WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Pesta Sex Bersama Anakku dan Teman-Temannya

"Cindy...!!"

Melihat kondisi anak gadis saya yang ternyata baik-baik saja membuat hati saya lebih tenang.

"Ma... Cindy kangen...", dia lalu memeluk saya dengan erat.


Air mata kami kemudian menetes, rasa haru pun menyelumuti kami. Sesaat saya dan Cindy berbagi cerita tanpa menghiraukan teman-temannya yang lain. Walaupun ia tetap terjerumus di lembah gelap, tapi saya masih sedikit tenang, setidaknya bukan tempat bang Sobirin yang lebih bobrok. Cindy memilih di sini, saya yakin dia punya alasan tertentu, mungkin karena orang-orang di sini masih muda, jauh beda dengan 1001 malam yang dari berbagai usia.

Cindy lebih akrab dengan mereka yang umurnya tidak begitu selisih jauh, apalagi di sini bebas dari narkotika, walaupun sebelumnya Asep dan Agus pernah berkeja menjadi kurir narkoba. Lain dengan 1001 Malam yang marak sebagai tempat transaksi narkoba.

"Yeni...", saya memperkenalkan diri kepada orang-orang di sini.

Sebentar saja saya sudah akrab dengan mereka. Bos di sini adalah Iman, dia lah yang mengucurkan uang untuk membebaskan saya dari jeratan bang Sobirin, kemudian ada Rahman, Asep dan Agus yang tadinya menjemput saya. Selain itu ada teman-teman Iman yang lain; Roni, Ardi, Haryono, Maman, Sigit, dan Rudi. Serta tiga gadis pemijit selain Cindy; Eva, Lina dan Putri.

Mereka semua baik sekali dengan Cindy, sampai-sampai nanti malam mau mengadakan pesta untuk merayakan kebebasan saya. Sebagai tanda terima kasih, saya pun berjanji akan memasak makanan untuk pesta nanti malam.

"Bagus, tante tinggal di sini saja, hitung-hitung bantu siapkan makanan untuk kita..", ajak Iman agar saya bergabung dengan usahanya.

"Kasihan juga si Cindy tidur sendirian...", lanjut Iman.

Saya pun mengiyakan karena saya sendiri juga tak tahu harus tinggal di mana lagi. Di gedung ini hanya Cindy dan Rahman saja yang tinggal, sedangkan yang lain kalau sudah malam pulang ke rumah masing-masing, kadang-kadang saja ada yang menginap di sini.

Saya pun mulai keluar berbelanja bahan untuk masakan, Iman meminta Rahman menemani saya, namun sepertinya dia kecapekan karena tadi telah menjemput saya, mau tidak mau Roni lah yang ditunjuk kemudian. Wajahnya sedikit aneh, tampak seperti seorang pecandu seks yang berlebihan, menatap saya saja seperti menatap mangsa.

Tapi tidak apalah, sudah tidak heran kok diperlakukan seperti ini. Tubuh saya yang putih mulus memang sering mengundang nafsu para lelaki hidung belang, apalagi saya adalah keturunan china, walaupun umur saya sudah 33 tahun, namun saya tetap menjaga bentuk tubuh saya.

Dalam perjalanan saya banyak berbincang dengan Roni, saya duduk di sebelahnya yang sedang menyupir. Sesekali ia meraba paha saya yang kebetulan saya menggunakan rok, sehingga gampang sekali disibak. Ternyata Roni adalah sahabat Iman sedari kecil, mereka sudah seperti saudara dan saling membantu. Orang tua Roni pun bekerja pada orang tua Iman.

Karena rabaan lembutnya di paha saya membuat saya sedikit terangsang, tidak ingin mengecewakannya, saya pun membalas meraba pahanya. Roni tersenyum girang, saya buka resleting celananya lalu saya keluarkan penisnya yang sudah ngaceng. Selama perjalanan saya mengocok penisnya dengan tangan saya, dari sejak pergi sampai pulang hingga ke tempat asal kami.

"Tar malam boleh dong temani Roni?", tanya Roni sebelum saya turun dari mobil, saya hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Tidak terasa waktu cepat berlalu, mungkin karena saya terlalu berfokus pada masakan saya, jam sudah menunjukkan pukul 10, hanya Cindy yang membantu saya di dapur, sedangkan yang lain ada di ruang kumpul untuk berkaraoke ria.

"Yuk, kita bawa ke sana...", saya mengajak Cindy anak saya untuk membantu saya membawa masakan.

Cukup kaget ketika saya membuka pintu ruangan kumpul. Ternyata semua sudah bugil dan menikmati bir sambil berkaraoke. Hmm, anak muda jaman sekarang terlalu bebas, pikirku. Namun lebih kagetnya lagi saya lihat Cindy membuka pakaiannya setelah meletakkan masakan di atas meja. Sebenarnya saya tidak awam dengan hal seperti ini, namun tidak tega saja melihat anak saya sendiri yang berbuat demikian. Saya pun meletakkan masakan yang saya pegang di atas meja.

"Ayo gabung...", saya ditarik Roni yang lalu memaksa saya melepaskan pakaian saya.

Tanpa perlawanan, saya mengikuti acara mereka, menari bugil. Para lelaki berkaraoke dan dikaraoke, Cindy melayani bos Iman, saya melihatnya dengab jelas, Cindy menyepong penis Iman dengan nafsu. Sedangkan Eva melayani Rahman dan Ardi, Putri melayani dua sekawan alias Asep dan Agus, sedangkan Lina menyepong punya Haryono dan Maman. Yang tidak dapat jatah masih asyik menikmati bir sambil merokok. Saya kemudian ditarik Roni,

"Sepongin dong tante...", pintanya.

"Awas, hyper tuh...", ejek Rudi dan Sigit yang sedang minun-minum.

Saya mainkan penisnya yang mengeras itu, penuh nafsu Roni mencengkram erat rambut saya agar saya terus menyepong penisnya. Sebentar-bentar ia juga menampar pipi saya, sungguh benar Roni adalah seorang yang hypersex. Sesekali ia juga menjulurkan tangannya ke bawah untuk meremas susu saya.

"Tante masih cantik...", ia coba merayu saya agar saya semakin terangsang. Saya pandangi yang lain juga masih asyik menyepong, seperti lomba saja, lima perempuan sedang melayani beberapa pria secara bersama-sama.

"Tante... Boleh gak Roni request?...", tanya Roni.

Saya pun kemudian menghentikan sepongan saya untuk mendengar apa permintaannya.

"Pengen model bondage...", lanjutnya sambil tersenyum.

Saya tidak menjawabnya, melainkan meneruskan sepongan saya. Penisnya terasa hangat dimulut saya, saya kulum dan saya jilat. Roni hanya diam, ia tidak kembali menanyakan jawaban saya, sungguh pria yang hypersex.

Saya lihat Rudi dan Sigit tidak lagi minum, mereka sudah bergabung dengan yang lainnya. Hanya Iman yang berdua dengan Cindy, tidak ada yang berani rebutan dengannya karena dialah bos di sini. Cindy tidak lagi menyepong, tetapi telah berjongkok di atasnya, percintaan gaya WOT, Cindy terlihat sangat menikmatinya dengan terus menggoyangkan pinggulnya untuk mengocok penis Iman.

Di arah lain, Eva sedang didoggie oleh Rahman. Ardi tidak diam saja, ia masih membiarkan penisnya disepong oleh Eva. Depan belakang diberi penis, terlihat Eva juga sudah cukup profesional. Sigit yang tadi minum bergabung dengan Maman dan Haryono untuk menikmati Lina, ada yang mengentotnya, ada yang disepongnya, dan ada yang menyedoti susunya. Sama halnya keadaan Putri, ia juga melayani tiga pria sekaligus, Asep, Agus dan Rudi. Semua mendapat jatah bergiliran, dari melumat bibirnya, menyedoti susunya, menusukkan penis ke vaginanya, dan adegan-adegan lain yang bergaya threesome.

Sepongan saya mungkin sudah membuat Roni sedikit bosan sehingga ia langsung mendorong saya jatuh, dan lalu ia melumat susu saya dengan kasar. Tubuh saya ditindihnya hingga saya sulit bernafas. Dari bibir hingga ke dada, ia menciumi seluruh tubuh saya. Sambil menyedot susu saya, Roni memainkan jarinya di arah vagina saya. Mungkin ia sedikit marah karena saya tidak menjawab kemauannya untuk menggunakan gaya bondage.

Puting susu saya terasa perih, Roni seperti tanpa perasaan menyedot dan menggigitnya dengan kesetanan. Vagina saya pun terus dikocok dengan jarinya secara paksa. Saya hanya bisa bertahan mengikuti kemauannya. Sial pikirku kalau ketemu pria hyper seperti ini. Dulu di markas bang Sobirin juga sering ketemu yang seperti ini, namun tidak begitu kasar. Roni lebih kasar dari pada pelanggan dulu, susu dan pantat saya pun ditampar hingga kemerahan. Tak mau berlama-lama, Roni pun bangkit mengambil tas nya dan mengeluarkan seutas tali.

"Sorry tante...", ia tersenyum pada saya, saya hanya berbaring lemas di lantai.

Kemudian Roni mengikat tangan saya kebelakang sambil berbisik,

"Tante pura-pura berontak saja...".

Gila, pikirku, nih anak sudah keracunan video porno kayaknya. Agar ia puas, saya pun pura-pura berontak, saya menendangkan kaki saya agar Roni menjauh. “PLLAAAKKKK.....”, Roni menampar pipi saya dengan keras hingga saya pun meneteskan air mata. Sekujur tubuh saya diikat dengan tali hingga saya tidak bisa bergerak, hanya kaki saya saja yang dibiarkan mengangkang.

Bukan hanya itu, Roni pun melakban mulut saya dan kemudian ia pun mengeluarkan sex toy dari tasnya, sebuah benda panjang yang berbentuk penis besar. Saya melihatnya menekan tombol yang ada di gagangnya, kemudian penis itu bergerak dan berputar seperti bor dan menggeliat seperti ulat. Benda itu terbuat seperti dari bahan karet, Roni pun kemudian berusaha menusukkannya ke lubang vagina saya.

"Hmmmmm....", saya tidak bisa bersuara, mulut saya tertutup lakban, benda besar itu terasa tidak muat di vaginsaya. Sakit sekali hingga saya kembali menangis. Benda itu terus mengobok-ngobok dalam vagina saya, berputar-putar seperti bergejolak. Roni tak mau menariknya untuk waktu yang cukup lama, sambil menusukkan benda itu, ia terus menyedot susu saya.

Saya tidak jelas memandang sekitar, mata saya penuh dengan air. Saya rasa yang lain masih asyik bercinta. Mungkin saja mereka sudah berganti posisi atau bahkan sudah berganti pasangan. Hanya saya saja yang diperlakukan begini. Puting susu saya ditarik Roni hingga mancung ke depan. Saya juga merasakan telah mencapai orgasme, air kenikmatan saya sudah muncrat keluar, membasahi sex toy dan tangan Roni, namun dia tetap saja tak mau menarik keluar sex toy nya itu. Lelah sekali diperlalukan seperti ini, mungkin dinding vagina saya pun sudah koyak, karena benda yang besar itu tanpa henti berputar, terasa panas sekali.

Puas menyodokkan penis mainan itu, Roni akhirnya menarik keluar dari dalam vagina saya. Sedikit tenang karena tidak dipaksa seperti tadi lagi, karena sekarang saya lihat Roni akan memasukkan penisnya yang tidak begitu besar ke dalam vagina saya. Untuk mendapatkan sensasi, Roni menampar pipi saya dan menjambak rambut saya hingga saya hanya bisa merintih tanpa bisa berteriak karena mulut saya masih tertutup lakban.

Saya terus digenjot oleh Roni, badan saya terasa sakit karena ikatan tali di tubuh saya sangat erat sekali, semoga saja ini cepat berlalu. Tiba-tiba ada seseorang mendekati kami, saya coba lihat dengan jelas, ternyata itu adalah Iman, ia langsung menarik lakban yang menutupi mulut saya dengan kasar,

"Mama Cindy... Sepongin dong...", ia lalu mendekatkan penisnya ke mulut saya.

'Hoek' mual sekali bagi saya karena penisnya masih basah, karena barusan saja Iman menyetubuhi anak saya Cindy, sehingga bekas-bekas cairan sperma masih melekat di penisnya. Mau tak mau harus saya kulum penisnya itu. Badan saya bergoncang kuat, atas bawah mendapatkan pekerjaannya masing-masing.

Yang lain entah bagaimana, baik Cindy, Eva, Lina maupun Putri. Yang jelas, ini adalah pesta seks yang cukup melelahkan. Saya lihat beberapa pria sudah istirahat, mereka duduk di pojokan sambil merokok. Gadis lain sudah terkapar tak bertenaga melayani beberapa pria, hanya saya yang masih bermain cinta.

"Bos, Roni minta ijin semprot...", pinta Roni yang sudah mau berejakulasi setelah setengah jam meenggenjot vagina saya.

Iman mencabut penisnya dari mulut saya, lalu Roni menggantikan posisinya, Roni mau saya mengulum penisnya hingga cairan spermanya keluar dan memenuhi mulut saya. Mulut saya sudah belepotan dengan sisa sperma Roni yang sebagian sudah tertelan, Roni pun menjauh dan berkumpul dengan yang lain untuk menghabiskan bir dan masakan yang saya buat.

Sekarang giliran bos Iman yang menggenjot vagina saya, dengan tubuh masih terikat, saya terus digoyang. Tak berhenti, kini Rahman datang bersama Ardi untuk bergantian meminta saya sepong. Kelihatannya mereka sudah bosan dengan Cindy, Eva, Putri dan Lina. Dengan keadaan terkapar terikat, tubuh saya bergoyang mengikuti irama genjotan Iman, dan mulut saya terus disumpal penisnya Rahman dan Ardi.

Tak lama dari itu, saya lihat pria yang tadinya beistirahat sudah mulai segar kembali dan antri dibelakang Rahman dan Ardi. Mereka mengerumuni saya, menjamah saya, dan meremas-remas buah dada saya. Hanya Roni yang masih beristirahat sambil merokok, tapi penisnya tidak istirahat, ia masih meminta Putri untuk memainkan penisnya. Sedangkan Eva, Cindy dan Lina menyantap makanan dan minuman yang tersisa.

Seperti halnya Roni, Iman pun menarik penisnya dari vagina saya dan berejakulasi di mulut saya. Kini giliran Rahman yang mengambil posisi Iman. Saya sudah capek, vagina saya pun sudah perih terasa. Tapi mereka seolah tidak mengerti, mungkin karena saya barang baru bagi mereka. Saya sudah tak mampu melihat sekitar, hanya merasakan genjotan para lelaki itu, dan muntah-muntah karena menelan peju mereka.

Setelah Rahman, giliran Ardi, seterusnya entah siapa lagi, saya sudah tak sadarkan diri karena kecapekan, yang jelas semuanya mendapatkan giliran. Ketika saya terbangun, ternyata pesta mereka belum usai, Cindy dikerumuni Agus, Ardi, dan Roni, sedangkan Eva menyepong Rahman sambil didoggie oleh Asep. Gadis lainnya si Putri dan Lina sedang dinikmati pria lainnya, hanya bos Iman yang tidak kelihatan. Mungkin mereka selalu beristirahat sejenak sehingga stamina mereka begitu kuat dari malam hingga pagi hari.

Saya tidak mau memperdulikan mereka lagi, dan berpura-pura tertidur agar tidak perlu capek lagi melayani mereka. Akhirnya siang, saya dibangunkan Cindy dan melepaskan ikatan saya, saya pun segera bangkit untuk mandi. Mereka ternyata sudah mandi terlebih dahulu, hanya beberapa orang saja yang masih tiduran di lantai.

"Habis mandi, siapin makanan ya ma... Bos Iman pergi jemput tamu...", pesan Cindy sebelum saya masuk ke kamar mandi.

"Huah... Capeknya...", desahku di dalam kamar mandi sambil diguyur air hangat dari shower, cukup segar merasakan air yang membasahi tubuh saya. Setelah ini saya harus memasak, tidak tahu siapa yang dijemput oleh Iman.

Jam sudah menunjukkan pukul 16:00, Iman yang ditemani Rahman belum kunjung pulang. Saya dan teman yang lain cukup khawatir, takut makanan yang saya siapkan tidak segar lagi. Roni dan beberapa pria berjaga dibawah, sedangkan para gadis masih santai bersama saya di ruang kumpul, karena tempat usaha kami terhitung baru, masih jarang konsumen yang singgah ke sini.

"Cin, nanti makanannya dipanasin saja ya, mama capek banget nih", saya meminta Cindy untuk membantu saya.

"Oke ma, mama istirahat aja...", jawab Cindy.

Saya pun masuk kamar dan langsung menghempaskan tubuh saya ke ranjang. Capeknya hari ini, saya pasti akan nyenyak tidur di sore ini. Bagaimanapun pesta tadi malam sangat membekas dipikiran saya, karena saya belum pernah mengalami pesta seks ramai-ramai begitu, apalagi bersama dengan Cindy anak saya yang juga ikut berpesta.

Cerita Sex Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa

Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Melinda. Selama beberapa hari Melinda menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana. Setelah beberapa hari, suami Melinda mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Melinda merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Melinda menolak ajakan suaminya itu.


Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Melinda. Melinda, 31 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik. Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Melinda adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Melinda untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Melinda selalu jujur kepada suaminya itu. Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Melinda yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Melinda. Dan nilai lebih dari Melinda adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.

Pagi itu di restoran hotel, ketika Melinda sedang makan pagi..

"Hei…", terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Melinda.

"Hei, Asti.. Ardi.. Pak Ferdy..", sahut Melinda senang ketika melihat mereka bertiga.

"Mana suamimu?", tanya Asti. "Sedang ke Lombok dengan anak-anak", jawab Melinda.

"Duduklah di sini, temani aku makan..", kata Melinda.

Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Asti dan Ardi adalah teman bisnis suami Melinda di Jakarta, sedangkan Ferdy adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Melinda. Ferdy dikenalkan kepada keluarga Melinda oleh Asti dan Ardi dulunya.

"Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik", ajak Ardi kepada Melinda.

"Entahlah..", kata Melinda.

"Loh kenapa? Ayolah Bu Melinda, kita sekali-sekali bergembira bersama", kata Ferdy ikut menyela sambil tersenyum menatap Melinda.

"Ikutlah, Melinda.. Masa cuma aku seorang ceweknya..", kata Asti.

"Baiklah kalau begitu.. Aku ikut", kata Melinda sambil tersenyum.

"Kamu tinggal di kamar berapa?", tanya Ardi kepada Melinda.

"Aku di suite room..", kata Melinda sambil menyebutkan nomor kamarnya.

"Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..", kata Asti sambil menyebutkan nomor kamar mereka.

"Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?", tanya Melinda.

"Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..", kata Ardi.

"Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door?", kata Melinda kepada Asti.

"Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..", kata Asti girang.

"Oke deh, Melinda.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?', ujar Ardi.

"Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..", kata Ardi lagi.

"Baiklah. Kalian pada mau kemana?", tanya Melinda.

"Kami ada keperluan dulu. Bye..", kata Asti sambil bangkit diikuti Ardi dan Andi, lalu mereka pergi.

Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Melinda berangkat dengan mereka ke diskotik.

"Kita minum dulu deh biar hangat", kata Ardi sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Melinda.

"Okay.. Siapa takut..", kata Melinda sambil meneguk minumannya.

"Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.", kata Melinda kepada Ardi.

Ardipun segera menuang lagi minuman ke gelas Melinda yang sudah kosong.

"Jangan terlalu banyak, Melinda.. Nanti kamu jadi hot, loh..", kata Asti sambil tertawa.

Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.

"Turun, yuk..", ajak Ferdy kepada Melinda.

"Ayo..", kata Melinda sambil bangkit.

Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Asti dan Ardi serta Melinda dan Ferdy melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Melinda dan Ferdy saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

"Mmhh..", Melinda mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Ferdy.

Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Melinda yang tinggi, puting susu Melinda mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Ferdy. Gairah Melinda bangkit karenanya. Tapi Melinda masih bisa menahan dirinya. Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Melinda benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

"Kita ngobrol di kamar saja, yuk?", kata Ardi.

"Okay.. Nanti aku buka connecting door-nya", kata Melinda sambil berlalu menuju kamarnya.

Sementara Asti, Ardi dan Ferdy masih duduk-duduk di lobby.

Sesampainya di kamar, Melinda segera membuka connecting door-nya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.

"Ah, masih pada di bawah barangkali..", pikir Melinda sambil merebahkan badannya di ranjang.

Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya Melinda memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

"Hei.. Sorry kami kelamaan..", suara Asti yang tiba-tiba masuk kamar mandi mengagetkan Melinda yang baru saja memakai kimono.

"Ardi dan Ferdy di ruang tengah..", kata Asti lagi sambil agak sempoyongan.

"Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..", kata Asti lagi.

"Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?", bisik hati Melinda.

"Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi", terdengar suara Ardi memanggil.

Akhirnya mereka berempat lagi-lagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Ardi.

"Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..", hati Melinda berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

Terasa oleh Melinda buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..

"Aku akan hirup udara segar dulu..", kata Melinda sambil bangkit agak terhuyung menuju teras.

Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.

"Ohh..", tiba-tiba terdengar suara Ardi mendesah keras dari dalam.

Melinda segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.

"Oh my God!", batin Melinda ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

Di depan matanya, Melinda melihat bagaimana Asti berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok penis Ardi yang sudah tegak. Celana Ardi hanya dibuka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.

"Ohh.. Cepat hisap kontol aku, bitch!", kata Ardi kepada Asti.

Dengan serta merta Asti menurunkan kepalanya, lalu dengan segera penis Ardi sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.

"Ooh..", desah Ardi ketika lidah Asti menjilati kepala penisnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Asti.

"Apa yang harus aku lakukan?", batin Melinda ketika melihat penis Ardi yang basah di jilat dan dihisap mulut Asti.

Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Asti dan Ardi. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Melinda ketika Ferdy menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Ferdy menyusuri kaki Melinda dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Melinda yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..

"Hei! Pak Ferdy ngapain?!", kata Melinda kaget sambil menepis tangan Ferdy dari pantatnya.

"Kita sama-sama tahu sama-sama mau kan..", kata Ferdy sambil mendekati Melinda.

Melinda segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Asti dan Ardi yang sedang asyik melakukan oral seks. Asti dan Ardi sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Melinda melintas. Di dalam kamarnya Melinda masih bingung dan teringat akan oral seks Asti dan Ardi serta perlakuan Ferdy kepadanya. Sebetulnya gairah Melinda sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.

"Ada apa, Melinda?", tiba-tiba Asti masuk kamar dan menghampiri Melinda yang masih berdiri.

"Entahlah.. Aku.. Aku aku tak tahu..", kata Melinda sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

Tapi ketika Melinda akan memakai memakai Bra, tiba-tiba Asti memeluknya dari belakang hingga Melinda tidak jadi memakai Bra tersebut.

"Ayolah Melinda, kita nikmati malam ini..", bisik Asti ke telinga Melinda.

"Mmhh..", desah Melinda ketika tangan Asti mengusap seluruh badannya.

Usapan dan belaian tangan Asti kembali mengobarkan gairah Melinda yang sempat surut.

"Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?", bisik Asti lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Melinda dari belakang.

"Ohh..", desah Melinda sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Asti ketika memainkan dan memelintir puting susunya.

"Mmhh.. Ohh..", desah Melinda makin keras ketika lidah dan bibir Asti menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Melinda.

"Nikmati saja malam ini..", bisik Asti sambil membalikan badan Melinda dan merebahkannya di ranjang.

"Oww..", jerit lirih Melinda ketika lidah dan bibir Asti menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.

"Astiihh.. Oohhsshh..", jerit Melinda makin keras ketika jari Asti masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.

Tubuh Melinda menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

"Kamu menyukai ini?", bisik Asti sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Melinda.

"Ohh.. Assttiihh..", jerit Melinda ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Asti dengan liar menyusuri belahan memeknya.

"Ohh Asti.. Enakkhh", desah Melinda waktu lidah Asti menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.

"Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!", jerit Melinda sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Asti ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.

Asti tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Melinda.

"Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..", bisik Melinda sambil sesekali mengecup bibir Asti.

Ketika Melinda dan Asti saling lumat bibir, terasa oleh Melinda ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.

"Sayang, kamu layani si Ferdy..", Ardi menyuruh dan menarik tubuh Asti dari atas tubuh Melinda.

"Kamu menyukai permainan istriku, Melinda?", kata Ardi yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Melinda serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Melinda.

"Jangaann!! ", teriak Melinda sambil meronta menjauhkan wajah Ardi dari buah dadanya.

Tapi Ardi dengan cepat memegang kedua tangan Melinda, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Melinda.

"Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..", rintih Melinda diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Ardi bisa memberikan rasa itu.

Apalagi ketika penis Ardi yang tegang dan tegak mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Ardi turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Melinda kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.

"Jangannhh..!", jerit lirih Melinda ketika Ardi mulai mengarahkan penisnya ke lubang memeknya.

Asti yang sedang asyik disetubuhi Ferdy sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang penis Ardi agar tidak menyetubuhi Melinda.

"Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Ferdy sana!", kata Ardi agak keras sambil mendorong tubuh Asti.

"Sudahlah, Asti.. Sini!", kata Ferdy sambil menarik dan merebahkan tubuh Asti di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.

"Ohh..!", terdengar desah Melinda ketika penis Ardi masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Ardi menggenjotnya.

"Jangan, Ardiii.. Lepaskan aku!", jerit lirih Melinda di sela rasa sakit dan nikmat ketika penis Ardi keluar masuk memeknya.

"Fuck you, bitch!", kata Ardi sambil mengangkat satu kaki Melinda dan di tahan oleh pundaknya.

"Ohh.. Memekmu nikmat, Melinda..", kata Ardi sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.

"Ohh.. Mmhh..", desah Melinda sambil terpejam.

Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.

"Bagaimana rasanya, sayang..", terdengar suara Asti di samping Melinda ketika Asti mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.

"Kamu nikmati saja malam ini, Melinda.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..", Ferdy menyela sambil mengenjot memek Asti dalam posisi menungging.

"Mmhh.. Sshh.. Ohh", Melinda hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Ardi dengan ganas mengeluar-masukkan penis ke memeknya.

"Ooww.. Ohh..!", terdengar suara Melinda menjerit sambil memegang tangan Ardi dengan kencang.

Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke penis Ardi dan menggoyangnya dengan cepat.

"Serr! Serr! Serr!", kembali memek Melinda mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.

"Ohh.. Fuck you! Fuck you!", kata Ardi sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.

"Crott! Croott! Crott!", air mani Ardi menyembur banyak di dalam memek Melinda.

"Oohh..!!", desah Ardi sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Melinda.

Melinda hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Melinda adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Asti dan Ferdy yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Asti sendiri. Mata Melinda sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memek Melinda yang membuat memeknya berdenyut-denyut hingga Melinda tertidur.

Melinda tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

"Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siap-siapa di dalam", kata petugas kebersihan tersebut.

"Tidak apa-apa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..", kata Melinda sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

Setelah petugas itu keluar, Melinda hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Melinda sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..

Melinda memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam. Ingin rasa hati Melinda menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada teman-teman baik suaminya. Bahkan terbersit keinginan Melinda untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual.

Cerita Sex Kena Ospek Geng Sekampus

Nama saya Mona, mahasiswi semester awal di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Di kampus saya bergaul dengan beberapa senior yang terbilang cukup berduit. Mereka bisa membeli apapun untuk menyenangkan hati mereka. Saya diterima di pergaulan mereka mungkin karena penampilan saya. Saya suka memamerkan payudara saya yang berukuran 36b, dengan bra yang sempit seakan payudara saya akan tumpah. Kulit putih saya yang terawat dan wajah saya yang manis seperti orang Belanda, kata mereka. Singkat cerita, mereka mengajak saya untuk berlibur di akhir pekan.


“Mon, besok kita jadi ya ke anyer, sama Caca, Tias, ma gue” ujar Nita.

“pasti, kita berempat aja ya ta?“ Nita menggangguk sambil memakan buah ditangannya.

Keesokkan harinya saya bersiap-siap, menunggu Caca menjemput saya. Saya membawa 2 pasang bikini dan banyak tank top. Saya suka menjadi pusat perhatian. Tak lama Caca menjemput saya dan kita berangkat ke Anyer. Sampai di Anyer Caca menyewa villa tepat di depan pantai. Saya suka pantai, membuat saya sexy saat menggunakan bikini.

“Yuk Foto-foto“ Caca berteriak.

Serentak kami keluar menggunakan bikini, bikini saya paling minim dan sexy. Entah mengapa, saya selama ini tidak pernah membicarakan mengenai percintaan dengan mereka dan sebaliknya pun mereka begitu.

“ahh… capek foto-foto. Eh, gue bawa ini nih“ kata Nita sambil mengeluarkan pemutar DVD portable, tanpa mandi kami langsung duduk memilih DVD untuk ditonton.

“yeee… Vit, ini bokep semua lo bawa!“ Ujar Tias.

“waduh salah bawa folder donk gue!!“ teriak Nita, kami langsung terkejut.

Tiba tiba Caca berkata “whaa ini nih, Women Lick on me, keren nih! Ehh challenge yuk.. gue bawa ganja.. nahh gue bawa sihh 6 tapi.. ini kan filmnya durasinya pendek2.. setiap 15 menit nih.. yang tahan nonton gak horny gue kasi 1 linting”

“OKEE!!!” Nita berteriak, dan langsung menyetel DVD itu.

Saya hanya diam dan terpaku melihat adegan dalam DVD itu. Tiba tiba tangan Caca merogoh bikini bawah saya dan menusuk vagina saya. Saya hanya diam.

“WAH BASAH!! KALAHH DIAA!! Hahahaha…“ saya tersentak malu.

“ihh apaan sih.. ah curangg nihh“ Caca mengecek satu2 celana dalam Nita dan Tias.

“Yaa Tias juga basah.. kalah deh.. YAKK PEMENANGGNYAA JREENGG! Nitaaa“

“hahahaha… Asik… sini gue isep.. eh gue bagi-bagi deh..“

Caca berdiri dan memberi Nita selinting ganja. Tak lama kami bergantian. Satu linting untuk rame-rame memang tidak terasa, tapi bagi saya entah seperti lemas dan ingin meletakkan badan.

“Mmhhhhpppphhh…“ Lidah saya sudah bertautan dengan Caca.

Caca menjilat lidah saya, dagu, sampai leher saya dengan buasnya. Saya hanya tertegun bingung. Merasakan nikmat campur aneh dalam diri saya.

“Ca, jangan donk…“ saya mendorong Caca.

“ah susah banget nih jinaknya“ Ujar Caca sambil mengikat saya di ranjang.

Begitu tersadar,, saya sudah terikat di ranjang.

“HEH!! NGAPAIN GUE DI IKET-IKET??“ Teriak saya.

“Biar loe rasain.. nikmatnya jilatan gue“

Tias menarik bikini saya. Mereka sudah telanjang bulat. Di sebelah saya Caca dan Nita sedang menikmati vagina masing.. Caca memasukkan jarinya ke dalam vagina Nita dan Sebaliknya.

“mmhh… yess enakk yaa sayang“ ujar Caca sambil menusuk vagina, semua terlihat jelas di depan mata saya.

“nah sekarang nikmatin ya sayang“ Tias lalu menjilat buah dada saya.

Saya merasakan getaran berbeda dari lidah Tias. Nikmat campur takut. Saya menahan erangan dalam mulut saya. Rasanya sesak. Lidah Tias berputar-putar di puting saya, menggigit pelan dan mencubit puting saya dengan jemarinya. Saya merasa tangan Tias turun ke perut saya dan menekannya dengan kencang. Lalu dia setengah berdiri di atas saya.

“enak kan?“ saya hanya diam.

Tias berdiri di atas saya lalu bergerak perlahan, awalnya saya bingung apa yang mau dia lakukan sampai saya merasakan vaginanya menggesek vagina saya.

“mmmhh… aahhhh… duuh.. plisss.. jangan… mmmmhhh…“

Tias bergerak makin kencang. Klirotis saya terasa tergesek dengan cepat. Sontak Tias menoleh ketika Caca berada dibelakangnya dan meremas buah dadanya. Sedangkan saya tersiksa oleh nikmatnya gesekan di klirotis sayaa.

“hehehe.. kita ospek yuukk“ kata Caca.

Caca dan Tias berdiri. Nita langsung tiduran menghadap ke arah vagina saya.

“Nit.. jangan…“ saya merengek.

Entah ada gejolak batin yang lain saat tangan Nita membuka bibir vagina saya.

“Bersih,, wangi.. sluurrrpppptttt…“ lidahnya menjilat bibir vagina saya.

Saya tersentak, pinggang saya menahan rasa geli. Tangan saya yang terlikat membuat ini makin menyiksa. Nita menggigit-gigit klirotis saya, memasukkan lidahnya dan menjilat seluruuh vagina saya. Saya hanya menahan mengerang dan menikmatinya.

“SHHHH… ahhhh.. mmmmm… ENak vit“ tanpa sengaja saya berkata enak.

Setiap jilatan Nita di dalam vagina saya membuat saya melayang. Lidahnya yang kecil berputar-putar dalam lubang vagina saya.

“banjirr nih sayang,, aku masukkin ya?“

Saya bingung. Apa yang mau dimasukkin?

“HAH…?!!“

Tiba-tiba terasa benda tumpul dingin menghampiri bibir vagina saya. Saya mengintip ke bawah. Ternyata dildo.

“AHHHHH… mmmhh… please Nit.. mmhhhh… aahhhhh…“ saya mengerang.

Nikmat sekali, ukuran dan getaran yang dihasilakn sangat pas. Mengisi rongga vagina saya. Sampai terasa penuh dan panas. Tangan Nita terampil sekali memainkan vagina saya. Tubuh saya menggeliat, saya tak bisa menahan ini. Tiba-tiba Caca datang dan menduduki mulut saya.

“JILAT!“ teriak Caca.
Vagina Caca tepat di atas mulut saya. Saya hanya diam, dan “PLAAKK!!”

“GUE BILANG JILAT PEREK!!!“ Caca menampar saya.

Saya merasakan sakit dan nikmat yang bersamaan. Vagina saya masih di penuhi oleh dildo.

“Mmhhh.. pinter gitu.. jilat terus Mon! Kalo gak, gue obok-obok meki loe pake botol!“

Saya agak takut mendenger perkataan Caca. Saya menjilat vagina Caca. Memasukkan lidah saya ke dalam lubang vaginanya dan menggigit klirotisnya. Ternyata enak sekali menikmati vagina.

“Shhh…“ desah saya dan Caca terdengar berbarengan. Saya tak melihat Tias.

“CEPETTT MON… SHHH… gue mauu… AKKHHH…“ wajah saya dipenuhi cairan lengket yang menetes dari vagina Caca.

“hebat ya loe, bikin gue orgasme, gue bales“ kata Caca.

Nita keluar dan meninggalkan dildo itu bergetar di dalam vagina saya. Saya hanya menggeliat hebat. Caca tertawa melihat saya. Saya melihat Caca turun dari kasur dan menuju kopernya. Dia mengambil sex toy, bebentuk penis dilengkapi dengan sabuk. Dia menggunakan itu. Sekarang Nampak Caca memiliki penis.

“Aww… shhhh… akhhh sakit ca.. shhhh…“

Caca menarik dildonya dan memasukkan penis yang dia gunakan dengan hentakan dashyat. Caca menggoyang pinggulnya sambil mencubit puting saya.

“Shhh… terus caa…“

Tak sampai disitu siksaan bagi saya hari itu. Caca mengeluarkan sex toy juga untuk menjepit klirrotis saya. Saya mengerang. Sakit dan nikmat yang aneh.

“Caaa, SAKIT… sumpah lepasin… akhh… mmhhh… shitt… Caa.. ampunn…“

Caca tidak perduli, 15 menit setelah siksaan itu,

“AHHH… Caaa, gue… Ahhhh… mmmpppph…“

Caca memasukkan penis itu dalam-dalam dan mencium saya. Melumat bibir saya dengan ganasnya. Dia membuat vagina saya kaku, menggerakkan penis dengan cara tidak wajar. Tapi kenikmatan tersendiri mulai muncul. Caca berdiri dan melepas ikatan saya. Saya terduduk diam.

“napa lo?“ tanya Caca.

“Enggak… gue ngerasa aneh“

“yaa, pecun sih pecun aja.. mau kata dijilat cewek atau cowok sama-sama enak. Dah mulai sekarang lo tau kan kegiatan rutin kita? Lo mau pacaran sama cowok? Boleh. Asal gak boleh absen dari party sex lesbian kita“ ujar Caca, saya menggangguk.

“sana mandi lo, tar malem kita party lagi“

Cerita Sex Diperiksa Dokter Cantik

Satu jam sudah aku menunggu, tapi dokter tak kunjung datang. Sebenarnya aku malas melakukan medical check up. Pasti cuma cek darah da anir seni saja, lalu dokter memeriksa dengan stetoskop untuk meyakinkan apakah aku terkena penyakit atau tidak. Setidaknya itu yang ada di pikiranku, tidak ada yang lain. Dokter yang memeriksa juga paling-paling dokter cowok yang sudah tua.


Padahal aku sudah melalui proses medical check up yang pertama, yaitu pemeriksaan darah dan air seni. Beberapa kali aku menanyakan pada orang di bagian pendaftaran tapi aku selalu memperoleh jawaban yang sama, lalu menyuruh aku sabar sebab dokternya sedang dalam perjalanan dan mungkin terjebak macet. Sesekali aku menguap karena jenuh sudah satu jam menunggu. Aku melihat arloji di tanganku, dan akhirnya aku memutuskan kalau dokternya tidak datang 15 menit lagi, maka aku akan pulang.

Dengan menarik nafas kesal, aku memandangi sekeliling. Tiba-tiba mata aku tertuju pada seorang wanita cantik yang baru saja masuk ke dalam klinik tersebut. Aku taksir usianya sekitar 33 tahun, tapi tubuhnya masih seperti gadis 20an tahun, kencang dan padat. Payudaranya yang membusung cukup besar itu tampak semakin menonjol di balik kaos oblong ketat yang ia kenakan. Gumpalan pantat di balik celana jeansnya yang juga ketat, sungguh membangkitkan selera. Batinku, coba dokternya dia ya, tidak apa-apa deh kalau harus diperiksa berjam-jam olehnya.

Akan tetapi karena rasa bosan yang sudah menjadi-jadi, aku tidak memperhatikan wanita itu lagi. Aku kembali tenggelam dalam lamunan yang tak tentu arahnya.

"Mas, silakan masuk. Itu dokternya sudah datang." Petugas di loket pendaftaran membuyarkan lamunanku.

Saat itu aku sudah hendak memutuskan untuk pulang ke rumah, mengingat waktu sudah berlalu lima belas menit. Dengan malas-malasan aku bangkit dari bangku dan berjalan masuk ke ruang periksa dokter.

"Selamat malam", suara lembut menyapa saat aku membuka pintu ruang periksa dan masuk ke dalam. Aku menoleh ke arah suara yang amat menyejukkan hati itu. Aku terpana, ternyata dokter yang akan memeriksa aku adalah wanita cantik yang tadi sempat aku perhatikan sejenak. Seketika itu juga aku menjadi bersemangat kembali.

"Selamat malam, Dok", sahutku.

Ia tersenyum. Aah, luluhlah hatiku karena senyumannya yang semakin membuatnya cantik.

"Oke, sekarang coba buka kaos dan berbaring di sana", kata dokter sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ada di sudut ruang periksa tersebut.

Aku pun menurut. Setelah menanggalkan kaos oblong, aku membaringkan diri di tempat tidur. Dokter yang ternyata bernama Dokter Shinta itu menghampiri aku dengan berkalungkan stetoskop di lehernya yang jenjang dan putih.

"Pernah menderita penyakit berat? Tipus? Lever atau yang lainnya?" Tanyanya. Aku menggeleng.

"Sekarang coba tarik nafas lalu hembuskan, begitu berulang-ulang ya."

Dengan stetoskopnya, Dokter Shinta memeriksa tubuhku. Saat stetoskopnya yang dingin itu menyentuh dadaku, seketika itu pula suatu aliran aneh menjalar di tubuhku. Tanpa aku sadari, aku merasakan batang kemaluanku mulai menegang. Aku menjadi gugup, takut kalau Dokter Shinta tahu. Tapi untung ia tidak memperhatikan gerakan di balik celanaku. Namun setiap sentuhan stetoskopnya, apalagi setelah tangannya menekan-nekan ulu hatiku untuk memeriksa apakah bagian tersebut terasa sakit atau tidak, semakin membuat batang kemaluanku bertambah tegak lagi, sehingga cukup menonjol di balik celana panjangku.

"Wah, kenapa kamu ini? Kok itunya berdiri? Terangsang aku ya?"

Mati deh! Ternyata Dokter Shinta tahu apa yang terjadi di selangkanganku. Aduh! Muka ini rasanya mau ditaruh di mana. Malu sekali!

"Nah, coba lepas celana panjang dan celana dalam kamu. Aku mau periksa kamu menderita hernia atau tidak."

Nah lho, kok jadi begini?! Tapi aku menurut saja. Aku tanggalkan seluruh celanaku, sehingga aku telanjang bulat di depan Dokter Shinta yang bak bidadari itu. Gila! Dokter Shinta tertawa melihat batang kemaluanku yang mengeras itu. Batang kemaluanku itu memang tidak terlalu panjang dan besar, malah termasuk berukuran kecil. Tetapi jika sudah menegang seperti saat itu, menjadi cukup menonjol.

"Uh, burung kamu biar kecil tapi bisa tegang juga", kata Dokter Shinta sembari mengelus batang kemaluanku dengan tangannya yang halus.

Wajahku menjadi bersemu merah dibuatnya, sementara tanpa dapat dicegah lagi, batang kemaluanku semakin bertambah tegak tersentuh tangan Dokter Shinta. Dokter Shinta masih mengelus-elus dan mengusap-usap batang kemaluanku itu dari pangkal hingga ujung, juga meremas-remas buah zakarku.

"Mmm... Kamu pernah bermain?" Aku menggeleng.

Jangankan pernah bermain. Baru kali ini aku telanjang di depan seorang wanita! Mana cantik dan molek lagi!

"Aahhh..." Aku mendesah ketika mulut Dokter Shinta mulai mengulum batang kemaluanku.

Lalu dengan lidahnya yang sepertinya sudah mahir digelitiknya ujung kemaluanku itu, membuat aku menggerinjal-gerinjal. Seluruh batang kemaluanku sudah hampir masuk ke dalam mulut Dokter Shinta yang cantik itu. Dengan bertubi-tubi disedot-sedotnya batang kemaluanku. Terasa geli dan nikmat sekali. Baru kali ini aku merasakan kenikmatan yang tak tertandingi seperti ini.

Dokter Shinta segera melanjutkan permainannya. Ia memasukkan dan mengeluarkan batang kemaluanku dari dalam mulutnya berulang-ulang. Gesekan-gesekan antara batang kemaluanku dengan dinding mulutnya yang basah membangkitkan kenikmatan tersendiri bagiku.

"Auuh.. Aaahh.."

Akhirnya aku sudah tidak tahan lagi. Kemaluanku menyemprotkan cairan kental berwarna putih ke dalam mulut Dokter Shinta. Bagai kehausan, Dokter Shinta meneguk semua cairan kental tersebut sampai habis.

"Duh, masa baru begitu saja udah keluar." Dokter Shinta meledek aku yang baru bermain oral saja sudah mencapai klimaks.

"Aku.. baru pertama kali.. melakukan ini.. Dok…" jawabku terengah-engah.

Dokter Shinta tidak menjawab. Ia melepas jas dokternya dan menyampirkannya di gantungan baju di dekat pintu. Kemudian ia menanggalkan kaos oblong yang dikenakannya, juga celana jeansnya. Mataku melotot memandangi payudara montoknya yang tampaknya seperti sudah tidak sabar ingin mencelat keluar dari balik BH-nya yang halus. Mataku serasa mau meloncat keluar sewaktu Dokter Shinta mencopot BH-nya dan melepaskan celana dalamnya.

Astaga! Baru sekarang aku pernah melihat payudara sebesar ini. Sungguh besar namun terpelihara dan kencang. Tidak ada tanda-tanda kendor atau lipatan-lipatan lemak di tubuhnya. Demikian pula pantatnya. Masih menggumpal bulat, montok dan kenyal. Benar-benar tubuh paling sempurna yang pernah aku lihat selama hidupku. Aku rasakan batang kemaluanku mulai bangkit kembali menyaksikan pemandangan yang indah ini.

Dokter Shinta kembali menghampiriku. Ia menyodorkan payudaranya yang menggantung kenyal ke wajahku. Tanpa mau membuang waktu, aku langsung menerima pemberiannya. Mulutku langsung menyergap payudara yang indah itu. Sambil menyedot-nyedot puting susunya yang amat tinggi itu, mengingatkanku waktu aku menyusu pada ibuku saat aku kecil. Dokter Shinta adalah wanita yang kedua yang pernah aku isap-isap payudaranya, tentu saja setelah ibuku saat aku masih kecil.

"Uuuhhh.. Aaah..." Dokter Shinta mendesah-desah saat lidahku menjilat-jilat ujung puting susunya yang begitu tinggi menantang.

Aku mainkan puting susu yang memang menggiurkan itu dengan bebasnya. Sekali-sekali aku gigit puting susunya itu. Tidak cukup keras memang, namun cukup membuat Dokter Shinta menggelinjang sambil meringis-ringis.

Tak lama kemudian, batang kemaluanku sudah siap tempur kembali. Aku menarik tangan Dokter Shinta agar ikut naik ke atas tempat tidur. Dokter Shinta memahami apa maksudku. Ia langsung naik ke atas tubuhku yang masih berbaring telentang di tempat tidur. Perlahan-lahan dengan tubuh sedikit menunduk ia mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya yang sekelilingnya ditumbuhi bulu-bulu lebat kehitaman.

Lalu dengan cukup keras, setelah batang kemaluanku masuk satu sentimeter ke dalam liang kewanitaannya, ia menurunkan pantatnya, membuat batang kemaluanku hampir tertelan seluruhnya di dalam liang senggamanya. Aku melenguh keras dan menggerinjal-gerinjal cukup kencang waktu ujung batang kemaluanku menyentuh pangkal liang kewanitaan Dokter Shinta. Menyadari bahwa aku mulai terangsang, Dokter Shinta menambah kualitas permainannya.

Ia menggerak-gerakkan pantatnya berputar-putar ke kiri ke kanan dan naik turun ke atas ke bawah. Begitu seterusnya berulang-ulang dengan tempo yang semakin lama semakin tinggi. Membuat tubuhku menjadi meregang merasakan nikmat yang tiada tara.

Aku merasa sudah hampir tidak tahan lagi. Batang kemaluanku sudah nyaris menyemprotkan cairan kenikmatan lagi. Namun aku mencoba menahannya sekuat tenaga dan mencoba mengimbangi permainan Dokter Shinta yang liar itu. Akhirnya,

"Aaahh.. Ouuhhh.." Aku dan Dokter Shinta sama-sama menjerit keras.

Kami berdua mencapai klimaks hampir bersamaan. Aku menyemprotkan spermaku di dalam liang kewanitaan Dokter Shinta yang masih berdenyut-denyut menjepit batang kemaluanku.

Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya

Cerita Sex Aku Kewalahan Menghadapi Permainannya


Saya terbangun karena merasa ada yang mengelus-elus payudara saya, dia sedang memandangi saya sambil mengelus-elus payudara saya,

"Udah pagi ya mas" kata saya setengah ngantuk.

"Belum. Baru jam 5, masih bisa satu ronde lagi ya Nis" jawabnya.

Luar biasa dia ini, gak ada puasnya menyetubuhi saya. Saya dipeluknya dan bibir saya diciumnya, saya membalas memeluknya. penisnya mulai saya remas-remas sehingga terasa kembali mengeras. Terus saja saya remas-remas sampai jadi keras sekali. Dia sudah siap menyodok vagina saya lagi. Saya bangun dan mulai mengisap batang penisnya. Dia merubah posisi menjadi 69 sehingga bisa mengakses vagina saya. Vagina saya dijilatinya, saya mengangkangkan paha saya sehingga dia bisa menjilati klitoris saya. Isepan saya menjadi melemah karena serangan fajarnya di vagina saya.

"Mas , subuh subuh gini udah ngasih kenikmatan lagi buat Nisa" kata saya sambil mengocok-ngocok penisnya.

"Mas, Nisa udah napsu banget, dimasukin lagi dong mas" pinta saya.

Dia juga sudah sangat bernafsu juga, segera saya ditelentangkan, dinaiki dan penisnya ditancapkan lagi ke vagina saya, kemudian mulai disentakkan keluar masuk. Sebentar saja seluruh penisnya sudah menancap kembali di vagina saya, enjotannya tambah cepat dan keras.

"Enak banget mas" erangku.

Dia terus saja menggenjot vagina saya dengan penisnya. Akhirnya kembali saya mengejang keenakan,

"Mas , Nisa nyampe mas. Mas pinter amat sih nyodok memek Nisa, sebentar aja Nisa udah nyampe" lenguh saya.

Dia terus saja mengenjotkan penisnya keluar masuk. Cukup lama dia mengenjot vagina saya dengan penisnya sampe akhirnya saya nyampe lagi,

"Mas Nisa nyampe lagi mas, mas lama banget sih keluarnya, Nisa udah lemes banget mas" erangku.

Dia terus saja mengenjot vagina saya sampe akhirnya,

"Nis, aku mau keluar…"

Dia menancapkan penisnya dalam-dalam di vagina saya dan terasa semburan spermanya di vagina saya.

"Nikmat banget ngentotin kamu Nis, vagina kamu bisa kedutan, rasanya kaya diemut sama mulut kamu" katanya.

Kemudian dia mencabut penisnya dari vagina saya dan berbaring disebelah saya.

"Nis, nanti sore kita lanjut lagi yuk, kita main semalem lagi" katanya.

"Dimana mas?"

"Ya ditempatku lah. Kalo nginep semalem lagi kan mencolok, kelihatan sama temenku"

Saya hanya tersenyum dan akhirnya tertidur lagi dipelukannya.

Hari itu saya mengiktui training dengan lesu, maklum aja semaleman “dihajar” sampai klimaks berkali-kali, pastinya ngantuk dan lemes. Presentasi kelompok diskusi saya, saya hanya terdiam saja menjadi pendengar. Selesai training, saya ikut mobilnya. Di perjalanan kami mengisi perut dulu karena memang sudah waktunya, setelah itu baru ke apartmentnya. Saya duduk disofa. Dia masuk kamar mandi, ketika keluar hanya mengenakan celana pendek dan t-shirt, badannya masih tegap. Dia mengambilkan saya soft drink dingin, lalu membukakan untuk saya. Saya meminumnya.

"Mau mandi yang?” tanyanya sambil memeluk saya.

Saya diciumnya, tangannya segera meremas-remas payudara saya kembali. Nafsunya bukan main. Segera saya ditelanjanginya, payudara saya diciuminya dan puting saya diemut-emutnya, segera saja pentil saya mengeras. Tangannya segera saja mengiliki klitoris saya, dia sepertinya mau memanfaatkan waktu seefisien mungkin.

"Mas, kok napsu banget sih sama Nisa?" tanya saya.

"Abis ngentot sama kamu nikmat banget sih" jawabnya.

"Nisa kan juga dapet nikmatnya dipatil lagi sama kontol mas" jawabku.

Kemudian dia melepas celana dan t-shirtnya, dia rupanya tidak mengenakan CD. penisnya sudah ngaceng dengan keras. Dia duduk di ubin didepan saya, kaki saya dikangkangkannya. Badan saya diseretnya sehingga saya setengah rebah di dipinggir sofa. Lidahnya mulai menggesek vagina saya dari atas ke bawah. Klitoris saya menjadi sasaran berikutnya, dijilat, dihisap, kadang digigit pelan, lalu dijilati lagi.

"Mas , enak banget mas… terus mas…" erangku.

Dia terus menjilati klitoris saya sampai saya mencapai klimaks.

"Aaakhh mas… belum dientot Nisa udah nyampe, mas lihai banget deh makan vagina Nisa" kata saya.

Dia berdiri, saya ditariknya supaya duduk. penisnya tepat ada didepan muka saya, segera saja saya genggam dan saya emut kepalanya. Mulut saya mulai mengeluar-masukkan penisnya sambil batangnya saya kocok-kocok dengan cepat dan keras. Dia mengejotkan penisnya pelan dimulut saya seperti sedang mengentoti mulut saya.

Beberapa saat kemudian, dia berbaring di sofa, saya segera menaiki badannya dan menancapkan penisnya di vagina saya, saya sentakkan badan saya kebawah dengan keras sehingga sebentar saja penisnya udah menancap semua di vagina saya. Saya naik turunkan pantat saya dengan cepat sehingga penisnya terkocok oleh vagina saya dengan cepat juga.

"Aakhhh… nikmat banget Nis…" erangnya.

Saya merasa sudah mau nyampe, tapi dia menahan badan saya sehingga saya berhenti mengenjot. penisnya dikeluarkan dari vagina saya, saya disuruhnya telungkup menungging di sofa dan kembali penisnya ditancapkan ke vagina saya dari belakang. Bleesss… penisnya langsung saja menancap semuanya ke vagina saya.

"Aaakhh… nikmatnya…" kali ini saya yang menggerang.

Dia langsung mengenjot vagina saya dengan cepat dan keras. Terasa sekali penisnya menggesek vagina saya, kalau dienjotkan dengan keras terasa penisnya menancap dalam sekali di vagina saya. Makin cepat dienjot makin nikmat rasanya. Tiba-tiba…

"Aaakhh… mas, Nisa nyampe, mas…"

Kenikmatan saya meledak juga akhirnya. DIa terus saja mengenjotkan penisnya keluar masuk dengan cepat sampai akhirnya kembali dia ngecrot.

"Nis, aku keluar… nikmat banget rasanya Nis…" terasa kembali spermanya membanjiri vagina saya.

"Mas, Nisa lemes banget mas, baru sampe apartement udah dientot lagi. Mas gak ada matinya ya…" kata saya sambil tersenyum.

"Ya udah kita mandi terus tidur, besok pagi kita main lagi ya" jawabnya sambil masuk ke kamar mandi.

Saya berbaring saja di sofa sambil istirahat. Selesai mandi, dia keluar masih bertelanjang bulat. Giliran saya mandi. Nikmat berdiri dibawah shower air hangat, apalagi setelah kerja keras barusan. Selesai mandi, dia sudah berbaring diranjang, saya berbaring disebelahnya dan tak lama kemudian saya tertidur.