cairan kemaluannya, ketika penis saya sedang dijilati dan dikulum olehnya, saya tarik ikat rambutnya hingga rambutnya tergerai bebas.

"Wah cantik banget si Mbak ini, mana memeknya masih sempit lagi, benar-benar beruntung saya malam ini," kata Pak Alif memuji Yani.

"Dasar muka nanas, kalo dia pacar gua udah gua hajar lo dari tadi!" gerutu saya dalam hati.

Setelah penis saya dibersihkan Yani, saya atur posisinya tengkurap di atas Pak Alif, dan saya masukkan penis saya ke duburnya, sungguh sempit liang anusnya itu hingga dia menjerit histeris ketika saya berhasil menancapkan penis saya di sana. Kami bertiga lalu mengatur gerakan agar dapat serasi antara penis Pak Alif di vaginanya dan penis saya di anusnya. Saya menghujam-hujamkan penis saya dengan ganas sambil meremas-remas payudara dan pantatnya juga sesekali saya jilati lehernya. Sementara Pak Alif juga aktif memainkan payudara yang hanya beberapa sentimeter dari wajahnya itu. Tak lama kemudian Yani menjerit keras, "Akkhh...!" tubuhnya menegang dan tersentak-sentak lalu terkulai lemah menelungkup, begitu tubuhnya rebah langsung disambut Pak Alif dengan kuluman di bibirnya. Saya dan Pak Alif melepas penis kami dan berdiri di depan Yani secara bergantian dia mengulum dan mengocok penis kami hingga sperma kami muncrat membasahi wajahnya.

Tubuh kami bertiga sudah bersimbah keringat dan benar-benar lelah, terutama Yani, dia nampak sangat kelelahan setelah melayani 2 lelaki sekaligus. Sesudah beristirahat sejenak, kami berpakaian kembali. Kami membuat kesepakatan dengan Pak Alif untuk saling menjaga rahasia ini, Pak Alif pun menyetujuinya dengan syarat Yani mau melayaninya sekali lagi kapanpun bila dipanggil, meskipun mulanya dia agak ragu-ragu akhirnya disetujuinya juga. Kami yakin dia tidak berani kelewatan karena dia juga tidak ingin hal ini diketahui keluarganya. Sejak itu kami semakin akrab dan sering melakukan perbuatan itu lagi meskipun tidak sampai pacaran, karena kami sudah punya pacar masing-masing.

Cerita Sex Kenikmatan Sesungguhnya

Meskipun usiaku sudah menginjak kepala tiga, tetapi jiwaku masih ingin seperti remaja. Pada suatu hari Sabtu aku libur bekerja, ada keinginan untuk berjalan-jalan mengelilingi pinggiran kota Surabaya. Yah… buat menghilangkan pusing eh malah pusing. Masalahnya setelah beberapa jam berjalan perutku merasa lapar. Aku masuk ke sebuah warung makan, aku pesan makanan kesukaanku yaitu pecel lele plus lalap. Dalam ruangan terdapat enam meja, aku ambil disudut untuk dapat mengetahui seluruh kegiatan didalam ruang makan.



Beberapa saat kemudian datang seorang wanita yang kurang lebih seumuran denganku duduk di sebelah mejaku. Aku nggak pedulikan wanita tersebut, soalnya perut lapar sekali. Setelah makanan aku habiskan, aku mulai merokok. Tatapan mataku menerawang jauh, dan tiba-tiba bertemu mata dengan wanita yang duduk di sebelahku tadi. Dengan rasa terheran-heran kupandangi, aku melihat ada seberkas masalah yang menumpuk di kelopak matanya, lalu aku memberanikan diri untuk Menegur.

"Kok sedirian mbak?"

"Iya…"

"Nggak sama teman?"

"Tidak "

Aku terdiam sebab tidak ada respon. Tapi dari gerak tubuhnya menandakan ingin diperhatikan. Akhirnya aku berdiri dan pindah ke sebelah bangkunya.

"Boleh aku duduk disini?"

Dengan anggukan halus dipersilakannya aku duduk.

Obrolanku mulai mengalir bagai air dan dijawab dengan sedikit sekali informasi darinya. Dengan sedikit serius aku bertanya.

"Mbak ada masalah yah?"

"Aku lihat dari mata mbak dan pandangan mbak sangat kosong"

Aku terus berbicara mengenai apa yang sedang dialami, dan tanpa sadar wanita tersebut berkata jujur.

"Kok mas tau sih persoalanku… memangnya mas paranormal…"

"Yah aku sedikit bisa membaca alam pikiran orang melalui fisik dan meta fisik jadi kalau tadi aku bicara itu hanya dorongan batinku yang berkata begitu tanpa dibuat-buat"

Memang kata teman-teman dikantor dan dirumah aku dapat membaca persoalan orang lain dan mempunyai nilai kebenaran hampir 85%. Hal ini kusadari sejak remaja. Aku memang pernah belajar ilmu dengan kakekku dan setelah kakek meninggal tanpa sepengetahuanku ilmunya sedikit diturunkan ke aku. Sampai saat ini aku tidak terlalu ambil pusing dengan kebisaanku, yang penting orang itu bahagia atau senang bila aku beri jalan keluar, yah sudah aku pun senang tanpa pamrih apapun.

"Aku panggil mbak atau apa nih supaya kita dapat berbicara lebih santai?"

"Yah Ayu saja…" sambil dilulurkan tangannya padaku.

Tanpa kusadari aku balik telapak tangannya kemudian aku bicara tentang garis hidupnya dari nasib, rejeki, jodohnya. Dengan merah padam dan terheran-heran Ayu mulai bicara dan menceritakan apa yang sedang dialami dan itu pun persis dengan hasil analisaku tentang dirinya. Keakraban mulai timbul, dengan antusias aku diminta untuk memberikan penyelesaian persoalannya. Akhirnya aku berjanji untuk bertemu dirumahnya dengan beberapa syarat yang aku ajukan dan ternyata disetujui oleh Ayu.

Jam sebelas aku datang ke rumahnya di daerah pinggiran kota. Kemudian aku memberikan beberapa wejangan disertai bungkusan kembang untuk mandi agar bersih dari segala kotoran duniawi. Selang beberapa waktu aku terapi batinnya. Akhirnya kusuruh dia untuk mandi besar dengan kembang yang kubawa, dan aku disuruh untuk menunggu di kamar tamu.

Sekitar 20 menit aku dapati di hadapanku seorang wanita yang bersih dan cantik secara alami. Aku pun terheran-heran. Dia terlihat begitu berbeda sekali dengan sewaktu sebelum aku terapi. Kami ngobrol ngalor ngidul, lalu sempat aku makan siang. Setelah makan aku istirahat di bangku halaman belakang, Ayu duduk persis disebelahku dan menghimpit badanku.

"Mas kok dari tadi tak mempunyai rasa… gimana gitu terhadap wanita…"

Wah… ini pertanyaan yang membuatku merinding dan tertantang sebagai seorang laki-laki.

"Maksudnya apa?" kataku dengan pura-pura tidak mengerti.

Tangannya mulai bertengger diatas pahaku akhirnya kugenggam dengan sedikit mesra. Karena aku tahu dia seorang janda yang baru bercerai dikarenakan belum mempunyai momongan. Wajahnya yang bersih memandang penuh birahi kehadapanku. Aku sempat ragu apakah ini jebakan. Aku pikir lebih jauh. Dengan pandangannya aku tahu memang ada rasa haus yang mendalam dihatinya akan pelukan seorang laki-laki. Tanpa menyia-nyiakan waktu aku pangut bibirnya perlahan sekali.

"Aah… ahh…"

Aku kulum bibirnya sampai lidahku menjelajah seluruh rongga mulutnya, tangannya mulai meraba kesana kesini. Aku pun tak ketinggalan untuk memainkan peran, aku usap buah dadanya yang tak terlalu besar tapi menggairahkan. Matanya merem melek menahan gejolak birahi. Aku angkat tubuhnya kedalam kamar kemudian aku kunci. Sedikit demi sedikit aku lepaskan pakaiannya dan tinggal CD dan BHnya. Terus aku gumuli tanpa sisa dari ujung rambut sampai kaki.

Baru kubuka BH yang berwarna hitam kemudian CDnya yang juga berwarna hitam. Tanpa kusuruh pakaianku pun dilepasinya satu persatu. Aku bergumul seolah-olah aku telah lama kenal dengannya. Aku hisap puting sebelah kiri sehingga mengeras dan kemerahan. Tangan kananku menjelajah hutan belantara yang belum dilalui proses melahirkan. Wah begitu kecil dan mungil dengan beberapa bulu yang tumbuh ikal disekitarnya.

Pada suatu saat bibirnya menghampiri kemaluanku. Kuangkat kembali karena aku tidak tega bila hal itu dilakukan. Aku masih menghargai wanita walaupun hasrat itu ada, kami pun bergumul kembali, kurang lebih 20 menit aku melakukan pemanasan. Baru dengan pasrah,

"Mas mulai dong aku sudah nggak tahan…"

Memang aku buat demikian untuk membuat dinding liang vagina agar berlendir untuk mempermudah masuknya kemaluanku. Kakinya sedikit aku renggangkan. Dengan perlahan aku masukan kemaluanku kedalam sumur kenikmatan yang masih sempit. Aku goyang kekanan dan kekiri.

"Aaahh… aahh… yang cepat mas… terusss..."

Wah gawat nih suaranya terus ngoceh nggak karuan sementara aku pegang peranan. Dan beberapa saaat kakinya menghimpit dengan kerasnya dan tangannya mencakar punggungku dengan mesra.

"Mas aku nikmatttt sekali. Aku belum pernah seperti ini dengan mantan suamiku."

Aku sedikit memperlambat goyanganku kemudian aku balik badannya, aku goyang dari belakang dengan sedikit hati-hati agar tidak kesakitan. Pantatnya semakin menggoyang maju mundur tanpa kusadari badannya berbalik dan memelukku erat-erat. Aku kaget…

"Mas aku keluar lagi, aku bahagia sekali dan aku tidak akan lupakan hal ini"

Wah tambah gawat soalnya aku belum sampai.

"Sedikit lagi sayang nanti kamu akan mengalami hal yang diluar kemampuan pikir seorang wanita tentang kenikmatan seksual yang sejati"

Dengan perlahan kubalik dan kubuat gaya konvensional biasa tapi aku dibawah dia diatas. Semakin menggila gerakannya sehingga kepala kemaluanku mulai berkedut menandakan akan keluat lahar kelelakianku yang aku tahan waktu demi waktu agar dapat membahagiakan lawan mainku untuk mendapatkan kebahagiaan yang sejati.

"Ayu... Ayu aku mau sampai… Gimana aku keluarin dimana?"

"Massss... terus saja didalam. Aku sudah tidak tahan lagi…"

Beberapa detik kemudian tubuh kami saling berpelukan dengan erat dan sedikit mengejang satu sama lain sehingga seolah-olah dunia melayang jauh entah ke mana seperti mimpi yang tak terbatas. Kami saling berpangutan untuk mengakhiri permainan ini.

"Mas aku tidak bisa untuk melupakan mas."

"Kamu sudah aku terapi, kembalilah kepada suamimu mudah-mudahan kamu bahagia dengan momongan yang akan kamu dapatkan" kataku.

Dengan berbinar dan meleleh air matanya terlihat rasa sedih dan bahagia.

"Aku mohon maaf semoga kamu tidak merasa berdosa dan aku pun demikian"

"Tidak mas malah aku berterimakasih banyak, aku telah mendapatkan kebahagiaan yang sejati dan aku akan berusaha kembali kepada mantan suamiku"

Beberapa minggu kemudian aku mendapat kabar bahwa wanita yang bernama Ayu itu telah kembali kepada suaminya yang dahulu dengan melakukan pernikahan kembali. Aku terus berkomunikasi dengannya melalui telpon dan perbuatan itu hanya sekali kulakukan dengannya.

Cerita Sex Teman Kost Kakakku

Ini adalah kisah nyata yang terjadi waktu pertama kali duduk di bangku kuliah. Nama saya Boy, usia saya pada waktu itu masih 18 tahun. Saya kuliah di sebuah Universitas ternama di sebuah kota di Jawa Tengah. Kota tersebut tidak jauh dari kota tinggal saya. Namun di kota itulah saya merasakan sesuatu yang akan sangat sulit saya lupakan.


Cerita ini berawal saat saya mencari tempat kost. Namun, setelah sekian lamanya berkeliling kota untuk mencari rumah yang menyediakan kost, Saya mendapatkan hasil nihil. Bukan tanpa alasan, kost penuh karena Saya memang terlalu terlambat untuk mencari tempat kost, sedangkan ospek sudah terlanjur dekat, maka terpaksa saya menginap di kost Kakak perempuan saya, dia lebih tua 4 tahun dari saya dan ia kuliah di Universitas yang sama dengan saya namun kami berbeda jurusan. Dia setuju,Saya numpang kost sementara karena memang di mata dia saya adalah adik bungsunya yang masih polos. jadi tidak sedikitpun dalam benaknya terpikirkan, bahwa Saya sudah tahu banyak mengenai sex meskipun belum pernah melakukan secara langsung.

Setelah dikenalkan dengan teman-teman kostnya, akhirnya dengan sembunyi-sembunyi saya tinggal di kamar kakak saya. Bukanlah hal yang sulit untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman kakak saya, selain sifat supel dan periang saya, sifat kekanak-kanakan saya pun menjadi daya tarik tersendiri bagi teman-teman kakak saya untuk lebih akrab dengan saya, bahkan lebih akrab dari kakak saya. Hingga suatu saat saya berkenalan dengan mbak Lina. Dia adalah sahabat karib kakak saya yang paling dekat dengan saya. Orangnya cantik, berjilbab, dan agak tomboy, ukuran dadanya dan bentuk tubuhnya yang agak bongsor namun proporsional dengan tinggi badanya jelas memikat laki-laki manapun yang melihatnya.

Banyak kejadian seru bersama mbak Lina. Pernah suatu ketika saat dia mandi, dan saya pada waktu itu sedang mencuci baju di dekat kamar mandinya dia meminta tolong pada saya untuk mengambilkan seperangkat sabun yang tertinggal di rak dekat tempat saya mencuci pakaian. Namun saat saya berikan seperangkat sabun tersebut, dia bukannya menyodorkan tangan dari pintu kamar mandi yang seharusnya sedikit ia buka untuk mengambil perangkat sabun, tetapi ia malah membuka seluruh pintu kamar mandi dan bermaksud memperlihatkan tubuhnya tanpa sehelai benangpun, kontan saya langsung menutup mata saat dihadapan saya berdiri sebuah tubuh yang sangat sintal, ukuran dada yang sangat proporsional, mungkin 36B. Dari semua yang sempat saya lihat, godaan mata terberat adalah yang ada di bawah perutnya. Hanya terlihat sekilas, namun Saya melihat warna hitam halus di bawah perutnya.

Bukan hanya itu saja. Pernah terjadi aksi saling dorong pintu kamar mandi saat Saya sedang menikmati kesegaran mandi di dalam, kejadian itu berawal saat dia meminta saya mengambilkan handuk yang ada di dalam kamar mandi tempat saya berada. Dan yang lebih parah lagi, dia dibantu temannya melawan pertahanan saya dari dalam. Saya tidak tahu siapa yang bersama ia menjahili saya. saya hanya bisa mendengar dua tawa cekikikan di luar. tetapi apapun usaha mereka, Yang jelas hasilnya adalah Sudah pasti kemenangan menjadi milik saya, padalah sebenarnya itu adalah sebuah kerugian besar.

Tetapi, dari semua kejadian yang Saya alami, kejadian puncak terjadi pada suatu malam saat saya tidur di kamar Mbak Lina. Cerita ini berawal saat Saya, kakak perempuan saya dan mbak Lina sedang menyaksikan sebuah konser music di Universitas tempat kami menimba ilmu. Ditengah-tengah acara, tiba-tiba rasa kantuk menyerang saya dengan amat sangat. Karena tidak tahan dengan rasa kantuk tersebut, akhirnya Saya pamit pulang ke kost. Tetapi, karena kunci kamar Kakak saya dibawa temannya yang pergi dengan pacarnya, jadi terpaksa Saya membawa kunci kamar Mbak Lina dan numpang tidur di kamarnya. Setelah pulang dan langsung memanjakan kantuk dengan ranjang hangat khas kamar perempuan yang bersih dan wangi, akhirnya Saya tertidur pulas dibelai mimpi, mungkin memimpikan mbak Lina kali ya?? Hihihi.

Ditengah-tengah tidur saya, tida-tiba Saya terbangun. Ada sebuah kehangatan aneh yang begitu asing bagi saya. Tenyata ada seseorang yang memeluk saya di malam itu. Meskipun setengah sadar, tapi logika saya masih sempat bekerja, sangat tidak mungkin jika yang memeluk saya adalah Kakak saya, meskipun kami saudara sekandung, tapi hubungan kami sangat buruk, ia bersikap manis pada saya hanya dihadapan teman-temanya saja. Yang ada di benak saya malam itu pastilah Mbak Lina. Ternyata tebakan saya benar. Ternyata itu memang mbak Lina.

Saat saya terjaga karena kaget, saya rasakan Ia berhadapan langsung dengan saya, dengan posisi kepalanya di leher saya, jadi bisa saya rasakan wangi rambutnya yang selalu ia rawat. Pikiran saya pun liar membayangkan banyak hal. Terlebih ia hanya memakai baju tidur tipis tanpa BH. Jadi gundukan putingnya bisa saya rasakan pas berada di dada saya. Tanpa perlu dikomando, adik kecil saya tidak bisa di ajak kompromi untuk tidak menegang.

Saya lalui malam tersebut tanpa memejamkan mata. Nafas dan detak jantung saya tidak terkendali. Terlebih Mr. Dick yang menegang bebas karena Saya tidak pernah suka memakai CD. Saya lihat angka jam dinding menunjuk di angka satu. Pikiran saya gelisah, rasa takut, tegang, malu dan sedikit rasa senang bercampur aduk. Di tengah kegelisahan tersebut, tiba-tiba Mbak Lina bergerak dalam tidurnya dan menindih paha saya dengan paha mulusnya. Karena posisi tidur miring, maka batang saya tepat bergesekan dengan Ms. Pussy milik Mbak Lina. Saya semakin tegang, alur nafas saya semakin tidak terkendali. Keringat membasahi seluruh tubuh saya. Saat rasa gelisah semakin menjadi-jadi, tiba-tiba kepala Mbak Lina berganti posisi berhadapan dengan wajah saya.

Entah dapat keberanian dari mana, tiba-tiba saya dekatkan bibir saya ke bibir seksi Mbak Lina. Ternyata respon yang saya dapat lebih dari apa yang saya harapkan. Ditengah ketidak sadaran Mbak Lina dalam tidurnya ia membalas saya dengan kuluman bibir dan permainan lidah yang pertama kali saya rasakan. Selanjutnya, dengan mata yang masih tertutup, tangan lembutnya menelusuri tubuh saya. Mulai dari leher, dada, perut hingga dibagian yang paling sensitif dari tubuh saya.

Tiba-tiba ia meremas penis yang dari tadi sudah menegang. Dengan lembut ia mengocok perlahan. Sensasi yang pertama kali saya rasakan ini kontan membuat saya merintih lirih kenikmatan dan melepaskan ciuman mbak Lina.

“Uuuhhhh…”

Sambil memejamkan mata, saya resapi tiap sensasi yang saya rasakan dibagian sensitif saya. Entah setan Dari mana yang merasuki saya, tiba-tiba kepala saya bergerak kebawah dan langsung menyerbu dua bukit kembar di dada Mbak Lina. Saya kulum ujung merah muda dari tempat keramat tersebut. Apa yang saya lakukan mendapat respond dan membangunkan tidur mbak Lina.

“ahhhh!!!! Teruskan Boy…”

Dia semakin kuat meremas penis yang benar-benar menegang maksimal. Saat itu, saya rasakan Dada yang dihadapan saya bergerak dan pindah tempat. Ternyata Mbak Lina berganti posisi dengan kepala tepat menghadap penis saya. Yang saya rasakan selanjutnya adalah, penis saya masuk dalam liang hangat dari mulut Mbak Lina. Saya semakin mengerang.

“Aarrggghhh… Enak Mbak…!!!”

Setelah itu dengan posisi kepalanya yang sedang memanjakan batang keperkasaan saya, rasa tidak ingin kalah menyerang. Saya angkat paha Mbak Lina, dan posisikan pahanya tepat menjepit kepala saya setelah saya lepas CD tipisnya, sehingga yang berada dihadapan saya saat itu adalah gundukan berbulu halus dan dengan tonjolan daging berwarna kemerahan yang telah basah oleh cairan yang berbau khas. Tanpa perlu dikomando, saat Mbak Lina keasikan mempermainkan penis saya, langsung saya hisap liang kenikmatan milik Mbak Lina. Tiba-tiba ia terhentak dan sempat menggigit senjata saya.

“Aaarrgghhh!!! Sakit Mbak…”

Dia tidak menggubris erangan saya, malah semakin dalam memasukan Mr. Dick panjang saya ke dalam tenggorokanya. Karena tidak mau kalah, saya hisap keras-keras vaginanya dan saya mainkan lidah saya menelusuri tiap sudut yang ada di lubang tersebut. Akhirnya ia tidak tahan. Dilepasnya penis saya dari cengkraman mulutnya, dan kini yang ada dihadapan saya adalah wajah cantik Mbak Lina yang haus ciuman.

Dia mencium saya dengan penuh nafsu. Dan saat itu pula tangannya membimbing rudal saya ke liang kewanitaannya, dia benar-benar tidak sabar dan dikuasai nafsu. Karena terlalu tergesa-gesa, senjata pamungkas saya selalu meleset meskipun dibimbing dengan tangannya hingga yang saya rasakan adalah gesekan basah bibir vaginanya. Karena kelihatannya dia kepayahan berusaha, akhirnya saya lepas ciuman saya dan langsung saya baringkan ia dan saya angkat kakinya ke pundak saya. Tidak perlu usaha yang terlalu keras, dengan sedikit memaksa, akhirnya batang saya langsung menghujam deras ke liang kenikmatannya. Saya sodok dia dengan keras. Meski ini adalah yang pertama bagi saya, entah dapat ilmu dari mana hingga seolah-olah Saya sudah sangat berpengalaman dan permainan saya menjadi kasar dan liar. Saya sodok terus hingga terdengar bunyi khas dari bawah perut kami.

“Booyyy… Niikkkkmmmattt… Aaahhhhhh…!!”

Tidak saya hiraukan desahannya, dan saya sama sekali buta pada saat itu, hingga tidak sadar jika di sebelah tempat kami beradu, ternyata ada teman sekamar Mbak Lina yang terbangun karena erangan kami.

Saat saya lihat ia terbangun, pikiran saya langsung dibayangi rasa takut. Saya takut jika ia tiba-tiba teriak saat melihat kami bersetubuh. Namun, rasa takut saya tidak terbukti. Saat saya lihat teman Mbak Lina sambil menyodokan Mbak Lina, saya lihat ia telah memasukan tangannya ke CDnya dan tangan satunya ke BH. Bukti bahwa ia sudah lama terbangun dan terangsang oleh pemandangan yang ada di depannya. Rasa takut saya hilang dan Cuek saja dengan teman sekamar Mbak Lina. Setelah agak lama bermain, kami berganti posisi. Kali ini mbak Lina yang memegang kendali, ia dengan posisi di atas, menggoyang-goyangkan pinggulnya dan semain membuat saya melayang.

Saat saya menoleh lemas oleh ulah Mbak Lina, saya lihat teman sekamar mbak Lina masih sibuk memuaskan dirinya sendiri. Dan tepat saat teman sekamar Mbak Lina dan Saya berhadapan, tatapan memelasnya seolah-olah berkata bahwa ia ingin merasakan hal yang sama dari rasa yang Mbak Lina rasakan. Saya sanmbut dengan tatapan mengundang. Mungkin karena memahami undagan saya tersebut, ia langsung melepas seluruh pakaian yang ia kenakan dan mendekati kami yang masih sibuk beradu.

Tiba-tiba ia langsung membenamkan selangkangannya ke muka saya. Otomatis, dengan posisi saya yang masih terlentang dengan batang kenikmatan yang melayani liang milik mbak Lina, Mulut saya pun mengulum liang kenikmatan teman Mbak Lina yang saya kenal bernama Caca. Pada waktu itu ia masih SMA kelas tiga dan sekolah dekat dengan kampus saya, dia tidak begitu cantik, ukuran dadanya 34B, namun bodinya yang kecil imut tanpa busana cukup kuat untuk memancing libido saya untuk lebih menikmati malam itu.

Pergulatan ini berlangsung lama. Mbak Lina masih sibuk berjingkrak-jingkrak layaknya anak kecil yang main kuda-kudaan, Caca menggesek-gesekkan memeknya kemulut saya menambah sensasi dari hisapan kuat yang saya berikan, bahkan Caca semakin kuat menekan pahanya hingga kepala saya terbenam ke dalam kasur empuk dan hampir membuat saya tidak bisa bernafas. Sementara itu, Mbak Lina semakin menggila. Ia malah memeluk pinggul Caca dan menggunakanya sebagai pegangan agar penis saya semakin dalam memuaskan liangnya, dan tanpa saya sadari paha saya sudah basah oleh cairan hangat dari liang milik Mbak Lina. Setelah itu, tiba-tiba gerakanya terhenti, dan bersamaan dengan itu, senjata saya tiba-tiba tersedot kedalam liangnya yang basah dan hangat. Ternyata ia telah mencapai puncak terlebih dulu dibandingkan saya.

Di saat Mbak Lina lemas dan membaringkan tubuhnya didekat saya, Caca yang tidak puas dengan servis dari mulut saya, langsung mundur bagaikan anak kecil yang main perosotan di dada saya. Setelah itu, ia langsung mengarahkan penis saya tepat di liangnya yang sudah dibanjiri cairan bening dari rahimnya dan cairan air liur saya. Meskipun rudal saya telah licin oleh permainan dari mbak Lina, karena liang Caca yang mungkin masih perawan karena dia masih lebih muda dari Mbak Lina, bahkan lebih muda dari saya, rudal saya masih sulit masuk ke liang kenikmatanya.

Karena Saya sendiri juga tidak sabar dan dirasuki nafsu, langsung saya posisikan ia di tepi ranjang dengan posisi kaki menekuk di pinggir ranjang dan pungggung membungkuk dengan dada yang berada terbuai di ranjang. Dari belakang saya hujamkan senjata saya. Dengan perjuangan yang agak lama, Dan dengan sisa tenaga dari kemenangan saya menghadapi Mbak Lina, saya masukan dengan keras penis saya ke lubang milik Caca. Karena usaha yang kasar dan licinnya penis saya dari pergulatan saya tadi dengan Mbak Lina, batang saya dengan cepat menerobos pertahanan milik Caca. Ternyata ia benar-benar perawan.

“Aaarrgggghhhhhh…!!!! Sakit…!!!!!!!!!!!!”

Dia mengalami kesakitan yang amat sangat seiring dengan warna merah yang saya liat sedikit keluar dari tempat rudal saya menghentak. Rasa sakit itu bahkan tak mampu membuat ia menjerit keras. Tertapi Saya tidak peduli dengan hal itu, tetap saja saya sodok Caca dari belakang dengan keras.

“Saa… Sakkiiittttttttttt…!!!!!”

Saya lihat ia menitikan air mata dan merintih agak keras. Karena takut teriakanya membangunkan seisi kost putri, saya balik posisinya menjadi terlentang di ranjang di sebelah Mbak Lina yang tertidur lemas. Sambil saya sodok, saya hisap bibirnya dengan hisapan bibir saya yang baru saja saya pelajari dari Mbak Lina. Dengan masih terus bergerak, bahkan tempo sodokan saya semakin cepat, hingga akhirnya ia mulai bisa menikmati permainan meski di selangkangannya mengalir darah dan cairan basahnya.

Setelah hampir satu jam bergelut dengan Caca, tiba-tiba tubuh saya menggelinjang hebat, cairan yang dari tadi tidak keluar akhirnya mulai siap untuk dimuntahkan, ternyata Caca mengalami hal yang sama jugs, saat itulah… Croottttttt!!!

Cairan hangat beradu dalam rahim Caca, dan dengan lemas kami berpelukan. Mbak Lina masih belum terlelap meskipun rasa lemas menyerangnya.

“Boy… aku gak nyangka, dibalik sikapmu yang masih seperti anak-anak, ternyata kamu bisa muasin aku lebih dari pacarku sendiri. Aku harap kamu bisa muasin aku lain kali tanpa perlu kupancing” Mbak Lina membisikan sedikit kalimat kecil di tenlinga saya.

“Iya Mbak, aku juga gak nyangka kalo aku diberi pengalaman seindah ini,” saya membalas kalimat dari Mbak Lina sambil mengecup kening Mbak Lina.

“Dan kamu Caca, makasih dah ngasih yang pertama bagiku” saya kecup pula kening Caca dengan lembut. Dan ia hanya membalas dengan senyuman manisnya tanda bahwa ia tidak menyesal telah memberi saya yang pertama baginya.

Posisi saya ditengah tanpa busana dan di kanan kiri saya ada dua gadis yang tertidur lelap tanpa busana pula. Hingga kami bertiga tidur dalam buai kehangatan masing masing.

Pagi hari, saya dibangunkan Mbak Lina, dia sudah mandi dan menyuruh saya dan Caca yang masih bugil berpelukan untuk lekas berpakaian. Namun bagaimana dengan Kakak perempuan saya? Saya sama sekali tidak khawatir dengan Kakak perempuan saya. Kata Mbak Lina ia masih tidur dikamarnya dan masih terlelap sampai saat saya bangun, karena saya tahu persis kebiasaanya yang sering bangun kesiangan.

Setelah kejadian itu, tanpa sepengetahuan kakak saya, saya sering memuaskan dua temannya itu secara bersamaan.