Blogroll

Cerita dewasa aku di nikahi anak kandungku

Ini adalah cerita sex terbaru tentang kehidupanku yg kutitipkan pada Mbak Din untuk dituliskan, perkenalkan nama saya Ryanti, saya lahir dari percampuran darah Malaysia dgn Indonesia. Tepatnya ayahku berasal dari Kedah sedang ibuku dari suku Jawa yg tinggal di Kalimantan. Setelah menikah akhirnya mereka tinggal di kota xxxx, sebuah kota kecil di perbatasan.



Cerita mesum terbaru, Sebagaimana biasanya penduduk kota kecil, maka masyarakat disana pada umumnya terhitung miskin dan kurang beruntung hidupnya. Begitu jg ayahku yg memiliki darah campuran melayu india. Untungnya aku sendiri dikaruniai wajah yg cantik dan tubuh yg menawan.

Karena kemiskinan pula aku terpaksa menikah diusia 14 tahun dgn seorang laki-laki yg pantas menjadi ayahku, sebut saja nama suamiku dgn Datuk Rahman. Seorang teman lama ayahku saat masih tinggal di Kedah.

Pernikahanku dgn Datuk Rahman, tdk bisa dikatakan tdk bahagia pada awalnya, karena aku masih ingat bagaimana malam pertama kami melakukan hubungan suami istri. Hari itu adalah hari kedua, tepatnya malam ketiga kami menjadi suami istri, barulah kami sempat melakukan hubungan badan.

Kejadiannya berawal setelah kami mengatar handai taulan terakhir yg pulang, setelah merayakan hari pernikahanku, kuingat malam itu Datuk Rahman duduk di sofa sambil menunggu aku yg menyiapkan minuman. Yg mengejutkan, adalah setelah aku menghidangkan minuman dia tiba tiba berdiri dan memegang pundakku dgn tangan kanannya dan menuntun aku menuju kamar kami.

Dgn tersenyum agak malu aku menurutinya. Setelah sampai didalam kamar dia membalikkan tubuhku, hingga kami saling berhadapan dan dia memegang kedua pundakku dan berkata

“Yan kamu benar-benar wanita yg sempurna. Aku tdk akan menyia-nyiakanmu malam ini. Aku akan memberikan nafkah batin yg kau butuhkan, sebagai layaknya seorang suami”.

Lalu Datuk Rahman mengecup keningku. aku hanya menutup mata dgn menahan gejolak nafsu yg sebenarnya dari tadi aku sudah terangsang berat. Datuk Rahman menciumi kedua mataku sementara kedua tangannya memegang pipiku, hidungku yg mancung dan bibirku dgn lembut namun pasti Datuk Rahman melumat bibir dan lidahku yg membuat aku tak kuasa menahannya hingga aku kesusahan unutk bernafas sampai terengah-engah.

“ahh……ahh…..ahhh…ohh..nghhh. peluk aku mas..ohhhh puaskan aku malam ini”.pintaku tanpa malu-malu lagi karena mulai terdorong oleh nafsu.

“Sabar sayang kita akan lalui malam yg indah ini dgn penuh sejuta kenikmatan yg tak terbayangkan olehmu” jawabnya sambil terus mencumbuku.

Sambil menciumi leherku dia meremas susu kiriku. Kepalaku terangkat ke atas menikmati permainannya sambil mendesah tiada hentinya.

“ohh..ahhhh….ahhh..ahhh…nghhhhhhh…nghhhh “.

Sesaat kemudian dia melepaskan dasterku hingga jatuh ke lantai, dan terlihatlah buah dadaku yg sudah mengeras dan kencang. Tanpa basa-basi lagi dia dgn tangan kananya dia memegang daguku dan mencium bibirku dgn lembutnya, sedangkan tangan kirinya berusaha melepas tali pengait BH-ku yg berukurun 36D itu. Setelah terlepas dia mulai mencium leher, lalu turun ke kedua bukit kembarku secara bergantian. Aku hanya bisa mendesah saja.

“ohh…..nghh….nghhhhhh…..ahhhh”. Lalu kedua tanganya meremas kedua susuku sementara ciumannya turun ke perut.dan akupun meremas rambutnya dgn kedua tanganku. Lalu sesaat kemudian dia kembali berdiri dan mancium bibirku dan membopongku ke tempat tidur.

Kini yg tersisa tinggal CD (celana dalamku) saja, sementara Datuk Rahman masih berpakaian lengkap. Aku direbahkan ditempat tidur yg sekaligus merupakan ranjang pengantin kami.

Kini dia melepaskan semua pakaian dan celananya, kemudian menghampiriku yg sudah pasrah untuk disetubuhi. Kembali dia mencium bibirku dan meremas susu kiriku, perut dan turun ke selangkanganku serta mengobok-obok memekku yg sudah basah dari tadi.

“Ayo mas…aku sud…dah tdk ta..han lagiii”. “Baiklah sayang. Tahan yaa”, jawabnya.

Kemudian dia membuka pahaku lebar-lebar dan terlihatlah gundukkan memekku yg ditumbuhi bulu-bulu lebat disekitarnya. Sambil menyibakkan bulu-bulu memekku, aku bantu menuntun kejantanannya ke memekku, dan blesss……amblaslas k0ntol Datuk Rahman ke dalam memekku.

“Aww….” pekikku yg merasa perih sekaligus sedikit kesakitan saat batang kem aluan Datuk Rahman menerobos lubang memek ku sekaligus merobek selaput keperawananku. “Tahan sayang, sakitnya hanya sebentar kok, lalu setelah itu kamu pasti akan merasakan nikmatnya surga dunia” desis Datuk Rahman ditelingaku.

Benar katanya, tdk lama kemudian perasaan perih dan sakit mulai menghilang digantikan rasa gatal, geli dan nikmat di memekku, aah sungguh susah menceritakan kenikmatan yg kurasakan saat itu.

Sambil memegangi punggungku dia mulai memaju mundurkan kejantanannya sehingga berbunyi slep… slep… slep… (Kami melakukan dgn gaya konvensional). Lalu dia mulai menciumi kedua susuku dan leher, serta bibirku.

Sekitar lima menit lamanya kami dalam posisi itu aku sudah tdk kuasa lagi untuk berejakulasi, dan kulingkarkan kedua tanganku ke lehernya, sementara kedua kakiku kulingkarkan kepantatnya sambil mendesah, meracau tak karuan.. ehhhm… nghhhh… nghhhh.. ohhh… ohh.. ehmmm… nghhkk… ohhh… ehk… lalu aku orgasme, mungkin karena aku sudah sangat bernafsu bukan saja sejak mulai percumbuan, tp sejak hari kami diresmikan jadi suami istri, aku sudah menghayalkan apa yg sering dipergunjingkan kawan-kawan perempuanku dgn diam-diam.

Namun Datuk Rahman belum jg orgasme, hingga akhirnya kami merubah posisi kami dgn dia di posisi bawah dan aku ganti berada di atas dgn k0ntol masih menancap di memekku. Pergantian posisi itu terjadi atas suruhan Datuk Rahman yg memamng sudah sangat berpengalaman karena dia merupakan seorang duda sebelum menikah dgn aku.

Aku muali naik turun memompa dgn sisa-sisa tenaga yg masih ada, sementara Datuk Rahman memegangi pahaku, lalu kedua susuku yg bergelantungan dgn bebasnya. Kusibakkan rambutku ke belakang dan kedua tanganku ikut membantu meremas susuku bersama dgn tangannya. ohhh… oahk…. eghhhmm.. enghhhh… ahhhh… ahhhhh… enghhh… enghh….. oughhhhhhhhh

Lenguhanku mengumandang dgn kerasnya. sudah hampir sepuluh menit kami dalam posisi ini dan akupun akan orgasme untuk yg kedua kalinya. Namun sebelum itu terjadi Datuk Rahman bangkit dan memelukku erat sambil menciumi kedua susuku, leher, telinga, leher hingga kepalaku mendongak keatas sambil terus memompa. Dan akhirnya aku orgasme Ahhhhhhhh……Ohh..enghhhh..enghhhh…..oh…

Kini aku direbahkan kembali untuk ganti posisi doggie style dgn k0ntol masih tetap menancap di memekku. Datuk Rahman memompa maju mundur dgn hebatnya sambil memegangi kedua pantatku, sementara susuku bergelantungan. Kusibakkan rambutku yg panjang ke kiri agar aku dapat melihat apa yg sedang dilakukannya. Lalu dia memegangi kedua susuku dan minciumi punggungku sambil terus memompanya.

Sepuluh menit kemudian dia mengubah posisinya dgn merebahkan tubuhku yg sudah mandi keringat dan meletakkan kedua kakiku di atas kedua pahanya sambil memegangi pundakku, sementara aku meremas sendiri susuku. Akhirnya setelah lima belas menit kembali aku orgasme, tp Datuk Rahman menyuruhku untuk menahannya karena dia jg akan orgasme untuk yg pertama kali.

Dan akhirnya kami melenguh, lenguhan terakhir kami…. ahhhhhhhhh……. ehhhhmmmmm… ohhhhhhhhh….. yesssssss……. ahhhhhhhhhhh……. ehmmmmmmm…. nghhhhhhh… nghhhhhh…. nghhhhhh. sekitar beberapa kali spermanya menyembur kememekku hingga keluar tak tertampung lagi..creeet…creett….creeeetttttt.

“oh sungguh nikmat sekali. kamu luar biasa Yan. Dasar perawan punyamu begitu sempit dan legit, aku menyukainya”. pujiannya kepadaku.
“ahhh Datuk Rahman jg hebat” jawabku.

Kami rebah diranjang dgn kepalaku di atas dadanya dgn keringat di sekujur tubuh kami. Kami benar-benar lemas tiada tenaga lagi yg tersisa, dan kembali Datuk Rahman mengecup keningku dan membelai rambutku yg terurai.

Tp hari-hari berikutnya, dalam dua puluh empat tahun pernikahan kami Datuk Rahman tdklah seperkasa seperti malam pertama itu, karena aku kadang mengalami orgasme dalam persetubuhan, kadang bahkan tdk, sementara frekwensi hubungan badan pun tdk sesering yg kuinginkan

Mulanya seminggu sekali, lalu semakin jarang dan semakin jarang, sampai akhirnya empat bulan sebelum kematiannya, adalah terakhir aku disetubuhinya.

Tp sebagai seorang istri aku tdk dapat menuntut lebih dari itu, toh hanya nafkah batin yg tersendat, tp nafkah lahir tetap berjalan lancar, dgn standar hidup jauh diatas saat aku masih tinggal dgn kedua orang tuaku.

Setelah menikah akupun ikut suamiku tinggal di Kedah, dan setahun setelah pernikahan kami, akupun melahirkan seorang anak laki laki, yg kami beri nama Dika.

Dan karena Datuk Rahman tdk ingin memiliki anak lagi mengingat usianya. Jadilah Dika menjadi satu-satunya anak kami. Kamipun berusaha sedapat-dapatnya untuk membesarkan Dika, boleh dibilang kami telah memberikan semua hidup kami untuk membesarkan Dika.

Dika sendiri adalah seorang anak yg sangat cerdas, banyak tingkatan sekolah yg dia lompati dan pada usia dua puluh tahun dia telah mendapatkan gelar masternya untuk rekayasa komputer dan teknik informasi.

Empat tahun lalu setelah meraih gelar masternya, dia langsung pergi ke AS untuk bekerja sekaligus berusaha meraih gelar Phd nya dan dia tinggal disana tanpa pernah sekalipun pulang, bahkan dia telah memiliki Green Card untuk tinggal menetap disana. Baru satu tahun yg lalu dia pulang karena suamiku Datuk Rahman meninggal dunia, karena serangan jantung.

Itu adalah kepulangan Dika yg pertama kalinya setelah bertahun-tahun kami berpisah, karena sejak masuk universitas, dia telah terpisah dari kami. Kepulangannya cukup memberi kekuatan bagiku untuk melalui masa berkabung karena meninggalnya suamiku.

Sebuah masa yg sulit bagiku, bahkan rasa-rasanya aku tdk mampu hidup untuk menjalaninya, tp kepulangan Dika membuat ku mampu bertahan dan bahkan mengubah hidup serta jalan hidupku untuk selama-lamanya.

Oh ya aku lupa mengatakan bahwa saat Dika pulang, dia sudah berhasil meraih gelar Phd nya dan selain bekerja untuk sebuah perusahaan internasional, dia jg membuka usaha sendiri, dibidang rekayasa komputer sesuai bidang keahliannya

Setelah seluruh prosesi pemakaman suamiku selesai, Dika masih tetap tinggal dgnku. Kami kemudian menjual semua aset di Kedah dan pergi ke kota ************ untuk tinggal dgn ayah saya.

Sampai saatnya aku kembali tinggal dirumah ayahku, Dika masih tetap menemani saya, meskipun berulang kali kukatakan padanya bahwa aku baik-baik saja dan dia harus kembali ke AS tempat dia menjalani kehidupannya, tetapi dia tdk pernah menuruti kata-kataku. “Sudahlah aku ingin menjalani hidup ini dgn ibu” begitu jawabnya sambil tersenyum setiap kali aku mendesaknya untuk kembali ke AS.

Sebulan setelah ayahnya meninggal dunia, hubungan kami yg telah terpisah lama menjadi semakin dekat, kemana-mana kami selalu bersama, ketempat kursus menjahit yg kuikuti untuk menyibukkan diri, ke salon, belanja kepasar, yg pasti kemanapun kami selalu berdua.

Sikap Dika pun menjadi lebih akrab, dan bahkan intim dgn saya, dia seringkali menyentuh dan memeluk saya, dan selalu ada disekitar saya, nyaris kecuali mandi dan tidur, dia selalu ada didekatku.

Aku sendiri tdk terlalu banyak mengambil perhatian atas sikapnya, apalagi berpikir terlalu jauh, selain bahwa itu adalah caranya untuk memperhatikan dan menunjukkan rasa sayangnya pada saya. Bukanlah merupakan suatu kesalahan kalau seorang anak memeluk ibunya.

Tp semua anggapan itu kemudian berubah, ketika pada suatu pagi enam minggu setelah kematian suamiku, ayahku memanggilku untuk berbincang-bincang.

“Yan yg lalu telah berlalu, sudah tdk perlu lagi dipikirkan. Suamimu telah meninggal dan kamu yg hidup harus memasuki babak baru dalam kehidupanmu sebagai seorang janda. Karena itu kamu harus mulai memikirkan masa depan kamu selanjutnya”, kata ayah padaku.

“Ayah benar, aku sekarang adalah seorang janda, karena itu tugasku selanjutnya adalah merawat ayah dan Dika anakku, itulah masa depanku” jawabku ringan.
“Tentu tdk Yan, kamu harus memikirkan anakmu, karena itu kamu harus menikah lagi” kata ayah kepadaku, yg langsung kujawab
“Tdk ayah, aku tdk ingin menikah lagi dgn siapapun jg setelah kematian suamiku, tolong jangan mengungkap masalah ini lagi”.

Anganku kembali melayg pada masa yg jauh silam, saat aku masih ingin sekolah dan bermain dgn teman-teman, ayahku telah memaksa aku untuk menikah. Meskipun akhirnya aku menerima pernikahan itu karena sikap suamiku yg baik, tp sungguh selama pernikahanku aku tdk pernah mengenyam getar rasa cinta yg menggelora, seperti yg pernah diperbincangkan teman-temanku secara diam-diam, semasa gadisku dulu.

Anganku terputus saat kulihat ayahku tersenyum menenangkanku, sambil berkata dgn nada lembut,
“Kalau kamu ingin terus bisa mengurus anakmu, maka kamu harus mau menikah lagi”.

“Kenapa begitu ayah?, lagipula belum tentu Dika ingin melihat saya menikah lagi”, kataku sambil memikirkan Dika, satu-satunya anakku.
“Sudah tentu anakmu pasti akan setuju” jawab ayah sambil kembali tersenyum.

Aku menjadi tertarik dgn kata-kata ayah yg terakhir, “ darimana ayah bisa memastikan Dika setuju dgn pernikahanku kembali” tanyaku pada ayah.

Senyum dibibir ayah semakin lebar,

“anakmu bukan hanya setuju, bahkan dialah yg mengusulkan agar kamu menikah kembali” jawab ayah dgn nada santai.

Aku tertegun mendengar jawaban ayah, dan saya sedikit terkejut mendengar bahwa anak saya menyarankan saya untuk menikah lagi.

Apa yg terbayangkan dibenak saat itu adalah ‘mungkin Dika berpikir saya adalah beban bagi dia dan rencananya dalam menjali kehidupan selanjutnya’. “Sungguhkah Dika yg mengusulkan agar aku menikah lagi?” tanyaku pada ayah sambil memandang dgn tajam, untuk memastikan jawabannya.

Ayahku mengangguk dgn pasti, tp dia tdk mengucapkan sepatah katapun lagi. Lama aku terdiam, dan dgn perasaan sedikit terluka karena bayangan yg ada dibenakku ‘bahwa anakku tdk mau terbebani ibunya’ akhirnya aku menjawab,

“jika Dika memang menyetujui dan bahkan menghendaki aku menikah lagi, baiklah aku setuju tp itupun harus menunggu selesai suatu masa seorang perempuan yg ditinggal mati atau dicerai suaminya”.

“Itukan menurut anutan hidup suamimu, ingat ayahmu berbeda anutan hidup denganya, meskipun kami bersahabat sejak kami masih kecil” jawab ayahku sambil tersenyum. Aku tdk mau dipusingkan dgn anutan hidup tersebut, karena terus terang aku sendiri tdk tahu apa anutan hidupku, karena itu aku bertanya pada ayah “dimana Dika sekarang?”.

“Oh dia sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa macam kebutuhan kita” jawab ayah dgn wajah sumringah, kulihat jelas kegembiraan dan rasa bahagia dimuka ayahku.
“Jadi aku harus mulai berdandan dan berhias kembali untuk menjadikan aku pantas menarik perhatian laki-laki sehingga ada yg tertarik dan melamarku menjadi istrinya?” tanyaku pada ayah.
“Oh tdk, berdandan dan berhias iya, tp aku sudah memilih seorang calon yg akan menjadi suamimu, dan…. kamu pasti akan menyukainya” jawab ayah.

Aku terdiam sejenak karena sedikit terkejut, akankah terulang lagi aku menikah dgn seorang laki-laki yg bukan pilihanku sendiri, demikian anganku berkecamuk.

“Percayalah, kamu pasti menyukai dia” lanjut ayahku yg rupanya mengerti kesangsianku.

Dgn ragu aku bertanya

“siapa ?, Dika kenal dgn orang itu?”.
“Tentu saja” jawab ayahku dgn nada pasti.

Beberapa lamanya terjadi keheningan, aku tdk mampu berkata apa-apa karena benakku terasa sangat kusut, mengingat pada semua rancangan yg dilakukan secara diam-diam oleh Dika dan ayah, untuk menjadikan aku segera menikah lagi. ‘Sungguh tak kusangka aku telah sedemikian membebani mereka, sehingga mereka ingin segera melihat aku menikah lagi’ begitu perasaanku saat itu.Setelah beberapa lama ayah membiarkanku bergulat dgn perasaan dan fikiranku sendiri, aku kembali bertanya pada ayah, “siapa calon suamiku itu Yah? Katakanlah, aku ingin tahu siapa calon suamiku itu?” desakku.

“Tenanglah, kau tdk akan menikah dgn orang yg tdk kau kenal, kau sudah mengenalnya, jadi apa lagi yg harus kuceritakan” jawab ayah.

Pikiranku berputar mengingat-ingat semua laki-laki yg kukenal, khususnya yg tdk memiliki istri, entah dia perjaka ataupun duda, tp sungguh tdk terbayangkan olehku siapa orangnya.

“Jangan berputar kayun Yah, katakan siapa sih orangnya” desakku pada ayah dgn sedikit kesal.
“Orang itu adalah Dika” Jawab ayah dgn santai.

“Dika…. Dika yg mana ?” tanyaku kembali dgn sedikit bingung.
“Memangnya berapa banyak Dika yg kau kenal?” ayah balik bertanya padaku. Aku terdiam mengingat-ingat orang yg bernama Dika.

“Satu-satunya Dika yg kukenal adalah Dika anakku sendiri” jawabku masih setengah kebingungan.
“Ya dialah calon suamimu” jawab ayah masih dgn nada santai.

Aku terbelalak bahna kaget,

“ Jangan melantur Yah” pekikku menukas kata-katanya.
“Jangan bermain-main dgn aku, katakan siapa calon suamiku itu?” tanyaku setengah marah, karena merasa dipermainkan oleh ayah.
“Aku tdk bercanda! Dika adalah calon suamimu” jawab ayah dgn tegas sambil memandang tajam kepadaku.
“Apa?” teriakku sambil terlonjak kaget.
“Ya Tuhan… Dika…. Dika itu anakku Yah” lanjutku sambil memandang ayah dgn mata terbelak.

“Dia sekarang sudah menjadi laki-laki dewasa Ryanti” jawab ayah masih tetap dgn sikap tenangnya.
“Tp…. tp dia adalah darah dagingku sendiri… bagaimana bisa…. bagaimana bisa dia jadi suamiku?” jawabku tergagap karena emosi dan kejutan yg kualami .

Seluruh dunia terasa berputar dgn cepatnya di mataku, kepalaku terasa pusing mendengar semua itu, sungguh aku tdk pernah menygka akan hal ini, bahkan dalam mimpi pun tdk, ini sungguh merupakan khayalan brutal dan terburuk yg pernah kudengar dan kualami.

“Dia sendiri yg melamarmu pada ayah… dan dia pantas untuk menikahimu” jawab ayah dgn tegas.
“Dika sendiri yg melamarku pada ayah? Dia… dia meminta pada kakeknya agar bisa menikahi ibunya?” tanyaku setengah histeris.

“Ya! Pada awalnya aku pikir dia sedang bercanda, tp dgn berjalannya waktu, kulihat kesungguhan niatnya, dan kupikir dia layak untuk menikahimu….”.
“Apa? Bagaimana dgn nilai moral dan hukumnya menikahi ibu kandungnya sendiri” potongku sambil memandang ayahku dgn tajam.
“Ingat aku berbeda anutan dgn suamimu yg telah meninggal, dalam kitab anutanku dijelaskan bahwa :

* Dewa Krishna menjalani hidup inses dgn saudarinya Subadra, serta berbagi subadra dgn saudaranya Baladewa [Mah.wh.153],
* Pushan Veda adalah kekasih dari adiknya [Rg Ved VI.55.4],
* Dewa Agni adalah kekasih adiknya sendiri [Rg Ved X.3.3],
* Ashvins disebut sebagai anak-anak Savitar dan Ushas yg merupakan adik dan kakak [Apte 11].
* Ashvisns menikah Surya dan Savitri yg adik [RV I.116.19] mereka.
* Saraswati, yg menjadi istri ayahnya sendiri, dan dia adalah adalah putri dewa Brahma.

Ada 2 cerita tentang asal usul nya `Saraswati ‘ di Purana, Salah satunya adalah bahwa Brahma menciptakan putri cantik Saraswati langsung dari `kekuatan vitalnya ‘atau cairan mani. Yg lainnya adalah bahwa Brahma mengumpulkan air mani dalam pot setiap kali dia masturbasi untuk memperbaiki mata jasmaninya pada keindahan Urvasi surgawi. semen Brahma dalam pot melahirkan sage Agastya, dan Agastya pada gilirannya melahirkan Saraswati. Jadi, Saraswati tdk memiliki ibu.

Ketika Brahma melihat kecantikan Saraswati ia langsung jatuh cinta. Untuk melarikan diri dari pendekatan gairah ayahnya Saraswati lari ke keempat penjuru dunia, tetapi dia tdk bisa melarikan diri dari ayahnya. Dan ahirnya Saraswati menyerah pada keinginan Brahma. Brahma dan putrinya Saraswati hidup sebagai suami dan istri serta terlibat dalam inses selama 100 tahun. Mereka memiliki seorang putra dan seorang putri Swayambhumaru Satarupa”, Ayahku berhenti sejenak setelah berbicara begitu panjang.

“Sudah kukatakan anutan hidupku berbeda dgn suamimu, tp kau jg tdk menganut apa yg dianut suamimu, itu aku tahu” lanjut ayah.

“Secara Moral mungkin amoral, Ryanti anakku sayang, tp secara hukum, menurut hukum dia bisa menikahimu, karena engkau adalah seorang janda” ayah melanjutkan uraiannya, sambil menatap balik kepadaku dgn pandangan tajam, sesuatu di dalam matanya membuat aku sedikit gentar, mengingat selama ini aku mengenal dia sebagai seorang ayah yg otoriter, dan dari pengalaman, aku yg jadi anaknya mau tdk mau harus menuruti kemauannya.

“Tp dia adalah anak ku sendiri, bagaimana mungkin ayah menerima lamarannya? Bahkan jika ayah menerimanya… tp aku tdk bisa” jawabku sambil mengalihkan pandangan kearah jendela.

“Terlambat untuk semua itu Ryanti anakku sayang!, ayah sudah menanda tangani perjanjian denganya” jawab Ayahku sambil terus memandangku dgn tajam.
“Perjanjian?… perjanjian apa?” tanyaku.
“Bahwa aku akan menikahkanmu dgn Dika” jawab ayah.
“Tp bagaimana bisa ayah melakukan semua ini?” bantahku sambil menahan tangis. “Aku adalah ibunya dan merupakan anakmu, sedang dia adalah anak saya” lanjutku sambil sedikit tersedan.
“Dia tdk melamarmu padaku sebagai sebagai cucuku, dia melamarmu kepadaku sebagai seorang ayah dari perempuan yg dia cintai” jawab ayah bersikukuh.
“Dan ayah kemudian menandatangani perjanjian! Apa isi perjanjian itu? Apa yg dia janjikan sebagai imbalan bagi memperistri ibunya?” tanyaku sambil mulai terisak.

“Ya dia memberikan imbalan” jawab ayah pendek.
“Apa imbalannya?” tanyaku kembali mendesak. Ayah terdiam dan tdk menjawab.
“Uang?” desakku dgn emosi.
“Uang yah, jadi ayah sekarang menjualku, ayah menjual anak perempuannya dgn harga berapa? murah atau mahal?” kataku semakin emosi.
“Berapa nilainya Ayah, berapa hargaku?” pekikku disela air mata yg tanpa kuasa lagi meluncur dipipiku.
“ lima ratus ribu ringgit” gumam ayah menjawab pertanyaanku.

Aku terkejut, sampai isakku terhenti, sungguh aku tdk percaya dgn apa yg aku dengar, jumlah itu sangat besar sekali bagi kami, karena itu aku bertanya sekali lagi kepada ayah untuk meyakinkannya, ayah kembali menjawab bahwa imbalan baginya untuk menikahkan Dika dgn aku adalah lima ratus ribu ringgit. “Dika bahkan mengatakan bahwa dia siap memberi lebih dari itu” lanjut ayah dgn nada tegas dan tdk mau dibantah.

Aku sungguh kaget mendengar itu, tp entah kenapa disudut hatiku muncul rasa bangga, karena ternyata hargaku tdklah murah. “Ayah akan meminta lebih banyak… kalau ayah bisa? Sebagai imbalan menjual anakmu kepada cucumu?” tanyaku setengah berbisik.

Dgn nada marah ayah menjawab

“Dengarlah apa yg salah dgn semua itu, anakmu menawari aku sejumlah uang untuk bantuanku agar dia bisa menikahimu, sementara itu kau adalah seorang janda, jadi apa salahnya? Selain itu kau toh telah mengenalnya dgn sangat baik dan mencintainya dgn demikian kau akan selalu bersamanya, dan aku tdk menikahkan kamu dgn orang asing”.

Dari nada bicaranya dan sikapnya, aku hapal dari pengalaman bahwa ayah pasti akan memaksakan kehendaknya, dan dia sama sekali tdk mau dibantah. Meskipun demikian aku masih menjawab, “karena itu ayah akan menikahkanku dgn anakku sendiri!”.

“Apa salahnya menikah dgn anakmu!, kau toh sudah mencintainya, sekarang cintailah dia bukan sebagai anak tp sebagai seorang suami” tandas ayah sambil memandangku dgn tajam.

Dgn menahan tangis yg hampir meledak, aku menjawab

“kau sungguh seorang ayah yg sangat egois, sangat memaksakan keinginan sendiri” kataku sambil berlari kekamarku, airmata tanpa dapat ditahan lagi mengalir deras dipipiku.

Aku telungkup diatas ranjang dan menangis sejadi-jadinya sampai ahirnya tertidur karena kelelahan. Entah berapa lama aku menangis dan ahirnya tertidur, saat aku sadar kemabli, jam telah menunjukan pukul lima sore, perutku terasa lapar dan aku segera bangkit berjalan kedapur untuk membuat makan malam.

Setelah sekedar mengisi perut dan kubuat secangkir kopi, aku memeriksa sekeliling rumah, ayah sedang tdk ada, tp kutemukan Dika ada di dalam kamarnya.

Segera kubuat secangkir kopi lagi dan membawanya kekamarnya. Terpikir olehku bahwa ini saatnya aku berbicara dan menasehati Dika bahwa tindakannya salah.

Kuketuk pintu dan melangkah masuk, terlihat Dika sedang duduk diatas ranjangnya sambil membaca sesuatu. Sekilas dia menatapku, lalu kembali mengalihkan perhatiannya kepada bacaannya.

“Ini kopi untukmu” kataku sambil menyodorkan cangkir kopi.
“Terima kasih” sahut Dika sambil mengambil cangkir kopi.

Aku segera duduk disampingnya ranpa berbicara apa-apa.

Beberapa saat kami saling berdiam diri tanpa saling memandang satu sama lain. Sungguh aku tdk tahu bagaimana perasaanku saat itu jg tdk tahu bagaimana aku harus bersikap, membencinya atau mencintainya, entalah.

“Kamu ingin membeli aku?, ibu kamu sendiri” kataku ahirnya memecahkan kesunyian.
“Aku mencintai ibu” jawabnya sambil tetap memperhatikan buku yg dipegangnya.
“Apa ini cara kamu memperlihatkan cinta kamu? Dgn membeli ibumu sendiri?” lanjutku.
“Aku ingin lebih dekat dgn ibu” jawabnya.
“Lebih dekat? Maksudmu seperti sepasang kekasih?” desakku kepada Dika.
“Ya” jawab Dika tegas sambil tetap memperhatikan bukunya.
“Ya Tuhan… aku ibumu Dika! Bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu?”.
“Karena aku mencintaimu” jawabnya tegas tp sambil tetap tdk melihat padaku.

Ketegasan dalam suaranya membuat aku bingung, kemarahan dalam hatiku mulai sedikit cair, dan aku kehilangan kata-kata untuk berbicara padanya lebih lanjut, karena itu aku terdiam sejenak.

“Tp kenapa kamu tega berlaku seperti ini?” tanyaku lagi setelah menyeruput kopi dalam cangkir.

Dika terdiam beberapa saat, lalu ahirnya dia menjawab

“aku tahu ibu tdk punya teman hidup lagi, dan ibu jg tdk punya teman laki-laki yg intim, sedangkan aku… aku selalu ingin dekat dgn ibu”.

“Tp kamu bisa tetap dekat dgnku sebagai seorang anak!” sergahku padanya.
“Iya aku bisa, tp pada suatu saat, ibu jg pasti akan menyuruhku menikah” jawanya.
“Apa salahnya? Kamu menikah dan kita semua bisa berkumpul bersama-sama, kamu akan punya anak dan aku bisa menghjabiskan sisa umurku dgn anak istrimu” jawabku lagi
“Iya , tp saya ingin menikah dgn ibu dan punya anak dari ibu” kembali Dika menjawab.
“Tutup mulutmu Dika! aku ibumu” bentakku kepadanya.
“Apapun jg tetap saja aku ingin menikahi ibu” balas Dika dgn tegas.
“Oh… jadi sekarang kau ingin mengatakan kau naksir aku! Bahwa kau terangsang olehku dan karenanya memiliki nafsu syahwat kepadaku, begitu!” sergahku kembali sambil menahan gelora emosi didadaku.

Dika terdiam beberapa saat, lalu dia berkata “ya, dan itu sudah kurasakan sejak lama”. Aku terhenyak mendengar jawaban itu karenanya aku jg terdiam beberapa saat. “Sudah berapa lama ? apa sejak sebelum ayahmu meninggal;kan kita untuk selama-lamanya?” tanyaku ahirnya.

“Jauh sebelum itu” jawabnya kembali.
“Berapa lama setahun, dua tahun?” desakku kepada Dika.
“Hampir enam tahun yg lalu aku mulai merasakan perasaan ini” jawab Dika.

Cangkir kopi yg kupegang nyaris jatuh bahna kaget mendengar jawaban Dika, ‘Ya Tuhan, anakku memendam nafsu birahi kepadaku selama itu, hampir enam tahun’ batinku, lalu dgn pikiran yg kalut, aku berkata lagi,

“Kau menjijikkan aku Dika, bagaimana mungkin sampai kau terbit birahi pada ibumu sendiri”.
“Karena aku mencintaimu” jawabnya tegas. “Tutup mulutmu” bentakku yg semakin kebingungan. Dika menyeruput kopi nya sampai habis lalu mengembalikannya cangkirnya padaku tanpa berkata sepatah katapun lagi.

Kuangkir cangkir kopinya yg telah kosong, lalu melangkah pergi meninggalkannya sendiri dikamarnya jg tanpa berkata sepatah katapun.

Sisa malam itu kami lalui dgn saling mendiamkan diri, sehingga menciptakan kesunyian yg panjang, sampai saatnya ayahku kembali. Seperti biasa, kami makan malam bersama lalu pergi kekamar masing-masing dgn tanpa berkata-kata. Kami tetap saling mendiamkan satu sama lain.

Malam itu adalah malam yg sangat meresahkan bagiku, sungguh aku tdk menygka semuanya akan terjadi seperti ini, aku tdk tahu bagaimana dan mengapa sampai aku bisa terperosok kedalam situasi yg kacau dan sulit ini.

Aku terus memikirkan hal ini sepanjang malam, dan semakin aku menganalisanya, aku mulai dapat mengurai masalahnya satu persatu. Satu-satunya hal yg tetap terasa berat adalah bahwa Dika memendam nafsu birahi kepadaku, ibunya sendiri.

Sekarang setelah ayahnya meninggal, dan aku menjadi janda maka dia menjalankan rencananya untuk melampiaskan nafsu birahinya kepadaku. Sungguh ini merupakan suatu hal yg tdk dapat kuterima. Inilah berita buruknya.

Berita baiknya, adalah paling tdk dalam usaha memenuhi keinginan nafsunya itu dia berniat menikahi aku secara resmi, bukan dgn cara pemaksaan dan pemerkosaan atau cara-cara lain yg mengerikan.

Dia sadar aku pasti akan menolaknya, jika dia langsung menyatakan perasaan dan lamarannya kepadaku. Itulah sebabnya dia mendekati ayahku dulu dgn jalan menyuapnya, agar bisa menikahi aku. Aku sadar Dika pasti tahu bagaimana otoriter dan tdk mau dibantahnya ayahku oleh keluarganya.

Sedangkan ayahku sendiri adalah seorang miskin yg selama hidupnya bergelimang dgn kesulitan hidup, apa dayanya ? ayah sangat memerlukan uang, lalu datang tawaran mendapatkan uang yg sangat banyak, pasti ayah tdk mampu menolaknya.

Dgn uang sebanyak yg ditawarkan Dika, dia akan menjadi orang kaya dan dapat menjalani sisa hdupnya dgn tenang dan mewah, tanpa perlu memikirkan uang lagi. Disamping itu diapun tdk perlu dipusingkan oleh aku sebagai anak perempuannya yg telah menjadi janda akan membebani hidupnya.

Ayah jg pasti yakin, bahwa dgn menerima tawaran Dika maka aku anak perempuannya pasti akan dapat menjalani hidup selanjutnya dgn baik dan terjamin, mengingat kalau untuk ayah sendiri disiapkan uang sebesar itu, maka Dika pasti akan dapat menafkahiku dgn sangat baik.

Semakin dipikir untung ruginya, semakin terlihat sisi keuntungannya, rasanya tdk terlalu jelek bagiku. Aku masih bisa hidup dgn Dika dan aku tdk perlu melepas dia pada seorang gadis yg akan jadi menantuku. Dika akan mutlak jadi milikku, dan hidupku pasti akan terjamin dari segi nafkah.

Hanya saja aku harus tidur denganya sebagai istrinya, Dika akan memiliki hak kebahagian tubuhku yg paling rahasia dan terlarang baginya. Dika akan memiliki hak untuk membuka pakaianku, baju dalam, BH dan celana dalamku, serta melampiaskan gairah birahinya.

Memikirkan gairah birahi terpendam Dika kepadaku selama bertahun-tahun, serta kemungkinan dia melampiaskan gairah birahinya kepadaku, rupanya telah membangkitkan hormon tertentu dalam tubuhku, kurasakan dadaku tiba-tiba menghangat, dan rasa gatal yg basah tiba-tiba timbul di selangkanganku.

Akh… rupanya aku terangsang memikirkan semua itu, sungguh aku tdk percaya memek bisa basah memikirkan anakku sendiri. Kupikir perasaan dan pikiranku telah mulai berubah, dan semakin berubah. Entah mungkin karena hampir enam bulan aku tdk disentuh laki-laki padahal diusiaku yg menginjak tiga puluh tujuh tahun lebih ini hasratku sebagai wanita normal masih menggebu-gebu, tp yg jelas rangsangan itu semakin menjadi-jadi.

Tak tahan dgn semua itu aku mulai melucuti pakaianku sendiri, sehingga ahirnya aku telanjang bulat, rasa heran akan gairah nafsu anakku pada diriku membuat aku memeriksa tubuhku di cermin lemari.

Nampaklah seluruh bagian tubuhku yg ramping dan sexy, dgn tinggi seratus tujuh puluh centimeter, kulit kuning langsat, serta lekuk tubuh yg sempurna, pinggang ramping, ditambah buah dadaku yg sedang besarnya tampak masih tegak menantang bentuknya padat, puting susuku dan sekitarnya masih tampak ranum berwarna sedikit merah muda kecoklatan, pantatku montok dan berisi, bagian depannya di bawah pusarku ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yg halus cukup lebat, tumbuhnya rata rapi dan tdk terlalu panjang karena menempel di bawah pusarku menyeruak ke atas. Bulu-bulu kemaluanku hanya tumbuh di bagian atas kemaluanku, di sekitar memekku tetap bersih dan mulus.

Aku menahan napas ketika terbayang olehku tubuh ini digeluti anakku. Tak tahan lagi aku segera membaringkan diri di pembaringan, sebelah tanganku mulai mengelus-elus belahan memekku yg telah basah.

Tanganku yg satu lagi mengelus tubuhku bagian lain, kuelus-elus buah dadaku dgn lembut hingga terus terang menimbulkan rangsangan tersendiri bagiku. Libidoku naik dgn cepat dan hasratku jadi memuncak saat membayangkan yg mengelus-elus ini adalah Dika, mataku yg lentik pun mulai sayu merem melek merasakan nikmatnya usapan tanganku sendiri hingga tanpa kusadari jariku yg tadinya bermain di belahan memek, kumasukkan ke dalam bibirku.

Kuhisap telunjukku dan kukulum dgn mulutku yg mungil dan berbibir tipis, ada rasa lendir yg sedikit asin di lidahku hingga segera kuturunkan lagi jari-jariku ke bagian buah dadaku. Kali ini bukan lagi belaian yg kulakukan, tp aku sudah mulai melakukan remasan ke payudara ku.

Kupilin-pilin puting payudaraku dgn menggunakan ibu jari dan jari telunjukku. Nikmat sekali rasanya, terlebih saat tanganku yg satu lagi kuturunkan untuk mengelus-elus selangkanganku. Saat jari-jariku mengenai bibir-bibir memekku, aku pun merasakan darah yg mengalir di tubuhku seakan mengalir lebih cepat daripada biasanya.

Aku sudah terangsang sekali, liang memekku sudah sangat banjiri oleh lendir yg keluar dari dalam rahimku. Dapat kurasakan ada cairan lain di bibir memekku. Lalu jari-jariku kuarahkan ke klitorisku. Kutempelkan dan kugesek-gesek klitoris memekku dgn jariku sendiri hingga aku pun tak kuasa membendung gejolak dan hasratku yg semakin menggebu.

Badanku meliuk bagaikan penari erotis yg biasa kulihat di film blue, yg dulu sering ditonton suamiku untuk menaikan gairahnya, kukangkangkan pahaku dgn meletakkan kedua telapak kakiku di samping kiri dan kanan tempat aku berbaring. Jari tengah dan telunjuk tangan kiriku kupakai untuk menyibak bibir memekku sambil menggesek-geseknya.

Sementara jari tengah dan telunjuk tangan kananku aktif menggosok-gosok klitorisku sekujur tubuhku mulai mengkilat oleh keringat yg mulai mengalir keluar, dinginnya angin malam yg masuk dari lubang udara kamar tidurku seakan tdk mampu menembus kehangatan yg kurasakan.

Kualihkan jari tangan kananku ke arah lipatan memekku. Ujung jariku mengarah ke pintu masuk liang kenikmatanku, kusorongkan sedikit masuk ke dalam. Awalnya memang sedikit agak sulit masuk namun karena aku memang sudah benar-benar horny sehingga lubang memekku jg sudah benar-benar basah oleh lendir yg licin hingga berikutnya jari-jariku dgn mudahnya menyeruak masuk ke dalam liang memekku. Kini jari tangan kiriku sudah tdk perlu lagi menyingkap bibir kemaluanku lagi hingga kualihkan tugasnya untuk menggesek-gesek klitorisku.

Kukocokkan jari tangan kananku keluar masuk liang memekku.

Jari-jariku menyentuh dan menggesek-gesek dinding memekku bagian dalam, ujung-ujung jariku menyentuh benjolan sebesar ibu jari yg ada dan tumbuh di dalam liang memekku dan menghadap keluar.

Kuangkat sedikit benjolan tadi dari bawah dgn jariku dan kugesekkan bagian bawahnya, punggung dan kepalaku jadi terdorong menekan pembaringan, seakan hendak pingsan rasanya. Aku sudah benar-banar mencapai puncaknya untuk menuju klimaks saat ada sesuatu yg rasanya akan meledak keluar dari dalam rahimku, ini pertanda aku akan segera mencapai orgasme.

Gesekan jari tangan kiri di klitorisku makin kupercepat lagi, demikian pula kocokan jari tangan kanan dalam memekku pun makin kupercepat pula. Untuk menyongsong orgasmeku yg segera tiba, pantatku bergetar hebat, kurasakan kedutan bibir memekku yg tiba-tiba mengencang menjepit jari-jariku yg masih berada di dalam liang senggamaku.

Bersamaan dgn itu aku merasakan sesekali ada semburan dari dalam yg keluar membasahi dinding memekku. Aku serasa sedang kencing namun yg mengalir keluar lebih kental berlendir, itulah cairan cintaku yg mengalir deras.

Malam itu aku bermasturbasi sambil menghayalkan Dika yg menyetubuhiku, dan ketika semua selesai, terpikir suatu hal yg mengejutkanku, bahwa aku tdk merasa bersalah memikirkan bercinta dgn anakku hanya enam minggu setelah suamiku meninggal.

Keesokan harinya setelah mandi aku masih duduk tercenung sendiri diatas pembaringan sambil memikirkan apa yg telah terjadi tadi malam, berulangkali aku menanyakan pada diriku sendiri kenapa aku tdk merasa bersalah atas apa yg kulakukan tadi malam, tp hati ini tetap demikian adanya.

Lalu kupikirkan lagi analisa ku tadi malam atas pinangan Dika, satu-satunya yg memberatkan adalah aku harus bersetubuh denganya kalau aku menerima pinangannya karena aku pasti akan merasa bersalah, tp dgn apa yg telah kulakukan tadi malam, jelas perasaan bersalah itu tdk muncul.

Jadi apa lagi yg memberatkan, semua hal tampak sangat menguntungkan bagiku, karena itu aku segera mengambil keputusan dalam hatiku. Kubenahi pakaianku dan segera keluar dari kamar dan menemui ayahku. Sejenak aku tertegun ‘apa idak malu aku menanyakannya langsung?’ tanyaku dalam hati. Tp sebuah pikiran muncul dan sambil tersenyum aku melanjutkan langkahku menemui ayahku.

“Kalau ayah sudah menerima pinangan Dika, jadi kapan pernikahannya akan dilangsungkan?” kataku sambil menyiapkan makan pagi, aku berusaha bersikap tdk acuh saat bertanya begitu kepada ayah, kulakukan seolah semuanya hanya sambil lalu.

Dgn sudut mataku kulihat tiba-tiba wajah ayah menjadi cerah,

“aku senang mendengar akhirnya kau menyetujui rencana pernikahan itu anakku” katanya.
“Apa ada kemungkinan ayah bisa dibantah?” kataku sambil tetap bersikap acuh tdk acuh.

Sebagai ganti jawabannya ayah hanya tersenyum lebar,

“Ayah akan segera menemui guru pendeta di kuil, untuk memastikan tanggal pernikahanmu” kata ayah sambil mulai bersantap pagi.

Kami bersantap berdua karena Dika tdk kulihat batang hidungnya dan aku malu untuk bertanya kepada ayah. Selesai sarapan ayah langsung pergi “ayah kekuil dulu Yan” begitu pamitnya kepadaku.

Tengah hari ayah baru pulang, dan dia langsung berkata padaku

“Tadi aku telah menemui guru, dan dia bersedia menikahkanmu enam minggu lagi dari sekarang, tepatnya tanggal 1 Oktober, itulah hari yg bagus menurut pilihan Guru”.

Aku tersentak sedikit, dan diluar sadarku aku bertanya

“Begitu lama?”. “He…he…he… rupanya kau sudah tdk sabar ya Yan” goda ayah sambil tertawa.
“Bukan itu..” kataku terputus mengingat semakin banyak bicara maka mungkin akan semakin terlihat belangku, karena itu aku berusaha menampilkan sikap acuh tak acuh kembali.

Aku terus memperlihatkan sikap itu pada Dika, aku tdk mau Dika merasa menang karena dia sudah tahu ahirnya aku menyetujui pernikahan kami dan bahkan tanggal pernikahannya telah ditetapkan.

Sengaja aku terus memberi kesan kepada Dika, bahwa aku sebenarnya enggan, dan kalau aku menyetujuinya maka itu adalah suatu hal yg terpaksa karena desakan ayahku, yg jg merupakan kakeknya.

Tp jauh didalam hatiku, aku merasa seperti gadis perawan lagi yg akan menikah untuk pertama kalinya, bahkan ada kebahagian lebih dalam diri ini dibanding seorang perawan yg akan menikah, karena aku sadar bahwa yg akan menjadi suamiku adalah seorang pria muda yg sangat tampan, yg keluar dari rahimku dua puluh tiga tahun lalu, tepatnya anak kandungku sendiri.

Sejak saat ayah menetapkan tanggal pernikahan, aku memutuskan untuk mulai menggoda Dika, karena itu saat kami bersantap malam bersama, sengaja kugunakan baju daster yg rendah potongan dadanya, saat makan kurasakan seringnya Dika mencuri lihat pada dadaku, diam-diam aku tersenyum dalam hati, rupanya Dika memang benar-benar tertarik padaku, bukan hanya sekedar sikap pura-pura.

Selesai makan malam, Dika mengajakku keluar esok harinya, barangkali ini adalah kencan pertama kami. Dgn sikap sedikit enggan aku menyetujuinya, padahal dalam hati aku sudah punya rencana untuk mulai menggodanya dgn bersikap sebagai teman wanita dan bukan ibunya, sekaligus untuk mengajuk isi hati Dika yg sebenarnya.

Pagi hari yg kutunggu ahirnya tiba setelah tadi malam aku sedikit resah memikirkan rencana yg akan kulakukan untuk menggoda Dika, kupakai baju yg ketat membalut tubuhku, dgn belahan dada yg rendah, sehingga pangkal buah dadaku terlihat, menyajikan awal bukit kembar yg membusung, mengapit lembah ditengahnya.

Dika terlihat menatap belahan buah dadaku dgn mata nanar sambil menelan ludah, saat dia bertanya apakah aku sudah siap, kuanggukkan kepala dan kamipun berangkat dgn menggunakan bus menuju tempat wisata, sebuah pantai yg cukup indah.

Disana kami bermain persis seperti sepasang remaja yg tengah mekar, bermain ombak, saling sembur dgn air, berlari dipantai sambil tertawa dan lainnya. Aku benar-benar mencoba tdk bersikap seperti seorang ibu kepadanya, tp tingkahku lebih mirip teman wanitanya.

Puas bermain air kami melanjutkan perjalanan ke sebuah kota besar, siang itu kami bersantap disebuah restauran terkenal, lalu berbelanja disebuah butik. Dika memaksaku untuk belanja baju-baju bermerk yg selama ini tdk pernah terbeli oleh ku. Dipilihkannya baju-baju yg seksi dan menonjolkan keindahan tubuhku. Dika bahkan membelikan dua baju bikini karena aku sempat berkata kepadanya bahwa aku tdk punya punya bikini untuk berenang saat dipantai tadi. Sudah tentu bikini yg seksi.

Menjelang gelap kami baru selesai belanja, dgn bergandgn tangan dia mengajakku masuk sebuah restauran dan kami bersantap dgn hanya diterangi cahaya lilin serta diringi musik klasik. Kami bersantap sambil berbincang kian kemari, sementara tangannya acap kali memegang tanganku dan meremasnya pelan-pelan.

Aku benar-benar terbuai dgn sikapnya, perasaanku melambung tinggi kelangit ketujuh, sebuah gelora yg hangat melanda hatiku dan nyaris menenggelamkan akal warasku. Sikap Dikalah yg menyebabkan semua itu, kemesraan dan keromantisannya kepadaku begitu menyanjungku.

Ini adalah suatu hal yg tdk pernah kudapatkan dari suamiku sejak awal pernikahan kami sampai saatnya dia meninggal. Sebuah perasaan asing tp begitu menggelora melanda hatiku, dan membuat aku yg tadinya berpura-pura berlaku seperti teman wanitanya, menjadi benar-benar hanyut dan kehilangan naluri keibuanku, aku kehilangan bentuk pura-pura tp berubah menjadi kenyataan. Aku bahkan berharap benar-benar dia tdk lahir dari rahimku.

Selesai makan aku berkata kepadanya

“Sudah malam Dik! Kita pulang yuk” ajakku kepadanya,
“Sebentar bu, tadi kulihat ada film yg bagus, kita nonton dulu ya” jawab Dika sambil meremas pelan jemariku dan menatapku dgn mesra, aku sedikit tersipu melihat tatapannya, dan hanya bisa mengangguk menyetujui ajakannya.

Kami kemudian menonton film, sebuah film drama yg banyak adegan mesranya, tempat kami duduk dibelakang, dan tdk banyak penonton yg datang, mungkin karena harga tiketnya yg cukup tinggi. Atau karena ini merupakan pertengahan bulan, sehingga orang-orang sudah mulai berhemat seperti jg aku dulu? Entahlah, tp yg pasti dalam gedung pertunjukkan suasananya cukup sepi.

Saat film berjalan, kulihat Dika melingkarkan tangannya dibahuku, dan aku membiarkannya, ‘mungkin tangannya pegal karena membawa barang belanjaan kami sejak tadi’ pikirku, dan bahkan tanpa sadar, badanku jadi sedikit doyong kearah tubuhnya.

Berikutnya perhatianku mulai terampas dari adegan romantis dan mesra difilm, karena kurasakan tangan Dika mulai menangkup buah dadaku yg sebelah kiri. Terus terang aku bingung apakah ini suatu hal yg disengaja atau tdk, tp yg jelas dadaku mulai bergemuruh, perasaan hangat yg menggelora muncul dgn tiba-tiba.

Perhatianku dari film benar-benar teralih waktu kurasakan tangan Dika meremas pelan buah dadaku, pelan sekali caranya meremas bahkan boleh dibilang setengah mengelus, gairah nafsu kembali muncul dgn kuatnya dalam hatiku, kurasakan memekku mulai terasa gatal dan basah. Sejenak aku terdiam sambil terus berpura-pura menonton. Sementara dalam hatiku berperang antara naluri keibuanku dgn naluri kewanitaanku, yg telah lama tdk merasakan kehangatan laki-laki.

Kubiarkan beberapa saat tangan Dika yg nakal meremas buah dadaku, tp saat tangannya mencoba menerobos masuk lewat bagian atas bajuku, segera kupegang tangannya, tp aku tdk menepiskan atau menjauhkannya dari buah dadaku. Aku hanya memegangnya agar dia tdk memasukkan tangannya kedalam belahan bajuku dan tdk meremas buah dadaku lagi.

Udara didalam gedung pertunjukkan yg tadinya dingin karena semburan air conditioner ditubuhku terasa mulai terasa menghangat karena gejolak didalam diriku, tenggorokan ku terasa kering, aku melepaskan pegangan tanganku untuk mengambil gelas minuman yg ada dalam pangkuanku.

Dika mempergunakan kesempatan itu untuk meremas kembali buah dadaku, dan aku membiarkannya sambil pura-pura asik menyedot minuman, tp saat tangannya kembali ingin masuk kedalam baju, cepat-cepat kupegang kembali tangannya yg nakal itu.

Aku benar-benar sudah tdk memperhatikan film lagi aku bahkan tdk tahu bagaimana jalan ceritanya, yg kurasakan adalah tubuhku yg semakin memanas, dan kehangatan liar menjalar didalam tubuhku, seperti sejuta aliran listrik menyelusuri tubuhku terutama dicelah selangkanganku. Kehangatan yg nikmat dan menyebabkan nafasku terasa sesak, tubuhku bergetar dan sekaligus menyebabkan memek ku semakin basah.

Byar… tiba-tiba lampu di gedung pertunjukkan menyala, dgn cepat aku menepiskan tangan Dika dari dadaku, jantungku berdentang dgn cepat mataku liar mengelilingi seluruh ruangan, takut dan malu kalau ada yg menyaksikan ulah Dika padaku.

Tp semuanya tampak aman, penonton perlahan mulai bubar dan berjalan dilorong sebelahku. Akupun bangkit berdiri sekilas kulihat selangkangan Dika menonjol keluar, aku segera berpaling sambil tersipu, dan tdk berani memandang lagi.

Kami saling berdiam diri saat keluar dari gedung pertunjukkan, aku berjalan didepan menuju terminal bus dan Dika mengikuti dibelakangku. Sambil berjalan perasaanku diaduk rasa malu, takut, menyesal tp jg sekaligus bergairah, tp ahirnya naluri kewanitaanku yg menang, konon lagi aku jg tdk merasa bersalah.

Itu sebabnya saat melewati toko herbal yg menjual macam-macam jamu dan ramuan dan dekat dgn tertminal, aku berhenti “belilah tiket bus, aku menunggu disini” kataku pada Dika. Dika mengangguk dan berjalan meninggalkan aku. Kutunggu sejenak setelah Dika agak jauh, aku segera masuk kedalam toko itu.

Kuingat cerita ibu-ibu saat arisan dulu, bahwa seorang perempuan yg makan ramuan tertentu akan menyebabkan memeknya seret, serta mengempot keras bak gadis perawan. Aku bahkan pernah sekali mempraktekkannya, dan hasilnya ayah Dika langsung knock out saat memasuki diriku,

“Duh Yan memekmu betul-betul seret dan meremasku dgn kuat, hingga aku tdk tahan merasakannya” begitu keluh suamiku saat itu. Padahal aku hanya mencobanya sekali.

Kuhitung jarak hari pernikahan kami, lalu kupesan paket ramuan untuk dua bulan lamanya dan dgn cepat membayarnya, kusembunyikan belanjaanku ini diantara tumpukan baju yg Dika belikan untukku. Untunglah saat semuanya selesai Dika baru datang, sehingga dia tdk tahu ulahku.

Mari Bu, tiketnya sudah ada dan busnya akan berangkat lima menit lagi kata Dika sambil mengambil barang belanjaan kami, aku mengikutinya dan naik kedalam bus. Tdk lama kemudian bus mulai berjalan menyusuri gelap malam. Setelah keluar dari kota lampu dalam bus dimatikan, sehingga keadaan dalam bus remang-remang.

Kulirik jam tangan yg dipakai Dika, ternyata sudah hampir jam sepuluh, sebagian besar penumpang mulai memejamkan mata mengingat perjalanan akan memakan waktu hampir tiga jam.

Akupun bersandar didinding bus sambil memperhatikan jendela, melihat gelapnya malam yg sekali-sekali diterangi lampu kendaraan dari arah yg berlawanan. Benakku dipenuhi kenangan dari yg kami lakukan sepanjang hari tadi. Rupanya karena lelah, tanpa terasa mataku terpejam dan tertidurlah aku.

Entah berapa lama aku tertidur, yg jelas aku terbangun oleh benturan kepalaku dgn dinding bus, aku tersentak kaget mataku meliar memperhatikan sekitar, tp rupanya para penumpang bus hampir seluruhnya tertidur. Mereka hanya sejenak terbangun oleh guncangan bus yg melintasi lubang dijalan, tp kemudian tertidur lagi.

“Jam berapa sekarang” tanyaku pada Dika, suaraku bergetar, dan tubuhku sedikit menggigil oleh dinginnya air conditioner dalam bus.
“Jam sebelas seperempat” sahut Dika yg masih terjaga.
“Ibu kedinginan?” tanyanya sambil melepas jaket yg dipakainya. Aku mengangguk, sambil merapat pada tubuhnya.

Dika menutupkan jaketnya pada bagian depan tubuhku,

“tidur lagi saja, masih lama kok perjalanannya” desisnya sambil menarik tubuhku sehingga aku menyender pada tubuhnya.

Aku mengangguk sambil mulai memejamkan mataku kembali, dan membiarkan Dika melingkarkan tangannya di bahuku.

Aku kembali terlena entah berapa lamanya sampai kurasakan ada tangan yg meremas lembut buah dadaku yg kanan. Aku terbangun tp sebuah pesona seperti yg kualami di dalam gedung pertunjukkan kembali melanda diriku.

Sebuah aliran hangat menjelajah liar didalam tubuhku, terutama diselangkanganku dan menyebabkan memekku kembali basah, puting susuku yg dielus Dika dari luar bajuku terasa mengeras. Kembali naluri keibuanku dan naluri kewanitaanku berperang, tp hanya sebentar, dgn hasil naluri kewanitaanku yg tampil sebagai pemenang.

Sambil tetap berpura-pura tidur, kubiarkan dan bahkan kunikmati remasan lembut tangan Dika dibuah dadaku, aksinya ini tertutup jaket yg menutup tubuh bagian depanku. Jantungku berdetak dgn cepat dan napasku mulai terasa memburu, tp kucoba tetap menenangkan napasku agar tampak tetap seperti orang yg tidur.

Kurasakan tanganku yg terdampar di paha Dika dekat selangkangan menyentuh benda yg menonjol dan keras, tp kubiarkan saja karena semuanya membuat aku semakin dilanda gelora napsu kewanitaanku.

Ketika kurasakan tangan nakal itu mencoba memasuki bajuku dari belahan dadaku, tanpa terasa aku menggeliat. Dan tangan itu langsung diam, tp karena aku tetap berpura-pura tidur, tak lama kemudian tangan itu meneruskan aksinya dan mulai memasuki bajuku, lalu kurasakan tangan itu meremas kembali buah dadaku diluar BH ku dan mengelus putingnya yg semakin mengeras.

Ingin aku melenguh melontarkan gelora perasaanku yg semakin menyesakan napas. Tp kutahan sedapat mungkin. Aku tetap berpura pura tidur.

Dan ahirnya kurasakan tangan itu mulai masuk kedalam BH ku, kini kurasakan tangan nya yg panas menangkup buah dadaku tanpa ada penghalang lagi, tangan itu mulai meremas-remas dgn lembut buah dadaku, diselingi dgn mengelus-elus putingnya yg tegak mengeras.

Tak tahan lagi aku melenguh sambil sedikit tergeliat, tp kusamarkan semua itu seolah-olah gerakan orang tidur saja, tp akibat pergerakkan itu tanpa sadar pergelangan tanganku jadi menyentuh batang keras yg menonjol diselangkangan Dika.

Kini giliran Dika yg tergeliat sambil menggeram pelan “ehm..”, tangannya meremas agak kuat buah dadaku, tp kembali dia mengelus dan meremas lembut buah dada ku yg diselingi dgn mengelus dan menjepi putingnya dgn jari tangannya.

Akal warasku semakin hilang, kuikuti guncangan bus dgn menyentuh batang keras dan menonjol diselangkangannya, dgn pergelangan tanganku. Kudengar napas Dika menjadi semakin berat dan memburu, seperti baru berolah raga berat.

Aku baru tersentak saat kudengar penumpang didepanku berkata pada penumpang disebelahnya,

“Ugh… nyenyak sekali tidurku, sudah sampai mana kita?”. Lalu kudengar jawaban dgn suara setengah tidur,
“entah aku jg tdk tahu”.

Hawatir penumpang didepan membalikkan badannya dan menemukan aksi Dika akupun menggeliat seperti orang yg mau bangun tidur. Kurasakan tangan Dika cepat keluar dari bajuku, dan seolah tdk terjadi apa-apa tangan itu menclok di bahuku.

“ehm… ugh… nyenyak sekali tidurku, jam berapa sekarang” tanyaku meniru ulah penumpang didepanku,
“lewat tengah malam, sebentar lagi kita sampai” jawab Dika hampir berbisik.

Pergerakkan bangunku rupanya menyebabkan telapak tanganku hampi menyentuh batang keras diselangkangannya yg masih saja keras, taipi sengaja kubiarkan seakan-akan aku tdk sadar.

Kuperhatikan penumpang didepanku, ternyata mereka kembali tertidur,

“aku ingin mengajak ibu rekreasi lagi” kudengar Dika berbisik ditelingaku.
“Ih… baru saja mau pulang sudah mengajak main lagi, belum puas ya mainnya” jawabku dgn suara pelan.

“Kudengar tempat wisata *********** sangat indah panoramanya, bagaimana kalau kita main kesana” ajak Dika kepadaku, “tempat wisata sih banyak yg indah, kau sich lebih memilih tinggal di Amerika, padahal di tanah air ini banyak sekali tempat yg indah, tak terhitung malah” jawabku.

“Kapan kau akan kembali ke Amerika dan meninggalkanku?’ tanyaku sambil mengajuk hatinya.
“Aku tdk akan pernah meninggalkan ibu… tdk sama sekali, kemanapun aku pergi ibu harus ikut” jawabnya tegas. “Kenapa harus? Tdk malu memang kamu selalu membawa perempuan tua seperti aku?” kembali aku mengajuk hatinya.

Dika menggerakkan tangannnya yg memegang bahuku, sehingga aku berpaling kepadanya.

“Kenapa… karena aku mencintai ibu, dan jangan membuat aku tertawa, ibu tdk terlihat tua tp masih seperti gadis diusia dua puluhan… aku berkata sungguh-sungguh” katanya sambil menatapku.
“Aku mencintai ibu” desisnya,
“sungguh…” katanya lagi sambil tiba-tiba mencium pipiku, mula-mula pipi kiri lalu pipi kanan.
“aku akan membuktikannya…” katanya dan tiba-tiba saja bibirnya telah menyentuh bibirku lalu mengulumnya.

Aku tersentak dan terlena, tanpa sadar tanganku jadi mencengkram batang keras diselangkangan Dika. Kurasakan Dika terus mengulum bibirku, dan lidahnya terasa menerjang gigiku mencari jalan masuk. Lidah itu begitu gigih mencari jalan masuk, sampai ahirnya aku menyerah dan membuka sedikit mulutku.

Kini sepasang lidah jadi bergumul, bertukar air liur, cukup lama kami berciuman sampai ahirnya kami terlepas dgn napas yg terengah-engah, tp hanya sebentar saja bibir kami terlepas, hanya cukup untuk menarik napas, selanjutnya kami kembali berciuman.

Sampai ahirnya pikiran warasku kembali, dgn tersentak aku melepaskan diri sambil mendorong badannya, saat itu aku baru sadar kalau dari tadi tanganku meremas batang kemaluannya.

Aku menarik diri dan bersandar ke dinding bus sambil melihat keluar jendela. Sampai ahirnya kami tiba dikota tempat kami tinggal, tdk sepatah katapun kami berbicara. Malam itu tak tertahankan lagi kembali aku melakukan masturbasi, aku berusaha memuaskan diri dgn jari-jari tanganku, sampai ahirnya keluhan tertahan keluar dari mulutku saat aku mengalami orgasme

“aaakhhh…”.

Besoknya akupun mengurung diri didalam kamar, dan hanya keluar saat harus menyiapkan makan. Ada rasa sesal dalam hati kenapa aku terlalu cepat hanyut sehingga melupakan niatku untuk berpura-pura terpaksa menikah denganya.

Hari itu aku sama sekali tdk berbicara kepada Dika, sampai saatnya makan malam tiba.

“Bagaimana kalau besok kita ke kota *********** untuk menyambangi beberapa kerabat kita” ajak ayah membuka kebisuan kami.
“Boleh saja kalau itu yg dikehendaki” kudengar Dika menjawab ajakan ayah.
“Bagaimana kamu Yan?” tanya ayah padaku,
“kesana tdk ada bus” jawabku pendek. Ayah mengerutkan keningnya sambil berpaling pada Dika
“Bagaimana Dik?” tanyanya.
“Kita bisa menyewa kendaraan kalau mau toh tdk harus pakai bus bukan?” jawab Dika sambil tersenyum.

Jadilah besoknya kami pergi memakai kendaraan sewaan, sepanjang jalan dan selama dirumah kerabat kami, aku sadar Dika selalu memperhatikan segala tingkah lakuku dgn tajamnya. Hanya saat dia harus berbicara dgn ayah dan beberapa kerabat saja dia tampak serius, dan tdk sempat memperhatikanku. Tp itu hanya dalam waktu yg pendek.

Saat itulah giliranku yg memperhatikannya, karena itu aku tahu sewaktu Dika mengeluarkan check dan menulis disana yg kemudian diberikan kepada kerabat-kerabat itu. Aku sendiri tdk tahu apa yg mereka bicarakan, karena mereka berbicara dgn suara perlahan.

Yg pasti saat kami pamitan pulang, kurasakan beberapa kerabat tersenyum dgn cara yg menggelitik hatiku meskipun aku tdk tahu maknanya. Diperjalanan pulang Dika menerima telephon di HP nya, beberapa saat dia bicara sambil tertawa dan kudengar dia menyggupi sesuatu.

Selesai menerima telephon Dika berkata padaku,

“Bu kawanku di Universitas rupanya ada yg tahu aku lagi disini dan dia mengundangku untuk makan malam besok, ibu bersedia ikut dgnku? Tanyanya padaku.
“Siapa orang itu?” tanyaku pendek.
“Linda teman di universitas dulu” jawab Dika.

Entah kenapa tiba-tiba saja aku dilanda rasa cemburu, karena teman gadisnya mengundang Dika makan malam, karena itu setelah terdiam sejenak, aku menganggukkan kepala tanda menyetujui ajakannya.

Besoknya aku pergi dgn Dika mengendarai mobil sewaan yg sama dgn yg kemarin. Sengaja kukenakan gaun yg baru dibelikan Dika kemarin, sebuah gaun dgn punggung terbuka, dan belahan sisi yg hampir sampai di pertengahan paha.

Kulihat Dika menatapku dgn kagum melihat penampilanku, dan sepanjang perjalanan matanya terus menerus melirik kearah pahaku, yg memang sering tersingkap karena belahannya yg sampai pertengahan paha.

Cukup jauh jg perjalanannya, tp menjelang senja kami tiba jg di tujuan. Tdk ada yg istimewa dgn makan malamnya, selain tangan Dika yg kadang-kadang singgah dipahaku meskipun tdk terang-terangan.

Kecurigaan dan kecemburuanku jg tdk beralasan, karena Linda menyambut kami dgn suaminya, dan aku tdk perlu hawatir sama sekali, karena meskipun Linda jauh lebih muda dariku, tp aku merasa aku jauh lebih cantik darinya. Bahkan seringkali kutangkap mata suaminya yg memandangku dgn pandangan kagum.

Tp akibat dari perjalanan itu kebekuan antara Dika dan aku mulai mencair, aku mulai membalas percakapan yg dilontarkan olehnya sepanjang jalan pulang, dan malam itu Dika benar-benar berlaku galant kepadaku, seolah-olah aku ini seorang putri.

Karena itu aku tdk menolak ajakannya untuk pergi berwisata besoknya, kesebuah pantai. Pantai yg dipilih merupakan rekomendasi Linda, “sangat indah tp masih sepi pengunjung” begitu rekomendasinya.

Besok paginya pikiran jail kembali mengusikku, aku kembali ingin menggoda Dika, karena itu kubawa bikini yg dibeli Dika, dan aku berniat untuk berenang dipantai, agar aku bisa memamerkan tubuh indahku, dgn janji pada diri sendiri bahwa aku tdk boleh terbuai suasana, aku ingin melihat Dika belingsatan melihatku.

Dan dipantai itu aku menjalankan rencanaku, setelah ganti baju dgn bikini, aku berjemur sambil berbaring dipantai beralaskan tikar dan berpayungkan payung raksasa yg bisa disewa, kebetulan matahari tertutup awan jadi udara tdk terlalu panas meskipun kami sampai disana menjelang tengah hari. Kupejamkan mata seakan tidur, tp dibalik bulu mataku aku mengintip solah Dika yg duduk disampingku, tampak olehku mata Dika seakan melotot melihat seluruh pahaku yg terbuka sampai pangkal paha. Sementara selangkangannya tampak menonjol mkeras karena dia hanya memakai celana renang.

Beberapa lama dia bersikap demikian lalu setelah mengedarkan matanya melihat pantai yg relatif sepi dia berkata

“Bu… kurasa lebih baik ibu memakai krim tabir surya” tawarnya padaku.

Dgn tingkah menggiurkan kubuka mataku, aku tahu Dika tengah mencari-cari alasan untuk bisa menyentuh tubuhku, karenanya kujawab

“Enggak usah mataharinya enggak terik kok, lagian aku mau berenang sekarang” kataku sambil bangkit dan berlari dan masuk kedalam air.

Dika ikut berlari dan menyusul aku masuk kedalam air, diair kurasakan Dika selalu berusaha mendekatiku, tp akulah yg selalu menjauh sambil tertawa menyemburkan air kearahnya. Terus terang melihat tubuhnya yg atletis dan tonjolan di selangkangannya, sebenarnya telah membuat gairah birahiku naik, apalagi meskipun aku selalu berusaha mengelak, toh tetap saja pada beberapa kesempatan tuh kami sempat bersentuhan. Tp aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan semua itu agar permainanku berhasil.

Sampai ahirnya aku mengajak berganti baju dan pulang Dika tdk berhasil menyentuh tubuhku, tp kulihat selangkangannya tetap menonjol meskipun kami lama bermain di air. Bahkan sampai saatnya kami pulang tonjolan itu masih tampak, tanda batang yg ada didalamnya masih keras.

‘Ya Tuhan apakah batang itu tdk pernah layu’ pikirku dgn darah berdesir keras karena saat sampai kerumahpun kulihat tonjolan itu tdk sekalipun mengecil. Pikiran itu benar-benar menggodaku dan membuat aku yg tengah menggoda Dika nyaris terseret kembali kedalam buaian gairah birahi.

Malam itu kulewatkan dgn gelisah, aku benar-benar terbakar napsu birahi, tp aku mencoba untuk bertahan, karena itu aku tdk bisa tidur, menjelang tengah malam aku yg masih terjaga kebelet pingin pipis, dgn perlahan aku keluar dari kamarku dan menuju kamar mandi.

Saat lewat kamar Dika telingaku sempat mendengar keluhannya, kupikir Dika pasti tidurnya gelisah, tp semua berubah saat aku kembali dari kamar mandi, kudengar Dika mengerang

“Yan….okh…Yan …nikmat sekali…”.

Aku tersentak, dgn hati-hati aku mengintip kekamarnya, untunglah kamar itu tdk tertutup rapat, karena nya kudorong pintunya dgn pelan-pelan dan hati-hati. Dan… kontan napasku serasa terhenti melihat pemandangan yg ada.

Kulihat Dika berbaring terlentang di tempat tidur, matanya terpejam dan mulutnya menceracau menyebut-nyebut namaku, tp yg membuat mataku terbelak adalah bagian tubuh bawahnya yg bugil terlihat batang kemaluannya yg besar dan panjang tengah dikocoknya dgn keras menggunakan tangannya.

Dika tengah bermasturbasi, itu aku tahu tp ya Tuhan betapa besar dan panjangnya batang k0ntolnya, jauh lebih besar dan lebih panjang dari yg dimiliki ayahnya, kututup mulutku dgn tanganku menahan pekikan yg akan keluar.

“Aakkhhh…. aku tdk tahan Yan…” dan crreet… creeet… tiba-tiba batang itu mengeluarkan cairan putih, rupanya Dika mengalami orgasme, tp yg membuat aku semakin terpana adalah betapa kerasnya cairan itu menembak, sampai tinggi sekali hampir menyentuh atap internit kamarnya, sebagian yg mengarah kesamping saat Dika menekuk batang k0ntolnya, nyaris mengenai daun pintu tempat aku mengintip.

Aku segera berlalu menuju kamarku ketika kulihat Dika mau membuka matanya. Kali ini aku tdk mampu bertahan, aku pun bermasturbasi dgn mengesek-gesek klitorisku, aku tdk bisa memasukkan jariku kedalam lubang nikmatku, karena hawatir melunturkan khasiat ramuan yg kuminum.

Tp meskipun begitu orgasme itu kudapatkan dgn cepat sekali dan sangat nikmat, mungkin paduan antara gairah birahi yg sejak tadi kutahan dgn hayalan batang k0ntol Dika yg besar dan panjang memasuki lubuk nikmatku yg membuat aku begitu cepat menggapai orgasme yg sangat nikmat sampai badanku bergetar-getar menahan kenikmatannya,

“Oookkhhh…. Dikaiiii…. akhh…” lenguhku saat aku mengalami orgasme tersebut.

Lalu akupun tergolek dgn lunglainya, dan langsung tertidur sampai esok harinya. Aku bangun agak kesiangan, untunglah masih belum siang benar, kudengar ayah keluar rumah seperti biasa menjelang matahari terbit untuk berjalan-jalan. Biasanya saat ayah keluar rumah aku sudah mandi dan tengah menyiapkan makanan di dapur.

Sejenak aku terdiam memikirkan rencana hari ini, diam-diam kuintip kamar Dika, masih tertutup rapat, aku tersenyum sendiri memikirkan rencanaku. Sengaja aku membuat suara gaduh saat lewat pintu kamarnya menuju kamar mandi.

Sambil mandi aku mempertajam pendengaranku, kudengar suara pintu dibuka, ‘pasti Dika terbangun’ pikirku sambil tersenyum sendiri. Sengaja aku sedikit berlama-lama dikamar mandi. Tdk seperti biasanya kalau selesai mandi aku sudah mengenakan sebagian besar bajuku, kali ini aku hanya melilitkan handuk besar yg menutupi pertengahan buah dada sampai pertengahan paha

Dgn berharap agar timingnya tepat agar rencanaku berhasil aku membuka pintu kamar mandi, dan hatiku bersorak melihat Dika tengah berdiri hanya dgn handuk melilit tubuhnya dari pinggang kebawah.

“Oh… kau… mau mandi? Sok aku sudah selesai kataku acuh tak acuh, dgn sudut mataku kulihat mata Dika terbelak melihat tubuhku, dan ya ampun… bagian handuk di selangkangannya tiba-tiba terdorong keluar nyaris handuk itu lepas kalau tangan Dika tdk cepat memegangi ujungnya yg melilit pinggang.

Keadaan itu memberi ide lanjutan untukku, karena itu akupun segera berpura-pura terpeleset hingga lilitan handuk yg memmang tdk kuat itu terbuka membuat tubuh telanjangku terlihat olehnya meskipun hanya sekejap, karena aku segera membenahi handuk itu.

Kulihat napas Dika tiba-tiba memburu, dan dia langsung masuk gang yg menuju kamar mandi, ‘mundur dulu aku mau lewat” kataku, karena gang itu hanya pas untuk satu orang. “Silahkan lewat” katanya sambil tersenyum nakal dia berdiri menyamping hingga batang k0ntolnya terlihat semakin panjang dilihat dari sisi kiri tubuhnya.

Aku kini melayani kenakalannya aku pun lewat sambil memiringkan tubuhku sehingga kami berhadapan dgn rapatnya, karena dibatasi gang yg sempit.

Tepat sebelum aku sampai dihadapannya kulihat Dika menekuk kakinya hingga tubuhnya yg jangkung menjadi sama tingginya dgnku, akibatnya batang k0ntolnya yg tegak dgn perkasanya kurasakan langsung menyentuh memekku. Meskipun terhalang oleh dua lapis handuk, tetap saja membuat tubuh kami sama-sama gemetaran.

Lalu dia menegakkan kakinya akibatnya batang keras itu terasa menggesek memekku, dan membuat napas kami sampai tertahan didada.

“Habis keramas yah?” katanya seperti sambil lalu sambil memandang dadaku yg sekarang berhimpitan dgn bagian bawah dadanya.

Aku sendiri tdk mau kalah, karenanya aku berkata

“iya… kamu jg harus mandi yg bersih biar kotoran dipantai kemarin hilang” jawabku seolah tak acuh, tp pantatku diam-diam kugoyangkan kekiri dan kekanan, terasa alat vital kami kembali bergesekan, kututupi gerakan pantatku itu dgn sikap mau melangkah pergi.

Desah napasnya tiba-tiba mengeras kurasakan dia mau memelukku, karenanya aku segera meloloskan diri dan berjalan kekamarku, dan seolah tak sengaja, tanganku menyentuh batang kemaluannya dari balik handuk.

Semuanya kulakukan dgn cepat sehingga dia tdk sempat merengkuhku,

“itu apa enggak pegal?” tanyaku tdk keruan sambil melangkah cepat-cepat menuju kamarku.

Menjelang masuk kamar, kulirik Dika tampak wajahnya menapilkan raut kecewa. Aku melemparkan senyum padanya dan masuk kedalam kamarku.

Sejak hari itu aku semakin berani menggoda Dika, kulakukan semuanya dgn cara seperti tdk sengaja, seperti memakai pakaian yg longgar dgn belahan dada rendah lalu membungkuk didepannya saat memberikan cangkir kopi atau justru saat mengambil sesuatu dari depannya. Ini adalah taktik yg paling sering kulakukan.

Atau memakai pakaian transparant sehingga tubuhku membayang di timpa cahaya. Dua tiga kali aku seolah-olah lupa menutup pintu kamar saat berganti baju, dan dia ada didekat situ. Macam-macam cara yg kulakukan untuk menggodanya.

Dika pun membalas, seringkali dia menggesekkan batang kemaluannya yg tegang pada bagian-bagian tubuhku, pinggulku, pantatku, dan kini aku sadar Dika selalu mencari kesempatan bertindak seperti insiden di dekat kamar mandi, begitu aku menyebutnya, tp aku tdk memberi kesempatan lagi padanya.

Hari-hari kami lalui dgn saling menggoda seperti itu, berulang kali Dika mengajakku kencan, tp selalu kutolak, sampai ahirnya suatu hari dia menawariku kekota besar untuk perawatan tubuh dan wajah, aku yg memang sudah lama tdk mendapat perawatan wajah dan tubuh ahirnya menyetujuinya.

Dipusat perawatan tubuh dan wajah, aku benar-benar dimanjakan sekali, beragam jenis perawatan kujalani, termasuk berendam dalam bak dgn aromatherapy, sampai dgn pijat urut, tak heran setelah selesai semua, aku sendiri merasa terkejut dgn hasilnya, karena bukan saja seluruh badanku terasa segar, tp wajahku terlihat cerlang gemilang, semakin menonjolkan kecantikan ku, kulitku tampak bersinar.

Kunikmati pandangan dan siulan kagum Dika, kulihat gairahnya naik dgn cepatnya, aku tahu yg dia inginkan, karena itu aku menolak ajakan dia ketempat-tempat lainnya, agar aku tdk terlena oleh oleh gairah cintanya.

Dgn kecewa ahirnya Dika terpaksa menuruti keinginanku untuk pulang. Tp dirumah kucoba sedikit mengobati kekecewaannya, saat mau masuk rumah aku berbalik dan dgn cepat bibirku mengecup bibirnya sambil mengatakan rasa terima kasihku.

Dika sedikit terpana dia berusaha merengkuhku, tp aku sudah membuka pintu dan menghambur masuk, ahirnya dia tertegun dan memandangi langkahku, menjelang naik tangga menuju kamarku, aku berbalik sambil tersenyum manis kepadanya,

“kok masih berdiri disitu? Nunggu apa?” godaku sambil kembali tersenyum semanis mungkin.

Tp akibatnya sejak itu setiap dia mau pergi keluar selalu dia pamit padaku, dan jika orang lain pamit kepada ibunya dgn mencium tangan, maka Dika selalu mengecup bibirku meskipun hanya sekilas, karena aku selalu mengelak tindakannya yg lebih jauh.

Begitu jg kalau dia baru datang, hal yg sama selalu dilakukannya. Sudah tentu dia mencari kesempatan dibelakang ayahku. Tp itulah yg selalu dilakukannya.Waktu berjalan dgn cepat seminggu sebelum pernikahanku, Dika bilang akan membalas mengundang Linda dan suaminya untuk makan malam, kukatakan padanya kondisi rumah tdk memungkinkan untuk itu, tp dia menjawab jamuan makan malam akan dilakukan direstaurant. Jadi hanya aku saja yg diperlukan untuk mendampinginya.

Untuk jamuan makan malam itu kembali kugunakan sebuah gaun yg tak kalah seksinya dgn yg terdahulu, gaun yg dibelikan Dika jg, sebuah gaun mini, yg akan memperlihatkan pahaku.

Diperjalanan menuju kota besar tempat dia akan menjamu, kulihat setiap kali Dika selalu melirik pahaku, dan itu menimbulkan getar gairah tersendiri kepadaku. Ditempat jamuan makan malam Dika duduk disebelah kananku sedang di depanku duduk Linda.

Saat makan malam berlangsung tangan kiri Dika tiba-tiba kurasakan hinggap di pahaku, mengelus-elus pahaku, sambil dia tetap melakukan makan malamnya dan berbincang baik dgn Linda dan suaminya. Aku tersentak, tak pernah terpikirkan olehku kalau Dika akan senekad itu.

Hawatir tingkah Dika akan diketahui Linda, mau tdk mau aku terpaksa membiarkannya, tp elusan tangan Dika semakin naik dan semakin naik hingga hampir sampai di pangkal pahaku, menimbulkan rangsangan birahi ditubuhku.

Gairah yg membuncah seperti biasa membuat memekku basah, dan aku duduk dgn resahnya, makan malampun sudah tdk bisa kunikmati. Tp aku harus tetap duduk, dan berpura-pura tdk terjadi apa-apa, ikut berkelakar dan tertawa bersama.

Ketika kurasa tangan Dika mulai mengelus selangkanganku, aku segera bangkit dgn berpura-pura mau ke toilet, dan aku memang pergi ke toilet, dikamar mandi itulah aku harus masturbasi untuk meredakan napsu birahi yg sudah sangat memuncak akibat elusan tangan Dika di paha dan memekku.

Kembali jariku mempermainkan klitorisku, untunglah karena terangsang sejak tadi maka aku tdk lama kemudian aku meraih orgasmeku. Kututup mulutku rapat-rapat agar tdk menimbulkan suara, hanya dengus napasku yg terdengar, sementara jauh dalam lubuk hatiku aku meneriakan nama Dika.

Diperjalanan pulang kembali Dika berulah, tangan kirinya setiap kali berganti gigi pasti hinggap beberapa saat di pahaku, mencuri kesempatan mengelus. Jengkel dgn tingkahnya, terpikir olehku untuk membalas, maka saat mobil sedikit oleng, dan aku tersorong mendekati Dika, sengaja tanganku kuulurkan seolah mencari pegangan, sudah tentu yg kupegang adalah batang diselangkangan Dika yg dari tadi terlihat tegang.

“Uh… hati-hati dong nyopirnya” kataku sambil menarik tanganku, tp sebelum tangan itu kutarik, aku menyempatkan diri meremas batangnya yg tegang dan keras. Dika tampak tergeliat kaget oleh ulahku

Aku melakukan semua itu seakan tdk sengaja, sambil membenahi dudukku, aku bergeser menjauh dan menutupkan tas tanganku pada pahaku, untuk menghindari kenakalannya yg lebih jauh.

“Makanya jangan nakal, hampir saja celaka, nyopir yg benar” sungutku sambil melirik nakal pada Dika, yg hanya bisa nyengir dan kecewa. Sesampainya dirumah hari sudah larut dan ayah pasti sudah tidur.

“Bu tunggu sebentar… ini ada hadiah buat ibu” panggil Dika ketika aku mau berjalan kekamarku.
“Apa?” tanyaku sambil berbalik melihat Dika dgn pandangan bertanya.
“Ulurkan tangan ibu dan pejamkan matanya” kata Dika sambil tersenyum.

Kuturuti kata-kata Dika, kurasakan tanganku dipegangnya dan sesuatu dimasukkan kedalam jari,

“nah sekarang bukalah matanya” kudengar Dika berkata. Kubuka mataku dan kupandang cincin bermata berlian yg melingkar ditanganku.
“Wooow….”seruku tak mampu menahan rasa kejut melihat keindahan cincin itu.
“ini….ini untukku? “ tanyaku tdk percaya, Dika hanya mengangguk.

Setelah tertegun sejenak, aku mengucapkan terima kasih sambil berniat mengecup bibirnya sekilas.

Tdk kusadari itulah yg ditunggu Dika saat aku mendekatinya untuk mencium bibirnya, tangannya telah merengkuh pinggangku dan ciuman sekilas itu berubah menjadi ciuman dan lumatan yg lama. Bibirkulah yg dikulumnya dgn ganasnya sementara lidahnya mencoba masuk.

Aku langsung terlena dan membiarkan lidah itu menerobos mencari lawan. Kurasakan lidah Dika menjilati bagian dalam mulutku dan aku menyerah lidah kami yg kemudian bergulat dgn serunya. Sampai aku ahirnya sadar dan mendorong tubuhnya ketika kurasakan tang Dika mulai meremas buah dadaku.

Dgn napas terengah dan tubuh gemetar oleh kuatnya napsu yg timbul, aku berdesis “terima kasih” lalu secepatnya aku berbalik dan berjalan kekamarku. Kutuntaskan birahiku dikamar seperti biasa dgn jariku mempermainkan klitorisku sendiri, dan aku meraih orgasme yg nikmat.

Besoknya Dika pamit untuk pergi bagi satu keperluan, seperti biasa dia pamit, aku sudah siap untuk kecupan ringan dibibirku seeperti biasanya, tp kali ini Dika tdk hanya mengecup, tp dia mengulum bibirku dan menyapu bibir itu dgn lidah. Lalu meninggalkanku yg sempat terpana. ‘kurang ajar anak itu semakin berani dia’ makiku dalam hati tp tanpa kemarahan.

“Hari pernikahan kalian tinggal lima hari lagi, seperti petunjuk Guru, tiga hari menjelang pernikahan, kedua pengantin dilarang bertemu, karena itu Dik, bukan aku mengusirmu tp lusa kamu terpaksa harus pergi dari rumah ini dan menginap di hotel” kata Ayah saat kami makan malam.

Dika menganguk “baiklah kalau itu memang keharusannya” jawabnya datar.
“Tp sebelum hari pernikahan aku ingin mendapatkan perawatan tubuh dan wajah seperti waktu kemarin itu” protesku kepada ayah.

Dika tersenyum

“Hari terahir kita boleh ketemu adalah besok, maka kita akan pergi besok untuk perawatan wajah dan tubuh” jawabnya.

Aku mengangguk

“ya sudah kita tetapkan saja acaranya begitu” jawabku.

Keesokan ahrinya kami pergi ke kota besar, berlainan dgn waktu itu yg langsung ketempat tujuan, kali ini Dika mengajakku mampir dahulu kesebuah butik, disana dipilihkannya beberapa gaun yg seksi, beberapa baju tidur yg transparan, dan pettycoat yg tdk kurang seksi. Dia membelikan semua itu tanpa menghiraukan protesku.

“Siapa yg mau pakai baju kaya gitu” bantahku kepadanya,
“istriku” jawab Dika dgn tegas sambil memandangku dgn mesra.

Aku tersipu dan tdk lagi membantah kehendaknya.

Sesampainya di tempat perawatan tubuh dan wajah, tdk seperti yg lalu, dimana Dika terus menungguiku, kali ini dia berkata akan meninggalkanku untuk sebuah keperluan yg lain, dan nanti akan kembali menjemputku. Aku mengaguk mengingat perawatan seperti itu memakan waktu setengah harian.

Kembali aku mengalami perawatan seperti dulu, dan mendekati ahir perawatan aku kembali berbaring ditempat tidur khusus yg berlobang diarah mukaku, sehingga saat aku telungkup dan dipijat, napasku tdk terganggu.

Telanjang bulat aku berbaring baru kemudian sebuah handuk besar dihamparkan menutup tubuhku mulailah aku dipijat. Menjelang ahir pijatan, kurasa pelayannya berhenti sebentar, ‘mungkin untuk mengambil minyak pelicin’ pikirku tanpa curiga.

Benar saja tak lama kemudian kurasakan sepasang tangan memijat dan mengurut kakiku dari arah betis sampai keatas. Tp pijatannya tdk sekuat yg lalu, yg ini lebih banyak mengelus dan mengusapnya, semakin lama semakin keatas.

Kini paha belakan dan dalam yg menjadi bahan elusannya. Napasku mulai terasa memburu, karena pijatan itu mulai memancing timbulnya gairah napsuku, apalagi saat paha dalamku yg dipijatnya, semakin lama semakin keatas, sampai ahirnya ujung jarinya menyentuh-nyentuh, memekku.

“Aoughh…” lenguhku pelan, tak tahan oleh elusan tangan tersebut, memekku dgn segera menjadi basah.

Tp tangan itu tetap beraksi bahkan semakin tetap menyundul-nyundul memekku. Dalam deraan napsu yg berkobar sempat jg aku berpikir, kenapa dulu tdk begini perawatannya.

Kucoba mengangkat kepalaku melihat untuk melihat pemijatku, niatanku mau bertanya, karena terus terang aku jg merasa malu mengingat memekku yg semakin basah, pasti terasa diujung jarinya.

Tp baru jg aku mau mengangkat kepala, tangan itu kini dgn tegas mengelus-elus belahan memekku. Dan melilir klitorisku, napsuku segera meledak kepala tdk jadi terangkat, tp pantatku yg mulai bergoyang, merasakan nikmatnya rabaan tangan di klitorisku,

“Ooough…. “ kembali sebuah keluhan panjang keluar dari mulutku yg hampir mencapai orgasme.

Dgn lunglai aku mengangkat kepalaku terlihat lah olehku Dika yg tersenyum mesra padaku,

“Dika….! kenapa jadi kamu, mana pemijatnya…? tanyaku dgn muka merah padam bahna malu sambil menghentakkan tubuhku, dan Dika jg menarik tangannya dari balik handuk.

Dgn tenang Dika menjawab

“kusuruh mengambil sejumlah kosmetik dan rempah-rempah yg biasa di pakai disini, agar bisa jadi contoh untuk dipakai nanti dirumah” katanya dgn tenang.

Kulirik badanku, untunglah handuk masih tetap menutupi tubuhku, tp tangan Dika telah menyentuh bagian paling rahasia ditubuhku, meskipun dia tdk melihatnya.

“Keluar aku mau berpakaian” sungut dgn muka semakin merah.

Terus terang aku tdk merasa marah, yg ada hanya rasa malu.

Untunglah sebelum insiden itu berlanjut, gadis pemijatnya yg asli datang sambil membawa sejumlah bahan-bahan yg tadi di pakai oleh tubuhku.

“Ini tuan, yg tuan minta” katanya dgn sopan.
“Bagus, terima kasih” jawab Dika sambil mengedipkan sebelah matanya padaku sebelum dia keluar ruang pemijatan.
“Mari bu kita teruskan acara pijatannya” kata gadis pemijat sambil mulai memijati tubuhku kembali, pijatan selanjutnya tdk dapat kunikmati seperti yg seharusnya, karena hati dan badanku telah diamuk dgn api birahi yg dahsyat.

“Bu kenapa badannya menjadi tegang begini? Cobalah ibu melakukan relaksasi biar hasil pijatannya maksimal” kata gadis pemijat kepadaku, aku mencoba menenangkan diriku dan melakukan instruksi yg diberikan gadis pemijat, perlahan aku dapat menenangkan badanku, tp jauh dilubuk hatiku terdapat rasa kecewa maklumlah orgasme yg hampir kuraih terputus ditengah jalan.

Keluar dari tempat perawatan tubuh dan wajah, hari sudah malam karena itu aku tdk membantah saat Dika mengajakku makan malam, tp aku selalu berusaha menjaga jarak agar Dika tdk memiliki kesempatan berbuat macam-macam.

Begitu jg dalam perjalanan pulang, aku selalu menjauh sampai ahirnya tiba di rumah yg telah sepi, kupikir ayah sudah tertidur karenanya aku berniat segera berlalu masuk kekamar, tp kembali Dika memanggilku “Bu tunggu sebentar ada yg mau kuberikan”. Sejenak aku bimbang kuingat kejadian yg lalu .

‘Paling jg aku harus merelakan frensh kiss lagi seperti itu’ pikirku, karenanya aku segera berbalik memandang Dika,

“apa lagi Dik, aku sudah lelah” kataku,
“pejamkan dulu dong matanya!” pinta Dika padaku.

Aku menurut dan kurasakan tangan Toni menarik kedua tanganku serta menengadahkannya, lalu kurasa ada sebuah kotak yg diletakan ditanganku.

“Sekarang bukalah matanya” aku menurut dan seperti sebelumnya, mataku segera silau menatap seperangkat perhiasan bermata berlian didalam kotak.
“Aku ingin ibu memakai ini saat pernikahan kita” katanya saat aku memandangnya dgn pandangan tanya.
“Wooow… indah sekali Dik…” sejenak aku tertegun mengamati perhiasan itu sebuah kalung berlian dgn mata kalung berlian besar, sebuah cincin, sepasang anting, sebuah gelang semuanya bermata berlian.

Semuanya merupakan perhiasan yg tdk mungkin kudapatkan dimasa lampau, tp kini jadi milikku.

“Ini untukku?” tanyaku meyakinkan, Dika menganguk tegas sambil memandangku mesra dan tetap dalam sikapnya itu.

Aku maklum apa yg ditunggu Dika karena itu aku mendekat dan membiarkan pinggangku direngkuh Dika aku sendiri langsung mencium bibirnya.

Kami saling berkuluman bibir dan kali ini lidahku yg mulai menyambar lidahnya, Kami benar-benar bagai kelaparan, sebuah ciuman disusul dgn ciuman yg lain, entah berapa banyak air liurku yg direguk Dika seperti halnya air liur Dika yg kureguk jg.

Akhirnya saat aku merasa gejolak birahi dalam diriku seakan meledak segera kudorong tubuhnya, ‘gawat… bisa-bisa kami bersetubuh malam ini’ pikirku.

“Sudahlah tidurlah, aku jg mau tidur” kataku. Dika dgn enggan melepaskan rangkulannya.
“Kau tdk ingin mencobanya?” tanya Dika mengejutkan aku yg sedang memperhatikan perhiasan, sejenak aku bimbang, “cobalah!” desak Dika, aku mengangguk. Dika kemudian mengambil kotak perhiasan dan menuntunku untuk duduk di ruang dalam.

Kami duduk bersebelahan dgn rapat, ketika aku mengambil cincin untuk dipasangkan di jariku, kulihat cincin kawin dari ayahnya masih melingkar di jari manisku.

“Kau seharusnya sudah tdk memakai cincin itu” desis Dika, aku menganguk kulepas cincin yg ada dan kuletakan diatas meja serta berniat memasang cincin yg baru di jari manisku.
“Itu bukan cincin kawin, cincin yg satu itu baru aku berikan pada saat pernikahan kita” desis Dika,
“mari aku pasangkan” katanya sambil mengambil cincin dan memasangkannya dijari tengah bersebelahan dgn cincin yg telah dipasangkannya. Satu persatu perhiasan itu dikenakan ditubuhku.

Terakhir yg dikenakan Dika adalah kalung, untuk memasangkannya aku harus sedikit membalikkan badan, kurasakan dengus napas Dika di kudukku, membuat seluruh bulu ditubuhku meriding, apalagi Dika kemudian bukan hanya mengenakan kalung, tp dia jg mencium kuduk dan belakang telingaku

Kuduk dan belakang telinga adalah kelemahanku, karena itu api birahi yg belum padam sejak tadi tiba-tiba berkobar dgn dahsyatnya, aku membalikan tubuh menghadapnya, sebelah tanganku melingkar dilehernya, gerakkanku menyebabkan bibir Dika bergeser dari belakang telingamenjadi dileher.

Aku tergelinjang hebat karena pergeseran itu sementara Dika sendiri langsung memanfaatkannya untuk menggigit mesra leherku, yg membuat aku tergelinjang lebih hebat lagi

“oughh…” desahku tak tertahankan. Kutarik kepala Dika dan kucium bibirnya sepenuh napsu.

Kurasakan sebelah tangan Dika bergerak-gerak, tp napsu yg ada menyebabkan aku tdk menghiraukannya,, bahkan saat Dika mulai meremas-remas buah dadaku, aku jg membiarkannya, bahkan terasa semakin mengobarkan api birahiku. Sebelah tanganku sendiri melingkari lehernya, dan yg satu lagi memegang bahunya.

Kami terus bercumbu, sebelah tangannya yg melingkari tubuhku meremas-remas buah dadaku, sementara tangannya yg lain menarik sebelah kakiku untuk ditumpangkannya kekakinya, sehingga aku duduk dgn terkangkang.

Kurasakan tangan Dika setelah menarik kakiku mencoba masuk kedalam celana dalamku, dgn lemah aku berdesis

“jangan… jangan dimasukkan kedalam” cegahku dgn lemahnya.

Dika menurut tp tangan itu mulai mengguit-guit belahan memekku yg masih tertutup celana dalam.

Aku tersentak,

“aakhhh…” desahku yg semakin dibuai napsu. Beberapa saat kami bercumbu, kurasakan memekku sudah sangat basah oleh air nikmat yg keluar dari memek yg terus mendapat rangsangan Dika.

Aku benar-benar sudah tdk berdaya karenanya ketika tangan Dika yg mengguit-guit memekku menuntun tanganku yg ada di bahunya dan meletakan tanganku diselangkangannya aku menurut saja.

Aku tersentak karena memegang batang kemaluannya yg sudah tdk di tutupi selembar benangpun, rupanya saat tangan Dika tadi bergerak adalah untuk melepaskan batang kemaluannya dari kungkungan celana dan celana dalamnya. Ada niatanku untuk melepaskan batang kemaluan itu, tp tangannya kembali mengguit memekku, dan menimbulkan gelenjar sejuta watt listrik di tubuhku.

“Akkhhhh… “ desahku kembali sambil tanpa sadar mulai meremas-remas batang kemaluan Dika yg mencumbuku semakin ganas, saat bibir kami terpisahkan, Dika selalu memanfaatkannya untuk mencium belakan telinga serta leherku, yg membuat aku semakin melambung oleh desakkan napsu.

Ketegangan yg semakin memuncak akibat desakan birahi benar-benar membuat aku dgn cepatnya meraih orgasme, ketika jarinya seperti memutar-mutar klitorisku meskipun teraling celana dalam, aku benar-benar tdk tahan.

“Oughh…. aaaakhhhh… Dikaiiiiiiiiiiiiiiiii …. “ diiringi erangan yg panjang aku mencapai orgasme, tubuhku tersentak-sentak, sementara lubang nikmatklu mengemut dgn kuatnya. Kulepaskan bibirku dari kuluman Dika, kucupang lehernya.

Sementara tanganku yg dari tadi meremas-remas kini berubahn jadi mengocok dgn kuat.

“Aaakhhh….” erang Dika ketika kupadukan kocokanku dgn remasan lembut pada batang kemaluannya.

Kurasakan tangan Dika mengangkat mukaku, dan kembali bibirku menjadi sasarannya. Aku yg masih terbuai oleh sisa orgasme melayaninya. Tp ketika badanku telah mulai normal dari pesona orgasme, pikiran warasku kembali muncul, dan rasa malu tiba-tiba saja menyeruak dalam hatiku, karena itu kutarik mukaku dan kususupkan dileher Dika.

Aku tdk mendorong tubuh Dika, karena aku sadar Dika berada dititik tanpa balik, jika aku mencoba menjauhinya mungkin justru akan membuat Dika bertindak lebih jauh lagi, karena itu aku justru memusatkan perhatianku pada tangan yg tengah mengocok batang kemaluan milik Dika sambil berharap agar Dika segera memuntahkan spermanya.

Harapanku terkabul dgn diiringi geraman dahsyat dari Dika, batang itu tiba-tiba mengedut-edut.

“Hehmmm……. creettt… creeet…..creeet….” tujuh kali Dika memuntahkan lahar panasnya, dan dgn sudut mataku aku melihat jarak tembaknya yg sangat jauh hampir tiga meter, barulah jatuh kelantai.

Kutunggu sampai tubuh Dika melemas, lalu akupun bangkit sambil berkata

“ kau sungguh tega…” kataku sambil terus berlari kekamar.

Aku sebenarnya tdk marah ataupun menyesal, tp rasa malu lah yg menyebabkan aku berlari.

Dalam kamar aku mencoba menenangkan diri, jantungku masih berdentang dgn kerasnya mengingat pengalaman yg barusan, kadang aku tersenyum sendiri, kadang aku jg menutup muka karena rasa malu. Itulah sebabnya baru dinihari aku bisa tidur.

Besoknya aku terbangun kesiangan, dgn tergesa-gesa aku menuju kamar mandi, begitu tergesanya sampai aku tersandung dan menabrak kamar mandi sehingga menimbulkan suara ribut. Kucoba mandi dgn cepat, saat selesai baru aku sadar aku tdk membawa baju ganti.

“Uh… benar-benar pikun…” gerutuku pada diri sendiri, karena itu kulilitkan handuk besar ditubuhku, sementara baju kotor kumasukan kedalam keranjang cucian yg ada dikamar mandi.

Akupun keluar dari kamar mandi dan tertegun melihat Dika sudah ada dilorong menuju kamar mandi dgn hanya memakai handuk yg telilit dipinggangnya.

Dika tersenyum sambil berkata “sudah mandi ya… silahkan” katanya sambil memiringkan tubuhnya.

Aku tdk dapat berbuat lain selain lewat didepannya sambil memiringkan tubuh jg. Saat mulai melangkah terlihat olehku handuk yg dipakai Dika bagai tersibak dan terdorong keluar oleh batang yg ada didalamnya, tp aku sudah terlanjur melangkah.

Kejadian dulu terulang lagi, hanya saja kini Dika langsung menjulurkan tangannya sehingga aku tdk dapat langsung lewat, tubuhnyapun bahkan langsung didoyongkan kedepan sehingga menghimpit tubuhku. “Aku mau tanya apa yg dimaksud engga pegal waktu itu?” katanya sambil meluruskan kakinya sehingga terasa sebuah batang menggesek memekku.

Mukaku segera memerah, tanpa menjawab aku segera berkata

“sudah ah.. lepaskan aku Dika”.
“Baru keramas yah, mandi besar, hemm… wangi benar rambutnya” kata Dika sambil mencium rambutku yg basah. Mukaku semakin merah, malu bukan main.

Tp aku sadar kalau hanya diam hanya akan semakin di permainkan Dika,

“Sudah Dik aku mau lewat” kataku sambil mendorong tangannya.
“ya… jawab dulu dong pertanyaannya” pintanya sambil tersenyum.
“Sudah Dik, aku mau masak, mau makan apa kamu pagi ini?” kataku mencoba mengalihkan perhatian.

Sementara itu kurasakan Dika kembali menurunkan kakinya dan batang kemaluannya menggesek memekku.

“Serabi ibu” katanya sambil tersenyum nakal. Kue serabi adalah makanan yg terbuat dari tepung beras, tp pada saat yg bersamaan memiliki arti miring jg sebagai kemaluan wanita, seperti jg buah pisang yg memiliki arti miring kemaluan laki-laki.

Aku berpikir cepat untuk mengatasi gangguan Dika, ketika kakinya ditegakkan kembali sehingga kemaluannya menggesek memekku, segera kudorong pantatku dgn kuat kedepan, lalu segera kugoyang kekiri dan kekanan, akibatnya kemaluan Dika terbentur agak keras dan sedikit tertekuk.

“Aww..” pekiknya sedangkan tangannya secara refleks bergerak menuju selangkangannya. Kesempatan itu yg kutunggu, aku segera lolos dari cegahan tangan Dika, dan dgn cepat keluar dari lorong yg memang hanya pendek saja.

Sekeluarnya dari lorong aku segera membalik menghadap Dika.

“Yg pegal itu ya otot kamu yg selalu tegang, mandi cepat sana dan bersihkan ototnya dgn baik, jangan mencoba macam-macam denganya” kataku sambil membuat muka setan. Kulihat Dika masih meringis.

Kubalikan badanku sambil berjalan menuju kamar, tp baru selangkah kupalingkan mukaku melihat Dika “Serabi sih ada, tinggal dikasih air manis dari pisang, tp tdk sekarang” kataku sambil menahan tawa dan langsung berjalan kekamar, meninggalkan Dika yg masih tertegun.

Selagi aku berpakaian, kudengar ayah datang dari jalan-jalan paginya. Cepat-cepat kuselesaikan berpakaian, dan merias diri sedikit, lalu aku keluar kamar dan menyiapkan sarapan pagi. Saat menghidangkan makan pagi itulah Dika muncul dari kamarnya sambil membawa tas kecil, kuduga ganti bajunya untuk beberapa hari ini.

Kami makan dgn saling berdiam diri, selesai makan ayah berkata

“Dik mulai hari ini kamu harus tinggal terpisah sampai hari perkawinan tiba”, Dika mengangguk patuh sambil menjawab “Ya Ayah aku akan segera pergi”.

Aku terbeliak mendengarnya

“Ayah?… kakek!” protesku.

Dika cuma nyengir ayah lah yg menyahut

“setelah menikahimu, dia memang berhak menyebutku ayah”.

“Cis…” kataku sambil membereskan sisa makanan dan membawanya kedapur.

Didapur sempat kudengar ayah dan Dika berbincang, tp karena suaranya tdk keras aku tdk tahu apa yg mereka perbincangkan, hanya saat keluar dari dapur kulihat Dika kembali menyerahkan sehelai checq kepada ayah.

Kuikuti langkah Dika yg berjalan keruang depan, “kau pergi sekarang?” tanyaku, Dika mengangguk dan tiba-tiba saja dia memeluk ku dgn erat lalu menciumku, bukan sekedar ciuman sekilas, tp ciuman penuh napsu yg memabukkan, tanpa menghiraukan ayah yg ada di ruang dalam dan hanya terpisah sebuah dinding.

Kulayani ciumannya, dan kami berciuman cukup lama, sampai ahirnya aku mendorong tubuhnya dgn tanganku,

“pergilah…” kataku dgn napas terengah-engah.

Kulihat Dika pun sama terengah-engah. Sambil tersenyum dia berkata

“aku pergi sekarang, jangan lupa pakai perhiasannya” katanya sambil melangkah keluar rumah.

Saat aku masuk keruang dalam kudengar ayah berkata “bukan main… kuat jg napas kalian, lebih dari lima menit kalian berciuman, haa…haaa. ha… dasar anak muda sekarang tdk sabaran” katanya. Mukaku memerah kubuat muka setan dan tanpa berkata apa-apa aku lari kekamar.

Menjelang siangnya beberapa kerabat mulai datang, mereka membantu ayah menghias rumah kami, rupanya ayah memilih kamarnya yg akan digunakan sebagai kamar pengantin,

“biar kalian tdk perlu keluar kamar, kalau mau ke air” katanya, memang hanya kamar ayah lah yg memiliki kamar mandi di dalamnya.

Meskipun mukaku memerah mendengar kata-kata itu, tp kubantu jg ayah memindahkan semua barang-barangnya kedalam kamar bekas Dika, sedangkan barang-barang Dika dipindahkan kedalam kamar pengantin, begitu jg barang-barangku meskipun semula aku protes, tap tetap saja dipindahkan.

Hari Pernikahan tiba, pernikahan berlangsung sore hari pukul 4 sore di sebuah kuil dekat rumah kami. Ada beberapa orang yg hadir dan aku tdk mendengar gunjingan apapun dari mereka, meskipun mereka semua mengenal kami dgn sangat baik. Belakangan baru saya tahu bahwa Dika membayar mereka denagn mahal jg!

Aku mengenakan gaun pengantin sutra yg baru dibeli Dika, gaun yg mirip seperti yg kupakai dulu saat menikah dgn ayahnya. Dika sendiri mengenakan setelan jas seperti dulu ayahnya menikah dgnku, hanya saja berbeda warna. Dalam pakaian itu Dika jelas tampak sangat mirip dgn ayahnya.

Karena ayah memiliki darah keturunan india maka adat pernikahan yg dilakukan jg seperti umumnya di India, setelah seorang brahmana mengucapkan semua mantra, saya dan Dika melakukan sembahyg dan akhirnya Dika mengikatklan mangalsutra di leherku, serbagai tanda aku wanita bersuami.

Itu adalah adegan yg mengesankan bagiku karena anakku sendiri yg mengikat sutra di sekitar leher saya sebagai tanda bahwa dia telah menikahi aku. Kemudian dia duduk di sampingku untuk menyelesaikan serangkaian acara lain, dan terahir dia memasangkan sebuah cincin bermata berlian merah di jariku, adat pemakaian cincin ini memang tdk lajim diindia, tp ayah tdk berkeberatan kami melakukannya.

Setelah semua dijalani, barulah kami resmi menjadi suami istri, ayah yg bertindak sebagai waliku, sedangkan kakakku menjadi wali bagi Dika. Pernikahan baru selesai jam setengah enam sore, lalu semua orang mendatangi rumah kami untuk makan malam. Saat makan malam itu mereka mendudukkan aku dan Dika di kursi khusus bagi pengantin.

Mereka memberi kami makanan dalam satu piring sehingga kami dapat berbagi, Dika memngambil beberapa jenis makanan dan kemudian menyuapi saya. Sejenak pikiranku melayg pada masa lalu, dulu akulah yg menyuapi Dika saat dia masih kecil. Sekarang karena Dika menikahi aku, ibunya sendiri, maka dialah yg menyuapi saya.

Saat kami makan itulah saudaraku menghampiri kami dan berkata “aku tdk tahu bagaimana harus memanggil kalian berdua? Adik?, saudara ipar?, keponakan?, atau anak?” katanya sambil tersenyum menggoda. Kerabat kami semuanya tertawa, hanya aku sendiri yg tersipu.

Dikalah yg kemudian menjawab

“tunggu sampai kami memiliki anak-anak, kalian harus memutuskan memanggil mereka keponakan atau cucu!”. Tanpa dapat ditolong lagi mukaku terasa panas pasti merah padam karena malu mendengar kata-kata Dika, yg berarti dia berencana memiliki anak-anak dgn ibunya sendiri.

Malam pertama

Setelah semua ritual pernikahan berakhir sebagian besar kerabat kami pulang, ini adalah malam pertama, tp bukan malam pertama bagiku melainkan malam pengantin saya dgn Dika. Sulit bagiku membayangkan anak yg lahir dari rahimku, dan mereguk air susu dari buah dadaku, sekarang memasuki kamarku sebagai seorang suami di malam pengantin kami.

Setelah selesai ritual terahir, kerabat yg tersisa segera mengantarkan Dika kedalam kamar pengantin. Beberapa menit kemudian ayah memberi segelas susu dan membimbing saya keruang tengah. Kerabat yg tersisa tertawa menyaksikan semua itu

Dia kemudian mencium BH diantara payudaraku, ciumannya menyusur kebawah sampai keperutku yg telanjang, semakin kebawah dan ciumannya mampir dipusarku, dan tiba-tiba dia menempelkan wajahnya diselangkanganku, dicium dan dibauinya selangkanganku dari balik celana dalam dgn hirupan yg sangat dalam berkali-kali.

Aku sungguh-sungguh merasa malu diperlakukan begitu. “Aku sudah bertahun-tahun bermimpi untuk melakukan ini kepada ibuku”. Aku terdiam tdk mampu mengatakan apa-apa. “Kau memiliki bau memek yg harum, persis seperti yg kuharapkan” lanjutnya sambil mulai berusaha melepas celana dalamku.

Sesak napasku dibuatnya, batinku berperang antara naluri keibuanku yg menyuruh aku untuk menahannya agar tdk membuka celana dalamku, dgn naluri kewanitaanku yg sudah sangat kehausan dibelai kehangatan laki-laki. Lalu kesadaranku tumbuh bahwa kini aku sudah menikah denganya, walaupun dia adalah anakku, karenanya dia memiliki hak penuh pada tubuhku ini.

Sebelum peperangan di batinku selesai, celana dalam itu telah jatuh dikakiku, dan tangannya meremas pinggul telanjangku, remasan yg diselingi elusan. Rasa malu membuat mataku tetap tertutup sementara aku menikmati cumbuannya.

Tangannya bergerak kesana kemari mengelus-elus dan meremas tubuhku yg telanjang, Dika kemudian menyentuh rambut kemaluanku dgn hidungnya dan membauinya dgn tarikan napas yg panjang, selesai itu dia berkata “Terima kasih telah menunjukkan kepadaku, kuil mu ini bu, kuil kelahiranku”. Aku menjawabnya dalam hati ‘selamat datang anakku’ meskipun aku hanya berkata dalam hati, tp tak urung rasa malu semakin menggelepar didalam dada, malu yg bercampur dgn hasrat birahi.

Dia kemudian bangkit dgn cepat untuk membuka kaitan BH ku. Setiap satu kait terbuka membawa saya ke tingkat ekstasi seksual yg lebih tinggi. Ahirnya BH itu terlepas, dan aku telanjang bulat penuh rasa malu dihadapannya, dihadapan anakku, suami baruku. Akh… rasa malu dan gairah semakin membuncah.

“Terima kasih bu… untuk melihat buah dada ibu, dimana aku diberi makan dan dibesarkan” bisiknya.

Gairah yg meledak dalam diriku membuat aku tdk mampu berkata apapun, meskipun hatiku berteriak ‘diamlah jangan banyak bicara, hisaplah segera puting buah dada ibumu ini yg sudah sangat tergang kekasih ibu’.

Seolah olah Dika mendengar teriakan hatiku, dia segera memasukan puting buah dadaku kemulutnya. Ketika itu aku telah berpikir menjadi istrinya, tiba-tiba dia menghisap putingku dgn cara yg sama seperti dulu, mulut yg menghisap adalah mulut yg sama, dulu dia menghisap untuk makan, sekarang dia menghisap untuk kesenangan, dulu yg menghisap anakku, sekarang suamiku.

Setelah beberapa saat menghisap dan membelai, Dika menghentikan segala cumbuannya dan berdiri di depanku. Perlahan aku membuka mata ku untuk melihat anakku-suamiku melepaskan pakaiannya. Aku bisa melihat kemaluannya yg berontak ingin keluar dari kungkungannya.

Tak lama batang kemaluannya yg besar dan panjang, jauh melebihi besar dan panjang milik ayahnya, walaupun aku merasa sangat malu tp aku tdk bisa mengalihkan pandanganku dari batang k0ntol yg tampak sangat perkasa itu, sampai ahirnya dia bergerak dan memelukku.

Kami berpelukan pertama kali dalam keadaan telanjang. Terakhir kali saya memeluknya dalam keadaan telanjang adalah ketika Dika berusia enam tahun. Pelukan ini tdk akan pernah seperti memeluk anakku dulu.

Batang k0ntolnya menekan selangkangan ku dan dadanya menghimpit payudaraku. Dia kemudian menuntun aku ke tempat tidur sambil mencium bibirku.

Jantungku berdebar dgn kencang saat Dika membaringkan tubuhku perlahan ke tempat tidur dan menindih diatas badanku. Aku perlahan-lahan menyesuaikan letak tubuhku di atas pembaringan bersamaan dgn kedua tangannya yg bergerak mengelus sepanjang lekuk tubuh ku.

‘Ini dia, semuanya akan segera terjadi’ pikirku.

Sementara di atas ranjang, Dika mulai mengelus payudaraku sambil menciumi bibir dan seluruh wajah,leher dan buah dadaku. Perelahan mataku kembali terpejam bukan saja karena malu tp jg karena meresapi cumbuannya.

Dika kemudian merenggangkan kakiku sehingga aku terkangkang, dan memposisikan dirinya diantara kedua kakiku, kurasakan batang kemaluannya menyentuh celah selangkanganku lalu dia melakukan gerakan untuk menyesuaikan batang k0ntolnya agar tepat terarah ke lubuk nikmatku..

Dika kemudian mengangkat selangkangannya, sementara tangan kanannya mengarahkan batang k0ntolnya, maka dua jari tangan kirinya mulai mentibakkan bibir memekku. Sebuah sentakan listrik sejuta watt terasa mengaliri tubuhku saat dia menyibakan bibir memek itu, lebih lagi saat batang k0ntolnya mulai menyentuh bibir memek.

Tak akan pernah kulupakan seumur hidup saat kurasakan pertama kalinya kepala k0ntolnya mulai menyentuh lubang memekku, serasa seperti aku sedang diperawani, kepala k0ntol anakku sendiri menyentuh lubang memek ibunya, ingatan ini menjadikan sensasi kenikmatan yg kurasakan melambung semakin tinggi.

Segera setelah kepala k0ntolnya menyentuh lubang memekku, Dika mulai mendorong dirinya jauh kedalam memekku, mula-mula terasa sangat seret, membuat aku tak tahan untuk mengerang saat batang k0ntolnya mulai amblas

“aaakkhhhh…pelannnnnnn Dik sakittttttttt
“Ughhhh…. memekmu benar-benar seret seperti perawan…” suara Dika terdgn bergetar, dia berkata sambil sedikit menarik batang k0ntolnya, lalu mulai mendorongnya lagi.

Bless… kepala k0ntolnya mulai masuk, kugoyangkan pantatku sedikit agar memekku semakin lebar terbuka. Dgn sedikit susah, ahirnya kali ketiga Dika mendorong, maka bless… k0ntol itu sudah masuk seluruhnya, aku tergeliat merasakan ujung kepala k0ntol Dika menyentuh cincin puranaku,

“aaaakkkhhhh…” erangku tak tahan keluar tanpa terkendali lagi.

Tubuh Dika sendiri sepenuhnya menindih tubuhku, di diam beberapa saat, sama sekali tdk bergerak. Seluruh batang k0ntolnya kini benar-benar telah berada dalam diriku. Kurasakan batang kejantanannya ditelan dinding memekku, dan aku menunggu kelanjutan aksinya. Rambut kemaluan Dika terasa menyentuh memekku, begitu jg bola kembarnya telah menyentuh bibir memek ku

Saat itu kurasakan sebuah siklus antara aku dan Dika telah selesai. Dua puluh tiga tahun yg lalu aku membawanya kedunia ini melalui lubang yg sama, dgn posisi yg hampir sama, kaki terkangkang bertelekanan telapak kaki di pembaringan, lalu dua puluh tiga tahun kemudian, yaitu sekarang, anak yg keluar dari lubang memekku, telah menjadi seorang laki-laki yg memasukkan kejantanannya kedalam lubang yg sama dgn posisi yg nyaris sama.

Setelah terdiam beberapa saat Dika mulai mengeluar masukkan batang kemaluannya dalam lubang memekku. Ahirnya dia mulai menyetubuhi ibunya sendiri, dgn siapa dia menikah, dan kali ini dia melakukannya pada malam pengantin kami.

Perlahan Dika mulai meningkatkan kecepatan pompaannya, aku sedikit heran dgn kemahirannya bersetubuh, rasanya seperti orang yg telah berpengalaman, memompa perlahan, kemudian tiba-tiba pompaannya menjadi cepat, lalu perlahan lagi, betul-betul penuh variasi.

Tp segala keheranan itu bahkan seluruh pikiran dan perasaanku dgn cepatnya menghilang dilanda kenikmatan yg tdk tertahankan, lima menit dia menyetubuhiku, tak tahan lagi aku meraih orgasmeku yg pertama.

“Aaakhhh… oughhh…” rengekku sambil memegang pantatnya dan menariknya kedalam diriku, sementara kakiku melingkari pantatnya.

Pantatku sendiri naik memapak batang kemaluannya. Orgasme itu datang dgn dahsyatnya membuat kemaluanku berdenyut dgn kerasnya.

“Oughh….” lenguh Dika, saat dia merasakan kemutan memekku. Dia diam sejenak seperti sedang menahan sesuatu.

Ketika tubuhku sudah mulai tenang Dika berbisik “bukan main memekmu bu, benar-benar nikmat” katanya sambil kembali memompaku. Gelenjar rasa nikmat kembali meliputi tubuhku, aku benar-benar terangsang bukan saja oleh persetubuhan kami, tp ingatan bahwa anakku sendiri yg menyetubuhiku benar-benar menaikkan gairahku

Hanya tujuh delapan menit kemudian kembali aku terkapar dalam orgasme yg sangat nikmat, sementara Dika sendiri dgn perkasanya masih terus memompaku,

‘aakhhh… Diiikkkk…. ough… nikmatttt… sekaliiii..” ceracauku saat aku meraih orgasme yg kedua tanpa malu-malu lagi.

Kembali Dika terdiam saat merasakan kemutan orgasmeku, tp segera melanjutkan pompaannya dgn sangat perkasa aku mulai kewalahan menghadapi keperkasaan Dika, karena itu segera kukeluarkan jurus rahasiahku, kuputar-putar pantatku meyambut pompaan Dika.

“Aakhh…” lenguh Dika saat merasakan aksiku,

kini kami sama-sama berjuang untuk secepatnya memuaskan pasangan bersetubuh kami, putaran dan geolan pantatku menggila mencoba meremas batang kemaluannya agar cepat mnyemburkan air maninya, begitu jg Dika semakin banyak variasinya dalam memompaku, kadang kurasakan seperti setengan memutar berlawanan arah dgn arah putaran pantatku.

“Ouhhggghhh…. aaakhhh…” lenguhanku semakin lama semakin sering keluar dari mulutku merasakan kenikmatan yg sangat dari persetubuhan ini. Kali ini aku tdk tahu berapa lama kami saling menumpahkan kemampuan untuk saling memuaskan, yg pasti aku kalah lagi.

“Heghh… aaakh….. oughhh…..Dikaiiiii….aakhhh…” erangan yg semakin keras keluar dari mulutku, saat aku mengalami orgasme yg ketiga kalinya. Kemutan memek ku terasa semakin kuat, sampai Dika yg seperti biasa berdiam diri, tubuhnya menjadii gemetar menahan kenikmatan dari kemutan memekku. Dgn tubuh mengkilat karena keringat kami yg berpadu, kupagut lehernya dan kucupangsaat merasakan nikmatnya orgasme ini.

Belum lagi tubuhku tenang, Dika kembali memompaku dgn menggila, dan ajaibnya aku yg baru mengalami orgasme, bahkan belum selesai menikmati orgasme itu kembali merasakkan gelombang kenikmatan orgasme,

“aaakkkkhhh… oughhhhh….” erangku, memekku seolah tdk sempat berhenti mengemut, belum selesai satu periode, sekarang langsung mengemut lagi.

Kali ini Dika terdiam dgn mata terpejam menahan kenikmatan yg diberikan oleh kemutan memekku, bahkan setelah gelombang orgasme ku berlalu dia masih terdiam dgn tubuh tegang.

“Bukan main nikmatnya memekmu Ryanti, ibuku..” katanya sambil mulai memompaku kembali. Kami kembali saling berlaga, dgn tdk menghiraukan rasa pegal ditubuhku, aku memutar dan mengoyangkan pantatku sejadi-jadinya untuk mengimbangi keperkasaan anakku sendiri yg tengah menyetubuhiku.

Kali ini pun aku tdk tahu berapa lama kami berlaga, yg jelas gesekan batang kemaluannya dgn dinding memekku, ditambah rambut kemaluannya yg menekan-nekan klitorisku, benar-benar membuat aku melambung dalam surga tingkat tujuh.

Keringat ditubuh kami bercucuran dgn derasnya tanda lama dan kerasnya perjuangan kami dalam bersetubuh, mereguk samudra kenikmatan bersama. Kini aku hapal dari pengalaman, bahwa saat ternikmat bagi Dika adalah saat memekku mengemut batang kejantanannya.

Karena itu ketika aku mengalami orgasme lagi kutarik pantat Dika kuat kuat, dan kuangkat pantatku tinggi tinggi, dgn bertumpu pada kakiku kuputar sekuat tenaga pantatku, oughhh…. Dikkkk…. aku…..akhh… nikmat” aku mengalami orgasme ku yg keempat, tp kali ini sambil menikamti orgasmeku, aku terus memutar pantatku, tak kubiarkan batang kemaluan Dika beristirahat.

“Hegg… Hemmmm….” Dika menggeram, tubuhnya mengejang kaku, tp dgn kuatnya dia menarik pantatnya sedikit karena aku memegannya kuat-kuat, lalu langsung menekannya lagi sehingga memek ku kembali dipompanya.

Dua tiga kali dia melakukannya, dan aku yg sedang terbadai oleh orgasme yg pertama tersentak keajaiban seperti tadi kembali terjadi lagi, aku memekik

“Diiiikkk… okh… ak…akhh..” saat itulah kurasakan tembakjan yg kuat menyentuh rahimku, sehingga seakan terpukul oleh semburan air mani Dika.

Kini bukan hanya aku yg menarik pantatnya kuat-kuat, tp tangan Dikapun menarik pantatku kearahnya. Kami sama-sama menikmati gelonmabang orgasme yg seakan-akan tdk ada putus-putusnya. Lalu ahirnya Dika roboh menindih tubuhku.

Aku tdk tahu berapa kali aku mengalami orgasme, dalam persetubuhan pertama kami ini, yg jelas ingatan kotor bahwa yg tengah menyetubuhiku adalah anakku sendiri merupakan salah satu kontributor bagi orgasme yg kuraih.

Sekarang seluruh siklus telah lengkap, air mani anakku telah tumpah kedalam rahim yg sama dgn saat dia dikandung, rahimku telah menjadi tempat penampungan air mani dua generasi laki-laki dalam hidupku, suamiku yg pertama dan anak kandungku sendiri. Aku sendiri melakukannya tanpa rasa bersalah atau menyesal. Yg ada hanya keletihan saja.

Selebihnya dari perbuatan kami adalah telah sempurnanya pernikahan kami yg ditandai dgn bersetubuhnya kami. Sejak kini aku bukan ibunya yg normal. Saya sekarang adalah seorang wanita, seorang istri. Dika telah menyatukan perbedaan antara seorang istri dan seorang ibu.

Seorang istri akan melakukan segalanya bagi seorang laki-laki (yg jadi suaminya) seperti halnya seorang ibu akan melakukan segalanya bagi seorang laki-laki (yg jadi anknya) bedanya seorang ibu tdk akan memberikan memeknya untuk dinikmati dan sekaligus menjadi sarana berkembang biak bagi laki-laki yg jadi anaknya.

Tp hari ini sang anak telah menyetubuhi ibunya, dan ibunya mau tdk mau jadi istrinya, menikah ataupun tdk menikah. Aku beruntung karena aku menjadi istrinya yg dinikahinya.

Itu sebabnya aku menghormati Dika, karena dia membuat saya, ibunya, menjadi istrinya lewat upacara pernikahn yg resmi sebelum menikmati memekku. Jika dia hanya sekedar ingin menikmati memekku, dia bisa mengimingimingi aku uang sehingga aku jadi pelacur bagi anakku, atau dia memperkosaku, cara lainnya adalah dia menggodaku sehingga aku menyerah disetubuhinya tanpa menikahi aku.

Jadi sekarang kami syah bersetubuh, karena aku adalah istrinya. Dgn pikiran-pikiran itu aku tergolek lemas akibat persetubuhan pertama kami dimalam pengantin ini. Dika bangkit dari posisinya menindihku sehingga batang k0ntolnya yg lemas keluar dari memekku, keluar dari ikatn incest kami.

Kurasakan Dika berbaring miring menghadapku disebelah kananku dan bertanya “apa ibu menyukai persetubuhan kita?”. Aku tertegun, apa yg bisa kukatakan?, anak kandungku sendiri menyetubuhiku atas nama pernikahan kami, lalu kini dia bertanya apakah aku menyukai persetubuhan kami.

Aku tdk tahu apakah aku harus jadi istrinya sepenuhnya, kalau aku jadi istrinya sepenuhnya maka aku pasti akan menjawab

“iya”, atau aku harus mengesankan pada Dika bahwa aku masih tetap ibunya, sehingga aku tdk menjawab apa-apa.

Walaupun kami telah bersetubuh, dan melanggar hubungan antara ibu dan anak, namun naluri keibuan saya masih tetap tdk menerimanya sebagai suamiku, aku mungkin telah menerima Dika sebagai kekasihku, seorang kekasih ibu, tp bukan sebagai suami ibu.

Karena itu aku tdk menjawab karena rasa malu dari naluri keibuanku, tp mengikuti naluri kewanitaanku maka aku memiringkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan, lalu dgn serta merta mencium bibirnya sekilas dan kemudian menyurukkan wajahku didadanya, sambil mengeluarkan suara aleman

“hemm… kamu…”.

Walaupun aku merasa bimbang harus berbuat atau berkata bagaimana, tp satu fakta tdk terbantahkan bahwa aku mengalami orgasme berkali-kali, sedangkan air mani anakku yg berpadu dgn air nikmatku telah menetes dari baginaku menyusuri sepanjang pahaku.

Dalam keadaan air nikmat kami yg berpadu dan menetes dipahaku itulah aku tertidur kelelahan, semtara air kenikmatan itu mulai mengalir kebawah diantar kedua kakiku. Aku tidur dgn sebuah senyum diwajahku, senyum kepuasan.

Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena rasa nikmat di memekku, sekilas aku melihat jam didinding, waktu menunjukkan pukul tiga, pasti dinihari, tp selanjutnya gelenjar kenikmatan yg sangat melanda tubuhku kurasakan klitorisku dijilati dan disedot-sedot oleh bibir, ‘pasti bibir Dika’ pikirku, dan aku kembali menghanyutkan diri dalam kenikmatan malam pengantin