WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Pemerkosaan Teller Bank

Sita adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang bekerja di sebuah bank negeri. Ia tinggal di rumah kos bersama seorang temannya, Rita, yang juga bekerja di bank yang sama walaupun pada cabang yang berbeda. Ia memiliki tubuh yang kencang, wajahnya cukup manis dengan bibir yang penuh, yang selalu dipoles dengan lipstik warna terang. Tentu saja sebagai seorang teller di bank penampilannya harus selalu dijaga. Ia selalu tampil manis dan harum.


Suatu sore Sita terkejut melihat kantornya telah gelap. Berarti pintu telah dikunci oleh Pak Darto dan Iwan, satpam mereka. Dia tadi pergi ke WC terlebih dulu sebelum akan pulang, mungkin mereka mengira ia sudah pulang. Sita melangkah menuju pintu depan untuk menggedor pintu, karena biasanya para satpam duduk di pintu luar. Ada kabar para satpam di kantor bank tersebut akan diberhentikan karena pengurangan karyawan, Sita merasa kasihan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Seingatnya ada kurang lebih 6 orang satpam disana. Berarti banyak juga korban PHK kali ini.

“Mau kemana Sita?”, tiba-tiba seseorang menegurnya dari kegelapan meja teller.

Sita terkejut, ada Darto dan Iwan. Mereka menyeringai.

“Eh Pak, kok sudah dikunci? Saya mau pulang nih..”, Sita menyapa mereka berdua yang mendekatinya.

“Sita, kami bakal diberhentikan besok..”, Darto berkata.

“Iya Pak, aku juga nggak bisa apa apa..”, Sita menjawab.

Di luar hujan mulai turun.

“Kalau begitu.. kami minta kenang-kenangan saja Mbak”, tiba-tiba Iwan yang lebih muda menjawab sambil menatapnya tajam.

“I.., iya.., besok aku belikan kenang-kenangan..”, Sita menjawab.

Tiba-tiba ia merasa gugup dan cemas. Darto mencekal lengan Sita. Sebelum Sita tersadar, kedua tangannya telah dicekal ke belakang oleh mereka.

“Aah! Jangan Pak!”.

Iwan menarik blus warna ungu milik Sita. Gadis itu terkejut dan tersentak ketika kancing blusnya berhamburan.

“Sekarang aja Sita. Kenang-kenangan untuk seumur hidup!”.

Darto menyeringai melihat Iwan merobek kaos dalam katun Sita yang berwarna putih berenda. Sita berusaha meronta. Namun tak berdaya, dadanya yang kencang yang terbungkus bra hitam berendanya mencuat keluar.

“Jangann! Lepaskann!”, Sita berusaha meronta.

Hujan turun dengan derasnya. Iwan sekarang berusaha menurunkan celana panjang ungu Sita. Kedua lelaki itu sudah sejak lama memperhatikan Sita. Gadis yang mereka tahu tubuhnya sangat kencang dan sintal. Diam-diam mereka sering mengintipnya ketika ke kamar mandi. Saat ini mereka sudah tak tahan lagi. Sita menendang Iwan dengan keras.

“Eit, melawan juga si Mbak ini..”, Iwan hanya menyeringai.

Sita diseret ke meja Head Teller. Dengan sekali kibas semua peralatan di meja itu berhamburan bersih.

“Aahh! Jangan Pak! Jangann!”, Sita mulai menangis ketika ia ditelungkupkan di atas meja itu.

Sementara kedua tangannya terus dicekal Darto, Iwan sekarang lebih leluasa menurunkan rok ungu Sita. Sepatunya terlepas.

Diperlakukan seperti itu, Sita juga mulai merasa terangsang. Ia dapat merasakan angin dingin menerpa kulit pahanya karena celananya telah terlepas jatuh. Sita lemas, hal ini menguntungkan kedua penyiksanya. Dengan mudah mereka menanggalkan blus dan rok ungu Sita.

Sita mengenakan setelan pakaian dalam berenda warna hitam yang mini dan sexy. Mulailah pemerkosaan itu. Pantat Sita yang kencang mulai ditepuk oleh Darto bertubi-tubi, “Plak! Plak!”. Tubuh Sita memang kencang menggairahkan, payudaranya besar dan kencang..

Dalam keadaan menungging di meja seperti ini ia tampak sangat menggairahkan. Iwan menjambak rambut Sita sehingga dapat melihat wajahnya. Bibirnya aduhai dengan lipstik merah menyala, matanya basah, air mata mengalir di pipinya.

“Sret!”, Sita tersentak ketika celana dalamnya telah ditarik robek. Menyusul branya ditarik dengan kasar. Sita benar-benar merasa terhina. Ia dibiarkan hanya dengan mengenakan stocking sewarna dengan kulitnya. Sementara penis Darto yang besar dan keras mulai melesak di vaginanya.

“Ouuhh! Adduhh..!”, Sita merintih.

Seperti anjing, Darto mulai menyodok nyodok Sita dari belakang. Sementara tangannya meremas-remas dadanya yang kencang. Sita hanya mampu menangis tak berdaya.

Tiba-tiba Iwan mengangkat wajahnya, kemudian menyodorkan penisnya yang keras panjang, dia memaksa Sita membuka mulutnya. Sita memegang pinggiran meja menahan rasa ngilu di selangkangannya sementara Iwan memperkosa mulutnya. Meja itu berderit derit mengikuti sentakan-sentakan tubuh mereka.

Darto mendesak dari belakang, Iwan menyodok dari depan. Bibir Sita yang penuh itu terbuka lebar-lebar menampung kemaluan Iwan yang terus keluar masuk di mulutnya. Tiba-tiba Darto mencabut kemaluannya dan menarik Sita.

“Ampuunn.., hentikan Pak..”, Sita menangis tersengal-sengal.

Darto duduk di atas sofa tamu. Kemudian dengan dibantu Iwan, Sita dinaikkan ke pangkuannya, berhadapan dengan pahanya yang terbuka.
“Slebb!”, kemaluan Darto kembali masuk ke vagina Sita yang sudah basah.
Sita menggelinjang ngilu, melenguh dan merintih. Darto kembali memeluk Sita sambil memaksa melumat bibirnya. Kemudian mulai mengaduk aduk vagina gadis itu.

Sita masih tersengal-sengal melayani serangan mulut Darto ketika dirasakannya sesuatu yang keras dan basah memaksa masuk ke lubang anusnya yang sempit. Iwan mulai memaksa menyodominya.

“Nghhmm..! Nghh! Jahannaamm..!”, Sita berusaha meronta, tapi tak berdaya.

Darto terus melumat mulutnya. Sementara Iwan memperkosa anusnya. Sita lemas tak berdaya sementara kedua lubang di tubuhnya disodok bergantian. Payudaranya diremas dari depan maupun belakang. Tubuhnya yang basah oleh peluh semakin membuat dirinya tampak erotis dan merangsang, juga rintihannya.

Tiba-tiba gerakan kedua pemerkosanya yang semakin cepat dan dalam mendadak berhenti. Sita ditelentangkan dengan tergesa kemudian Darto menyodokkan kemaluannya ke mulut gadis itu. Sita gelagapan ketika Darto mengocok mulutnya kemudian mendadak kepala Sita dipegang erat dan..
“Crroot! Crrot!”, cairan sperma Darto muncrat ke dalam mulutnya, bertubi-tubi.

Sita merasa akan muntah, tapi Darto terus menekan hidung Sita hingga ia terpaksa menelan cairan kental itu. Darto terus memainkan batang kemaluannya di mulut Sita hingga bersih. Sita tersengal sengal berusaha menelan semua cairan lengket yang masih tersisa di langit-langit mulutnya.

Mendadak Iwan ikut memasukkan batang kemaluannya ke mulut Sita. Kembali mulut gadis itu diperkosa. Sita terlalu lemah untuk berontak. Ia pasrah hingga kembali cairan sperma mengisi mulutnya, masuk ke tenggorokannya. Sita menangis sesenggukan. Iwan memakai celana dalam Sita untuk membersihkan sisa spermanya.

“Wah.. bener-bener kenangan indah. Yuk..”, ujar Darto sambil membuka pintu belakang.

Tak lama kemudian 3 orang satpam lain masuk.

“Ayo, sekarang giliran kalian!”, Sita terkejut melihat ke-3 satpam bertubuh kekar itu.

Ia akan diperkosa bergiliran semalaman. Celakanya, ia sudah pamit dengan teman sekamarnya Rita, bahwa ia tak pulang malam ini karena harus ke rumah saudaranya hingga tentu tak akan ada yang mencarinya.

Sita ditarik ke tengah lobby bank itu. Ia dikelilingi 6 orang lelaki kekar yang sudah membuka pakaiannya masing-masing hingga Sita dapat melihat batang kemaluan mereka yang telah mengeras.

“Ayo Sita, kulum punyaku!”, Sita yang hanya mengenakan stocking itu dipaksa mengoral mereka bergiliran.

Tubuhnya tiba-tiba di buat dalam keadaan seperti merangkak. Dan sesuatu yang keras mulai melesak paksa di lubang anusnya.

“Aaakhh.., mmhh.., mhh..”, Sita menangis tak berdaya.

Sementara mulutnya dijejali batang kemaluan, anusnya disodok-sodok dengan kasar. Pinggulnya yang kencang dicengkeram.

“Akkghh! Isep teruss..!, Ayoo”.

Satpam yang tengah menyetubuhi mulutnya mengerang ketika cairan spermanya muncrat mengisi mulut Sita. Gadis itu gelagapan menelannya hingga habis. Kepalanya dipegangi dengan sangat erat. Dan lelaki lain langsung menyodokkan batang kemaluannya menggantikan rekannya. Sita dipaksa menelan sperma semua satpam itu bergiliran. Mereka juga bergiliran menyodomi dan memperkosa semua lubang di tubuh Sita bergiliran.

Tubuh Sita yang sintal itu basah berbanjir peluh dan sperma. Stockingnya telah penuh noda-noda sperma kering. Akhirnya Sita ditelentangkan di sofa, kemudian para satpam itu bergiliran mengocok kemaluan mereka di wajahnya, sesekali mereka memasukkannya ke mulut Sita dan mengocoknya disana, hingga secara bergiliran sperma mereka muncrat di seluruh wajah Sita.

Ketika telah selesai Sita telentang dan tersengal-sengal lemas. Tubuh dan wajahnya belepotan cairan sperma, keringat, dan air matanya sendiri. Sita pingsan. Tapi para satpam itu ternyata belum puas.

“Belum pagi nih”, ujar salah seorang dari satpam itu.

“Iya, aku masih belum puas..”.

Akhirnya muncul ide mereka yang lain. Tubuh telanjang Sita diikat erat. Kemudian mereka membawanya ke belakang kantornya. Bagian belakang bank itu memang masih sepi dan banyak semak belukar. Sita yang masih dalam keadaan lemas diletakkan begitu saja di sebuah pondok tua tempat para pemuda berkumpul saat malam.

Hujan telah berhenti tetapi udara masih begitu dinginnya. Mulut Sita disumpal dengan celana dalamnya. Ketika malam semakin larut baru Sita tersadar. Ia tersentak menyadari tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Ia benar-benar merasa dilecehkan karena stockingnya masih terpasang.

Tiba-tiba saja terdengar suara beberapa laki-laki. Dan mereka terkejut ketika masuk.

“Wah! Ada hadiah nih!”, aroma alkohol kental keluar dari mulut mereka.

Sita berusaha meronta ketika mereka mulai menggerayangi tubuh sintal telanjangnya. Tapi ia tak berdaya. Ada 6 orang yang datang. Mereka segera menyalakan lampu listrik yang remang-remang. Tubuh Sita mulai dijadikan bulan-bulanan. Sita hanya bisa menangis pasrah dan merintih tertahan.

Ia ditunggingkan di atas lantai bambu kemudian para lelaki itu bergiliran memperkosanya. Semua lubang di tubuhnya secara bergiliran dan bersamaan disodok-sodok dengan sangat kasar. Kembali Sita bermandi sperma. Mereka menyemprotkannya di punggung, di pantat, dada dan wajahnya. Setiap kali akan pingsan, seseorang akan menampar wajahnya hingga ia kembali tersadar.

“Ini kan teller di bank depan?”

Mereka tertawa-tawa sambil terus memperkosa Sita dengan berbagai posisi. Sita yang masih terikat dan terbungkam hanya dapat pasrah menuruti perlakuan mereka. Cairan berwarna putih dan merah kekuningan mengalir dari lubang pantat dan vaginanya yang telah memerah akibat dipaksa menerima begitu banyak batang penis.

Ketika seseorang sedang sibuk menyodominya, Sita tak tahan lagi dan akhirnya pingsan. Entah sudah berapa kali para pemabuk itu menyemprotkan sperma mereka ke seluruh tubuh Sita sebelum akhirnya meninggalkannya begitu saja setelah mereka puas.

Cerita Sex Memerawani Gadis Tetangga

Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul empat sore. Setelah menonton CD porno sejak pagi penis saya seperti tidak mau diajak kompromi. Nampaknya si adik kecil ini ingin segera disarungkan ke vagina. Masalahnya, rumah sedang kosong melompong. Istri saya pulang kampung sejak kemarin sampai dua hari mendatang, karena ada kerabat punya hajat menikahkan anaknya. Anak tunggal saya ikut bersama ibunya.


Saya pun mencoba menenangkan diri dengan mandi, lalu berbaring di ranjang. Tetapi penis ini masih saja tak berkurang ereksinya. Malah sekarang terasa berdenyut-denyut bagian pucuknya. “Wah gawat gawat nih. Nggak ada sasaran lagi. Salahku sendiri nonton CD porno seharian”, gumamku. Saya bangkit dari ranjang lalu menuju ruang tengah, mngambil segelas air es lalu menghidupkan VCD. Lumayan, tegangan agak mereda. Tetapi ketika ada video klip musik barat agak seronok, penis saya kembali berdenyut-denyut. Nah, belingsatan sendiri jadinya.

Sempat terpikir untuk jajan saja, tapi cepat saya urungkan. Takut kena penyakit kelamin. Salah-salah bisa ketularan HIV yang belum ada obatnya sampai sekarang. Saya ingat-ingat lagi kapan terakhir kali saya menyetubuhi istri saya. Ya, tiga hari lalu. Pantas kini adik kecil saya uring-uringan tak karuan. Soalnya dua hari sekali harus nancap. “Sekarang minta jatah..”. Sambil terus berusaha menenangkan diri, saya duduk-duduk di teras depan membaca koran pagi yang belum tersentuh.

Tiba-tiba pintu pagar berbunyi. Refleks saya mengalihkan pandangan ke arah suara. Dina anak tetangga membuka pagar.

“Selamat sore Om. Tante ada?”

“Sore.. Ooo tante pulang kampung sampai lusa. Ada apa Din?”

“Wah gimana ya..”

“Sini masuk. Duduk dulu, baru ngomong ada keperluan apa”, kata saya ramah.

Gadis berusia sekitar 17 tahun itu menurut. Dia duduk di kursi kosong sebelah saya.

“Nah, ada perlu apa sama tante? Mungkin om bisa bantu”, tuturku sambil menelusuri badan gadis yang mulai mekar itu.

“Anu om, tante janji mau minjemi majalah terbaru.”

“Majalah apa sih?”, tanya saya.

Mata saya tak lepas dari dadanya yang tampak mulai menonjol.

“Apa aja, pokoknya yang terbaru”.

“Ya udah masuk aja, pilih sendiri”.

Saya letakkan koran dan masuk ke dalam. Dia agak ragu-ragu mengikuti. Di ruang tengah saya berhenti.

“Cari sendiri tuh di rak bawah TV itu”, kata saya, kemudian membanting pantat di sofa.

Dina segera jongkok di depan televisi membongkar-bongkar tumpukan majalah di situ. Pikiran saya mulai usil. Saya lihati dengan leluasa tubuhnya dari belakang. Bentuknya sangat bagus untuk ABG seusianya. Pinggulnya padat berisi, bra-nya membayang di baju kaosnya, kulitnya putih bersih. Ah betapa asyiknya kalau saja bisa menikmati tubuh yang mulai berkembang itu.

“Nggak ada om. Ini lama semua”, katanya menyentak lamunan nakalku.

“Nggg.. mungkin ada di kamar tante. Cari aja di sana”

Selama ini saya tak begitu memperhatikan anak itu meski sering main ke rumah saya. Tetapi sekarang, ketika penis uring-uringan tiba-tiba baru saya sadari anak tetangga itu ibarat buah mangga yang telah mulai mengkal. Mata saya mengikuti Dina yang tanpa sungkan-sungkan masuk kekamar tidur. Setan berbisik di telinga saya, “inilah kesempatan bagi penismu agar berhenti berdenyut-denyut. Tapi dia masih kecil dan anak tetangga saya sendiri? Persetan dengan itu semua, yang penting birahimu terlampiaskan”.

Akhirnya saya bangkit menyusul Dina. Di dalam kamar saya lihat anak itu berjongkok membongkar majalah di sudut. Pintu saya tutup dan saya putar kunci pelan-pelan.

“Udah ketemu Din?” tanya saya.

“Belum om”, jawabnya tanpa menoleh.

“Mau lihat CD bagus nggak?”

“CD apa om?”

“Filmnya bagus kok. Ayo duduk di sini.”

Gadis itu tanpa curiga segera berdiri dan duduk pinggir ranjang. Saya memasukkan CD ke VCD dan menghidupkan televisi kamar.

“Film apa sih om?”

“Lihat aja. Pokoknya bagus”, kata saya sambil duduk di sampingnya.

Dia tetap tenang tanpa menaruh curiga.

“Ihh..”, jeritnya begitu melihat intro berisi potongan-potongan adegan orang bersetubuh.

“Bagus kan?”

“Ini kan film porno om?!”

“Iya. Kamu suka kan?”

Dia terus ber-ih.. ih ketika adegan syur berlangsung, tetapi tak berusaha memalingkan pandangannya. Memasuki adegan kedua saya tak tahan lagi. Saya memeluk gadis itu dari belakang.

“Kamu pengen begituan nggak?”, bisikku di telinganya.

“Jangan om”, katanya tapi tak berusaha mengurai tanganku yang melingkari lehernya.

Saya cium lembut tengkuknya. Dia menggelinjang.

“Mau nggak gituan sama om? Kamu belum pernah kan? Enak lho..”

“Tapi.. tapi.. ah jangan om.”

Dia menggeliat berusaha lepas dari tangan saya. Namun saya tak peduli, tangan saya segera meremas dadanya. Dia melenguh dan hendak memberontak.

“Tenang.. tenang.. Nggak sakit kok. om sudah pengalaman..”

Tangan kanan saya menyibak roknya dan menelusupi pangkal pahanya. Saat jari-jari saya mulai bermain di sekitar vaginanya, dia mengerang. Tampak birahinya sudah terangsang. Pelan-pelan badannya saya rebahkan di ranjang tetapi kakinya tetap menjuntai. Mulut saya tak sabar lagi segera mencercah pangkal pahanya yang masih dibalut celana warna hitam.

“Ohh.. ahh.. jangan om”, erangnya sambil berusaha merapatkan kedua kakinya.

Tetapi saya tidak peduli. Malah celana dalamnya kemudian saya turunkan dan saya lepas. Saya terpana melihat pemandangan itu. Pangkal kenikmatan itu begitu mungil, berwarna merah di tengah, dan dihiasi bulu-bulu lembut di atasnya, klitorisnya juga mungil.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, bibir saya segera menyerbu vaginanya. Saya hisap-hisap dan lidah saya mengaduk-aduk liangnya yang sempit. Wah masih perawan dia. Dina terus menggelinjang sambil melenguh dan mengerang keenakan. Bahkan kemudian kakinya menjepit kepala saya, seolah-olah meminta dikerjai lebih dalam dan lebih keras lagi.

Oke Non. Maka lidah saya pun makin dalam menggerayangi dinding vaginanya yang mulai basah. Lima menit lebih barang kenikmatan milik gadis itu saya hajar dengan mulut saya. Saya hitung paling tidak dia sudah dua kali orgasme. Lalu saya merangkak naik. Kaosnya saya lepas pelan-pelan. Menyusul kemudian BH hitamnya yang berukuran 34. Setelah saya remas-remas buah dadanya yang masih keras itu beberapa saat, ganti mulut saya bekerja. Menjilat, memilin, dan mencium putingnya yang kecil.

“Aaahh..” keluh gadis itu.

Tangannya meremas-remas rambut saya menahan kenikmatan tiada tara yang mungkin baru sekarang dia rasakan.

“Enak kan beginian?” tanya saya sambil menatap wajahnya.

“Iii.. iya om. Tapi…”

“Kamu pengen lebih enak lagi?”

Tanpa menunggu jawabannya saya segera mengatur posisi badannya. Kedua kakinya saya angkat ke ranjang. Kini dia tampak telentang pasrah. Penis saya pun sudah tak sabar lagi mendarat di sasaran. Namun saya harus hati-hati. Dia masih perawan sehingga harus sabar agar tidak kesakitan. Mulut saya kembali bermain-main di vaginanya. Setelah kebasahannya saya anggap cukup, penis yang telah tegak saya tempelkan ke bibir vaginanya. Beberapa saat saya gesek-gesekkan sampai Dina makin terangsang.

Kemudian saya coba masukkan perlahan-lahan ke celah yang masih sempit itu. Sedikit demi sedikit saya maju-mundurkan sehingga makin melesak ke dalam. Butuh waktu lima menit lebih agar kepala penis saya masuk seluruhnya. Nah istirahat sebentar karena saya lihat dia tampak menahan nyeri.

“Kalau sakit bilang ya”, kata saya sambil mencium bibirnya sekilas.

Dia mengerang. Kurang sedikit lagi saya akan menjebol perawannya. Genjotan saya tingkatkan meski tetap saya usahakan pelan dan lembut. Nah ada kemajuan, leher penis saya mulai masuk.

“Auw... sakit om...” Dina menjerit tertahan.

Saya berhenti sejenak menunggu liang vaginanya terbiasa menerima penis saya yang berukuran sedang. Satu menit kemudian saya maju lagi. Begitu seterusnya. Selangkah demi selangkah saya maju. Sampai akhirnya..

“Ouuuh…”, dia menjerit lagi.

Saya merasa penis saya menembus sesuatu. Wah saya telah memerawani dia. Saya lihat ada sepercik darah membasahi sprei.

Saya meremas-remas payudaranya dan menciumi bibirnya untuk menenangkan. Setelah agak tenang saya mulai menggenjot lagi anak itu.

“Ahh.. ohh.. asshh…”, dia mengerang dan melenguh ketika saya mulai turun naik di atas tubuhnya.

Genjotan saya tingkatkan dan erangannya pun makin keras. Mendengar itu saya makin bernafsu menyetubuhi gadis itu. Berkali-kali dia orgasme. Tandanya adalah ketika kakinya dijepitkan ke pinggang saya dan mulutnya menggigit lengan atau pundak saya.

“Nggak sakit lagi kan? Sekarang terasa enak kan?”

“Ouuuh enak banget om…”

Sebenarnya saya ingin mempraktekkan berbagai posisi senggama. Tapi saya pikir untuk kali pertama tak perlu macam-macam dulu, yang penting dia mulai bisa menikmati. Lain kali kan itu masih bisa dilakukan.

Sekitar satu jam saya menggoyang tubuhnya habis-habisan sebelum sperma saya muncrat membasahi perut dan payudaranya. Betapa nikmatnya menyetubuhi perawan. Sungguh-sungguh beruntung saya ini.

“Gimana? Betul enak seperti kata om kan?” tanya saya sambil memeluk tubuhnya yang lunglai setelah sama-sama mencapai klimaks.

“Tapi takut om..”

“Nggak usah takut. Takut kenapa?”

“Takut hamil”

Saya ketawa “Kan sperma Om nyemprot di luar vaginamu. Nggak mungkin
hamil dong”

Saya elus-elus rambutnya dan saya ciumi wajahnya. Saya tersenyum puas bisa
meredakan adik kecil saya.

“Kalau pengen enak lagi bilang om ya. Nanti kita belajar berbagai gaya lewat CD”.

“Kalau ketahuan tante gimana?”

“Ya jangan sampai ketahuan dong”

Beberapa saat kemudian birahi saya bangkit lagi. Kali ini Dina saya genjot dalam posisi menungging. Dia sudah tak menjerit kesakitan lagi. Penis saya leluasa keluar masuk diiringi erangan, lenguhan, dan jeritannya. Betapa nikmatnya memerawani ABG sebelah rumah.