WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Perkenalan di Tempat Fitnes

Suatu hari cuti saya di Bandung, saya menyempatkan diri untuk fitnes, menjaga kondisi tubuh saya. Saya kerja di Jakarta, di sebuah event organizer ternama. Hampir setiap dua hari sekali sehabis pulang kerja saya fitnes di sebuah hotel, dengan peralatan fitnes yang lengkap. Maklum, pekerjaan saya membutuhkan vitalitas tinggi. Maka walaupun libur di Bandung, atau tepatnya pulang ke kampung halaman, saya tidak pernah melewatkan olahraga.


Oh ya, nama saya Ardi, usia saya 29 tahun, dan belum menikah. Tentunya hal ini merupakan keuntungan untuk bisa menikmati masa bujang lebih lama, having fun dan get a life. Sebenarnya tujuan fitnes saya awalnya hanya iseng, ingin melihat wanita-wanita seksi berpakaian ketat di gym, tapi akhirnya terasa manfaatnya, otot perut saya rata, bisep dan trisep terbentuk, hingga membuat saya lebih percaya diri. Tapi tentunya kegiatan saya ngeceng wanita berpakaian seksi tidak pernah kulewatkan. Sambil menyelam minum air, hehehee.

Saya membiasakan tidak langsung pulang ke rumah saya. Satu hari cuti, saya manfaatkan untuk menikmati Bandung sendirian, daripada dengan orang-orang rumah. Orang tua saya termasuk old fashion, yang penuh dengan aturan ketat, walaupun saya sadar hal itulah yang dapat membuat saya hidup mandiri.

Hari itu masih sore, sekitar pukul 16.30. Setelah saya check in dan beristirahat sebentar, saya manfaatkan fasilitas fitnes gratis di hotel itu. Saya mulai mengganti baju dengan celana pendek dan t-shirt tanpa lengan. Ketika saya memasuki ruang fitnes, saya melihat sekeliling, masih agak kosong. Hanya ada beberapa pria di beberapa alat. Hmm, this is not my lucky day, pikirku sambil berjalan menuju sepeda statis. Saya kayuh sepeda itu sekitar lima menit dan beralih ke beberapa alat lainnya.

Sepuluh menit menjelang pukul lima sore, satu, dua wanita masuk. Ok, this isn’t my unlucky day after all. Saya makin semangat menarik beban. Diikuti beberapa wanita lainnya, yang tentunya berpakain senam, warna-warni, ada yang memakai celana panjang cutbray dan kaos ketat, short pants dan atasan model sport bra, menambah indahnya pemandangan tempat fitnes tersebut. Beberapa di antara mereka ada yang duduk, ada yang ngobrol, cekikikan, dan mencoba beberapa alat. Oh, mungkin mereka mau ber-aerobic, pikirku.

Betul saja ketika seorang wanita berpakaian seperti mereka masuk dan menotak-ngatik tape compo, dan terdengarlah suara musik house dengan tempo cepat. Masing-masing mereka menyusun barisan dan mulai bergerak mengikuti instruktur. Gerakan demi gerakan mereka ikuti. Masih pemanasan.

Tiba-tiba seorang wanita masuk, sangat cantik dibanding mereka, tinggi 165 kira-kira, rambut panjang diikat buntut kuda, memakai pakaian senam bahan lycra mengkilat warna krem dengan model tank top dan g-string di pantatnya. Bongkahan pantatnya tertutup lycra ketat warna krem lebih muda, sehingga menyerupai warna kulit tangannya yang kuning langsat hingga kaki yang tertutup kaos kaki dan sepatu. Woow, sangat seksi.

Tak sengaja saya lihat bagian dadanya karena handuk yang menggantung di pundak ditaruhnya dikursi dekat dengan alat yang saya pakai. Tonjolan putingnya terlihat jelas sekali, menghiasi tonjolan indah yang kira-kira 36b ukurannya. Dia sedikit melirik ke arah saya, lalu akhirnya mencari barisan yang masih kosong dan mengikuti gerakan instruktur.

Dada saya berdegup kencang pada saat dia melirik walaupun hanya sedetik.
Gerakan demi gerakan instruktur diikutinya, mulai dari gerakan pemanasan hingga gerakan cepat melompat-lompat sehingga bongkahan payudaranya bergerak turun naik. Batang sayau mulai membengkak seiring dengan lincahnya gerakan si dia. Mata saya terus tertuju pada si dia. Posisi saya kebetulan sekali membentuk 45 derajat dari samping kirinya agak ke belakang. Hmm betapa beruntungnya diriku.

Hingga akhirnya dia melakukan gerakan pendinginan. Keringat membasahi bajunya, tercetak jelas di punggung dan dadanya, sehingga tonjolan puting itu terlihat jelas sekali, ketika dia memutar badan ke kiri dan ke kanan. Saya dibuat malu ketika saya memperhatikan dia dan dia memperhatikan saya lewat pantulan kaca cermin yang berada di depannya ketika saya mengalihkan pandangan ke kaca. Dia tersenyum kepada saya lewat pantulan cermin.

Entah berapa lama dia memandang saya sebelum saya sadar dipandangi. Saya langsung memalingkan muka dan beranjak dari alat yang saya pakai. Saya segera berganti pakaian untuk berenang. Segera saya menceburkan diri untuk mendinginkan otak. Dua atau tiga balikan saya coba berganti gaya hingga akhirnya balikan ke empat gaya punggung, kepala saya menabrak seseorang dan terjatuh menyelam ke air.

Sama-sama kami berbalik dan setelah berbalik saya sadar yang saya tabrak adalah pantatnya si dia yang telah berganti pakaian renang, potongan high cut di pinggul dengan warna floral biru yang seksi. Kini tonjolan putingnya tersembunyi dibalik cup baju renangnya, membuatku sedikit kecewa.

“Eh, maaf Mbak, nggak kelihatan, habis gaya punggung sih” kata saya meminta maaf.

“Nggak kok Mas, saya yang salah, nggak lihat jalur orang berenang”, jawabnya sambil mengusap muka dan rambutnya ke belakang.

Dia tersenyum kembali ke arah saya, sambil lirikan matanya menyapu dari muka hingga bagian pusar saya.

“Kenalan dong, saya Ardi”, katsaya sambil menyodorkan tangan.

Dijabatnya tangan saya sambil berkata ”Lisa, lengkapnya Melisa”, jawabnya.

Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri sebatas leher masing-masing. Kami duduk bersampingan.

“Baru disini Mas?”, Lisa mulai lagi membuka pembicaraan.

“Iya, tapi jangan panggil Mas, Ardi aja cukup kok. Saya asli Bandung, tapi memang baru pertama kesini, saya kerja di Jakarta. Kamu Lis?”, saya balik bertanya.

“Saya asli Bandung juga, kerja di bank, jadi CS. Deket sini kok, seberangan. Saya biasa aerobic dan renang disini, dua hari sekali, yang ada jadwal aerobicnya saja”.

Pembicaraan kami berkembang dari hal kerjaan mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi. Lisa baru putus dengan pacarnya, kira-kira tiga minggu yang lalu. Keluarga pacarnya tidak setuju dengan Lisa dan pacarnya dijodohkan dengan orang lain pilihan keluarganya. Agak sedih Lisa bercerita hingga…

“Lis, balapan yuk ke seberang, gaya bebas”, ajakku.

“Hayo, .. siapa takut?”, jawabnya.

Kami berdua berlomba sampai sebrang. Saya sedikit curang dengan mendorong bahunya ke belakang sehingga Lisa sedikit tertinggal. Pada saat saya duluan di seberang.

“Ardi, kamu curang, kamu curang”, rengeknya sambil memukul-mukul tangan saya.

Saya tertawa-tawa dan bergerak mundur menjauhi Lisa. Dia mengejar saya, sampai akhirnya ”Byurr…”, saya terjatuh kebelakang. Kaki saya menyenggol kakiknya hingga dia pun terjatuh dan kami berdua tidak sengaja berpelukan. Dadanya yang empuk menyentuh dada saya, membuat batang saya kembali membengkak. Ketika sama-sama berdiri, kami masih berpelukan walau agak renggang.

Kami saling pandang, kemudian Lisa memeluk saya kembali. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan dengan balas memeluknya. Udara Bandung yang dingin pada sore yang beranjak malam tersebut, menambah kuatnya pelukan kami. Batang saya yang sedari tadi mengeras menyentuh perut bagian bawahnya Lisa, atau tepatnya diatas kemaluan Lisa sedikit. Pantat Lisa bergerak mendorong, hingga batang saya geli terjepit antara perut Lisa dan perut saya. Berulang-ulang Lisa melakukan itu, sehingga darah saya berdesir.

“Emhh.”., Lisa bergumam.

Sadar saya berada di tempat umum, walaupun kolam renang agak sepi, hanya ada tiga orang selain kami, membuat saya agak sedikit melepaskan pelukan walau sayang untuk dilakukan.

“Lis, mending kita sauna yuk!”, ajak saya menetralkan suasana.

Lisa terlihat agak kecewa dengan sikap saya yang sengaja saya lakukan.

“Oke!”, jawabnya singkat.

Kami berdua mengambil handuk di kursi pinggir kolam, dan berjalan bersamaan, menuju ruang sauna yang tak jauh dari kolam renang. Terbayang apa yang dilakukan Lisa saat di kolam, membuat saya menerawang jauh menyusun rencana dengan Lisa selanjutnya.

“Kosong.”, kata saya dalam hati melihat ruang sauna.

Kami berdua masuk, dan saya sengaja mengambil tempat duduk dekat pintu, sehingga orang lain tidak dapat melihat kami beruda lewat jendela kecil pintu sauna.

“Lis…”, belum sempat saya bicara, Lisa mencium bibir saya.

Bibir kami saling berpagut melakukan french kiss. Penetrasi lidah Lisa di mulut saya, menunjukkan dia sangat berpengalaman. Tangan Lisa memegang dada saya, kemudian mengusap menyusuri perut hingga sampai pada batang saya yang sudah berdiri dari tadi. Lisa meremas batang saya yang masih terbungkus celana renang, sementara saya remas dua gunung montok. Betapa kenyal dan kencang sekali payudaranya.
Temperatur ruang sauna menambah panasnya hawa disana. Saya balik Lisa membelakangi saya. Saya ciumi tengkuknya, dan saya remas payudaranya

”Eemhh… Ardi… ahh…”, Lisa melenguh.

Saya susupkan tangan saya ke payudaranya, dari celah baju renangnya. saya pilin putingnya, dan membuat Lisa sedikit menjerit, dan menggelinjang. Untungnya ruangan sauna kedap suara.

“Ardi, aku butuh kamu Di, malam ini saja… ahh…”, Lisa berbisik di telinga saya, sambil masih saya mainkan putingnya.

“Lanjutin di kamarku yuk” ajakku.

Punggung Lisa menjauhi badan saya dan berbalik.

“Kamu check in di sini?”, tanyanya dengan muka sedikit gembira.

“Bukannya kamu …”

“Iya sayang”, sambil akhirnya saya tempatkan jari telunjuk saya di mulutnya.

Akhirnya saya jelaskan alasan saya. Satu-satu kami keluar dari ruang sauna. Lisa bergegas ke ruang ganti. Begitupun dengan saya. Setelah siap, Lisa menenteng tasnya dan kami pun berjalan bersamaan. Kami berjalan sambil memeluk pinggang masing-masing, layaknya sepasang kekasih yang sudah lama pacaran. Setelah mengambil key card dari recepsionist, kami naik ke kamar saya di lantai 2.

Setelah masuk, pintu saya tutup, dan langsung kami merebahkan diri di ranjang. Untung saya memilih tempat tidur sharing. Lisa masih memakai baju seragam banknya, lengkap dengan blazer, sepatu hak tinggi dan stocking hitam menggoda. Seksi sekali!
Lisa di bawah sementara saya diatasnya menciumi bibimnya. Sesekali saya jilat leher dan telinganya. Lisa meracau memanggil-manggil nama saya. Saya buka blazernya.

Dari blouse putih tipis yang masih menempel, terlihat jelas puting berwarna coklat menerawang. Hmm, sengaja tidak memakai bra pikirku. Saya buka kancingnya satu-persatu, lalu saya jilati dadanya. Lidah saya menyapu dua bukit kembarnya yang mengencang. Rambut saya diusapnya sambil dia melenguh dan memanggil nama saya berkali-kali. Sesekali saya gigit putingnya.

Roknya saya singkapkan, ternyata dibalik stocking hitamnya itu, Lisa tidak memakai CD lagi. Saya jilat kemaluan Lisa yang masih terhalang stocking. Noda basah di bibir vagina tercetak jelas di pantyhose-nya. Lisa semakin mecarau dan menggelinjang. Saya gigit sobek bagian yang menutupi vaginanya yang basah. Saya jilati labia mayora-nya. Perlahan saya sapu bibir vagina merah merekah itu. Saya cari klitorisnya dan saya mainkan lidah saya di sana. Lisa mengejang hebat, tanda orgasme pertamanya.

“Emhh Ardi… ahh…”, Lisa sedikit berteriak tertahan.

“Makasih sayang… oh… benar-benar nikmat..!”.

“Pokoknya ganti stocking ku mahal nih”, Lisa merengek sambil cemberut.

“Oke, tapi puasin aku dulu Lis”, jawab saya sambil rebahan di ranjang.

Lisa kemudian berbalik dan berada di atas saya. Blouse terbuka yang masih menempel itu disingkirkannya. Hingga terpampanglah dua bukit menggantung di atas saya. Vagina basah Lisa terasa di perut saya. Rok yang tersingkap dilepasnya lewat atas. Tinggal stocking yang masih menempel, sepatunya pun telah lepas.

Lisa kembali menciumi saya, lidahnya menyapu dada saya dan putting saya. Sesekali digigitnya, membuat saya juga menggelinjang kegelian. Kemudian lidahnya menyapu perut saya hingga sampai ke batang penis saya yang tegak. Lisa mengocoknya perlahan. Ujung lidahnya menari di lubang kencing saya. Rasa hangat itu terasa manakala lidahnya menyapu seluruh permukaan penis saya. Seluruh batang penis saya terbenam di mulut Lisa. Sambil dikocok, keluar masuk mulutnya Lisa.

“Ohh..!” saya pun tak luput meracau.

Hampir terasa puncak saya tercapai, saya dorong Lisa menjauhi penis saya, saya bangun dan berlutut di belakang Lisa.

“Masukkin Di, fuck me please, Ohh.. arrghh.. Ardi!”, Lisa berteriak seiring dengan masuknya batang penis saya sedikit-demi sedikit lewat celah stocking yang saya gigit tadi.

“Bless…” Pantat Lisa bergerak maju mundur, demikian juga pantat saya, saling berlawanan.

“Oh.. ooh.. ahh.. ahh.. God... fuck me harder.. Aaahh.. Ardi.. yes…”, begitulah kalimat tak beraturan yang meluncur dari mulut Lisa, bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan saya.

Saya remas-remas bongkahan pantat seksinya. Lisa menjilati jari-jarinya sendiri.

“Mmhh.. Aaahh.. mmh…”, desah Lisa yang membuat saya semakin bernafsu untuk menggenjot pantat saya.

Kemudian kami berganti posisi. Saya berbaring dan Lisa berada di atas saya. Lisa mengambil ancang-ancang untuk memasukkan penis saya ke dalam vagina basahnya. Lisa terlebih dahulu mengusap-usapkan penis saya di bibir vaginanya. Saya makin kelojotan dengan perlakuan Lisa. Centi demi centi penis saya dilahap vagina Lisa.

“Blesss…”, lengkap sudah penis saya dilahap vaginanya. Lisa bergerak turun naik beraturan. Payudaranya bergoyang turun naik pula. Pemandangan indah tersebut tidak saya lewatkan saat badan saya bangun, dan wajah saya menghampiri payudaranya. Saya remas dua gunung kembar yang begoyang mengikuti irama si empunya. Saya jilati dan saya sedot bergantian.

“Errgh.. erghh.. ahh…”, Lisa mendesah tanda menikmati genjotannya sendiri.

Kini saya tarik tubuh Lisa sehingga ikut berbaring di atas tubuh saya. Saya mulai menggenjot pantat saya dari bawah. Lisa teridam dan menengadahkan kepalanya, dan sesaat kemudian Lisa berteriak meracau.

“Aaarrgghh.. oohh.. aah.. enakkhh.. aahh.. nikmathh.. ooh…”, serunya.

Saya yakin posisi seperti ini membuatnya merasakan sensasi yang tiada duanya. 5 menit dengan posisi seperti itu, Lisa mengejang, dan berteriak panjang

” AARRGHH.. Shit.. Uuuhh.. Ardi.. aaihh…”, tanda dia mencapai orgasme.

Terlepas penis saya dari vaginanya tatkala Lisa ambruk di sisiku. Lisa ngos-ngosan kecapaian. Kini giliran saya untuk mendapatkan kepuasan dari Lisa. Saya balik tubuh penuh keringat yang mengkilat terkena cahaya lampu. Sungguh seksi sekali dia saat itu. Saya buka kedua kakiknya, dan saya lucuti stocking hitam yang masih menempel di kakinya yang mulus. Terlihat indah kaki nan putih mulus dari pantat hingga betis. Saya jilati lubang anus Lisa, dan membuat dia sedikit mengangkat pantatnya keatas.

“Please.. Ardi.. not now.. Give me a break.. Ohh…”, ratapnya ketika mendapat perlakuan itu.

Saya tak mempedulikan ratapannya. Justru saya semakin gila dengan perlakuan saya, menjilati lubang anusnya dan membuat penetrasi di lubangnya dengan lidah saya. Area perineumnya pun tak luput saya jilati. Hingga akhirnya saya putuskan untuk mensodomi Lisa, karena saya lihat lubang anus Lisa agak sedikit besar dibanding orang yang belum pernah disodomi.

“Lis, siap ya…”, kata saya sambil mengusapkan ludah saya di penis yang masih berdiri tegak.

“Apa.., mau apa Di.. kamu ma.. AAH... Ardiii.. Janng.. aahh…”, belum selesai Lisa bicara, saya telah menancapkan penis saya di anusnya.

Begitu hangat, sempit dan lembut. Saya tarik kembali perlahan dan saya masukkan lagi. Iramanya saya percepat. Lisa pasrah, dan meracau tak karuan.

“Eh.. Ehh.. gimana... eh.. enak.. Lis..?”, tanya saya sambil menggenjot pantat Lisa yang seksi nan aduhai.

“Ohh.. Arrdii eh.. aagh.. nikmat Dii.. ah.. shitt.. c’mon.. harder baby…”, jawabnya.

10 menit saya memompa batang penis saya di anusnya, terasa cairan sperma sudah ada di ujung kepala penis saya. Buru-buru saya tarik keluar penis saya, dan saya balik Lisa menghadap saya. Sambil saya kocok, sperma saya muncrat di muka Lisa. Lisa yang tidak siap menerima sperma saya di mukanya mengelengkan kepala kiri dan kanan, hingga sperma saya membasahi rambut dan pipinya. Hingga akhrinya mulutnya terbuka, dan sisa semprotan sperma saya masuk di mulutnya. Setelah sperma saya habis, dia mengulum penis saya. Saya yang masih merasa geli namun nikmat, semakin menikmati sisa-sisa oragasme panjang saya.

“God.. Thank you dear.. Lisa…”, kata saya sesaat setelah roboh ke samping Lisa.

“Curang lagi kamu Di... Tau gitu ku minum semuanya.. kasi tau kek mau mucrat di muka, gitu”, Lisa cemberut menjawabnya.

Saya hanya tersenyum. Tak terasa kami bercinta cukup lama, hingga jam 10 malam. Akhirnya Lisa memutuskan untuk bermalam di kamar saya. Kami melakukannya lagi beberapa kali hingga subuh. Toh, hari itu akhir pekan dan Lisa memang libur di hari Sabtu. Pertemuan pertama itu pula yang membuat kami berpacaran selama 6 bulan hingga akhirnya kami putus. Masih banyak Lisa yang lain.

Cerita Sex Kenekatan Sepupu Istriku



Baru pulang dari luar kota tadi malam Saya agak malas untuk siap-siap ke kantor, nanti agak siang saja Saya masuknya. Istri saya sudah berangkat, anak semata wayang saya sudah ke sekolah. Selesai sarapan yang disiapkan oleh Yuni Saya belum juga mandi tapi menikmati 3 hari koran yang belum sempat saya baca selama keluar kota di sofa ruang tamu. Santai… Hari menjelang siang.

Yuni baru saja selesai mengepel lantai lalu ke belakang. Rasanya ada yang aneh pada Yuni. Tiap hari dia memang mengepel lantai dan itu biasa. Entah apanya yang berbeda pada dia pagi ini Saya tak memperhatikan dan memang tak ingin tahu. Hanya saya rasakan agak aneh saja. Kembali Saya membaca koran. Ketika terdengar suara guyuran air di kamar mandi belakang, juga masih biasa, Yuni selesai bersih-bersih rumah lalu mandi.

Lalu setengah jam kemudian dia tampak sliweran antara dapur dan ruang makan juga biasa. Juga ketika masuk ke kamar anak saya. Sekilas Saya sempat melihatnya lewat dari balik bentangan koran saya. Mungkin ini yang tak biasa, dia tampak lebih rapi dari biasanya. Daster yang dia kenakan tampaknya baru. Mungkin dia mau keluar belanja, pikirku.

Dalam kesibukan dia di ruang makan kadang dia membuat suara-suara benturan piring dan alat lainnya. Dengan sendirinya Saya sedikit mengangkat kepala mengalihkan pandangan dari koran ke arahnya. Itu gerakan refleks yang biasa. Yang tak biasa adalah dia beberapa kali 'tertangkap' sedang memandang ke arah saya tapi tatapan matanya agak ke bawah. Ketika dia sedang ke belakang Saya coba meneliti adakah yang aneh pada diri saya ? Kebiasaan di rumah Saya selalu mengenakan celana pendek. Itu sudah sering dan Yuni juga sudah tahu. Jadi apanya yang aneh? Ah, memang Saya peduli! Saya terus saja membaca.

Sampai tak lama kemudian, saat sedang asyiknya Saya membaca tanpa saya sadari Yuni sudah berdiri di depan saya. Koran saya letakkan, belum sempat Saya membuka mulut untuk bertanya, tiba-tiba Yuni menghambur ke arah saya, duduk di pangkuan saya dan memeluk tubuh saya. Lalu kepalanya yang tersembunyi di dada saya terlihat sedikit berguncang. Yuni menangis. Ada angin apa nih?

"Maafkan aku Kang..." katanya di sela-sela isakan tangisnya.

Yuni memang bukan pembantu. Dia adalah sepupu istri saya, sama-sama dari Kuningan, asal istri saya. Dia cukup cerdas walau SMK saja tak tamat, karena keburu disuruh menikah oleh ibunya. Teman-temannya di kampung pada umumnya hanya tamatan SMP atau bahkan SD. Dia sebenarnya ingin sekolah sampai tingkat sarjana, hanya kebiasaan di kampung mengharuskan anak perempuan sudah berrumah-tangga ketika mencapai umur 16 atau 17 tahun. Malang baginya, ketika usia pernikahan menjelang setahun suaminya tertangkap basah berselingkuh. Dia minta cerai dan ingin ikut istri saya ke Jakarta sambil siapa tahu bisa meneruskan sekolahnya dan menggapai cita-citanya menjadi sarjana pertanian. Di kampung dulu dia memang amat dekat dengan istri saya.

Setelah bicara dengan saya, istri saya setuju menyekolahkan dia sampai tamat. Yuni bersedia kerja apa saja, jadi pembantu sekalipun, untuk mengejar cita-citanya. Kami, saya, istri dan anak saya tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Kami perlakukan dia sebagai salah satu kerabat dekat. Sudah hampir dua bulan dia ikut dengan keluarga kami. Dia sudah terdaftar di SMK kelas tiga, hanya belum mulai sekolah karena menunggu tahun ajaran baru, bulan depan. Umurnya kini 18 tahun. Memang sedikit terlambat. Anak seusia dia umumnya sudah tamat SMU.

"Kenapa Yun?"

"Maafkan aku Kang..."

"Kamu salah apa?"

Dia tak menjawab, masih terisak. Saya coba menduga-duga, mungkin dia tak betah karena mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu.

"Kamu pengen pulang?"

Yuni menggeleng. Sebenarnya tidak juga sebagai pembantu karena istri saya kalau sedang di rumah juga ikut terjun kerja bersama dia. Anak saya pun begitu. Kami memang sudah biasa tak punya pembantu.

"Atau kamu gak betah di sini?"

"Bukan Kang bukan… Saya senang tinggal sama Teteh..." yang dia sebut teteh adalah istri saya.

"Jadi kenapa?"

Hening sejenak, lalu

"Sayanya Kang, aku yang tak beres..."

"Tak beres apanya? Ayo cerita, jangan sungkan-sungkan. Kamu kan sudah aku anggap adikku sendiri"

"Bukan masalah itu Kang... Akang sekeluarga disini baik-baik semua... aku betah..."

"Lalu ?"

Yuni masih diam, tangisnya mereda. Tapi masih belum mau bicara. Tak sadar Saya mengelus-elus rambutnya yang lurus dan panjang sepunggung, seperti rambut istri saya. Memang Yuni banyak kemiripan dengan istri saya. Wajah mirip, hanya istri saya langsat dia sawo matang. Bentuk tubuhnya sama langsing, hanya dada Yuni sedikit lebih besar. Jangan berpikiran macam-macam. Dari 'tampak luar' saja sudah terlihat, tak harus 'memeriksa' ke dalam. Memangnya Saya sekurang ajar itu berani memeriksa dada sepupu istri saya. Dada? Ah... gumpalan daging kembarnya itu melekat erat di dada saya sekarang. Baru sekarang juga Saya menyadari bahwa bongkahan itu menempel di tubuh saya nyaris tak ada penghalang. Tak ada 'kain keras' di antara kami. Masa sih ? Untuk memenuhi rasa penasaran saya, tangan saya yang sedang membelai rambut Yuni 'mampir' sebentar ke punggungnya. Hanya kain daster saja yang ada dipunggungnya. Benar, Yuni tak mengenakan bra! Saya lebih banyak berpikiran positif. Mungkin saja tadi dia sehabis mandi belum sempat memakainya. Tapi menyadari 'keadaan' begini, sebagai lelaki normal tak urung ada yang menggeliat di balik celana pendek saya.

Lalu, saya biarkan pikiran saya mengelana, saya bayangkan bentuk bongkahan yang menekan dada saya, tentunya masih kencang sebab dia belum punya anak dan belum setahun 'dipakai', dengan putingnya yang kecil dan kecoklatan. Imagi begini jelas saja membuat perangkat bawah saya semakin mengencang. Tiba-tiba Yuni mengangkat kepalanya yang dari tadi ngumpet di dada saya. Ditatapnya mata saya sejenak, lalu pandangan beralih ke tubuh saya bagian bawah dan kemudian menatap saya lagi. Saya yakin pantatnya telah merasakan perubahan yang terjadi di celana saya.

"Kang..." bisiknya serak.

Pantatnya bergerak menggoyang, melumati kelamin saya. Mendadak mulut saya dipagutnya. Saya masih shock atas tindakannya ini sehingga bibir saya pasif saja menerima sapuan bibirnya. Tapi itu tak lama, hanya beberapa saat kemudian bibir saya malah merespon lumatan bibirnya. Kami berciuman. Celakanya, entah bagaimana Saya jadi membayangkan bahwa yang sedang saya ciumi ini adalah istri saya sehingga ciuman kami makin seru.

Saya sempat melayang-layang sampai suatu saat kesadaran saya mendarat kembali ke bumi, rasio mengalahkan emosi. Saya dorong kepala Yuni menjauh, ciuman terlepas.

"Yun...?"

Saya lihat ekspresi wajahnya yang kaget sekejap.

"Kang... maafkan aku... tapi aku butuh banget... butuh Kang... udah lama banget menahan..."

"Kamu sadar Yun?"

"Iya Kang, sadar bahwa aku sangat membutuhkanmu Kang..."

"Kenapa aku?" tanya saya lagi.

"Gak tahu Kang. Tubuhku ini udah lama membara… Udah lama aku coba menahannya tapi aku gak mampu Kang... tolong Akang mengerti..."

Tanpa menunggu reaksi saya Yuni kembali menciumi saya. Kami berpagutan lagi. Saya mulai menikmati. Kesadaran saya berangsur menghilang.

Kemudian, ini gerakan refleks yang wajar dan biasa ketika sambil berciuman telapak tangan kanan saya mulai meremas-remas buah dada kirinya yang hanya tertutup daster. Daging yang sekal sesuai bayangan saya tadi. Yuni melepas ciuman lalu mengerang sambil kepalanya mendongak menikmati remasan saya. Bahkan erangannya mirip rintihan istri saya. Cuma sebentar, kembali dia mengejutkan saya, dengan sigapnya dia melepas kancing-kancing dasternya lalu menyodorkan dadanya ke muka saya. Dua bulatan kembar itu kini terhidang di depan hidung saya. Putingnya kecil tapi telah mengacung ke depan. Saya ciumi buah dadanya, bergantian kanan dan kiri. Puting kecil itu memang keras.

Juga gerakan wajar jika tangan saya kemudian mulai membelai-belai pahanya, menyusup ke balik dasternya, merambat sampai pangkalnya. Lagi-lagi Saya dibikin kaget. Hanya daster itulah satu-satunya pakaian yang melekat di tubuh sintal Yuni. Saya tadi tak memperhatikannya. Selangkangan berbulu halus itu telah membasah dan lembab. Yuni makin menggila.

"Ayo Kang. Sekarang… Aku mohon..."

Rangsangan saya sudah tinggi, tak ada lagi pikiran jernih, gelap mata. Saya bopong Yuni menuju kamar saya, saya rebahkan tubuhnya ke kasur. Secepat kilat Yuni melepas dasternya melalui kepalanya.

Tubuh coklat langsing sekal itu kini telanjang bulat tergolek di kasur saya. Kedua belah dadanya memang bulat dan menonjol dihiasi puting dan lingkaran aerola yang kecil menambah keindahannya. Bulu-bulu halus di bawah perutnya terlihat rapi tanda terawat. Tubuh itu kini gelisah, bergerak-gerak tak tentu. Pahanya sudah membuka lebar. Tunggu apa lagi?

"Ayo Kang..."

Secepat kilat Saya memelorotkan celana pendek saya sekaligus dalemannya. Saya naik ke tempat tidur dan mengarahkan penis saya ke selangkangannya. Kebiasaan saya kalau awal penetrasi lebih suka posisi misionaris, sebab Saya bisa melihat ekspresi wajah lawan main saya ketika penis saya mulai menusuk. Wajah dengan mata terpejam dan kepala sedikit mendongak adalah pemandangan paling eksotis. Saya rebahkan tubuh saya menindihnya. Lalu dengan gerakan agak kasar Saya menekan. Muka Yuni berkerut, dia menggigit bibirnya sendiri, ekspresi seperti orang yang sedang kesakitan. Benar saja...

"Aaaww... pelan-pelan Kang, aku udah lama banget engga ..."

Memang, kepala penis saya serasa membentur tembok walaupun Saya yakin dia telah lembab.

"Oh... maaf Yun..."

Lalu dengan sabarnya Saya perlahan membuat gerakan-gerakan pendek maju-mundur untuk membuka 'pintu' yang sudah lama tak pernah dimasuki. Memang agak susah, harus perlahan dan bertahap. Akhirnya seluruh batang saya tertelan oleh vaginanya. Mulailah Saya 'memompa', masih perlahan agar bisa lebih merasakan gesekan batang saya dengan dinding-dinding liang vaginanya. Milik Yuni begitu eratnya menjepit batang saya, persis seperti milik istri saya pada awal-awal kami menikah. Saya jadi teringat sewaktu berbulan madu dengan istri saya beberapa tahun lalu. Cerocohan ribut yang keluar dari mulut Yuni pun sama. Beginilah rasanya. Hanya satu kata: nikmat!

Lalu Yuni? Sulit saya gambarkan. Gerakan tubuhnya begitu liar, ekspresi wajahnya begitu ekstasi manjadikan dia tampak lebih cantik dibanding biasanya. Itu tanda bagi wanita yang sedang merasakan nikmatnya bersenggama. Rasanya Saya bisa lebih lama bertahan memompa, mungkin karena tadi malam Saya sudah mengeluarkan dua kali 'tabungan' ke tubuh istri saya setelah tersimpan selama 3 hari di luar kota.

Hingga beberapa saat kemudian...

Kedua tangannya mengunci amat erat di tubuh saya dan tubuhnya saya rasakan berguncang-guncang teratur beberapa kali. Saya lalu menghentikan pompaan, memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Guncangan lalu melemah seiring melemahnya kuncian tangannya. Lalu tangannya rebah ke samping. Yuni terkapar.

"Terima kasih Kang... terima kasih..." katanya sambil menciumi wajah saya.

"Gimana Yun..."

"Enak banget..."

Tubuh saya masih telungkup menindih tubuhnya, batang saya yang masih tegang masih 'tersimpan' di dalam tubuhnya. Saya masih tak bergerak walaupun Saya belum mencapai puncak. Sengaja untuk memberi waktu kepada Yuni untuk menyelesaikan puncak hubungan seks, orgasme. Karena Saya tahu berdasarkan pengalaman, wanita tak mau 'diganggu' bila sedang dalam masa puncak dan beberapa waktu setelahnya. Syaraf-syaraf pada alat kelaminnya menjadi amat sensitif ketika masa orgasme.

Tapi ketegangan penis saya mulai mengendur karena masa pause begini. Saya harus mulai memompa lagi untuk meningkatkan ketegangan batang saya. Lalu Saya mulai gerakan dengan memundurkan penis saya sedikit dan menusuk lagi.

"Aaaahhh... Kang..." erangnya.

Saya terus saja memompa.
Mulutnya mulai berkicau.
Makin cepat.
Gerakannya makin gila.
Saya melambung.
Melayang.
Beberapa detik kemudian…
Saya sampai.
Saya tumpahkan semuanya ke dalam tubuhnya.
Ya. Saya ejakulasi didalam tubuhnya. Tak terpikirkan lagi untuk mencabutnya. Karena kedua kaki Yuni keburu menjepit erat pinggul saya, dan lalu tubuhnya berguncang teratur seperti tadi.

Beberapa saat berlalu, baru Saya menyadari akan akibat penumpahan ke dalam liangnya.

"Yun... Aku keluar didalam..."

"Engga apa-apa Kang... jangan khawatir"

"Maksudmu?"

"Aku masih menyimpan spiral di dalam..."

Saya lega walaupun di kepala ini menumpuk banyak pertanyaan seperti mengapa dia nekat begini.