WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

WELCOME TO REMAJA MASA KINI 18+

Tempat asik berbagi info seputar xx.

Blogroll

Cerita Sex - Ngentot Dengan ABG Polos & Lugu

Saya ingat Dhea waktu ia masih tetap kecil. Ia anak temanku yang sangat kecil, Dhea betul-betul membuat hatiku tidak karuan, dengan rambut sebahu, hitam legam ikal. Umurnya seputar 15 atau 16 tahun saat ini, serta mukanya yang baby face membuat seperti tidak berdosa. Saat lihat Dhea untuk yang kesekian kalinya, saya bersumpah jika saya mesti sukses tidur dengannya sebelum saya pergi dari kota ini. Serta saya telah menjalankan rencanaku.

Saya main ke rumah Dhea bekali-kali, selama siang serta malam sampai saya telephone untuk tahu kapan Dhea ada sendirian serta kapan orang tuanya ada. Serta pada saat malam saya akan memutuskan untuk masuk ke rumah Dhea saya telah pastikan jika orangtua Dhea telah tidur serta Dhea berada di kamar tidurnya. Rencanaku akan kuperkosa Dhea sesaat orang tuanya tidur di kamar mereka.

Tubuhku kaku sebab tegang, waktu saya membuka jendela belakang tempat tinggalnya gunakan linggis. Nada jendela yang terdongkel terdengar seperti letusan membuatku mesti diam tidak berjalan saat 1/2 jam menanti adakah yang tinggal di rumah yang terjaga. Untung saja semua masih juga dalam kondisi sunyi senyap, serta saya akan memutuskan untuk masuk. Tubuhku saat ini gemetar. Tiap-tiap langkahku seperti membuat semua rumah berderit serta saya siap meloncat melarikan diri. Tetapi waktu saya sampai di muka kamar tidur Dhea rumah itu masih tetap gelap serta sunyi senyap.

Saya membuka pintu serta masuk sekalian menutupnya kembali. Saya seperti dapat dengar jantungku yang berdetak keras sekali. Saya tidak pernah setakut ini seumur hidupku. Tetapi sisi yang sangat sulit telah sukses saya lampaui. Kamar tidur orangtua Dhea berada di lantai basic. Saya berdiri di samping ranjang Dhea pilih langkah seterusnya. Perlahan-lahan penisku mulai menegang hingga kemudian besar serta tegang sampai nyeri. Mata Dhea terbuka menatapku tidak dapat bernafas. Saya berada di samping ranjangnya mencekik lehernya, sesaat tangan kiriku mengcungkan belati di muka mukanya.

“Diem. Janganlah berjalan, janganlah bersuara, atau lo mati.” saya dengar suara suaraku yang lainnya sekali dari biasa. kelihatannya bengis serta kejam.
Dhea masih tampak cantik. Umurnya lima belas tahun. Ia terbatuk-batuk.
“Kalau saya lepasin tanganku, lo berguling tengkurap serta janganlah berisik atau saya potong leher lo.” Saya pasti tidak dengan maksud akan membunuh ia, tetapi sekurang-kurangnya itu sukses membuat Dhea ketakutan. Dhea langsung menurut serta selekasnya kuikat tubuhnya, tutup mulutnya dengan plester, serta mengikat pergelangan tangannya di belakang.

Selimut yang menutupi badan Dhea saat ini telah berada di lantai, serta saya dapat lihat jelas gadis yang tengkurap di depanku. Badan Dhea langsing serta mungil, serta pakaian tidur yang dipakainya terangkat ke tas membuatku dapat lihat kakinya yang putih serta mulus. Ereksiku telah optimal serta saya tidak tahan sakitnya, celanaku menyembul didorong oleh penisku yang besar, serta bersentuhan dengan pantat Dhea yang mungil. Saya menindih Dhea serta bergoyang-goyang membuat penisku bergesekan dengan pantat Dhea serta dengan tanganku yang bebas kuraba sisi dada Dhea yang masih tetap ditutup oleh dasternya. Buah dada Dhea masih tetap kecil, yang membuatku semakin birahi. Mulutku bersentuhan dengan telinga Dhea.
“Lo betul-betul prima. Masih diam serta saya akan pergi sesaat selekasnya.”

Mata Dhea terpejam seolah-olah sudah tertidur kembali. Saya bebaskan celana trainingku serta celana dalamku sampai ke kakiku tetapi belum saya melepaskannya dari badanku, sekalian memandang sisi belakang badan Dhea yang indah. Kakinya yang telanjang membuat nafasku berat, serta dasternya tidak dapat menutupi pantatnya yang tertutupi celana dalam putih. Serta tangannya yang terikat erat betul-betul membuat Dhea prima buatku. Saya membuka kaki Dhea tanpa ada perlawanan yang bermakna, serta membenamkan wajahku, yang membuat Dhea keluarkan erangan untuk kali pertamanya.

Saya benamkan wajahku ke selangkangan Dhea, nikmati wangi badan Dhea, yang selalu mengeluh ketakutan. Seterusnya saya raba-raba vaginanya yang tertutup celana dalam dari belakang, meraba, serta pada akhirnya menusuk-nusuk dengan jariku. Ini membuat erangan Dhea semakin keras hingga saya mesti mengancamnya dengan belatiku. Lalu kulihat ia gemetar serta keliatannya mulai menangis. Celana dalamnya lembab, serta saya jadi berfikir mungkin Dhea mulai terangsang oleh jariku.
“Lo senang Dhea? Hei, lao senang tidak?” Dhea cuma menangis. Saya selalu meraba vaginanya, sampai saya tidak tahan , serta langsung kutarik celana dalam Dhea sampai terlepas.

Saya semakin mencium berbau badan Dhea. Serta saya mulai hilang ingatan. Saya kembali lagi badannya, sebab saya tahu saya lebih gampang ngerjain Dhea melalui depan. Dhea berbaring tidak nyaman, berbaring telentang dengan tangan terikat ke belakang, serta telanjang mulai pinggang ke bawah, rambut kemaluannya yang masih tetap tipis tampak jelas. Dia memandang mataku, air mata membuat pipi Dhea berkilat tertimpa sinar lampu kamarnya. Saya tidak demikian senang lihat tatap mata Dhea, saya jadi berfikir untuk membuat ia tengkurap demikian penisku telah masuk ke vaginanya.

Saya tempatkan tubuhku, saya mesti menyuruhnya seringkali untuk buka kakinya lebih lebar, seperti dokter gigi, “Ayo lebih lebar sayang, lho kok begitu, lebih lebar , bagus anak manis..”, Saya ingin tahu ia masih tetap perawan ataukah tidak. Dhea tidak meronta-ronta, soalnya saya masih tetap pegang belatiku, tetapi selalu menangis sesenggukan, serta mengerang-erang, berupaya berkata suatu.
“Lo masih tetap perawan tidak Dhea? Masih tetap? Masih tetap apa tidak.”

Dhea selalu menangis. Saya angkat dasternya ke atas . Di muka Dhea cukup rata, buah dadanya cuma sekepal dengan puting susu yang mengeras. Saya fikir itu sebab hawa dingin, tetapi mungkin saja sisi dari badan Dhea yang memang terangsang.
“Bukan begitu sayang, lo harus membuka lebih lebar ..”

Saya tekan penisku di belahan vaginanya yang masih tetap mungil. Berasa basah. betul-betul super sempit. Kutarik penisku serta kumasukkan jariku, serta rasakan jepitan vagina Dhea yang hangat yang membuat penisku ingin merasakan juga. Saya gerakkan penisku maju mundur seringkali serta mengarahkan penisku , tegang seperti tongkat kayu.
“Buka manis. Lo betul-betul cantik. Saya hanya ingin perkosa kamu selalu pergi.”

Saya mesti menggerakkan, bergoyang, berputar-putar, serta pada akhirnya mengusung ke-2 kaki Dhea ke atas sebelum saya sukses menggerakkan kepala penisku masuk ke vagina Dhea. Saya lihat buah dada Dhea dengan putingnya yang muncul ke atas, mata yang meminta serta meratap dengan air mata serta saya dorong penisku masuk ke vagina mungil punya gadis berusia lima belas tahun itu dengan semua tenagaku.

Dhea menjerit, diredam oleh plester, membuatku semakin semangat. Vaginanya sempit sekali seperti memegang penisku. Ia nyatanya tidak basah benar-benar. Saya perkosa ia dengan kasar, seolah-olah saya ingin membuat mati dengan penisku, berupaya membuat Dhea menjerit dan saya menghentak masuk. Dhea makin histeris saat ini.

Keadaanku telah 100 % dikuasai birahi, serta saat ini saya memusatkan perhatian untuk menyakiti Dhea, serta saya tidak miliki perasaan kasihan buat Dhea. Saya selalu menghentak-hentak diatas badan Dhea, dengan kecepatan yang brutal, serta tubuhnya yang mungil terbanting-banting sebab gerakanku. Saya terasa saya seperti menyobek vagina Dhea dengan penisku, serta membuatku semakin terangsang, mendorongku berjalan semakin brutal.

Di antara gerakanku, saya jatuhkan belatiku serta kulepaskan celanaku yang membuat tanganku bebas memakai badan Dhea. Saya kesetanan rasakan badan Dhea, saya meremas tiap-tiap anggota badan Dhea, meremas buah dadanya, menjepit puting susunya, serta memakai bahunya yang kecil buat menyokong tubuhku.

Saya hampir tidak ingat apa saja yang saya lakukan sama Dhea. Dhea seringkali meronta sebelumnya, berupaya membebaskan tangannya, berupaya berguling, berupaya keluarkan penisku dari vaginanya. Muka Dhea pancarkan perasaan cemas serta takut, serta saya selalu memperkosanya sekuat tenagaku, seolah-olah itu permasalahan hidup serta matiku. Seaat sebelum saya alami orgasme saya menarik penisku keluar serta Dhea langsung berupaya untuk berguling. Saya jambak rambutnya serta menariknya.
“Brengsek, tidur ke lantai.”

Saya tarik kepalanya sampai melekat ke lantai. Sesaat ia jatuh berlutut, tetapi Dhea benar-benar tidak dapat mengusung mukanya dengan tangan masih tetap terikat ke belakang. Kepala Dhea tenggelam ke lantai. Dhea masih tetap menangis serta gemetar. Saya masukan penisku ke vagina Dhea tanpa ada kesukaran, sebab penisku telah semuanya diberi darah perawan Dhea. Saya masukan dari belakang sebelum Dhea sudah sempat meronta, saya pegangin pinggulnya sesaat saya selalu menggerakkan sekuat tenaga.

Dengan pantat masih tetap nungging ke atas saya tekan punggung Dhea dengan tanganku hingga kepala serta dada Dhea semakin tertekan ke lantai, serta saya selalu memperkosa ia dengan style seperti anjing. Serta Dhea sendiri saat ini mendengking-dengking seperti anak anjing yang ketakutan. Saat ini kutarik rambutnya, membuat kepala Dhea terangkat.

Dhea betul-betul cantik serta tidak berkapasitas, tangannya terikat di punggung. Saya selalu menyetubuhinya dengan keras serta tidak memiliki irama, terkadang brutal berhenti sedetik serta mulai dengan keras, serta bergatin mendesak punggungnya ke lantai lantas menarik rambutnya sampai dia mendongak , sampai saya rasakan pertanda ejkulasi . Saya ingin sekali melepas plesternya serta memasukkan penisku ke mulutnya yang mungil, tetapi untung saja saya masih tetap sadar jika itu dapat membuat saya ketahuan, jadi saya masih metahan penisku di liang kesenangan Dhea sedalam-dalamnya serta melepas ejakulasiku. Saya pegangin belahan pantat Dhea dekat dengan selangkanganku waktu saya menyemburkan spermaku ke rahim Dhea yang menerimanya dengan tatapan mata cemas.
“Oh Dhea, sayangku, oh, oh..”

Penisku kerja keras memompa, berdenyut, menyemburkan sperma ke badan Dhea, serta saya tidak pernah keluarkan sperma sekitar ini saat hidupku. Dhea masih diam tidak berjalan, terengah-engah. Nafasku pun terputus-putus, serta bergidik dikit saat saya mengejang serta menyemprotkan bekas spermaku ke rahim Dhea. Saya menghentak ia seringkali , saat ini dengan penuh perasaan seperti sepasang kekasih. Dhea sadar jika saya telah usai, serta terima gerakanku yang paling akhir ini masih tetap tidak berjalan, dengan kepala tenggelam ke karpet kamarnya yang tebal.

Saya tarik penisku keluar. Serta saya langsung terasa kuatir . Saya langsung kenakan pakaianku, serta dengan ajaib masih tetap ingat untuk ambil belatiku serta pikirkan suatu untukku katakan pada Dhea.
“.. Terima kasih sayang”, saya berbisik lirih, serta langsung melarikan diri.

Serta meskipun saya sudah sempat kuatir saat saya telah dalam perjalanan ke luar kota, sesaat lalu saya kembali dipenuhi keinginan baru. Saya berfikir untuk kembali serta menculik Dhea dan ajak sebagian orang temanku untuk mencicipinya.