WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Ibu Guru Les Private Yang Menegangkan


Aku punya murid les privat namanya Ika, maaf kalau ini nama beneran, Ika itu anak pertama dari dua bersaudara, aku tidak dekat-dekat amat sama keluarganya yang lain, tapi kalau sama si Ika itu sebulan juga kami sudah dekat seperti “kakak beradik”.

Dia nggak sungkan-sungkan menyandarkan badannya ke aku, bahkan kepalanya aku elus-elus juga dianya tidak keberatan. Pokoknya seperti kata novel itulah, “Lha wong sama kakaknya sendiri…” Aku pikir, aku sudah belai-belai rambutnya, sun pipi, apa lagi yah…,

kayaknya masih ada yang kurang gitu. Soalnya si Ika itu lagi mekar-mekarnya, ranum-ranumnya, tapi soal cowok ya mungkin baru aku sendiri yang dia kenal, belum pas gitu kalau belum aku kasih tahu (baca: lihat… hehehe… kejantananku).

Aku baru mikir-mikir bagaimana ngomonginnya. Aku diam-diam suka tegang kalau dia duduk dekatku. Ya terang saja dia nggak tahu hal begitu, tiap pagi habis bangun tidur sering ngebayangin gimana rasanya kalau kemaluanku dilihat sama Ika, ya sambil masturbasi sendirian.

Pucuk dicinta durian tiba, si Ika baru saja dapat pelajaran Biologi di sekolahnya. Tahu tidak pelajaran Biologi kelas 1 SMU, organ reproduksi manusia..! Akunya meledek, “Ika kamu menggambarnya (organ reproduksi pria) kok bagus banget, emang sudah pernah lihat yang benerannya?” Dia ketawa cekikikan saja.

“Oh iya… SMU Ika tuh muridnya cewek semua…, nggak ada cowoknya hehehe…”, terus dia cerita kalau dulu pernah ada cowok masuk ke sekolahnya dia langsung ditelanjangin sama cewek-cewek, tentu saja waktu itu Ika-nya belum di sana.

“Ah Ika… kamu jadi bikin Kak Rudi (namaku) penasaran saja…”
“Penasaran apa… emang Kak Rudi mau ditelanjangin…?”
“Asal di depannya Ika saja…”

Dia ketawa cekikikan…

“Boleh nggak Kak Rudi telanjang di depan Ika…”

Ika nggak menjawab, cuma cekikikan saja, terus aku terusin, habis nggak tahan nih.

“Bolehkan yaa Kak Rudi telanjang di depan Ika? …”
“Hihihi…”. Ika menjawab, “Ya entar pas ulang tahunnya Kak Rudi saja…”

Aduh, aku nggak tahan benar deh…, pengen waktu itu juga aku keluarin burungku… tapi aku tahan-tahan juga. Itu kejadiannya Bulan Januari, padahal ulang tahunku bulan Februari, dari hari ke hari si Ika terus aku godain saja seperti “Ka…, entar Kak Rudi telanjangnya (maksudnya di depan Ika) sampe Kak Rudi ngeluarin hormon yaa…”.

Si Ika tuh tidak tahu apa itu sperma, apalagi istilah “orgasme” atau yang kayak gituan, makanya kubilang “hormon” gitu saja. Kalau sudah kugodain gitu paling-paling si Ikanya cuma “hihihihihi… ” saja. Kapan-kapan lagi saking tidak tahan kubilang… “Aduh Ika, Kak Rudi sudah tidak tahan nih… sekarang saja ya Kak Rudi telanjangnya…”. “Entar saja deh kalau pas ulang tahun… hihihi…”

Seminggu sebelum aku ulang tahun aku ngomong, “Eh Ika, kamu tinggal seminggu lagi deh bakal jadi cewek yang ngerti alat kelaminnya cowok…”, besoknya…, “Tinggal enam hari lagi kamu jadi cewek yang ngerti punyanya cowok…” seminggu itu rasanya jadi kaya seabad deh, akhirnya sambil terengah-engah tiba juga deh hari ulang tahunku.

“Aduh Ika…, sebentar lagi kamu bakal ngeliat alat kelaminnya Kak Rudi deh… Kak Rudi sudah nggak punya apa-apa lagi buat Kak Rudi sembunyiin…” Eh tuh mukanya si Ika jadi merah padam gitu, maluu…, aku juga nervous banget tiduran di tempat tidurnya, dia sudah ketawa cekikikan gitu…, aku pakai pakaiannya juga agar aku mudah terangsang gitu.., wahh…, nggak tahan deh kalau mesti lepas baju sama kaos oblong dulu, sehingga kuputuskan…, kukeluarkan saja deh alat kelaminku yang sudah meronta-ronta tidak karuan itu.

Aku lepas sabuk, kancing celana, aku turunin perlahan-lahan sampai tinggal celana dalam…, aduh…, nggak tahan banget, habisnya si Ikanya ketawanya semakin keras, mukanya semakin merah dan lucu apalagi matanya yang mungil itu. Jadi membelalak sambil muter-muterin bola matanya, aku usap-usap kemaluanku yang masih kebungkus celana dalam sampai besar banget seperti rudal Scud, tegak lurus siap-siap diluncurkan.

Terus celana dalamku aku turunin pelan-pelan, aduh nikmat banget…, nikmat…, nikmat… “Ikaa… ketawain terus dong…” teriakku, “… bentar lagi Ika ngeliat nih alat kelaminnya Kak Rudi…”, sampai lepas deh celana dalamku keluar menantang alat kelaminku, batangnya tegak lurus dan… dan…

“Huahahaa…”, keras banget teriaknya si Ika, mukanya kocak banget, matanya membelalak, mulutnya kebuka lebar, lucu banget… hahh… Seumur-umur baru kali ini dia melihat alat kelamin pria dewasa, aaduh… belum pernah aku merasakan kenikmatan yang kaya gitu. “Ika… ini alat kelaminnya Kak Rudii…” teriakku. Aduh… aku berusaha menunjukkan batang kelaminku ke mukanya, biar dia bisa melihat sebesar-besarnya sampai mengerti.

Aku kocok-kocokan alat kelaminku sendiri. “Ika seumur-umur baru sekali ini deh melihat alat kelamin cowok.. hahaha hihihi…” kepingkel-pingkel dan cekikikan jadi satu. Aku menggelinjang-gelinjang keenakan, menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.

Sepuluh menit kemudian aku nggak tahan lagi, “Aduh Kak Rudi sudah nggak tahan lagi Ikaa…” teriakku sampai akhirnya… “Cruutt… cruutt… cruutt…” bagaikan lahar merapi tumpah semua air kejantananku. “Oohh… aduh… nikmat… nikmat… ohh…”.

Si Ika masih cekikikan waktu aku selesai orgasme. Aduh… aku merasa “habis”, rada menyesal dan bersalah juga, aku melap kakiku yang ketumpahan mani dan aku bersihkan batang kelamin yang sudah rada lemas sampai bersih dan kering. Akhirnya kupakai lagi celanaku, kututupi alat kelaminku sebagaimana mestinya. Si Ika ketawa-ketawa kecil dan mukanya masih merah waktu semua itu “berakhir”.

Sudah deh… Ika sudah jadi cewek yang “mengerti” alat kelamin cowok, dalam hal ini alat kelaminku. Setelah cuci tangan kukasih sun manis di pipinya yang masih kemerahan menggeser ke depan sedikit yaa…, sedikit lagi…, sedikit lagi…, sampai bibirku tepat berada di ujung bibirnya, terus dia menundukan kepalanya, artinya tidak boleh aku lanjutkan.

Ya sudah nggak apa-apa. Aku juga sudah puas banget kok ngeliatin alat kelaminku sampai kamu “mengerti”, kataku dalam hati.

Cerita Hot Menegangkan Jika Jumpa Mantan Ngajak ML


Namaku adalah Eml Amn, cerita ngewe ini mengisahkan tentang kenangan yang tidak pernah kulupakan bersama mantanku. Baiklah ceritanya begini. Malam itu aku ingat bulan Agustus. Namun aku lupa tanggalnya, hanya aku ingat harinya adalah hari Senin malam sekitar pukul 21.30. Malam itu bulan purnama, sehingga kami dapat melihat dengan jelas wajah masing-masing. Aku parkirkan mobil ku di pinggir pantai.

“Kemana saja sih lo Rg? Gue benar-benar kangen deh sama lo”, aku mulai membuka pembicaraan. “Ah yang benar…?” jawab Rgn. “Elo sekarang lagi deket sama siapa?” tanyaku. Rgn menjawab “Ada lah…, namanya Ptt”. Aku bertanya lagi “Elo sudah ngapain saja sama dia?”

“Kok lu nanyanya gitu sih?” ujar Rgn. Aku menjawab “habis waktu gue pacaran sama lu dulu kan nggak lebih dari pas foto doang (cuma ciuman sama megang-megang buah dada), tiap tangan gue mau kebawah, lu tarik lagi ke atas”, Rgn terdiam.

Lalu mulailah ia menceritakan bahwa karena pergaulan ia sempat ikut-ikutan dengan teman-temannya sewaktu di SMA swasta. Lalu salah seorang temannya menggunakan kesempatan pada saat Rgn sedang setengah fly, temannya itu memerawaninya.

Aku terdiam mendengar ceritanya. Lalu dengan sangat hati-hati aku berkata kepada Rgn. “Dari dulu gue sudah bilang sama lu, waktu lu mutusin gue, hati-hati jaga diri lu, jangan ikut-ikutan teman-teman lu yang nggak benar, nanti lu dikerjain sama teman lu sendiri, dan ternyata benar kan?” Lalu Rgn menjawab “Iya lo Eml, coba gue dengerin kata-kata lu waktu itu ya”.

Lalu aku berkata “Ya sudah, yang sudah ya sudah, sekarang lu nyesel nggak?” Rgn menjawab “Gue nyesel bukan karena gue sudah nggak perawan lagi, tapi gue nyesel karena perawan gue hilang dengan cara yang gue nggak rela, dan perawan gue hilang bukan dengan orang yang benar-benar gue sayangin, kenapa perawan gue hilang bukan sama lu, kenapa lu gue putusin waktu itu”. Aku terdiam, dia pun terdiam.

Kemudian aku berkata untuk memecahkan suasana yang agak mendung “Ya sudah deh, nggak usah di seselin Rgn, sekarang gue menuntut keadilan nih, gue pengen ngerasain juga nih making love sama lu…” Rgn menatapku dalam. Dengan cepat aku langsung berkata “Nggak kok Rg…, becanda”. Tanpa kuduga Rgn tersenyum, dan ia berkata “Boleh…” Aku tersentak, kaget, senang, tidak percaya.

Aku bertanya “benar nih Rg?”, dan ia hanya tertawa kecil. Kemudian aku raih wajahnya, dengan sangat perlahan-lahan aku dekatkan wajahku ke wajahnya, lalu aku cium bibirnya sejenak, lalu aku tarik lagi wajahku agak menjauh. Aku rasakan hatiku tergetar, bibirku pun kurasakan tergetar, begitu juga dengan bibirnya. Lalu aku tersenyum, dan ia pun tersenyum.

Kemudian mulailah kami cerita ngalor ngidul, tentang hubungannya dengan Ptt pacarnya, tentang betapa ia dan pacarnya itu sudah sangat jauh hubungannya. Dan aku pun menceritakan tentang diriku. Sampai pada suatu saat, entah bagaimana mula ceritanya, tiba-tiba aku bertanya kepada Rgn. “Rgn, tapi jangan marah ya…! Gua mau tanya, barangnya Ptt gede nggak?” Rgn agak terperengah lalu Rgn tersenyum, dan berkata “Apa-apaan sih lu, kok nanya begituan segala?”.

Aku berkata “Serius nih, gue pengen tau?” Rgn bilang sambil malu-malu kucing “Tauk ah!”. Lalu aku berkata padanya “Oke, lu bilang kan lu sudah jauh berhubungan sama Ptt, nah pasti lu kan sudah pernah dong liat punyanya Ptt”. Lalu Rgn sambil tertawa kecil menjawab “Iya sudah…”. Lalu ia berkata “Tapi kan gue belom pernah liat punya lo Ml”. Lalu aku berkata “Nah, sekarang gue kasih liat nih ya”.

Belum sempat Rgn bereaksi apa-apa tanpa ragu-ragu aku buka zipper (retsletting) celanaku, lalu aku pelorotkan celanaku dan celana dalamku sampai sebatas lutut. Aku mendengar Rgn terkejut “Eml… Gilaa!!!.. Itu… apaan tuh?.. Astaga Eml… Guede buanget barang lo?!.. Keker, melengkung ke atas lagi…, itu urat-uratnya saja ampe nonjol-nonjol kayak gitu… iihh ngeri ah…”

Aku hanya tertawa, dan berkata “Ah masak sih Rg segini gede?” Lalu Rgn berkata “Ya ampun… Eml, mati deh gue kalau begituan sama lu dengan barang lo yang segede gini, sudah pernah lu ukur belom barang lo Eml? Wah!.. pasti cewek lo ngejerit kalau digituin sama lu dong?..”

Aku menjawab “sudah sih, panjangnya sih gue ukur 17 cm kurang 3 mili, terus garis tengahnya sekitar hampir 3 cm”. Terdengar lagi Rgn berkata “Gila… gila…”. Lalu aku berkata “sudah deh, sekarang gedean mana sama Ptt?” Lalu Rgn menjawab “Ya ampun Eml, kalau kayak gini mah Ptt nggak ada apa-apanya”.

Lalu aku bertanya lagi kepada Rgn “Nah sekarang boleh nggak gue minta jatah gue nih?” Rgn terdiam. Akhirnya dengan setengah berbisik namun yakin dan mantap Rgn berkata “Boleh deh” Lalu ia tersenyum dan berkata lagi “Tapi nanti masukinnya pelan-pelan ya Ml, gue takut, sakit”, dan aku pun mengangguk dengan segera.

Singkat cerita, kami berdua pindah ke bangku belakang (tengah), dengan pakaian yang sudah terlucuti masing-masing. Aku cium kening Rgn terlebih dahulu, kemudian kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, lalu bibirnya. Rgn terpejam dan kudengar nafasnya mulai agak terasa memburu, kami berdua terbenam dalam ciuman yang hangat membara.

Aku arahkan mulutku ke lehernya, ke pundaknya, lalu turun ke buah dadanya yang dari sejak pacaran dulu bagiku buah dada Rgn adalah buah dada yang terindah, besar, montok, kencang, ukuran 36B, dengan puting yang agak memerah. Aku mainkan lidahku di puting kedua buah dadanya yang mulai mengeras.

Yang kiri… lalu yang kanan… Terdengar ucapan Rgn “Eml, lu tau saja kelemahan gue, gue paling nggak tahan kalau dijilat payudaranya…, aahh…” Aku pun sudah semakin asyik mencumbu dan menjilati puting buah dadanya, lalu ke perutnya, pusarnya, dan tiba-tiba aku berhenti, lalu aku bertanya kepada Rgn “

Rg lu sudah pernah belom dijilatin itu lo? Rgn menjawab “Belom…, kenapa?..” Aku menjawab “Mau nyoba nggak?”. Rgn mengangguk perlahan. Takut ia berubah pikiran, tanpa menunggu lebih lama lagi langsung aku arahkan mulutku ke kemaluan Rgn yang bulunya lebat, dan kelentitnya yang memerah dan baunya yang khas.

Aku keluarkan ujung lidahku yang lancip lalu kujilat dengan lembut kelentit Rgn. Beberapa detik kemudian kudengar desahan panjang dari Rgn “sstt… aahh!!!” Lalu ia berkata “aahh… Eml… gila nikmat benar…, gila… gue baru ngerasain nih nikmat yang kayak gini… aahh…, gue nggak tahan nih…, sudah deh…”

Lalu dengan tiba-tiba ia menarik kepalaku lalu dengan tersenyum ia memandangku. Tanpa aku duga ia menyuruhku untuk bersandar ke bangku, dengan sigapnya tangannya menggapai kemaluanku yang sudah menegang dan membesar dari tadi. Lalu ia memasukkan batang kemaluanku yang besar dan melengkung kedalam mulutnya. aahh… kurasakan kehangatan lidah dalam mulutnya.

Lalu aku berkata “Aduh Rg, jangan kena gigi dong… sakit, nanti lecet…” Lalu sambil kuperhatikan wajahnya, lidahnya sibuk menjilati kepala kemaluanku yang keras, ia jilati melingkar, ke kiri…, ke kanan…, lalu dengan perlahan ia tekan kepalanya ke arahku berusaha memasukkan kemaluanku semaksimal mungkin kedalam mulutnya.

Namun hanya seperempat dari panjang kemaluanku saja kulihat yang berhasil terbenam dalam mulutnya. Sampai terdengar suara “Ohk!.. aduh Eml, cuma bisa masuk seperempat…” Lalu aku menjawab “Ya sudah Rg, sudah deh jangan dipaksain, nanti lu muntah…”

Ku tarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di bangku belakang (tengah) Kijang Roverku. Lalu ia membuka pahanya agak lebar, terlihat samar-samar olehku kemaluannya sudah mulai lembab dan agak basah. Lalu aku pegang batang kemaluanku, aku arahkan ke lubang kemaluannya. Aku rasakan kepala kemaluanku mulai masuk perlahan, aku tekan lagi agak perlahan, kurasakan sulit kemaluanku menembus lubang kemaluannya.

Aku dorong lagi perlahan, ku perhatikan wajah Rgn dengan matanya yang tertutup rapat, ia menggigit bibirnya sendiri, kemudian berdesah berkata “sstt… aahh…, Eml, pelan-pelan ya masukinnya, sudah kerasa agak perih nih…” Dan aku pun dengan perlahan tapi pasti kudesak terus batang kemaluanku ke dalam lubang kemaluan Rgn, aku berupaya untuk dengan sangat hati-hati sekali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kewanitaan Rgn.

Aku sudah tidak sabar, pada suatu saat aku kelepasan, aku dorong batang kemaluanku agak keras, dan terdengar dari kemaluanku Rgn suara “Srrph!” Aku lihat ke arah batang kemaluanku dan kemaluan Rgn, tampak olehku batang kemaluanku baru setengah terbenam kedalam kemaluannya. Rgn tersentak kaget, dan aku pun demikian.

Lalu Rgn bertanya “Aduh Eml, suara apaan tuh?” Aku menjawab dan menenangkan Rgn “Nggak apa-apa, sakit nggak?” Lalu Rgn menjawab “Sedikit…” Lalu aku berkata “Tahan ya.., sebentar lagi masuk kok…” dan kurasakan lubang kemaluan Rgn sudah mulai basah dan agak hangat. Ini menandakan bahwa lendir dalam kemaluan Rgn sudah mulai keluar, dan siap untuk berpenetrasi.

Akhirnya aku desakkan batang kemaluanku dengan cepat dan tiba-tiba agar Rgn tidak sempat merasakan sakit, dan ternyata usahaku berhasil, aku lihat wajah Rgn seperti orang yang sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, matanya setengah terpejam, dan sebentar-sebentar kulihat mulutnya terbuka dan mengeluarkan suara “sshh… sshh…” Lidahnya terkadang keluar sedikit membasahi bibirnya yang sensual…

Aku pun merasakan nikmat yang luar biasa. Ku tekan lagi batang kemaluanku, kurasakan di ujung kemaluanku ada yang mengganjal, ku perhatikan batang kemaluanku, ternyata sudah masuk tiga perempat kedalam lubang kemaluan Rgn, ko coba untuk menekan lebih jauh lagi, ternyata sudah mentok…, kesimpulannya, batang kemaluanku hanya dapat masuk tiga perempat lebih sedikit ke dalam lubang kemaluan Rgn.

Dan Rgn pun merasakannya. Ini aku ketahuai karena Rgn pun berkata kepadaku “Aduh Eml, sudah mentok, jangan dipaksain teken lagi, perut gue sudah kerasa agak eneg nih, eneg-eneg nikmat…, gila…, aduh…, barang lo gede banget sih Ml…”

Aku mulai memundur-majukan pantatku, sebentar kuputar goyanganku ke kiri, lalu ke kanan, memutar, lalu kembali ke depan ke belakang, ke atas lalu ke bawah. Kurasakan betapa nikmat rasanya kemaluan Rgn, dalam benak pikiranku ternyata lubang kemaluan Rgn masih sempit, ini mungkin karena ukuran batang kemaluanku yang menurut Rgn besar, panjang dan kekar.

Lama kelamaan goyanganku sudah mulai teratur, perlahan tapi pasti, dan Rgn pun sudah dapat mengimbangi goyanganku, kami bergoyang seirama, berlawanan arah, bila kugoyang kekiri, Rgn goyang kekanan, bila kutekan pantatku Rgn pun menekan pantatnya.

Namun itu semua aku lakukan dengan perlahan namun teratur dan pasti, karena aku sadar betapa besar batang kemaluanku untuk Rgn, aku tidak mau membuatnya menderita kesakitan. Dan usahaku ini berjalan dengan mulus. Sesekali kurasakan jari jemari Rgn merenggut rambutku, sesekali kurasakan tangannya mendekapku dengan erat.

Tubuh kami berkeringat dengan sedemikian rupa dalam ruangan mobil yang mulai panas, namun kami tidak peduli, kami sedang merasakan nikmat yang tiada tara pada saat itu. Aku terus menggoyang pantatku kedepan kebelakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat dimenit ke dua puluh kalau aku tidak salah,

Rgn berkata “Aahh Eml…, agak cepet lagi sedikit goyangnya…, gue kayaknya sudah mau keluar nih…” Rgn mengangkat kakinya tinggi, melingkar di pinggangku, menekan pantatku dengan erat dan beberapa menit kemudian semakin erat…, semakin erat…,

tangannya sebelah menjambak rambutku, sebelah lagi mencakar punggungku, mulutnya menggigit kecil telingku sebelah kanan, lalu terdengar jeritan dan lenguhan panjang dari mulutnya memanggil namaku “Eml… aahh… mmhhaahh… Aahh…”. Kurasakan lubang kemaluannya hangat, menegang dan mengejut-ngejut menjepit batang kemaluanku, aahh… gila… ini nikmat sekali… baru kurasakan sekali ini lubang kemaluan bisa seperti ini.

Tak lama kemudian aku tak tahan lagi, kugoyang pantatku lebih cepat lagi keatas kebawah dan…, tubuhku mengejang… lalu Rgn berseru “Eml…, cabut…, keluarin di luar…”. Dengan cepat kucabut batang kemaluanku lalu sedetik kemudian kurasakan kenikmatan luar biasa, aku menjerit tertahan “aahh… ahh…” Aku mengerang tertahan “Ngghh… ngghh…”

Aku pegang batang kemaluanku sebelah tangan dan kemudian kurasakan muncratnya air maniku dengan kencang dan banyak sekali keluar dari batang kemaluanku, crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot… crot…, sebagian menyemprot wajah Rgn, sebagian lagi ke payudaranya, kedadanya, terakhir keperut dan pusarnya… Kami terkulai lemas berdua setelah crot, sambil berpelukan, lalu kudengar Rgn berkata

“Eml…, nikmat banget making love sama lu, rasanya beda sama kalau gue gitu sama Ptt. Enakan sama lu, kalau sama Ptt, gue jarang keluar, tapi baru sekali gitu sama lu gue bisa keluar, barang kali karena barang lo yang gede bangeth ya? Gue nggak bakal lupa deh sama malam ini, gue akan inget terus malem ini, jadi kenangan manis gue”. Aku hanya tersenyum dengan lelah dan berkata “Iya Rg, gue juga, gue nggak bakal lupa”.

Aku antar Rgn pulang ke rumahnya. Kami pulang dengan kenangan manis yang tak dapat kami lupakan selama-lamanya. 

Cerita Sex Beradu Siuman Hot Seusai Ngesex Dengan Cewek Montok & Seksi


Nama saya Don, kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Cerita ngesex ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah menyelesaikan Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA. Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di Stasiun, saya langsung berjalan menuju halte bus di seberang stasiun untuk menunggu bus ke arah rumah saya.

Di halte bus, saya melihat seorang cewek SMA yang seksi, putih mulus dan cantik sekali serta mempunyai payudara yang bisa membuat setiap laki-laki menelan ludah. Pokoknya boleh dibilang, cewek seperti dia di kampus saya tidak bakal ketemu deh.

Maklum deh, di kampus saya mayoritas mahasiswanya cowok, apalagi di jurusan saya. Tanpa berpikir panjang, saya pun berkenalan dengan cewek itu. Namanya Anggie, dan karena bus jurusan ke rumah saya sudah datang, saya pun langsung memberi alamat kos saya di Bandung beserta nomer teleponnya.

Keesokan harinya saya bersama ibu dan adik saya berlibur ke Singapore selama 4 hari. Kami menginap di sebuah Hotel. Di Singapore, karena berbeda dalam hal selera berbelanja, saya berjalan sendiri, sedangkan ibu dan adik saya berjalan berdua.

Liburan itu hanya saya isi dengan berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard sampai Bukit Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami balik ke Jakarta, dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk persiapan berangkat Kerja Praktek ke luar pulau.

Pada saat saya tiba di kos saya di Bandung, saya mendapat surat kiriman dari Anggie, yang intinya menanyakan kapan saya main ke Jakarta lagi. Keesokan harinya saya langsung balik ke Jakarta lagi, meskipun ibu saya sampai bingung kenapa nih anak bolak-balik Jakarta-Bandung. Malamnya saya menelepon Anggie dan kami janjian ketemu di depan sekolahnya di kawasan Gambir.

Keesokan harinya kami pun bertemu sesuai dengan janji kami. Langsung saja kami meluncur ke Blok M Plaza. Dalam perjalanan itu, Anggie berulang kali meletakkan tangannya di paha kiri saya. Saya pun langsung terangsang, meskipun saat itu saya berpura-pura cuek saja.

Karena saat itu saya memakai jeans, ereksi tersebut membuat saya agak kesakitan. “Ntar lagi dong, Nggie…, sakit banget nih”. Anggie pun menghentikan rangsangannya sambil tersenyum menertawakan sakit yang saya rasakan. Sampai di Blok M kami pun berjalan keliling plaza sambil bergandengan tangan. Setelah sekitar 2 jam, kami kembali ke mobil.

Sesampainya di mobil, saya menyuruh Anggie agar dia duduk di kursi belakang saja dengan alasan untuk bercerita dulu. Sambil bercerita tiba-tiba Anggie meminta saya memangkunya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, langsung saja tangan saya membelai rambutnya, meremas payudaranya, namun pada saat tangan saya meremas kemaluannya, tiba-tiba Anggie berbalik dengan agresifnya dan langsung saja tangan kanannya masuk ke dalam CD saya. Kontan saja saya tak berdaya dibuatnya.

“Don, asyik nggak Don..?”, bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
“Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..”, balas saya sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.

Lalu kedua tangannya membuka retsleting jeans-ku serta CD-ku sehingga saya tinggal mengenakan T-Shirt saja. Merasa terpojok, langsung saja saat itu juga saya “menggeledah” seragam SMA Anggie, mulai dari pakaian dan BH-nya, namun saya masih ragu-ragu untuk membuka roknya.

Tangan kami saling berebutan meremas-remas “jantung pertahanan” lawan sedangkan lidah kami saling berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan. Tanpa terasa batang kemaluan saya mulai mengembang tegak penuh rangsangan. Don.., jangan kasar dong..!”, kata Anggie kepadaku.

Pada saat tanganku masuk ke CD-nya, terasa mulai banyak cairan yang baunya baru pertama kali saya rasakan. “Ehggg.., ehhggg.., Don.., saya ingin jilat anu kamu Don.., cepet Don..!”. Tanpa berpikir panjang langsung saya arahkan batang kemaluan saya ke mulut Anggie dan dia pun langsung menikmatinya meskipun agak kewalahan juga.

“Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih..”
“Ntar Don.., jangan dulu..”, kata Anggie sambil menutup matanya.

Tapi saya sudah tak kuasa lagi menahan nafsu ini. Langsung saja saya menggenjot batang kemaluan saya dengan kencang sehingga mobil tempat kami “praktikum” bergoyang lumayan hebat. Untung saja orang dalam mobil di samping sedang asyik berbelanja.

Pada saat itu tangan Anggie langsung memeluk pantat saya, dan jari-jarinya sekali-kali meremas biji peler saya. Saya pun terus menambah genjotan saya sampai optimum sehingga Anggie terpaksa setengah menggigit senjata saya agar tidak lepas.

“Mmhhh.., mmhhh.., mhuuhhh..”, seakan-akan Anggie menelan ludahnya sehinga saya merasa semakin bergairah. Dan tak lama kemudian, “Crot.., ccrrottt.., crottt..” Sperma saya keluar dan langsung ditelan Anggie sambil menjilat-jilat batang kemaluan saya.

Kami pun terkulai lemas untuk beberapa saat, karena melihat satpam Blok M Plaza berjalan ke arah kami, maka kami segera memakai kembali pakaian kami masing-masing, meskipun dalam hati kecil saya merasa belum puas karena belum sempat mengulum payudara dan liang kenikmatan Anggie. Namun Anggie merasa puas sekali dengan permainan yang baru kami lakukan. Kami pun meninggalkan Blok M Plaza untuk mengantar Anggie ke arah rumahnya di kawasan Jakarta Timur.

Dalam perjalanan ke rumah Anggie, saya melihat ada satu kompleks perumahan yang lumayan sepi. Langsung saja saya membelokkan mobil saya ke arah kompleks itu, Anggie pun kebingungan. Kami berhenti di bawah sebuar pohon yang rindang di daerah yang sepi dari kompleks itu.

“Nggie.., gue masih ingin Nggie..”, bisik saya ke telinga Anggie.

Langsung saja saja cium bibir dan pipinya, hingga pipinya kemerah-merahan akibat saya cupang. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya sampai juga di payudaranya.

“Toket loe oke punya Nggie..”, ujarku.

Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar pujianku.

“Rudal kamu juga lumayan kok Don..!”, balas Anggie.

Saat itu kedua tangan Anggie hanya bisa memeluk punggung saya karena tidak berdaya menahan ciuman dan bahkan sesekali gigitan saya.

“Nggie.., loe nungging deh Nggie..”, ajak saya.

Anggie pun menurut saja. Dari belakang saya arahkan batang kemaluan saya ke liang kenikmatannya sedangkan tangan saya meremas kedua payudaranya dan kaki saya menjepit kakinya. Tampak Anggie kegelian merasakan bulu-bulu kaki saya yang menjepit kakinya yang mulus itu. Tangan Anggie pun tampak tidak mau kalah, dia arahkan kedua tangannya ke punggung saya sehingga kami berdua menyatu erat sekali.

“Oke Nggie.., udah siap say..?”, tanyaku mengingatkan Anggie yang masih mendesah.
“Mulai aja Don.., sapa takut..”, jawab Anggie penuh percaya diri.

Mulailah saya lakukan gesekan-gesekan ringan yang membuat Anggie sesekali mendesah keras. Mobil pun kembali mulai bergoyang hebat.

“Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..”, rayu saya padanya.
“Iya Don.., saya tahan kok Don..”, sahutnya.

Tanpa terasa keringat di punggung saya terasa begitu panas sehingga mengganggu “praktikum” kami. Agar bisa sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke belakang sehingga kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu birahi.

Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya egois saya karena semua onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie, sedangkan Anggie hanya bisa ber-ciuman hot, itu pun kepalanya berbalik arah. Sesekali agar Anggie tidak mendesah begitu keras, saya cubit pahanya sehingga dia tersenyum ringan.

“Ayo Nggie.., lawan saya Nggie”, tantang saya sombong pada Anggie.

Anggie pun seakan-akan tak mau kalah, payudaranya mulai mengeras dan liang kenikmatannya mulai mengeluarkan cairan, namun ciumannya seakan-akan mulai mengalahkan ciuman saya. Saya pun mulai kewalahan sekalipun posisi badan saya lebih menguntungkan.

“Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..”, bisik saya.
“Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..”, teriak Anggie seolah-olah ingin lebih merasakan kenikmatan.

Kami pun bercinta dengan gaya kucing di dalam mobil. Genjotan yang saya lakukan semakin bertambah keras dan kencang sehingga Anggie seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. “Ahhh.., ahhh.., ahhh.., auuhhh..”, terdengar sayup-sayup genjotan saya pada liang kenikmatan Anggie. Dan saya pun mulai merasakan bahwa permainan sudah mau berakhir.

“Don.., enak Don.., tambah lagi Don.., lagi sayaang.., lagiii..!”, teriak Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, ” Crot.., croott.., crooot.., crooottt”, keluarlah cairan yang begitu banyak sehingga permainan berakhir sambil kami tetap terus berciuman. Kami pun tertidur lagi, dan karena sudah lumayan malam saya mengantar Anggie pulang ke rumahnya.

Sampai di rumah Anggie kira-kira jam 11 malam. Saya tidak tahu apa yang dikatakan Anggie kalau orang tuanya menanyakan dari mana saja. Pakaian seragam Anggie begitu kusut bahkan ada beberapa tetes sperma saya yang mengenai rok SMA-nya.

Saya pun pulang ke rumah dan tiba di rumah sekitar jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu yang membukakan pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, agak menyesal tapi puas betul, pokoknya semua perasaan bercampur baur.

Keesokan harinya saya hanya menelepon Anggie, menanyakan kabarnya. Saya berpamitan lewat telepon karena besok harus balik ke Bandung dan selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie menanyakan jam keberangkatan saya.

Keesokan harinya tepat saat berada di lantai atas stasium Gambir saya kaget setengah mati, ternyata ada cewek cantik berseragam SMA menunggu di pinggir kereta. Anggieee..! Kami pun ber-ciuman hot di depan umum, kontan semua orang heran melihat gelagat kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.

Anggie pun mengantarkan saya meletakkan tas saya di dalam kereta. Dan kami hendak kembali ke luar kereta untuk sekedar ngobrol-ngobrol. Saat melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena melihat toilet kosong, otak saya langsung “berpikir efisien” lagi. Segera tangan saya menyambar tangan putih Anggie sehingga kami berdua masuk ke toilet yang sempit itu.

“Nggie.., loe masih mau ciuman hot nggak Nggie”, tanya saya.
“Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu”, jawabnya.

Kami pun ber-ciuman hot di toilet itu lama sekali dengan tangan saling memeluk mengingat keterbatasan waktu untuk bermain lebih lama lagi.

Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami berdua sangat panik.

“Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!”, kata Anggie.

Kami pun saling merapikan baju kami, dengan deg-degan kami keluar dari toilet. Langsung saja si pengetuk pintu berteriak, “Busyet dah nih orang.., ke WC barengan..!”. Kami pun panik sambil pura-pura tidak mendengar padahal banyak sekali orang yang melihat kejadian itu.

Kereta pun berangkat ke Bandung. Kami hanya bisa saling memandang saat kereta mulai bergerak seakan-akan masih belum puas atas hasil kerja keras kami. Sesampainya di Bandung saya masih sering melamun di kamar kos bahkan di kampus, seandainya saat ini Anggie menari bugil di depan saya. Kami pun hanya saling telepon, terlebih lagi pada saat saya kerja praktek di luar pulau.

Sekembalinya kerja praktek, saya pernah hendak membeli koran di dekat tempat parkir motor di kampus. Tanpa sengaja ada anak remaja cewek yang membeli sebuah majalah remaja. Saya mencuri-curi melihat isi majalah tersebut saat cewek itu sedang membaca majalah tersebut. Ya Tuhan.., ternyata Anggie menjadi profil di halaman muka majalah itu. Malamnya saya interlokal ke Jakarta menanyakan hal tersebut.

Ternyata hal tersebut sudah berlangsung lama, Anggie memang seorang model di majalah tersebut bahkan pernah membintangi iklan di televisi (sekarang tidak lagi). Saya saat itu merasa bingung sendiri, mengapa baru tahu sekarang, maklumlah meskipun di kos-kosan saya ada televisi namun kalau ada iklan saya tidak terlalu memperhatikannya.

Sekarang ini sudah setahun kejadian itu berlangsung. Kalau saya sedang di Jakarta, seringkali saya menelepon Anggie dan menjemputnya, namun kami tidak melakukan seperti yang sudah-sudah. Kami “hanya” beradu ciuman hot di tempat parkir Mall.

Yang kalah dalam adu ciuman hot harus mentraktir di sebuah restoran. Skor sampai dengan saat saya mengetik tulisan ini di situs ceritaseks15.com masih 3-2 untuk keunggulan Anggie. 

Cerita Hot Dengan Anak Bosku Yang Sangat Tebal Memek Nya


Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah perusahaan eksportir fashion ternama di kotaku. Dan anak gadis pemilik perusahaan itu, Dewi namanya, baru lulus sekolah dari Singapore, umurnya sekitar 23 tahun, cantik dan waktu masih SMA sempat berprofesi sebagai model lokal. Nah, Dewi itu ditugaskan sebagai asisten GM (yaitu saya), jadi tugasnya membantu saya sambil belajar.

Singkat cerita, Dewi semakin dekat dengan saya dan sering bercerita.

“Nico, cowok tuh maunya yang gimana sih. Ehm.., kalo di ranjang maksud gue..”
“Nic, kamu kalo lagi horny, sukanya ngapain?”
“Kamu suka terangsang enggak Nic, kalo liat cewek seksi?”

Yah seperti itulah pertanyaan Dewi kepadaku. Terus terang percakapan-percakapan kita selang waktu kerja semakin intim dan seringkali sensual.

“Kamu pernah gituan nggak, Wi..?, tanyaku.
“Ehm.. kok mau tau?”, tanyanya lagi.
“Iya”, kataku.
“Yah, sering sih, namanya juga kebutuhan biologis”, jawabnya sambil tersipu malu.

Kaget juga saya mendengar jawabannya seperti itu. Nih anak, kok berani terus terang begitu.

Pernah ketika waktu makan siang, ia kelepasan ngomong.

“Cewek Bali itu lebih gampang diajakin tidur daripada makan siang”, katanya sambil matanya menatap nakal.
“Kamu seneng seks?”, tanya saya.
“Seneng, tapi saya enggak pandai melayani laki-laki”, katanya.
“Kenapa begitu?”, tanya saya lagi.
“Iya, sampe sekarang pacarku enggak pernah ngajak kawin. Padahal aku sudah kepengen banget.”
“Kepengen apa?”, tanyanku.
“Kawin”, katanya sambil tertawa.

Suatu ketika ia ke kantor dengan pakaian yang dadanya rendah sekali. Saya mencoba menggodanya, “Wah Dewi kamu kok seksi sekali. Saya bisa lihat tuh bra kamu”. Ia tersipu dan menjawab, “Suka enggak?”. Saya tersenyum saja. Tapi sore harinya ketika ia masuk ruangan saya, bajunya sudah dikancingkan dengan menggunakan bros. Rupanya dia malu juga. Saya tersenyum, “Saya suka yang tadi.”

Suatu ketika, setelah makan siang Dewi mengeluh.

“Kayaknya cowokku itu selingkuh.”
“Kenapa?”, tanyaku.
“Habis udah hampir sebulan enggak ketemu”, katanya.
“Terus enggak.. itu?”, tanyaku.
“Apa?”
“Itu.. seks”, kataku.
“Yah enggak lah”, katanya.
“Kamu pernah onani enggak?”, tanyaku.

Dia kaget ketika saya tanya begitu, namun menjawab.

“Ehm… kamu juga suka onani?”
“Suka”, jawabku.
“Kamu?”, tanyaku.
“Sekali-sekali, kalo lagi horny”, jawabnya jujur namun sedikit malu.

Pembicaraan itu menyebabkan saya terangsang, Dewi juga terangsang kelihatannya. Soalnya pembicaraan selanjutnya semakin transparan.

“Dewi, kamu mau gituan enggak.”
“Kapan?”
“Sekarang.”

Dia tidak menjawab, namun menelan ludah. Saya berpendapat ini artinya dia juga mau. Well, setelah berbulan-bulan flirting, sepertinya kita bakalan “just do it” nih.

Kubelokkan mobil ke arah motel yang memang dekat dengan kantorku.

“Nic, kamu beneran nih”, tanyanya.
“Kamu mau enggak?”
“Saya belum pernah main sama cowok lain selain pacarku.”
“Terakhir main kapan?”
“Udah sebulan.”
“Trus enggak horny?”

“Ya onani.. lah”, jawabnya, semakin transparan. Mukanya agak memerah, mungkin malu atau terangsang. Aku terus terang sudah terangsang. This is the point of no return. Aku sadari sih, ini bakalan complicated. But… nafsuin sih.

“Terus, kapan kamu terakhir dapet orgasme”
“Belum lama ini.”
“Gimana?”
“Ya sendirilah.. udah ah, jangan nanya yang gitu.”
“Berapakali seminggu kamu onani?”, tanyaku mendesaknya.

“Udah ah… yah kalo horny, sesekali lah, enggak sering-sering amat. Lagian kan biasanya ada Andree (cowoknya-red).”

“Kamu enggak ngajak Andree.”
“Udah.”
“Dan..?”
“Dia bilangnya lagi sibuk, enggak sempet. Main sama cewek lain kali. Biasanya dia enggak pernah nolak.”

Siapa sih yang akan menolak, bersenggama sama anak ini. Gila yah, si Dewi ini baru saja lulus kuliah, tapi soal seks sepertinya sudah terbiasa.

“Nic, enggak kebayang main sama orang lain.”
“Coba aja main sama saya, nanti kamu tau, kamu suka selingkuh atau enggak.”
“Caranya?”

“Kalo kamu enjoy dan bisa ngilangin perasaan bersalah, kamu udah OK buat main sama orang lain. Tapi kalo kamu enggak bisa ngilangin perasaan bersalah, maka udah jangan bikin lagi”, kataku.

“Kamu nanti enggak bakal pikir saya cewek nakal.”
“Enggaklah, seks itu normal kok. Makanya kita coba sekali ini. Rahasia kamu aman sama saya”, kataku setengah membujuk.
“Tapi saya enggak pintar lho, mainnya”, katanya. Berarti sudah OK buat ngeseks nih anak.

Mobilku sudah sampai di kamar motel. Aku keluar dan segera kututup pintu rolling door-nya. Kuajak dia masuk ke kamar. Tanpa ditanya, Dewi ternyata sudah terangsang dengan pembicaraan kita di mobil tadi. Dia menggandengku dan segera mengajakku rebahan di atas ranjang.

“Kamu sering main dengan cewek lain, selain pacar kamu, Nic?”
“Yah sering, kalo ketemu yang cocok.”
“Ajarin saya yah!”

Tanganku mulai menyentuh dadanya yang membusung. Aku lupa ukurannya, tapi cukup besar. Tanganku terus menyentuhnya. Ia mengerang kecil, “Shh.. geli Nic.” Kucium bibirnya dan ia pun membalasnya. Tangannya mulai berani memegang batang kemaluanku yang menegang di balik celanaku.

“Besar juga…”, katanya. Matanya setengah terpejam. “Ayo, Nic aku horny nih.” Kusingkap perlahan kaos dalamnya, sampai kusentuh buah dadanya, branya kulepas, kusentuh-sentuh putingnya di balik kaosnya. Uh.. sudah mengeras. Kusingkap ke atas kaosnya dan kuciumi puting susunya yang menegang keras sekali, kuhisap dan kugigit pelan-pelan, “Ahh.. ahh.. ahh, terus Nic.. aduh geli… ahh.. ah.”

Dewi, yang masih muda ternyata vokal di atas ranjang. Terus kurangsang puting susunya, dan ia hampir setengah berteriak, “Uh.. Nic… uh.” Aku sengaja, tidak mau main langsung. Kuciumi terus sampai ke perutnya yang rata, dan pusarnya kuciumi.

Hampir lupa, tubuhnya wangi parfum, mungkin Kenzo atau Issey Miyake. Pada saat itu, celanaku sudah terbuka, Aku sudah telanjang, dan batang kemaluanku kupegang dan kukocok-kocok sendiri secara perlahan-lahan. Ah.. nikmat. Bibirnya mencari dan menciumi puting susuku. “Enak.. enak Dewi”. Rangsangannya semakin meningkat.

“Aduuhh.. udah deh.. enggak tahan nih”, ia menggelinjang dan membuka rok panjangnya sehingga tinggal celana dalamnya, merah berenda. Bibir dan lidahku semakin turun menjelajahi tubuhnya, sampai ke bagian liang kenikmatannya (bulu kemaluannya tidak terlalu lebat dan bersih).

Kusentuh perlahan, ternyata basah. Kuciumi liang kenikmatannya yang basah. Kujilat dan kusentuh dengan lidahku. liang kenikmatan Dewi semakin basah dan ia mengerang-erang tidak karuan. Tangannya terangkat ke atas memegang kepalanya.

Kupindahkan tangannya, dan yang kanan kuletakkan di atas buah dadanya. Biar ia menyentuh dirinya sendiri. Ia pun merespon dengan memelintir puting susunya. Kuhentikan kegiatanku menciumi liang kenikmatannya. Aku tidur di sampingnya dan mengocok batang kemaluanku perlahan. Dia menengokku dan tersenyum,

“Nic.. kamu merangsang saya.”
“Enak..”

“Hmm…”, matanya terpejam, tangannya masih memelintir putingnya yang merah mengeras dan tangan yang satunya dia letakkan di atas liang kenikmatannya yang basah. Ia menyentuh dirinya sendiri sambil melihatku menyentuh diriku sendiri. Kami saling bermasturbasi sambil tidur berdampingan.

“Heh.. heh.. heh.. aduh enak, enak”, ceracaunya.
“Gile, Nic, gue udah kepengin nih.”
“Biar gini aja”, kataku.

Tiba-tiba dia berbalik dan menelungkup. Kepalanya di selangkanganku yang tidur telentang. Batang kemaluanku dihisapnya, uh enak banget. Nih cewek sih bukan pemula lagi. Hisapannya cukup baik. Tangannya yang satu masih tetap bermain di liang kenikmatannya. Sekarang tangannya itu ditindihnya dan kelihatan ia sudah memasukkan jarinya.

“Uh… uh… Nic, aku mau keluar nih, kita main enggak?”

Kuhentikan kegiatannya menghisap batang kemaluanku. Aku pun hampir klimaks dibuatnya.

“Duduk di wajahku!”, kataku.
“Enggak mau ah.”
“Ayo!”

Ia pun kemudian duduk dan menempatkan liang kenikmatannya tepat di wajahku. Lidah dan mulutku kembali memberikan kenikmatan baginya. Responnya mengejutnya, “Aughhh…” setengah berteriak dan kedua tangannya meremas buah dadanya. Kuhisap dan kujilati terus, semakin basah liang kenikmatannya.

Tiba-tiba Dewi berteriak, keras sekali, “Aahhh… ahhh”, matanya terpejam dan pinggulnya bergerak-gerak di wajahku. “Aku.. keluar”, sambil terus menggoyangkan pinggulnya dan tubuhnya seperti tersentak-sentak. Mungkin inilah orgasme wanita yang paling jelas kulihat. Dan tiba-tiba, keluar cairan membanjir dari liang kenikmatannya. Ini bisa kurasakan dengan jelas, karena mulutku masih menciumi dan menjilatinya.

“Aduh… Nic.. enak banget. Lemes deh”, ia terkulai menindihku.
“Enak?”, tanyaku.
“Enak banget, kamu pinter yah. Enggak pernah lho aku klimaks kayak tadi.”

Aku berbalik, membuka lebar kakinya dan memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya yang basah. Dewi tersenyum, manis dan malu-malu. Kumasukkan, dan tidak terlalu sulit karena sudah sangat basah. Kugenjot perlahan-lahan. Matanya terpejam, menikmati sisa orgasmenya.

“Kamu pernah main sama berapa lelaki, Dewi..?, tanyaku.
“Dua, sama kamu.”
“Kalo onani, sejak kapan?”
“Sejak di SMA.”

Pinggulnya sekarang mengikuti iramaku mengeluar-masukkan batang kemaluan di liang kenikmatannya. “Nic, Dewi mau lagi nih.” Uh cepat sekali ia terangsang. Dan setelah kurang lebih 3 menit, dia mempercepat gerakannya dan “Uhh… Nic.. Dewi keluar lagi…” Kembali dia tersentak-sentak, meski tidak sehebat tadi.

Akupun tak kuat lagi menahan rangsangan, kucabut batang kemaluanku dan kusodorkan ke mulutnya. Ia mengulumnya dan mengocoknya dengan cepat. Dan “Ahhh…” klimaksku memuncratkan air mani di wajah dan sebagian masuk mulutnya. Tanpa disangka, ia terus melumat batang kemaluanku dan menjilat air maniku. Crazy juga nih anak.

Setelah aku berbaring dan berkata,

“Dewi, kamu bercinta dengan baik sekali.”
“Kamu juga”, mulutnya tersenyum.
Kemudian ia berkata lagi, “Kamu enggak nganggap Dewi nakal kan Nic.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Kamu enjoy enggak atau merasa bersalah sekarang.”

Dia ragu sebentar, dan kemudian menjawab singkat,

“Enak..”
“Nah kalau begitu kamu emang nakal”, kataku menggodanya.
“Ihh… kok gitu..” Aku merangkulnya dan kita tertidur.

Setelah terbangun, kami mandi dan berpakaian di motel. Kemudian kembali ke kantor. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih mampir ke motel.

Cerita Sex Menjadi Penjahat kelamin Sudah Takdirku


ini merupakan pengalaman pertamaku. Tapi bukan berarti baru pertama kali aku melakukan senggama, tapi pertama dalam arti mendapatkan wanita dengan status setengah perawan. Lho kok bisa setengah perawan, barangkali itu yang menjadi pemikiran para pembaca ceritaseks15 yang budiman.

Setengah perawan itu dengan pengertian, tidak pernah disetubuhi laki-laki, tapi kemaluannya pernah dijilati pacarnya dan dimasuki jari tangan sehingga perawannya jebol, tapi masih perawan karena tidak pernah dimasuki kemaluan lelaki. Ini yang disebut setengah perawan. Aku mendapatkan Sri secara kebetulan. Ketika itu, aku yang senang naik bus kota karena banyak bertemu dengan karyawati, sedang menunggu di halte bus kawasan Slipi.

Ketika sedang duduk-duduk menanti bus, seorang gadis dengan wajah tidak terlalu cantik dan tidak jelek, berkulit putih dengan payudara yang tidak terlalu besar (seperti kesukaanku), berjalan ke arahku dan langsung duduk di sebelahku. Perilakunya terkesan cuek, seperti pada umumnya cewek Jakarta. Aku mencari akal, bagaimana cara untuk mengajak ngomong cewek ini. Aku si penjahat kelamin punya pikiran untuk minta maaf karena akan merokok.

Ketika aku minta ijin merokok, Sri dengan senyum manisnya menyatakan tidak keberatan. Selanjutnya obrolan kian akrab dan saling tukar nomor handphone. Aku dan Sri kemudian berpisah karena tujuan kami berbeda. Aku mau ke Blok M sedang Sri mau ke Kampung Melayu, rumah temannya.

Malam harinya, aku sudah tidak sabar untuk menghubungi telepon selulernya. Obrolan pun terjadi, cukul lama. Hampir setiap hari aku telepon. Obrolannya pun mulai mengarah ke masalah pacaran. Dia mengaku baru saja putus dengan pacarnya karena menghamili gadis lain.

Pura-pura sok suci, aku pun menasehatinya untuk tabah dan tawakal karena memang bukan jodohnya. Hubungan via telepon ini cukup lama, sekitar dua minggu dan hampir setiap hari aku selalu menghubunginya. Menginjak minggu ketiga, aku memberanikan diri mengajak untuk jalan-jalan. Karena aku belum lama di Jakarta, aku minta diantar ke Ancol, ternyata Sri tidak keberatan.

Malam Minggu, aku dan Sri dengan naik sepeda motor pergi ke Ancol. Aku berpura-pura alim dan bercerita tentang masa laluku, dan cerita itu kubuat sedemikian rupa sehingga terkesan aku ini punya sifat terbuka. Dia juga menceritakan masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang sudah setengah perawan. Di Ancol, aku juga menghindari untuk menciumnya. Ternyata sikapku yang sok suci ini membuat dia jatuh hati.

Memasuki minggu keempat, dia mengajakku untuk pergi jalan-jalan. Dia minta ke puncak dan berangkat minggu pagi. Usulnya kuterima dengan alasan aku juga belum pernah ke sana (padahal, di kawasan dingin itulah, aku sering membawa cewek-cewek Jakarta). Sekitar pukul 06.00, aku sampai di Terminal Rambutan dan tidak lama kemudian dia juga sampai di satu titik yang telah ditetapkan bersama.

Singkat cerita, sekitar pukul 08.30, aku dan dia sampai di Puncak. Setelah sarapan, kita kemudian mencari tempat untuk melihat-lihat pemandangan. Di puncak, aku melihat Sri mulai aktif dengan menggandeng tanganku. Aku berpikir, inilah saatnya untuk mengeluarkan jurus terampuh, apalagi Sri ini termasuk wanita terlama yang aku minta menyerahkan barangnya (sekitar sebulan).

Setelah mendapatkan tempat duduk, aku dan Sri kemudian terlibat pembicaraan hangat. Saat itu, mendung semakin tebal. Aku si penjahat kelamin kemudian bilang sama Sri untuk mencari tempat karena hujan lebat tidak lama lagi akan turun. Tanpa kuduga, Sri menerima karena dia mengaku senang dengan sifat keterbukaanku dan berharap aku bisa jadi suaminya. Itulah kelemahan wanita, yang cepat percaya, yang akhirnya akan jadi korban lelaki.

Aku dan Sri kemudian mencari tempat dan tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Singkat cerita, aku dan Sri sudah masuk ke kamar. Dengan sikap jantan dan tidak tergesa-gesa, aku dan Sri kemudian menonton televisi sambil ngobrol-ngobrol dan sekali-kali menyinggung tentang seks, terutama ketika kemaluannya dicium oleh pacarnya dulu. Pertanyaanku ini ternyata membuatnya bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi, kecuali pada calon suaminya. Dengan rayuan gombal, Sri tampak percaya sekali kalau aku merupakan calon suaminya.

Kemudian kucium pipinya dan Sri diam saja sambil menutup matanya. Setelah itu, dengan gaya halus, aku minta ijin untuk mencium bibirnya. Tanpa ada jawaban, Sri langsung menyosor bibirku, dan tanpa dikomando bibirnya segera kulumat dan tanganku menggerayangi payudaranya yang tidak terlalu besar.

Ketika putingnya kuraba, dia mulai melenguh. Dengan gerakan halus, aku mulai membuka pengait BH-nya sehingga terbukalah bukit kembar miliknya. Sementara bibirku sudah beralih, tidak lagi di bibirnya tapi sudah menjilati telinga, dan lehernya.

Karena buah dadanya sudah terbuka, mulutku pun bergeser ke puting susunya yang sudah menegang. Ketika kumainkan dengan lidahku, lenguhannya semakin panjang. Tangankupun tidak tinggal diam, retsleting celana panjangnya kubuka dan tanganku menerobos masuk dan dia tampaknya diam saja.

Sambil memainkan clitorisnya, aku terus menjilati kedua payudaranya. Ketika aku merasakan kemaluannya sudah sangat basah, aku coba membuka celana panjangnya, ternyata dia mengangkat pantat sehingga memudahkan aku melepas celana panjang sekaligus celana dalamnya. Setelah terlepas, tanganku pun membuka baju kaos dan BH-nya.

Dalam waktu singkat, Sri sudah telanjang bulat sedang aku masih berpakaian rapi. Melihat ini, Sri pun protes dan segera membuka T-Shirt warna putih milikku. Bersamaan itu pula, aku si penjahat kelamin melepas celana panjang dan celana dalamku sehingga aku dan dia sama-sama telanjang bulat.

Dalam keadaan begitu, aku kemudian mengajaknya masuk ke kamar dan dia tampak setuju atas ajakanku. Begitu duduk di pinggir kasur, aku langsung menyerang bibirnya dan tangannya kubimbing untuk memijit-mijit penisku yang sudah menegang berat. Sedang tanganku kembali ke vaginanya yang sudah becek.

Tak lama kemudian, aku mendorongnya jatuh ke kasur. Mulutkupun segera menyusuri bukit kembarnya. Sri terus-menerus melenguh dan tampak sudah pasrah. Ketika aku minta supaya penisku dimasukkan, dia tak menjawab dan hanya tangannya merangkul leherku erat-erat. Inilah tanda-tandanya dia sudah tidak kuat.

Aku pun segera menindihnya dan tanganku mengarahkan penisku ke liang vaginanya. Ketika kudapati lubang kenikmatan, segera penisku kutekan. Tapi tidak segampang wanita lain yang pernah kuajak bersenggama, lobang vagina Sri sangat sempit sekali. Berkali-kali kucoba untuk menekannya, masih tak berhasil menembus juga.

Setelah lama dengan keringat membasahi tubuh, kepala penisku akhirnya dapat masuk, tapi setelah itu seperti lubangnya buntu. Karena aku sudah capek, babak pertama dengan tanpa hasil itu kuhentikan. Aku si penjahat kelamin dan dia kemudian tiduran sambil tanganku memainkan puting susunya. Selang beberapa saat kemudian, aku dan Sri tertidur.

Sekitar satu jam kemudian, aku terbangun karena kedinginan dan penisku tegak kembali. Aku kemudian mencium kening Sri hingga terbangun. Setelah itu, aku langsung melumat bibirnya yang cukup sensual. Tanganku kembali bermain di vaginanya hingga basah.

Melihat kenyataan ini, aku kembali menindihnya dan mencoba memasukkan penisku dan ternyata kembali gagal, hanya kepala penisku yang masuk. Karena berkali-kali gagal, aku kemudian mengangkat kakinya yang kecil mulus ke atas hingga belahan vaginanya terlihat jelas. Dalam posisi ini, aku mencoba memasukkan penisku dan lagi-lagi hanya kepalanya saja yang masuk.

Aku kemudian berpikir bahwa Sri barangkali tegang hingga otot-otot vaginanya ikut tegang sehingga elastisitas vaginanya menjadi berkurang. Karena itu, aku kemudian mendiamkan saja kepala penisku terbenam di liang vaginanya dan aku kemudian membisikkan kata-kata gombal kepadanya.

Tampaknya, rayuanku mengena sehingga kurasakan otot-otot vaginanya mulai melemas dan kesempatan itu kugunakan untuk kembali menggenjot penisku dan berhasil masuk setengah, setelah itu vagina Sri kembali mengeras. Melihat ini, aku membiarkan penisku terbenam tanpa berusaha kucabut. Rayuanku pun tak berhenti.

Selang beberapa waktu kemudian, aku kembali merasakan otot vaginanya melemas dan kembali kutekan penisku hingga masuk dan total sekitar tiga perempat. Setelah itu, otot vaginanya kembali kaku dan tidak melemas meski sudah kurayu atau kubisikkan supaya tidak tengang dan menerima saja keadaan ini karena sudah telanjur masuk.

Karena buntu, aku berusaha mencabut penisku. Ketika akan kutekan lagi, ternyata buntu. Aku si penjahat kelamin kemudian memintanya untuk rileks dan akhirnya penisku bisa masuk tiga perempat seperti semula. Aku kemudian mencabut penisku dengan perlahan, begitu keluar aku kembali memasukkannya, ternyata buntu lagi. Terus terang aku menjadi keki juga. Aku lantas bilang untuk rileks saja, dan kalau dia rileks maka penisku bisa masuk tiga perempatnya.

Karena pengalamanku dua kali, aku tak mau mencabut tapi langsung memutar-mutarkan penisku, dan terlihat olehku bibirnya menyeringai dan sesekali dia melenguh panjang. Kurasakan, vaginanya sangat basah. Ketika kutanya apakah sakit, dia ternyata diam saja maka penisku kembali kuputar-putar dan lama-lama menjadi cepat, ketika itu pula dia melenguh panjang dan tangannya mencengkeram punggungku. Ketika itulah, dia menjerit panjang sambil mengatakan, “Aduh Mas, enak Mas..”.

Mendengar ini, putaranku semakin cepat dan selang beberapa lama dia menjerit dengan mengatakan hal yang sama. Ketika aku merasakan vaginanya sudah sangat basah, kucoba untuk mencabut penisku dari liang vaginanya, begitu aku menekan lagi ternyata buntu lagi. Sungguh, aku sangat heran dan baru pertama kali ini aku menemukan vagina seperti ini.

Karena sudah keki, aku minta dia supaya menjilati penisku. Awalnya, dia menolak karena tidak biasa dan jijik. Tapi setelah kurayu dan aku janji akan menjilati vaginanya, dia pun setuju. Setelah aku mencuci penisku, dia mulai menjilati. Awalnya, jilatannya tidak terasa karena masih merasa jijik. Tapi lama kelamaan jilatannya menggairahkan dan Sri mau memasukkan penisku ke mulutnya.

Gerakannya pun makin lama makin kuat. Karena aku sudah terangsang dan sejak tadi begitu lama berjuang untuk mengebor vaginanya, akupun merasa penisku mulai berdenyut-denyut. Tanpa harus kutahan (daripada tambah pusing) aku pun mengeluarkan spermaku ke mulutnya.

Merasa ada cairan masuk ke mulutnya, Sri melepas kulumannya dan memuntahkan sperma. Sri lantas seperti orang mual mau muntah. Aku si penjahat kelamin tak peduli dan tanganku mengocok-ngocok penisku hingga spermaku banyak yang tumpah di kasur dan tubuhnya. Setelah aku dan Sri mencuci kemaluan masing-masing, kemudian kami tiduran di kasur. Selang beberapa lama, Sri memintaku untuk gantian menjilati vaginanya.

Meski aku di kantor terkenal dengan julukan penjahat kelamin, tapi aku belum pernah menyosor barang milik perempuan, karena aku yakin wanita yang kutiduri selalu puas dengan permainan ranjangku.

Cerita Hot - Bercinta di Dalam Diskotik


saya akan menceritakan pengalaman saya selama liburan di Beijing. Setelah saya ditinggalkan oleh guru saya ke GuangZhow, saya menyibukkan diri bersama teman-teman berjalan-jalan keliling Beijing. Kebanyakan teman saya berasal dari Indonesia walaupun ada juga beberapa kenalan saya yang berasal dari Korea, Jepang dan China.

Walaupun saya akrab dengan mereka, tetapi ada beberapa gaya hidup mereka yang tidak dapat saya ikuti karena bertentangan dengan prinsip hidup saya. Teman teman saya sangat suka mengkonsumsi obat-obatan. Mereka pernah menawarkan kepada saya, tetapi saya tolak mentah-mentah karena saya tidak pernah mau terlibat dengan drugs dalam posisi apapun.

Suatu saat, salah satu temanku yang bernama Alex mengajak saya pergi ke diskotik yang cukup ternama di Beijing. Suara hingar bingar terdengar memekakkan telinga bahkan dari luar diskotik sekalipun sudah terdengar. Saya dan Alex memasuki diskotik dan kami memilih duduk di bagian paling atas. Kami memesan dua gelas Whiskey Cola sambil mendengarkan dentuman lagu-lagu disco yang sangat keras dan memekakkan telinga.

Dari atas, saya dapat melihat orang-orang yang sedang menggoyang goyangkan kepalanya ke atas dan ke bawah serta ada pula yang menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Saya yakin banyak dari mereka yang menggunakan obat obatan untuk mendapatkan sensasi tersebut ketika berdisko.

Di saat saya mendengarkan dentuman lagu disko, datanglah dua cewek yang sangat cantik dan seksi. Mereka mengaku bernama Su Ling dan Rose. Rose mendekati temanku Alex dan Su Ling langsung memeluk saya dan duduk di pangkuan saya sambil menciumi pipi saya. Dua gadis binal tersebut mengajak kami ke sofa di lantai atas. Kami berpisah dengan Rose dan Alex sementara Su Ling mengajak saya ke suatu tempat.

Sambil mencari sofa yang masih kosong, saya dapat melihat banyak sekali cewek-cowok yang sedang bercinta. Ada cewek yang sedang mengoral penis cowoknya dan ada pula yang sedang bergoyang-goyang di atas tubuh cowoknya. Akhirnya kami menemukan sofa yang kosong dan Su Ling langsung mendorong tubuh saya ke atas sofa sehingga saya langsung jatuh telentang.

Dengan sangat berpengalaman, Su Ling segera membuka celana saya dan seketika langsung keluarlah penis saya yang panjang tapi masih belum berdiri. Dengan sigapnya, Su Ling langsung mengulum penis saya sambil mendesis-desis. Tetapi desahannya tidak terlalu terdengar karena bercampur dengan irama lagu disko yang keras. Saya merasakan nikmat yang teramat sangat ketika ia menjilati penis saya sehingga membuat penis saya bertambah lama semakin menegang dan memanjang.

Su Ling kemudian pindah posisi ke dekat saya tetapi dia masih asyik menjilati penis saya. Saya semakin horny dan Su Ling terus mempercepat jilatannya. Sampai akhirnya kira-kira 20 menit kemudian, saya menyemprotkan sperma saya karena jilatan-jilatannya sehingga mulut Su Ling dipenuhi oleh cairan sperma saya.

Saya puas sekali dengan pelayanannya. Ketika ia melihat saya yang sedang tersenyum puas, ia langsung membuka pakaiannya sehingga dia telanjang total. Saya terkejut sekali karena ia membuka pakaiannya di tengah tengah hingar bingar ruangan diskotik tersebut. Tetapi saya yakin orang tidak begitu memperhatikan karena suasana saat itu sangat gelap, jadi hanya orang dalam jarak tertentu saja yang dapat melihat silhouette tubuh Su Ling yang bagaikan gitar spanyol.

Dia membuang pakaiannya ke meja dekat sofa dan langsung memelukku dan menciumi bibir serta mataku. Gosokan tubuhnya dan tubuhku membuat penisku bangun kembali dan aku kembali terangsang. Su Ling nampaknya tahu bahwa aku sudah terangsang karena ia dapat merasakan tegaknya penisku yang tepat berada di sekitar kemaluannya. Dengan tanpa menggunakan kondom, Su Ling langsung mulai memasukkan penisku kedalam liang kenikmatannya.

Di saat penisku memasuki liang surgawinya, aku merasakan sensasi yang amat sangat dahsyat. Su Ling mulai memutar-mutarkan tubuhnya seakan-akan membentuk lingkaran dan dengan irama yang cepat dia menaik-turunkan badannya sehingga penisku seperti diurut-urut dan aku merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.

Sambil naik turun dengan irama yang cepat, dia mendesis seperti ular sambil mengusap-usap dadanya yang lumayan besar. Dia mengusap-usap sambil sesekali memilin putingnya sehingga saya merasakan sensasi yang nikmat sekali. Saya tahu bahwa Su Ling memang benar-benar terangsang dan bukannya dibuat-buat, karena terbukti dari vaginanya yang sudah sangat basah dan mengakibatkan semakin lancarnya gosokan penisku di dalam liang vaginanya.

Dia benar benar menghayati permainan ini dan saya pun semakin berani memegang tubuhnya dan mempercepat gerakan permainan kami sambil sesekali memegang payudaranya yang seksi dan proporsional itu. Su Ling terus menggenjot tubuh saya sampai suatu ketika Su Ling mendesah panjang “Hmm…, arrghhh….”, tubuhnya semakin bergetar hebat sambil memeluk tubuh saya.

Nampaknya dia sudah sampai pada saat klimaksnya karena saya dapat merasakan cairan kewanitaannya telah membanjiri penis saya. Tetapi hal itu tidak membuat dia menghentikan permainannya karena dia masih terus menggenjot tubuhku sehingga saya benar benar tidak tahan lagi dan ingin menyemprot vaginanya dengan sperma saya kembali.

Sambil memegangnya kuat-kuat, saya mempercepat gerakan tubuh saya hingga akhirnya saya menyemprotkan sperma saya di dalam liang kenikmatannya sembari saya memeluk dan mengusap-usap rambut panjangnya sambil sesekali mencium bibirnya yang tipis.

Setelah kami bercinta selama 2 jam, kami akhirnya merapikan diri masing-masing dan saya mengenakan baju kembali, dan sebelum saya mencari Alex, saya memberikan 3 lembar uang ratusan kepada Su Ling dan dibalasnya dengan ciuman bibir olehnya kepada saya.

Kami berpelukan untuk beberapa menit dan Su Ling menemani saya mencari Alex. Akhirnya kami menemukan Alex yang telah selesai pula bercinta dengan Rose, dan setelah Alex memberikan uang kepada Rose, kami turun dari lantai ruangan atas dan bersama melanjutkan acara kami dengan berdansa mengikuti alunan irama disko.