WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex Terbaru Perampokan Berujung Kenikmatan

Sebuah perampokan di bank membawa pengalaman baru bagi istri seorang pengusaha. Suaminya menganggap itu kejadian musibah biasa, tapi sang istri menyimpan itu sebagai suatu rahasia. Diikat menjadi satu dengan Satpam bank akhirnya membawa sensasi luar biasa.

Perampokan bersenjata di bank siang itu membawa pengalaman traumatik bagi Farhan Hendrawan (35), seorang pengusaha mutiara. Siang itu ia bersama istrinya Sophie (30) berada dalam bank tersebut untuk sebuah transaksi keuangan perusahaan mereka.

Suasana bank cukup ramai, bersama para nasabah lainnya Farhandan Sophie mengantri menunggu layanan kasir. Tiga kasir bank sibuk melayani nasabah, satu persatu.

Lima orang lelaki perbusana serba hitam ditutup jaket kulit hitam tiba-tiba masuk ke ruang tunggu dan langsung mengeluarkan senjata api jenis pistol dan sebuah laras panjang.

Jangan ada yang bergerak.. semuanya diam, jangan membuat tindakan ceroboh atau kepala kalian akan pecah, teriak seorang lelaki yang memimpin.

Ini perampokan, pikir Farhan. Suasana sempat kacau penuh teriakan dan para nasabah berhamburan, Farhan mengikuti beberapa nasabah yang lari ke lantai dua.

Kawanan rampok itu kemudian menyebar, dua orang masuk ke sisi kasir, sedangkan tiga lainnya sibuk mengacungkan senjata ke nasabah. Seorang lainnya mengejar nasabah yang lari ke lantai dua.

Farhan dan enam nasabah dilantai dua tak berkutik ditodong senjata, mulit mereka ditempel lakban, sementara para nasabah di lantai dasar juga sudah sepi tak berani bersuara.

Kawanan rampok mengikat para nasabah. Ada yang tiga menjadi satu, ada yang dua menjadi satu, dan semua mulut mereka ditempel lakban.

Dari balkon dalam lantai dua, bisa melihat semua di lantai satu, tapi ia mendadak khawatir karena tidak melihat Sophie istrinya.

Seorang perampok menjaga di pintu, satpam yang berjaga di meja dalam juga tidak terlihat, hanya pakaiannya tergeletak di lantai, mungkin ia ditelanjangi rampok.

Dua kawanan rampok naik ke lantai dua untuk memeriksa letak brangkas diantar seorang wanita kasir yang ditodong pistol.

Farhan mencoba bergeser ke ujung balkon, ia mencari Sophie. Farhan lega, ternyata Sophie berada di sebuah lorong sempit menuju toilet. Farhan meihatnya terikat menjadi satu dengan seorang lelaki tegap, ia pasti satpam bank, karena hanya mengenakan celana kolor dan kaos dalam.

Tubuh Sophie dan satpam itu terikat menyatu berhadapan dilakban melingkar dibagian pinggang dan dada. Tangan mereka juga diikat lakban ke belakang. Keduanya berbaring dilorong menyamping berhadapan, mulut masing-masing juga tertutup lakban.

Dalam suasana tegang itu, Farhan melihat satpam dan Sophie terus berusaha melepas ikatan mereka dengan cara bergerak terus bersamaan untuk melonggarkan lilitan lakban.

Perampokan berjalan hampir satu jam, sampai akhirnya kawanan rampok berhasil kabur membawa jarahannya. Farhan bersyukur, Sophie dan satpam bank akhirnya terlepas dari ikatan. Si satpam kemudian membantu nasabah lainnya sementara Sophie membuak ikatan Aris.

Untung kita nggak diapa-apakan ya ma.., kata Farhan merangkul istrinya. Mereka kemudian pulang.

Bagi Sophie, perampokan di bank itu menimbulkan trauma sesaat tetapi berakhir dengan sensasi seks yang selama ini tak pernah ia bayangkan.

Terikat di lorong sempit dengan tubuh berdempetan berhadapan dengan lelaki lain membuat Sophie risih bukan kepalang, apalagi si lelaki hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor. Tapi perasaan itu terkubur lantaran takut yang dirasakannya melihat kawanan rampok bersenjata itu.

Sekitar tiga menit berbaring berhadapan seperti itu, Sophie melihat lelaki di depannya berhasil membuka lakban di mulutnya setelah beruang keras mendorong lakban itu dengan lidahnya.

Tenang bu.. saya Partodi satpam di bank ini. Maaf pakaian saya tadi dilucuti rampok. Sepertinya sekarang mereka sedang membongkar brangkas dan tak mungkin kembali ke mari, ayo kita berusaha lepaskan ikatan ini bersama ya.., kata satpam Partodi. Sophie mengangguk saja dan berharap upaya mereka berhasil.

Partodi kemudian melepaskan lakban di mulut Sophie dengan cara menggigit sisi lakban dan menariknya. Sophie sempat terpekik merasakan perih bibirnya tertarik rekatan lakban, tapi kemudian berusaha tenang.

Terus bagaimana caranya,” tanya Sophie menanyakan cara mereka melepaskan ikatan lakban di tubuh. Sepertinya sulit karena masing-masing tangan mereka terikat ke belakang dililit lakban, sementara lakban lainnya melilit rapat menyatukan bagian pinggang, perut mereka berdempetan.

Partodi lalu menjelaskan pada Sophie bahwa sifat karet pada lakban dapat digunakan sebagai kesempatan mereka lolos dari ikatan. Caranya dengan terus bergerak agar lakban menjadi molor dan longar elastis.

Kita masih punya kaki yang bebas bu. Saya akan membalik badan dan ibu harus berusaha berposisi di atas saya. Setelah itu kaki ibu bisa menjejak lantai mendorong ke arah atas tubuh saya mungkin akan berhasil, kata Partodi. Ia segera mengubah posisi mereka dari yang sebelumnya berbaring miring berhadapan, menjadi saling tindih, Sophie berada di atas. Ini dilakukan Partodi agar Sophie tidak merasa berat jika Partodi yang berada di atas, sebab bobot Partodi yang tinggi besar tentu akan menyesah Sophie bila tertindih.

Posisi Sophie sudah di atas tubuh Partodi. Ia menuruti perintah Partodi dan mulai menggerakan badannya ke arah atas tubuh Partodi dengan menjejakkan kaki di lantai. Tapi rok span yang dikenakannya menghalangi usaha Sophie menjejakkan kaki secara maksimal mekantai, sebab ia harus lebih mengangkangkan kakinya agar bisa melewati kaki Partodi di bawah kakinya.

Sophie terus berupaya dan akhirnya ia bisa mengangkangkan kaki lebih lebar, akibat gesekan tubuh mereka, rok Sophie naik sampai bongkahan pantatnya terlihat. Tapi tak apa, pikir Sophie, demi usahanya menjejak kaki ke lantai. Lagi pula Partodi tak mungkin melihat pantatnya karena ia berada di bawah Sophie.

Terus goyang bu.. sudah mulai longgar ikatannya, Partodi berbisik pada Sophie. Entah mengapa kata-kata goyang yang dibisikan Partodi membuat Sophie risih. Ia baru sadar gerakannya berusaha melepas ikatan terkesan menjadi gerakan yang erotis.

Ia juga baru sadar kalau sejak tadi payudara 36Dnya terus menggerus dada Partodi, dan gerakan demi gerakan yang menimbulkan gesekan di tubuh keduanya mulai mempengaruhi libido Sophie.

Astaga.., bang Partodi. Apa ini..? kok terasa keras.. Tolong bang, abang nggak boleh terangsang.. ini dalam perampokan.., Sophie berbisik balik ke Partodi saat merasakan sesuatu benda mengeras hangat terasa di bawah pusar Sophie. Penis Partodi rupanya ereksi setelah beberapa lama merasakan gesekan tubuh Sophie.

Oh.. ehh.. maaf bu.. saya sudah berusaha untuk mengabaikan rasanya tapi gesekan-gesekan itu mengalahkan pikiran saya bu. Maaf bu.. tapi saya pikir ini alami bagi lelaki, yang terpenting sekarang kita harus terus berusaha melepas ikatan ini bu.. sebelum perampok itu kembali ke mari, Partodi agak gugup dan malu menyadari Sophie mengetahui penisnya mulai bangun.

Ya sudah.. nggak apa-apa, asal bang Partodi jangan macam-macam ya.., kata Sophie. Ia sadar tak bisa menyalahkan Partodi. Dan lagi benar apa Partodi bahwa itu sangat alami dan Sophie juga merasakan hal yang sama, ada kenikmatan menjalari tubuhnya setiap kali gerakan bergesek ia lakukan.

Pikirnya, perampokan bank yang menyebabkan mereka berdua berada dalam posisi terikat seperti itu, dan mereka harus bersama kompak melepaskan ikatan tersebut.

Sophie kembali memusatkan pikirannya pada upaya melepaskan lakban. Ia kembali menggerakan tubuhnya menggesek tubuh Partodi dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas, agar ikatan lakban melonggar. Upayanya cukup berhasil, kini jarak gesekan sudah bisa lebih jauh menandakan lakban mulai longgar elastis.

Bagian perut Sophie sudah bisa menjangkau perut Partodi bagian atas, Sophie berusaha terus menjejak lantai agar tubuhnya terdorong naik lebih jauh.

Ehmm bu.. coba lagi ke bawah.. terus dorong lagi ke atas.. sudah mulai longgar lakbannya..,” suara Partodi semakin parau. Tubuh Sophie yang terdorong ke atas membuat penis Partodi kehilangan sentuhan, sebab selangkangan Sophie kini sudah diatas melewati ujung penisnya.

Sophie setuju dengan Partodi, mungkin gerakan harus kembali ke bawah lalu kembali lagi ke atas sehingga ikatan lakban makin molor elastis.

Tapi gerakan ke bawah yang dilakukan Sophie justru membuat keadaan mereka berdua berubah. Pikiran masing-masing milau terpecah antara kenikmatan yang mulai dirasakan atau upaya melepas lakban.

Enghhh..,” Sophie melenguh kecil. Ia merasakan ujung penis Partodi menyentuh CD yang dipakainya. Panis Partodi yang sudah sangat tegang terdoring keluar dari balik celana kolornya, lantaran gesekan membuat kolornya melorot. Kini, setiap gerakan Krsitin membuat koneksi ujung penis Partodi kian terasa mendorong-dorong CD Sophie. Rasa nikmat kekenyalan itu terasa semakin sering di bibir vagina Sophie yang terhalang CD.

Sophie terus berupaya memecah pikirannya agar tetap konssntrasi beregerak demi melepas ikatan lakban, tapi semakin bergerak dan semakin gesekan terjadi membuah gairah seksualnya terdongkrak naik. Lama-lama ia merasakan Cdnya membasah oleh cairan vaginannya sendiri. Apalagi, dari bawah Partodi juga terus bergerak berusaha melepaskan ikatan lakban ditanganya yang tertindih ke belakang. Hal ini membuat erotisme tersendiri dirasakan Sophie.

Enghh.. ahhss.., Sophie mendesah dan menghentikan gerakannya. Ia menyadari kini posisi sudah sangat gawat. Gerakan-gerakannya justru mengantar ujung penis Partodi mengakses bibir vaginanya lewat sisi kiri CD-nya. Sophie merasakan kepala penis Partodi sudah berada tepat di tengah bibir vaginanya yang basah dan sudah tidak terhalang CD yang kini melenceng ke samping.

Hmm.. bu, kenapa berhenti.. sudah hampir lepas ikatannya nih.., Partodi terus bergerak berusaha melepas ikatan tangannya. Tapi ia juga merasakan penisnya sudah menyentuh kulit vagina Sophie secara langsung, karena sisi CD Sophie yang membasah tergeser ke samping.

Sophie berusaha mengembalikan konsentrasinya, dan berusaha menjejak kaki ke lantai agar tubuhnya naik dan vaginanya menjauh dari penis Partodi. Namun upayanya gagal, kini ikatan lakban justru mengancing posisi itu, Sophie tak mungkin naik, hanya bisa turun ke bawah beberapa kali lalu naik lagi setelah ikatan melonggar kembali.

Sophie mulai putus asa. Ia harus bisa lebih cepat melepaskan ikatan lakban itu sebelum penis Partodi mengakses lebih jauh vaginanya. Pikiran sadarnya masih berjalan dan menyadari sesaat lagi ia akan disetubuhi Partodi, dalam keadaan terpaksa begitu.

Konsentrasi Sophie gagal. Gerakan Partodi dari bawah membuat kepala penisnya mulai masuk membelah bibir vagina Sophie.

Ough.., Partodi tak kuasa menahan desah kenikmatan merasakan kepala penisnya menguak bibir vagina Sophie. Ia terus bergerak berusaha melepas ikatan ditangannya yang tertindih tubuh, tapi setiap gerakannya membuat kepala penisnya mulai bermain keluar masuk di bibir vagina Sophie.

Hal itu memberi sensasi kenikmatan pada Sophie, ia masih berusaha diam diatas tubuh Partodi sampai ada kesempatan menjejak kaki agar vaginanya menjauh dari penis Partodi. Sophie akhirnya berspekulasi. Sekali gerakan ke bawah, lalu sekuat tenaga menjejak kaki ke lantai tentu akan membantunya menjauhkan vaginanya dari penis Partodi.

Enghhsshh.. ahh.., bang jangan gerak duluhh.. ini nggak boleh terjadi bang, saya wanita bersuami dan abang pasti sudah beristri kan?.” kata Sophie, wajahnya bersemu merah. Tubuh dan wajah Sophie serta kulitnya yang putih mirip dengan artis Mona Ratuliu.

Iya bu.. saya juga pikir begitu. Tapi bagaimana lagi, posisi kita sulit berubah selama ikatan ini.., jawab Partodi, ia juga menjadi serba salah dengan posisi itu.

Oke bang.. sekarang gini aja.. saya akan bergerak turun, dan mungkin itu akan terjadi.. anu abang bisa masuk ke anu saya.. tapi itu hanya sekali ya, dan saya akan mendorong ke atas membuatnya lepas lagi. Setelah itu kita konsentrasi lagi untuk melepas lakban sialan ini..,” kata Sophie dengan nafas berat.

Iya.. iya. Terserah ibu. Tapi tolong saya jangan dilaporkan ke atasan saya apalagi polisi bu. Kalau kontol saya masuk ke pepek ibu.. nanti saya dibilang memperkosa,” Partodi polos ketakutan.

Hnnggaak bang.. ini kan karena perampokan sialan itu, jadi bukan salah saya atau abang.. kita sama-sama berusaha keluar dari masalah ini kok.. sekarang abang diam ya.. saya akan berusaha. Ehmm… enghhmmmpp… ahssstt banngghh… ahhhkksss,” Sophie mengerakan tubuhnya bergeser ke bawah. Gerakan itu membuat bibir vaginanya yang sudah menjepit ujung penis Partodi menelan setengah penis itu.

Partodi agak hitam kulitnya, tapi wajahnya manis seperti artis Anjasmara, dan badannya kekar. Penis Partodi dirasakan Sophie lebih besar dan padat dari penis Farhansuaminya. Sophie merasakan sensasi nikmat saat kepala penis Partodi terbenam di vaginanya.

Ayo bu.. dorong lagi ke atas biar lepas, Partodi khawatir karena kini penisnya sudah mulai menyetubuhi Sophie.

Iya bang.. hmmmpphh aahhss… banghhsss.. emmpphh.. ahssss,” Sophie berusaha menjejak kaki ke lantai agar tuuhnya terdorong ke atas dan penis itu lepas dari vaginanya, tapi keadaan tak berubah, ikatan lakban mengancing bagian pinggang mereka membuat Sophie tak mungkin menaikkan tubuhnya.

Akhhss.. bangghh.. gimana inihh.. ahsss..,” Sophie kembali diam tak bergerak, separuh penis Partodi yang dirasanya mebuat nafasnya semakin berat.

Oke.. sekarang ibu diam saya biar tidak semakin masuk kontol saya. Saya akan berusaha melepas ikatan tangan saya bu.. engghhh,” Partodi mengangkat pinggulnya dan pantatnya menjauh dari lantai agar tangannya bisa bergerak bebas, lalu berusaha melepas dua tangannya dari ikatan lakban. Peluh sudah membasahi tubuh keduanya.

Partodi melakukan itu beberapa kali. Pinggul dan pantatnya yang terangkat menjauh dari lantai membuat akses penisnya masuk lebih dalam ke vagina Sophie. Sophie sudah pecah konsentrasi, kini pikirannya hanya merasakan kenikmatan separuh penis Partodi yang keluar masuk perlahan ke vaginanya mengikuti gerakan pinggul Partodi.

Akhhss bangghhss ouhh.. akhhh.. ahkkk… enghhhmm,” Sophie semakin mendesah, kini pinggul Sophie melayani gerakan Partodi, ia malah berusaha agar penis Partodi terasa lebih dalam di vaginanya.

Tangan Partodi sudah terlepas dari ikatan dan kini bebas. Tapi libido yang sudah tinggi membuat Partodi bukannya melepaskan ikatan lakban di pinggang mereka, ia justru membuak kancing-kancing baju Sophie dan meremasi payudara Sophie.

Emmphhh… banghhsss emmphhhhsss, Sophie semakin hilang kendali diperlakukan seperti itu, kini bibirnya menyambut bibir Partodi, mereka berkecupan sangat dalam dan cukup lama.

Partodi meloloskan susu Sophie dari Bra-nya dan mulai menghisapi payudara Sophie, lalu kedua tangannya mengarah ke bawah dan mengamit sisi CD Sophie agar penisnya mengakses jauh vagina Sophie. Saat itu penisnya sudah bisa masuk utuh ke vagina Sophie, tangannya menekan dan meremasi pantan Sophie membuat Sophie semakin mendesis.

Ouhgg.. ahhgg.. bu.., tangan saya sudah lepas.. kita bebasin dulu ikatannya atau bagaimana? ouhgg,” Partodi bertanya sambil menahan kenikmatan digenjot Sophie. Ya pinggul Sophie sudah cukup lama menggenjot Partodi membuat penis Partodi bebas keluar masuk ke vagina Sophie.

Akhh banghh… sshh.. terserah abanghhh sekaranghhh.. ouhss..,” Sophie sudah sangat melayang merasakan kenikmatan penis Partodi, apalagi rangsangan Partodi secara liar di payudaranya membuatnya semakin hilang kendali.

Baik buhh.. akhh.. kalau begituhh kita tuntaskan duluh.. ouhsss.., Partodi kemudian melepaskan ikatan tangan Sophie tapi membiarkan ikatan di pinnggang mereka tetap seperti semula.

Iyaahh banghh.. terusinnn duluhh… akhhsss.. ouhh…,” tangan Sophie yang sudah bebas langsung merangkul leher Partodi dan keduanya kembali saling berpagutan, sementara gerakan pinggul Sophie semakin liar.

Masih disatukan dengan ikatan di pinggang, Partodi membalik tubuh Sophie sehingga kini Sophie ditindihnya. Ia lalu menggenjot pantatnya membuat penisnya membobol vagina Sophie secara utuh. Cairan vagina Sophie menimbulkan bunyi kecilpakan setiap kali berbenturan dengan pangkal penis Partodi.

Sophie merasakan gerakan Partodi makin keras dan makin cepat mengakses vaginanya, kenimatan mulai memuncak di klitorisnya seolah mengumpul panas hingga bongkahan pantatnya. Ia mengimbangi gerakan Partodi dengan menggoyang pinggulnya.

Oughh.. banghhhss… akhhsss.. sayaahhh banhgg… akhhhsss say..ah.. sampaaiiihhh bangghhsss… ouhhhggg…,” Sophie merasakan klimaksnya memuncak, pertahanannya bobol dihantam penis Partodi yang terus menerus menghujam. Tubuhnya menegang merasakan kontraksi otot vaginanya berkedutan intens mengantar kenimatan puncak.

Aghh… ahhh… yehh… buhhh… akhhsss uhhh…mmmpphhh..,” Partodi membenamkan seluruh penisnya ke vagina Sophie dan melepas spermanya menyembur dinding rahim Sophie sambil bibirnya langsung melumat bibir Sophie. Tubuh keduanya seakan menegang bersamaan mencapi klimaks seksual.

Beberapa saat setelah itu, Partodi lalu melapas iakatan lakban yang menyatukan pingang mereka. Mereka berdua lalu merapihkan busana masing-masing. Perampokan baru saja usai, dan kawanan perampok sudah meninggalkan bank dengan barang jarahannya.

Emm.. bu.. maafkan atas yang bausn terjadi bu. Saya hilaf… engg..,”

Sudah.. sudah bang. Lupakan saja ya.. saya juga hilaf..,” Sophie memotong pembicaraan Partodi. Keduanya lalu berkenalan lebih jauh dan berjanji untuk sama-sama menyimpan kejadian itu hanya di antara mereka berdua.

Keduanya lalu berpisah, Partodi menolong membebaskan nasabah bank di ruang tunggu, sementara Sophie mencari Farhansuaminya yang terikat di lantai dua. Sophie menjaga rahasia bahwa apa yang dilihat Farhandari lantai dua tak seperti yang sesungguhnya terjadi dan dinikmati olehnya.(Tamat)


 

Cerita Sex - Ngentot Dengan ABG Polos & Lugu

Saya ingat Dhea waktu ia masih tetap kecil. Ia anak temanku yang sangat kecil, Dhea betul-betul membuat hatiku tidak karuan, dengan rambut sebahu, hitam legam ikal. Umurnya seputar 15 atau 16 tahun saat ini, serta mukanya yang baby face membuat seperti tidak berdosa. Saat lihat Dhea untuk yang kesekian kalinya, saya bersumpah jika saya mesti sukses tidur dengannya sebelum saya pergi dari kota ini. Serta saya telah menjalankan rencanaku.

Saya main ke rumah Dhea bekali-kali, selama siang serta malam sampai saya telephone untuk tahu kapan Dhea ada sendirian serta kapan orang tuanya ada. Serta pada saat malam saya akan memutuskan untuk masuk ke rumah Dhea saya telah pastikan jika orangtua Dhea telah tidur serta Dhea berada di kamar tidurnya. Rencanaku akan kuperkosa Dhea sesaat orang tuanya tidur di kamar mereka.

Tubuhku kaku sebab tegang, waktu saya membuka jendela belakang tempat tinggalnya gunakan linggis. Nada jendela yang terdongkel terdengar seperti letusan membuatku mesti diam tidak berjalan saat 1/2 jam menanti adakah yang tinggal di rumah yang terjaga. Untung saja semua masih juga dalam kondisi sunyi senyap, serta saya akan memutuskan untuk masuk. Tubuhku saat ini gemetar. Tiap-tiap langkahku seperti membuat semua rumah berderit serta saya siap meloncat melarikan diri. Tetapi waktu saya sampai di muka kamar tidur Dhea rumah itu masih tetap gelap serta sunyi senyap.

Saya membuka pintu serta masuk sekalian menutupnya kembali. Saya seperti dapat dengar jantungku yang berdetak keras sekali. Saya tidak pernah setakut ini seumur hidupku. Tetapi sisi yang sangat sulit telah sukses saya lampaui. Kamar tidur orangtua Dhea berada di lantai basic. Saya berdiri di samping ranjang Dhea pilih langkah seterusnya. Perlahan-lahan penisku mulai menegang hingga kemudian besar serta tegang sampai nyeri. Mata Dhea terbuka menatapku tidak dapat bernafas. Saya berada di samping ranjangnya mencekik lehernya, sesaat tangan kiriku mengcungkan belati di muka mukanya.

“Diem. Janganlah berjalan, janganlah bersuara, atau lo mati.” saya dengar suara suaraku yang lainnya sekali dari biasa. kelihatannya bengis serta kejam.
Dhea masih tampak cantik. Umurnya lima belas tahun. Ia terbatuk-batuk.
“Kalau saya lepasin tanganku, lo berguling tengkurap serta janganlah berisik atau saya potong leher lo.” Saya pasti tidak dengan maksud akan membunuh ia, tetapi sekurang-kurangnya itu sukses membuat Dhea ketakutan. Dhea langsung menurut serta selekasnya kuikat tubuhnya, tutup mulutnya dengan plester, serta mengikat pergelangan tangannya di belakang.

Selimut yang menutupi badan Dhea saat ini telah berada di lantai, serta saya dapat lihat jelas gadis yang tengkurap di depanku. Badan Dhea langsing serta mungil, serta pakaian tidur yang dipakainya terangkat ke tas membuatku dapat lihat kakinya yang putih serta mulus. Ereksiku telah optimal serta saya tidak tahan sakitnya, celanaku menyembul didorong oleh penisku yang besar, serta bersentuhan dengan pantat Dhea yang mungil. Saya menindih Dhea serta bergoyang-goyang membuat penisku bergesekan dengan pantat Dhea serta dengan tanganku yang bebas kuraba sisi dada Dhea yang masih tetap ditutup oleh dasternya. Buah dada Dhea masih tetap kecil, yang membuatku semakin birahi. Mulutku bersentuhan dengan telinga Dhea.
“Lo betul-betul prima. Masih diam serta saya akan pergi sesaat selekasnya.”

Mata Dhea terpejam seolah-olah sudah tertidur kembali. Saya bebaskan celana trainingku serta celana dalamku sampai ke kakiku tetapi belum saya melepaskannya dari badanku, sekalian memandang sisi belakang badan Dhea yang indah. Kakinya yang telanjang membuat nafasku berat, serta dasternya tidak dapat menutupi pantatnya yang tertutupi celana dalam putih. Serta tangannya yang terikat erat betul-betul membuat Dhea prima buatku. Saya membuka kaki Dhea tanpa ada perlawanan yang bermakna, serta membenamkan wajahku, yang membuat Dhea keluarkan erangan untuk kali pertamanya.

Saya benamkan wajahku ke selangkangan Dhea, nikmati wangi badan Dhea, yang selalu mengeluh ketakutan. Seterusnya saya raba-raba vaginanya yang tertutup celana dalam dari belakang, meraba, serta pada akhirnya menusuk-nusuk dengan jariku. Ini membuat erangan Dhea semakin keras hingga saya mesti mengancamnya dengan belatiku. Lalu kulihat ia gemetar serta keliatannya mulai menangis. Celana dalamnya lembab, serta saya jadi berfikir mungkin Dhea mulai terangsang oleh jariku.
“Lo senang Dhea? Hei, lao senang tidak?” Dhea cuma menangis. Saya selalu meraba vaginanya, sampai saya tidak tahan , serta langsung kutarik celana dalam Dhea sampai terlepas.

Saya semakin mencium berbau badan Dhea. Serta saya mulai hilang ingatan. Saya kembali lagi badannya, sebab saya tahu saya lebih gampang ngerjain Dhea melalui depan. Dhea berbaring tidak nyaman, berbaring telentang dengan tangan terikat ke belakang, serta telanjang mulai pinggang ke bawah, rambut kemaluannya yang masih tetap tipis tampak jelas. Dia memandang mataku, air mata membuat pipi Dhea berkilat tertimpa sinar lampu kamarnya. Saya tidak demikian senang lihat tatap mata Dhea, saya jadi berfikir untuk membuat ia tengkurap demikian penisku telah masuk ke vaginanya.

Saya tempatkan tubuhku, saya mesti menyuruhnya seringkali untuk buka kakinya lebih lebar, seperti dokter gigi, “Ayo lebih lebar sayang, lho kok begitu, lebih lebar , bagus anak manis..”, Saya ingin tahu ia masih tetap perawan ataukah tidak. Dhea tidak meronta-ronta, soalnya saya masih tetap pegang belatiku, tetapi selalu menangis sesenggukan, serta mengerang-erang, berupaya berkata suatu.
“Lo masih tetap perawan tidak Dhea? Masih tetap? Masih tetap apa tidak.”

Dhea selalu menangis. Saya angkat dasternya ke atas . Di muka Dhea cukup rata, buah dadanya cuma sekepal dengan puting susu yang mengeras. Saya fikir itu sebab hawa dingin, tetapi mungkin saja sisi dari badan Dhea yang memang terangsang.
“Bukan begitu sayang, lo harus membuka lebih lebar ..”

Saya tekan penisku di belahan vaginanya yang masih tetap mungil. Berasa basah. betul-betul super sempit. Kutarik penisku serta kumasukkan jariku, serta rasakan jepitan vagina Dhea yang hangat yang membuat penisku ingin merasakan juga. Saya gerakkan penisku maju mundur seringkali serta mengarahkan penisku , tegang seperti tongkat kayu.
“Buka manis. Lo betul-betul cantik. Saya hanya ingin perkosa kamu selalu pergi.”

Saya mesti menggerakkan, bergoyang, berputar-putar, serta pada akhirnya mengusung ke-2 kaki Dhea ke atas sebelum saya sukses menggerakkan kepala penisku masuk ke vagina Dhea. Saya lihat buah dada Dhea dengan putingnya yang muncul ke atas, mata yang meminta serta meratap dengan air mata serta saya dorong penisku masuk ke vagina mungil punya gadis berusia lima belas tahun itu dengan semua tenagaku.

Dhea menjerit, diredam oleh plester, membuatku semakin semangat. Vaginanya sempit sekali seperti memegang penisku. Ia nyatanya tidak basah benar-benar. Saya perkosa ia dengan kasar, seolah-olah saya ingin membuat mati dengan penisku, berupaya membuat Dhea menjerit dan saya menghentak masuk. Dhea makin histeris saat ini.

Keadaanku telah 100 % dikuasai birahi, serta saat ini saya memusatkan perhatian untuk menyakiti Dhea, serta saya tidak miliki perasaan kasihan buat Dhea. Saya selalu menghentak-hentak diatas badan Dhea, dengan kecepatan yang brutal, serta tubuhnya yang mungil terbanting-banting sebab gerakanku. Saya terasa saya seperti menyobek vagina Dhea dengan penisku, serta membuatku semakin terangsang, mendorongku berjalan semakin brutal.

Di antara gerakanku, saya jatuhkan belatiku serta kulepaskan celanaku yang membuat tanganku bebas memakai badan Dhea. Saya kesetanan rasakan badan Dhea, saya meremas tiap-tiap anggota badan Dhea, meremas buah dadanya, menjepit puting susunya, serta memakai bahunya yang kecil buat menyokong tubuhku.

Saya hampir tidak ingat apa saja yang saya lakukan sama Dhea. Dhea seringkali meronta sebelumnya, berupaya membebaskan tangannya, berupaya berguling, berupaya keluarkan penisku dari vaginanya. Muka Dhea pancarkan perasaan cemas serta takut, serta saya selalu memperkosanya sekuat tenagaku, seolah-olah itu permasalahan hidup serta matiku. Seaat sebelum saya alami orgasme saya menarik penisku keluar serta Dhea langsung berupaya untuk berguling. Saya jambak rambutnya serta menariknya.
“Brengsek, tidur ke lantai.”

Saya tarik kepalanya sampai melekat ke lantai. Sesaat ia jatuh berlutut, tetapi Dhea benar-benar tidak dapat mengusung mukanya dengan tangan masih tetap terikat ke belakang. Kepala Dhea tenggelam ke lantai. Dhea masih tetap menangis serta gemetar. Saya masukan penisku ke vagina Dhea tanpa ada kesukaran, sebab penisku telah semuanya diberi darah perawan Dhea. Saya masukan dari belakang sebelum Dhea sudah sempat meronta, saya pegangin pinggulnya sesaat saya selalu menggerakkan sekuat tenaga.

Dengan pantat masih tetap nungging ke atas saya tekan punggung Dhea dengan tanganku hingga kepala serta dada Dhea semakin tertekan ke lantai, serta saya selalu memperkosa ia dengan style seperti anjing. Serta Dhea sendiri saat ini mendengking-dengking seperti anak anjing yang ketakutan. Saat ini kutarik rambutnya, membuat kepala Dhea terangkat.

Dhea betul-betul cantik serta tidak berkapasitas, tangannya terikat di punggung. Saya selalu menyetubuhinya dengan keras serta tidak memiliki irama, terkadang brutal berhenti sedetik serta mulai dengan keras, serta bergatin mendesak punggungnya ke lantai lantas menarik rambutnya sampai dia mendongak , sampai saya rasakan pertanda ejkulasi . Saya ingin sekali melepas plesternya serta memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, tetapi untung saja saya masih tetap sadar jika itu dapat membuat saya ketahuan, jadi saya masih metahan penisku di liang kesenangan Dhea sedalam-dalamnya serta melepas ejakulasiku. Saya pegangin belahan pantat Dhea dekat dengan selangkanganku waktu saya menyemburkan spermaku ke rahim Dhea yang menerimanya dengan tatapan mata cemas.
“Oh Dhea, sayangku, oh, oh..”

Penisku kerja keras memompa, berdenyut, menyemburkan sperma ke badan Dhea, serta saya tidak pernah keluarkan sperma sekitar ini saat hidupku. Dhea masih diam tidak berjalan, terengah-engah. Nafasku pun terputus-putus, serta bergidik dikit saat saya mengejang serta menyemprotkan bekas spermaku ke rahim Dhea. Saya menghentak ia seringkali , saat ini dengan penuh perasaan seperti sepasang kekasih. Dhea sadar jika saya telah usai, serta terima gerakanku yang paling akhir ini masih tetap tidak berjalan, dengan kepala tenggelam ke karpet kamarnya yang tebal.

Saya tarik penisku keluar. Serta saya langsung terasa kuatir . Saya langsung kenakan pakaianku, serta dengan ajaib masih tetap ingat untuk ambil belatiku serta pikirkan suatu untukku katakan pada Dhea.
“.. Terima kasih sayang”, saya berbisik lirih, serta langsung melarikan diri.

Serta meskipun saya sudah sempat kuatir saat saya telah dalam perjalanan ke luar kota, sesaat lalu saya kembali dipenuhi keinginan baru. Saya berfikir untuk kembali serta menculik Dhea dan ajak sebagian orang temanku untuk mencicipinya.