WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex SPG Kosmetik Pemuas Birahi


Pagi ini saya duduk di depan rumah ketika tiba-tiba Sinta lewat didepan saya. Sinta adalah seorang wanita yang bekerja sebagai SPG kosmetik di sebuah supermarket. Ia tersenyum manis melihat saya, saya hanya bisa mengangguk saja ketika ia menyapa saya. Padahal sebenarnya saya sangat tertarik sekali kepadanya.
Sinta benar benar wanita yang seksi sekali, badannya tidak terlalu tinggi, tetapi kulitnya putih dan montok. Keberaniannya untuk memakai rok mini membuat saya selalu ingin mengetahui apa yang ada dibalik roknya yang sangat minim itu. Namun semuanya hanya menjadi lamunan saya saja, karena selama ini kami hanya bertegur sapa dijalan saja. Namun saat ini, ketika isteri saya tidak dirumah dan keadaan benar benar sepi, keberanian saya mendadak muncul. Saat itu Sinta yang sudah berjalan agak jauh melewati rumah saya, saya kejar dan saya panggil, dia menoleh.

Mulanya dia agak ragu, namun ketika saya memanggilnya lagi, ia segera kembali dan mendatangi saya.
Didepan pintu pagar ia bertanya sopan, “Ada apa om, kok tumben manggil”
Saya hanya tersenyum dan membalasnya, “kamu mau masuk kerja ya, kok udah rapi jam berapa sih masuknya? Mampir dulu dong”
Saat itu memang dia sudah sangat rapi dan cantik sekali, wajahnya yang putih tidak terlalu kena make up namun justru memancarkan keseksiannya sebagai akibat dari rok mini serta blouse yang dipakainya. Dia tersenyum dan mengatakan kalau memang dia berangkat agak pagi karena mau mampir ke rumah temannya untuk suatu keperluan. Saya mempersilahkan dia masuk dan dia menurut saja.

“Ibu dimana? Kok sepi?” tanya Sinta.
“Lagi ke luar kota” jawab saya ringan.
Saya lihat dia hanya mengangguk-angguk saja, saya giring dia duduk diteras samping rumah saya yang lebar dan rimbun itu.

“Kita duduk disini aja ya, biar santai, sambil saya ganti pakaian dulu” kata saya.

Dia segera duduk di sofa sambil tangannya meraih majalah yang ada disitu. Saya jadi agak senang, karena majalah yang diraihnya itu adalah majalah porno yang saya dapat dari luar negeri. Di dalam saya segera mengganti piyama saya dengan kaos dan celana pendek tanpa celana dalam, karena saya berniat memanfaatkan saat ini untuk menikmati keseksiannya.

Ketika saya keluar, saya lihat dia masih asyik memperhatikan majalah porno itu, dari belakang saya perhatikan gambar apa yang menjadi perhatiannya, ternyata gambar seorang wanita yang sedang dijilati nonoknya. Dengan berlagak tidak tahu saya segera duduk didepannya. Sinta tertawa menyeringai sambil berkata,
“Aduh Om majalahnya kok serem sekali ya”
Saya tidak menanggapi, tetapi saya hanya tersenyum saja.

Saya membuka omongan dengan menanyakan dimana dia bekerja sebenarnya, lalu produk apa saja yang kira kira bisa saya pakai. Dari omong-omong itu saya tahu kalau dia bekerja di counter kosmetik mahal untuk pria. Dalam sekejap saya sudah menghabiskan uang 800 ribu untuk memesan kosmetik pada dia. Sinta sangat senang karena saya demikian boros membelanjakan uang saya untuk kosmetik itu.

Entah disengaja atau tidak, duduknya mulai tidak rapi sehingga pahanya agak renggang. Saat itu saya sekilas melihat celana dalamnya yang berwarna kuning, kontol saya langsung bergetar karena pemandangan yang sekilas itu. Ketika saya rasakan sudah cukup, saya membuat dia masuk dalam pengaruh saya, saya pun mulai melaksanakan jebakan yang saya rencanakan tadi.

“Sinta, kamu suka berenang nggak?”
Dia menjawab spontan, “Suka sekali Om, kenapa?”
Saya menjawab lagi, “Enggak… Om punya baju renang yang bagus sekali yang Om beli di Amerika, tetapi Tante nggak berani memakainya, kamu mau?”
“Mau saja Om, asalkan tante nggak marah kan?” jawabnya.
Saya segera mengambil pakaian renang yang saya maksudkan itu. Memang saya pernah membeli beberapa baju renang yang seksi dan saya berikan kepada beberapa kenalan saya yang berani memakainya. Saat ini saya masih mempunyai beberapa buah dan saya pilih yang paling seksi buat Sinta. Meskipun pakaian renang ini bukan bikini, tetapi potongannya benar benar akan membuat tubuh yang memakainya jadi menonjolkan keseksiannya.

Ketika saya tunjukkan pada Sinta, matanya berbinar binar sambil berkata,
“Aduh Om bagus sekali ya, tapi ini pasti mahal sekali harganya”
“Biar mahal kalau yang memakai pantas kan jadi tambah bagus. Kalau Sinta nggak keberatan, Om kepengen lihat Sinta pakai pakaian renang ini, mau kan?” rayu saya.
Awalnya Sinta agak ragu ragu mendengar tawaran saya itu, tetapi akhirnya dia bertanya,
“Dimana Sinta bisa ganti Om”
“Disini saja diruang tamu” saya sengaja menunjuk kedalam ruang tamu saya.
“Om tunggu disini ya” katanya.

Saya hanya mengangguk, dan Sinta masuk keruang tamu saya untuk mencoba pakaian renang itu. Saya menahan diri untuk tidak masuk kedalam melihat Sinta ganti, karena saya kuatir dia lepas dari perangkap saya itu. Dengan hati berdebar-debar saya menunggunya keluar, namun ternyata ia tidak kunjung keluar juga. Tiba-tiba saya dengar Sinta memanggil saya,
“Oom… Om, kesini saja Sinta malu keluar”
Saya dengan tergesa-gesa masuk ke ruang tamu saya.

Saya lihat pakaian Sinta bergeletakan dilantai sementara tubuhnya sudah dibalut pakaian renang yang saya berikan itu. Benar-benar pas buat Sinta, buah dadanya yang besar itu menggantung manja dibalik pakaian renang itu dan dari samping sebagian buah dadanya menyembul keluar.
Secara tiba tiba Sinta mengangkat kedua tangannya untuk membetulkan letak rambutnya yang kacau, saat itu saya melihat kerimbunan bulu ketiaknya. Kontol saya langsung ngaceng penuh melihat ketiak Sinta ini, tetapi saya masih coba menahan nafsu saya dulu. Dengan tenang saya tarik ia keluar ruang tamu saya agar keluar ke teras.

“Disini lebih jelas Sinta, kan pakaian renang memakainya diluar ruangan, bukan di dalam”
Ia hanya tertawa tetapi menurut saja ketika saya tarik. Di luar saya biarkan ia berdiri sambil bersandar di tembok sementara mata saya menatap keindahan tubuhnya yang hanya dilapisi pakaian renang itu. Ternyata pakaian renang itu tidak dapat menyembunyikan pentil susu Sinta yang tampak menonjol itu, dan juga potongannya yang berani menyebabkan sebagian bulu kemaluan Sinta yang hitam keriting itu keluar disisi paha tanpa disadari oleh pemiliknya.
Saya tertawa sambil berkata, “Aduh Sinta… bulumu luar biasa ya, sampai keluar semua tuh”
Sinta agak terkejut dan melihat kearah yang saya tunjuk, tangannya berusaha menutupi bagian itu, tetapi saya segera mendekatinya dan saya pegang bahunya sambil bertanya lagi.

“Memangnya lebat ya Sin, kok sampai keluar semua”
“Habis pakaian renangnya seksi sih jadi ya mestinya dicukur sedikit biar nggak keluar semua” jawab Sinta enteng.
“Sudah Sin sana kamu ganti saja dengan pakaianmu sendiri” kata saya.
Kalau tadi saya tidak mengikuti ketika Sinta mencoba pakaian renang, saat ini saya ikut masuk dan menunggunya ganti.

“Lho Om kenapa kok disini? Om keluar dulu dong Sinta mau ganti” katanya manja.
“Sudahlah apa bedanya telanjang dengan pakai pakaian renang ini, toh Om sudah bisa membayangkan dalamnya” kata saya.

Sinta memang berani, sambil menyeringai dia segera melepas pakaian renang itu semuanya sehingga tubuhnya jadi telanjang bulat. Mata saya terbelalak melihat buah dadanya yang montok dan bulu jembutnya yang lebat itu, benar benar diluar ukuran, super lebat dan gondrong. Saya sudah tak tahan lagi, dengan sigap saya berdiri dan mendekati Sinta, saya remas susunya dan saya cium bibirnya.

Sinta hanya pasrah saja, tanpa tunggu komando lagi celana saya langsung saya pelorotkan dan saya suruh Sinta memegang kontol saya. Sinta langsung menggenggamnya dengan halus, saya yang sudah bernafsu segera menarik Sinta pelan-pelan ke sofa sambil tetap berciuman dan Sinta masih menggenggam kontol saya. Ketika saya sudah berhasil duduk disofa, saya suruh Sinta duduk dipangkuan saya dan saya selipkan kontol saya dibibir nonoknya.

Dengan sekali tekan, kontol saya amblas diliang nonok Sinta. Ternyata Sinta memang betul-betul sudah nggak perawan, tetapi nonoknya masih terasa seret, mungkin masih jarang dipakai. Gerakan pantat Sinta cepat sekali naik turun sementara ia mencium dan memeluk saya erat erat. Saya rasakan hangatnya liang nonok Sinta yang masih peret itu, geseran buah dadanya didada saya membuat saya makin bernafsu.

Merasakan ganasnya Sinta yang menduduki kontol saya, saya kuatir kalau saya akan cepat ambrol. Dengan tergesa-gesa saya dorong Sinta sehingga ia berdiri dan terlepaslah kontol saya dari liang nonoknya. Saya mendudukkan dia diatas sofa dan saya angkat kakinya keatas sehingga membuat nonoknya terkuak lebar dengan bibirnya yang berwarna merah muda sudah mulai berkilat oleh lendir dari nonoknya sendiri.

Langsung saja lidah saya menjilati itil Sinta yang membengkak seperti kacang tanah itu. Sinta menggeliat sambil merintih, jembutnya yang lebat saya sisihkan kesamping sehingga lidah saya makin leluasa menyusuri tepi bibir nonok Sinta untuk kemudian saya masukkan ujung lidah saya ke liang nonoknya yang menganga itu. Sinta betul-betul tidak tahan dengan jilatan saya ini, tangannya meremas remas susunya sendiri, sedangkan mulutnya merintih rintih.

Ketika saya lihat lendir nonok Sinta sudah membanjir, saya berdiri untuk segera menyetubuhi Sinta, saat itu tiba-tiba saja Sinta menangkap kontol saya dan langsung dimasukkannya kedalam mulutnya. Dihisapnya kontol saya kuat-kuat. Kuluman Sinta tidak terlalu enak, tetapi saya tertegun melihat Sinta yang begitu rakus. Saya memuaskan mata saya dengan pemandangan yang indah sekali, buah dada Sinta berjuntai montok dan kenyal sementara bibirnya yang dipulas lipstik tipis mengulum kontol saya.

Tak tahan dengan semua ini, segera saya cabut kontol saya dari bibir Sinta dan saya dorong Sinta hingga terbaring. Pelan-pelan saya letakkan kontol saya dibibir nonoknya yang berbulu lebat itu, Sinta membantu saya dengan menyibakkan jembutnya serta menguakkan nonoknya. Pelan-pelan saya menusukkan kontol saya untuk merasakan liang nonok Sinta yang hangat itu sampai akhirnya kontol saya mencapai dasar nonok Sinta.

Sinta mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan pantatnya mulai diputar kekiri dan berganti kekanan. Saya tidak sempat merojokkan kontol saya, karena goyangan Sinta yang alami membuat saya tidak mampu menahan rasa nikmat yang luar biasa ini. Saya hanya mampu menghisap pentil susu Sinta sementara air mani saya menyembur keluar oleh empotan dan goyangan Sinta itu. Saya tahu kalau Sinta belum mencapai kepuasan, tetapi saya tidak perduli, yang penting saya puas dan saya sudah membayarnya.

Benar saja, setelah beberapa lama saya terhanyut oleh rasa nikmat yang diberikannya, Sinta segera mendorong saya dan mengatakan kalau dia mau segera pergi, bahkan dia minta ijin pada saya untuk mandi terlebih dahulu. Saya hanya mengiyakan apa yang diminta Sinta, rasanya saya masih terbius oleh semua ini. Satu kalimat yang saya pesankan pada Sinta, sering seringlah mampir, pasti ada bonus yang menarik untuknya bila selalu membuat saya puas seperti pagi ini.

Cerita Sex Linda Model Majalah


Linda baru saja selesai mandi pagi, tubuhnya kini terasa segar. Pagi ini ia harus menemui pak Rudi ketua jurusan fakultas hukum di kampusnya. Dia berusaha memakai pakaian serapih mungkin, diluar kebiasaanya setiap ke kampus yang selalu memakai pakaian casual. Linda sudah menduga cepat atau lambat ia akan dipanggil oleh pihak kampus berkaitan dengan foto-fotonya yang dimuat di subuah majalah khusus pria.
Biaya kuliah saat ini sangat mahal, apalagi usaha orang tuanya agak tersendat sehingga otomatis aliran uang pun tersendat. Beruntung seorang teman menawarinya pekerjaan menjadi model di sebuah majalah khusus pria dewasa, syaratnya tentu saja harus berani tampil hot. Linda menerima tawaran itu dan fotonya pun kerap menghiasi majalah pria dewasa, uang yang diterimanya pun cukup lumayan. Namun meski begitu, tetap saja penghasilannya belum cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup dan kuliahnya, oleh karena itu di waktu luang ia juga menjadi “escort”.

Linda bercermin untuk terakhir kalinya, mengagumi tubuhnya sendiri, rambut panjang, body ideal dan buah dada yang membanggakan. Linda tak pernah memakai make up berlebih, ia mempunyai kecantikan alami, kecantikan yang banyak membuat mata para lelaki terbelalak. Hari ini Linda sengaja memakai rok hitam diatas lutut dan blouse putih yang ketat mencetak buah dadanya.

Dia tiba di ruang ketua jurusan sedikit terlambat akibat macet. Linda mengetuk pintu dan masuk, ia sedikit terkejut karena selain pak Rudi, disana ada pak Arif pembantu rektor, dan pak Agus dosen di fak hukum. Di meja kerja pak Rudi tergeletak majalah dewasa yang memuat gambar gambar panas Linda yang semi nude.
Linda sedikit panik, karena ia tak menyangka harus bertemu tiga orang itu, tadinya ia akan sedikit “merayu” ketua jurusan seandainya ia akan kena sanksi, tapi sekarang?

“Silakan duduk” kata pak Rudi.

“Pagi pak” jawab Linda sembari duduk.
“Linda… kamu dipanggil kemari sehubungan dengan foto kamu yang dimuat di majalah ini. Kamu tahu ini bisa mencoreng nama baik kampus ini” kata pak Rudi.
“Tapi pak… foto ini punya estetika seninya , bukan gambar tabloid murahan. Apalagi majalah ini punya reputasi yang bagus” Linda membela diri.
“Meski begitu bukan berarti kamu bisa bebas seperti ini, ingat reputasi terhormat kampus kita, apalagi dimana kamu kuliah tertulis jelas disitu.” kata pak Arif
Linda menyadari bahwa percuma ia berdebat, ia pasti kalah. Namun ia tetap mencari cara bagaimana ia bisa keluar dari masalah ini. Linda berusaha menarik simpati mereka.
“Maaf pak… sekarang ekonomi keluarga saya sedang bermasalah, sementara kebutuhan saya banyak terutama untuk membayar uang kuliah pak” kata Linda sedikit memelas.
“Tapi kan kamu bisa bilang. Atau setidaknya mengajukan permohonan beasiswa” kata pak Agus.

“Maaf Linda, namun demi nama baik kampus kita, kamu bisa saja kami keluarkan ” kata pak Rudi kemudian.

Linda sedikit panik, ia sudah setngah jalan di fakultas hukum, ia tak mau jika harus berhenti di tengah jalan, dan menyia-nyiakan tahun-tahunnya.

“Aduh… pak, tolong… saya mohon kebijaksanaannya, saya siap melakukan apa saja pak” kata Linda.
Ruangan itu mendadak sunyi. Linda kemudian menyesali ucapannya, ia bisa merasakan ketiga mata lelaki itu memandanginya dengan penuh minat. Keringat dingin keluar dari dahi Linda.

“Kami bisa mempertimbangkannya kembali kok Linda. Tapi tentu saja sesuai kata kata kamu, kamu harus melakukan sesuatu”
“Maksud bapak?” Linda mulai menduga apa yang ada di balik otak dosennya itu.
“Kamu terlihat sangat berbakat di majalah ini. Sekarang, seberapa jauh kamu bisa memanfaatkan “bakat” kamu itu untuk menolong kuliah kamu” kata pak Rudi sambil tersenyum nakal.
Linda mengerti maksud perkataan itu, ia memang tak punya banyak pilihan, namun ia juga sedikit enggan harus melayani ketiga dosen bejatnya ini.

“Saya mengerti pak, tapi saya juga punya syarat. Semuanya hanya dilakukan hari ini, di tempat ini, dan tidak berlanjut ke hari atau waktu lain” kata Linda.
Ketiga orang itu terlihat ragu, mereka saling memandang. Linda tahu ia harus memanfaatkan keraguan mereka. Linda pun berpindah tempat duduk ke sofa, disana ia sengaja memamerkan pahanya yang mulus, membuat ketiga pria ia itu menelan ludah.
“Bagaimana pak, setuju?” kata Linda sambil membuka dua kancing blousenya dan menyibakan rambutnya
ke belakang.

Pak Rudi org pertama yang menghampiri Linda, celananya terlihat menggembung. Pak Rudi kemudian berlutut diantara kaki Linda. Linda menyambutnya dengan melebarkan kakinya, ia membiarkan tangan pak Rudi menyusuri kaki dan pahanya sampai ke pangkal paha.

Pak Arif menyusul mendekati Linda, dengan sedikit kasar ia meremas buah dada Linda dan mencubit putingnya. Sementara pak Rudi melepaskan rok mini dan cd Linda, ia terpana melihat keindahan vagina Linda yang tertutup sedikit rambut halus. Pak Rudi mendorong Linda agar berbaring di sofa untuk kemudian ia menjilati vagina Linda penuh nafsu dengan jilatan yang hangat dan basah.

“Kamu cantik sekali Linda” kata pak Arif sambil melepas blouse Linda dan branya.
“Dan ingat, kamu harus melakukan apa saja hari ini sesuai perintah kami” kata pak Arif kemudian.
Linda kembali berkeringat dingin, kata-kata pak Arif membuatnya berpikir, apakah ada yang lebih buruk dripada harus melayani nafsu bejat ketiga dosennya ini?
“Tapi… aahh…” Linda tak dapat melanjutkan kata-katanya ketika pak Arif menyedot buah dadanya dengan kasar, sementara buah dada satunya jadi mainan pak Agus.

Serangan bersamaan pada tubuhnya menimbulkan efek yang luar biasa bagi Linda, ini pertama kalinya ia harus melayani tiga pria sekaligus. Linda merasakan ada sesuatu dalam tubuhnya yang siap meledak. Sementara bagai kelaparan pak Rudi masih menjilati vagina Linda, tak lama kemudian Linda merasakan sesuatu yang hangat dan basah mengalir diantara kakinya, dan tubuhnya seolah kehilangan tenaga.
Rasa geli dan nikmat muncul ketika pak Arif menjilati seluruh tubuh Linda, dari leher sampai perut, tangannya tak lepas dari buah dada Linda. Linda mencoba menikmati dan meresapi semua rangsangan yang ia dapatkan dari tiga orang ini. Perlahan tapi pasti jilatan jilatan pak Rudi membuat Linda mencapai kembali orgasme.
“Aaahh… ahhhh… pak… aauhhhh…” rintih Linda, tubuhnya kembali melemas.
Belum sempat Linda mengumpulkan tenaga, tiba-tiba pak Rudi bekata,
“Yahh… belum apa-apa udah lemes. Sekarang kan kita baru mau mulai”
Linda terkejut melihat penis pak Rudi saat ia melepas celananya. besar dan panjang menegang, ia khawatir tak snggup menghadapinya, ia menggeleng dan sedikit protes..
“Nanti dulu pak… bentar… saya masih lemas… bentar lagi…”
“Hehehe… ingat perjanjiannya kan? apalgi kamu bilang harus hari ini dan saat ini juga. Hehehe… siap atau enggak ya harus mau, hehehe” kata pak Rudi tak mempedulikan perotes Linda.

Pak Rudi lalu memasukan penisnya ke vagina Linda. Setiap inchi penis pak Rudi masuk, sebuah kesakitan dirasakan Linda, yang walau sudah tidak virgin namun vaginanya masih sempit. Linda mengerang saat kepala penis menerobos masuk, namun ia sedikit tertolong oleh cairan yang keluar akibat rangsangan sebelumnya. Setelah beberapa lama penis pak Rudi terlihat terbenam di dalam vagina Linda, ia menggeram puas, ia kemudian mengatur posisi untuk siap menggenjot tubuh Linda.

Linda menangis kesakitan saat gigi pak Agus menggigit buah dadanya sampai lecet, namun belum juga penderitaannya berakhir pak Arif ikut ikutan menggigit buah dada Linda yang satunya, hingga kedua buah dadanya menjadi lecet.
“Aawww… sakit… jangan… kasar-kasar… pak… tolong…” ucap Linda kesakitan.

Mereka berdua malah menjilati dan menyedot buah dada Linda tepat dilukanya, membuat Linda menangis kesakitan. Menahan sakit, Linda menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, ia menyesali perkataanya tadi. Ia tak sengaja bicara seperti itu, bahwa ia siap melakukan apa saja. Sedikit kesadaran membuatnya ia tiba tiba berontak. Dengan penis yang masih menancap di vagina Linda, Rudi berkata,

“eeitt… mo kemana sayang? Ingat kamu berjanji memberikan bakat kamu ke kita bertiga, hehehehe”
Linda lemas tak berdaya, ia hanya bisa pasrah sekarang, ia tak menyangka akan menjadi begini. Penderitaan Linda makin bertambah saat tiba-tiba pak Rudi mempercepat genjotannya, vagina Linda terasa sangat sakit harus menerima beban di luar kapasitasnya. Menit demi menit berlalu, menit-menit penuh kesakitan bagi Linda.
Diantara rasa sakit Linda merasakan cairan hangat mengalir diantara kakinya, sebentar lagi akan mencapai orgasme. Pak Arif dan pak Agus sudah melepaskan mulutnya dari buah dada Linda, namun mereka masih tetap meremas remas buah dada Linda yang terlihat sudah memar dan lecet. Tiba-tiba, pak Rudi mencabut penisnya dari vagina Linda, sambil tiba-tiba membalikan tubuh Linda. Tanpa basa basi lagi ia menusukan penisnya ke anus Linda. Linda tak sempat menjerit karena, mulutnya telah disumpal oleh penis pak Arif.

Dengan menahan sakit ia juga harus mengocok penis pak Arif dengan mulutnya. Akhirnya karena tak tahan menahan kesakitan Linda akhirnya tak sadarkan diri. Entah berapa lama Linda pingsan namun ketika sadarkan diri rasa sakit itu belum hilang, bahkan penis pak Agus kini sedang menancap di vaginanya, dan di buah dadanya terasa cairan putih kental, juga di mulutnya.

“Hehehe… sudah bangun sayang. Tenang sebentar lagi bapak selesai kok” kata pak Agus.
Linda agak sedikit lega sampai tiba-tiba pak Arif berkata,
“Setelah ini kamu harus melayani kita bertiga sekaligus. Kalo sampe pingsan, kita akan panggil engkus satpam kampus untuk menikmati tubuh kamu juga… hahahahah…”
Linda terdiam lemas, lelah tak berdaya berharap hari ini cepat berlalu.

Cerita Sex Dibalik Kesedihan Via


Ini adalah kejadian 6 tahun lalu, saat itu saya baru bekerja di sebuah kantor di ibu kota. Sebagai pegawai baru saya datang ke kantor lebih awal. Pada saat saya menunggu lift yang akan mengantar saya naik ke lantai atas, ada seorang wanita yang juga akan naik lift.
“Selamat pagi!” dia menyapa saya.
“Pagi juga” jawabku.

“Perkenalkan nama saya Via, saya asisten pak Ardi, kamu Rio kan?” katanya sambil mengulurkan tangan.
Saya jawab dengan anggukan, tangannya begitu halus, warna kulitnya begitu bening, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, wajahnya pun cantik. Itu adalah pertemuan pertama saya dengan Via.
Via ternyata idola semua lelaki dikantor tersebut, bahkan posisi yang saya pegang saat itu ternyata ditinggalkan karena pegawai sebelumnya bermasalah dengan pak Ardi karena coba-coba mengajak kencan Via. Menurut gosip selain jadi asisten Via juga “TTM”nya beliau.

Via yang supel, kadang membuat saya kikuk, kadang untuk memperlihatkan bahwa Via tidak punya hubungan apapun dengan pak Ardi, Via sering mengajak saya makan siang. Via memilih saya karena dia merasa saya tidak pamrih dalam hubungan pertemanan, begitu pula pak Ardi selalu merasa aman kalo saya yang menemani Via. Sampai suatu saat, Via memiliki masalah dengan pak Ardi karena rumah kostnya digrebeg istri bos saya itu. Hampir 3 hari dia tidak masuk kantor. Pak Ardi meminta saya untuk menemui dia di kostnya untuk mengantar amplop berisi uang, saat itu hari sudah sore menjelang malam. Saya ketuk pintu kamarnya. Pintu terbuka, saya lihat mata Via sembab mungkin karena menangis semalaman.
“Ada apa kemari?” tanya Via.

“Aku diminta mengantar ini” sambil saya sodorkan amplop berisi uang.
Via menerima amplop sambil mengajak saya masuk kedalam, malam itu Via curhat banyak kepada saya. Saat itu pikiran saya terbagi dua antara prihatin karena mendengar ceritanya dan birahi karena Via menggunakan daster begitu transparan sehingga dada dan putingnya yang merah muda terlihat begitu menggemaskan. Tak terasa saat itu sudah jam 23.30, saya pun pamit pulang saat hendak pulang tiba-tiba saya rasakan dua tangan melingkari dada saya.
“Temenin aku” bisik Via pada saya.

Saya tidak bisa menjawab sejak dari awal saya tidak bicara, jantung saya berdebar keras, saya balik tubuh saya, saya kecup bibir mungilnya lalu saya lumat mulutnya. Saya rasakan hangatnya bibir Via, sesekali tangannya memegang penis saya yang masih terbalut celana. Saya remas bokong Via, Via pun sedikit mengerang saya lepas mulut saya dari bibirnya. Saya cium lehernya sambil saya dorong badannya menuju sofa tempat tadi kami bicara sehingga badan Via berada dibawah badan saya. Saya pindahkan tangan saya ke dada Via, saya remas dada kirinya sedangkan tangan saya mencoba membuka daster, begitu pula tangan Via berusaha membuka kemeja saya. Setelah terbuka tampak jelas dua payudara yang putih seakan menantang saya, tiba-tiba dia menggigit dada saya. Saya tidak mau kalah, saya sedot puting payudara sebelah kanan sedang yang kiri tetap saya remas-remas. Via pun melenguh, mengerang tanda menikmati apa yang saya lakukan terhadapnya.

Tangan Via beralih ke celana saya berusaha untuk memegang penis saya yang sudah ingin segera saya sarangkan pada vaginanya. Setelah penis saya keluar, lalu dia mendorong saya untuk berdiri. Saya pun berdiri, dengan lembut dia menjilati penis saya dengan lidahnya, lalu dimasukkannya penis saya ke mulutnya, dihisapnya ujung penis dengan tangan tetap menarik ulur batang penis saya. Sesekali saya pun mengerang tanda nikmat, tarik ulur mulut Via pada penis saya membuat saya ingin segera meledakkan sperma saya pada Via. Saya minta Via melepaskan mulutnya dari penis saya, lalu saya balikkan badanya hingga terlihat bokongnya yang indah. Saya coba memasukkan penis saya ke lubang vagina dari belakang. Saya tarik ulur penis saya, Via pun mendesah dan mengerang tanda menikmati.
“Rio keluarin sekarang!” pinta Via.

Lalu saya balikkan badannya lagi hingga sekarang Via menghadap saya. Saya cium bibirnya lagi sambil saya masukkan penis saya pada vaginanya, terasa hangat dan basah saya tarik ulur, badan kami pun bergelonjotan tanda mencapai klimaks, sperma saya akan segera keluar. Karena tidak mau berisiko, saya tarik pelan penis saya dari vaginanya, lalu saya arahkan penis saya ke badannya, croot crooott crott… cairan putih pun meluncur dengan cepat kearah badan Via.

Jam menunjukkan jam 01.00, Via mengambil handuk untuk saya dan dia. Malam itu kami pun tidur berpelukan tanpa busana. Saya terbangun jam 08.00 pagi, saya lihat Via sedang menyiapkan kopi tanpa mengenakan busana, penis saya yang layu kembali mengera. Saya dekati Via dari belakang, lalu saya dekap,. Saya masukkan penis saya pada lubang analnya, Via pun mengerang setengah teriak. Diperbaiki posisinya dengan membuka kakinya lebar, lalu saya tarik ulur penis saya, Via pun kembali berteriak nikmat membuat saya semakin bernafsu. Setelah selesai kami pun minum kopi dan sarapan bersama tanpa busana.

Tiba saatnya kami harus mandi, hari ini saya tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Kamar mandi di tempat kost Via tidak terlalu besar, tapi punya shower. Kami pun saling menggosok badan kami dengan sabun, lagi-lagi penis saya tidak bisa menahan, saya peluk Via lalu saya pun turun dengan tujuan agar bisa menjilat 

vaginanya. Bulu-bulu disekitar vagina terlihat tipis membuat birahi saya bertambah. Lalu saya remas dadanya sambil masih saya jilat vaginanya. Via yang masih bernafsu juga membiarkan saya menggerayangi badannya dengan lidah saya. Saya jilat tubuhnya dari bagian atas ke bawah, perlahan saya masukkan jari tengah saya ke vaginanya.

Via sangat menikmati, perlahan keluar cairan pelumas dari vaginanya, lalu saya sedot vaginanya, Via pun berteriak seperti kesetanan. Via meminta saya untuk segera menyelesaikan apa yang saya lakukan, sambil terduduk dibawah saya masukkan penis saya pada vaginanya, digoyangkan badan Via sambil berusaha memijat penis saya dengan vaginanya, terasa lembut hangat dan basah.
“Didalam aja keluarinnya” pinta Via.

Saya pun menuruti permintaan Via. Crooott… tembakan yang panjang mengenai bagian dalam vagina Via. Via kembali seperti menggigil sambil memeluk saya, ahhhh… yesss… teriak Via. Selesai sudah drama 3 babak kami selesaikan. 3 bulan setelah itu Via pindah ke luar negeri ke singapore untuk melanjutkan sekolah katanya dibiayai oleh seorang bos di ibukota.


Cerita Sex Pertama Kali Dengan Mama


Mama saya berusia 48 tahun ketika peristiwa itu terjadi. Mama telah menjanda karena Papa telah meninggal dunia. Mama menurut kata orang cantik dalam usianya yang setengah baya. Dari semua sex appealnya yang paling menonjol adalah rambutnya yang terurai panjang sampai dipantatnya yang montok. Sebagai anak tunggal, saya merupakan tumpuan harapan Mama walaupun prestasi saya sebagai mahasiswa biasa saja. Malam itu saya pulang mabuk berat karena hobby saya memang minum. Ini yang bikin Mama sering sedih, tetapi saya tetap tidak berhenti karena terpengaruh teman.

Saya masuk kamar dan terus bermaksud tidur. Tiba-tiba Mama masuk kamar saya sambil menyisir rambutnya yang panjang itu. Rupanya Mama mendengar suara saya menutup pintu depan. Mama bertanya apakah saya baik-baik saja, karena mengapa langsung masuk kamar tanpa berkata apa-apa kepada Mama. Karena saya diam saja, Mama kemudian duduk di pinggir tempat tidur saya, tangannya yang kanan diletakkan disamping pinggang kanan saya, duduknya di sebelah kiri saya, jadi Mama seolah-olah berada diatas badan saya. Rambutnya tergerai diatas badan saya, dan tangan kirinya mengusap kepala saya setelah meletakkan sisir di meja kecil disamping tempat tidur saya.

Saya memandang Mama di keremangan kamar saya yang disinari lampu tidur di meja kecil. Saya terkesima soalnya Mama dandanannya seronok dengan make up yang tebal, bibirnya yang merah bergincu. Ternyata Mama baru pulang dari undangan bersama tetangga sebelah ke pesta perkawinan anak kenalannya. Saya bilang Mama cantik sekali, dan Mama hanya tersenyum sambil tetap mengusap rambut saya. Tanpa sadar saya pegang tangannya yang kanan dan mengusapnya. Rambut Mama yang lebat itu memancarkan bau harum hair spray yang membangkitkan birahi saya. Mama malam itu dimata saya seperti geisha yang siap melayani pelanggannya.

Karena kami berdua diam, saya mulai berani mengelus rambut hitam lebat yang tergerai diatas dada saya. Penis saya mulai tegang meraba rambutnya yang menggerai tebal itu. Tangan kiri saya pelan-pelan saya angkat mengelus pipinya yang berbedak tebal karena make up-nya. Uh saya tak tahan ingin mencumbu perempuan ini dihadapan saya, seperti cerita Sangkuriang yang jatuh birahi dengan ibu kandungnya. Mulut saya terbuka dan sedikit menganga menahan birahi saya. Entah mengapa Mama tiba-tiba menunduk dan mencium kening saya. Saya tak tahan lagi dan membalas menciumnya tetapi dibibirnya sambil tangan kiri saya meraih lehernya. Mama agak berontak tetapi kemudian hanyut dengan kelembutan saya menciumnya. Mama saya rebahan di dada saya dan kami mulai berciuman seperti sepasang kekasih,lembut tanpa ada keterpaksaan.

Mama akhirnya saya tindih dengan tetap mencium bibirnya. Rambutnya terbusai-busai diatas tempat tidur saya. Saya mulai melepas celana saya dan baju saya, yang karena susah membukanya akhirnya beberapa kancingnya copot. Saya akhirnya telanjang menindih Mama saya yang tangan kiri dan kanannya erat mencengkeram sprei tempat tidur saya. Matanya agak terpejam dan mukanya menengok ke kiri atas sewaktu saya menjilat dan menggigit leher kanannya. Susunya yang mulai agak kendor itu saya remas lembut, dan memang tetek Mama cukup besar. Mama melenguh seperti orang kesakitan, pinggulnya menggisar-gisar selangkang saya.

Sambil mengisapt payudaranya,saya turunkan celana dalam Mama. Mama ditengah nafsunya hanya bisa berbisik pelan melarang saya, tetapi sepertinya merestui saya untuk mencopot celana dalamnya. Saya meraba vaginanya dan mengelus klitorisnyanya, yang ternyata sudah mulai berair. Saya akhirnya minta ijin Mama untuk memasukkan penis saya ke vaginanya. Mama hanya menggumam tidak jelas ketika ujung penis saya sudah berada di mulut vaginanya yang agak basah. Tanpa tertahan lagi Mama menangis tersedak-sedak ketika saya mulai menggenjotnya, anak kandungnya yang kurang ajar ini. Baru kali inilah saya meraskan jepitan vagina wanita, yang juga kebetulan ibu kandung saya, setelah setiap kali saya hanya mampu beronani membayangkan ngentot wanita.

Saya memang kadang kadang membayangkan ibu saya, Mama saya yang seksi, bahkan sampai mimpi basah. Sekarang impian telah menjadi kenyataan. Persetubuhan dengan Mama akhirnya hampir mencapai puncaknya dan saya menggenggam erat rambut dibelakang kepalanya sampai Mama terdongak kepalanya ke belakang. Sambil dengan gemas saya gigit lehernya, sperma saya memancar deras ke vaginanya. Oh, saya telah menyetubuhi pertama kali wanita cantik yang juga Mama saya tercinta. Malam itu Mama saya adalah kekasih saya, lonte saya dan sekaligus guru saya. Saya berbisik,
“Maahh… nanti minta lagi ya..” Mama hanya senyum dikulum sambil memeluk saya.


Cerita Sex Pelampiasan LDR Dengan Kekasih


Nama saya Martin. Saya akan menceritakan pengalaman saya bercinta dengan pacar saya, sebut saja namanya Laila. Sudah 7 bulan kami memadu kasih, namun saya dan Laila belum pernah bertemu, karena kami LDR. Kami masih ABG, baru saja naik ke kelas 2 SMA.

Saya penasaran dengan Laila, karena hanya bisa melihatnya lewat layar hp atau komputer. Saya mulai menabung untuk menemuinya di Medan, sementara saya sendiri di Jakarta. Ia pun merespon positif keinginan saya itu. Laila adalah anak yang sangat taat agama, sangat tabu saat saya tanya masalah sex.
2 bulan setelah menabung, saya akhirnya bisa ke Medan pada akhir September. Kami yang sudah merencanakan banyak acara sangat senang karena akhirnya akan bertemu. Saat menapakkan kaki di Medan, yang pertama saya lakukan adalah menelponnya.

“Sayang, aku udah di Medan loh” kata saya.
“Waah.. aku tunggu kamu di parkiran yah…”
“oke..” kata saya seraya menutup hp saya.
Saya menuju parkiran, dan terkejut, di pojokan sana saya melihat seorang wanita tanpa kerudung namun berpakaian sopan sedang duduk. Saya dekati dirinya.
“Maaf, Laila bukan?” tanya saya.

“Martin yah!!” katanya dengan nada girang seraya memeluk saya, saya pun membalas pelukannya.
Kami mengobrol ngalor ngidul sampai akhirnya kami memutuskan untuk ke hotel yang sudah saya booking selama seminggu.

Selama perjalanan saya yang tak tahan melihat tubuh kekasih saya yang seksi ini, sedikit nakal dengan meremas bahunya, dan mencolek dadanya.

Sesampainya di hotel dan check-in, di kamar kami memutuskan untuk makan malam karena hari sudah mulai gelap. Dan setelah makan malam dan berjalan-jalan, Laila terkejut saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 22:00.

“Sayang, nginep disini aja sama aku” kata saya.
“Ah ngga ah, ntar mama nyariin”
“telfon dulu, bilang kamu nginep dirumah si Sari (temannya)”
“Hmmm.. iya deh”
Setelah dia menelpon dan mendapatkan ijin dari mamanya, kami berdua segera menuju ke kamar hotel.
“Sayang mandi bareng yuk” kata saya padanya yang sedang sibuk menonton.
“Iiih apaan.. sana mandi gih…”

Saya yang memasang tampang melas, akhirnya membuat ia kasihan, dan akhirnya ia setuju untuk mandi bareng, dengan syarat kami mandi saling membelakangi.
Di kamar mandi, ia sibuk membasuh tubuhnya, namun saya belum melihat tubuhnya secara keseluruhan karena saya membelakanginya. Rasa nafsu dan keingintahuan saya akhirnya membuat saya berbalik dan segera mendekap tubuh telanjang pacar saya itu, lalu menciumi kedua buah payudaranya
“Aaahh…”
Teriakan itu membuat saya semakin bernafsu. Segera saja saya paksa ia duduk dan tanpa ba bi bu saya masukkan penis saya ke mulutnya.
“Ngghhh… Mmhhh…” ia tak dapat berkata, matanya melotot kearah saya sambil mencakar paha saya.
Namun saya tidak menghiraukannya, terus saja saya masuk-keluarkan batang penis saya itu ke mulutnya. Merasa cukup, saya berhenti dan mengeluarkan penis saya dari mulutnya.
“Aaahh.. aah aduuh… apaan sih kamu!! Maen masukin aja!! Aku bilang kan aku gak suka begini dari sms juga!!”
Namun tidak saya hiraukan dia, saya dorong dia ke wastafel, dan langsung saja saya coblos memek perawan itu oleh penis saya
“AAAAAHHH…!!”

Ia berteriak keras, namun tidak saya hiraukan, terus saja saya keluar masukan penis saya itu.
“Aaahh.. aahhh… Tiiinn… Terruuss…”
Saya tersenyum karena ia akhirnya dapat menikmati juga. Saya teruskan permainan ini. Saya sangat menyukai gaya ini, doggy style, dimana payudara 32 nya bergoyang-goyang. Sambil saya remas payudaranya, saya terus menggenjot memek yang berdarah itu.

“Ngg.. aahh… aaahhh…”
Saya mulai menggeram, mengetahui hal ini Laila sontak kagett dan berteriak.
“Keluarin di luar sayaang!!!!”
Mendengar hal itu saya mengeluarkan penis saya, membalikkan tubuhnya dan mendudukkannya, seketika itu juga muntahlah sperma saya di wajahnya.

“Crooott… croooott… crooott…” nikmat sekali rasanya, Laila yang kaget segera mencoba mengelap sperma itu.

Namun saya tahan tangannya, lalu saya gunakan tangan saya untuk memasukkan sperma saya itu kedalam mulutnya. Awalnya dia menolak, namun dengan sedikit paksaan akhirnya dia mau juga.

“Sayaang makasih ya, hari pertama ke medan langsung dapet yang khas medan” kata saya seraya tersenyum.
“Iiih…” hanya itu kata yang terlontar dari mulutnya sabil mencubit mesra perut saya.
Akhirnya kami melanjutkan mandi dan tidur bersama.